I Wayan Sutapa(*)
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako Jl. Soekarno-Hatta Km. 9 Palu, Sulawesi Tengah, Email: wsutapa@yahoo.com
M. Galib Ishak
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako Jl. Soekarno-Hatta Km. 9 Palu, Sulawesi Tengah, Email: galibishak@yahoo.co.id
Abstrak
Dengan adanya kawasan industri di Kabupaten Morowali maka diperlukan penyediaan air untuk mendukung industri tersebut dan masyarakat sekitarnya. Studi ini bertujuan untuk membuat sistem penyediaan air baku dengan kajian hidrologi dan hidrolika sehingga air bisa mengalir dari intake dan sampai ke daerah layanan secara gravitasi. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan seperti: data hidroklimatologi, peta DAS, peta topografi, dan kependudukan. Analisis yang dilakukan meliputi: proyeksi jumlah penduduk dengan Metode Geometrik, kebutuhan air dari pedoman kriteria penyediaan air bersih, ketersediaan air dengan Metode FJ. Mock dan simulasi pipa dengan Epanet. Hasil dari studi ini berupa debit andalan 830 lt/dt (terkecil) dan 6607 lt/dt (terbesar), sedangkan kebutuhan airnya terbesar 57,51 lt/dt. Ini mengindikasikan air tercukupi sepanjang tahun. Hasil simulasi Epanet didapatkan pada WTP/(Reservoir) Makarti terdapat tinggi tekan 6,56 m; Reservoir rusunawa 9,0 m dan Reservoir Bete-Bete 5,29 m dari elevasi tanah masing-masing. Artinya air dapat mengalir secara gravitasi ke daerah layanan. Panjang dan diameter pipa yang digunakan adalah: dari intake-WTP: Ø400 mm, L = 2530 m; WTP-patok A49: Ø400 mm, L = 2765 m; patok A49-Rusunawa: Ø250 mm, L = 4805 m; patok A49-Bete-Bete: Ø150 mm, L = 2569 m; WTP-Makarti: Ø150 mm, L = 168 m.
Kata kunci: Air baku, FJ. mock, epanet, neraca air.
1. Pendahuluan
Kebutuhan air bersih merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Sebagai faktor pendukung kehidupan manusia, ketersediaan air yang cukup dari segi kuantitas dan kualitas wajib dipenuhi. Hal ini sesuai dengan kesepakatan Millenium Development Goals (MDG's) tahun 2000 dan dilanjutkan dengan Sustainability Development Goal's (SDG'S) Tahun 2015 sebagai seruan universal dalam bertindak untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi
planet ini, dan memastikan bahwa pada tahun 2030 semua orang menikmati perdamaian dan kemakmuran. Salah satu sasarannya adalah peningkatan akses air minum dan sanitasi. Kabupaten Morowali memiliki potensi sumber daya alam nikel yang cukup besar sehingga banyak investasi yang masuk pada daerah tersebut. Dari sumber daya alam yang ada telah dimanfaatkan dengan adanya pembangunan pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel untuk pemenuhan kawasan industri tersebut. Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementerian
*Penulis Korespondensi
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah melaksanakan dukungan pada kawasan industri tersebut dengan memfasilitasi pembangunan flyover serta Rusunawa. Dukungan tersebut perlu dilanjutkan dengan menyediakan air baku untuk kawasan industri, rusunawa dan masyarakat setempat.
Studi ini bertujuan untuk membuat sistem penyediaan air baku dengan mengkaji hidrologi dan hidrolika sehingga air bisa mengalir dari intake dan sampai ke daerah layanan secara gravitasi.
2. Bahan dan Metode
2.1 Lokasi studi
Lokasi studi berada Daerah Aliran Sungai (DAS) Padabaho, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah dengan luas DAS 80,0 km2 . Gambar 1 menunjukkan peta Sulawesi (kiri) dan DAS Padabaho (kanan) yang merupakan lokasi dari penelitian ini.
2.2 Data
Beberapa data yang digunakan dalam studi ini antara lain:
- 1. Data hujan dan data klimatologi yang diambil dari stasiun terdekat. Data hujan digunakan Stasiun Bahomoleo dan data klimatologi digunakan Stasiun Kasiguncu dengan pengamatan selama 10 tahun (2010-2019) yang didapatkan dari Kantor BMKG Palu.
- 2. Peta DAS Bahodopi didapatkan dari Kantor Bakosurtanal Bogor
- 3. Data kependudukan didapatkan dari survei langsung di lapangan dan Kantor BPS Kabupaten Morowali (Kecamatan Bahodopi dalam Angka, 2019). Nama desa dan jumah penduduk yang dilewati oleh jaringan air baku ini adalah: Desa Makarti (1058 jiwa), Desa Labota (6744 jiwa), Desa Padabaho (564 jiwa), dan Desa Bete-Bete (1253 jiwa); jumlah kamar Rusunawa (2500 buah);
Kemenhan 1 batalyon (700 tentara, 1 tentara = 5 orang, tiga angkatan: AD, AL, AU, sehingga menjadi: 700 x 5 x 3 = 10.500 jiwa).
4. Data topografi Sungai Padabaho dan trace jaringan pipa air baku yang didapatkan dari Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi III, Palu, Sulawesi Tengah.
2.3 Kajian pustaka
2.3.1 Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah peristiwa kehilangan air dari jaringan tanaman dan permukaan tanah yang dipakai sebagai tempat tumbuh tanaman. Banyak metode yang dapat digunakan untuk menghitung evapotranspirasi. Dalam studi ini mengunakan Metode Penman modifikasi (Hadisusanto, 2011; Sutapa, et al., 2020).
\[ETo = C (W. Rn + (1 - W). f (u). (ed - ea))\] (1)
Dimana:
ETo = evapotranspirasi (mm/hari)
W = temperatur yang berhubungan dengan faktor penimbang
Rn = net radiasi equivalen evaporasi (mm/hari)
f(U) = fungsi kecepatan angin (ed-ea) = saturation deficit (mbar)
C = faktor pendekatan untuk kompensasi efek kondisi cuaca siang dan malam hari
2.3.2 Ketersediaan air sungai
Di lokasi studi belum tersedia data debit jangka panjang, oleh sebab itu untuk mendapatkan seri debit tersebut dilakukan dengan model simulasi hujan-aliran, untuk mensimulasi data hujan menjadi data debit sungai. Banyak metode yang dapat digunakan, dalam studi ini digunakan metode FJ. Mock (Hadisusanto, 2011), (Mock, 1973), (Lily Montarcih Limantara & Whima Regianto Putra, 2016). (Meylis Safriani, et al., 2016).

Gambar 1. Lokasi studi
2.3.3 Debit andalan
Debit andalan adalah debit yang diharapkan selalu tersedia sepanjang tahun dengan risiko kegagalan yang diperhitungkan sekecil mungkin (Lily Montarcih Limantara, 2009), (Soemarto, 1987). Debit andalan untuk berbagai keperluan disajikan pada Tabel 1.
Probabilitasnya dihitung dengan persamaan Weibull (Hadisusanto, 2011):
\[P = \frac{m}{n+1} \tag{2}\]
Dimana:
P = probabilitas (%)
m = nomor urut data
n = jumlah data pengamatan
Tabel 1. Debit andalan untuk berbagai tujuan
| Kebutuhan | Debit Andalan (%) |
|---|---|
| Air minum | 99 |
| Air Irigasi | 95 - 98 |
| Air Irigasi: | |
| Daerah basah | 70 - 85 |
| Daerah kering | 80 - 95 |
| PLTA | 85 - 90 |
2.3.4 Kebutuhan air
Penyediaan air baku di daerah studi direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air baku domestik dan non domestik. Kebutuhan air baku domestik ialah pemakaian air untuk aktifitas di lingkungan rumah tangga. Penyediaan air baku domestik dihitung dengan berdasarkan: jumlah penduduk, presentase jumlah penduduk yang akan dilayani, cara pelayanan air, dan konsumsi pemakaian air (lt/org/hari). Sedangkan kebutuhan air non-domestik ialah pemakaian air diluar pemakaian untuk rumah tangga, seperti keperluan niaga, kesehatan, sosial, perkantoran, pendidikan dan peribadatan. Kebutuhan air domestik didasarkan pada jumlah penduduk dan proyeksinya. Untuk mengetahui prosentase kenaikan jumlah penduduk rata-rata pertahun diperlukan data jumlah penduduk yang ada sejak 5 – 10 tahun terakhir. Rumus yang digunakan (Asta, 2018),:
\[r = \frac{\left(\sum ri\right)}{n} \tag{3}\]
Proyeksi jumlah penduduk mengunakan Metode Geometrik dengan rumus sebagai berikut (Zulkipli, et al., 2012), (Asta, 2018), (Yahya, 2019):
\[Pn = Po (1+r)^n \tag{4}\]
Berdasarkan Kriteria Perencanaan Dirjen Cipta Karya PU, 1996 maka kebutuhan air bersih dilihat pada Tabel 2 (DPU, 1996), (Yermia Kumaat Tumanan, et al., 2017):
Tabel 2. Kriteria perencanaan air bersih
| Kategori Kota Berdasarkan Jumlah Penduduk (Jiwa) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Uraian | > 1.000.000 | 500.000 - 1.000.000 | 100.000 - 500.000 | 20.000 - 100.000 | < 20.000 | |||||||
| Kota Metropolitan | Kota Besar | Kota Sedang | Kota Kecil | Desa | ||||||||
| (1) | (2) | (3) | (4) | (5) | (6) | |||||||
| 1 | Konsumsi Unit Sambungan Rumah (SR) (Lt/org/hr) | > 150 | 150 - 120 | 90 - 120 | 80 - 120 | 60-80 | ||||||
| 2 | Konsumsi Unit Hidran (HU) (Lt/org/hr) | 20 - 40 | 20 - 40 | 20 - 40 | 20 - 40 | 20 - 40 | ||||||
| 3 | Konsumsi Unit Non Domestik | |||||||||||
| a. Niaga Kecil (Lt/unit/hr) | 600 - 900 | 600 - 900 | 600 | |||||||||
| b. Niaga Besar (Lt/unit/hr) | 1000 - 5000 | 1000 - 5000 | 1500 | |||||||||
| c. Industri Besar (Lt/dt/ha) | 0,2 - 0,8 | 0,2 - 0,8 | 0,2 - 0,8 | |||||||||
| d. Pariwisata (Lt/dt/ha) | 0,1 - 0,3 | 0,1 - 0,3 | 0,1 - 0,3 | |||||||||
| 4 | Kehilangan Air (%) | 20 - 30 | 20 - 30 | 20 - 30 | 20 - 30 | 20 - 30 | ||||||
| 5 | Faktor Harian Maksimum | 1,15 - 1,25 * harian | 1,15 - 1,25 * harian | 1,15 - 1,25 * harian | 1,15 - 1,25 * harian | 1,15 - 1,25 * harian | ||||||
| 6 | Faktor Jam Puncak | 1,75 - 2,0 * harian | 1,75 - 2,0 * harian | 1,75 - 2,0 * harian | 1,75 * harian maks | 1,75 - 2,0 * harian | ||||||
| 7 | Jumlah Jiwa Per SR (Jiwa) | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | ||||||
| 8 | Jumlah Jiwa Per HU (Jiwa) | 100 | 100 | 100 | 100 - 200 | 200 | ||||||
| 9 | Sisa Tekan di Penyediaan Distribusi (meter) | 10 | 10 | 10 | 10 | 10 | ||||||
| 10 | Jam Operasi (jam) | 24 | 24 | 24 | 24 | 24 | ||||||
| 11 | Volume Reservoir (% max day demand) | 15 - 25 | 15 - 25 | 15 - 25 | 15 - 25 | 15 - 25 | ||||||
| 12 | SR: HU | 50 : 50 s/d 80 : 20 | 50 : 50 s/d 80 : 20 | 80 : 20 | 70 : 30 | 70 : 30 | ||||||
| 13 | Cakupan Pelayanan (%) | 90 | 90 | 90 | 90 | 70 | ||||||
2.3.5 Epanet
Epanet adalah program komputer berbasis windows yang merupakan program simulasi dari perkembangan waktu dengan profil hidrolis dan perlakuan kualitas air bersih dalam suatu jaringan pipa distribusi, yang didalamnya terdiri dari titik/node/junction pipa, pompa, valve (accessories) dan reservoir, baik ground revervoir maupun elevated reservoir. Out-put yang dihasilkan dari program Epanet antara lain debit yang mengalir dalam pipa (liter/detik), tekanan air dari masing-masing titik/node/junction yang dapat dipakai sebagai analisa dalam menentukan operasi instalasi, pompa dan reservoir. Program Epanet menggunakan persamaan Hazen-Williams (Asta, 2018), (Gupta, 1989), (Sutapa, 2015), (Tirta, 2016):
\[Q = 0.27853 \times C \times D^{2.63} \times S^{0.34}\] (5)
\[hf = \left(\frac{10,666xQ^{1,85}}{C^{1,85}D^{4,85}}\right)L\tag{6}\]
Dimana:
\(Q = debit aliran (m^3/detik)\)
C = koefisien Hazen Williams untuk pipa
D = diameter pipa (m)
S = kemiringan hidrolis (m/m)
hf = kehilangan energi (m)
2.4 Metode
Untuk menyelesaikan studi ini, beberapa tahapan yang akan dilakukan antara lain:
- 1. Pengumpulan data
- 2. Menghitung evapotranspirasi dengan Metode Penman Modifikasi
- Menghitung ketersediaan air dengan Metode FJ. Mock
- 4. Menghitung debit andalan dengan Metode Weibull
- Menghitung proyeksi penduduk dengan Metode Geometrik
- Menghitung kebutuhan air berdasarkan proyeksi jumlah penduduk, rusunawa dan kemenhan sesuai pedoman kriteria Perencanaan Air Bersih (SNI 7831:2012 tentang Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih)
- 7. Menganalisis neraca air dari debit tersedia dan debit kebutuhan (SNI 6728-1-2015 tentang Neraca Air)
- Merencanakan letak bangunan pengambilan air/ intake, WTP dan Reservoir dari peta hasil pengukuran peta topografi
- Membuat skema jaringan pipa air beserta kebutuhan air dari masing-masing wilayah
- 10. Menrancang jaringan pipa dengan program Epanet
- 11. Running simulasi Epanet dan evaluasi hasil Epanet
3. Hasil dan Pembahasan
Ketersediaan air sungai dihitung dengan Metode FJ. Mock. Inputnya berupa data hujan, evapotranspirasi, dan luas DAS. Debit andalan dihitung dengan mengurutkan data debit tersebut dari kecil kebesar yang selanjutnya dapat diketahui debit andalannya dengan Metode Weibul pada probabilitas 90% (Q<sub>90</sub>) (Lily Montarcih Limantara, 2009), (Soemarto, 1987). Hasilnya disajikan pada Tabel 3.
Perhitungan kebutuhan air dilakukan mulai dari proyeksi jumlah penduduk dengan Metode Geometrik seperti pada Tabel 4 dan perhitungan kebutuhan air dihitung sesuai Pedoman Kriteria Penyediaan Air baku dari Dirjen Cipta Karya tahun 1996. Hasilnya disajikan pada Tabel 5.
Dengan diketahuinya kebutuhan air dan ketersediaan air maka dapat dibuatkan neraca air untuk Sungai Padabaho seperti disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 2. Dari tabel dan gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa sepanjang tahun terjadi kelebihan air di Sungai Padabaho dengan pengambilan air untuk penduduk di sekitar lokasi studi, rusunawa, kemenhan dan industri.
Kegiatan topografi berupa pengukuran Sungai Padabaho sebagai rencana pengambilan air/ intake dan
Tabel 3. Ketersediaan air sungai Padabaho (m³/dt)
| No. Urut - | Bulan | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Juni | Juli | Agt | Sep | Okt | Nop | Des | |||
| 1 | 3,56 | 2,05 | 2,10 | 4,91 | 1,44 | 0,80 | 3,79 | 1,55 | 1,10 | 0,63 | 0,37 | 1,13 | ||
| 2 | 4,01 | 4,16 | 4,57 | 6,61 | 1,54 | 1,73 | 4,30 | 2,00 | 1,64 | 0,83 | 3,39 | 1,82 | ||
| 3 | 4,84 | 4,18 | 5,48 | 6,84 | 1,74 | 3,37 | 5,10 | 3,02 | 1,99 | 0,90 | 3,60 | 4,14 | ||
| 4 | 5,23 | 5,25 | 5,95 | 7,75 | 4,91 | 8,68 | 5,29 | 3,10 | 2,11 | 1,17 | 4,34 | 4,30 | ||
| 5 | 5,36 | 6,11 | 6,09 | 10,22 | 5,85 | 9,41 | 5,42 | 4,44 | 2,87 | 1,91 | 4,45 | 5,01 | ||
| 6 | 5,49 | 6,60 | 7,02 | 10,58 | 8,86 | 11,44 | 5,93 | 4,73 | 2,88 | 2,77 | 4,95 | 7,57 | ||
| 7 | 5,91 | 6,70 | 7,29 | 11,20 | 10,97 | 11,56 | 8,82 | 4,78 | 3,38 | 2,95 | 5,18 | 8,98 | ||
| 8 | 9,63 | 6,74 | 7,36 | 13,48 | 12,50 | 12,87 | 9,90 | 5,60 | 3,38 | 3,63 | 5,59 | 9,02 | ||
| 9 | 10,30 | 7,18 | 10,80 | 13,70 | 12,73 | 13,80 | 12,82 | 5,87 | 4,44 | 3,98 | 9,24 | 9,49 | ||
| 10 | 11,16 | 9,20 | 10,81 | 14,82 | 16,40 | 22,79 | 15,80 | 7,64 | 4,46 | 5,09 | 13,69 | 9,96 | ||
| Q90 | 4,01 | 4,16 | 4,57 | 6,61 | 1,54 | 1,73 | 4,30 | 2,00 | 1,64 | 0,83 | 3,39 | 1,82 | ||
pengukuran trace jaringan pipa mulai dari intake, melalui beberapa desa seperti Desa Makarti, Desa Labato, Desa Padabaho dan Desa Bete-Bete, seperti disajikan pada Gambar 3.
Tabel 4. Proyeksi jumlah penduduk metode geometrik
| Tahun 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 | Pertambahan | |||
|---|---|---|---|---|
| No | Jumlah Penduduk | Jiwa | % | |
| 1 | 9.619 | |||
| 2 | 9.691 | 73 | 0,75 | |
| 3 | 9.764 | 73 | 0,75 | |
| 4 | 9.838 | 74 | 0,75 | |
| 5 | 9.913 | 74 | 0,75 | |
| 6 | 9.988 | 75 | 0,75 | |
| 7 | 10.063 | 75 | 0,75 | |
| 8 | 10.139 | 76 | 0,75 | |
| 9 | 2027 | 10.216 | 77 | 0,75 |
| 10 | 2028 | 10.293 | 77 | 0,75 |
| 11 | 2029 | 10.371 | 78 | 0,75 |
| 12 | 2030 | 10.449 | 78 | 0,75 |
Dengan menggunakan peta topografi dan kebutuhan air maka dapat dibuatkan skema jaringan pipa air baku setiap Reservoir dan pada jaringan pipa, seperti disajikan pada Gambar 4.
Berdasarkan analisis kebutuhan air dan skema jaringan pipa air baku dapat diketahui kebutuhan air baku adalah 60,00 lt/dt, yang terbagi dalam 3 Reservoir, yaitu: reservoir 1 (Desa Makarti) untuk melayani 30,95 lt/dt, Reservoir 2 (Desa Bete-Bete) untuk melayani 3,55 lt/dt dan Reservoir 3 (Rusunawa) untuk melayani 25,50 lt/dt. Demikian juga elevasi yang didapatkan dari hasil pengkuran topografi, dimana intake direncanakan pada elevasi muka air +40,0 (patok K75); WTP/Reservoir 1 elevasi +22,0 (patok K11); Resorvoir 2 pada elevasi +12,61 (patok B54) dan Reservoir 3 pada elevasi +12,0 (patok AB101). Hal ini dijadikan sebagai dasar dalam simulasi Epanet. Hasil running Epanet disajikan pada Gambar 5.
Tabel 5. Perhitungan kebutuhan air
| Bulan | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Uraian | Satuan | Jan | Peb | Mar | Apr | Mei | Juni | Juli | Agt | Sep | Okt | Nop | Des | Rata-Rata |
| A | Kependudukan | ||||||||||||||
| 1 | Jumlah Penduduk | Jiwa | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449 | 23.449.19 |
| a. Penduduk 4 desa | Jiwa | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449 | 10.449.19 | |
| b. Rusunawa | Jiwa | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500 | 2.500.00 | |
| c. Kemenham | Jiwa | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500 | 10.500.00 | |
| 2 | Tingkat Pelayanan | % | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90.00 |
| 3 | Penduduk Terlayani | jiwa | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104 | 21.104,27 |
| 4 | Jumlah Penduduk Per SR | jiwa | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5,00 |
| B | Kebutuhan Domestik | ||||||||||||||
| 1 | Jumlah SR | Unit | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.221 | 4.220,85 |
| 2 | Pemakaian per orang | l/org/hari | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90 | 90.00 |
| 3 | Kebutuhan Air SR | m3/hari | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899 | 1.899,38 |
| 4 | Kebutuhan Domestik | l/det | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 | 21,98 |
| C | Kebutuhan non domestik | ||||||||||||||
| 15% dari kebutuhan Domestik | % | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15 | 15,00 | |
| Kebutuhan non domestik | m3/hari | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 285 | 284,91 | |
| l/det | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | 3,30 | ||
| D | Kebutuhan Air Total | l/det | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 | 25,28 |
| E | Kehilangan air | ||||||||||||||
| % Kehilangan air | % | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30 | 30,00 | |
| Jumlah kehilangan air | l/det | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | 7,58 | |
| F | Kebutuhan air rata-rata (D+E) | l/det | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 | 32,87 |
| G | Kebutuhan air maksimum | ||||||||||||||
| Faktor koefisien | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | 1,25 | ||
| Kebutuhan air Perkotaan | l/det | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | 41,08 | |
| H | Kebutuhan Jam Puncak | ||||||||||||||
| Faktor koefisien | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | 1,75 | ||
| Kebutuhan Air | l/det | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | |
| TOTAL | l/det | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | 57,51 | |
| m3/det | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | ||
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel 6. Neraca air
| Bulan | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Neraca Sumber Daya Air | Satuan | Jan | Peb | Mar | Apr | Mei | Juni | Juli | Agt | Sep | Okt | Nop | Des | Rata-Rata |
| 1 | Potensi Ketersediaan | 3 m /det | 2,3235 | 2,4093 | 2,6476 | 3,8263 | 0,8935 | 1,0024 | 2,4892 | 1,1593 | 0,9484 | 0,4807 | 1,9654 | 1,0528 | 1,7665 |
| 2 | Kebutuhan | 3 m /det | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | 0,0575 | ||
| 3 | Pengambilan di hilir S Padabaho | lt/dt | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | - |
| Saldo (m3/detik) | 3 m /det | 2,2660 2,3518 | 2,5901 | 3,7688 | 0,8360 | 0,9449 | 2,4316 | 1,1017 | 0,8909 | 0,4232 | 1,9079 | 0,9953 | 1,7090 | ||
| 4 | Saldo (liter/detik) | liter/det | 2,266 | 2,352 | 2,590 | 3,769 | 836 | 945 | 2,432 | 1,102 | 891 | 423 | 1,908 | 995 | 1,7090 |
Sumber : Hasil Perhitungan
Dari hasil perhitungan, dengan debit aliran sebesar 70,0 lt/dt (patok K75) dan konstanta dinding pipa (CHW) sebesar 100 dan dengan diameter pipa sebesar 400 mm, maka sisa tekan yang didapat di titik rencana WTP adalah 6,56 m (patok K11). Ketinggian itu cukup untuk langsung dimasukkan ke awal pengolahan air di WTP.
Dari hasil perhitungan, dengan debit aliran sebesar 60,0 l/dt (patok K11) dan konstanta dinding pipa (CHW) sebesar 120 dan dengan diameter pipa sebesar 400 mm, maka sisa tekan yang didapat di titik rencana WTP adalah 15,05 m (patok A49).
Dari hasil perhitungan, dengan debit sebesar 24,30 l/dt (patok A49) dan konstanta dinding pipa (CHW) sebesar 120 dan dengan diameter pipa sebesar 250 mm, maka sisa tekan yang didapat di titik rencana reservoir adalah 9,00 m (patok AB101).
Dari hasil perhitungan, dengan debit sebesar 4,75 l/dt (patok A49) dan konstanta dinding pipa (CHW) sebesar 120 dan dengan diameter pipa sebesar 150 mm, maka sisa tekan yang didapat di titik rencana reservoir adalah 5,29 m (patok B54).
Diameter dan panjang pipa jaringan pipa hasil running Gambar 2. Neraca air sungai Padabaho Epanet disajikan pada Tabel 7.

Gambar 3. Rencana intake, WTP dan reservoir

Gambar 5. Skematisasi jaringan pipa dengan epanet
Gambar 4. Skema jaringan pipa air baku

Gambar 6. Profil memanjang pipa transmisi Intake-WTP

Gambar 8. Profil memanjang pipa JDU (dari A49 ke rusunawa)

Gambar 7. Profil memanjang pipa JDU (dari WTP ke A49)

Gambar 9. Profil memanjang pipa JDU (dari A49 ke Bete-Bete)
Tabel 7. Diameter pipa air baku
| Transmisi | JDU | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Diameter (mm) | KK | LA (K11-A49) | NA (A49-AB101) | NB(A49-B54) | NC |
| 400.0 | 0 | 2.765 | 0 | 0 | 0 |
| 350.0 | 2.530 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 250.0 | 0 | 0 | 4.805 | 0 | 0 |
| 150.0 | 0 | 0 | 0 | 2.569 | 168 |
| Total (m) | 2.530 | 2.765 | 4.805 | 2.569 | 168 |
| Keterangan | Intake - WTP | WTP – Cabang patok A49 | Cabang A49 - Labato | Cabang A49- Bete-2 | Makarti Jaya |
| Debit (lt/dt) | 70,0 | 60,0 | 24,30 | 4,75 | 30,95 |
4. Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini antara lain:
- 1. Debit andalan besarnya antara 830 lt/dt (terkecil) dan 6607 lt/dt (terbesar), sedangkan kebutuhan airnya terbesar 57,51 lt/dt. Ini mengindikasikan air tercukupi sepanjang tahun.
- 2. Hasil simulasi Epanet didapatkan pada WTP/ Reservoir Makarti terdapat tinggi tekan 6,56 m; Reservoir Rusunawa 9,0 m dan Reservoir Bete-Bete 5,29 m dari elevasi tanah masing-masing. Artinya, air dapat mengalir secara gravitasi ke daerah layanan.
- 3. Panjang dan diameter pipa yang digunakan adalah: dari intake-WTP: Ø400 mm, L = 2530 m; WTP-patok A49: Ø400 mm, L = 2765 m; patok A49-Rusunawa: Ø250 mm, L = 4805 m; patok A49-Bete-Bete: Ø150 mm, L = 2569 m; WTP-Makarti: Ø150 mm, L = 168 m.
