1. Pendahuluan
Urbanisasi merupakan salah satu fenomena yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dari lahan hutan maupun pertanian menjadi suatu lahan terbangun lainnya (seperti kawasan industri, permukiman, jalan dan kawasan komersil/perkantoran) (Chu, et al., 2013). Proses urbanisasi tersebut telah banyak terjadi di beberapa kota besar di Indonesia seperti yang terjadi di Kawasan Bandung Utara (KBU) khususnya Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu. Urbanisasi terjadi karena desakan akan kebutuhan lahan untuk wilayah terbangun dari Kota Metropolitan Bandung. Adapun urbanisasi yang terjadi pada Sub DAS tersebut tercatat mengalami peningkatan wilayah permukiman sebesar 5,64 % dari luasan DAS (luas lahan permukiman 3,42 % pada tahun 2001 menjadi 9,06 % pada tahun 2005) (Syafrina, 2009 ).
Perubahan dari luas lahan terbangun tersebut dapat menyebabkan beberapa pengaruh terhadap nilai debit air yang terdapat di kawasan hilir dari DAS. Jika konversi lahan terjadi di kawasan hulu, maka akan menyebabkan ektremitas debit air yang menimbulkan ancaman banjir dan kekeringan di wilayah hilir DAS (Sabar, 2009). Beberapa studi juga menunjukkan bahwa dampak adanya urbanisasi tersebut dapat menyebabkan terjadinya peningkatan rata-rata limpasan permukaan tahunan, peningkatan nilai debit banjir, peningkatan frekuensi kejadian banjir serta peningkatan volume banjir (Du, et al., 2012). Urbanisasi juga mengakibatkan adanya penurunan jumlah aliran dasar dan peningkatan limpasan (Isik, et al., 2013). Selain itu, urbanisasi dapat menyebabkan penurunan jumlah dan frekuensi kejadian debit minimum dan peningkatan dari frekuensi kejadian debit maksimum (Chu, et al., 2013).
Perubahan kondisi hidrologis lahan yang menyebabkan ekstremitas rezim hidrologi di atas merupakan gambaran dampak adanya urbanisasi. Aliran sungai dari kawasan hilir dalam Sub DAS Cikapundung Hulu ini
dimanfaatkan sebagai pasokan air bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan intake air baku Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bengkok/Dago, sehingga menjadi suatu perhatian khusus untuk mempertahankan fungsi hidrologis dari kawasan Sub DAS Cikapundung Hulu tersebut guna menjaga keberlanjutan sumberdaya air dan perkehidupan manusia di kawasan Kota Bandung maupun KBU.
Salah satu konsep dalam upaya penanggulangan tersebut adalah konsep zero runoff. Konsep zero runoff tersebut adalah konsep penerapan dari drainase lingkungan dengan tujuan untuk mengurangi beban drainase makro menggunakan teknik peresapan buatan (Artificial Recharge). Jika dalam drainase makro diterapkan suatu perancangan infrastruktur sumber daya air dalam Periode Ulang Hujan (PUH) 20-50 tahun, maka untuk penerapan teknik peresapan buatan tersebut akan digunakan PUH yang sama. Konsep tersebut dinilai memiliki kelebihan untuk upaya penanggulangan yang seimbang dengan terjaganya keberlanjutan sumber daya air di dalam suatu kawasan DAS tersebut (Sabar, 2009).
Permasalahan dari lahan permukiman pada perkotaan sangat kompleks yang disebabkan oleh terbatasnya lahan terbuka untuk prasarana drainase dan konservasi air. Jenis permukiman tersebut membutuhkan solusi pengendalian dari limpasan air hujan berupa teknikteknik untuk peresapan air yang efektif dan efisien (Sabar dan Akhsayanty, 2006). Teknik peresapan air yang dikaji dalam penelitian ini adalah penerapan sumur resapan dalam suatu permukiman. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan model penerapan sumur resapan yang efektif untuk penerapan konsep zero runoff yang dipilih karena kesamaannya dengan teknik penangulangan kerusakan fungsi hidrologis lahan dalam PERDA JABAR No. Nomor 58 Tahun 2011 tentang Pengendalian Pemanfaatan Ruang KBU yang dinilai efektif dan efisien dalam penerapannya di kawasan KBU.
Gambar 1. Lokasi studi Sub DAS Cikapundung Hulu (Setiawan, 2009)
2. Metodologi
2.1 Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data hidrologi dan data spasial. Data hidrologi yang dikumpulkan berupa data debit dan data curah hujan. Data hujan dikumpulkan untuk stasiun (St.) sekitar DAS yang berjumlah enam stasiun hujan (St. Lembang, St. Cikapundung, St. Dagopakar, St. Bandung, St. Margahayu dan St. Gunung Kasur) dan untuk data debit menggunakan dua stasiun pengukuran debit (St. Cigulung dan St. Maribaya) dengan panjang pengamatan data yang terkumpul adalah tahun 1971 - 2012. Data spasial yang digunakan di antaranya adalah Peta Batas Administratif, Peta DEM, Peta Jenis Tanah, Citra Satelit dan Peta Penggunaan Lahan (Tahun 1998, 2001, 2005, 2011). Keseluruhan data tersebut akan digunakan untuk dilakukan pendeskripsian rezim hidrologi, kondisi hidrologis lahan dan penanggulangan permasalahan menggunakan konsep zero runoff.
2.2 Perubahan rezim hidrologi lahan
Perubahan rezim hidrologi dalam suatu DAS dianalisis dengan menggunakan pendekatan regresi linier sederhana hasil penjabaran dari suatu model hidrologi yang ditunjukkan dengan persamaan (Sabar, 2009):
\[Q = C(P.A) + b (1)\]
dimana:
Q = debit sungai (m<sup>3</sup>/detik) C = koefisien limpasan (runoff) P = curah hujan (mm/hari) = luas DAS \((m^2)\)A
= aliran dasar (baseflow) (m³/detik)
Dengan menggunakan Persamaan (1) di atas akan didapatkan gambaran nilai koefisien limpasan dan aliran dasar hasil dari pendekatan persamaan regresi linier yang dapat menggambarkan kecenderungan pergerakannya dengan waktu. Selain hal tersebut juga akan digunakan analisis moving average terhadap data debit minimum harian tahunan dan debit maksimum harian tahunan untuk Stasiun Maribaya.
\[Q_{(t)-(t+n)} = \frac{Q_t + Q_{t+1} + \dots + Q_{t+n}}{n} \tag{2}\]
dimana:
= debit moving average n tahun \(Q_{(t)-(t+n)}\)\(Q_t,\,Q_{t+1},\,Q_{t+n}\)= debit maksimum/minimum harian tahunan
= periode pengamatan n
2.3 Penerapan konsep zero runoff
Penerapan konsep zero runoff ini akan dilakukan dengan menggunakan daerah percontohan permukiman dalam Sub DAS Cikapundung Hulu untuk dilakukan perancangan secara detail yang selanjutnya diikuti dengan perhitungan jumlah kebutuhan sumur resapan pada daerah kawasan kritis di Sub DAS Cikapundung Hulu hasil penilaian kondisi kawasan.
Perhitungan nilai intensitas hujan menggunakan metode Van Breen-Talbot untuk memperkirakan nilai limpasan yang masuk dalam sumur resapan dengan menggunakan metode rasional pada waktu konsentrasi (T<sub>c</sub>). Daerah percontohan yang digunakan akan dirancang untuk menggunakan saluran drainase sebagai penyaluran ke dalam sumur resapan yang perancangan saluran drainasenya memperhitungkan nilai T<sub>o</sub> (waktu merayap dari titik terjauh ke saluran drainase pada lahan) dan T<sub>d</sub> (aktual merayap di saluran drainase) untuk setiap periode ulang menggunakan persamaan (Hardjosuprapto, 1998):
\[T_o = \frac{6,33 \times (n.L_o)^{0.6}}{(C_o \times I_s)^{0.4} (S_o)^{0.3}}\] (3)
To = waktu rayapan pada permukaan (menit) = kekasaran manning (tanpa satuan)
= panjang rayapan (m)
\(\begin{matrix} L_o \\ C_o \end{matrix}\)= koefisien limpasan pada tempat air merayap (tanpa satuan)
= intensitas hujan (mm/jam), dengan T<sub>e</sub> = T<sub>c</sub> = kemiringan tanah rayapan (m/m)
Untuk perhitungan T<sub>d</sub> digunakan nilai R (hujan) yang berupa hujan hasil perhitungan distribusi yang terpilih pada setiap periode ulang menggunakan persamaan sebagai berikut (Hardjosuprapto, 1998):
\[T_d = \frac{4,762 \times L_{da}}{(R \times L_a)^{0,5} (A \times C_r)^{0,1} (S_r)^{0,2}}\](4)
\[L_d = 88.3 \times (A)^{0.6} \tag{5}\]
dimana:
= panjang aktual (m) \(L_{da}\)= panjang teoritis (m) \(L_d\)
\(C_{r}\)= koefisien limpasan rata-rata (tanpa satuan) = tinggi hujan pada PUH tertentu (mm/hari) R
= luas daerah tangkapan (m²) A
= kemiringan (m/m)
Waktu konsentrasi terdiri atas waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir di atas permukaan tanah (To, time of overland flow) dan waktu yang diperlukan untuk mengalir di dalam saluran ke tempat yang ditinjau (Td, time of drain) (Hardjosuprapto, 1998):
\[T_c = T_o + T_d \tag{6}\]
Intensitas hujan (I) di Indonesia dapat mengacu pada pola grafik IDF (Intensity Duration Frequency) dari van Breen, yang dapat didekati dengan persamaan:
\[I = \frac{54.R + 0.07.R^2}{T_c + 0.3.R} \tag{7}\]
Untuk menghitung debit limpasan (Q) digunakan metode rasional dengan rumus sebagai berikut:
\[Q = 0,00278. C_r.I. A (8)\]
Volume dan efisiensi sumur resapan dihitung dengan Metode Sunjoto berdasarkan keseimbangan air yang masuk ke dalam sumur dan air yang meresap ke dalam Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut (Sabar dan Akhsyanty, 2006):
\[H = \frac{Q}{F.K} \left( 1 - e^{\frac{-FKT}{\pi r^2}} \right) \tag{9}\]
dimana :
H = tinggi muka air dalam sumur (m)
F = faktor geometri (m) Q = debit air masuk (m3 /detik) T = waktu pengaliran (detik)
K = koefisien permeabilitas tanah (m/detik)
r = jari-jari sumur (m)
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Perubahan rezim hidrologi
Perubahan rezim hidrologi yang terjadi di kawasan Sub DAS Cikapundung Hulu tercatat melalui Stasiun Pengamatan Debit Maribaya. Dengan menganalogikan Persamaan 1 dengan persamaan regresi linier sederhana (y=ax+b'), akan dibandingkan antara nilai curah hujan wilayah bulanan (P.A sebagai x) dengan nilai debit rata-rata bulanan yang tercatat pada Stasiun Maribaya (Q sebagai y), sehingga didapatkan hubungan yang menggambarkan adanya peningkatan nilai koefisien limpasan (C ditunjukkan oleh a) dan penurunan jumlah baseflow (b ditunjukkan oleh b') setiap tahunnya dari tahun 1971-2012 seperti pada Gambar 2 berikut :

Gambar 2. (a) Peningkatan nilai koefisien limpasan dan (b) Penurunan nilai aliran dasar
Peningkatan nilai koefisien limpasan dan penurunan aliran dasar tersebut diakibatkan oleh adanya urbanisasi. Jika dibandingkan pada tahun 2006 nilai koefisien limpasan rata-rata di Sub DAS Cikapundung memiliki nilai 0,3 (Sabar, 2009), maka dengan cara yang sama nilai koefisien hasil pengamatan rata-rata hingga tahun 2012 adalah sebesar 0,57. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan tutupan
lahan akan menurunkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah, sehingga aliran dasar yang tercatat akan menunjukkan kecenderungan yang terbalik (menurun dari waktu ke waktu).
Selain dari hubungan antara hujan dan debit yang digambarkan dengan menggunakan persamaan regresi linier sederhana, juga dilakukan perhitungan analisis moving average untuk menghilangkan sifat acak debit, sehingga dapat diamati kecenderungan dari nilai debit maksimum harian dan minimum harian setiap tahunnya yang diperhitungkan secara suksesif selama 5 tahunan. Gambar 3 menunjukkan hasil perhitungan moving average dengan data debit pada Stasiun Maribaya.

Gambar 3. Moving average debit maksimum dan minimum tahunan
Peningkatan dari debit maksimum dan penurunan dari debit minimum di atas menunjukkan bahwa telah terjadi ektremitas debit yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata maksimum dan penurunan ratarata minimum. Peningkatan nilai tersebut tidak terlepas dari nilai debit maksimum yang semakin besar karena beban limpasan yang bertambah, dan debit minimum pada musim kemarau yang semakin kecil akibat dari penurunan jumlah air terinfiltrasi dalam tanah yang mengalir kembali ke sungai sebagai baseflow.
3.2 Penerapan konsep zero runoff
Penerapan konsep zero runoff akan dilakukan untuk kawasan permukiman yang masuk dalam kategori kritis dari hasil penilaian. Penerapan konsep ini menggunakan model persil yang dirancang dan diperhitungkan untuk mendapatkan penerapan yang efisien dan efektif serta teknik-teknik penerapan yang dipertimbangkan untuk aplikasinya. Gambar berikut memberikan gambaran mengenai lokasi model persil tersebut.

Gambar 4. Lokasi model persil
Lokasi model persil yang tergambarkan dalam Gambar 4 di atas akan digunakan untuk perancangan dari sumur resapan menggunakan konsep zero runoff. Rancangan saluran drainase dan lokasi sumur resapan juga tata guna lahan detail dari lokasi digambarkan sebagai berikut.

Gambar 5. Perancangan lokasi dan pembagian blok aliran di lokasi model persil dan aplikasinya
Perhitungan pertama yang dilakukan adalah dengan menggunakan Persamaan 3 untuk mencari waktu rayapan dari setiap blok ke dalam saluran drainase dimana setiap blok memiliki hasil perhitungan waktu rayapan untuk setiap periode. Nilai Ie diperoleh dari Persamaan 7 dengan memasukkan nilai T<sub>e</sub> ke dalam T<sub>c</sub>. Nilai T<sub>e</sub> sendiri diperoleh dari persamaan berikut (Hardjosuprapto, 1998):
\[T_e = \frac{R^{1,92}}{(1,11 \times R)} \tag{10}\]
Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perhitungan waktu rayapan (To)
penampang melintang, dan nilai debit tampungan dari
\((T_d)\)
| Drain | Lda (m) | R (mm) | A (m²) | Cr | Sr | Td (menit) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 17,62 | 119,37 | 753,42 | 0,59 | 0,00455 | 2,836 |
| 2 | 5,00 | 119,37 | 180,00 | 0,69 | 0,00400 | 1,441 |
| 3 | 15,00 | 119,37 | 600,00 | 0,47 | 0,00568 | 2,589 |
Berdasarkan hasil perhitungan nilai T<sub>d</sub> di atas, maka dilakukan pengecekan nilai kecepatan dari setiap saluran drainase. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kecepatan di saluran drainase untuk segmen 1, 2 dan 3 menunjukkan nilai kecepatan yang berada di bawah ambang batas yang diijinkan sebesar 1,5 m/detik untuk saluran beton. Pada PUH 20 tahun didapatkan perhitungan kecepatan setiap segmen adalah kecepatan 0,104 m/detik untuk segmen 1, kecepatan 0,058 m/detik untuk segmen 2, dan kecepatan 0,097 m/detik untuk segmen 3. Dengan menggunakan nilai kecepatan pada saluran tersebut maka didapatkan batas maksimum dari penampang drainase yang diperhitungkan dengan memanfaatkan Persamaan Manning yang akan menghasilkan nilai kedalaman air dari saluran untuk setiap segmen saluran dengan hasil perhitungan dalam PUH 20 tahun adalah kedalaman air 16,54 cm untuk segmen 1, kedalaman air 11,62 cm untuk segmen 2, dan kedalaman
| Blok | Lo (m) | n | С | le (mm/jam) (Τe=Τc) | s | To (menit) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| A1 | 24,869 | 0,0480 | 0,40 | 64,81 | 0,03032 | 5,46 |
| A2 | 20,628 | 0,0450 | 0,40 | 64,81 | 0,01447 | 5,87 |
| A3 | 14,446 | 0,0130 | 0,90 | 64,81 | 0,04546 | 0,58 |
| A4 | 14,065 | 0,0217 | 0,75 | 64,81 | 0,00930 | 2,67 |
| A5 | 13,371 | 0,0196 | 0,78 | 64,81 | 0,01724 | 2,00 |
| A6 | 13,434 | 0,0500 | 0,40 | 64,81 | 0,00769 | 5,84 |
| A7 | 10,106 | 0,0196 | 0,78 | 64,81 | 0,00693 | 2,22 |
| A8 | 10,161 | 0,0350 | 0,40 | 64,81 | 0,00693 | 4,11 |
| A9 | 10,259 | 0,0130 | 0,90 | 64,81 | 0,02924 | 5,40 |
| A10 | 10,259 | 0,0130 | 0,90 | 64,81 | 0,02924 | 5,40 |
| A11 | 19,647 | 0,0294 | 0,62 | 64,81 | 0,00407 | 5,40 |
| A12 | 15,811 | 0,0350 | 0,40 | 64,81 | 0,00190 | 7,91 |
| A13 | 26,242 | 0,0800 | 0,30 | 64,81 | 0,01136 | 11,55 |
| A14 | 21,378 | 0,0268 | 0,67 | 64,81 | 0,01871 | 6,66 |
Setelah dilakukannya perhitungan tersebut maka dilakukan perhitungan untuk waktu rambatan pada saluran drainase yang direncanakan dan dilakukan pengecekan kemampuan rancangan drainase dengan menggunakan perhitungan kecepatan, perhitungan
air 15,83 cm untuk segmen 3. Penggambaran bentuk dan saluran drainase yang dirancang dalam lokasi model persil adalah sebagai berikut.

Gambar 6. Saluran drainase lokasi model persil
Berdasarkan gambar di atas didapatkan bahwa setiap segmen dari saluran drainase telah memiliki kecocokan dengan perancangan awal. Kecepatan rancangan tidak melebihi dari kecepatan yang diijinkan serta penampang dari saluran mampu untuk menampung air dalam PUH 20 tahun, sehingga sesuai dengan konsep zero runoff. Dengan perhitungan nilai \(T_o\) dan \(T_d\) di atas, maka akan dilakukan perhitungan nilai debit puncak dalam setiap saluran menggunakan metode rasional dan didapatkan debit puncak seperti pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Hasil perhitungan debit puncak (Qp)
| Saluran | \(\mathbf{Q}_{p}\) | Qp Total (m³/detik) | PUH | |
|---|---|---|---|---|
| Drain 1 | 0,0182 | 0,0286 | 20 tahun | |
| Drain 2-3 | 0,0104 | 0,0266 | 20 tanun | |
| Drain 1 | 0,0188 | 0.0296 | 50 tahun | |
| Drain 2-3 | 0,0109 | 0,0290 | JU IAHUH | |
Nilai Q<sub>p</sub> tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai landasan dalam perancangan kedalaman sumur resapan. Dalam lokasi model persil ini digunakan sumur resapan dengan diameter 0,8 m dan kedalaman 15 m untuk sumur A yang menampung air dari drain 1 dan diameter 1,2 m dengan kedalaman 10 m untuk sumur B yang menampung air dari drain 2-3 dengan pengerasan dinding setebal 25 cm setiap sisi dengan kedalaman 3 meter dari muka tanah. Sisa kedalaman sumur diisi dengan kerikil besar. Pengerasan dan pengisian kerikil besar tersebut bertujuan untuk menjaga kestabilan sumur agar tidak terjadi kerusakan akibat pergeseran tanah maupun amblasan karena air yang masuk. Gambar 7 menunjukan sumur resapan B yang telah dibuat dan akan digunakan.

Gambar 7. Sumur resapan B lokasi model persil (a) Sumur resapan dan (b) Penampang melintang
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa jika membandingkan nilai \(Q_p\) pada PUH 20 tahun dari lokasi percontohan dengan Q resapan yang diperhitungkan dengan menggunakan Metode Sunjoto pada setiap sumur dihasilkan nilai Q resapan 0,0244 m³/detik untuk sumur A dan 0,0181 m³/detik untuk sumur B (pada \(T=T_c\)) yang lebih besar dibandingkan dengan \(Q_p\) pada PUH 20 tahun (\(Q_p\) ke sumur A 0,0182 m³/detik dan \(Q_p\) ke sumur B 0,0104 m³/detik), sehingga rancangan dapat dikatakan telah sesuai dengan konsep zero runoff. Konsep tersebut menunjukkan kemampuan dari penerapan sumur resapan di wilayah permukiman dengan setiap meter sumur resapan rata-rata memiliki nilai Q resap sebesar 1,6 – 1,8 L/dt untuk lokasi model persil.
Berdasarkan hasil penilaian penggunaan sumur resapan di kawasan permukiman di atas, akan dilakukan penerapan untuk kawasan yang lebih besar, karena model persil ini berada di kawasan Kecamatan Lembang dan Kayuambon yang memiliki kawasan kritis kondisi hidrologis. Gambar 8 berikut merupakan lokasi Kecamatan Lembang dan Kayuambon.

Gambar 8. Kecamatan Lembang dan Kayuambon
Berdasarkan gambar di atas didapatkan bahwa persentase jumlah lahan kritis secara hidrologis adalah 46,05 ha (93,20 %) untuk Kecamatan Lembang dan 176,18 ha (82,43%) untuk Kecamatan Kayuambon. Dominasi penggunaan lahan tersebut adalah 100% lahan di kawasan Lembang dan 92,57 % lahan di kawasan Kayuambon adalah permukiman, sehingga dinilai penerapan sumur resapan cocok untuk diterapkan di kedua kawasan tersebut. Berikut merupakan gambaran dari kawasan permukiman di Kecamatan Lembang dan Kayuambon.
Gambar 9. Permukiman Kecamatan Lembang dan Kayuambon (Google Street View, diakses 17 Maret 2017)
Perhitungan intensitas hujan hasil persamaan Van Breen-Talbot untuk Kawasan Lembang menggunakan Stasiun Lembang dan Kawasan Kayuambon menggunakan Stasiun Lembang dan Margahayu dengan asumsi Tc sama dengan durasi hujan (Te=73,35 menit) menggunakan Persamaan 10 untuk curah hujan 119,37 mm/hari dengan PUH 20 tahun. Nilai Qp didapatkan seperti perhitungan pada Gambar 10 berikut.
Gambar 10. Perhitungan Qp limpasan di Kecamatan Lembang dan Kayuambon
Hasil Qp tersebut akan digunakan untuk menghitung jumlah sumur yang harus dibuat untuk mengembalikan kondisi hidrologis lahan bila digunakan metode peresapan Sunjoto dengan dasar perancangan sumur berdiameter 1,2 m dan kedalaman 10 m. Hasil perhitungannya seperti terlihat pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Hasil perhitungan jumlah sumur resapan dengan metode Sunjoto
| Desain Sumur | Jumlah | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Kecamatan | H (m) | F (m) | K (m/detik) | R (m) | Q Resap (m/detik) | n |
| Lembang | 10 | 17,22 | 0,000064 | 0,6 | 6,56 | 591 |
| Kecamatan | H (m) | F (m) | K (m/detik) | R (m) | Q Resap (m/detik) | n |
| Kayuambon | 10 | 17,22 | 0,000064 | 0,6 | 23,01 | 2061 |
Dengan penerapan jumlah sumur resapan menggunakan konsep zero runoff /dirancang dalam PUH 20 tahun tersebut diperkirakan dapat mengurangi kondisi kritis lahan sebesar 9,97 % persen dari luasan kritis hidrologi di keseluruhan DAS Cikapundung Hulu.
4. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari dari penelitian ini antara lain adalah:
- 1. Perubahan rezim hidrologi yang disebabkan oleh adanya perubahan penggunaan lahan ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai koefisien limpasan dan penurunan aliran dasar (baseflow) dari tahun 1971-2012 serta adanya kecenderungan peningkatan rata-rata debit maksimum harian tahunan dan penurunan rata-rata debit minimum tahunan hasil dari analisis moving average.
- 2. Penanggulangan yang disarankan untuk daerah Sub DAS Cikapundung Hulu yang termasuk ke dalam daerah konservasi adalah konsep zero runoff yang diaplikasikan dalam drainase lingkungan (sumur resapan) di setiap persil permukiman.
- 3. Hasil simulasi limpasan terhadap model persil memperlihatkan bahwa penerapkan saluran drainase dan sumur resapan yang diaplikasikan dalam PUH 20 tahun tidak menghasilkan limpasan karena keseluruhan limpasan yang dihasilkan masuk dalam sumur resapan (Qresap > Qlimpasan).
- 4. Jika model zero runoff ini diaplikasikan untuk skala kecamatan, maka di Kecamatan Lembang perlu dibangun 591 sumur resapan, sedangkan untuk Kecamatan Kayuambon dibutuhkan 2061 sumur resapan yang masing-masing berdiameter 1,2 meter dan kedalaman 10 meter yang dirancang dalam periode ulang 20 tahun, sehingga diperkirakan dapat mengurangi kondisi kritis hidrologi lahan sebesar 9,97 % dari kawasan kritis hidrologi.
