1. Pendahuluan
Pembangunan proyek konstruksi terdiri dari rangkaian kegiatan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, memiliki suatu sasaran, dan dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu. Proyek pembangunan gedung bertingkat/apartment, juga mempertimbangkan banyaknya pekerjaan dan tingginya struktur yang akan dibangun dan termasuk proyek berisiko tinggi. Proyek
berisiko tinggi harus dikelola dengan baik. Semakin awal risiko dideteksi dan dikelola, semakin besar keuntungan yang bisa didapatkan dari suatu proyek. Pembangunan beberapa gedung bertingkat /apartment pada PT XYZ termasuk suatu proyek berisiko tinggi mengingat besarnya bobot pekerjaan dan tingginya struktur yang dibangun serta batasan waktu yang ditentukan untuk menyelesaikannya. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
- 1. Mengidentifikasi Variabel Risiko yang menjadi penyebab keterlambatan proyek pada PT XYZ di Jakarta terhadap kinerja waktu.
- 2. Menentukan Risiko dominan yang menjadi penyebab keterlambatan proyek pada PT XYZ di Jakarta terhadap kinerja waktu.
- 3. Menyusun Pengelolaan Risiko (Respon, Mitigasi, alokasi/sharing risiko) penyebab keterlambatan proyek pada PT XYZ di Jakarta terhadap kinerja waktu.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk memperoleh variabel risiko dominan yang menjadi penyebab keterlambatan proyek gedung bertingkat pada PT XYZ terhadap kinerja waktu serta mengetahui pengelolaan risiko yang dilakukan oleh PT XYZ untuk variabel risiko dominan.
2. Tinjauan Pustaka
Risiko adalah suatu potensi kejadian, yang dapat dihindari atau dikurangi sekecil mungkin, agar dampaknya minimal sesuai yang direncanakan atau yang dapat diterima dalam batas toleransi yang diperkenankan, serta tidak mengganggu secara signifikan sasaran- sasaran yang telah ditetapkan. (Asiyanto, 2009).
Menurut Harold Kerzner (2017), risiko memiliki tiga elemen utama yaitu:
- 1. Kejadian (event), yaitu peristiwa atau situasi yang terjadi pada tempat tertentu selama selang waktu tertentu.
- 2. Probabilitas atau kemungkinan (likelihood), merupakan deskripsi kualitatif dari probabilitas atau frekuensi.
- 3. Dampak (consequences), yaitu hasil dari sebuah kejadian, baik kuantitatif maupun kualitatif yang berupa kehilangan atau kerugian.
Risiko tidak dapat dihilangkan namun dapat diminimalkan dampaknya dengan menerapkan manajemen risiko. Dari buku PMBOK (2013) Manajemen Risiko adalah proses yang sistematis yang terdiri dari identifikasi, analisis, respon, dan pengendalian risiko pada proyek. Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk meningkatkan kinerja proyek dari awal sampai dengan selesai dengan melakukan identifikasi, evaluasi, dan kontrol yang berhubungan dengan risiko proyek.
Enam tahapan dalam manajemen risiko:
- 1. Perencanaan Manajemen Risiko (Risk Management Planning).
- 2. Identifikasi Risiko (Risk Identification).
- 3. Analisis Risiko Kualitatif (Qualitative Risk Analysis).
- 4. Analisis Risiko Kuantitatif (Quantitative Risk Analysis).
- 5. Perencanaan Respon Risiko (Risk Response Planning).
- 6. Kontrol dan Monitoring Risiko (Risk Monitoring and Control)
Menurut Eddy Subiyanto (2010) dalam menentukan pilihan tindakan dari berbagai risiko yang mungkin terjadi digunakan indeks risiko, yaitu :
Indeks ( Level ) Risiko = Frekuensi x Dampak
Proses pengukuran risiko adalah dengan cara memperkirakan frekuensi terjadinya suatu risiko dan dampak dan risiko. Berikut ini merupakan gambar Matriks Peluang (Probability) dan Dampak (Impact).

Gambar 1. Matriks peluang dan dampak (impact)
Skala yang digunakan dalam mengukur potensi risiko terhadap frekuensi dan dampak risiko adalah skala likert dengan menggunakan rentang angka 1 sampai dengan 5, yaitu :
1 = sangat jarang
2 = jarang
3 = cukup
4 = sering
5 = sangat sering
Pengukuran dampak (impact) risiko :
1 = sangat kecil
2 = kecil
3 = sedang
4 = besar
5 = sangat besar
Faktor risiko menurut Standard Nasional Indonesia (SNI 2006) dihitung dengan rumus persamaan :
\[FR = L + I - (L \times I) \tag{1}\]
Dimana :
FR = Faktor Risiko
L = Probabilitas Kejadian Risiko
I =Besaran Dampak Risiko dalam bentuk kenaikan waktu.
2. 1 Metode AHP
Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah teknik proses pengambilan keputusan yang bertujuan untuk menentukan pilihan terbaik dari beberapa alternatif yang dapat diambil. Kelebihan AHP dapat memberikan
Tabel 1. Kategori risiko dan langkah penanganannya
| Nilai FR | Kategori | Langkah Penanganan |
|---|---|---|
| >0,7 | Risiko Tinggi | Harus dilakukan penurunan risiko ke tingkat yang lebih rendah |
| 0,4-0,7 | Risiko Sedang | Langkah perbaikan dibutuhkan dalam jangka tertentu |
| < 0,4 | Risiko Rendah | Langkah perbaikan bila dalam jangka tertentu |
kerangka yang komprehensif dan rasional dalam skema pengambilan keputusan pada suatu masalah dengan hierarki suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok–kelompoknya. Metode ini digunakan untuk melihat faktor risiko dominan. Dua kriteria utama yang berpengaruh dalam menentukan peringkat faktor risiko yaitu frekuensi terjadinya faktor risiko dan dampak atas terjadinya risiko itu sendiri. Terdapat 4 (empat) tahapan utama dalam proses ini yaitu:
- 1. Dekomposisi masalah (Decomposition).
- 2. Perbandingan berpasangan (Pairwise Comparisson atau ComparativeJudgement).
- 3. Perhitungan bobot prioritas (Synthesis of priority).
- 4. Uji konsistensi hierarki matriks (Logical Consistency).
Dalam penyusunan skala kepentingan digunakan Tabel 2.
Tabel 2. Skala perbandingan nilai
| Tingkat Kepentingan | Definisi |
|---|---|
| 1 | Sama pentingnya dibandingkan yang lain. |
| 3 | Moderat pentingnya dibandingkan yang lain. |
| 5 | Kuat pentingnya dibandingkan yang lain |
| 7 | Sangat kuat pentingnya dibandingkan yang lain. |
| 9 | Ekstrim pentingnya dibandingkan yang lain. |
| 2,4,6,8 | Nilai diantara dua penilaian yang berdekatan. |
| Jika elemen i memiliki salah satu angka diatas ketika dibandingkan dengan elemen j, maka j memiliki nilai kebalikannya ketika dibandingkan elemen i. |

Gambar 2. Alur penelitian
3. Metode Penelitian
Penelitian dimulai dengan identifikasi masalah, penetapan judul, pengumpulan data, analisis dan pengolahan, validasi pakar dan kesimpulan. Data primer yaitu wawancara dan penyebaran kuesioner kepada beberapa staf yang terlibat dalam proyek pembangunan gedung bertingkat di PT XYZ untuk mendapatkan variabel risiko yang teriadi di PT XYZ. Data sekunder yaitu melakukan studi literatur tentang Manajemen Risiko Proyek Konstruksi dan penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya tentang pengelolaan risiko keterlambatan proyek. Dari pengumpulan data primer dan data sekunder dikumpulkan semua variabel risiko penyebab keterlambatan proyek gedung bertingkat pada PT XYZ terhadap kinerja waktu. Variabel risiko disusun dalam bentuk kuesioner.
Langkah penelitian digambarkan pada diagram alir pada Gambar 2.
4. Pengolahan Data
Tahap awal adalah melakukan validasi pakar dengan kuesioner variabel risiko kepada 5 orang
pakar dimana pengalaman pakar lebih dari 10 tahun dan pendidikan minimal adalah S1. Dari hasil tersebut diperoleh 57 variabel risiko pada proyek gedung bertingkat di PT XYZ terhadap kinerja waktu. Variabel risiko disusun menjadi kuesioner dan disebarkan kepada responden. Responden adalah semua orang yang terlibat pembangunan gedung bertingkat pada PT XYZ dengan kriteria pendidikan minimal S1 dan pengalaman dalam proyek gedung bertingkat lebih dari 10 tahun. Variabel penelitian ada 2, yaitu X (Variabel Bebas) sebagai faktor risiko yang mungkin terjadi, dan Y (Variabel Terikat) sebagai dampak yang diakibatkan oleh faktor risiko terhadap kinerja waktu.
4.1 Analisis Faktor Risiko dengan Metode AHP
Data kuesioner ditabulasikan dan dianalisis dengan metode AHP untuk mendapatkan faktor risiko dominan. Hal ini dimulai dengan pembentukan matriks berpasangan frekuensi dan dampak risiko, Normalisasi Matriks, Perhitungan Konsistensi Matriks, Konsistensi Hierarki dan tingkat akurasi. Kemudian dihitung nilai rata-rata frekuensi dan dampak.
Tabel 3. Matrik berpasangan untuk frekuensi
| Sangat sering | Sering | Kadang kadang | Jarang | Sangat Jarang | |
|---|---|---|---|---|---|
| Sangat Sering | 1 | 3 | 5 | 7 | 9 |
| Sering | 0.33 | 1.00 | 3.00 | 5.00 | 7.00 |
| Kadang-Kadang | 0.20 | 0.33 | 1.00 | 3.00 | 5.00 |
| Jarang | 0.14 | 0.20 | 0.33 | 1.00 | 3.00 |
| Sangat Jarang | 0.11 | 0.14 | 0.20 | 0.33 | 1.00 |
| Jumlah | 1.79 | 4.68 | 9.53 | 16.33 | 25.00 |
Tabel 4. Matrik berpasangan untuk dampak
| Sangat Berpengaruh | Berpengaruh | Sedang | Kurang Berpengaruh | Tidak Berpengaruh | |
|---|---|---|---|---|---|
| Sangat Tinggi | 1 | 3 | 5 | 7 | 9 |
| Tinggi | 0.33 | 1.00 | 3.00 | 5.00 | 7.00 |
| Cukup | 0.20 | 0.33 | 1.00 | 3.00 | 5.00 |
| Rendah | 0.14 | 0.20 | 0.33 | 1.00 | 3.00 |
| Sangat Rendah | 0.11 | 0.14 | 0.20 | 0.33 | 1.00 |
| Jumlah | 1.79 | 4.68 | 9.53 | 16.33 | 25.00 |
4.2 Perhitungan Bobot Elemen
Perhitungan bobot elemen untuk frekuensi dapat dilihat pada Tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5. Perhitungan bobot elemen untuk frekuensi
| Sangat Sering | Sering | Kadang Kadang | Jarang | Sangat Jarang | Jumlah | Prioritas | Prosentase | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Sangat Sering | 0.56 | 0.642 | 0.524 | 0.429 | 0.36 | 2.514 | 0.503 | 100% |
| Sering | 0.186 | 0.214 | 0.315 | 0.306 | 0.28 | 1.301 | 0.26 | 51.75% |
| Kadang-Kadang | 0.112 | 0.071 | 0.105 | 0.184 | 0.2 | 0.672 | 0.134 | 26.72% |
| Jarang | 0.08 | 0.043 | 0.035 | 0.061 | 0.12 | 0.339 | 0.068 | 13.48% |
| Sangat Jarang | 0.062 | 0.031 | 0.021 | 0.02 | 0.04 | 0.174 | 0.035 | 6.92% |
| Jumlah | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 5 |
Tabel 6 berikut menyajikan bobot Elemen Frekuensi :
Tabel 6. Bobot elemen frekuensi
| Keterangan | Sangat Jarang | Jarang | Kadang-Kadang | Sering | Sangat Sering |
|---|---|---|---|---|---|
| Bobot | 0.0693 | 0.1348 | 0.2672 | 0.5175 | 1.000 |
Perhitungan bobot elemen dampak dihitung dengan cara yang sama dengan perhitungan bobot elemen frekuensi.
4.3 Uji Konsistensi Matriks dan Hirarki
Matriks bobot dari hasil perbandingan berpasangan harus mempunyai diagonal satu dan konsisten. Untuk menguji konsistensi, maka nilai eigen value maksimum (λmaks) harus mendekati banyaknya elemen (n) dan eigen value sisa mendekati nol. Pembuktian konsistensi matriks berpasangan dilakukan dengan unsur-unsur pada tiap kolom dibagi dengan jumlah kolom yang bersangkutan dan diperoleh matriks sebagai berikut :
| 0,560 | 0,642 | 0,524 | 0,429 | 0,360 |
|---|---|---|---|---|
| 0,187 | 0,214 | 0,315 | 0,306 | 0,280 |
| 0,112 | 0,071 | 0,105 | 0,184 | 0,200 |
| 0,080 | 0,043 | 0,035 | 0,061 | 0,120 |
| 0,062 | 0,031 | 0,021 | 0,020 | 0,040 |
Selanjutnya diambil rata-rata untuk setiap baris yaitu 0,50; 0,26; 0,13; 0,07; dan 0,03. Vektor kolom (rata-rata) dikalikan dengan matriks semula menghasilkan nilai untuk tiap baris, yang selanjutnya setiap nilai dibagi kembali dengan nilai vektor yang bersangkutan :
Jumlah elemen matriks (n) adalah 5, maka λmaks = 26,21 / 5 = 5,24. Nilai λmaks mendekati banyaknya (n) dalam matriks yaitu 5 dan sisa eigen value adalah 0,24. Ini mendekati nol, maka matriks adalah konsisten.
Untuk menguji konsistentsi hierarki dan tingkat akurasi, dampak dan frekuensi dengan banyak elemen dalam mariks
Tabel 7. Perhitungan konsistensi indeks (CRI)
| 1 | 3 | 5 | 7 | 9 | 0,503 | 2,74 : 0,503 | = 5,46 | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 0,33 | 1 | 3 | 5 | 7 | 0,260 | 1,41 : 0,260 | = 5,43 | |||
| 0,20 | 0,33 | 1 | 3 | 5 | X | 0,134 | 0,70 : 0,134 | = 5,20 | ||
| 0,14 | 0,20 | 0,33 | 1 | 3 | 0,068 | 0,34 : 0,068 | = 5,03 | |||
| 0,11 | 0,14 | 0,20 | 0,33 | 1 | 0,035 | 0,18 : 0,035 | = 5,09 | |||
| Sum | 26,21 |
Tabel 8. Nilai random konsistensi indeks (CRI)
| N | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| RI | 0 | 0 | 0,58 | 0,9 | 1,12 | 1,24 | 1,32 | 1,41 1,45 | 1,49 |
(n) adalah 5, besarnya CRI untuk n=5 sesuai dengan Tabel 8 adalah 1,12 maka CC = ( λmaks– n)/(n-1) sehingga didapatkan CCI sebesar 0,061. Selanjutnya, karena CRH = CCI/CRI, maka CRH = 0.061/1.12 = 0,05. Nilai CRH yang didapat kecil dibawah 10 % berarti Hierarki konsistens dan tingkat akurasi tinggi.
4.4 Analisis Nilai Risiko dengan Menggunakan SNI Risiko 2006
Dari nilai rata-rata frekuensi dan dampak risiko, analisis dilanjutkan dengan menghitung nilai Faktor Risiko.
\[FR = L + I - (L \times I) \tag{2}\]
variabel X1, nilai rata-rata Frekuensi Risiko adalah
Vol. 25 No. 3, Desember 2018 233
0,016983, nilai Dampak Risiko adalah 0,06245, maka Faktor Risiko ( FR ) :
FR X1 = \[0.11188 + 0.34583 - (0.11188 \times 0.34583)\] (3)
\[FR X1 = 0.458 - 0.039 = 0.419 \tag{4}\]
Dengan cara yang sama dihitung nilai Faktor Risiko untuk 57 Variabel risiko dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut. Kategori risiko berdasarkan Metode SNI 2006.
Berdasarkan hasil analisis level risiko diperoleh bahwa variabel risiko tinggi 1, yaitu variabel X4 (Pembayaran terlambat oleh owner), dengan nilai faktor risiko 0,7. Risiko kategori sedang berjumlah 40 variabel dan risiko kategori rendah berjumlah 16 variabel. Kemudian dilakukan validasi pakar kembali ke PT XYZ untuk mengetahui tindakan yang ditempuh terhadap risiko dominan agar dapat dikendalikan (Delphi Techniq). Tindakan PT XYZ untuk preventif dan korektif terhadap variabel X4 adalah sebagai berikut:
Tabel 9. Analisis level risiko dan peringkat risiko
| Variabel | Faktor Risiko | Risk Ranking | Risk Level |
|---|---|---|---|
| X1 | 0,4190153 | 37 | SEDANG |
| X2 | 0,5511799 | 8 | SEDANG |
| X3 | 0,5918 | 3 | SEDANG |
| X4 | 0,694094 | 1 | TINGGI |
| X5 | 0,3696606 | 50 | RENDAH |
| X6 | 0,376054 | 47 | RENDAH |
| X7 | 0,3863113 | 43 | RENDAH |
| X8 | 0,4590168 | 30 | SEDANG |
| X9 | 0,4932541 | 21 | SEDANG |
| X10 | 0,3822468 | 45 | RENDAH |
| X11 | 0,547561 | 10 | SEDANG |
| X12 | 0,4597556 | 29 | SEDANG |
| X13 | 0,5361506 | 12 | SEDANG |
| X14 | 0,5971266 | 2 | SEDANG |
| X15 | 0,4660402 | 26 | SEDANG |
| X16 | 0,550448 | 9 | SEDANG |
| X17 | 0,4071486 | 40 | SEDANG |
| X18 | 0,2899184 | 57 | RENDAH |
| X19 | 0,3838123 | 44 | RENDAH |
| X20 | 0,4287374 | 36 | SEDANG |
| X21 | 0,3443609 | 53 | RENDAH |
| X22 | 0,375552 | 48 | RENDAH |
| X23 | 0,5127133 | 14 | SEDANG |
| X24 | 0,4443875 | 33 | SEDANG |
| X25 | 0,4626086 | 27 | SEDANG |
| Variabel | Faktor Risiko | Risk Ranking | Risk Level |
|---|---|---|---|
| X26 | 0,5227521 | 13 | SEDANG |
| X27 | 0,5680117 | 6 | SEDANG |
| X28 | 0,5912942 | 4 | SEDANG |
| X29 | 0,4712734 | 25 | SEDANG |
| X30 | 0,5160823 | 15 | SEDANG |
| X31 | 0,5907669 | 5 | SEDANG |
| X32 | 0,5115953 | 16 | SEDANG |
| X33 | 0,4400537 | 34 | SEDANG |
| X34 | 0,3081339 | 56 | RENDAH |
| X35 | 0,4559963 | 31 | SEDANG |
| X36 | 0,3369683 | 54 | RENDAH |
| X37 | 0,4961659 | 19 | SEDANG |
| X38 | 0,4128956 | 39 | SEDANG |
| X39 | 0,3685052 | 52 | RENDAH |
| X40 | 0,4129597 | 38 | SEDANG |
| X41 | 0,4717302 | 24 | SEDANG |
| X42 | 0,506118 | 17 | SEDANG |
| X43 | 0,4562939 | 28 | SEDANG |
| X44 | 0,4500915 | 32 | SEDANG |
| X45 | 0,4753579 | 22 | SEDANG |
| X46 | 0,4052168 | 41 | SEDANG |
| X47 | 0,4730385 | 23 | SEDANG |
| X48 | 0,3725625 | 49 | RENDAH |
| X49 | 0,5364222 | 11 | SEDANG |
| X50 | 0,4951982 | 20 | SEDANG |
| X51 | 0,5020142 | 18 | SEDANG |
| X52 | 0,314831 | 55 | RENDAH |
| X53 | 0,3838579 | 42 | RENDAH |
| X54 | 0,4298189 | 35 | SEDANG |
| X55 | 0,5552919 | 7 | SEDANG |
| X56 | 0,3786268 | 46 | RENDAH |
| X57 | 0,3685133 | 51 | RENDAH |
Tindakan preventif: melakukan meeting rutin dengan pihak owner. Termasuk mengingatkan kembali jika ada pembayaran yang mengganggu progres pekerjaan. Selain itu dapat mencantumkan sanksi keterlambatan dalam dokumen kontrak.
Tindakan Korektif: jika sudah terjadi keterlambatan, proyek berjalan slow down maka akan dilakukan penambahan tenaga kerja dan jam kerja untuk mengejar keterlambatan. Hal tersebut dapat mengakibatkan adanya penambahan biaya dengan memakai biaya preliminaries. Pemakaiannya harus disampaikan dengan pihak owner. Tindakan Korektif lain yang dilakukan PT XYZ selaku
kontraktor yaitu membiayai terlebih dahulu biaya keterlambatan tersebut dan membuat kesepakatan penalty keterlambatan dengan pihak owner.
5. Kesimpulan dan Saran
Dari hasil analisis data yang telah dilakukan, disimpulkan beberapa hal yaitu:
- 1. Faktor risiko dominan pada proyek pembangunan gedung bertingkat pada PT XYZ terhadap kinerja waktu yaitu variabel X4 (Pembayaran terlambat oleh owner). Nilai bobot X4 = 0.7.
- 2. Tindakan mitigasi terhadap risiko dominan dengan Delphi Techniq:
- Respon preventif dan korektif vang ditempuh PT XYZ terhadap risiko dominan:
- Respon preventif yaitu melakukan meeting rutin dengan pihak owner. Termasuk mengingatkan jika ada pembayaran yang mengganggu progres pekerjaan proyek. Pada proses awal dalam kontrak disebutkan sanksi keterlambatan pembayaran.
- Respon korektif yaitu jika sudah tejadi keterlambatan maka akan dikejar dengan penambahan tenaga kerja dan jam kerja serta mengajukan penalty.
