1. Pendahuluan
Sumber daya air melimpah tetapi tidak merata di seluruh nusantara, dan iklim muson menyebabkan banjir di musim hujan dan kekurangan air di musim Pertanian, pembangunan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi cenderung meningkatkan permintaan akan air. Kapasitas penyimpanan air yang rendah, air tanah yang berkurang, degradasi daerah aliran sungai dan kondisi infrastruktur sumber daya air yang buruk merupakan tantangan penting dalam meningkatkan pasokan air. Perubahan iklim juga cenderung meningkatkan tekanan pada sumber daya air melalui pola curah hujan yang berubah-ubah dan peristiwa cuaca ekstrem.
Sebagai wilayah kepulauan, Provinsi Maluku memiliki kekayaan alam berupa sumber daya pesisir yang sangat melimpah. Namun, potensi-potensi yang dimiliki oleh provinsi ini belum ditunjang oleh infrastruktur yang memadai, salah infrastruktur air bersih. Curah hujan dengan kategori cukup tinggi di Maluku seharusnya mampu menyokong kebutuhan akan air, tetapi upaya pengkonservasian air yang masih jarang dilakukan menyebabkan masalah krisis air masih melanda beberapa kabupaten dn kota di Provinsi Maluku.
Kabupaten Maluku Tenggara memiliki luas daratan 1.031,81 km<sup>2</sup>. Sumber air bersih yang digunakan masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara untuk akses
air bersih terdiri dari beberapa sumber, diantaranya mata air dan PDAM. Beberapa titik di Kabupaten Maluku Tenggara berada dalam kondisi krisis air bersih. Ketersediaan potensi dan sumber air permukaan Kabupaten Maluku Tenggara terus mengalami penurunan setiap tahun, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Data PDAM tentang pengelolaan air bersih di Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2016, pasokan air bersih yang diberikan ke warga sebesar 75 liter/detik dan masih mengalami krisis air bersih sebanyak 12,8.% dari sumber air untuk melayani masyarakat.
Sejak tahun 2008 saat musim kemarau warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk dikonsumsi. Air dari sumur-sumur di rumah warga terasa payau, atau warga sering menyebutnya 'air salobar'. Pulau-pulau kecil di Kabupaten Maluku Tenggara yang luasnya rata-rata kurang dari 1.500 km² tidak semuanya memiliki sumber air layak konsumsi. Penduduk pulau-pulau kecil di Maluku Tenggara harus menyeberang ke pulau tetangga demi mendapatkan air bersih (Rudi, 2007).
Perkembangan wilayah pada suatu daerah akan menyebabkan kebutuhan air terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Tuntutan tersebut tidak dapat dihindari, tetapi haruslah diprediksi dan direncanakan pemanfaatan sebaik mungkin. Kecenderungan yang sering terjadi adalah adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
Menurut Triadmodjo (2010), Neraca Air dapat menggambarkan bahwa di dalam suatu sistem hidrologi (DAS, waduk, danau, aliran permukaan) dapat dievaluasi air yang masuk dan yang keluar dari sistem tersebut dalam suatu periode waktu tertentu. Dalam hal ini, neraca air meliputi kondisi ketersediaan air dan kebutuhan atau kehilangan air pada suatu sistem hidrologi. Dengan analisis neraca air dapat diteliti keseimbangan antara potensi, ketersediaan dan kebutuhan air.
Dengan analisis neraca air dapat diteliti keseimbangan antara potensi, ketersediaan dan kebutuhan air sehingga dapat disimpulkan apakah ketersediaan air yang ada mampu mencukupi kebutuhan air di masa sekarang dan mendatang.
2. Neraca Air
Neraca air adalah informasi hasil penelitian berisi imbangan potensi, ketersediaan dan kebutuhan sumber daya air pada kurun waktu tertentu. Penyusunan neraca air disajikan dalam bentuk grafik dan tabel rekap potensi, ketersediaan dan kebutuhan air dalam rentang bulanan. Dari neraca air nantinya dapat dilihat apakah demand dan supply sudah seimbang, sehingga bisa dijadikan pertimbangan untuk tahap perencanaan infrastruktur keairan selanjutnya.
2.1 Potensi air
Air hujan merupakan andalan yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber air baku selain
cadangan air tanah. Debit air hujan diperhitungkan menggunakan metode perhitungan debit andalan, dengan metode Penman Modifikasi untuk evapotransporasi yang memperhitungkan temperatur, kelembaban udara, radiasi matahari, dan kecepatan angin sehingga hasil perhitungan relatif lebih akurat. dan F.J.Mock untuk debit andalan. Data hujan yang digunakan adalah data hujan kurun waktu minimal 5-10 tahun.
Faktor yang diperhitungkan dalan debit andalan diantaranya; evapotranspirasi, kelebihan air (water surplus), simpanan air tanah (ground water storage), dan aliran permukaan.
2.2 Ketersediaan air
Ketersediaan air merupakan jumlah air yang tersedia pada sumber air. ketersediaan air dapat berupa infrastruktur alami maupun buatan, seperti SPAM, sumur bor, embung, dan waduk.
Air permukaan seperti sungai (rivers), saluran (stream), mata air (springs), danau dan waduk dibutuhkan untuk kehidupan dan produksi. Air permukaan adalah air yang terdapat dalam proses sirkulasi air (siklus hidrologi), jika sirkulasi tidak merata maka akan terjadi bermacam kesulitan diantaranya sirkulasi yang kurang, maka kekurangan air ini harus ditambah dalam suatu usaha pemanfaatan air (Sosrodarsono, 2006).
Dari hasil penelitian ketersediaan air di Indonesia, secara total ketersediaan air rata-rata sebesar 88,3 ribu m³/detik atau setara dengan 2,78 triliun m³/tahun. Ketersediaan air andalan 80% sebesar 66,1 ribu m³/s atau setara dengan 2,08 triliun m³/tahun. Potensi terbesar yaitu Pulau Papua sebesar 29% sedangkan potensi terkecil yaitu Pulau Bali dan Nusa Tenggara sebesar 1% (Radhika dkk, 2017).
2.3 Kebutuhan Air
Kebutuhan air adalah perkiraan jumlah air yang diperlukan untuk memenuhi hajat hidup kumpulan manusia, hewan, tumbuhan, maupun keperluan untuk proses produksi industri dan pembangkit listrik, serta untuk pemeliharaan lingkungan, yang jumlahnya dapat dihitung berdasarkan pemanfaatan air yang sudah ada, serta proyeksi sesuai dengan laju pertumbuhan para pengguna airnya. Kebutuhan air yang umum diperhitungkan diantaranya;
- kebutuhan air domestik, yaitu kebutuhan air yang digunakan pada tempat-tempat hunian pribadi/ rumah tangga untuk memenuhi keperluan seharihari.
- 2. kebutuhan air nondomestik, yaitu kebutuhan air di luar keperluan rumah tangga seperti sekolah, rumah sakit, perkantoran, rumah ibadah, dan perniagaan. Diasumsikan antara 15%-30% dari total air pemakaian air bersih rumah tangga.
- kebutuhan air industri, perhitungan kebutuhan air industri dapat diperhitungkan berdasarkan atas: jumlah karyawan, luas air industri, jenis/tipe industri.
Tabel 1. Standar kebutuhan air bersih rumah tangga berdasarkan SNI-6728-2015
| No | Kategori Kota | Jumlah Penduduk (jiwa) | Kebutuhan Air Bersih (L/O/H) |
|---|---|---|---|
| 1. | Semi urban (ibu kota kecamatan/desa) | 3.000 - 20.000 | 60 - 90 |
| 2. | Kota Kecil | 20.000 - 100.000 | 90 - 110 |
| 3. | Kota Sedang | 100.000 - 500.000 | 100 - 125 |
| 4. | Kota Besar | 500.000 - 1.000.000 | 120 - 150 |
| 5. | Metropolitan | > 1.000.000 | 150 - 200 |
Tabel 2. Standar kebutuhan air industri berdasarkan beberapa proses industri berdasarkan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2003)
| Jenis Industri | Jenis Proses Industri | Kebutuhan Air (liter/hari) | Mutu Air |
|---|---|---|---|
| Industri Rumah Tangga | Belum ada, reko disesuaikan der | ngan standar | |
| Industri Kecil | kebutuhan air ru | _ | |
| Minuman ringan | 1.600 - 11.200 | ||
| Industri Sedang | Industri es | 18.000 - 67.000 | Disesuaikan |
| · · | Kecap | 12.000 - 97.000 | dengan proses industri |
| Minuman ringan | 65.000 - 78 juta | - | |
| Industri Besar | Industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya | 225.000 - 1,35 juta | |
| Industri Tekstil | Proses pengolahan tekstil | 400 – 700 [/kapita/hari] | - |
Tabel 3. Klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga kerja berdasarkan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2003)
| Jumlah Tenaga Kerja (Orang) | Klasifikasi |
|---|---|
| 1 – 4 | Industri Kerajinan Rumah Tangga |
| 5 – 19 | Industri Kecil |
| 20 – 99 | Industri Sedang |
| > 100 | Industri Besar |
4. kebutuhan air pertanian dan perkebunan dihitung menggunakan proyeksi data areal tanam, jadwal tanam, evapotranspirasi acuan, hujan efektif, jenis tanah, dan efisiensi saluran irigasi. Kebutuhan air irigasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kebutuhan untuk penyiapan air (IR), kebutuhan air konsumtif untuk tanaman (Etc), perkolasi (P), kebutuhan air untuk peggantian lapisan air (RW), curah hujan efektif (ER), efisiensi irigasi (IE) dan luas lahan irigasi (A). Besarnya kebutuhan air irigasi dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut:
\[IG = \frac{(Etc + IR + RW + P - ER)}{IE} \times A\] (1)
Keterangan:
= kebutuhan air irigasi (m<sup>3</sup>)
Etc = kebutuhan air konsumtif (mm/hari)
= kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
RW = kebutuhan air untuk mengganti lapisan air (mm/hari)
= perkolasi (mm/hari)
ER = hujan efektif (mm/hari)
ΙE = efesiensi irigasi
= luas areal irigasi (m<sup>2</sup>)
\(Etc = Eto \times Kc\)
Keterangan:
Etc = kebutuhan air konsumtif (mm/hari)
Eto = evapotranspirasi (mm/hari)
Kc = koefisien tanaman
\[IR = M \left[ \frac{e^k}{e^k - 1} \right] \tag{2}\]
Keterangan:
IR = kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan (mm/ hari)
M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evapotranspirasi dan perkolasi di sawah yang telah dijenuhkan (mm/hari)
\[Eo + p.Eo = 1,1 \times Eto\] (3)
P = perkolasi (mm/hari)
\(T = jangka waktu penyiapan air (hari) dari <math>k = M \times M\)(T/S)
S = kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm
Perhitungan kebutuhan air untuk penyiapan air digunakan nilai T = 30 hari dan S = 250 mm. ini sudah termasuk banyaknya air untuk penggenangan setelah transplatasi, yaitu sebesar 50 mm serta kebutuhan untuk persemaian.
kebutuhan air peternakan dan perikanan, secara umum kebutuhan air untuk ternak dapat diestimasikan dengan cara mengalikan jumah ternak dengan tingkat kebutuhan air berdasarkan persamaan berikut ini:
\[Q_E = (q_{(1)} \times P_{(1)} + q_{(2)} \times P_{(2)} + q_{(3)} \times P_{(3)})\] (4)
Keterangan:
Q<sub>E</sub> = kebutuhan air untuk ternak (l/hari)
\(q_{(1)}\) = kebutuhan air untuk sapi, kerbau, dan kuda (1/ ekor/hari)
\(q_{(2)}\) = kebutuhan air untuk kambing dan domba (1/ ekor/hari)
\(q_{(3)}\) = kebutuhan air untuk unggas (l/ekor/hari)
P<sub>(1)</sub> = jumlah sapi, kerbau, kuda (ekor) P<sub>(2)</sub> = jumlah kambing, domba (ekor) P<sub>(3)</sub> = jumlah unggas (ekor)
Tabel 4. Standar kebutuhan air untuk ternak berdasarkan SNI-6728-2015
| Jenis Ternak | Kebutuhan Air (liter/ekor/hari) |
|---|---|
| Sapi / kerbau / kuda | 40 |
| Kambing / domba | 5 |
| Babi | 6 |
| Unggas | 0,6 |
Sedangkan untuk perikanan, kebutuhan air diperkirakan berdasarkan luas kolam, tipe kolam serta kedalaman air yang diperlukan. Debit air yang baik untuk kolam tidak kurang dari 10 – 15 lt/dt/ha.
\[Qfp = \frac{q(fp)}{1.000} \times A(fp) \times 10.000\] (5)
Keterangan:
Qfp = kebutuhan air untuk perikanan (m³/hari)
q(fp) = kebutuhan air untuk pembilasan (l/hari/ha)
A(fp) = luas kolam ikan (ha)
3. Proyeksi Data Statistik
Ada beberapa cara memproyeksikan data statistik untuk masa yang akan datang diantaranya menggunakan metode matematik. Metode matematik menggunakan persamaan derajat pertama (first degree equation). Proyeksi berdasarkan tingkat pertumbuhan mengasumsikan pertumbuhan yang konstan, baik untuk model aritmatika, geometrik, atau eksponensial.
Perhitungan proyeksi data statistik dilakukan berdasarkan Buku Pedoman Perhitungan Proyeksi Penduduk dan Angkatan Kerja yang diterbitkan oleh BPS, 2010. Pemilihan metode paling tepat yang akan digunakan dalam penelitian, diperlukan perhitungan faktor korelasi dan standar deviasi. Metode proyeksi yang dipilih adalah metode dengan nilai standar deviasi terendah dan koefisien korelasi paling tinggi.
Metode Aritmatika:
\[P_t = P_0(1+rt)\], dengan \(r = \frac{1}{t} \left(\frac{P_t}{P_0} - 1\right)\) (6)
Metode Geometrik:
\[P_{t} = P_{0}(1+r)^{t}\], dengan \(r = \left(\frac{P_{t}}{P_{0}}\right)^{\frac{1}{t}} - 1\) (7)
Metode Eksponensial:
\[P_t = P_0 e^{rt}\] , dengan \(r = \frac{1}{t} ln \left( \frac{P_t}{P_0} \right)\) (8)
4. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Secara astronomis, Kabupaten Maluku Tenggara terletak antara 5° 12' 10,448"- 6° 6' 10,97" Lintang Selatan dan 132° 21' 26,401"- 133° 15' 27,473". Data yang diperlukan dalam penelitian ini diantaranya adalah: Data
Hidroklimatologi, Data Statistik Kependudukan, Data Statistik Pertanian dan Perkebunan, Data Statistik Peternakan dan Perikanan, Data Statistik Industri, Peta dan Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat, Data Debit PDAM, Data Volume Embung dan Waduk, Data Debit Cekungan Air Tanah
Pehitungan kebutuhan air mengacu pada SNI 6728-1-2015 tentang Penyusunan Neraca Spasial Sumber Daya Air, memproyeksikan kebutuhan air untuk 20 tahun ke metode eksponensial depan dengan mempertimbangkan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat (RTRW) sebagai batasan proyeksi. Air hujan atau debit andalan; dihitung dengan metode Penman Modifikasi dan F.J Mock. Air permukaan; data volume waduk dan embung yang ada di lokasi studi serta data debit yang disuplai SPAM dan jaringan air baku di lokasi studi didapatkan dari Ditjen Cipta Karya. Air tanah; data peta dan debit cekungan air tanah dari Web PANSIMAS.

Gambar 1. Peta RTRW Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2012-2032 (Sumber Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, 2012)
5. Hasil dan Pembahasan
5.1 Perhitungan potensi debit air hujan
Air hujan merupakan andalan di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai salah satu sumber air baku selain cadangan air tanah. Data komponen cuaca di Kabupaten Maluku Tenggara berdasarkan dari data stasiun pengukuran terdekat dengan Kabupaten Maluku Tenggara yaitu Stasiun Meteorologi Klas III Dumatubun Tual. Berikut rekapitulasi data hidroklimatologi selama 10 tahun terakhir di Stasiun Dumatubun Tual.
Berdasarkan data hidroklimatologi tersebut, maka dapat dihitung evapotranspirasi menggunakan metode Penmann Modifikasi serta debit andalan dengan menggunakan metode F.J. Mock.
Berikut ini adalah rekapitulasi dari nilai debit andalan yang diperoleh dari perhitungan disajikan dalam bentuk grafik (Gambar 2)
Di wilayah sungai Kepulauan Kei-Aru terdapat total 211 DAS. Kabupaten Maluku Tenggara terdapat 77
7DEHO5DWD-UDWDKLGURNOLPDWRORJL
| %XODQ | 6XKX5DWD-UDWD ƒ& | .HOHPEDEDQ 5DWD-UDWD | &XUDK+XMDQ .XPXODWLIPP | -XPODK +DUL+XMDQ | /DPD3HQ\LQDUDQ MDP | .HFHSDWDQ$QJLQ 5DWD-UDWDNQRW |
|---|---|---|---|---|---|---|
| -DQXDUL | ||||||
| )HEUXDUL | ||||||
| 0DUHW | ||||||
| $SULO | ||||||
| 0HL | ||||||
| -XQL | ||||||
| -XOL | ||||||
| $JXVWXV | ||||||
| 6HSWHPEHU | ||||||
| 2NWREHU | ||||||
| 1RYHPEHU | ||||||
| 'HVHPEHU |
7DEHO(YDSRWUDVQSLUDVLSRWHQVLDOWDKXQ-
| %8/$1 | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | 85$,$1 | 6$78$1 | -DQ | )HE | 0DU | $SU | 0HL | -XQ | -XO | $JW | 6HS | 2NW | 1RY | 'HV |
| 7HPSHUDWXU8GDUD | ƒ& | |||||||||||||
| (DHD | 0EDU | |||||||||||||
| : | ||||||||||||||
| -Z | ||||||||||||||
| IW | ||||||||||||||
| NHOHPEDEDQUHODWLI5+ | ||||||||||||||
| HG HD[5+ | ||||||||||||||
| IHG -VTUW HG | ||||||||||||||
| /HWDNOLQWDQJGDHUDK | ƒ/6 | |||||||||||||
| 5DUDGLDVLHNVWUD PDWDKDUL | PPKDUL | |||||||||||||
| 3HQ\LQDUDQPDWDKDULQ1 | ||||||||||||||
| 5V Q15D | ||||||||||||||
| 5QV -D5VD | ||||||||||||||
| IQ1 Q1 | ||||||||||||||
| .HFHSDWDQDQJLQX | PGWN | |||||||||||||
| IX X[ | ||||||||||||||
| 5Q IW[IHG[IQ1 | ||||||||||||||
| 5Q 5QV-5Q | PPKDUL | |||||||||||||
| FIDNWRUNRUHNVL | ||||||||||||||
| (WR
:
5Q-:
IX (D-(G | PPKDUL | |||||||||||||
| (WR F[(WR | PPKDUL | |||||||||||||
| MPOKDULGDODPEXODQ | +DUL | |||||||||||||
| (WR | PPEOQ |
'$6 VDODK VDWX GLDQWDUDQ\D \DQJ WHUEHVDU DGDODK '$6 :HGXDUGHQJDQOXDVNP GDULWRWDOOXDV'$6 GL .DEXSDWHQ 0DOXNX 7HQJJDUD %HULNXW GDWD GHELW HNVLVWLQJ GDQ JUDILN QHUDFD DLU'$6:HGXDU GL ZLOD\DK VXQJDL.HSXODXDQ.HL-$UX*DPEDU
3HUKLWXQJDQNHEXWXKDQDLU
.HEXWXKDQ DLU \DQJ GLSHUKLWXQJNDQ GDODP SHQHOLWLDQLQL DGDODK XQWXN VHPXD VHNWRU \DQJ DGD GL ORNDVL VWXGL
VHSHUWL VHNWRU UXPDK WDQJJD-NRWD-LQGXVWUL 5., SHUWDQLDQGDQSHUNHEXQDQVHUWDSHWHUQDNDQ
.HEXWXKDQDLU5.,
3UR\HNVL MXPODK SHQGXGXN GDQ LQGXVWUL GLODNXNDQ GDODPMDQJND ZDNWX WDKXQ NHGHSDQ 'DWD VWDVWLVWLN \DQJ GLJXQDNDQ DGDODK GDWD %DGDQ 3XVDW 6WDWLVWLN – 'DWD'DODP$QJND.DEXSDWHQ0DOXNX7HQJJDUDWDKXQ - 3UR\HNVL SHUWXPEXKDQ SHQGXGXN GDQ XQLW LQGXVWUL GLWLQMDX SHU-NHFDPDWDQ GHQJDQ WRWDO
7DEHO'HELWDQGDODQWDKXQ-
| %XODQ | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | 8UDLDQ | 6DWXDQ | -DQ | )HE | 0DU | $SU | 0HL | -XQ | -XO | $JW | 6HS | 2NW | 1RY | 'HV |
| +XMDQ%XODQDQ5 | PPEOQ | |||||||||||||
| +DUL+XMDQQ | KDUL | |||||||||||||
| (YDSRWUDQVSLUDVL 3RWHQVLDO(WR | PPEOQ | |||||||||||||
| 3HUPXNDDQ/DKDQ 7HUEXNDP | ||||||||||||||
| (WR(D P[ -Q | ||||||||||||||
| (H (WR[P[ -Q | PPEOQ | |||||||||||||
| (D (WR-(H | PPEOQ | |||||||||||||
| ǻV 5-(D NHVHLPEDQJDQDLU | PPEOQ | - | - | - | - | |||||||||
| OLPSDVDQEDGDL SI | ||||||||||||||
| .DQGXQJDQDLU WDQDK66 | PPEOQ | |||||||||||||
| .DSDVLWDVNHOHPEDEDQ WDQDK60& | PPEOQ | |||||||||||||
| .HOHELKDQ$LU :V | PPEOQ | |||||||||||||
| )DNWRUL | ||||||||||||||
| )DNWRU. | ||||||||||||||
| LQILOWUDVL, | PPEOQ | |||||||||||||
| 9ROXPHDLUWDQDK * N, | PPEOQ | |||||||||||||
| 3HQ\LPSDQDQ$LU 7DQDK$ZDO 7HUNRUHNVL/ | PPEOQ | |||||||||||||
| 9ROXPH 3HQ\LPSDQDQ9Q | PPEOQ | |||||||||||||
| ǻ9Q 9Q-9Q- | PPEOQ | - | - | - | - | - | - | - | - | |||||
| $OLUDQ'DVDU%) | PPEOQ | |||||||||||||
| /LPSDVDQ/DQJVXQJ '5 | PPEOQ | |||||||||||||
| 7RWDO/LPSDVDQ7UR PPEOQ | ||||||||||||||
| /XDVGDHUDK WDQJNDSDQ$ | NP | |||||||||||||
| 'HELW%XODQDQ | P GWN |
NHFDPDWDQ \DQJ WHUGDSDW GL .DEXSDWHQ 0DOXNX 7HQJJDUD
%HUGDVDUNDQ 7DEHO GLGDSDWNDQ QLODL NRHILVLHQ NRUHODVL WHUWLQJJL GDQ VWDQGDU GHYLDVL WHUHQGDK SDGD PHWRGH HNVSRQHQVLDO 0DND PHWRGH SHUKLWXQJDQ SUR\HNVL MXPODK SHQGXGXN GDQ MXPODK XQLW LQGXVWUL SDGD SHQHOLWLDQ LQL PHQJJXQDNDQ PHWRGH HNVSRQHQVLDO

*DPEDU*UDILNGHELWDQGDODQ *DPEDU*UDILNQHUDFDDLUHNVLVWLQJ'$6:HGXDUWDKXQ 6XPEHU3ROD3HQJHORODDQ6XPEHU'D\D$LU:LOD\DK6XQJDL .HSXODXDQ.HL-$UX
6WDQGDU NHEXWXKDQ DLU UXPDK WDQJJD GRPHVWLN GLVHVXDLNDQ GHQJDQ NDWHJRUL ZLOD\DK GDQ MXPODK SHQGXGXNQ\D VHSHUWL SDGD 7DEHO 6HGDQJNDQ XQWXN QRQGRPHVWLNGLDVXPVLNDQGDULWRWDOSHPDNDLDQDLU EHUVLKUXPDKWDQJJD
.HEXWXKDQDLULQGXVWULGDSDWGLKLWXQJGDUL IDNWRUMHQLV LQGXVWUL 6WDQGDU NHEXWXKDQ DLU LQGXVWUL GLVHVXDLNDQ
menurut kategori industri seperti pada Tabel 2. Untuk kategori industri rumah tangga dan industri kecil, standar kebutuhan air disesuaikan dengan kebutuhan air rumah tangga, dengan memperhatikan standar jumlah tenaga kerja sesuai klasifikasi industri.
Tabel 8. Koefisien korelasi dan standar deviasi
| Metode Proyeksi | Koefisien Korelasi | Standar Deviasi |
|---|---|---|
| Aritmatika | 0,889 | 4,608E-11 |
| Geometrik | 0,889 | 1,250E-12 |
| Eksponensial | 0,900 | 2,246E-12 |
Tabel 9. Proyeksi pertumbuhan penduduk
| No. | Kecamatan | Tahun 2017 | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kei Kecil | 33.929 | 39.912 | 49.562 | 64.970 | 85.166 | 111.642 |
| 2 | Kei Kecil Barat | 7.863 | 9.250 | 11.486 | 15.057 | 19.737 | 25.873 |
| 3 | Kei Kecil Timur | 8.758 | 10.302 | 12.793 | 16.770 | 21.984 | 28.818 |
| 4 | Hoat Sorbay | 9.883 | 11.626 | 14.437 | 18.925 | 24.808 | 32.520 |
| 5 | Manyeuw | 6.228 | 7.326 | 9.098 | 11.926 | 15.633 | 20.493 |
| 6 | Kei Kecil Timur Selatan | 5.761 | 6.777 | 8.415 | 11.032 | 14.461 | 18.956 |
| 7 | Kei Besar | 19.354 | 22.770 | 28.272 | 37.060 | 48.581 | 63.683 |
| 8 | Kei Besar Utara Timur | 12.626 | 14.853 | 18.444 | 24.177 | 31.693 | 41.545 |
| 9 | Kei Besar Selatan | 7.745 | 9.111 | 11.314 | 14.831 | 19.441 | 25.485 |
| 10 | Kei Besar Utara Barat | 9.570 | 11.258 | 13.980 | 18.325 | 24.022 | 31.490 |
| 11 | Kei Besar Selatan Barat | 3.987 | 4.690 | 5.824 | 7.635 | 10.008 | 13.119 |
| TOTAL | 125.704 | 147.871 | 183.624 | 240.707 | 315.534 | 416.623 |
Tabel 10. Proyeksi pertumbuhan unit industri
| N. | landa la duratul | Jumlah Industri | Proyeksi Pertumbuhan Industri (unit) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Jenis Industri | Tahun 2017 (unit) | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 | ||||
| 1 | Sandang dan Kulit | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | ||||
| 2 | Pangan | 81 | 119 | 176 | 285 | 462 | 750 | ||||
| 3 | Kerajinan Umum | 23 | 34 | 101 | 253 | 636 | 1.598 | ||||
| 4 | Kimia dan Bahan Bangunan | 26 | 26 | 26 | 26 | 26 | 26 | ||||
Tabel 11. Proyeksi kebutuhan air domestik dan non-domestik
| Kebutul | han Air Do | omestik (r | n³/detik) | 1 | Kebutuha | n Air Non | -Domestik | (m³/detik | :) | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Kecamatan | Tahun 2017 | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 | Tahun 2017 | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 |
| 1 | Kei Kecil | 0,035 | 0,042 | 0,052 | 0,068 | 0,089 | 0,116 | 0,011 | 0,012 | 0,015 | 0,020 | 0,027 | 0,035 |
| 2 | Kei Kecil Barat | 0,005 | 0,006 | 0,008 | 0,010 | 0,014 | 0,018 | 0,002 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,004 | 0,005 |
| 3 | Kei Kecil Timur | 0,006 | 0,007 | 0,009 | 0,012 | 0,015 | 0,020 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,003 | 0,005 | 0,006 |
| 4 | Hoat Sorbay | 0,007 | 0,008 | 0,010 | 0,013 | 0,017 | 0,023 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,004 | 0,005 | 0,007 |
| 5 | Manyeuw | 0,004 | 0,005 | 0,006 | 0,008 | 0,011 | 0,014 | 0,001 | 0,002 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,004 |
| 6 | Kei Kecil Timur Selatan | 0,004 | 0,005 | 0,006 | 0,008 | 0,010 | 0,013 | 0,001 | 0,001 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,004 |
| 7 | Kei Besar | 0,013 | 0,016 | 0,020 | 0,026 | 0,034 | 0,044 | 0,004 | 0,005 | 0,006 | 0,008 | 0,010 | 0,020 |
| 8 | Kei Besar Utara Timur | 0,009 | 0,010 | 0,013 | 0,017 | 0,022 | 0,029 | 0,003 | 0,003 | 0,004 | 0,005 | 0,007 | 0,009 |
| 9 | Kei Besar Selatan | 0,005 | 0,006 | 0,008 | 0,010 | 0,014 | 0,018 | 0,002 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,004 | 0,005 |
| 10 | Kei Besar Utara Barat | 0,007 | 0,008 | 0,010 | 0,013 | 0,017 | 0,022 | 0,002 | 0,002 | 0,003 | 0,004 | 0,005 | 0,007 |
| 11 | Kei Besar Selatan Barat | 0,003 | 0,003 | 0,004 | 0,005 | 0,007 | 0,009 | 0,001 | 0,001 | 0,001 | 0,002 | 0,002 | 0,003 |
| TOTAL | 0,099 | 0,117 | 0,145 | 0,190 | 0,249 | 0,326 | 0,030 | 0,035 | 0,043 | 0,057 | 0,075 | 0,104 |
Tabel 12. Proyeksi kebutuhan air industri
| NI - | Level a local control | Kebutuhan Air Industri (m³/detik) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Jenis Industri | Tahun 2017 | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 | |||
| 1 | Sandang dan Kulit | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | |||
| 2 | Pangan | 0,0011 | 0,0016 | 0,0023 | 0,0038 | 0,0061 | 0,0099 | |||
| 3 | Kerajinan Umum | 0,0003 | 0,0006 | 0,0013 | 0,0033 | 0,0084 | 0,0211 | |||
| 4 | Kimia dan Bahan Bangunan | 0,0003 | 0,0003 | 0,0003 | 0,0003 | 0,0003 | 0,0003 | |||
| TOTAL | 0,0017 | 0,0026 | 0,0040 | 0,0074 | 0,0148 | 0,0313 | ||||
7DEHO5HNDSLWXODVLNHEXWXKDQDLU5.,
| -HQLV.HEXWXKDQ | .HEXWXKDQ$LU5.,P GHWLN | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | ||||
| 'RPHVWLN | ||||||||||
| 1RQ-'RPHVWLN | ||||||||||
| ,QGXVWUL | ||||||||||
| 727$/ | ||||||||||
7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQOXDVODKDQWDQDPDQSDQJDQ
| /XDV/DKDQ | 3UR\HNVL/XDV/DKDQ7DQDPDQ3DQJDQKD | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | .HFDPDWDQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ |
| .HL.HFLO | |||||||
| .HL.HFLO%DUDW | |||||||
| .HL.HFLO7LPXU | |||||||
| +RDW6RUED\ | |||||||
| 0DQ\HXZ | |||||||
| .HL.HFLO7LPXU6HODWDQ | |||||||
| .HL%HVDU | |||||||
| .HL%HVDU8WDUD7LPXU | |||||||
| .HL%HVDU6HODWDQ | |||||||
| .HL%HVDU8WDUD%DUDW | |||||||
| .HL%HVDU6HODWDQ%DUDW | |||||||
| 727$/ |
7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQOXDVODKDQWDQDPDQKRUWLNXOWXUD
| /XDV/DKDQ | 3UR\HNVL/XDV/DKDQ7DQDPDQ+RUWLNXOWXUDKD | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | .RPRGLWL | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ |
| %DZDQJ0HUDK | |||||||
| &DEH5DZLW | |||||||
| &DEH.HULWLQJ | |||||||
| .HWLPXQ | |||||||
| 7HURQJ | |||||||
| .DFDQJ-NDFDQJDQ | |||||||
| 6DZL3HWVDL | |||||||
| 7RPDW | |||||||
| %XQFLV | |||||||
| .DQJNXQJ | |||||||
| %D\DP | |||||||
| 727$/ |
7DEHO5HNDSLWXODVLNHEXWXKDQDLUSHUWDQLDQGDQSHUNHEXQDQ
| -HQLV7DQDPDQ | .HEXWXKDQ$LU3HUWDQLDQGDQ3HUNHEXQDQP GHWLN | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | |||
| 7DQDPDQ3DQJDQ | |||||||||
| 7DQDPDQ+RUWLNXOWXUD | |||||||||
| 727$/ | |||||||||
7DEHO.RHILVLHQNRUHODVLGDQVWDQGDUGHYLDVL
| 0HWRGH3UR\HNVL | .RHILVLHQ.RUHODVL | 6WDQGDU'HYLDVL | ||
|---|---|---|---|---|
| $ULWPDWLND | (- | |||
| *HRPHWULN | (- | |||
| (NVSRQHQVLDO | (- | |||
.HEXWXKDQDLUSHUWDQLDQGDQSHUNHEXQDQ
3UR\HNVL OXDV ODKDQ SHUWDQLDQ GDQ SHUNHEXQDQ GLODNXNDQ GDODP MDQJND ZDNWX WDKXQ NH GHSDQ 'DWD VWDVWLVWLN \DQJ GLJXQDNDQ DGDODK GDWD %DGDQ 3XVDW 6WDWLVWLN – 'DWD 'DODP $QJND .DEXSDWHQ
Maluku Tenggara tahun 2010-2016. Proyeksi luas lahan pertanian dan perkebunan ditinjau per kecamatan dengan total 11 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara.
Berdasarkan Tabel 14 didapatkan nilai koefisien korelasi tertinggi dan standar deviasi terendah pada metode eksponensial. Maka metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk dan jumlah unit industri pada penelitian ini menggunakan metode eksponensial.
Jenis tanaman dibagi menjadi 2; tanaman pangan dan hortikultura. tanaman Tanaman Pangan diperhitungkan pada penelitian ini yaitu; padi ladang, jagung, ketela, kacang-kacangan, dan umbi-umbian.
Standar kebutuhan pertanian disesuaikan dengan kategori lahannya, 600 mm/tahun atau 0,0002 m<sup>3</sup>/detik/ ha untuk tanaman lahan kering dan 1200 mm/tahun atau 0,001 m<sup>3</sup>/detik/ha untuk tanaman lahan basah.
Karena seluruh komoditi pertanian dan perkebunan di Kabupaten Maluku Tenggara adalah lahan kering, maka untuk perhitungan kebutuhan air pertanian dan perkebunan (tanaman pangan dan tanaman hortikultura) diakumulasi
Komoditas ternak yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara yaitu; sapi, kambing, babi, dan unggas. Kebutuhan air hewan ternak dihitung dengan menyesuaikan standar kebutuhan air per jenis hewan ternak pada Tabel 4.
5.2.3 Kebutuhan Air Peternakan
Proyeksi jumlah hewan ternak dilakukan dalam jangka
waktu 20 tahun kedepan. Data stastistik yang digunakan adalah data Badan Pusat Statistik – Data Dalam Angka Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2010 -2016. Proyeksi jumlah hewan ternak ditinjau perkecamatan dengan total 11 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara.
Tabel 18. Koefisien korelasi dan standar deviasi
| Metode Proyeksi | Koefisien Korelasi | Standar Deviasi | |
|---|---|---|---|
| Aritmatika | 0,889 | 4,608E-11 | |
| Geometrik | 0,889 | 1,250E-12 | |
| Eksponensial | 0,900 | 2,246E-12 | |
Tabel 19. Proyeksi pertumbuhan ternak sapi
| Proyeksi Pertumbuhan Ternak Sapi (ekor) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No. | Kecamatan | Tahun 2017 | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 | ||
| 1 | Kei Kecil | 587 | 1.696 | 6.977 | 40.880 | 239.537 | 1.403.573 | ||
| 2 | Kei Kecil Barat | 58 | 168 | 689 | 4.039 | 23.668 | 138.684 | ||
| 3 | Kei Kecil Timur | 317 | 916 | 3.768 | 22.077 | 129.358 | 757.977 | ||
| 4 | Hoat Sorbay | 104 | 300 | 1.236 | 7.243 | 42.439 | 248.674 | ||
| 5 | Manyeuw | 193 | 558 | 2.294 | 13.441 | 78.757 | 461.481 | ||
| 6 | Kei Kecil Timur Selatan | 234 | 676 | 2.781 | 16.296 | 95.488 | 559.516 | ||
| 7 | Kei Besar | 197 | 569 | 2.341 | 13.719 | 80.390 | 471.046 | ||
| 8 | Kei Besar Utara Timur | 8 | 23 | 95 | 557 | 3.265 | 19.129 | ||
| 9 | Kei Besar Selatan | 28 | 81 | 333 | 1.950 | 11.426 | 66.951 | ||
| 10 | Kei Besar Utara Barat | 6 | 17 | 71 | 418 | 2.448 | 14.347 | ||
| 11 | Kei Besar Selatan Barat | 20 | 58 | 238 | 1.393 | 8.161 | 47.822 | ||
| Total | 1.254 | 5.061 | 20.823 | 122.013 | 714.937 | 4.189.198 | |||
Tabel 20. Proyeksi pertumbuhan ternak kambing
| Kecamatan | Proyek | si Pertumbuhan | Ternak Kambin | g (ekor) | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Tahun 2017 | Tahun 2020 | Tahun 2024 | Tahun 2029 | Tahun 2034 | Tahun 2039 | |
| 1 | Kei Kecil | 260 | 605 | 1.862 | 7.600 | 31.015 | 126.569 |
| 2 | Kei Kecil Barat | 62 | 144 | 444 | 1.812 | 7.396 | 30.182 |
| 3 | Kei Kecil Timur | 218 | 507 | 1.561 | 6.372 | 26.005 | 106.124 |
| 4 | Hoat Sorbay | 304 | 707 | 2.177 | 8.886 | 36.263 | 147.989 |
| 5 | Manyeuw | 106 | 246 | 759 | 3.098 | 12.644 | 51.601 |
| 6 | Kei Kecil Timur Selatan | 322 | 749 | 2.306 | 9.412 | 38.410 | 156.751 |
| 7 | Kei Besar | 120 | 279 | 860 | 3.508 | 14.314 | 58.417 |
| 8 | Kei Besar Utara Timur | 79 | 184 | 566 | 2.309 | 9.424 | 38.458 |
| 9 | Kei Besar Selatan | 139 | 323 | 996 | 4.063 | 16.581 | 67.666 |
| 10 | Kei Besar Utara Barat | 16 | 37 | 115 | 468 | 1.909 | 7.789 |
| 11 | Kei Besar Selatan Barat | 239 | 556 | 1.712 | 6.986 | 28.510 | 116.347 |
| Total | 1.865 | 4.336 | 13.358 | 54.514 | 222.470 | 907.893 |
7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQWHUQDNEDEL
| 3UR\HNVL3HUWXPEXKDQ7HUQDN%DELHNRU | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | .HFDPDWDQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ |
| .HL.HFLO | |||||||
| .HL.HFLO%DUDW | |||||||
| .HL.HFLO7LPXU | |||||||
| +RDW6RUED\ | |||||||
| 0DQ\HXZ | |||||||
| .HL.HFLO7LPXU6HODWDQ | |||||||
| .HL%HVDU | |||||||
| .HL%HVDU8WDUD7LPXU | |||||||
| .HL%HVDU6HODWDQ | |||||||
| .HL%HVDU8WDUD%DUDW | |||||||
| .HL%HVDU6HODWDQ%DUDW | |||||||
| 7RWDO |
7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQWHUQDNXQJJDV
| 3UR\HNVL3HUWXPEXKDQ7HUQDN8QJJDVHNRU | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | .HFDPDWDQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ |
| .HL.HFLO | |||||||
| .HL.HFLO%DUDW | |||||||
| .HL.HFLO7LPXU | |||||||
| +RDW6RUED\ | |||||||
| 0DQ\HXZ | |||||||
| .HL.HFLO7LPXU6HODWDQ | |||||||
| .HL%HVDU | |||||||
| .HL%HVDU8WDUD7LPXU | |||||||
| .HL%HVDU6HODWDQ | |||||||
| .HL%HVDU8WDUD%DUDW | |||||||
| .HL%HVDU6HODWDQ%DUDW | |||||||
| 7RWDO |
7DEHO5HNDSLWXODVLSUR\HNVLNHEXWXKDQDLUSHWHUQDNDQ
| -HQLV7HUQDN | 5HNDSLWXODVL.HEXWXKDQ$LU3HWHUQDNDQ | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | 7DKXQ | |||
| 6DSL | |||||||||
| .DPELQJ | |||||||||
| %DEL | |||||||||
| 8QJJDV | |||||||||
| 7RWDO | |||||||||
7DEHO5HNDSLWXODVLSUR\HNVLNHEXWXKDQDLUGL.DEXSDWHQ0DOXNX7HQJJDUD
| 5HNDSLWXODVL.HEXWXKDQ$LUP GHWLN | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1R | 6HNWRU.HEXWXKDQ$LU | 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ | ||||||
| .HEXWXKDQ$LU'RPHVWLN | ||||||||
| .HEXWXKDQ$LU1RQ-'RPHVWLN | ||||||||
| .HEXWXKDQ$LU,QGXVWUL | ||||||||
| .HEXWXKDQ$LU3HUWDQLDQ-3HUNHEXQDQ | ||||||||
| .HEXWXKDQ$LU3HWHUQDNDQ | ||||||||
| 7RWDO.HEXWXKDQ$LU | ||||||||
Berdasarkan Tabel 18 didapatkan nilai koefisien korelasi tertinggi dan standar deviasi terendah pada metode eksponensial. Maka metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk dan jumlah unit industri pada penelitian ini menggunakan metode eksponensial.
4.2.4 Rekapitulasi kebutuhan air
Berikut rekapitulasi proyeksi kebutuhan air dari semua sektor potensial di Kabupaten Maluku Tenggara (Gambar 4).

Gambar 4. Grafik proyeksi total kebutuhan air
Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan air, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air paling dominan di Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2017 adalah sektor pertanian-perkebunan dengan persentase sebesar 84,22%. Sedangkan pada tahun 2039 sektor pertanianperkebunan mengalami penurunan dan sektor peternakan mengalami peningkatan pesat. Tetapi sektor pertanianperkebunan masih menjadi sektor yang paling dominan. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan air, disimpulkan bahwa kebutuhan air paling dominan di Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2039 adalah sektor pertanian-perkebunan dengan persentase sebesar 45,11%.
5.3 Perhitungan ketersediaan air
Ketersediaan air di Kabupaten Maluku Tenggara ratarata disokong dari SPAM, jaringan air baku, dan
PANSIMAS dengan total debit 0,647 m<sup>3</sup>/detik seperti yang tertera pada Tabel 25.
5.4 Perhitungan neraca air
Berikut ini disajikan grafik neraca air tahun 2017 dan tahun 2039 di Kabupaten Maluku Tenggara (Gambar 6).
Dari grafik tersebut dapat disimpulkan potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara masih dapat memenuhi kebutuhan air hingga tahun 2039. Namun ketersediaan air yang ada di lokasi studi belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan air, terlihat dari grafik garis ketersediaan air yang berada di bawah garis kebutuhan air tahun 2039.
Tabel 25. Ketersediaan air di Kabupaten Maluku Tenggara berdasarkan data Ditjen Cipta Karya Kementerian
| PUPK (2 | 010) | ||
|---|---|---|---|
| Ketersediaan | Kapasitas (m³/detik) | Ketersediaan | Kapasitas (m³/detik) |
| SPAM Banda Ely | 0,075 | SarPra Air Baku Desa Sater | 0,025 |
| Jaringan Air Baku Pulau Kei Besar | 0,500 | SPAM Ohoiso | 0,001 |
| SPAM Ohoiwatsin | 0,001 | PANSIMAS Desa Fanwaf | 0,001 |
| SarPra Air Baku Malra | 0,010 | PANSIMAS Mataholat | 0,001 |
| OP Unit Air Baku Pulau Kei Kecil | 0,010 | PANSIMAS Nerong | 0,001 |
| SarPra Air Baku Waer Tahait | 0,010 | PANSIMAS Desa Werka | 0,001 |
| PANSIMAS Desa AD Ngurwul | 0,001 | PANSIMAS Desa Udar | 0,001 |
| PANSIMAS Desa Bombay | 0,001 | PANSIMAS Desa Tenbuk | 0,001 |
| PANSIMAS Desa Yamtimur | 0,001 | PANSIMAS Desa Ler Ohoilim | 0,001 |
| PANSIMAS Desa Ohoiwirin | 0,001 | PANSIMAS Desa Tuburlai | 0,001 |
| PANSIMAS Desa Banda Efruan | 0,001 | PANSIMAS Desa Wetuar | 0,001 |
| TOTAL | = 0,647 |

Gambar 5. Persentase kebutuhan air di Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2017 dan 2039

Gambar 6. Grafik neraca air di Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2017 dan 2039
Dari grafik diatas juga dapat disimpulkan tingkat pemenuhan kebutuhan air di tahun 2017 sebesar 0,836 m³/detik belum terpenuhi oleh ketersediaan air yang ada sebesar 0,647 m³/detik.
6. Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut:
- Potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara didapatkan dari perhitungan debit andalan, sehingga diperoleh debit andalan bulanan dalam 1 tahun dengan total debit 596,015 m<sup>3</sup>/detik.
- Ketersediaan air di Kabupaten Maluku Tenggara didapatkan dari total debit infrastuktur SDA dan jaringan penyedia air yang sudah ada di lokasi studi, seperti; SPAM, jaringan air baku dan PANSIMAS, dengan total debit 3,647 m³/detik.
- 3. Kebutuhan air di Kabupaten Maluku Tenggara diperhitungkan untuk semua sektor yang ada di lokasi studi, seperti; rumah tangga-kota-industri (RKI), pertanian dan perkebunan, serta peternakan. Total debit seluruh sektor kebutuhan air pada proyeksi hingga tahun 2039 adalah sebesar 4,822 m³/detik. Sektor pertanian dan perkebunan menjadi sektor yang paling dominan membutuhkan air, dengan presentase proyeksi hingga tahun 2039 sebesar 45,11%.
- 4. Dari analisis neraca air didapatkan perbandingan antara potensi air, ketersediaan air terpasang, dan kebutuhan air di Kabupaten Maluku Tenggara. Diperoleh kesimpulan, potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara masih dapat memenuhi kebutuhan air hingga tahun 2039, tetapi terjadi kesenjangan (gap) antara kebutuhan air (demand) yang harus dilayani hingga tahun 2039 dengan ketersediaan infrastruktur SDA (supply) yang ada di lokasi studi.
- Dari analisis neraca air juga dapat disimpulkan kebutuhan air di tahun 2017 sebesar 0,836 m³/detik belum terpenuhi oleh ketersediaan air yang ada sebesar 0,647 m³/detik.
