1. Pendahuluan
Studi dan pemahaman tentang manajemen risiko pada proyek konstruksi terus berkembang—meski masih dirasa kurang ekstensif dibandingkan apa yang terjadi dalam ranah ekonomi (Lee et al., 2015). Namun, pengalaman empiris terus memerlihatkan proyek konstruksi masih berkutat dengan persoalan-persoalan keterlambatan penyelesaian, kenaikan biaya realisasi, ketidaksesuaian ruang lingkup, dan/ atau ketakterpenuhan spesifikasi pekerjaan yang telah direncanakan.
Flanagan dan Norman (1993) berargumen proyek konstruksi memiliki risiko dan ketidakpastian lebih tinggi dari apa yang terjadi pada kegiatan lainnya. Meski argumentasi ini tidak sepenuhnya disepakati namun diyakini memang ada persoalan dengan manajemen risiko proyek konstruksi. Persoalan yang terjadi selama ini bukan karena alasan karakteristik yang unik (e.g. lingkungan
dinamis) melainkan bersumber pada kesulitan dalam mengidentifikasi, menganalisis,dan mengelola risiko yang dihadapi pada setiap proyek konstruksi (Loosemore et al., 2006).
Banyaknya persoalan dan meningkatnya kompleksitas manajemen risiko konstruksi dijadikan objek riset yang menantang bagi akademisi dan peneliti konstruksi. Hal ini yang mendorong body of knowledge terus tumbuh dan berkembang. Namun, di sisi lain belum ada upaya akademis yang secara sistematis didedikasikan melakukan kajian kritis atas perkembangan riset-riset dalam ranah ini secara mendalam, setidaknya di Indonesia. Padahal, kajian ini signifikan untuk setidaknya tiga alasan: memetakan evolusi keilmuan manajemen risiko konstruksi dari tahun ke tahun; memberikan lansekap riset berikutnya sehingga replikasi dan repetisi riset yang tidak perlu dapat dihindari; dan penting untuk eksplorasi status riset terkini (state of the art) dan tren riset ke depannya
(Tsai dan Wen, 2005). Ketiga alasan inilah yang kemudian memotivasi Penulis melakukan analisis bibliometrik publikasi riset-riset manajemen risiko konstruksi.
2. Bibliometrik dalam Konstruksi
Terminologi bibliometrik dirasakan belum terlalu populer bagi sebagian akademisi dan peneliti konstruksi. Namun, terminologi ini sendiri sebenarnya juga memiliki persoalan dengan definisi karena banyaknya versi yang ada (De Bellis, 2009). (Holden et al., 2012), misal, mendefinisikan sebagai ―ranah riset yang secara khusus mengeksaminasi pengetahuan (body of knowledge) dalam dan antar disiplin‖, sementara Andres (2009) mendefinisikannya sebagai ―aplikasi metode matematis dan statistik untuk buku dan media komunikasi lainnya.‖ Beberapa istilah yang senada dengan bibliometrik meliputi saintometrik, informetrik, webometrik, netometrik, sibermetrik, yang masing-masing sebenarnya memiliki pengertiannya sendiri (De Bellis, 2009). Saat ini, antara bibliometrik dan saintometrik dianggap sinonim satu dengan lainnnya (Andres, 2009).
Di beberapa cabang disiplin ilmu, istilah bibliometrik muncul secara eksplisit sebagai metodologi untuk memahami tren riset (e.g. Tsai dan Wen, 2005; Vanga et al., 2015). Di ranah konstruksi, khususnya manajemen konstruksi––sependek pengetahuan Penulis––istilah ini baru muncul dalam de Castro e Silva Neto et al. (2016). Dalam artikel ini, mereka memaparkan perkembangan riset kerjasama pemerintah dan swasta dengan modalitas utama bangun-operasi-transfer (public-private partnership/ build-operate-transfer, PPP/BOT) selama 25 tahun terakhir dan menyimpulkan riset dalam area ini sudah mencapai status tunak (steady) dalam hal pertumbuhannya. Artikel kedua yang menggunakan istilah bibliometrik adalah Utama et al. (2016) yang membahas tren riset konstruksi internasional.
Namun, jauh sebelum kedua artikel tersebut di atas muncul, analisis bibliometrik––meski tidak eksplisit dinyatakan dalam judul artikel––sudah dilakukan dan hasilnya dipublikasikan dalam dua artikel lainnya pada dua jurnal American Society of Civil Engineers (ASCE) : Abudayyeh et al. (2004) dan Pietroforte et al. (2005). Abudayyeh et al. memaparkan hasil analisis mereka tentang artikel-artikel yang terbit dalam Journal of Construction Engineering and Management (JCEM) antara 1985 dan 2002. Adapun Pietroforte et al. fokus pada artikel yang terbit pada Journal of Management in Engineering (JME) antara 1983 dan 2000 dan menyimpulkan bahwa spesialisasi dan disiplin dalam ranah manajemen konstruksi telah meluas, ditunjukkan dengan semakin maraknya riset di bidang manajemen perusahaan, sistem delivery (e.g. BOT, design-build), evaluasi kinerja proyek, dan perencanaan mutu proyek.
Setelah kedua artikel tersebut di atas, studi-studi yang serupa bermunculan untuk berbagai fokus riset yang berbeda. Contoh meliputi komputasi dalam rekayasa sipil (Abudayyeh et al., 2006); PPP (Ke et al., 2009), kemitraan dalam konstruksi (Hong et al., 2012); kinerja perusahaan konstruksi (Deng dan Smyth, 2013); building information modeling (Abdirad and Pishdad-Bozorgi, 2014); joint venture di konstruksi (Hong dan Chan, 2014); produktivitas konstruksi (Yi dan Chan, 2014); kolusi di konstruksi (Le dan Shan 2014); konstruksi berkelanjutan (Xia et al., 2015); metode pengadaan di konstruksi (Naoum dan Egbu, 2015); pengambilan keputusan (Bakht dan El-Diraby, 2015); perbandingan PPP di China dan negara lainnya (Zhang et al., 2016); dan bangunan hijau (Darko dan Chan, 2016). Secara prinsip, studi-studi tersebut ditujukan untuk kajian kritis dan identifikasi tren riset.
3. Metodologi Riset
Metodologi riset disusun berdasarkan empat pertanyaan riset yang khusus dirumuskan untuk analisis bibliometrik ini :
- 1. Kriteria apa yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang merefleksikan perkembangan terkini pengetahuan (state of the art) ?
- 2. Bagaimana metode untuk mendapatkan informasi perkembangan terkini pengetahuan ?
- 3. Fitur-fitur apa yang bisa diekstraksi dari pengumpulan informasi (e.g. jumlah publikasi, authorship, area riset, metodologi riset, metode riset) ?
- 4. Ranah riset ke depan apa yang bisa diusulkan ?
Untuk menjawab dua pertanyaan riset pertama, model Ke et al. (2009) dan Zhang et al. (2016) diadopsi dengan beberapa modifikasi yang dilakukan, termasuk metode pemilihan jurnal dan artikel. Satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk analisis bibliometrik dalam kajian ini adalah artikel yang dianalisis harus terpublikasi dalam jurnal ilmiah. Ada dua kriteria yang digunakan untuk memilih artikel: (i) artikel harus terbit pada jurnal-jurnal konstruksi bereputasi internasional, dan (ii) artikel terbit pada jurnal terpilih selama kurun waktu Januari 2005–Desember 2015.
3.1 Seleksi jurnal
Terkait dengan kriteria pertama, seleksi jurnal perlu dilakukan mengingat banyaknya jurnal konstruksi yang tersedia, baik yang terindeks platform tertentu (e.g. Scopus, Thomson Reuters) maupun tidak. Untuk mendapatkan jurnal bereputasi internasional, dua hasil survei dari Bröchner and Björk (2008) dan Wing (1997) digunakan untuk pemilihan jurnal.
Jurnal yang hanya tercantum dalam daftar Bröchner and Björk dan Wing saja yang dipilih dalam kajian ini dengan satu pengecualian, JME. Bröchner and Björk memang tidak memasukkan jurnal ini dalam daftar sebagai konsekuensi atas kriteria yang mereka ditetapkan––yang juga diakui mereka sebagai kriteria yang conservative bias saat tidak memasukkan JME–– namun Penulis tetap berargumentasi JME layak untuk dipertimbangkan. Alasannya, jurnal ini memiliki reputasi internasional yang tinggi (i.e. sampai tulisan ini ditulis, H -index JME dari scimagojr.com diakses Agustus 2016 adalah 41) dan menempati peringkat keempat setelah Construction Management and Economics (CME), JCEM dan Engineering Construction and Architectural Management (ECAM) dalam Wing (1997).
Tabel 1 menyajikan hasil seleksi dan selanjutnya terpilih enam jurnal i.e. Automation in Construction (AIC; penerbit Elsevier), CME (Taylor & Francis), ECAM (Emerald), International Journal of Project Management (IJPM; Elsevier), JCEM (ASCE) dan JME (ASCE). Diharapkan dari kriteria yang sangat ketat ini dihasilkan artikel-artikel yang mampu merefleksikan state of the art keilmuan pada area manajemen risiko.
Tabel 1. Nama-nama jurnal terseleksi
dilakukan untuk menyajikan aspek-aspek tertentu secara cepat dan bahkan memberikan kesan visual yang kuat terkait dengan produktivitas dalam area yang dikaji (Andres, 2009). Berikut ini disampaikan fitur-fitur yang dievaluasi dalam analisis bibliometrik dan pembahasanya untuk menjawab pertanyaan riset ketiga yang sentral dalam tulisan ini.
4.1 Jumlah publikasi
Tabel 2 menyajikan sebaran jumlah artikel relevan yang dipublikasikan dalam enam jurnal terpilih selama kurun 2005–2015. Berdasarkan jumlah publikasi per tahunnya, tidak ada suatu tren khusus yang biasa diamati. Jumlah artikel meningkat dan sempat mencapai puncaknya pada 2011 namun selanjutnya cenderung menurun di tahun-tahun berikutnya. Lebih
| Bröchner (2008) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| AIC | BRI | CI | CME | ECAM | IJPM | JCEM | JME | ||
| Wng | CME | | | | | | | | |
| (1997) | JCEM | | | | | | | | |
| ECAM | | | | | | | | | |
| JME | | | | | | | | | |
| ICE | | | | | | | | | |
| IJPM | | | | | | | | | |
| CIT | | | | | | | | | |
| AAC | | | | | | | | | |
| AIC | | | | | | | | | |
| JCP | | | | | | | | | |
| Lainnya | | | | | | | | |
Catatan : AAC = American Assoc. Cost Engineers; BRI = Building Research and Information; CI = Constr. Innovation; CIT = Constr. Information Tech.; ICE = Institution of Civ. Engineers; JCP = J. Constr. Proc.; = terpilih dalam dua daftar
3.2 Seleksi artikel
Kajian ini memanfaatkan beberapa basis data sekaligus yaitu Science Direct untuk AIC, CME, dan IJPM; ASCE untuk JCEM dan JME; dan Emerald untuk ECAM. Penggunaan sistem basis data yang berbeda untuk melengkapi satu sistem dengan sistem lainnya. Satu catatan penting yang bisa disampaikan disini : dibandingkan sistem basis data lainnya, ASCE menawarkan kemudahan terbaik bagi penggunanya untuk mendapatkan artikel sesuai dengan kebutuhan dengan fleksibilitas fitur pencarian yang dimilikinya.
Menggunakan mesin pencari yang tersedia dalam sistem dihasilkan 276 artikel yang menggunakan frasa ―risk management‖ sebagai salah satu kata-kata kunci artikel. Khusus untuk IJPM yang notabene tidak spesifik membahas konstruksi––berdasarkan judul dan abstrak––artikel dikelompokkan kembali menjadi konstruksi dan non-konstruksi. Artikel pada kelompok kedua tidak disertakan untuk proses analisis berikutnya dan selanjutnya dihasilkan 243 artikel terpilih. Sampai tahap ini, pertanyaan riset pertama dan kedua terjawab.
4. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif, metode termudah dalam bibliometrik, kurang setengah jumlah artikel dipublikasikan dalam JCEM. Informasi ini setidaknya mengindikasikan bahwa JCEM masih menjadi salah satu media komunikasi yang paling banyak dipilih oleh akademisi dan peneliti internasional untuk mendiseminasikan hasil riset mereka terkait manajemen risiko. Alasan reputasi– –dengan impact factor (IF) dan H-index termasuk yang tertinggi dibandingkan jurnal-jurnal serumpun––diduga melatarbelakangi keputusan akademisi dan peneliti memilih jurnal ini untuk publikasi.
Tabel 2. Jumlah artikel menurut nama jurnal dan tahun
| Tahun | JCEM | JME | ECAM | IJPM | CME | AIC | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 2005 | 11 | 1 | 2 | 0 | 2 | 0 | 16 |
| 2006 | 6 | 3 | 1 | 4 | 2 | 0 | 16 |
| 2007 | 7 | 0 | 3 | 3 | 2 | 0 | 15 |
| 2008 | 10 | 2 | 1 | 2 | 6 | 2 | 23 |
| 2009 | 20 | 2 | 3 | 1 | 3 | 1 | 30 |
| 2010 | 14 | 5 | 1 | 1 | 4 | 2 | 27 |
| 2011 | 19 | 4 | 2 | 1 | 4 | 0 | 30 |
| 2012 | 16 | 6 | 1 | 0 | 1 | 1 | 25 |
| 2013 | 9 | 8 | 2 | 4 | 3 | 3 | 29 |
| 2014 | 10 | 1 | 2 | 4 | 0 | 1 | 18 |
| 2015 | 4 | 2 | 2 | 5 | 0 | 1 | 14 |
| Jumlah (%) | 126 (52%) | 34 (14 %) | 20 (8%) | 25 (10%) | 27 (11%) | 11 (5%) | 243 (100%) |
4.2 Lokus riset
Fitur pertama yang dievaluasi dalam analisis deskriptif ini adalah lokus riset: apakah substansi yang disampaikan dalam artikel spesifik untuk lokus tertentu. Berdasarkan judul dan konten abstrak, dari 243, hanya 56 artikel (23 %) yang bersifat country-specific sementara sebagian besar sisanya, 187 (77 %) tidak.
Statistik ini setidaknya mengindikasikan riset ranah manajemen risiko selama ini cenderung generik dan dapat diaplikasikan pada konteks lokus yang lebih luas, khususnya hasil riset yang dipublikasikan dalam artikel yang terbit pada JCEM (105 dari 126 atau 83 %). Meski demikian, informasi ini tidak harus berarti kehati-hatian sama sekali tidak diperlukan saat menerapkan hasil riset. Penyesuaian masih tetapi dibutuhkan meski derajatnya tidak setinggi jika dibandingkan menerapkan hasil riset yang memang sejak awal didedikasikan untuk memberikan solusi atas permasalahan manajemen risiko pada lokus (i.e. negara) tertentu.
Khusus untuk ECAM dan IJPM, persentase artikel yang tidak spesifik ke lokus tertentu turun menjadi 60 %. Untuk AIC, dapat dipahami jika 100 % artikel yang terbit pada jurnal ini lokusnya tidak spesifik karena ruang lingkup jurnal memang pada pemanfaatan teknologi informasi dalam konstruksi (e.g. computer-aided design, decision support system, robotika, simulasi). Tabel 3 menyajikan distribusi artikel berdasarkan fitur spesifik lokus untuk masingmasing jurnal.
Tabel 3. Jumlah artikel menurut sifat lokus dan nama jurnal
| Lokus | Nama Jurnal | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Spesifik | JCEM | JME | ECAM | IJPM | CME | AIC | Jumlah | ||
| Ya | 21 | 9 | 8 | 10 | 8 | 0 | 56 | ||
| Tidak | 105 | 25 | 12 | 15 | 19 | 11 | 187 | ||
4.3 Asal negara penulis
Sama halnya dengan beberapa studi bibliometrik sebelumnya (e.g. Ke et al., 2009; Yi dan Chan, 2014), asal negara penulis juga menarik untuk dianalisis untuk mengetahui kontribusi negara yang direpresentasikan dari afiliasi penulis saat riset dilakukan dan sekaligus menentukan kiblat riset manajemen risiko konstruksi. Berhubung satu artikel bisa ditulis oleh beberapa peneliti dengan asal negara yang berbedabeda, dibutuhkan pendekatan menentukan jumlah artikel tertimbang. Dalam analisis bibliometrik ini digunakan metode pembobotan sesuai dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2014), sebagaimana tersaji dalam Tabel 4. Bila satu artikel ditulis oleh beberapa penulis yang berasal dari negara yang sama, negara tersebut otomatis mendapatkan jumlah artikel tertimbang = 1.
Tabel 3. Distribusi bobot asal penulis
| Jumlah | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Penulis | 1 | 1 2 3 | 4 dan seterusnya | Jumlah | ||
| 1 | 100% | 100% | ||||
| 2 | 60% | 40% | 100% | |||
| 3 | 50% | 25% | 25% | 100% | ||
| 4 dan seterusnya | 40% | dibag | ji rata | 100% | ||
Gambar 1 menyajikan jumlah artikel tertimbang berdasarkan negara asal Penulis. Secara total, ada 532 penulis yang berasal dari 39 negara memublikasikan riset manajemen risiko dalam enam jurnal terpilih. Amerika Serikat mendominasi dengan 71,83 artikel; diikuti China (31,15), Australia (26,35), Inggris (24,10), dan Korea Selatan (13,9). Indonesia sendiri menempati peringkat ke-25 dengan jumlah artikel tertimbang = 1. Satu hal penting yang perlu ditampilkan di sini: prinsip Pareto juga berlaku yaitu 80 % dari seluruh jumlah artikel disumbang oleh hanya sekitar 20 % negara, artinya riset manajemen risiko konstruksi hanya terkonsentrasi pada negara-negara tertentu saja.

Gambar 1. Jumlah Artikel Tertimbang Menurut Negara Asal Penulis
Tabel 5 menyajikan sepuluh besar negara kontributor berdasarkan nama jurnal. Yang menarik untuk dibahas adalah adanya kecenderungan bias negara tempat jurnal berbasis. Artikel yang terbit di dua jurnal berbasis di Amerika Serikat i.e. JCEM dan JME didominasi oleh penulis yang berasal dari negara tersebut, bahkan dengan posisi yang sangat jelas. Sebaliknya, pada dua jurnal yang berbasis di Inggris i.e. ECAM dan CME, berdasarkan jumlah artikel, penulis Inggris yang menempati peringkat pertama. Sementara itu, untuk dua jurnal lainnya yaitu IJPM dan AIC—keduanya diterbitkan oleh Elsevier yang berkantor pusat di Amsterdam Belanda—peringkat pertama ditempati penulis dari China.
4.4 Area riset
Dalam analisis bibliometrik ini, proses manajemen risiko dibagi menjadi identifikasi, analisis atau asesmen, monitoring atau respon, dan alokasi. Dari 243 artikel yang dievaluasi, sebanyak 9 % difokuskan pada identifikasi risiko, 34 % pada analisis risiko, 15 % pada monitoring atau respon, 10 % pada alokasi dan sisanya
(32 %) pada manajemen risiko secara umum; artinya, riset tidak difokuskan pada satu melainkan keseluruhan proses manajemen risiko. Statistik ini mengindikasikan analisis risiko menjadi ranah riset yang paling diminati dan sekaligus menantang di tengah keterbatasan data historis untuk pemodelan risiko. Gambar 2 memperlihatkan distribusi jumlah artikel berdasarkan area riset dan nama jurnal. Dominasi analisis risiko sangat terlihat pada JCEM (41 %) dan relatif berimbang dengan manajemen risiko secara umum pada JME, ECAM, dan CME. Manajemen risiko secara umum menjadi area riset yang paling sering dilakukan untuk IJPM dan AIC.
- portfolio cash assessment, jalur risiko (risk path), quantifying qualitative information on risk, warranty, total risk approach, risiko kredit, cost variance, optimisasi;
- 5. Keselamatan e.g. sistem, asesmen, faktor kepemimpinan;
- 6. PPP/BOT e.g. analisis kewajiban kontijensi, alokasi risiko, penjaminan, kontrak, risk pricing, konsesi, struktur hierarkis risiko, institusi finansial, struktur modal, kelayakan finansial, nilai residu, briefing, risiko lalulintas, aliansi, pembagian risiko pendapatan;
Tabel 5. Sepuluh besar negara kontributor riset manajemen risiko konstruksi menurut nama jurnal
| Nama Jurnal | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| JCEM | JME | ECAM | IJPM | CME | AIC | ||||||||
| Peringkat | Negara | Jumlah Artikel | Negara | Jumlah Artikel | Negara | Jumlah Artikel | Negara | Jumlah Artikel | Negara | Jumlah Artikel | Negara | Jumlah Artikel | |
| 1 | US | 46,88 | US | 15,55 | UK | 7,00 | China | 6,00 | UK | 7,05 | China | 1,90 | |
| 2 | China | 14,95 | China | 5,30 | Australia | 2,20 | Australia | 4,75 | US | 4,00 | Korea S. | 1,60 | |
| 3 | Australia | 14,00 | Korea S. | 2,20 | US | 2,00 | Singapura | 3,00 | Australia | 3,00 | US | 1,40 | |
| 4 | Korea S. | 9,50 | Taiwan | 1,80 | Singapura | 2,00 | US | 2,00 | China | 2,00 | Turki | 1,25 | |
| 5 | UK | 6,65 | Australia | 1,40 | Swedia | 1,40 | Spanyol | 2,00 | Selandia B, | 1,50 | Australia | 1,00 | |
| 6 | Singapura | 5,84 | Singapura | 1,15 | China | 1,00 | UK | 1,70 | Afrika S, | 1,25 | Taiwan | 1,00 | |
| 7 | Kanada | 5,20 | UK | 1,00 | Brasil | 1,00 | Turki | 1,00 | Singapura | 1,00 | Perancis | 1,00 | |
| 8 | Taiwan | 3,65 | Iran | 1,00 | Malawi | 1,00 | India | 1,00 | Taiwan | 1,00 | Belanda | 1,00 | |
| 9 | Spanyol | 3,00 | UAE | 1,00 | Norwegia | 1,00 | Swedia | 1,00 | Turki | 1,00 | UK | 0,70 | |
| 10 | Turki | 2,80 | Pakistan | 1,00 | Srilanka | 1,00 | UAE | 1,00 | India | 1,00 | Rusia | 0,15 | |

Gambar 2. Jumlah artikel menurut area riset dan nama jurnal
Lebih spesifik, area riset secara umum dapat dikategorikan menjadi beberapa klaster meski harus diakui bahwa klasifikasi ini tidak harus bersifat mutually exclusive. Klaster-klaster tersebut adalah:
- 1. Decision support system e.g. augmented virtuality, asesmen risiko berbasis jaringan, image-based assesment, reliability analyzer, construction hazard identification, multi-agent model, 4D system;
- 2. Tata kelola (governance) e.g. rantai pasok, keunggulan kompetitif, informasi asimetri, produktivitas, insentif, profitabilitas, kemitraan (partnering), kepercayaan (trust) dan relasi, mitigasi risiko, knowledge management, strategi, perbedaan budaya, struktur tata kelola, joint risk management;
- 3. Perilaku risiko (risk behavior) e.g. factor anteseden, cumulative prospect theory, diversifikasi risiko;
- 4. Pemodelan risiko e.g. risiko sosial, kenaikan biaya, keterlambatan, cash flows, cooperative approach, principal-agent model, default kontraktor, kontingensi,
- 7. Maturitas e.g. enterprise risk management (ERM), kapabilitas organisasi;
- 8. Pengendalian (controlling) e.g. earned value system, inspeksi, navigational measures;
- 9. Kontrak e.g. change order, asuransi, risk/reward, target cost, sengketa, klaim, design-build, model deliveri, sharing ratio, guaranteed maximum contract, unit price, regulasi price-cap, unbalanced bid, performance-based contract, kinerja;
- 10.Riset terintegrasi e.g. katalog risiko, system manajemen risiko, organisasi, strategi, ketahanan (resilience), faktor kunci sukses, stakeholder and uncertainty management.
Gambar 3 menyajikan distribusi jumlah artikel menurut area riset spesifik. Pemodelan risiko menempati peringkat teratas (19 %) diikuti tata kelola (16 %), PPP/BOT (14 %), riset terintergrasi (14 %), dan keselamatan (12 %) sementara sisanya dibagi untuk area-area spesifik lainnya. Adapun Tabel 6 menampikan jumlah artikel menurut area spesifik dan nama jurnal.
4.5 Metodologi riset
Masih berdasarkan analisis konten artikel yang dievaluasi, dari 243, sebanyak 57 artikel (23 %) menggunakan pendekatan kualitatif, 94 artikel kuantitatif (39 %) dan sisanya (92; 38 %) menggunakan pendekatan hibrid kualitatif-kuantitatif. Gambar 4 memerlihatkan distribusi artikel yang menggunakan ketiga pendekatan riset ini berdasarkan nama jurnal. Riset kuantitatif dan hibrid kualitatif-kuantitatif mendominasi pada sebagian besar jurnal yang dievaluasi namun tidak untuk IJPM.

Gambar 3. Distribusi area spesifik riset
Tabel 6. Jumlah publikasi menurut area spesifik riset dan nama jurnal
(lebih detail akan disajikan dalam Metode Riset).
4.6 Metode riset
Jika metodologi riset adalah upaya yang sistematis untuk menyelesaikan masalah riset, maka metode riset mengacu pada seluruh metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah riset sehingga bisa disebutkan metode riset merupakan bagian dari metodologi riset (Kothari, 2004). Analisis bibliometrik juga dilakukan terhadap metode-metode yang digunakan dalam menyelesaikan riset manajemen risiko konstruksi, dengan hasil sebagaimana tersaji dalam Gambar 5.
| Area Spesifik Riset | JCEM | JME | ECAM | IJPM | CME | AIC | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Decision support system | 11 | 1 | 0 | 1 | 1 | 6 | 20 |
| Tata kelola | 12 | 11 | 3 | 7 | 6 | 1 | 40 |
| Perilaku risiko | 5 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 7 |
| Pemodelan risiko | 36 | 5 | 0 | 2 | 4 | 0 | 47 |
| Keselamatan | 23 | 0 | 2 | 0 | 2 | 1 | 28 |
| Integrasi | 11 | 7 | 7 | 5 | 2 | 1 | 33 |
| PPP/BOT | 15 | 4 | 3 | 6 | 4 | 1 | 33 |
| Maturitas | 3 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 5 |
| Pengendalian | 3 | 2 | 0 | 2 | 0 | 0 | 7 |
| Kontrak | 7 | 3 | 5 | 1 | 7 | 0 | 23 |
Gambar 4. Jumlah artikel menurut metodologi riset dan nama jurnal
Hibrid kualitatif-kuantitatif menjadi salah satu metodologi yang populer di kalangan akademisi dan peneliti manajemen risiko konstruksi. Hal ini dapat dimengerti mengingat data historis yang dibutuhkan untuk membangun relasi matematis lebih sering tidak tersedia dalam dunia konstruksi. Keterbatasan data ini adalah salah satu isu dan tantangan terbesar dalam riset manajemen risiko konstruksi. Lebih lanjut, sebagian besar artikel yang menggunakan metodologi ini menggunakan pendekatan yang relatif sama yaitu menguantifikasikan asesmen kualitatif responden, biasanya menggunakan Skala Likert (e.g. 1 = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuju). Data yang diperoleh selanjutnya diproses menggunakan metode statistik

Gambar 5. Jumlah artikel menurut metode riset
Metode yang digunakan beragam, mulai dari studi kasus, wawancara, sampai desk study untuk pendekatan kualitatif; dari statistik, analytical hierarchy process (AHP), sampai expected utility theorem untuk pendekatan hibrid kualitatifkuantitatif, dan dari simulasi Monte Carlo, probabilitas, sampai genetic algorithm untuk pendekatan kuantitatif. Tabel 7 menyajikan lima besar metode riset primer berdasarkan nama jurnal terseleksi.
Jumlah metode memang melebihi jumlah artikel karena dalam satu artikel bisa digunakan lebih dari satu metode dan hibrid atau kombinasi metode ini merupakan hal yang jamak dalam riset manajemen risiko konstruksi. Sebagai contoh Abdelgawad and Fayek (2010) dan Kang et al. (2013) mengombinasikan fuzzy set theory (FST) dan AHP sementara Gan dan Xu (2015) dan Zhao et al. (2013)
Tabel 7. Lima besar metode yang digunakan menurut nama jurnal
| Nama Jurnal | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Metode Riset | JCEM | JME | ECAM | IJPM | CME | AIC |
| Statistik | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 3 |
| Studi kasus | 2 | 2 | 3 | 2 | 5 | 1 |
| Fuzzy set theory | 3 | (-) | (-) | 4 | (-) | 2 |
| Wawancara | 4 | 5 | 2 | 3 | 2 | (-) |
| Simulasi Monte Carlo | 5 | (-) | (-) | 5 | 3 | (-) |
| Bootstrapping | (-) | 3 | (-) | (-) | (-) | (-) |
| Desk study | (-) | 4 | (-) | (-) | 4 | (-) |
| Analytical Hierarchy Process | (-) | (-) | 4 | (-) | (-) | 4 |
| Delphi | (-) | (-) | 5 | (-) | (-) | (-) |
| Analytical Network Process | (-) | (-) | (-) | (-) | (-) | 5 |
Catatan : (-) tidak termasuk dalam lima besar
menggunakan FST dan analisis statistik sebagai metode mereka. Contoh lain adalah Fortunato et al. (2012) dan Gangolells et al. (2013) yang mengombinasikan wawancara dan studi kasus. Selanjutnya, berikut ini dipresentasikan tiga metode kuantitatif yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut : analisis statistik, FST, dan simulasi Monte Carlo.
4.7 Analisis statistik
Satu dari tiga artikel manajemen risiko konstruksi menggunakan metode statistik, menjadikan metode ini menjadi metode yang paling populer dalam riset manajemen risiko. Lebih spesifik, analisis deskriptif merupakan teknik statistik yang paling populer untuk mendapatkan central tendency (e.g. untuk pemeringkatan berdasarkan relative importance index) dan sebaran sebelum analisis lanjutan dilakukan (lihat Gambar 6. Selain deskriptif, teknik statistik yang lain termasuk analysis of variance (ANOVA), korelasi, regresi, analisis faktor, principal component analysis (PCA), chi-squared test, Mann-Whitney test, structural equation modeling (SEM), dan t-test. Sama dengan sebelumnya, beberapa artikel menggunakan lebih dari satu teknik.
Jika dikaitkan dengan area fokus, metode statistik biasa dimanfaatkan untuk analisis atau asesmen dan alokasi risiko. Sebagai contoh, El-Sayegh dan Mansour (2015) menggunakan metode ini untuk mengevaluasi risiko pada proyek jalan di Uni Emirat Arab. Pada aspek alokasi risiko, Ndekugri et al. (2013) menggunakan statistik untuk mengembangkan opsi asuransi untuk pengadaan infrastruktur dan Tang et al. (2008) untuk mengevaluasi penerapan insentif pada industry konstruksi di China.

Gambar 6. Jumlah artikel menurut teknik statistik yang digunakan
4.8 Teori Fuzzy Set
Teori Fuzzy Set merupakan salah satu metode yang paling populer untuk hibrid kualitatif-kuantitatif. Metode ini sekaligus menjadi salah satu solusi saat berhadapan dengan keterbatasan data historis untuk pemodelan risiko. Teori ini menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan teori probabilitas. Metode FST juga mulai banyak dimanfaatkan untuk berbagai persoalan dalam ranah manajemen konstruksi [baca Chan et al. (2009)].
Tacit knowledge yang dimiliki oleh responden biasanya dimanfaatkan dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan opini atau asesmen secara linguistik yang kemudian dikonversi menjadi bilangan fuzzy dengan membership function tertentu. Selanjutnya, data dalam bentuk bilangan fuzzy diolah dengan operasi aritmetika fuzzy. Konklusi atau keputusan terakhir diperoleh setelah proses de-fuzzification (i.e. mengubah hasil perhitungan dalam bilangan fuzzy menjadi crisp score lagi) dilakukan. Dengan proses yang panjang dan rumit, komputasi FST cukup membutuhkan waktu dan biaya, terlebih tidak tersedia piranti lunak yang tersedia luas untuk memfasilitasi proses komputasi. Karenanya, kemanfaatan metode menjadi salah satu faktor pertimbangan penting saat akan menggunakan metode FST ini.
Sebagai contoh, Xu et al. (2010) mengembangkan model alokasi risiko untuk proyek-proyek infrastruktur yang diselenggarakan menggunakan skema PPP/BOT. Mereka menggunakan FST untuk menentukan pihak yang dianggap paling mampu atau yang harus berbagi menanggung suatu risiko, dengan mendefinisikan Risk Carrying Capability Index (RCCI). Input untuk menghitung RCCI adalah respon dari responden yang dinyatakan dalam Skala Likert. Dengan prosedur perhitungan yang ditawarkan, metode simple multiattribute rating technique yang jauh lebih sederhana akan menghasilkan konklusi yang sama sehingga kemanfaatan FST dalam konteks ini dapat dipertanyakan, kecuali jika keunggulan FST akan dieksploitasi lebih lanjut untuk hal lain.
4.9 Simulasi Monte Carlo
Simulasi Monte Carlo kerap digunakan untuk analisis risiko kuantitatif, setelah dilakukan identifikasi risiko. Risiko dianalisis dengan memodelkan masing-masing
risiko yang akan dievaluasi ke dalam fungsi kerapatan probabilitas (probability density function; PDF). Risiko-risiko akan saling berinteraksi, mengikuti model matematis tertentu. Penggunaan simulasi semakin meluas seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Ada banyak vendor yang menyediakan piranti lunak simulasi berbasis spreadsheet yang kerap digunakan untuk menganalisis risiko secara kuantitatif (e.g. @Risk, Crystal Ball, Vose). Beberapa contoh artikel yang menggunakan metode simulasi ini adalah Acebes et al. (2014), Alarcón et al. (2011), dan Touran dan Lopez (2006).
Tantangan terbesar menggunakan simulasi pada riset manajemen risiko konstruksi adalah, kembali, keterbatasan data historis untuk membangun PDF. Distribution fitting berdasarkan uji statistik tertentu (e.g. Kolmogorov-Smirnov, chi-squared, Anderson-Darling) dilakukan untuk menentukan PDF yang paling sesuai dengan data yang tersedia. Pendekatan yang biasa digunakan untuk mengatasi kendala data adalah dengan mengasumsikan PDF suatu risiko mengikuti distribusi normal, lognormal, atau beta dengan purata (mean) sama dengan nilai ekspektasi dan menskenariokan koefisien variasi––rasio antara deviasi standar dan purata––tertentu.
Satu hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan simulasi Monte Carlo, sama dengan yang sebelumnya, adalah kemanfaatan. Simulasi menjadi metode yang sangat berguna untuk menyelesaikan persoalan matematis yang kompleks [e.g. relasi nonlinier, dependensi antarvariabel, distribusi terpancung (truncated distribution)], yang tidak ekonomis jika diselesaikan secara analitis. Dengan simulasi akan mudah diperoleh statistik-statistik penting untuk keperluan analisis risiko (e.g. purata, deviasi standar, persentil, kemencengan, kurtosis).
Namun demikian, tidak semua persoalan dalam analisis risiko harus diselesaikan dengan simulasi. Salah satu contoh adalah artikel Sakka dan El-Sayegh (2007) yang menggunakan simulasi Monte Carlo untuk menentukan dampak penundaan aktivitas non-kritis terhadap risiko kenaikan biaya dan keterlambatan waktu. Artikel ini mendapat respon dari Wibowo (2008) yang mengkritisi penggunaan simulasi dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Dengan menggunakan transformasi Rosenblatt (Rosenblatt, 1952) dan probabilistic network evaluation technique (Ang dan Tang, 2006) dapat dibuktikan bahwa pendekatan analitis memberikan hasil yang lebih baik dalam hal kestabilan dan keakurasian khusus untuk kasus yang diangkat oleh Sakka dan El-Sayegh.
5. Riset ke Depan
Pertanyaan riset terakhir yang perlu dijawab adalah ranah riset manajemen risiko konstruksi ke depan. Banyak metodologi atau metode baru yang dikembangkan, terutama untuk analisis dan alokasi risiko. Beberapa contoh meliputi model alokasi risiko berbasis FST (Xu et al., 2010) sebagaimana telah didiskusikan sebelumnya, Client-Risk Management Model [CRMM; Albogamy and Dawood (2015)], Advanced Programmatic Risk Analysis and Management [APRAM; Imbeah and Guikema (2009)] yang kemudian dimodifikasi menjadi M-APRAM (Zeynalian et al., 2013).
Hal lain yang menarik dari analisis konten adalah keterkaitan yang kuat antara manajemen risiko dan kontrak PPP/BOT untuk pembangunan dan pengelolaan infrastruktur. Keterkaitan ini mudah dimengerti karena PPP/BOT adalah suatu mekanisme kontrak berbagi risiko antara pemerintah dan badan usaha untuk mendapatkan best value for money bagi penyelenggaraan infrastruktur publik. Karenanya, prinsip alokasi risiko yang efisien yaitu risiko harus ditanggung oleh pihak yang mampu mengelola risiko harus dipenuhi. Analisis bibliometrik memerlihatkan lebih kurang 14 % artikel terpilih dalam analisis ini membahas PPP/BOT pada konteks manajemen risiko.
Sebaliknya, Zhang et al. (2016) juga menemukan fakta menarik bahwa 22 dari 88 artikel yang dievaluasi (26,8 %) mendiskusikan manajemen risiko pada konteks PPP/BOT. Dengan demikian, riset-riset tentang manajemen risiko pada PPP/BOT masih tetap relevan di masa mendatang. Isu-isu yang dapat menjadi ranah riset pada bidang kajian ini meliputi alokasi risiko yang efisien, analisis kontijensi (contingent liabilities analysis), valuasi penjaminan atas risiko tertentu. Teori -teori yang digunakan pun turut berkembang seiring dengan semakin kompleksnya permasalahan, termasuk pemanfaatan teori yang biasa digunakan dalam industri lainnya (e.g. real option theories).
Isu lainnya yang menantang untuk diteliti adalah korelasi antara tingkat risiko dan biaya untuk mereduksi risiko. Sependek pengetahuan Penulis, sampai saat ini belum ada kajian yang secara spesifik didedikasikan untuk mendapatkan hubungan tersebut secara kuantitatif. Di sisi lain, informasi ini sangat dibutuhkan untuk menentukan perlakuan risiko (risk treatment) secara sistem yang paling efektif melalui optimasi model. Contoh, APRAM dan CRMM yang telah disinggung sebelumnya tidak akan berfungsi jika tidak diketahui seberapa cost effective suatu upaya mitigasi risiko dapat dilakukan.
Di tengah maraknya model-model baru yang dikembangkan, salah satu isu yang belum mendapatkan perhatian adalah maturitas ERM. Analisis memerlihatkan kajian pada ranah ini masih sangat terbatas yang tentunya menawarkan ranah-ranah riset yang menantang ke depannya. Dari sedikit kajian yang ada adalah Hallowell et al. (2013), Mu et al. (2014) dan Zhao (2014) yang menyimpulkan bahwa maturitas ERM pada industry konstruksi masih rendah. Zhao et al. (2015) mengidentifikasi hambatan-hambatan yang menyebabkan rendahnya maturitas ERM. Ke depannya, riset-riset tentang ERM perlu untuk terus dikembangkan dan untuk konteks Indonesia, riset pada arah ini sedang dilakukan oleh Penulis.
Isu lain yang belum mendapatkan atensi yang luas adalah perilaku individu dalam menyikapi suatu risiko (risk behavior). Risiko bisa dianalisis secara kualitatif atau kuantitatif menggunakan, misal, simulasi Monte Carlo. Setelah diperoleh probabilitas dan dampaknya, risiko harus direspon oleh pengambil keputusan. Teorema utilitas biasanya mengasumsikan individu bertindak sebagai risk averter sehingga mereka membutuhkan premium risiko untuk bersedia menanggung risiko. Namun, beberapa eksperimen yang dilakukan tidak mendukung teorema tersebut sehingga muncul prospect theory (Kahmenan dan Tversky, 1979), cumulative prospect theory (Tversky dan Kahneman, 1992) dan rank dependent model (Quiggins, 1993). Sejauh ini belum ada riset yang didedikasikan untuk membuktikan teori mana yang lebih tepat untuk industri konstruksi. Riset ini penting karena memiliki manfaat praktis e.g. pengambilan keputusan go/no-go untuk membangun portofolio proyek konstruksi internasional atau penentuan minimum attractive rate of return (MARR) untuk proyek investasi infrastruktur. Sebagaimana dipahami, weighted average cost of capital saja ternyata tidak cukup untuk menjelaskan MARR yang diinginkan oleh calon investor infrastruktur.
6. Kesimpulan
Dari analisis bibliometrik yang telah dilakukan atas 243 artikel manajemen risiko konstruksi selama kurun waktu 2005–2015 pada enam jurnal internasional terpilih dapat disimpulkan sebagai berikut :
- 1. Tidak ada tren spesifik yang bisa diamati dari jumlah publikasi, baik menurun maupun meningkat per tahunnya yang berimplikasi, setidaknya, manajemen risiko masih relevan.
- 2. Cakupan isu beragam, yang secara garis besar dapat dikategorikan menjadi kontrak, pengendalian (controlling), maturitas, PPP/BOT, keselamatan, pemodelan risiko, perilaku risiko, tata kelola (governance), decision support system, dan riset terintergrasi.
- 3. Statistik memerlihatkan prinsip Pareto 80/20 berlaku yang juga mengindikasikan adanya dominasi negaranegara tertentu dalam hal publikasi dan adanya bias negara asal penulis untuk beberapa jurnal.
- 4. Riset difokuskan pada analisis dan manajemen risiko secara umum dengan pendekatan riset terpopuler adalah kuantitatif dan hibrid kualitatifkuantitatif dan metode statistik menjadi metode yang paling sering digunakan serta pendekatan menggunakan lebih dari satu metode untuk menjawab pertanyaan riset merupakan hal yang lumrah ditemukan.
- 5. Beberapa ranah riset yang menarik untuk diteliti lebih lanjut meliputi penerapan manajemen risiko pada penyelenggaraan infrastruktur yang berbasis skema PPP/BOT, hubungan matematis antara tingkat risiko dan biaya mitigasi risiko, pengukuran tingkat maturitas manajemen risiko pada level perusahaan konstruksi, dan perilaku individu terhadap risiko.
7. Saran
Ada dua saran yang bisa disampaikan dari hasil analisis bibliometrik ini :
- 1. Dengan menggunakan hanya kata kunci sebagai satu-satunya kriteria pemilihan artikel pada jurnal terpilih, riset ini jelas memiliki keterbatasan cakupan publikasi. Oleh karena itu, analisis bibliometrik ini sangat mungkin dilanjutkan dengan merelaksasi kriteria yang saat ini digunakan; contoh, menggunakan kriteria judul, abstrak atau kata kunci (title or abstract or keywords atau T/A/ K) yang mengandung ―risk management‖. Pada skala yang lebih besar, analisis bibliometrik juga dapat dilakukan pada laporan-laporan teknis yang tidak terpublikasikan melalui dalam jaringan (online) meski untuk hal tersebut dibutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar.
- 2. Analisis bibliometrik dapat dijadikan fondasi dan/ atau disyaratkan menjadi salah satu tahapan riset tingkat lanjut (e.g. tingkat doktoral). Tujuannya untuk memeroleh informasi tentang kekinian ilmu pengetahuan (state of the art) pada suatu ranah riset spesifik. Dari analisis ini dapat diidentifikasi kesenjangan pengetahuan (knowledge gap) yang perlu diisi sebagai salah satu bentuk kontribusi nyata guna memerkaya body of literatures pada ranah tersebut dan menghindari replikasi dan repetisi riset yang tidak perlu.
8. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada dua mitra bestari anonim atas masukan dan komentar mereka yang sangat berharga guna meningkatkan kualitas naskah ini.
