1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Ruas jalan Cakung-Cilincing Jakarta merupakan jalan
Nasional yang mempunyai volume lalu lintas yang sangat tinggi. Kendaraan-kendaraan tersebut terkadang mempunyai beban yang berlebih dari beban standar, hal ini memberikan dampak terhadap kondisi struktural maupun kondisi fungsional pekerasannya.
Dalam pelaksanaan pembangunan ruas jalan Cakung-Cilincing, jenis konstruksi yang digunakan adalah struktur perkerasan kaku.
Secara struktural kinerja perkerasan harus dipelihara agar tetap mempunyai masa layan atau umur rencana yang sesuai dengan yang dirancang sebelumnya sehingga perkerasan tersebut masih mampu menahan beban lalu lintas. Sedangkan secara fungsional, dapat diukur atau dilihat dari tingkat pelayanan suatu perkerasan. Hal ini berkaitan dengan kenyamanan para pengguna jalan tersebut. Kedua kondisi ini harus dikoordinasikan dengan baik agar kinerja perkerasan jalan dapat bekerja dengan baik (Paus, 2016). Berdasarkan hal diatas, maka pengukuran yang akan digunakan dalam penelitian evaluasi kondisi struktural ini adalah dengan menggunakan alat Falling Weight Deflectometer (FWD), alat ini akan mengukur lendutan yang kemudian adanya proses backcalculation menghasilkan tebal lapis tambah atau overlay.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam evaluasi kondisi struktural pada ruas jalan Cakung-Cilincing adalah Metode AASHTO 1993 dan Metode AUSTROADS 2011. Pemilihan metoda pada AASHTO 1993 dalam perencanaan desain tebal lapis tambah perkerasan kaku karena metoda tersebut memperhitungkan kondisi lalu lintas yang telah dilewati serta kondisi lalu lintas sampai mencapai keruntuhan, material dan kondisi lingkungan yang luas. Kemudian dasar pemilihan Metoda AUSTROADS 2011 memperhitungkan beban kendaraan yang melewati suatu ruas Jalan, hal ini berpengaruh kepada tebal lapisan yang akan digunakan nantinya pada saat penanganan dilapangan. Penelitian ini tidak hanya menghitung tebal lapis tambah perkerasan pada aspal tetapi juga menghitung tebal lapis tambah pada perkerasan beton, hal ini dikarenakan penelitian tentang tebal lapis tambah atau overlay pada beton khususnya di Indonesia masih sangat jarang dilakukan.
Dalam evaluasi kondisi struktural dengan menggunakan AASHTO 1993 dan AUSTROADS 2011 sangat memungkinkan terjadi perbedaan hasil yang signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini akan memperlihatkan perbedaan hasil dari evaluasi kondisi struktural kedua metode tersebut serta mengetahui metoda mana yang menghasilkan lapisan tambah yang lebih tipis yang baik digunakan.
1.2 Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
- 1. Mengevaluasi kinerja struktural perkerasan kaku lapisan tambah aspal dan beton Jalan Cakung-Cilincing, dengan menggunakan Metode AASHTO 1993.
- 2. Mengevaluasi kinerja struktural perkerasan kaku lapisan tambah aspal dan beton Jalan Cakung-Cilincing, dengan menggunakan Metode AUSTROADS 2011.
3. Membandingkan analisis evaluasi struktural antara Metode AASHTO 1993 dan Metode AUSTROADS 2011.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Perencanaan lapis tambah menurut Metoda AASHTO 1993
Menurut Metode AASHTO 1993, langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan perencanaan lapis tambah atau overlay pada aspal dan beton diatas perkerasan kaku adalah sebagai berikut:
- a. Mengetahui data tebal perkerasan kaku eksisting.
- b. Analisis lalu lintas. Kumulatif 18-kip ESAL yang telah melewati lajur rencana (Np) dan kumulatif 18-kip ESAL yang akan melewati lajur rencana (Nf) selama umur rencana..
- c. Survei kondisi kerusakan.
- d. Modulus reaksi tanah dasar (k) dan modulus elastis perkerasan (E) dapat dicari dengan menggunakan data lendutan alat FWD ditengah plat pada Gambar 1 dan Gambar 2. Nilai "k" statis efektif adalah setengah dari nilai "k" dinamis efektif. Sambungan distribusi beban (J) menggunakan data lendutan alat FWD disambungan plat.

Gambar 1. Nilai k dinamis efektif (Sumber : AASHTO, 1993)

Gambar 2. Modulus elastis perkerasan (E) (Sumber : AASHTO, 1993)
e. Modulus kekakuan (Sc') yang bisa dihasilkan dengan metode Backcalculation dari data lendutan.
- f. Menentukan tebal perkerasan yang dibutuhkan (Df) dengan menggunakan nomogram perkerasan kaku yang dapat dilihat pada Gambar 3, data yang diperlukan adalah sebagai berikut :
- 1. Nilai k statis efektif dibawah perkerasan kaku eksisting.
- 2. Desain penurunan Present Serviceability Index (PSI).
- 3. J, faktor distribusi beban pada perkerasan eksisting.
- 4. Modulus keruntuhan perkerasan kaku eksisting.
- 5. Modulus elastis perkerasan kaku eksisting.
- 6. Penurunan daya dukung perkerasan kaku eksisting.
- 7. Reliabilitas desain overlay, R (%).
- 8. Standar deviasi keseluruhan (So) untuk perkerasan kaku.
- 9. Kapabilitas sub drainase dari perkerasan kaku eksisting.
- g. Menentukan tebal perkerasan efektif (Deff) dari perkerasan eksisting berdasarkan survei kondisi dan umur sisa.
- h. Menentukan tebal lapis tambah. Tebal lapis tambah aspal beton pada perkerasan kaku 2 inch paling tipis dan 10 inch paling tebal, tebal lapis tambah yang paling umum digunakan ialah antara 3 inch sampai dengan 6 inch.
2.2 Perencanaan lapis tambah aspal menurut Metoda AUSTROADS 2011
Tahapan yang dilakukan dalam melakukan perencanaan
tebal lapis tambah atau overlay dengan menggunakan Metoda AUSTROADS 2011 adalah sebagai berikut:
- a. Persentase lendutan maksimum dari sambungan perkerasan, nilai lendutan tersebut harus dikurangi 0.22 mm.
- b. Persentase selisih lendutan dari sambungan perkerasan, nilai selisih lendutan tersebut harus dikurangi 0.03 mm.
- c. Untuk menghitung tebal lapis tambah aspal, persentase lendutan maksimum dan persentase selisih lendutan dikalikan dengan nilai 5 mm.
2.3 Perencanaan lapis tambah beton menurut Metoda AUSTROADS 2011
Untuk lapisan tambah atau overlay pada beton, tebal yang dibutuhkan menggunakan prosedur untuk perkerasan kaku yang baru. Langkah-langkah tersebut menurut Metoda AUSTROADS 2011 adalah sebagai berikut :
- a. Pilih jenis perkerasan kaku, dengan dowel atau undowel.
- b. Bahu perkerasan kaku, dengan adanya bahu pada perkerasan kaku, hal ini akan meningkatkan kinerja dari perkerasan dan memungkinkan ketebalan yang dibutuhkan lebih tipis.
- c. Menghitung desain lalu lintas (NDT) yang dalam hal ini dinyatakan dalam Heavy Vehicle Axle Groups (HVAG). Dari nilai HVAG, maka selanjutnya tentukan jenis subbase yang digunakan berdasarkan nilai HVAG tersebut.
- d. Kekuatan efektif tanah dasar, nilai tersebut berdasarkan nilai CBR yang dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 3. Nomogram perkerasan kaku Metoda AASHTO 1993
(Sumber : AASHTO, 1993)

Gambar 4. Kekuatan efektif tanah dasar (Sumber : AUSTROADS, 2011)
e. Kekuatan beton untuk perhitungan ini mencerminkan waktu dimana lalu lintas sedang diterapkan. Umumnya, umur 28 hari dari beton digunakan sebagai desain dari kekuatan beton. Minimum dari nilai kekuatan beton yang mempunyai nilai desain lalu lintas 106 HVAG atau lebih adalah 4.5 MPa pada umur beton 28 hari.
- f. Untuk menentukan Load Safety Factor (LSF) berdasarkan pada reliabilitas desain lapisan tambah.
- g. Minimum tebal perkerasan berdasarkan pada nilai HVAG.
- h. Dari data WIM dan data HVAG maka dapat dihitung nilai beban yang diharapkan tiap axle group.
- i. Menghitung nilai faktor kelelahan dan persentase kerusakan dari faktor kelelahan.
- j. Menghitung nilai faktor erosi dan persentase kerusakan dari faktor erosi.
- k. Menghitung beban repetisi yang diijinkan tiap sumbu kendaraan.
- l. Total persentase kelelahan dan erosi harus kurang dari 100%. Jika total persentase kelelahan lebih dari 100% maka, ulangi langkah 7-11.
3. Tahapan Penelitian
Bagan alir perencanaan lapisan tambah pada penelitian ini dengan Metoda AASHTO 1993 dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Diagram perencanaan lapisan tambah dengan Metoda AASHTO 1993 (Sumber : Badisga, S.M., 2005)
176 Jurnal Teknik Sipil
Bagan alir dari perencanaan lapisan tambah aspal diatas perkerasan kaku dengan menggunakan Metoda AUSTROADS 2011 dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Diagram perencanaan lapis tambah aspal diatas perkerasan kaku dengan Metoda AUSTROADS 2011 (Sumber : AUSTROADS, 2011)
Bagan alir dari perencanaan lapisan tambah beton diatas perkerasan kaku dengan menggunakan Metoda AUSTROADS 2011 dapat dilihat pada Gambar 7.
4. Presentasi Data
4.1 Struktur perkerasan eksisting
Lokasi penelitian ini adalah ruas Jalan Cakung-Cilincing dengan panjang jalan 9,03 km dengan data struktur perkerasan eksisting ruas Jalan tersebut menggunakan perkerasan kaku yang disajikan pada Gambar 8 dibawah ini.

Gambar 8. Struktur perkerasan eksisting jalan Cakung-Cilincing (Sumber : PPJN Kota Metropolitan Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum, 2014)

Gambar 7. Diagram perencanaan lapis tambah beton diatas perkerasan kaku dengan Metoda AUSTROADS 2011 (Sumber : AUSTROADS, 2011)
4.2 Data volume lalu lintas
Data volume lalu lintas yang digunakan merupakan data sekunder pada tahun 2006 - 2015 pada ruas Jalan Cakung-Cilincing Jakarta. Dimana data tersebut diperoleh dari PPJN Kota Metropolitan Jakarta yang digunakan untuk perhitungan nilai ESAL dan perkiraan tingkat pertumbuhan lalu lintas untuk analisis kondisi struktural. Jenis kendaraan yang digunakan adalah golongan 2, 3, 4, 5a, 5b, 6a, 6b, 7a, 7b, 7c saja sedangkan golongan 1 dan golongan 8 dianggap tidak mempengaruhi (Paus, 2016). Nilai volume lalu lintas dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2015 dapat terlihat pada Tabel 1 dibawah ini.
5. Analisis Data
5.1 Analisis Metoda AASHTO 1993 overlay aspal
5.1.1 Analisis Kumulatif ESAL
Data analisis beban sumbu kendaraan Weight in Motion (WIM) pada perhitungan Truck Factor (TF) mengacu pada Muatan sumbu Terberat MST 10 Ton (Pd T-05-2005) untuk jenis kendaraan golongan 2, 3, 4, 5a, 5b dan 7b kemudian untuk jenis kendaraan golongan kendaraan Gol. 6b, 7a dan 7c diperoleh dari data WIM sekunder yang berada di ruas Jalan Sudirman-Bekasi pada Tahun 2014 dengan persentasi proporsi kendaraan berdasarkan survey LHR yang dimana data tersebut dianggap mempunyai karakteristik lalu lintas yang hampir sama dengan karakteristik dengan ruas Jalan Cakung-Cilincing, kemudian data WIM tersebut digunakan pada perhitungan nilai ESAL.
| Golongan | Pembagian K | elas Kendan | aan | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Goiongan | Gol 6b | Gol 7a | Gol 7c1 | Gol | 7c2a | Gol 7e2b | Gol 7e3 |
| Gambar Kendaraan | •• | ||||||
| Jenis Kendaraan | Truk Berat 2 Sumbu | Truk Berat 3 Sumbu | |||||
| 1,2 | 1,2 ,2 | 1,2 - 2,2 | 1,2,2 | - 2,2 | 1,2 - 2,2,2 | 1,22 - 2,2,2 | |
| Beban Sb-1 (ton) | 5.076 | 5.070 | 5.282 | 5.181 | 6.862 | 4.727 | |
| Beban Sb-2 (ton) | 12.071 | 11.437 | 0.17 | 13.284 | |||
| Beban Sb-3 (ton) | 22.232 | 20.131 | 21.655 | 19.799 | 24.709 | ||
| Beban Sb-4 (ton) | 22.804 | 30.603 |
Gambar 9. Data beban sumbu kendaraan ruas Jalan Sudirman – Bekasi (Sumber : PPJN Kota Metropolitan Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum, 2014)
Disisi lain, adanya perhitungan Truck Factor (TF) yaitu adalah jumlah pemakaian beban ekivalen pada setiap sumbu kendaraan (equivalent axle load) yang dikontribusikan oleh satu kendaraan dari setiap golongan kendaraan yang ditinjau, dimana rekapitulasi Truck Factor (TF) dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Rekapitulasi perhitungan Truck Factor (TF)
| Truck Factor (TF) | |||
|---|---|---|---|
| No. | Golongan Kendaraan | MST (Standar) 10Ton | TF WIM Aktual (Sudirman Bekasi) |
| 1 | 2 | 0.002 | - |
| 2 | 3 | 0.002 | - |
| 3 | 4 | 0.002 | - |
| 4 | 5a | 1.825 | - |
| 5 | 5b | 3.780 | - |
| 6 | 6b | - | 5.569 |
| 7 | 7a | - | 7.591 |
| 8 | 7b | 8.291 | - |
| 9 | 7c | - | 11.665 |
5.1.2 Kumulatif ESAL rencana (Nf)
Rekapitulasi hasil perhitungan ESAL rencana (Nf) dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Rekapitulasi kumulatif ESAL rencana (Nf)
Dari Gambar 10 dapat dilihat nilai kumulatif ESAL rencana (Nf) untuk lajur 1 sebesar 60,445,964.29. Sedangkan untuk lajur 2 sebesar 48,745,008.90.
Tabel 1. Data volume lalu lintas tahun 2006 - 2015 ruas Jalan Cakung-Cilincing
| Jenis Kendaraan | 2006 | 2007 | 2008 | 2009 | 2010 | 2011 | 2012 | 2013 | 2014 | 2015 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Gol. 1 | 38462 | 40374 | 42341 | 46228 | 48952 | 52123 | 55976 | 57655 | 59386 | 61666 |
| Gol. 2 | 5879 | 6156 | 6614 | 6891 | 7234 | 7495 | 7822 | 8165 | 8508 | 8835 |
| Gol. 3 | 2170 | 2323 | 2437 | 2583 | 2704 | 2875 | 2978 | 3105 | 3232 | 3347 |
| Gol. 4 | 1600 | 1695 | 1847 | 1885 | 1980 | 2076 | 2171 | 2266 | 2361 | 2461 |
| Gol. 5a | 34 | 35 | 37 | 39 | 41 | 43 | 45 | 47 | 49 | 51 |
| Gol. 5b | 6 | 7 | 7 | 7 | 8 | 8 | 9 | 9 | 9 | 10 |
| Gol. 6b | 1958 | 2091 | 2191 | 2307 | 2440 | 2540 | 2657 | 2773 | 2892 | 3006 |
| Gol. 7a | 1690 | 1773 | 1896 | 1972 | 2071 | 2176 | 2270 | 2370 | 2470 | 2569 |
| Gol. 7b | 1 | 1 | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 |
| Gol. 7c | 7460 | 7841 | 8348 | 8749 | 9236 | 9679 | 10123 | 10567 | 11032 | 11518 |
Sumber : PPJN Kota Metropolitan Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum, 2014)
5.1.3 Kumulatif ESAL aktual yang telah dilalui pada lajur rencana (Np)
Pada perhitungan Kumulatif ESAL aktual yang telah lalu pada lajur rencana (Np) digunakan untuk mengetahui umur sisa atau layanan dari perkerasan beton tersebut. Hasil perhitungan kumulatif ESAL aktual (Np) dapat dilihat pada Gambar 11 dibawah ini.

Gambar 11. Rekapitulasi kumulatif ESAL aktual (Np)
Dari Gambar 11 dapat dilihat nilai kumulatif ESAL yang telah dilalui (Np) untuk lajur 1 sebesar 55,911,732.30. Sedangkan untuk lajur 2 sebesar 72,782,260.83.
5.1.4 Kumulatif ESAL sampai mencapai keruntuhan (N1,5)
Kumulatif ESAL Sampai Mencapai "Keruntuhan" (N1,5) adalah kumulatif ESAL yang digunakan untuk mendisain atau merencanakan struktur perkerasan beton berdasarkan umur yang direncanakan, yaitu dimana perkerasan tersebut akan mengalami keruntuhan/kegagalan dalam kapasitas struktur untuk menerima beban lalulintas. Penggunaan "N1,5" dipakai untuk mengetahui umur sisa dari perkerasan yang telah direncanakan (Paus, 2016). Dalam hasil perhitungan N1,5 disajikan pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3. Kumulatif ESAL sampai mencapai keruntuhan (N1,5)
| Lajur | Tahun Awal Perkerasan | Umur Rencana | Tahun Akhir Masa Layan | N1,5 |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 2006 | 20 | 2025 | 138,143,389.36 |
| 2 | 2006 | 20 | 2025 | 157,569,051.20 |
5.1.5 Analisis modulus reaksi tanah dasar (k)
Hasil analisis Metoda AASHTO 1993 berdasarkan lendutan ditengah pelat untuk nilai modulus reaksi tanah dasar "k" dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Modulus reaksi tanah dasar "k" pada lajur 1
5.1.6 Analisis modulus elastisitas (Ec)
Nilai modulus elastisitas pada analisis dengan menggunakan Metoda AASHTO 1993 dapat dilihat pada Gambar 13 dibawah ini.

Gambar 13. Modulus elastisitas (Ec) pada lajur 1
5.1.7 Perhitungan tebal overlay aspal (Dol) pada Metoda AASHTO 1993 untuk survei kondisi
Untuk perhitungan tebal lapis tambah atau overlay aspal yang dibutuhkan (Dol) untuk lajur 1 dan lajur 2 dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4. Tebal overlay aspal berdasarkan survei kondisi lajur 1
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+806 - 9+030 | 4224 | 13.20 | 9.67 | 1.80 | 6.34 | 16.50 | Overlay |
| 2 | 3+001 - 4+805 | 1804 | 13.25 | 9.46 | 1.77 | 6.72 | 17.50 | Overlay |
| 3 | 0 - 3+000 | 3000 | 12.80 | 10.00 | 1.87 | 5.22 | 13.50 | Overlay |
Tabel 5. Tebal overlay aspal berdasarkan survei kondisi lajur 2
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+401 - 9+030 | 4629 | 12.15 | 10.43 | 1.99 | 3.42 | 9.00 | Overlay |
| 2 | 2+401 - 4+400 | 1999 | 12.05 | 11.00 | 2.07 | 2.18 | 6.00 | Overlay |
| 3 | 0 - 2+400 | 2400 | 12.10 | 9.78 | 1.92 | 4.45 | 11.50 | Overlay |
5.1.8 Perhitungan overlay aspal (Dol) pada Metoda AASHTO 1993 untuk umur sisa
Perhitungan tebal perkerasan efektif (Deff) berdasarkan umur sisa menggunakan Metoda AASHTO 1993 dapat terlihat pada Tabel 6.
Perhitungan tebal overlay beton yang dibutuhkan (Dol) untuk lajur 1 dan lajur 2 dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.
5.2 Analisis Metoda AASHTO 1993 overlay beton
5.2.1 Perhitungan tebal overlay beton (Dol) pada Metoda AASHTO 1993 untuk survei kondisi
Perhitungan tebal overlay beton berdasarkan dapat dilihat pada Tabel 9 dan Tabel 10.
5.2.2 Perhitungan tebal overlay beton (Dol) pada Metoda AASHTO 1993 untuk umur sisa
Perhitungan tebal overlay beton yang dibutuhkan (Dol) untuk lajur 1 dan lajur 2 dapat dilihat pada Tabel 11 dan Tabel 12.
5.3 Perhitungan tebal overlay aspal pada Metoda AUSTROADS 2011
Untuk perhitungan tebal lapis tambah atau overlay aspal dapat dilihat pada Tabel 13 dan Tabel 14. Dimana parameter yang digunakan pada perhitungan overlay aspal dengan menggunakan metoda AUSTROADS 2011 adalah sebagai berikut:
- a. Lendutan pada sambungan pelat yang berasal dari pengujian lendutan dengan alat FWD.
- b. Selisih lendutan pada sambungan pelat.
Tabel 6. Perhitungan Deff dengan berdasarkan umur sisa
| Lajur | Np (ESAL Aktual) | N1,5 | RL | CF | D (inch) eksisting | Deff (inch) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 55,911,732.30 | 138,143,389.36 | 59.53% | 0.91797 | 11.81 | 10.84 |
| 2 | 72,782,260.83 | 157,569,051.20 | 53.81% | 0.9028 | 11.81 | 10.66 |
Tabel 7. Perhitungan tebal overlay beton berdasarkan umur sisa lajur 1
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+806 - 9+030 | 1224 | 13.20 | 10.84 | 1.9114 | 4.51 | 11.50 | Overlay |
| 2 | 3+001 - 4+805 | 1804 | 13.25 | 10.84 | 1.90588 | 4.59 | 12.00 | Overlay |
| 3 | 0 - 3+000 | 3000 | 12.80 | 10.84 | 1.95721 | 3.84 | 10.00 | Overlay |
Tabel 8. Perhitungan tebal overlay beton berdasarkan umur sisa lajur 2
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+401 - 9+030 | 4629 | 12.15 | 10.66 | 2.01471 | 3.00 | 8.00 | Overlay |
| 2 | 2+401 - 4+400 | 1999 | 12.05 | 10.66 | 2.02746 | 2.82 | 7.50 | Overlay |
| 3 | 0 - 2+400 | 2400 | 12.10 | 10.66 | 2.02107 | 2.91 | 7.50 | Overlay |
Tabel 9. Tebal overlay beton berdasarkan survei kondisi lajur 1
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+806 – 9+030 | 4224 | 13.20 | 10.32 | 1.86 | 5.35 | 14.00 | Overlay |
| 2 | 3+001 – 4+805 | 1804 | 13.25 | 10.65 | 1.89 | 4.90 | 12.50 | Overlay |
| 3 | 0 – 3+000 | 3000 | 13.05 | 10.21 | 1.86 | 5.29 | 13.50 | Overlay |
Tabel 10. Tebal overlay beton berdasarkan survei kondisi lajur 2
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+401 – 9+030 | 4629 | 13.10 | 10.43 | 1.88 | 5.02 | 13.00 | Overlay |
| 2 | 2+401 – 4+400 | 1999 | 12.75 | 10.88 | 1.97 | 3.68 | 9.50 | Overlay |
| 3 | 0 – 2+400 | 2400 | 13.10 | 10.21 | 1.86 | 5.36 | 14.00 | Overlay |
180 Jurnal Teknik Sipil
Tabel 11. Perhitungan tebal overlay beton berdasarkan umur sisa lajur 1
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+806 – 9+030 | 4224 | 13.20 | 10.84 | 1.9114 | 4.51 | 11.50 | Overlay |
| 2 | 3+001 – 4+805 | 1804 | 13.25 | 10.84 | 1.90588 | 4.59 | 12.00 | Overlay |
| 3 | 0 – 3+000 | 3000 | 13.05 | 10.84 | 1.92824 | 4.26 | 11.00 | Overlay |
Tabel 12. Perhitungan tebal overlay beton berdasarkan umur sisa lajur 2
| Segmen | STA | Panjang (m) | Df | Deff | A | Doverlay (inch) | Doverlay (cm) | Ket |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+401 – 9+030 | 4629 | 13.10 | 10.66 | 1.90259 | 4.64 | 12.00 | Overlay |
| 2 | 2+401 – 4+400 | 1999 | 12.75 | 10.66 | 1.94201 | 4.06 | 10.50 | Overlay |
| 3 | 0–2+400 | 2400 | 13.10 | 10.66 | 1.90259 | 4.64 | 12.00 | Overlay |
Tabel 13. Tebal overlay aspal pada metoda AUSTROADS 2011 lajur 1
| Segmen | STA | Panjang (m) | Metoda Persentasi Lendutan (cm) | Metoda Selisih Lendutan (cm) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+401 – 9+030 | 4629 | 24.00 | 25.00 |
| 2 | 2+401 – 4+400 | 1999 | 26.00 | 24.50 |
| 3 | 0–2+400 | 2400 | 26.00 | 25.00 |
Tabel 14. Tebal overlay aspal pada metoda AUSTROADS 2011 lajur 2
| Segmen | STA | Panjang (m) | Metoda Persentasi Lendutan (cm) | Metoda Selisih Lendutan (cm) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 4+401 – 9+030 | 4629 | 24.00 | 21.00 |
| 2 | 2+401 – 4+400 | 1999 | 22.50 | 23.00 |
| 3 | 0–2+400 | 2400 | 23.50 | 22.50 |
5.4 Perhitungan tebal overlay beton pada Metoda AUSTROADS 2011
Untuk perhitungan tebal lapis tambah beton dengan menggunakan Metoda AUSTROADS 2011 dengan nilai overlay sebesar 18.50 cm, dengan jumlah kerusakan kelelahan pada sumbu SAST 50.51% sedangkan untuk erosi sebesar 2.05%. Jumlah kerusakan kelelahan pada sumbu SADT 0.0003% dengan erosi sebesar 0.10%. Jumlah kerusakan kelelahan pada sumbu TADT 22.69% dengan erosi sebesar 0.17%. Jumlah kerusakan kelelahan pada sumbu TRDT 0.00414% sedangkan untuk erosi sebesar 0.00032%.
6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi terhadap penelitian yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
- 1. Berdasarkan Metoda AASHTO 1993 diperoleh bahwa tebal lapis tambah atau overlay pada Jalan Cakung-Cilincing dibutuhkan sebesar 11 cm untuk tebal overlay aspal dan 12 cm untuk tebal overlay beton diatas perkeraan terpasang.
- 2. Pada Metoda AUSTROADS 2011, diperoleh bahwa tebal lapis tambah atau overlay aspal yang dibutuhkan sebesar 24 cm dan tebal overlay pada beton sebesar 18.50 cm.
3. Perbandingan kedua metoda menunjukkan bahwa tebal lapis tambah atau overlay yang dibutuhkan dalam analisis menggunakan Metoda AUSTROADS 2011 lebih tebal dibandingkan menggunakan Metoda AASHTO 1993.
