1. Home
  2. Archives
  3. Vol 27 (2020) Issue 2
  4. Articles

Analisis Neraca Air di Kabupaten Maluku Tenggara - Provinsi Maluku

Abstract

Water Balance is the information of research that explains balancing of potential, supply and demand of water in a certain period of time, and it can be seen wether demand and supply of water have been balanced, so that it can be taken as a decision making for water infrastructure planning. Water potential in Southeast Maluku Regency with Penman Modification and F.J.Mock method has a total monthly dependable flow in 1 year 596,015.m3/second. The availability of water was obtained by the total water resources infrastructure 0,647.m3/second. Water demand were calculated for all sectors in the study location, such as; industrial-urban households (RKI), agriculture and plantations, and livestock with exponential method, with total debit 4,822.m3/second for projections up to 2039. The agriculture and plantation sectors are the most dominant sectors which needs water, with 45,11% projected percentage up to 2039. Water balance analysis concludes that water potential in Southeast Maluku Regency can still fulfill the demand of water until 2039, but there is a gap between the water demand and the availability of existing water resources infrastructure. Water demand in 2017 with total debit 0,836 m3/detik has not fulfilled by total water supply 0,647.m3/second.AbstrakNeraca air adalah informasi hasil penelitian berisi imbangan potensi, ketersediaan dan kebutuhan sumber daya air pada kurun waktu tertentu, nantinya dapat dilihat apakah kebutuhan dan ketersediaan air sudah seimbang, sehingga bisa dijadikan pertimbangan untuk tahap perencanaan infrastruktur keairan selanjutnya. Potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara dengan metode Penman Modifikasi dan F.J.Mock didapatkan total debit andalan bulanan dalam 1 tahun sebesar 596,015.m3/detik. Ketersediaan air didapatkan total debit infrastruktur SDA sebesar 0,647.m3/detik. Kebutuhan air diperhitungkan untuk semua sektor yang ada di lokasi studi, seperti; rumah tangga-kota-industri (RKI), pertanian dan perkebunan, serta peternakan menggunakan metode eksponensial dengan total debit 4,822.m3/detik untuk proyeksi hingga tahun 2039. Sektor pertanian dan perkebunan menjadi sektor yang paling dominan membutuhkan air, dengan presentase proyeksi hingga tahun 2039 sebesar 45,11%. Analisis neraca air diperoleh kesimpulan potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara masih dapat memenuhi kebutuhan air hingga tahun 2039, tetapi terjadi kesenjangan antara kebutuhan air dengan ketersediaan infrastruktur SDA yang ada. Kebutuhan air di tahun 2017 sebesar 0,836.m3/detik belum terpenuhi oleh ketersediaan air yang ada sebesar 0,647 m3/detik.

Keywords

1. Pendahuluan

Sumber daya air melimpah tetapi tidak merata di seluruh nusantara, dan iklim muson menyebabkan banjir di musim hujan dan kekurangan air di musim Pertanian, pembangunan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi cenderung meningkatkan permintaan akan air. Kapasitas penyimpanan air yang rendah, air tanah yang berkurang, degradasi daerah aliran sungai dan kondisi infrastruktur sumber daya air yang buruk merupakan tantangan penting dalam meningkatkan pasokan air. Perubahan iklim juga cenderung meningkatkan tekanan pada sumber daya air melalui pola curah hujan yang berubah-ubah dan peristiwa cuaca ekstrem.

Sebagai wilayah kepulauan, Provinsi Maluku memiliki kekayaan alam berupa sumber daya pesisir yang sangat melimpah. Namun, potensi-potensi yang dimiliki oleh provinsi ini belum ditunjang oleh infrastruktur yang memadai, salah infrastruktur air bersih. Curah hujan dengan kategori cukup tinggi di Maluku seharusnya mampu menyokong kebutuhan akan air, tetapi upaya pengkonservasian air yang masih jarang dilakukan menyebabkan masalah krisis air masih melanda beberapa kabupaten dn kota di Provinsi Maluku.

Kabupaten Maluku Tenggara memiliki luas daratan 1.031,81 km<sup>2</sup>. Sumber air bersih yang digunakan masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara untuk akses

air bersih terdiri dari beberapa sumber, diantaranya mata air dan PDAM. Beberapa titik di Kabupaten Maluku Tenggara berada dalam kondisi krisis air bersih. Ketersediaan potensi dan sumber air permukaan Kabupaten Maluku Tenggara terus mengalami penurunan setiap tahun, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Data PDAM tentang pengelolaan air bersih di Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2016, pasokan air bersih yang diberikan ke warga sebesar 75 liter/detik dan masih mengalami krisis air bersih sebanyak 12,8.% dari sumber air untuk melayani masyarakat.

Sejak tahun 2008 saat musim kemarau warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk dikonsumsi. Air dari sumur-sumur di rumah warga terasa payau, atau warga sering menyebutnya 'air salobar'. Pulau-pulau kecil di Kabupaten Maluku Tenggara yang luasnya rata-rata kurang dari 1.500 km² tidak semuanya memiliki sumber air layak konsumsi. Penduduk pulau-pulau kecil di Maluku Tenggara harus menyeberang ke pulau tetangga demi mendapatkan air bersih (Rudi, 2007).

Perkembangan wilayah pada suatu daerah akan menyebabkan kebutuhan air terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Tuntutan tersebut tidak dapat dihindari, tetapi haruslah diprediksi dan direncanakan pemanfaatan sebaik mungkin. Kecenderungan yang sering terjadi adalah adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.

Menurut Triadmodjo (2010), Neraca Air dapat menggambarkan bahwa di dalam suatu sistem hidrologi (DAS, waduk, danau, aliran permukaan) dapat dievaluasi air yang masuk dan yang keluar dari sistem tersebut dalam suatu periode waktu tertentu. Dalam hal ini, neraca air meliputi kondisi ketersediaan air dan kebutuhan atau kehilangan air pada suatu sistem hidrologi. Dengan analisis neraca air dapat diteliti keseimbangan antara potensi, ketersediaan dan kebutuhan air.

Dengan analisis neraca air dapat diteliti keseimbangan antara potensi, ketersediaan dan kebutuhan air sehingga dapat disimpulkan apakah ketersediaan air yang ada mampu mencukupi kebutuhan air di masa sekarang dan mendatang.

2. Neraca Air

Neraca air adalah informasi hasil penelitian berisi imbangan potensi, ketersediaan dan kebutuhan sumber daya air pada kurun waktu tertentu. Penyusunan neraca air disajikan dalam bentuk grafik dan tabel rekap potensi, ketersediaan dan kebutuhan air dalam rentang bulanan. Dari neraca air nantinya dapat dilihat apakah demand dan supply sudah seimbang, sehingga bisa dijadikan pertimbangan untuk tahap perencanaan infrastruktur keairan selanjutnya.

2.1 Potensi air

Air hujan merupakan andalan yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber air baku selain

cadangan air tanah. Debit air hujan diperhitungkan menggunakan metode perhitungan debit andalan, dengan metode Penman Modifikasi untuk evapotransporasi yang memperhitungkan temperatur, kelembaban udara, radiasi matahari, dan kecepatan angin sehingga hasil perhitungan relatif lebih akurat. dan F.J.Mock untuk debit andalan. Data hujan yang digunakan adalah data hujan kurun waktu minimal 5-10 tahun.

Faktor yang diperhitungkan dalan debit andalan diantaranya; evapotranspirasi, kelebihan air (water surplus), simpanan air tanah (ground water storage), dan aliran permukaan.

2.2 Ketersediaan air

Ketersediaan air merupakan jumlah air yang tersedia pada sumber air. ketersediaan air dapat berupa infrastruktur alami maupun buatan, seperti SPAM, sumur bor, embung, dan waduk.

Air permukaan seperti sungai (rivers), saluran (stream), mata air (springs), danau dan waduk dibutuhkan untuk kehidupan dan produksi. Air permukaan adalah air yang terdapat dalam proses sirkulasi air (siklus hidrologi), jika sirkulasi tidak merata maka akan terjadi bermacam kesulitan diantaranya sirkulasi yang kurang, maka kekurangan air ini harus ditambah dalam suatu usaha pemanfaatan air (Sosrodarsono, 2006).

Dari hasil penelitian ketersediaan air di Indonesia, secara total ketersediaan air rata-rata sebesar 88,3 ribu m³/detik atau setara dengan 2,78 triliun m³/tahun. Ketersediaan air andalan 80% sebesar 66,1 ribu m³/s atau setara dengan 2,08 triliun m³/tahun. Potensi terbesar yaitu Pulau Papua sebesar 29% sedangkan potensi terkecil yaitu Pulau Bali dan Nusa Tenggara sebesar 1% (Radhika dkk, 2017).

2.3 Kebutuhan Air

Kebutuhan air adalah perkiraan jumlah air yang diperlukan untuk memenuhi hajat hidup kumpulan manusia, hewan, tumbuhan, maupun keperluan untuk proses produksi industri dan pembangkit listrik, serta untuk pemeliharaan lingkungan, yang jumlahnya dapat dihitung berdasarkan pemanfaatan air yang sudah ada, serta proyeksi sesuai dengan laju pertumbuhan para pengguna airnya. Kebutuhan air yang umum diperhitungkan diantaranya;

  • kebutuhan air domestik, yaitu kebutuhan air yang digunakan pada tempat-tempat hunian pribadi/ rumah tangga untuk memenuhi keperluan seharihari.
  • 2. kebutuhan air nondomestik, yaitu kebutuhan air di luar keperluan rumah tangga seperti sekolah, rumah sakit, perkantoran, rumah ibadah, dan perniagaan. Diasumsikan antara 15%-30% dari total air pemakaian air bersih rumah tangga.
  • kebutuhan air industri, perhitungan kebutuhan air industri dapat diperhitungkan berdasarkan atas: jumlah karyawan, luas air industri, jenis/tipe industri.

Tabel 1. Standar kebutuhan air bersih rumah tangga berdasarkan SNI-6728-2015

NoKategori KotaJumlah Penduduk
(jiwa)
Kebutuhan Air
Bersih (L/O/H)
1.Semi urban (ibu kota
kecamatan/desa)
3.000 - 20.00060 - 90
2.Kota Kecil20.000 - 100.00090 - 110
3.Kota Sedang100.000 - 500.000100 - 125
4.Kota Besar500.000 - 1.000.000120 - 150
5.Metropolitan> 1.000.000150 - 200

Tabel 2. Standar kebutuhan air industri berdasarkan beberapa proses industri berdasarkan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2003)

Jenis
Industri
Jenis Proses
Industri
Kebutuhan Air
(liter/hari)
Mutu Air
Industri
Rumah
Tangga
Belum ada, reko
disesuaikan der
ngan standar
Industri
Kecil
kebutuhan air ru_
Minuman ringan1.600 - 11.200
Industri
Sedang
Industri es18.000 - 67.000Disesuaikan
· ·Kecap12.000 - 97.000dengan proses
industri
Minuman ringan65.000 - 78 juta-
Industri
Besar
Industri pembekuan
ikan dan biota
perairan lainnya
225.000 - 1,35
juta
Industri
Tekstil
Proses pengolahan
tekstil
400 – 700
[/kapita/hari]
-

Tabel 3. Klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga kerja berdasarkan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2003)

Jumlah Tenaga Kerja
(Orang)
Klasifikasi
1 – 4Industri Kerajinan Rumah Tangga
5 – 19Industri Kecil
20 – 99Industri Sedang
> 100Industri Besar

4. kebutuhan air pertanian dan perkebunan dihitung menggunakan proyeksi data areal tanam, jadwal tanam, evapotranspirasi acuan, hujan efektif, jenis tanah, dan efisiensi saluran irigasi. Kebutuhan air irigasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kebutuhan untuk penyiapan air (IR), kebutuhan air konsumtif untuk tanaman (Etc), perkolasi (P), kebutuhan air untuk peggantian lapisan air (RW), curah hujan efektif (ER), efisiensi irigasi (IE) dan luas lahan irigasi (A). Besarnya kebutuhan air irigasi dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut:

\[IG = \frac{(Etc + IR + RW + P - ER)}{IE} \times A\] (1)

Keterangan:

= kebutuhan air irigasi (m<sup>3</sup>)

Etc = kebutuhan air konsumtif (mm/hari)

= kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)

RW = kebutuhan air untuk mengganti lapisan air (mm/hari)

= perkolasi (mm/hari)

ER = hujan efektif (mm/hari)

ΙE = efesiensi irigasi

= luas areal irigasi (m<sup>2</sup>)

\(Etc = Eto \times Kc\)

Keterangan:

Etc = kebutuhan air konsumtif (mm/hari)

Eto = evapotranspirasi (mm/hari)

Kc = koefisien tanaman

\[IR = M \left[ \frac{e^k}{e^k - 1} \right] \tag{2}\]

Keterangan:

IR = kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan (mm/ hari)

M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evapotranspirasi dan perkolasi di sawah yang telah dijenuhkan (mm/hari)

\[Eo + p.Eo = 1,1 \times Eto\] (3)

P = perkolasi (mm/hari)

\(T = jangka waktu penyiapan air (hari) dari <math>k = M \times M\)(T/S)

S = kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm

Perhitungan kebutuhan air untuk penyiapan air digunakan nilai T = 30 hari dan S = 250 mm. ini sudah termasuk banyaknya air untuk penggenangan setelah transplatasi, yaitu sebesar 50 mm serta kebutuhan untuk persemaian.

kebutuhan air peternakan dan perikanan, secara umum kebutuhan air untuk ternak dapat diestimasikan dengan cara mengalikan jumah ternak dengan tingkat kebutuhan air berdasarkan persamaan berikut ini:

\[Q_E = (q_{(1)} \times P_{(1)} + q_{(2)} \times P_{(2)} + q_{(3)} \times P_{(3)})\] (4)

Keterangan:

Q<sub>E</sub> = kebutuhan air untuk ternak (l/hari)

\(q_{(1)}\) = kebutuhan air untuk sapi, kerbau, dan kuda (1/ ekor/hari)

\(q_{(2)}\) = kebutuhan air untuk kambing dan domba (1/ ekor/hari)

\(q_{(3)}\) = kebutuhan air untuk unggas (l/ekor/hari)

P<sub>(1)</sub> = jumlah sapi, kerbau, kuda (ekor) P<sub>(2)</sub> = jumlah kambing, domba (ekor) P<sub>(3)</sub> = jumlah unggas (ekor)

Tabel 4. Standar kebutuhan air untuk ternak berdasarkan SNI-6728-2015

Jenis TernakKebutuhan Air (liter/ekor/hari)
Sapi / kerbau / kuda40
Kambing / domba5
Babi6
Unggas0,6

Sedangkan untuk perikanan, kebutuhan air diperkirakan berdasarkan luas kolam, tipe kolam serta kedalaman air yang diperlukan. Debit air yang baik untuk kolam tidak kurang dari 10 – 15 lt/dt/ha.

\[Qfp = \frac{q(fp)}{1.000} \times A(fp) \times 10.000\] (5)

Keterangan:

Qfp = kebutuhan air untuk perikanan (m³/hari)

q(fp) = kebutuhan air untuk pembilasan (l/hari/ha)

A(fp) = luas kolam ikan (ha)

3. Proyeksi Data Statistik

Ada beberapa cara memproyeksikan data statistik untuk masa yang akan datang diantaranya menggunakan metode matematik. Metode matematik menggunakan persamaan derajat pertama (first degree equation). Proyeksi berdasarkan tingkat pertumbuhan mengasumsikan pertumbuhan yang konstan, baik untuk model aritmatika, geometrik, atau eksponensial.

Perhitungan proyeksi data statistik dilakukan berdasarkan Buku Pedoman Perhitungan Proyeksi Penduduk dan Angkatan Kerja yang diterbitkan oleh BPS, 2010. Pemilihan metode paling tepat yang akan digunakan dalam penelitian, diperlukan perhitungan faktor korelasi dan standar deviasi. Metode proyeksi yang dipilih adalah metode dengan nilai standar deviasi terendah dan koefisien korelasi paling tinggi.

Metode Aritmatika:

\[P_t = P_0(1+rt)\], dengan \(r = \frac{1}{t} \left(\frac{P_t}{P_0} - 1\right)\) (6)

Metode Geometrik:

\[P_{t} = P_{0}(1+r)^{t}\], dengan \(r = \left(\frac{P_{t}}{P_{0}}\right)^{\frac{1}{t}} - 1\) (7)

Metode Eksponensial:

\[P_t = P_0 e^{rt}\] , dengan \(r = \frac{1}{t} ln \left( \frac{P_t}{P_0} \right)\) (8)

4. Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Secara astronomis, Kabupaten Maluku Tenggara terletak antara 5° 12' 10,448"- 6° 6' 10,97" Lintang Selatan dan 132° 21' 26,401"- 133° 15' 27,473". Data yang diperlukan dalam penelitian ini diantaranya adalah: Data

Hidroklimatologi, Data Statistik Kependudukan, Data Statistik Pertanian dan Perkebunan, Data Statistik Peternakan dan Perikanan, Data Statistik Industri, Peta dan Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat, Data Debit PDAM, Data Volume Embung dan Waduk, Data Debit Cekungan Air Tanah

Pehitungan kebutuhan air mengacu pada SNI 6728-1-2015 tentang Penyusunan Neraca Spasial Sumber Daya Air, memproyeksikan kebutuhan air untuk 20 tahun ke metode eksponensial depan dengan mempertimbangkan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat (RTRW) sebagai batasan proyeksi. Air hujan atau debit andalan; dihitung dengan metode Penman Modifikasi dan F.J Mock. Air permukaan; data volume waduk dan embung yang ada di lokasi studi serta data debit yang disuplai SPAM dan jaringan air baku di lokasi studi didapatkan dari Ditjen Cipta Karya. Air tanah; data peta dan debit cekungan air tanah dari Web PANSIMAS.

22

Gambar 1. Peta RTRW Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2012-2032 (Sumber Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, 2012)

5. Hasil dan Pembahasan

5.1 Perhitungan potensi debit air hujan

Air hujan merupakan andalan di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai salah satu sumber air baku selain cadangan air tanah. Data komponen cuaca di Kabupaten Maluku Tenggara berdasarkan dari data stasiun pengukuran terdekat dengan Kabupaten Maluku Tenggara yaitu Stasiun Meteorologi Klas III Dumatubun Tual. Berikut rekapitulasi data hidroklimatologi selama 10 tahun terakhir di Stasiun Dumatubun Tual.

Berdasarkan data hidroklimatologi tersebut, maka dapat dihitung evapotranspirasi menggunakan metode Penmann Modifikasi serta debit andalan dengan menggunakan metode F.J. Mock.

Berikut ini adalah rekapitulasi dari nilai debit andalan yang diperoleh dari perhitungan disajikan dalam bentuk grafik (Gambar 2)

Di wilayah sungai Kepulauan Kei-Aru terdapat total 211 DAS. Kabupaten Maluku Tenggara terdapat 77

7DEHO5DWD-UDWDKLGURNOLPDWRORJL

%XODQ6XKX5DWD-UDWD
ƒ&
.HOHPEDEDQ
5DWD-UDWD
&XUDK+XMDQ
.XPXODWLIPP
-XPODK
+DUL+XMDQ
/DPD3HQ\LQDUDQ
MDP
.HFHSDWDQ$QJLQ
5DWD-UDWDNQRW
-DQXDUL
)HEUXDUL
0DUHW
$SULO
0HL
-XQL
-XOL
$JXVWXV
6HSWHPEHU
2NWREHU
1RYHPEHU
'HVHPEHU

7DEHO(YDSRWUDVQSLUDVLSRWHQVLDOWDKXQ-

%8/$1
1R85$,$16$78$1-DQ)HE0DU$SU0HL-XQ-XO$JW6HS2NW1RY'HV
7HPSHUDWXU8GDUDƒ&
(DHD0EDU
:
-Z
IW
NHOHPEDEDQUHODWLI5+
HG HD[5+
IHG -VTUW
HG
/HWDNOLQWDQJGDHUDKƒ/6
5DUDGLDVLHNVWUD
PDWDKDUL
PPKDUL
3HQ\LQDUDQPDWDKDULQ1
5V Q1 5D
5QV -D 5VD
IQ1 Q1
.HFHSDWDQDQJLQXPGWN
IX X[
5Q IW [IHG [IQ1
5Q 5QV-5QPPKDUL
FIDNWRUNRUHNVL
(WR : 5Q -:
IX (D-(G
PPKDUL
(WR F[(WRPPKDUL
MPOKDULGDODPEXODQ+DUL
(WRPPEOQ

'$6 VDODK VDWX GLDQWDUDQ\D \DQJ WHUEHVDU DGDODK '$6 :HGXDUGHQJDQOXDVNP GDULWRWDOOXDV'$6 GL .DEXSDWHQ 0DOXNX 7HQJJDUD %HULNXW GDWD GHELW HNVLVWLQJ GDQ JUDILN QHUDFD DLU'$6:HGXDU GL ZLOD\DK VXQJDL.HSXODXDQ.HL-$UX*DPEDU

3HUKLWXQJDQNHEXWXKDQDLU

.HEXWXKDQ DLU \DQJ GLSHUKLWXQJNDQ GDODP SHQHOLWLDQLQL DGDODK XQWXN VHPXD VHNWRU \DQJ DGD GL ORNDVL VWXGL

VHSHUWL VHNWRU UXPDK WDQJJD-NRWD-LQGXVWUL 5., SHUWDQLDQGDQSHUNHEXQDQVHUWDSHWHUQDNDQ

.HEXWXKDQDLU5.,

3UR\HNVL MXPODK SHQGXGXN GDQ LQGXVWUL GLODNXNDQ GDODPMDQJND ZDNWX WDKXQ NHGHSDQ 'DWD VWDVWLVWLN \DQJ GLJXQDNDQ DGDODK GDWD %DGDQ 3XVDW 6WDWLVWLN – 'DWD'DODP$QJND.DEXSDWHQ0DOXNX7HQJJDUDWDKXQ - 3UR\HNVL SHUWXPEXKDQ SHQGXGXN GDQ XQLW LQGXVWUL GLWLQMDX SHU-NHFDPDWDQ GHQJDQ WRWDO

7DEHO'HELWDQGDODQWDKXQ-

%XODQ
1R8UDLDQ6DWXDQ-DQ)HE0DU$SU0HL-XQ-XO$JW6HS2NW1RY'HV
+XMDQ%XODQDQ5PPEOQ
+DUL+XMDQQKDUL
(YDSRWUDQVSLUDVL
3RWHQVLDO(WR
PPEOQ
3HUPXNDDQ/DKDQ
7HUEXNDP
(WR(D P[
-Q
(H (WR[P[
-Q
PPEOQ
(D (WR-(HPPEOQ
ǻV 5-(D
NHVHLPEDQJDQDLU
PPEOQ----
OLPSDVDQEDGDL
SI
.DQGXQJDQDLU
WDQDK66
PPEOQ
.DSDVLWDVNHOHPEDEDQ
WDQDK60&
PPEOQ
.HOHELKDQ$LU
:V
PPEOQ
)DNWRUL
)DNWRU.
LQILOWUDVL,PPEOQ
9ROXPHDLUWDQDK
* N ,
PPEOQ
3HQ\LPSDQDQ$LU
7DQDK$ZDO
7HUNRUHNVL/
PPEOQ
9ROXPH
3HQ\LPSDQDQ9Q
PPEOQ
ǻ9Q 9Q-9Q-PPEOQ--------
$OLUDQ'DVDU%)PPEOQ
/LPSDVDQ/DQJVXQJ
'5
PPEOQ
7RWDO/LPSDVDQ7UR PPEOQ
/XDVGDHUDK
WDQJNDSDQ$
NP
'HELW%XODQDQ
P
GWN
3

NHFDPDWDQ \DQJ WHUGDSDW GL .DEXSDWHQ 0DOXNX 7HQJJDUD

%HUGDVDUNDQ 7DEHO GLGDSDWNDQ QLODL NRHILVLHQ NRUHODVL WHUWLQJJL GDQ VWDQGDU GHYLDVL WHUHQGDK SDGD PHWRGH HNVSRQHQVLDO 0DND PHWRGH SHUKLWXQJDQ SUR\HNVL MXPODK SHQGXGXN GDQ MXPODK XQLW LQGXVWUL SDGD SHQHOLWLDQ LQL PHQJJXQDNDQ PHWRGH HNVSRQHQVLDO

7

*DPEDU*UDILNGHELWDQGDODQ *DPEDU*UDILNQHUDFDDLUHNVLVWLQJ'$6:HGXDUWDKXQ 6XPEHU3ROD3HQJHORODDQ6XPEHU'D\D$LU:LOD\DK6XQJDL .HSXODXDQ.HL-$UX

6WDQGDU NHEXWXKDQ DLU UXPDK WDQJJD GRPHVWLN GLVHVXDLNDQ GHQJDQ NDWHJRUL ZLOD\DK GDQ MXPODK SHQGXGXNQ\D VHSHUWL SDGD 7DEHO 6HGDQJNDQ XQWXN QRQGRPHVWLNGLDVXPVLNDQGDULWRWDOSHPDNDLDQDLU EHUVLKUXPDKWDQJJD

.HEXWXKDQDLULQGXVWULGDSDWGLKLWXQJGDUL IDNWRUMHQLV LQGXVWUL 6WDQGDU NHEXWXKDQ DLU LQGXVWUL GLVHVXDLNDQ

menurut kategori industri seperti pada Tabel 2. Untuk kategori industri rumah tangga dan industri kecil, standar kebutuhan air disesuaikan dengan kebutuhan air rumah tangga, dengan memperhatikan standar jumlah tenaga kerja sesuai klasifikasi industri.

Tabel 8. Koefisien korelasi dan standar deviasi

Metode ProyeksiKoefisien KorelasiStandar Deviasi
Aritmatika0,8894,608E-11
Geometrik0,8891,250E-12
Eksponensial0,9002,246E-12

Tabel 9. Proyeksi pertumbuhan penduduk

No.KecamatanTahun 2017Tahun 2020Tahun 2024Tahun 2029Tahun 2034Tahun 2039
1Kei Kecil33.92939.91249.56264.97085.166111.642
2Kei Kecil Barat7.8639.25011.48615.05719.73725.873
3Kei Kecil Timur8.75810.30212.79316.77021.98428.818
4Hoat Sorbay9.88311.62614.43718.92524.80832.520
5Manyeuw6.2287.3269.09811.92615.63320.493
6Kei Kecil Timur Selatan5.7616.7778.41511.03214.46118.956
7Kei Besar19.35422.77028.27237.06048.58163.683
8Kei Besar Utara Timur12.62614.85318.44424.17731.69341.545
9Kei Besar Selatan7.7459.11111.31414.83119.44125.485
10Kei Besar Utara Barat9.57011.25813.98018.32524.02231.490
11Kei Besar Selatan Barat3.9874.6905.8247.63510.00813.119
TOTAL125.704147.871183.624240.707315.534416.623

Tabel 10. Proyeksi pertumbuhan unit industri

N.landa la duratulJumlah IndustriProyeksi Pertumbuhan Industri (unit)
NoJenis IndustriTahun 2017 (unit)Tahun 2020Tahun 2024Tahun 2029Tahun 2034Tahun 2039
1Sandang dan Kulit000000
2Pangan81119176285462750
3Kerajinan Umum23341012536361.598
4Kimia dan Bahan Bangunan262626262626

Tabel 11. Proyeksi kebutuhan air domestik dan non-domestik

Kebutulhan Air Doomestik (rn³/detik)1Kebutuhan Air Non-Domestik(m³/detik:)
NoKecamatanTahun
2017
Tahun
2020
Tahun
2024
Tahun
2029
Tahun
2034
Tahun
2039
Tahun
2017
Tahun
2020
Tahun
2024
Tahun
2029
Tahun
2034
Tahun
2039
1Kei Kecil0,0350,0420,0520,0680,0890,1160,0110,0120,0150,0200,0270,035
2Kei Kecil Barat0,0050,0060,0080,0100,0140,0180,0020,0020,0020,0030,0040,005
3Kei Kecil Timur0,0060,0070,0090,0120,0150,0200,0020,0020,0030,0030,0050,006
4Hoat Sorbay0,0070,0080,0100,0130,0170,0230,0020,0020,0030,0040,0050,007
5Manyeuw0,0040,0050,0060,0080,0110,0140,0010,0020,0020,0020,0030,004
6Kei Kecil Timur Selatan0,0040,0050,0060,0080,0100,0130,0010,0010,0020,0020,0030,004
7Kei Besar0,0130,0160,0200,0260,0340,0440,0040,0050,0060,0080,0100,020
8Kei Besar Utara Timur0,0090,0100,0130,0170,0220,0290,0030,0030,0040,0050,0070,009
9Kei Besar Selatan0,0050,0060,0080,0100,0140,0180,0020,0020,0020,0030,0040,005
10Kei Besar Utara Barat0,0070,0080,0100,0130,0170,0220,0020,0020,0030,0040,0050,007
11Kei Besar Selatan Barat0,0030,0030,0040,0050,0070,0090,0010,0010,0010,0020,0020,003
TOTAL0,0990,1170,1450,1900,2490,3260,0300,0350,0430,0570,0750,104

Tabel 12. Proyeksi kebutuhan air industri

NI -Level a local controlKebutuhan Air Industri (m³/detik)
NoJenis IndustriTahun 2017Tahun 2020Tahun 2024Tahun 2029Tahun 2034Tahun 2039
1Sandang dan Kulit000000
2Pangan0,00110,00160,00230,00380,00610,0099
3Kerajinan Umum0,00030,00060,00130,00330,00840,0211
4Kimia dan Bahan Bangunan0,00030,00030,00030,00030,00030,0003
TOTAL0,00170,00260,00400,00740,01480,0313

7DEHO5HNDSLWXODVLNHEXWXKDQDLU5.,

-HQLV.HEXWXKDQ.HEXWXKDQ$LU5.,P
GHWLN
1R7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
'RPHVWLN
1RQ-'RPHVWLN
,QGXVWUL
727$/

7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQOXDVODKDQWDQDPDQSDQJDQ

/XDV/DKDQ3UR\HNVL/XDV/DKDQ7DQDPDQ3DQJDQKD
1R.HFDPDWDQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
.HL.HFLO
.HL.HFLO%DUDW
.HL.HFLO7LPXU
+RDW6RUED\
0DQ\HXZ
.HL.HFLO7LPXU6HODWDQ
.HL%HVDU
.HL%HVDU8WDUD7LPXU
.HL%HVDU6HODWDQ
.HL%HVDU8WDUD%DUDW
.HL%HVDU6HODWDQ%DUDW
727$/

7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQOXDVODKDQWDQDPDQKRUWLNXOWXUD

/XDV/DKDQ3UR\HNVL/XDV/DKDQ7DQDPDQ+RUWLNXOWXUDKD
1R.RPRGLWL7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
%DZDQJ0HUDK
&DEH5DZLW
&DEH.HULWLQJ
.HWLPXQ
7HURQJ
.DFDQJ-NDFDQJDQ
6DZL3HWVDL
7RPDW
%XQFLV
.DQJNXQJ
%D\DP
727$/

7DEHO5HNDSLWXODVLNHEXWXKDQDLUSHUWDQLDQGDQSHUNHEXQDQ

-HQLV7DQDPDQ.HEXWXKDQ$LU3HUWDQLDQGDQ3HUNHEXQDQP
GHWLN
1R7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
7DQDPDQ3DQJDQ
7DQDPDQ+RUWLNXOWXUD
727$/

7DEHO.RHILVLHQNRUHODVLGDQVWDQGDUGHYLDVL

0HWRGH3UR\HNVL.RHILVLHQ.RUHODVL6WDQGDU'HYLDVL
$ULWPDWLND(-
*HRPHWULN(-
(NVSRQHQVLDO(-

.HEXWXKDQDLUSHUWDQLDQGDQSHUNHEXQDQ

3UR\HNVL OXDV ODKDQ SHUWDQLDQ GDQ SHUNHEXQDQ GLODNXNDQ GDODP MDQJND ZDNWX WDKXQ NH GHSDQ 'DWD VWDVWLVWLN \DQJ GLJXQDNDQ DGDODK GDWD %DGDQ 3XVDW 6WDWLVWLN – 'DWD 'DODP $QJND .DEXSDWHQ

Maluku Tenggara tahun 2010-2016. Proyeksi luas lahan pertanian dan perkebunan ditinjau per kecamatan dengan total 11 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara.

Berdasarkan Tabel 14 didapatkan nilai koefisien korelasi tertinggi dan standar deviasi terendah pada metode eksponensial. Maka metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk dan jumlah unit industri pada penelitian ini menggunakan metode eksponensial.

Jenis tanaman dibagi menjadi 2; tanaman pangan dan hortikultura. tanaman Tanaman Pangan diperhitungkan pada penelitian ini yaitu; padi ladang, jagung, ketela, kacang-kacangan, dan umbi-umbian.

Standar kebutuhan pertanian disesuaikan dengan kategori lahannya, 600 mm/tahun atau 0,0002 m<sup>3</sup>/detik/ ha untuk tanaman lahan kering dan 1200 mm/tahun atau 0,001 m<sup>3</sup>/detik/ha untuk tanaman lahan basah.

Karena seluruh komoditi pertanian dan perkebunan di Kabupaten Maluku Tenggara adalah lahan kering, maka untuk perhitungan kebutuhan air pertanian dan perkebunan (tanaman pangan dan tanaman hortikultura) diakumulasi

Komoditas ternak yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara yaitu; sapi, kambing, babi, dan unggas. Kebutuhan air hewan ternak dihitung dengan menyesuaikan standar kebutuhan air per jenis hewan ternak pada Tabel 4.

5.2.3 Kebutuhan Air Peternakan

Proyeksi jumlah hewan ternak dilakukan dalam jangka

waktu 20 tahun kedepan. Data stastistik yang digunakan adalah data Badan Pusat Statistik – Data Dalam Angka Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2010 -2016. Proyeksi jumlah hewan ternak ditinjau perkecamatan dengan total 11 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara.

Tabel 18. Koefisien korelasi dan standar deviasi

Metode ProyeksiKoefisien KorelasiStandar Deviasi
Aritmatika0,8894,608E-11
Geometrik0,8891,250E-12
Eksponensial0,9002,246E-12

Tabel 19. Proyeksi pertumbuhan ternak sapi

Proyeksi Pertumbuhan Ternak Sapi (ekor)
No.KecamatanTahun 2017Tahun 2020Tahun 2024Tahun 2029Tahun 2034Tahun 2039
1Kei Kecil5871.6966.97740.880239.5371.403.573
2Kei Kecil Barat581686894.03923.668138.684
3Kei Kecil Timur3179163.76822.077129.358757.977
4Hoat Sorbay1043001.2367.24342.439248.674
5Manyeuw1935582.29413.44178.757461.481
6Kei Kecil Timur Selatan2346762.78116.29695.488559.516
7Kei Besar1975692.34113.71980.390471.046
8Kei Besar Utara Timur823955573.26519.129
9Kei Besar Selatan28813331.95011.42666.951
10Kei Besar Utara Barat617714182.44814.347
11Kei Besar Selatan Barat20582381.3938.16147.822
Total1.2545.06120.823122.013714.9374.189.198

Tabel 20. Proyeksi pertumbuhan ternak kambing

KecamatanProyeksi PertumbuhanTernak Kambing (ekor)
NoTahun 2017Tahun 2020Tahun 2024Tahun 2029Tahun 2034Tahun 2039
1Kei Kecil2606051.8627.60031.015126.569
2Kei Kecil Barat621444441.8127.39630.182
3Kei Kecil Timur2185071.5616.37226.005106.124
4Hoat Sorbay3047072.1778.88636.263147.989
5Manyeuw1062467593.09812.64451.601
6Kei Kecil Timur Selatan3227492.3069.41238.410156.751
7Kei Besar1202798603.50814.31458.417
8Kei Besar Utara Timur791845662.3099.42438.458
9Kei Besar Selatan1393239964.06316.58167.666
10Kei Besar Utara Barat16371154681.9097.789
11Kei Besar Selatan Barat2395561.7126.98628.510116.347
Total1.8654.33613.35854.514222.470907.893

7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQWHUQDNEDEL

3UR\HNVL3HUWXPEXKDQ7HUQDN%DELHNRU
1R.HFDPDWDQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
.HL.HFLO
.HL.HFLO%DUDW
.HL.HFLO7LPXU
+RDW6RUED\
0DQ\HXZ
.HL.HFLO7LPXU6HODWDQ
.HL%HVDU
.HL%HVDU8WDUD7LPXU
.HL%HVDU6HODWDQ
.HL%HVDU8WDUD%DUDW
.HL%HVDU6HODWDQ%DUDW
7RWDO

7DEHO3UR\HNVLSHUWXPEXKDQWHUQDNXQJJDV

3UR\HNVL3HUWXPEXKDQ7HUQDN8QJJDVHNRU
1R.HFDPDWDQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
.HL.HFLO
.HL.HFLO%DUDW
.HL.HFLO7LPXU
+RDW6RUED\
0DQ\HXZ
.HL.HFLO7LPXU6HODWDQ
.HL%HVDU
.HL%HVDU8WDUD7LPXU
.HL%HVDU6HODWDQ
.HL%HVDU8WDUD%DUDW
.HL%HVDU6HODWDQ%DUDW
7RWDO

7DEHO5HNDSLWXODVLSUR\HNVLNHEXWXKDQDLUSHWHUQDNDQ

-HQLV7HUQDN5HNDSLWXODVL.HEXWXKDQ$LU3HWHUQDNDQ
1R7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ7DKXQ
6DSL
.DPELQJ
%DEL
8QJJDV
7RWDO

7DEHO5HNDSLWXODVLSUR\HNVLNHEXWXKDQDLUGL.DEXSDWHQ0DOXNX7HQJJDUD

5HNDSLWXODVL.HEXWXKDQ$LUP
GHWLN
1R6HNWRU.HEXWXKDQ$LU7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ 7DKXQ
.HEXWXKDQ$LU'RPHVWLN
.HEXWXKDQ$LU1RQ-'RPHVWLN
.HEXWXKDQ$LU,QGXVWUL
.HEXWXKDQ$LU3HUWDQLDQ-3HUNHEXQDQ
.HEXWXKDQ$LU3HWHUQDNDQ
7RWDO.HEXWXKDQ$LU

Berdasarkan Tabel 18 didapatkan nilai koefisien korelasi tertinggi dan standar deviasi terendah pada metode eksponensial. Maka metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk dan jumlah unit industri pada penelitian ini menggunakan metode eksponensial.

4.2.4 Rekapitulasi kebutuhan air

Berikut rekapitulasi proyeksi kebutuhan air dari semua sektor potensial di Kabupaten Maluku Tenggara (Gambar 4).

4

Gambar 4. Grafik proyeksi total kebutuhan air

Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan air, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air paling dominan di Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2017 adalah sektor pertanian-perkebunan dengan persentase sebesar 84,22%. Sedangkan pada tahun 2039 sektor pertanianperkebunan mengalami penurunan dan sektor peternakan mengalami peningkatan pesat. Tetapi sektor pertanianperkebunan masih menjadi sektor yang paling dominan. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan air, disimpulkan bahwa kebutuhan air paling dominan di Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2039 adalah sektor pertanian-perkebunan dengan persentase sebesar 45,11%.

5.3 Perhitungan ketersediaan air

Ketersediaan air di Kabupaten Maluku Tenggara ratarata disokong dari SPAM, jaringan air baku, dan

PANSIMAS dengan total debit 0,647 m<sup>3</sup>/detik seperti yang tertera pada Tabel 25.

5.4 Perhitungan neraca air

Berikut ini disajikan grafik neraca air tahun 2017 dan tahun 2039 di Kabupaten Maluku Tenggara (Gambar 6).

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara masih dapat memenuhi kebutuhan air hingga tahun 2039. Namun ketersediaan air yang ada di lokasi studi belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan air, terlihat dari grafik garis ketersediaan air yang berada di bawah garis kebutuhan air tahun 2039.

Tabel 25. Ketersediaan air di Kabupaten Maluku Tenggara berdasarkan data Ditjen Cipta Karya Kementerian

PUPK (2010)
KetersediaanKapasitas
(m³/detik)
KetersediaanKapasitas
(m³/detik)
SPAM Banda Ely0,075SarPra Air Baku
Desa Sater
0,025
Jaringan Air Baku
Pulau Kei Besar
0,500SPAM Ohoiso0,001
SPAM Ohoiwatsin0,001PANSIMAS
Desa Fanwaf
0,001
SarPra Air Baku
Malra
0,010PANSIMAS
Mataholat
0,001
OP Unit Air Baku
Pulau Kei Kecil
0,010PANSIMAS Nerong0,001
SarPra Air Baku
Waer Tahait
0,010PANSIMAS
Desa Werka
0,001
PANSIMAS
Desa AD Ngurwul
0,001PANSIMAS
Desa Udar
0,001
PANSIMAS
Desa Bombay
0,001PANSIMAS
Desa Tenbuk
0,001
PANSIMAS
Desa Yamtimur
0,001PANSIMAS
Desa Ler Ohoilim
0,001
PANSIMAS
Desa Ohoiwirin
0,001PANSIMAS
Desa Tuburlai
0,001
PANSIMAS
Desa Banda Efruan
0,001PANSIMAS
Desa Wetuar
0,001
TOTAL= 0,647
15

Gambar 5. Persentase kebutuhan air di Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2017 dan 2039

1

Gambar 6. Grafik neraca air di Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2017 dan 2039

Dari grafik diatas juga dapat disimpulkan tingkat pemenuhan kebutuhan air di tahun 2017 sebesar 0,836 m³/detik belum terpenuhi oleh ketersediaan air yang ada sebesar 0,647 m³/detik.

6. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut:

  • Potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara didapatkan dari perhitungan debit andalan, sehingga diperoleh debit andalan bulanan dalam 1 tahun dengan total debit 596,015 m<sup>3</sup>/detik.
  • Ketersediaan air di Kabupaten Maluku Tenggara didapatkan dari total debit infrastuktur SDA dan jaringan penyedia air yang sudah ada di lokasi studi, seperti; SPAM, jaringan air baku dan PANSIMAS, dengan total debit 3,647 m³/detik.
  • 3. Kebutuhan air di Kabupaten Maluku Tenggara diperhitungkan untuk semua sektor yang ada di lokasi studi, seperti; rumah tangga-kota-industri (RKI), pertanian dan perkebunan, serta peternakan. Total debit seluruh sektor kebutuhan air pada proyeksi hingga tahun 2039 adalah sebesar 4,822 m³/detik. Sektor pertanian dan perkebunan menjadi sektor yang paling dominan membutuhkan air, dengan presentase proyeksi hingga tahun 2039 sebesar 45,11%.
  • 4. Dari analisis neraca air didapatkan perbandingan antara potensi air, ketersediaan air terpasang, dan kebutuhan air di Kabupaten Maluku Tenggara. Diperoleh kesimpulan, potensi air di Kabupaten Maluku Tenggara masih dapat memenuhi kebutuhan air hingga tahun 2039, tetapi terjadi kesenjangan (gap) antara kebutuhan air (demand) yang harus dilayani hingga tahun 2039 dengan ketersediaan infrastruktur SDA (supply) yang ada di lokasi studi.
  • Dari analisis neraca air juga dapat disimpulkan kebutuhan air di tahun 2017 sebesar 0,836 m³/detik belum terpenuhi oleh ketersediaan air yang ada sebesar 0,647 m³/detik.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
17th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Institution Network

References

  1. Admadhani, et al. 2014. Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Air Untuk Daya Dukung Lingkungan (Studi Kasusu Kota Malang). Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
  2. Anonim. 2018. KABUPATEN MALUKU TENGGARA DALAM ANGKA - Maluku Tenggara Regency In Figure. No. Katalog 1102001.8102. ISSN: 0216-2444. BPS Kabupaten Maluku Tenggara.
  3. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2018. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Maluku Tenggara 2013-2018. Maluku Tenggara.
  4. Badan Pusat Statistik. 2018. Pedoman Penghitungan Proyeksi Penduduk dan Angkatan Kerja. Katalog BPS 2301018. ISBN: 978-979-064-194-5
  5. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Bina Teknik Proyek Pembinaan Pengembangan dan Penyelenggaraan Air Baku. 2003. Pedoman Penentuan Pengembangan Air Baku Rumah Tangga Perkotaan dan Industri.
  6. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara. 2012. Penyusunan (RTRW) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2012-2032. Langgur, Maluku Tenggara.
  7. Kompas, 2010. Air Bersih di Kepulauan Kei. http://64.203.71.11/kompas-cetak/0705/10/utama/3523568.htm (diakses tanggal 23 September 2018)
  8. Nugroho, H., 2010. Aplikasi Hidrologi. Malang: Jogja Mediautama.
  9. Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 13 Tahun 2012. 2012. RENNCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN 2012-2032. Langgur, Maluku Tenggara.
  10. Radhika, dkk. 2017. PERHITUNGAN KETERSEDIAAN AIR PERMUKAAN DI INDONESIA BERDASARKAN DATA SATELIT. Jurnal Sumber Daya Air Vol.13 No.2 November 2017: 115-130. Bandung.
  11. Sindo, 2007. Malra Krisis Air Bersih. www.ampl.or.id/digilib/read/malra-krisis-air-bersih/37298 (diakses tanggal 24 September 2018)
  12. SNI 6728.1:2015. Penyusunan Neraca Spasial Sumber Daya Alam - Bagian 1: Sumber Daya Air
  13. Sosrodarsono, S., dan Takeda, K., 2006. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Penerbit: Pradnya Paramita. Jakarta.