1. Home
  2. Archives
  3. Vol 29 (2022) Issue 3
  4. Articles

Tahanan Lateral pada Sistem Komposit LVL Kayu Sengon dan WPC

Abstract

Abstrak Pemanfaatan produk turunan kayu Laminated Veneer Lumber (LVL) Kayu Sengon dan Wood plastic composites (WPC) Jati sebagai bahan konstruksi perlu dikaji lebh lanjut. Penelitian membahas tentang kinerja sambungan kedua bahan tersebut untuk mendapatkan kapasitas sambungan, nilai tahanan lateral serta pola kegagalan pada sistem komposit LVL Kayu Sengon dan WPC akibat dari penggunaan sambungan baut dengan variasi diameter yang berbeda. Benda uji merupakan balok LVL kayu sengon dan WPC yang disambung dengan baut dalam sistem satu bidang geser. Variasi diameter baut yaitu 6 mm, 8 mm, 10 mm dan 12 mm. Pengujian mengacu pada ASTM D 5652-95. Pengujian dilakukan secara analitis sebagai prediksi kekuatan sambungan dan pola kegagalan dan secara eksperimental di laboratorium. Kegagalan sambungan dilihat dari kegagalan yang terjadi pada kuat tumpu kayu dan kegagalan baut. Hasil penelitian menunjukkan nilai kapasitas sambungan baut 6 mm, 8 mm, 10 mm dan 12 mm berturut-turut sebesar 5453,887 N; 5420,986 N; 9200,262 N; 10207,340 N. Sambungan baut 6 mm membentuk pola kegagalan berupa terbentuknya dua sendi plastis pada alat penyambung dalam satu bidang geser sedangkan sambungan baut 8mm, 10mm dan 12 mm terjadi pola kegagalan tumpu kayu samping disertai dengan satu sendi plastis pada alat sambung dalam satu bidang geser. Kata kunci: LVL kayu sengon, tahanan lateral, WPC, wood plastic composites. Abstrak The use of wood engineering products Laminated Veneer Lumber (LVL) of Sengon Wood and Teak Wood plastic composites (WPC) as construction materials needs further study. Research discusses about the joint performance of the two materials to obtain the connection capacity, lateral resistance value and failure patterns in the LVL Wood Sengon and WPC composite system due to the use of bolted connections with different diameter variations. The test objects are LVL beams of sengon wood and WPC which are connected by bolts in a single plane shear system. Variations in bolt diameter are 6 mm, 8 mm, 10 mm and 12 mm. Testing refers to ASTM D 5652-95. Tests were carried out analytically as a predictor of joint strength and failure patterns and experimentally in the laboratory. Connection failure is seen from the failure that occurs in the wooden support and bolt failure. The results showed that the bolt connection capacity values ​​of 6 mm, 8 mm, 10 mm and 12 mm were 5453.887 N, respectively; 5420,986 N; 9200,262 N; 10207.340 N. The 6 mm bolt connection forms a failure pattern in the form of the formation of two plastic hinges on the connecting device in one shear plane while the 8mm, 10mm and 12 mm bolt connections occur a side wood support failure pattern accompanied by one plastic hinge on the connection tool in one shear plane. Keywords: LVL sengon wood, lateral resistance, WPC, wood plastic composite.

Keywords

1. Pendahuluan

Wood plastic composites (WPC) merupakan salah satu produk hasil rekayasa kayu yang sudah dikenal di industri konstruksi. WPC disebut sebagai rekayasa kayu berkonsep green material karena terbuat dari serat kayu dan termoset atau termoplastik tanpa ditambah zat kimia beracun (Ashori, 2008). WPC semakin popular untuk penggunaan pada interior dan eksterior konstruksi karena material ini merupakan campuran kayu dan plastik yang kuat, tahan lama, tahan terhadap kelembaban yang tinggi, tahan terhadap serangan serangga dan tidak membusuk (Balma, 1999).

WPC adalah bahan struktur pengganti kayu yang terbuat dari limbah serbuk kayu dan limbah polimer plastik HDPE (High Density Polyethylene). WPC memiliki permukaan yang lebih halus, murah, bahan bakunya melimpah, kedap air, anti rayap dan anti jamur sehingga penggunaanya awet dan tahan lama. WPC banyak digunakan untuk keperluan interior dan eksterior seperti penutup lantai, dinding, pagar, dan plafon. WPC memiliki kuat geser yang tinggi bila dibandingkan dengan kayu, itu memungkinkan digunakannya WPC sebagai material struktural, namun masih sebatas pada struktural yang membutuhkan kuat geser saja (Arnandha, 2016).

Penggunaan WPC untuk material struktural sangat jarang ditemukan, karena sejak awal diperkenalkan WPC lebih banyak digunakan untuk material non struktural. Beberapa peneliti telah meneliti sifat fisik dan mekanis WPC sebagai komponen struktur, salah satunya adalah kuat geser. WPC mempunyai kuat geser 25-30 MPa, lebih tinggi dibandingkan dengan papan kayu lapis maupun kayu pada umumnya. WPC memiliki potensi untuk digunakan sebagai dinding geser (Wijanarko, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Sudrajad (2020) didapatkan bahwa kuat lentur WPC adalah 21,47 MPa.

Produk kayu komposit berbasis veneer seperti kayu lapis atau Laminated Veneer Lumber (LVL), umumnya digunakan dalam konstruksi kayu. LVL merupakan gabungan beberapa veneer kayu yang direkatkan dengan perekat dan dikempa di bawah temperature dan tekanan yang tinggi. Keunggulan LVL dibandingkan kayu adalah sifat mekanik yang lebih tinggi dan ukuran yang lebih besar (Stark dkk, 2010).

Di Indonesia LVL telah banyak dikembangkan. Salah satu produk LVL adalah LVL dari kayu sengon. LVL sengon adalah satu jenis kayu komposit struktural dari kayu sengon yang diproduksi dengan melaminasi veneer setebal 3,2 hingga 2,5 mm dengan semua lapisan sejajar dengan panjangnya (Awaludin, 2018). Kayu sengon dengan nama latin Paraserianthes falcataria merupakan jenis kayu yang banyak tumbuh di daratan tropis. Kayu ini mudah ditemui karena mudah tumbuh dan membutuhkan waktu yang relatif tidak lama untuk mencapai masa panen (Ma'ali dkk, 2014).

Sambungan diperlukan untuk menghubungkan dua atau lebih komponen struktur. Adanya sambungan

dapat berfungsi untuk memperpanjang batang atau menggabungkan beberapa batang pada satu buhul (Awaludin, 2005). Adanya sambungan dapat mengatasi keterbatasan panjang batang struktur namun menjadikan batang tersebut mempunyai kapasitas yang lebih rendah. Sambungan menjadi titik perlemahan dalam suatu struktur sehingga pada titik ini perlu menjadi perhatian yang lebih.

Baut merupakan salah satu alat sambung yang umum digunakan dalam konstruksi. Sebagai alat sambung, desain sambungan didasarkan pada tahanan lateral alat sambung tersebut. European Yield Model (EYM) adalah teori yang menjadi acuan perhitungan kekuatan sambungan kayu yang kemudian diadopsi oleh American Forest & Paper Association (AF & PA) sebagai dasar National Design Spesification (NDS) for Wood Construction untuk analisis perhitungan tahanan lateral sambungan kayu.

Pemeriksaan terhadap baut sebagai alat sambung WPC dan LVL perlu dilakukan agar menjadi masukan pengembangan pemakaian WPC dan LVL sebagai bahan struktur, mengingat WPC dan LVL merupakan produk pengembangan kayu agar didapatkan produk struktur yang lebih ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi kinerja sambungan terkait pemakaian baut sebagai alat penyambung antara WPC dan LVL.

2. Tahanan Lateral

Nilai tahanan lateral didapat apabila kapasitas tekan kayu di bawah sambungan terlampaui atau terjadinya satu atau lebih sendi plastis pada alat sambung (Soltis, 1991). Dijelaskan dalam National Design Specification (NDS) for Wood Construction tahun 2018, terdapat 6 mode kegagalan sambungan satu irisan. Mode kegagalan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Persamaan tahanan lateral dari masing-masing mode kegagalan pada Tebel 1 adalah sebagai berikut

Mode Im

\[Z = \frac{D \, Im \, Fem}{Rd} \tag{1}\]

Mode Is

\[Z = \frac{D \, Is \, Fes}{Rd} \tag{2}\]

Mode II

\[Z = \frac{k1 \, D \, Is \, Fes}{Rd} \tag{3}\]

Mode IIIm

\[Z = \frac{k2 D Im Fem}{(1 + 2Re)Rd} \tag{4}\]

Mode IIIs

\[Z = \frac{k3 D Is Fes}{(2 + Re)Rd} \tag{5}\]

Mode Im

Tabel 1. Mode kegagalan sambungan satu irisan

ModeSketsaDeskripsi mode
lm# Decorated by the second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second second secoKegagalan tumpu komponen
kayu utama, pada kegagalan
ini terdapat satu atau dua
bidang geser
ls*Kegagalan tumpu komponen
kayu samping dan bidang
geser yang terjadi bisa satu
maupun dua bidang geser
IIKegagalan tumpu komponen
kayu utama dan kayu
samping, sehingga memiliki
satu bidang geser
IIIm*Kayu utama mengalami
kerusakan dan alat sambung
yang terletak pada kayu
samping mulai gagal, moda ini
memiliki satu bidang geser
IIIs*Memiliki satu maupun dua
bidang geser akibat
kerusakan terjadi pada kayu
samping dan alat sambung
yang terletak pada kayu
utama mulai gagal
IV*Alat sambung yang terletak
pada kayu utama dan kayu
samping mengalami
kegagalan

\[Z = \frac{D^2}{Rd} \sqrt{\frac{2 Fem Fyb}{3 (1 + Re)}} \tag{6}\]

Keterangan:

Z = tahanan lateral nominal (N)

Fes kuat tumpu baut pada komponen struktur

samping (MPa)

kuat tumpu baut pada komponen struktur Fem =

utama (MPa)

Ddiameter polos baut (mm) kuat leleh lentur baut (MPa) Fyb

Rd= syarat reduksi

lm= panjang tumpu pasak pada komponen utama (mm) struktur

ls = panjang tumpu pasak pada komponen struktur samping (mm)

\[K\Theta = 1 + 0.25 \left(\frac{\theta}{90}\right) \tag{7}\]

Keterangan:

sudut maksimum antara arah beban dan arah serat kayu \((0 \le \Theta \le 90)\)

diameter terukur baut pada bagian polos, mm

KD =2,2 untuk D \(\leq\) 4,318 mm

= 10 D / 25,4 + 0,5 untuk 4,318mm<D \(\leq\)6,35mm

Penentuan besar reduksi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tahanan lateral dari berbagai kondisi mode kegagalan yang ditunjukan pada Tabel 1 dihitung untuk kemudian dicari prediksi tahanan lateral secara analitis. Proses perhitungan didasarkan dari hasil pemeriksaan bahan yang dapat dilihat pada Tabel 3. Nilai tahanan lateral analitis diambil dari nilai terkecil berdasarkan Persamaan (1) sampai dengan Persamaan (6). Nilai tahanan lateral analitis terkecil dari berbagai mode kegagalan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 2. Nilai reduksi berdasarkan ukuran baut

Ukuran bautMode KegagalanNilai Reduksi (Rd)
Im, Is4 KO
6,35 mm ≤ D
≤ 25,4 mm
II3,6 КӨ
IIIm, IIIs, IV3,2 КӨ
D≤ 6,35 mmIm , Is , II , IIIm , IIIs , IVKD

Tabel 3. Hasil pemeriksaan bahan

BautHasil pemeriksaan
DaulBU-1 (mm)BU-2 (mm)BU-3 (mm)BU-4 (mm)BU-5 (mm)Im (mm)Is (mm)Fem (MPa)Fes (MPa)Fyb (MPa)
Baut 66,076,056,016,076,0840,0040,0064,8023,76406,42
Baut 87,647,657,667,707,7140,0040,0064,2020,60429,01
Baut 109,219,239,289,249,2140,0040,0060,5018,42488,62
Baut 1212,4412,4312,4112,4312,4240,0040,0051,2016,80481,62

Tabel 4. Nilai tahanan lateral terkecil dari berbagai mode kegagalan

Diameter bautTahanan lateral (N)Mada kagagalan
(mm)BU-1BU-2BU-3BU-4BU-5Rata-rata- Mode kegagalan
6878866884887887880IV
81.0351.0371.0381.0471.0471.041IIIs
101.3561.3611.3741.3561.3641.362IIIs
121.8571.8551.8521.8551.8541.855II

3. Metodologi Penelitian

Benda uji penelitian adalah balok WPC dan LVL sengon yang disambung dengan baut. Dimensi WPC adalah 40 x 60 x 90 mm sedangkan dimensi LVL adalah 40 x 60 x 120 mm. WPC disambung dengan LVL menggunakan baut pada jarak 30 cm dari sisi terluar sambungan seperti pada Gambar 1. Pertimbangan jarak pelubangan telah didasarkan ASTMD 5652-95 (Standard Test Methods for Bolted Connection in Wood and Wood-Base Products). Pertimbangan panjang terbebani dan panjang tidak terbebani didasarkan pada ASTM D 5764-97a (Standard Test Method for Evaluating Dowel Bearing Strength of Wood). Baut yang dipakai dalam penelitian ini mempunyai variasi diameter 6 mm, 8 mm, 10 mm, dan 12 mm. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.

Jumlah benda uji setiap variasi sebanyak 5 buah. Keterangan jumlah benda uji dapat dilihat pada Tabel 6. Setting pengujian dapat dilihat pada Gambar 2.

4. Hasil dan Pembahasan

Hasil pengujian menunjukan bahwa diameter baut berpengaruh terhadap kenaikan kapasitas sambungan. Semakin besar diameter baut, kapasitas sambungan yang dapat ditumpu juga semakin tinggi. Secara menyeluruh terjadi kenaikan kuat sambungan baut

Gambar 2. Setting pengujian

Tabel 6. Keterangan dan kode benda uji

Diameter baut (mm)Jumlah benda uji
65
85
105
125

mulai dari diameter 6 mm, 8 mm, 10 mm sampai 12 mm pada benda uji ke 1 (BU-1), benda uji ke 2 (BU-2), benda uji ke 3 (BU-3), benda uji ke 4 (BU-4) dan benda uji ke 5 (BU-5). Kapasitas sambungan dipresentasikan dalam Tabel 7.

Gambar 3 menunjukan hubungan antara diameter baut dan kapasitas sambungan. Terjadi kenaikan rata-rata kapasitas sambungan dari diameter 6 mm, 8 mm, 10 mm sampai 12 mm. Berdasarkan grafik dapat dilihat bahwa peningkatan diameter baut terhadap kapasitas sambungan tidaklah linear. Tabel 8 menunjukan prosentase peningkatan kapasitas sambungan baut. Peningkatan kapasitas terbesar terjadi pada sambungan baut berdiameter 10mm. Dibandingkan dengan sambungan baut berdiameter 6mm peningkatanya sebesar 56%. Gambar 1. Detail penyambungan

Tabel 5. Detail ukuran penyambungan
Diameter bautParameter dimensiSyarat minimalUkuran LVL (mm)Ukuran WPC (mm)
Tebal244040
Lebar506060
6, 8, 10, 12Panjang tepi terbebani509060
Panjang tepi tidak terbebani253030

Tabel 7. Kapasitas sambungan

Diameter bautKapasitas sambungan (N)
(mm)BU-1BU-2BU-3BU-4BU-5Rata-rata
65.9155.4366.8865.3814.8115.686
86.6376.5636.2865.7925.7846.212
107.31911.7198.2998.01512.9969.670
1210.53610.0649.97010.49610.89110.391

254 Jurnal Teknik Sipil

1

Gambar 3. Peningkatan kapasitas sambungan terhadap diameter baut.

Tabel 8. Prosentase peningkatan kapasitas sambungan terhadap diameter baut.

Diameter baut (mm)Kapasitas
sambungan (N)
Prosentase kenaikan
65686
862129%
10967056%
12103917%

Kegagalan pada sambungan dipengaruhi kuat tumpu kayu dan kuat leleh baut. sambungan dapat terjadi pada kayu, baut maupun keduanya. Kegagalan yang dialami oleh kayu terjadi akibat dari kuat tumpu baut yang lebih tinggi dari kayu sehingga merusak kayu tersebut. Kegagalan dapat terjadi pada kayu utama atau kayu samping, bisa juga terjadi pada keduanya. Sebaliknya, kegagalan pada baut dapat terjadi karena sambungan tidak bekerja secara optimal dan atau kuat tumpu baut lebih rendah dari kayu sehingga mengalami kegagalan berupa bengkok. Kegagalan sambungan dapat dilihat dari mode kegagalan yang terjadi. Benda uji berdiameter sama rata-rata mengalami mode kegagalan sambungan yang sama pula. Tabel 9 memberikan gambaran kegagalan sambungan dari masing-masing benda uji berdasarkan diameter baut penyambung. Dibandingkan dengan hasil perhitungan analitis, terdapat kesamaan hasil antara sambungan baut diameter 6mm, 8mm dan 10 mm. Perbedaan hasil hanya terjadi pada sambungan baut diameter 12 mm. Hal ini disebabkan karena pada saat pengujian posisi benda uji mengalami pergeseran dan mengakibatkan baut terlebih dahulu mengalami deformasi. Perbandingan mode kegagalan berdasarkan hasil perhitungan secara analitis dengan hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 10.

Tahanan lateral pengujian didapatkan berdasarkan teori EYM. Tahanan lateral pengujian dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 9. Mode kegagalan sambungan

Diameter baut
(mm)
Bentuk kerusakan baut
penyambung
Mode kegagalan
6IV
8IIIs
10IIIs
12IIIs

Tabel 10. Perbandingan mode kegagalan berdasarkan hasil perhitungan secara analitis dengan hasil pengujian.

Mode kegagalan
Diameter baut (mm)AnalitisPengujian
6IVIV
8IIIsIIIs
10IIIsIIIs
12IIIIIs

Tabel 11. Tahanan lateral pengujian

Tahanan lateral (N)
Diameter baut (mm)BU-1BU-2BU-3BU-4BU-5Rata-rata
62.6672.4312.4512.8242.4372.562
83.5303.8243.4813.5793.1863.520
104.1404.6084.7804.7804.4124.544
128.0087.1917.6817.4367.6347.590

Tabel 12 menunjukan prosentase peningkatan tahanan lateral hasil pengujian. Peningkatan tahanan lateral terbesar terjadi pada sambungan baut berdiameter 12mm. Dibandingkan dengan sambungan baut berdiameter 10 mm peningkatanya sebesar 67%.

Gambar 4 menunjukan perbandingan nilai tahanan lateral secara analitis dan pengujian. Nilai tahanan lateral secara analitis lebih kecil dibandingkan nilai tahanan lateral pengujian.

Tabel 12. Prosentase peningkatan tahanan lateral terhadap diameter baut.

Diameter baut (mm)Tahanan Lateral (N)Prosentase kenaikan
62.562
83.52037%
104.54429%
127.59067%
5

Gambar 4. Perbandingan nilai tahanan lateral secara analitis dan pengujian

5. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

  • 1. Diameter baut berpengaruh terhadap kuat sambungan, tahanan lateral dan pola kegagalan sambungan. Semakin besar diameter baut maka kuat sambungan dan tahanan lateral juga semakin besar.
  • 2. Pola kegagalan pada baut diameter 6 adalah kegagalan pada alat sambung yang terletak pada kayu utama dan kayu samping (IV) sedangkan pola kegagalan baut diameter 8, 10 dan 12 berturut-turut adalah pada satu maupun dua bidang geser akibat kerusakan terjadi pada kayu samping dan alat sambung yang terletak pada kayu utama (IIIs).
  • 3. Tahanan lateral hasil pengujian lebih tinggi dari pada hasil pengujian secara teoritis.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.12
FWCIfield-weighted
44th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

level 1
level 0
Veneer 0.29
level 2

Institution Network

  • Universitas Tidar ID
    Ali Murtopo · Anis Rakhmawati · Yudhi Arnandha · Achmad Rafi’ud Darajat · Ayu Pusdikawarsi Narendrani Istiqomah

References

  1. Arnandha, Y., Satyarno, I., Awaludin, A., Fardhani, A., 2016, Evaluasi Kuat Tumpu Alat Sambung Baut pada Papan WPC dari Limbah Sengon dan Plastik HDPE, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Vol 22, No.2, Yogyakarta. DOI: 10.14710/mkts.v22i2.12882
  2. Ashori, A., 2008. Wood–plastic composites as promising green-composites for automotive industries. Bioresource Technology Volume 99, Issue 11, July 2008, Pages 4661-4667.
  3. Awaludin A., 2005. Dasar-dasar Perencanaan Sambungan Kayu, Biro Penerbit Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  4. Awaludin, A., Basuki, A., Shahidan, S., Zuki, S., S., M., 2018, Laminated Veneer Lumber (LVL) sengon: An Innovation Sustainable Building Material in Indonesia, International Journal of Imtegrated Engineering, 10(1), 17-22.
  5. Balma, D. A., 1999. Evaluation of Bolted Connections in Wood Plastic Composites. Washington State University.
  6. Ma’ali, M., R., Basuki, A., Sunarmasto., 2014, Analisis Perilaku Prototip Struktur Rangka Kuda-Kuda Laminated Veneers Lumber (LVL) Kayu Sengon, eJurnal Matriks Teknik Sipil 2(1), Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
  7. Soltis, L. A., 1991, European Yield Model For Wood Connections, Structures congress ’91 compact papers; 9th structures congress proceedings; 1991 April 29-May 1; Indianapolis, IN. New York: American Society of Civil Engineers: 60-63; 1991.
  8. Stark, N.M., Cai, Z., and Carll, C., 2010. Wood-Based Composite Materials Panel Products, Glued Laminated Timber, Structural Composite Lumber, and Wood–Nonwood Composite Materials (Chapter 11), in: Wood handbook, Wood as an engineering material - Centennial Edition, Forest Products Laboratory - United States Department of Agriculture Forest Service, Madison, Wisconsin, U.S.A.
  9. Sudrajad, I., 2020, Uji Kekuatan Papan Wood Plastic Composite (WPC) Limbah Serbuk Kayu Jati Dan Limbah Plastik High Density Polyethylene (HDPE) Sebagai Persyaratan Struktur, Tugas Akhir Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
  10. Wijanarko, F., B., 2016, Studi Penggunaan Baut pada Wood Plastic Composite (WPC) dengan Metode Geser Dua Irisan (Double Shear Connections), Skripsi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.