1. Pendahuluan
Kegiatan proyek konstruksi di Indonesia saat ini berkembang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya proyek pembangunan gedung serta proyek infastruktur pada setiap daerah. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, limbah konstruksi menjadi salah satu permasalahan yang seringkali dikeluhkan oleh para stakeholder. Pada pelaksanaan proyek konstruksi, sisa material atau construction waste tidak dapat dihindari. Sisa material konstruksi didefinisikan sebagai sesuatu yang sifatnya berlebih dari yang disyaratkan baik itu berupa hasil pakerjaan maupun material konstruksi yang tersisa/tercecer dan rusak, sehingga tidak dapat digunakan lagi sesuai fungsinya (J. R. Illingworth, 1998). Menurut Gavilan dan Bemold (1994) Banyak faktor yang menjadi sumber terjadinya sisa material konstruksi, antara lain desain, pengadan material, pengelolaan material, pelaksanaan, residul dan lain-lain misalnya pencurian.
Pelaksanaan proyek konstruksi di daerah Yogyakarta tentunya tidak terlepas juga dari permasalahan tersebut begitupun sebaliknya dengan daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perbedaan kota tempat tinggal, kehidupan sosial serta budaya yang sudah ada pada masing-masing daerah, menjadi ciri khas tersendiri dari daerah tersebut. Kegiatan proyek konstruksi yang ada di Provinsi NTT, khusunya di Kota Kupang, juga mengalami permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan proyek konstruksi yang berada di kota Yogyakarta, salah satunya mengenai limbah konstruksi atau construction waste. Dari perbedaan budaya serta kehidupan sosial dari kedua daerah ini, yaitu daerah Yogyakarta dan daerah Kupang, pastinya ada perbedaan juga dari sisi pelaksanaan proyek konstruksi dan cara pengelolaan limbah konstruksi pada proyekproyek yang dikerjakan, dilihat dari pendidikan, dan pengalaman dari stakeholder itu sendiri, serta pandangan mereka mengenai limbah konstruksi. Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan pada latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1). Apa saja penyebab terjadinya construction waste? 2). Bagaimana penanganan sisa material yang akhirnya akan menjadi construction waste? 3). Apakah terdapat perbedaan cara pengelolaan construction waste antara Kontraktor di Yogyakarta dan Kontraktor di Kupang?.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya construction waste, mengkaji penanganan sisa material yang akhirnya akan menjadi construction waste, dan mengkaji apakah terdapat perbedaan cara pengelolaan construction waste antara Kontraktor Yogyakarta dan Kontraktor
Kupang. Penelitian ini juga dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner pada daerah Yogyakarta dan Kupang dengan respondennya adalah kontraktor yang telah/sedang terlibat dalam pelaksaan proyek konstruksi didaerah tersebut.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Waste (limbah)
Menurut Environmental Protection Agency United States (2007), Waste (limbah) merupakan suatu benda rusak, cacat, dibuang, tidak diinginkan, ataupun benda yang berlebihan yang memungkinkan untuk dijual maupun didaur ulang dalam proses terpisah. Craven et al (1994) menyatakan bahwa kegiaan konsruksi menghasilkan limbah sebesar kurang mebih 20% sampai dengan 30% dari keseluruhan limbah di Australia
Rogoff dan Williams (1994) mengatakan bahwa 29% limbah padat di Amerika Serikat berasal dari limbah konstruksi. Ferguson et al. (1995) menyatakan lebih dari 50% dari seluruh limbah di United Kingdom berasal dari limbah konstruksi. Anink (1996) menyebutkan bahwa sektor konstruksi yang terdiri dari tahap pengambilan material, pengangkutan material ke lokasi proyek konstruksi, proses konstruksi, operasional gedung, pemeliharaan gedung sampai tahap pembongkaran gedung mengkonsumsi 50% dari seluruh pengambilan material alam dan mengeluarkan limbah sebesar 50% dari seluruh limbah.
Menurut Al-Moghany (2006), waste dapat diartikan sebagai segala macam kehilangan pada material, waktu dan hasil moneter dari sebuah kegiatan tetapi tidak menambah nilai atau proses untuk produk. Koskela (1992) menyatakan bahwa waste termasuk dalam kedua masalah dari kehilangan material dan eksekusi dari pekerjaan yang tidak perlu, dimana menghasilkan biaya tambahan tetapi tidak menambah nilai suatu produk.
Waste juga dapat digambarkan sebagai segala aktifitas manusia yang menyerap sumber daya dalam jumlah tertentu tetapi tidak menghasilkan nilai tambah, seperti kesalahan yang membutuhkan pembetulan, hasil produksi yang tidak diinginkan oleh pengguna, proses atau pengolahan yang tidak perlu, pergerakan tenaga kerja yang tidak berguna dan menunggu hasil akhir dari kegiatan-kegiatan sebelumnya (Womack and Jones, 1996; Formoso et al. 2002).
2.2 Klasifikasi Sisa Material Konstruksi
Menurut Skoyles (1987), sisa material konstruksi secara umum dikategorikan dalam 4 jenis, yaitu :
1. Sisa Material Alami (Natural Waste)
2. Sisa Material Langsung.
Sisa material langsung adalah sisa material yang terjadi pada setiap pembangunan. Biasanya sisa material ini terbentuk pada saat penyimpanan, pada saat material dipindahkan ke tempat kerja, atau pada saat proses pengerjaan tahapan pembangunan itu sendiri. Bila tidak dilakukan kontrol yang baik, sisa material ini akan menyebabkan kerugian yang cukup besar terutama dari segi biaya. Beberapa kategori sisa material langsung adalah akibat kegiatan sebagai berikut :
- a. Sisa material akibat adanya kegiatan pengiriman, yaitu kehilangan pada saat pengiriman ke lokasi, penurunan barang dan saat penempatan ke gudang. Atau pada waktu pengangkutan yang tidak efektif sehingga kualitas barang menurun, dan barang tidak terpakai akhirnya menjadi sisa material.
- b. Penyimpanan di gudang dan penyimpanan sementara di sekitar bangunan adalah sisa material yang disebabkan oleh penyimpanan yang buruk.
- c. Sisa material akibat proses perubahan bentuk material, adalah sisa material yang disebabkan oleh proses perubahan bentuk material dari aslinya.
- d. Sisa material selama proses perbaikan, adalah sisa material yang dihasilkan selama proses perbaikan.
- e. Sisa material selama proses perbaikan, adalah sisa material yang dihasilkan dari material kalengan, seperti cat dan bahan plester yang tersisa pada tempatnya dan tidak digunakan.
- f. Penggunaan lahan yang tidak efektif, adalah lahan yang tidak digunakan secara optimal, sehingga menyebabkan tidak efisien. Manajemen yang kurang baik.
- h. Sisa material akibat penggunaan yang salah.
- i. Sisa material akibat spesifikasi material yang salah.
- j. Sisa material yang ditimbulkan akibat kurang terampilnya pakerja.
- 3. Sisa Material Tidak Langsung.
- 4. Sisa Material Konsekuensi (consequential waste).
Construction Waste menurut Skoyles (1976) dapat digolongkan kedalam dua kategori berdasarkan tipenya yaitu direct waste dan indirect waste.
1. Direct Waste
Direct waste adalah sisa material yang timbul diproyek karena rusak dan tidak digunakan lagi, yang terdiri dari:
a. Transport & Delivery Waste
Semua sisa yang terjadi pada saat melakukan transportasi material di dalam lokasi pekerjaan, termasuk pembongkaran dan penempatan pada tempat penyimpanan seperti membuang/ melempar semen, keramik pada saat dipindahkan.
b. Site Storage Waste
Sisa material yang terjadi karena penumpukan/ penyimpanan material pada tempat yang tidak aman terutama untuk material pasir dan batu pecah, atau pada tempat dalam kondisi yang lembab terutama untuk material semen.
c. Conversion Waste
Sisa material yang terjadi karena pemotongan bahan dengan bentuk yang tidak ekonomis seperti material besi, beton, keramik, dan sebagainya.
d. Fixing Waste
Material yang tercecer, rusak atau terbuang selama pemakaian dilapangan seperti pasir, semen, batu bata, dan sebagainya.
e. Cutting Waste
Sisa material yang dihasilkan karena pemotongan bahan seperti, tiang pancang, besi beton, batu bata, keramik, besi beton, dan sebagainya.
f. Application & Residu Waste
Sisa meterial yang terjadi seperti mortal yang jatuh.tercecer pada saat pelaksanaan atau mortar yang tertinggal dan telah mengeras pada akhir pekerjaan.
g. Criminal Waste
Sisa material yang terjadi karena pencurian atau tindakan perusakan (vandalism) di lokasi proyek.
h. Wrong Use Waste
Pemakaian tipe atau kualitas material yang tidak sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak, maka pihak direksi akan memerintah kontraktor untuk menggantikan material tersebut yang sesuai dengan kontrak, sehingga menyebabkan terjadinya sisa material di lapangan.
i. Management Waste
Terjadinya sisa material disebabkan karena pengambilan keputusan yang salah atau keragu-raguan dalam mengambil keputusan, hal ini terjadi karena organisasi proyek yang lemah, atau kurangnya pengawasan.
2. endirect Waste
endirect Waste adalah sisa material yang terjadi dalam bentuk sebagai suatu kehilangan biaya (moneter loss), terjadi kelebihan pemakaian volume material dari yang direncanakan, dan tidak terjadi sisa material secara fisik di lapangan. endirect waste ini dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu :
a. Substitution Waste
Sisa material yang terjadi karena penggunaannya menyimpang dari tujuan semula, sehingga menyebabkan terjadinya kehilangan biaya yang dapat disebabkan karena tiga alasan yaitu terlalu banyak
material yang dibeli, material yang rusak, dan makin bertambahnya kebutuhan material tertentu.
b. Production Waste
Sisa material yang disebabkan karena pemakaian material yang berlebihan dan kontraktor tidak berhak mengklaim atas kelebihan volume tersebut karena dasar pembayaran berdasarkan volume kontrak, contoh pasangan dinding bata tidak rata menyebabkan pemakaian mortar berlebihan karena plesteran menjadi tebal.
c. Negligence Waste
Sisa material yang terjadi karena dilokasi (site error), sehingga kontraktor menggunakan material lebih dari yang ditentukan, misalnya: penggalian pondasi yang terlalu lebar atau dalam yang disebabkan karena kesalahan/kecerobohan pekerja, sehingga mengakibatkan kelebihan pemakaian volume beton pada waktu pengecoran pondasi.
3. Metoda Penelitian
Pertama yang dilakukan sebelum memulai penelitian adalah menyusun topik penelitian yaitu mengenai construction waste (limbah konstruksi). Penelitian ini mengandung materi-materi yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang akan diteliti sehingga hasil yang akan didapatkan nanti merupakan gabungan dari teori-teori yang ada dan kenyataan dilapangan. Dengan menetapkan tujuan yang menjadi sasaran studi dan identifikasi pustaka, penulis mencoba membuat instrumen penelitian dengan bantuan beberapa pertanyaan yang diadopsi dari jurnal-jurnal ilmiah yang telah diteliti sebelumnya. Penelitian ini akan dilakukan pada dua tempat yang berbeda, yaitu pada wilayah Yogyakarta dan wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur.
3.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan bagian paling penting dalam suatu penelitian karena dari data yang terkumpul akan dibuat analisis dan kesimpulan bagi keperluan penelitian. Data penelitian ini dapat diklasifikasi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuesioner yang berisikan pertanyaan yang harus diisikan secara langsung oleh responden. Dalam kuesioner terdapat sejumlah pertanyaan yang mengacu pada tujuan penelitian. Selain itu, responden hanya diminta memilih alternatif jawaban yang sudah dibuat sesuai dengan fakta yang sesungguhnya dilapangan.
2. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data pendukung penelitian yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
3.2 Pengolahan dan Analisis Data
Setelah seluruh data diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis data. Analisis data ini menggunakan metode analisis rata-rata (mean) dan analisis simpangan baku untuk mencari faktor-faktor penyebab terjadinya construction waste pada proyek konstruksi dan juga penanganan yang tepat untuk dilakukan berdasarkan urutan rangking. Selanjutnya untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan cara pengelolaan construction waste antara Kontraktor Yogyakarta dan Kontraktor Kupang, dilakukan analisis Uji T (T-Test) untuk data yang terdistribusi normal dan Uji Mman Whitney untuk data yang terdistribusi tidak normal. Sedangkan untuk menunjukkan data umum dari responden digunakan analisis prosentase.
4. Analisis Data dan Pembahasan
4.1 Umum
Penyebaran kuesioner dilakukan pada dua daerah berbeda yaitu daerah Yogyakarta dan daerah Kupang. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan mendatangi lokasi proyek dimana responden bekerja ataupun dengan mendatangi kantor-kantor perusahaan konstruksi tersebut. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 70 eksemplar, yang terbagi menjadi 35 eksempar untuk daerah Yogyakarta dan 35 eksempar untuk daerah Kupang. Dari penyebaran kuesioner didua daerah ini, kuesioner yang kembali adalah sebanyak 30 eksemplar untuk daerah Yogyakarta dan 30 eksemplar untuk daerah Kupang. Berberapa perusahaan tidak mengembalikan kuesioner karena kesibukan dilokasi proyek atau orang-orang yang
Tabel 1. Faktor Penyebab Terjadinya Construction Waste
| Mean | SD | Rangking | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kategori | Faktor Penyebab | Yogyakarta Kupang | Yogya karta | Kupang Yogyakarta | Kupang | ||
| Perubahan desain | 4.47 | 4.63 | 0.776 | 0.928 | 1 | 2 | |
| Desain dan Dokumen | Kurangnya perhatian yang diberikan pada dimensi produk | 4.3 | 4.47 | 0.651 | 0.571 | 2 | 5 |
| Pemilihan produk berkualitas rendah | 4.17 | 4.67 | 0.699 | 0.661 | 4 | 1 | |
240 Jurnal Teknik Sipil
| Mean | SD | Rangking | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kategori | Faktor Penyebab | Yogyakarta Kupang | Yogya karta | Kupang Yogyakarta Kupang | |||
| Kurangnya pengetahuan tentang jenis dan ukuran bahan yang ada pada dokumen desain | 4.07 | 4.53 | 0.785 | 0.571 | 6 | 4 | |
| Menentukan bahan dan dimensi tanpa mempertimbangkan limbah | 4.1 | 4.57 | 0.662 | 0.626 | 5 | 3 | |
| Kompleksitas detail dalam gambar | 4.23 | 4.47 | 0.728 | 0.776 | 3 | 7 | |
| Menunggu dokumen desain | 4.07 | 4.2 | 0.868 | 0.887 | 7 | 14 | |
| Ambiguitas, kesalahan dan perubahan spesifikasi | 3.97 | 4.47 | 0.85 | 0.571 | 8 | 6 | |
| Desain dan Dokumen | Kesalahan dalam dokumen kontrak | 3.93 | 4.4 | 1.143 | 0.855 | 9 | 10 |
| Dokumen kontrak tidak lengkap | 3.57 | 4.23 | 1.04 | 0.935 | 14 | 13 | |
| Ambiguitas, kesalahan dan inkonsistensi dalam gambar | 3.73 | 4.43 | 0.98 | 0.728 | 12 | 9 | |
| Reworks bertentangan dengan spesifikasi | 3.8 | 4.43 | 0.805 | 0.679 | 10 | 8 | |
| Ketidaklibatan kontraktor | 3.77 | 4.3 | 0.679 | 1.055 | 11 | 11 | |
| Ketidaklibatan Pemasok | 3.63 | 4.3 | 1.217 | 1.119 | 13 | 12 | |
| Keterlibatan produsen | 3.33 | 4.07 | 1.028 | 1.048 | 15 | 15 | |
| Kurangnya informasi mengenai jadwal pengadaan barang | 3.8 | 4.23 | 0.887 | 0.817 | 6 | 5 | |
| Pemesanan bahan yang tidak memenuhi persyaratan proyek | 3.97 | 4.57 | 0.669 | 0.568 | 4 | 1 | |
| Kuantitas taksiran yang salah | 4.3 | 4.4 | 0.466 | 0.675 | 1 | 3 | |
| Pengadaan Bahan | Memesan dalam jumlah yang banyak | 4.2 | 4.33 | 0.61 | 0.661 | 2 | 4 |
| Pembelian bahan yang tidak sesuai spesifikasi | 4.2 | 4.53 | 0.761 | 0.681 | 3 | 2 | |
| Penggantian bahan yang lebih mahal | 3.87 | 4.03 | 0.937 | 0.85 | 5 | 6 | |
| Kerusakan bahan di lokasi proyek | 4.17 | 4.47 | 0.791 | 0.629 | 2 | 3 | |
| Persediaan bahan yang tidak seharusnya berada di lokasi | 4 | 4.3 | 0.643 | 0.952 | 5 | 5 | |
| Kelebihan produktif | 4.1 | 3.97 | 0.803 | 1.129 | 3 | 9 | |
| Cacat manufaktur | 3.8 | 4.27 | 0.805 | 0.98 | 9 | 6 | |
| Pengelolaan Material | Pencurian bahan material | 3.9 | 4.17 | 0.923 | 1.085 | 7 | 8 |
| di Lokasi | Kualitas barang yang buruk | 3.83 | 4.7 | 0.874 | 0.651 | 8 | 1 |
| Kurangnya kontrol material di lokasi proyek | 4.07 | 4.5 | 0.785 | 0.682 | 4 | 2 | |
| Kurangnya manajemen dalam peny impanan bahan material | 4.23 | 4.4 | 0.774 | 0.77 | 1 | 4 | |
| Menggunakan bahan material dalam jumlah yang berlebihan | 4 | 4.23 | 0.871 | 0.971 | 6 | 7 | |
| Kesalahan dalam penanganan bahan material | 4.4 | 4.5 | 0.724 | 0.731 | 1 | 1 | |
| Penanganan material yang tidak diperlukan | 3.93 | 4.1 | 0.74 | 1.029 | 3 | 9 | |
| Kurangnya instruksi tentang penanganan bahan material | 3.93 | 4.23 | 0.828 | 0.898 | 5 | 7 | |
| Kesalahan dalam penyimpanan bahan material | 3.9 | 4.2 | 0.712 | 0.887 | 6 | 8 | |
| Penanganan, Penyim panan dan Transpor | Kurangnya instruksi tentang peny impanan bahan material | 3.93 | 4.03 | 0.785 | 0.964 | 4 | 10 |
| tasi Material | Penyimpanan yang tidak tepat menyebabkan kerusakan bahan Kerusakan bahan pada saat proses | 4 | 4.33 | 0.743 | 0.884 | 2 | 5 |
| transportasi | 3.73 | 4.37 | 0.691 | 0.809 | 7 | 2 | |
| Kondisi jalan yang buruk | 3.53 | 3.83 | 0.681 | 0.986 | 10 | 11 | |
| Kecelakaan | 3.5 | 4.27 | 0.731 | 0.944 | 11 | 6 | |
| Peralatan yang tidak tepat | 3.7 | 4.33 | 1.022 | 0.758 | 8 | 3 | |
| Kurangnya teknologi/kerusakan peralatan | 3.63 | 4.33 | 0.964 | 0.758 | 9 Vol. 25 No. 3, Desember 2018 241 | 4 | |
| Mean | SD | Rangking | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kategori | Faktor Penyebab | Yogyakarta Kupang Yogyakarta | Kupang | Yogyakarta Kupang | |||
| Mengolah ulang karena kesalahan pekerja | 4.07 | 4.27 | 0.785 | 0.907 | 7 | 9 | |
| Pengunaan bahan material yang salah | 4.37 | 4.63 | 0.556 | 0.49 | 3 | 1 | |
| Pengerjaan yang buruk | 4.23 | 4.6 | 0.626 | 0.724 | 5 | 3 | |
| Kurangnya subkontraktor terampil | 4.4 | 4.3 | 0.621 | 0.952 | 1 | 8 | |
| Eksekusi saat di lapangan | Kesulitan dalam kinerja dan kerja profesional | 4.33 | 4.43 | 0.711 | 0.774 | 4 | 5 |
| Metode konstruksi yang salah | 4.4 | 4.63 | 0.621 | 0.556 | 2 | 2 | |
| Kecelakaan karena kelalaian | 4.07 | 4.43 | 0.828 | 0.728 | 8 | 4 | |
| Menggunakan tenaga kerja yang tidak terlatih | 4.2 | 4.33 | 0.664 | 0.802 | 6 | 7 | |
| Kurangnya koordinasi antar tim kerja | 3.97 | 4.33 | 0.89 | 0.758 | 9 | 6 | |
| Kondisi cuaca yang buruk | 3.73 | 4.2 | 0.98 | 0.847 | 5 | 1 | |
| Efek dari kondisi permukaan tanah | 3.7 | 4 | 0.75 | 0.947 | 6 | 6 | |
| Kondisi Lingkungan | Kondisi lokasi berbeda dengan dokumen kontrak | 3.83 | 4.2 | 0.699 | 0.887 | 3 | 2 |
| Kerusuhan buruh | 3.83 | 4.17 | 0.699 | 0.874 | 4 | 3 | |
| Kesulitan mendapatkan ijin kerja | 3.87 | 4.07 | 0.819 | 1.112 | 2 | 4 | |
| Otoritas pemerintah | 4 | 4.03 | 0.695 | 1.129 | 1 | 5 | |
| Pengawasan yang tidak memadai | 4.13 | 4.23 | 0.571 | 0.774 | 3 | 3 | |
| Pengawasan saat di | Insinyur konsultan yang tidak kompeten | 4.2 | 4.33 | 0.61 | 0.802 | 2 | 1 |
| lapangan | Respon yang lambat dari konsultan terhadap pertanyaan kontraktor | 3.97 | 4.2 | 0.414 | 0.887 | 4 | 4 |
| Perubahan pesanan | 4.27 | 4.3 | 0.785 | 0.915 | 1 | 2 | |
Berdasarkan Tabel diatas, untuk kategori "Desain dan Dokumen", "Perubahan Desain" menjadi faktor yang sangat berperngaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan mean kelompok tertinggi (4,47), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Kurangnya perhatian yang diberikan pada dimensi produk" dengan nilai mean sebesar 4,30. Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori yang pertama "Pemilihan Produk berkualitas rendah" menjadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi (4,67), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Perubahan desain" dengan nilai mean 4,63. Hal ini menunjukan bahwa "Perubahan desain" merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi kesalahan atau perubahan terhadap desain terkadang tidak bisa dihindari walaupun dalam proses perancangan telah dilakukan secara matang. Biasanya perubahan desain bukan disebabkan oleh kesalahan kontraktor, tetapi pada kenyataannya dampak adanya perubahan desain itu akan tetap dirasakan oleh kontraktor (Alwi dkk, 2002).
Pada katergori yang kedua yaitu "Pengadaan Bahan", "Kuantitas taksiran yang salah" menjadi faktor yang sangat berperngaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan mean kelompok tertinggi (4,30), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "memesan dalam jumlah yang banyak" dengan nilai mean sebesar 4,20. Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori yang pertama "Pemesanan bahan yang tidak memenuhi persyaratan proyek" menjadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi (4,57), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Pembelian bahan yang tidak sesuai spesifikasi" dengan nilai mean 4,53. Hal ini menunjukan bahwa "Kuantitas taksiran yang salah" dan "Pemesanan bahan yang tidak memenuhi persyaratan proyek" merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang.
Kategori selanjutnya mengenai "Pengelolaan Material di Lokasi" "Kurangnya manajemen dalam penyimpanan bahan material" menjadi faktor yang sangat berperngaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan nilai mean sebesar 4,23, dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Kerusakan bahan di lokasi proyek" dengan nilai mean sebesar 4,17. Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori yang pertama "Kualitas barang yang buruk" menjadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi (4,70), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Kurangnya kontrol material di lokasi proyek" dengan nilai mean 4,50. Hal ini menunjukan bahwa "Kurangnya manajemen dalam penyimpanan bahan material" dan "Kualitas barang yang buruk"
menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang.
Pada kategori "Penanganan, Penyimpanan dan Transportasi Material" "Kesalahan dalam penanganan bahan material" menjadi faktor yang sangat berperngaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan nilai mean sebesar 4,40, dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Penyimpanan yang tidak tepat menyebabkan kerusakan bahan" dengan nilai mean sebesar 4,00. Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori yang pertama "Kesalahan dalam penanganan bahan material" juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi (4,50), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Kerusakan bahan pada saat proses transportasi" dengan nilai mean 4,37. Hal ini menunjukan bahwa "Kesalahan dalam penanganan bahan material" merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang.
Untuk kategori selanjutnya yaitu "Eksekusi saat di lapangan" "Kurangnya subkontraktor terampil" menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan nilai mean tertinggi 4,40 dan diikuti untuk posisi kedua vaitu "Metode konstruksi vang salah" dengan nilai mean sebesar 4.40 . Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori vang pertama "Pengunaan bahan material yang salah" meniadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi 4,63 dan diikuti untuk posisi kedua vaitu "Metode konstruksi vang salah" dengan nilai mean 4,63. Hal ini menunjukan bahwa "Metode konstruksi yang salah" dan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang.
Selanjutnyan ketegori "Kondisi Lingkungan", "Otoritas pemerintah" menjadi faktor yang sangat berperngaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan mean kelompok tertinggi (4,00), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Kesulitan mendapatkan ijin kerja" dengan nilai mean sebesar 3,87. Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori yang pertama "Kondisi cuaca yang buruk" menjadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi (4,20), dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Kondisi lokasi berbeda dengan dokumen kontrak" dengan nilai mean 4,20. Hal ini menunjukan bahwa "Otoritas pemerintah" dan "Kondisi cuaca yang buruk" merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang.
Kategori vang terakhir adalah tentang "Pengawasan saat di lapangan", "Perubahan pesanan" menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi kontraktor Yogyakarta dengan nilai mean tertinggi 4,27 dan diikuti untuk posisi kedua yaitu "Insinyur konsultan yang tidak kompeten" dengan nilai mean sebesar 4,20. Sedangkan untuk kontraktor Kupang pada kategori yang pertama "Insinvur konsultan vang tidak kompeten" menjadi faktor yang sangat berpengaruh dilihat dari nilai mean tertinggi (4,33), dan diikuti untuk posisi kedua vaitu "Perubahan pesanan" dengan nilai mean 4.30. Hal ini menunjukan bahwa "Perubahan pesanan" dan "Insinyur konsultan yang tidak kompeten" merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta dan Kupang.
Tabel 2. Hasil uji independent sample t-test bagian B Jogja dan Kupang
| Levene's Test for Equality of Variances | t-tes | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| F | Sig. | t | df | Sig. (2-tailed) | Mean Dif- ference | Std. Error Difference | 95% Con Interva Differ Lower | l of the | ||
| Bagian B Jogja dan | Equal variances assumed | 1.797 | .185 | 2.464 | 58 | .017 | 4.133 | 1.677 | .776 | 7.491 |
| Kupang | Equal variances not assumed | 2.464 | 53.731 | .017 | 4.133 | 1.677 | .770 | 7.496 | ||
Diketahui bahwa nilai t-hitung pada tabel hasil perbedaan penanganan limbah konstruksi pada Jogia dan Kupang adalah 2,462 dengan probabilitas (Sig.) 0,017. Karena probabilitas (Sig.) 0,017 < 0,05 maka varians mengenai penanganan limbah konstruksi pada Jogja dan Kupang adalah tidak sama atau berbeda secara signifikan. Dengan demikian maka untuk pengujian rata-rata (t-test) mengacu pada nilai-nilai yang ada pada kolom baris asumsi varians tidak sama, dan dinyatakan ada perbedaan.
Berdasarkan hasil olahan data diatas, pemberian tandaatau label pada barang yang tersimpan dalam gudang, merupakan tindakan yang sangat perpengaruh sangat berpengaruh dalam penanganan limbah konstruksi pada proyek menurut responden daerah Yogyakarta, sedangkan untuk responden Kupang penataan site yang baik merupakan tindakan yang sangat berpengaruh. Selaniutnya disebutkan bahwa penanganan yang bisa dilakukan untuk mengurangi terjadinya limbah konstruksi adalah dengan memberikan pemahaman tukang mengenai teknologi yang digunakan agar tidak
mengakibatkan kesalahan-kesalahan dalam pemakaian material saat dilapangan. Hal juga merupakan salah satu pilihan yang tepat dalam penanganan limbah konstruksi sehingga para pekerja atau tukang-tukang tersebut dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.
Untuk melihat perbedaan penanganan construction waste antara kontraktor Yogyakarta dan konstraktor Kupang dilihat berdasarkan tindakan yang dilakukan oleh kelompok Jogja dan Kupang, dilakukan uji perbedaan data selisih pada kedua kelompok, dalam hal ini dilakukan dengan mann whitney. Berdasarkan
Tabel 3. Hasil uji Mann Whitney bagian C Jogja dan Kupang
| Test Statisticsa | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian C Jogja dan Ku pang | |||||||
| Mann-Whitney U | 315.000 | ||||||
| Wilcoxon W | 780.000 | ||||||
| Z | -1.999 | ||||||
| Asymp. Sig. (2-tailed) | .046 | ||||||
| a. Grouping Variable: Kelompok | |||||||
hasil uji mann whitney u, perbedaan hasil Bagian C Jogja dan kupang dapat dilihat pada Tabel 3. sebagai berikut.
Diketahui bahwa nilai Z-score pada tabel hasil, perbedaan tindakan yang tepat untuk mengurangi cosntruction waste pada Jogja dan Kupang adalah - 1,999 dengan probabilitas (Sig.) 0,046. Karena probabilitas (Sig.) 0,046 < 0,05 maka varians Bagian C pada Jogja dan Kupang adalah tidak sama atau berbeda secara signifikan. Dengan demikian maka pengujian rata-rata mengacu pada nilai-nilai yang ada pada kolom baris asumsi varians tidak sama, dan dinyatakan ada perbedaan.
Dari hasil olahan diatas, tindakan merencanakan dimensi bangunan sesuai dimensi material pasaran merupakan tindakan yang sangat berpengaruh menurut kontraktor Yogyakarta dalam mengurangi terjadi pemborosan bahan yang berakibat pada limbah konstruksi. Sedangkan menurut kontraktor Kupang tindakan mengestimasi penggunaan material yang akurat juga dapat mengurangi terjadinya limbah konstruksi. Untuk urutan kedua, menyimpan material dengan baik agar tidak mengalami kerusakan, menurut kontraktor Yogyakarta sangat pengaruh dalam mengurangi limbah konstruksi, karena jika menyimpan material dengan cara yang salah dapat menyebabkan banyaknya material yang rusak dan akhirnya dibuang. Sedangkan menurut kontraktor Kupang memilih metode konstruksi yang tepat merupakan salah satu hal yang berpengaruh dalam mengurangi limbah konstruksi, karena pemilihan metode yang salah akan
menimbukan dampak pada pengunaan material yang berlebihan.
5. Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai penyebab contruction waste serta penanganan yang dilakukan oleh Kontraktor Yogyakarta dan Kontraktor Kupang, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
- 1. Dari kategori "Desain dan Dokumen", terlihat bahwa "Perubahan desain" merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Yogyakarta, sedangkan untuk daerah Kupang, faktor yang paling berpengaruh adalah "Pemilihan produk berkualitas rendah".
- 2. Dari katergori yang kedua yaitu "Pengadaan bahan", diketahui bahwa "Kuantitas taksiran yang salah" merupakan faktor penyebab limbah konstruksi yang paling berpengaruh untuk daerah Yogyakarta, dan "Pemesanan bahan yang tidak memenuhi persyaratan proyek" merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Kupang.
- 3. Kategori "Pengelolaan Material di Lokasi" menunjukan bahwa "Kurangnya manajemen dalam penyimpanan bahan material" merupakan faktor utama penyebab limbah konstruksi di daerah Yogyakarta, dan "Kualitas barang yang buruk" menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Kupang.
- 4. Pada kategori keempat "Penanganan, Penyimpanan dan Transportasi Material", "Kesalahan dalam penanganan bahan material" merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi, baik di daerah Yogyakarta maupun daerah Kupang.
- 5. Untuk kategori selanjutnya, yaitu "Eksekusi saat di lapangan", dapat dilihat bahwa "Penggunaan bahan material yang salah" dan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Kupang. Sedangkan untuk daerah Yogyakarta, faktor yang paling berpengaruh adalah "Kurangnya subkontraktor terampil".
- 6. Untuk ketegori "Kondisi Lingkungan", "Otoritas pemerintah" merupakan faktor utama penyebab limbah konstruksi di daerah Yogyakarta. Untuk daerah Kupang, faktor utama penyebab limbah konstruksi adalah "Kondisi cuaca yang buruk",
- 7. Untuk kategori yang terakhir, yaitu "Pengawasan saat di lapangan", "Perubahan pesanan" merupakan faktor utama penyebab limbah konstruksi di daerah Yogyakarta, sedangkan "Insinyur konsultan yang tidak kompeten" merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebab terjadinya limbah konstruksi di daerah Kupang.
- 8. Hasil perbedaan penanganan limbah konstruksi pada Jogja dan Kupang adalah 2,462 dengan probabilitas (Sig.) 0,017. Karena probabilitas (Sig.) 0,017 < 0,05 maka varians mengenai penanganan limbah konstruksi pada Jogja dan Kupang adalah tidak sama atau berbeda secara signifikan. Dengan demikian maka untuk pengujian rata-rata (t-test) mengacu pada nilai-nilai yang ada pada kolom baris asumsi varians tidak sama, dan dinyatakan ada perbedaan.
