1. Pendahuluan
Manajemen komunikasi adalah komponen penting dari manajemen proyek yang mendefinisikan proses yang diperlukan dari perencanaan, mengumpulkan, mendistribusikan dan mengambil informasi proyek di antara para peserta proyek (PMI 2013). Dalam konteks proyek, dikutip dari Caltrans Project Management Handbook (2007), berkomunikasi berarti bertukar dan mempertegas informasi dan data yang berhubungan dengan proyek untuk menciptakan saling pemahaman antara pihak yang terlibat di proyek. Banyak studi menegaskan bahwa komunikasi memainkan peran utama bagi sebuah proyek, sementara komunikasi yang efektif adalah faktor esensi bagi kesuksesan proyek (Zulch 2014).
Dalam konteks proyek konstruksi, Muszyńska et al. (2015), dikutip dari Peli et al. (2022) mengindikasikan bahwa manajemen komunikasi merupakan bidang pengetahuan utama bagi seorang menejer proyek dan menejer konstruksi. Pengetahuan ini membantu orangorang dengan kemahiran teknikal yang tinggi untuk dapat mencapai tujuan proyek konstruksi (Aulich 2013).
Masalah komunikasi yang efektif di proyek konstruksi masih terus menjadi tantangan tersendiri. Kajian Harsian (2021) menemukan bahwa hambatan komunikasi di proyek konstruksi bisa datang dari berbagai faktor seperti faktor internal, eksternal dan teknis, faktor pengetahuan dan dokumen proyek serta faktor sosiokultural. Berbagai konflik di proyek konstruksi lahir akibat dari tidak terciptanya komunikasi efektif antar pihak yang terlibat di proyek tersebut. Indikasi ketidakharmonisan komunikasi ini termuat pada laporan kepuasan masyarakat yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Sumatera Barat tahun 2020 (DPUPR 2020). Manajemen komunikasi dianggap hal yang asing dan tidak menentukan kelancaran proyek konstruksi. Banyak yang masih berpegang pada konsep bahwa kemampuan teknikal jauh lebih penting dan menentukan keberhasilan proyek.
Bisnis konstruksi merupakan industri yang dinamis dengan banyak pemangku kepentingan yang terlibat. Informasi proyek yang dikomunikasikan dengan baik akan membantu meningkatkan kinerja proyek dalam hal biaya, waktu, kualitas, keberlanjutan, dan kenyamanan (Olanrewaju et al. 2017). Sebaliknya, komunikasi yang efektif dalam konstruksi sangat terhambat oleh kurangnya saluran data yang memadai, saluran yang tidak mencukupi dan transfer data yang tidak dapat diandalkan (Subramaniam et al. 2020). Oleh karena itu, sangat penting untuk membangun saluran komunikasi di industri konstruksi untuk mempercepat dan memudahkan proses komunikasi.
Berbagai studi berkaitan manajemen komunikasi di proyek konstruksi sudah dijalankan. Untuk memperkecil hambatan komunikasi terkait kinerja proyek, seperti Perumal dan Bakar (2011) dan Hoezen et al. (2006) yang mengidentifikasi praktik manajemen komunikasi yang tepat dalam industri konstruksi. Hoezen et al. (2006) lebih lanjut menyarankan bahwa proses komunikasi masih jauh dari optimal sebagaimana tujuannya dan karenanya dibutuhkan perbaikan untuk mengurangi penundaan dan biaya yang lebih rendah dalam proyek konstruksi. Sementara itu Subramaniam dkk (2020) mengidentifikasi kegagalan manajemen komunikasi di proyek konstruksi Malaysia. Mereka menemukan bahwa kegagalan tersebut disebabkan kurangnya kerjasama antara pihak yang terlibat yang disebabkan oleh komunikasi yang buruk.
Berbagai penelitian telah dilakukan yang berfokus pada dampak manajemen komunikasi terhadap hasil proyek (Ogwaueleka, 2011; Garbharran et al. 2012; Ofori, 2013). Dari tinjauan literatur, dapat disimpulkan bahwa ada konsensus terbatas dari beberapa penulis tentang praktik manajemen komunikasi. Selain itu, belum ada konsensus tentang definisi dan pengukuran praktik komunikasi yang mengarah pada pengabaian konsep penelitian. Namun, Craig (2006) mendefenisikan komunikasi sebagai suatu praktik, yang padanannya dalam beberapa ungkapan lain digunakan untuk merujuk pada berbagai kegiatan yang melibatkan berbicara dan mendengarkan, menulis dan membaca, melakukan dan menyaksikan, atau lebih umum, melakukan apapun yang melibatkan "pesan" dalam media. Mempertimbangkan pandangan ini, empat praktik manajemen komunikasi diidentifikasi yang terkait dengan hasil proyek, diantaranya adalah; teknologi informasi komunikasi (TIK), keterampilan dan kompetensi komunikasi (KKK), rencana manajemen komunikasi (RMK) dan kerja tim (KJT) (Khanyile et al. 2019).
Berkaitan dengan hal diatas, konsep hubungan antara praktik manajemen konstruksi dengan hasil proyek (project outcome) belum sepenuhnya tereksplorasi khususnya pada perusahaan konstruksi skala kecil dan menengah di negara berkembang seperti Indonesia. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menentukan praktik manajemen komunikasi mana yang berhubungan dengan project outcome. Urgensi penelitian ini bukan hanya mempertimbangkan limitasi penelitian sebelumnya, tetapi juga untuk membuktikan pentingnya menerapkan praktik manajemen komunikasi yang berkorelasi dengan hasil proyek yang baik.
2. Kajian Literatur
Dari beberapa kajian yang menitikberatkan pada dampak manajemen komunikasi di proyek konstruksi
terhadap hasil proyek, diantaranya lebih menekankan kepada penggunaan TIK untuk mengatasi kekurangan informasi dan komunikasi dalam proyek konstruksi (Chassiakos 2007). Teknologi memfasilitasi komunikasi dan interaksi diantara peserta proyek yang dapat meningkatkan produktivitas Pietroforte (2010). Hijiazi et al. (2008) lebih lanjut menambahkan bahwa pindah dari "paperless" desain dalam industri konstruksi penting untuk menghemat waktu dan biaya. Sejalan dengan itu, Peansupap dan Walker (2005) menjelaskan bahwa teknologi memberikan manfaat selama fase desain, konstruksi, dan operasi dari siklus hidup proyek.
Selain fokus pada penggunaan TIK, kajian juga diberikan pada aspek keterampilan komunikasi. Menurut Zulch (2014), keterampilan komunikasi sangat penting untuk menginformasikan kepada stakeholder melalui penyebaran informasi yang tepat waktu untuk pengelolaan proyek yang efisien. Aiyewalehinmi (2013) mengungkapkan bahwa pelatihan komunikasi lapangan bagi peserta proyek diperlukan untuk memastikan keberhasilan proyek konstruksi. Menurut Kliem (2008), kemampuan berkomunikasi adalah kompetensi penting yang harus dimiliki oleh manajer proyek untuk mengharapkan hasil proyek yang sukses. Penelitian terbaru tentang komunikasi efektif di proyek konstruksi di Sumatera Barat, menjelaskan bahwa faktor penentunya bersumber dari individual dan organisasi kerja, kejelasan informasi dan tanggung jawab, dan lingkungan kerja dan teknologi (Peli et al. 2022).
Rencana manajemen komunikasi adalah salah satu aspek dalam manajemen komunikasi proyek (PMI, 2013). Garbharran et al. (2012) menganjurkan perlunya RMK untuk aliran informasi proyek yang tepat waktu kepada pihak-pihak di proyek selama proyek berlangsung. Culo dan Skendrović (2010) menekankan bahwa RMK memberikan dampak yang baik pada proyek. Tipili et al. (2014) berkesimpulan bahwa RMK yang ditetapkan di awal proyek, secara substansial meningkatkan kinerja proyek. Lebih lanjut penulis tersebut menekankan bahwa tinjauan rutin terhadap RMK dapat mengurangi gangguan dalam pelaksanaan proyek dan dapat meningkatkan kinerja proyek. Gunasekaran dan Morteza (2016) membuktikan bahwa RMK yang dibuat dengan baik tidak hanya mengurangi kemungkinan kegagalan proyek konstruksi tetapi juga menambah nilai pada proses pengambilan keputusan selama siklus hidup proyek.
Keberhasilan sebuah proyek membutuhkan kerja tim dan kolaborasi antara pihak yang terlibat (Molwus 2014), dan untuk mencapai keberhasilan proyek, kerjasama tim membutuhkan komunikasi yang baik (Khoshtale dan Adeli 2016). Kerja tim yang efektif yang mengembangkan dan mempromosikan komunikasi yang terbuka dan jelas juga meningkatkan moral dan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya mengarah pada penghematan waktu dan biaya (Mungeria 2012). Tipili et al. (2014) menegaskan bahwa komunikasi yang berkelanjutan antara pemangku kepentingan proyek meningkatkan hasil proyek. Apabila manajemen tim dikelola tepat waktu berdampak baik bagi hasil proyek (Naqvi et al. 2011).
Implementasi praktik komunikasi yang efisien secara eksplisit menghasilkan kriteria keberhasilan proyek yang positif karena memiliki saling ketergantungan yang sangat rapat. Keberhasilan proyek dari sisi pengelola adalah dapat menyelesaikan proyek tepat waktu, sesuai anggaran yang disetujui, serta standar dan spesifikasi kualitas yang ditetapkan dengan baik (Ofori 2013; Khoshtale dan Adeli, 2016). Namun, untuk menentukan apakah suatu proyek berhasil atau gagal tidaklah mudah (Prabhakar, 2008). Yong dan Mustaffa (2015) mengklarifikasi bahwa kompleksitas tersebut disebabkan oleh penemuan-penemuan baru seperti aspek kesehatan dan keselamatan, lingkungan, keberlanjutan dan kinerja teknis yang juga digunakan sebagai ukuran yang semakin penting.
Namun menurut Winch (2010) dan Molwus (2014), indikator kinerja di atas hanya melihat keberhasilan proyek dari aspek penjelasan dan masalah perencanaan saja, tapi meniadakan perpedaan kepentingan dari stakeholder proyek. Molwus (2014) menjelaskan bahwa keberhasilan proyek konstruksi adalah ketika hasil proyek (aset yang terealisasi) telah sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan klien pada saat realisasi. Untuk tujuan penelitian ini, indikator hasil proyek dilihat dari lima aspek yang dijelaskan yaitu: (1) skop pekerjaan, (2) waktu, (3) biaya, (4) keselamatan proyek, dan (5) kualitas proyek.
3. Metode Penelitian
3.1 Pendekatan dan instrumen penelitian
Untuk menjawab tujuan penelitian, kajian ini mengadopsi pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif untuk menguji teori dengan cara mempelajari hubungan antar variabel untuk diukur agar dapat dianalisis berdasarkan pada prosedur-prosedur statistik (Creswell, 2014). Untuk itu, kuisioner terstruktur telah digunakan bagi mendapatkan data praktik manajemen komunikasi dan keberhasilan proyek. Kuisioner penelitian dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama mengandung pertanyaan tentang profil responden. Pada bagian kedua, pertanyaan kuisioner diarahkan untuk mendapatkan tanggapan responden terhadap variabel praktik manajemen komunikasi yang berhubungan dengan hasil proyek konstruksi. Untuk mengukurnya digunakan skala Likert 1-5, dimana 1 mengindikasikan sangat tidak setuju sementara 5 menunjukkan sangat setuju.
Responden penelitian ini adalah kontraktor dan konsultan proyek konstruksi yang tersebar di propinsi Sumatera Barat (Sumbar). Data awal responden diperoleh dari daftar anggota Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Sumbar, Persatuan Konsultan Indonesia (Perkindo) Sumbar, Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Sumbar dan Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Sumbar. Kuisioner diedarkan secara online melalui email dan whatsapp grup dengan membagikan hyperlink survei. Metode snowball digunakan utuk mendapatkan responden sebanyak mungkin, yaitu dengan meminta responden meneruskan
hyperlink kuisioner kepada rekan seprofesi. Total 209 sampel berhasil diterima melalui cara ini. Profil demografi responden ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Profil responden
| Profil | Jumlah | % | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Organisasi/Institusi: | ||||||
| a. Konsultan | 122 | 58,37 | ||||
| b. Kontraktor | 87 | 41,63 | ||||
| Posisi/Jabatan: | ||||||
| a. Direktur/Direksi | 27 | 12,92 | ||||
| b. Menejer Proyek | 35 | 16,75 | ||||
| c. Site Engineer | 31 | 14,83 | ||||
| d. Arsitek | 47 | 22,49 | ||||
| e. Quantity Surveyor | 23 | 11,00 | ||||
| f. Kepala/Staf K3 Proyek | 20 | 9,57 | ||||
| g. Supervisor | 26 | 12,44 | ||||
| Usia: | ||||||
| a. 21 – 30 tahun | 41 | 19,62 | ||||
| b. 31 – 40 tahun | 78 | 37,32 | ||||
| c. 41 – 50 tahun | 51 | 24,40 | ||||
| d. 51 – 60 tahun | 39 | 18,66 | ||||
| Jenis Kelamin: | ||||||
| a. Pria | 166 | 79,43 | ||||
| b. Wanita | 43 | 20,57 | ||||
| Pendidikan: | ||||||
| a. Diploma / S1 | 155 | 74,16 | ||||
| b. S1/S2/S3 | 54 | 25,84 | ||||
| Pengalaman industri: | ||||||
| a. < 5 tahun | 29 | 13,88 | ||||
| b. 6 – 10 tahun | 50 | 23,92 | ||||
| c. 11 – 15 tahun | 58 | 27,75 | ||||
| d. 16 – 20 tahun | 47 | 22,49 | ||||
| e. > 20 tahun | 25 | 11,96 | ||||
3.2 Analisis data
Data penelitian dianalisis menggunakan Principle Axis Factoring (PAF). PAF digunakan untuk mengembangkan skala dan ukuran untuk mengidentifikasi struktur yang mendasarinya (Pallant 2013). Manfaat menggunakan PAF adalah memverifikasi secara konseptual setiap konstruk dan memeriksa apakah ada lebih dari satu faktor dan apakah faktor tersebut mewakili konstruk masingmasing yang mendasarinya (Ngure et al. 2015). Analisis faktor ini dilakukan dengan melihat kecukupan dan ketepatan sampel melalui uji Kaiser-Meyer- Olkin (KMO) dan Bartlett test of sphericity. Kecukupan sampel diindikasikan oleh skor KMO di atas 0,5 sementara uji Bartlett menunjukkan signifikansi lebih kecil dari 0,05 (Hair dkk., 2010).
Seterusnya analisis korelasi digunakan untuk menggambarkan kekuatan dan arah hubungan linier antara dua variabel. Analsisi korelasi Spearman (nonparametrik) dimasukkan karena ukuran skala ordinal (peringkat) digunakan untuk survei. Tingkat signifikansi konklusif berada pada nilai p kurang dari 0,05. Untuk mengukur keandalan dan konsistensi masing-masing faktor, skor Cronbach's coefficient alpha disarankan di atas 0,7 atau lebih (Pallant, 2013).
4. Hasil dan Pembahasan
Hasil PAF menyajikan analisis factor loading yang diperoleh dari skor variabel sampel tentang persepsi
praktik manajemen komunikasi dan hasil proyek pada proyek konstruksi. Hasilnya ditunjukkan pada Tabel 2.
Faktor TIK mengandung lima item dengan nilai komunalitas semua variabel menunjukkan skor 1.00. Nilai KMO ditemukan 0,747 sementara hasil Uji Barlett dari Sphericity signifikan pada P < 0,05. Hanya ada satu kriteria dengan nilai Eigen lebih dari 1 dari hasil rotasi varimax yang berarti semua item berada pada satu faktor. Faktor TIK mampu menjelaskan varian sebesar 55,19%. Skor Cronbach alpha untuk faktor ini adalah 0.78 yang menunjukkan level reliabilitas yang relatif baik.
Faktor KKK terdiri dari lima variabel. Nilai komunalitas semua variabel menunjukkan nilai 1,00. Skor KMO dan Uji Barlett masing-masingnya adalah 0,782 dan signifikansi kecil dari 0,05. Hanya satu kriteria yang memiliki nilai Eigen lebih dari 1. Rotasi varimax tidak menunjukkan solusi, menunjukkan bahwa semua item dimuat pada satu faktor. Faktor KKK mampu menjelaskan varian sebesar 52,29%. Skor Cronbach Alpha untuk faktor ini adalah 0,84 yang menunjukkan tingkat keandalan yang sangat baik.
Faktor RMK disusun oleh empat variabel. Nilai komunalitas semua variabel juga menunjukkan nilai 1.00. Skor KMO ditemukan 0,741 sementara nilai uji Barlett Sphericity signifikan pada P < 0,05. Hanya satu faktor yang terbentuk sesuai dengan skor Eigen besar dari 1 setelah rotasi varimax. Proporsi yang dijelaskan oleh faktor RMK sebesar 50,91%. Skor Cronbach alpha untuk faktor ini adalah 0,68 yang menunjukkan level reliabilitas yang cukup dan masih dapat diterima.
Pada faktor KJT yang terdiri dari empat variabel, nilai kecukupan sampel mengindikasikan hubungan yang memadai di atas 0.60 dan semua item memiliki nilai komunalitis 1,00. Nilai KMO menampilkan 0,685 sementara skor uji Barlett memiliki signifikan pada P < 0,05. Nilai Eigen menguatkan hanya untuk satu faktor setelah dilakukan rotasi. Faktor KKK mampu menjelaskan varian sebesar 49,57%. Tingkat keandalan faktor ini adalah baik pada skor Cronbach alpha 0,71.
Faktor HP terdiri dari lima variabel dengan skor komunalitas sama dengan 1,0 untuk semua variabel. Nilai KMO dan uji Barlett menunjukkan skor masingmasing adalah 0,799 dan 0,00. Kriteria nilai Eigen mengindikasikan hanya 1 faktor setelah dilakukan rotasi. Faktor ini mampu menjelaskan varian sebesar 56,36%. Sementara itu untuk tingkat keandalan faktor ditunjukkan oleh skor Cronbach alpha 0,87 yang berarti sangat baik.
Untuk melihat hubungan antara praktik manajemen komunikasi dengan hasil proyek maka digunakan analisis korelasi rengking Spearman. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa ada korelasi positif yang signifikan antara tiga faktor PMK dengan HP yaitu faktor TIK, KKK dan KJT. Sebaliknya pada faktor RMK tidak terdapat korelasi dengan HP.
Tabel 2. Hasil PAF
| Faktor dan variabel | Factor loading | Eigenvalue | Variance (%) | Cronbach alpha |
|---|---|---|---|---|
| 1. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) | ||||
| 1.1 Ketersediaan internet yang konsisten | 0,710 | |||
| 1.2 Penggunaan aplikasi Computer Aided Design | 0,703 | 5.000 | 55.40 | 0.70 |
| 1.3 Penggunaan aplikasi manajemen proyek | 0,692 | 5,630 | 55,19 | 0,78 |
| 1.4 Penggunaan media komunikasi sosisal (sep. WhatsApp) | 0,622 | |||
| 1.5 Penggunaan fasilitas video conference | 0,579 | |||
| 2. Keterampilan dan Kompetensi Komunikasi (KKK) | ||||
| 2.1 Komunikasi verbal yang sangat baik antar pihak di proyek | 0,718 | |||
| 2.2 Keterampilan mendengar dari anggota tim proyek | 0,626 | |||
| 2.3 Penggunaan TIK yang efektif antar pihak di proyek | 0,551 | 3,774 | 52,29 | 0,84 |
| 2.4 Pengkomunikasian pemahaman terhadap aspek kontraktual | 0,529 | |||
| 2.5 Komunikasi tulisan yang sangat baik antar pihak di proyek | 0,506 | |||
| . Rencana Manajemen Komunikasi (RMK) | ||||
| 3.1 Setiap personel memiliki tanggung jawab atas informasi yang | 0,665 | |||
| mereka kirim | ||||
| 3.2 Ada saluran penyampaian informasi yang jelas dalam organisasi | 0,606 | 2,662 | 49,57 | 0,68 |
| 3.3 Teknologi komunikasi dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi | 0,579 | |||
| 3.4 Penerima informasi diidentifikasi dengan jelas | 0,545 | |||
| . Kerja Tim (KJT) | ||||
| 4.1 Kerjasama antar unit yang kuat dalam proyek menciptakan | 0,703 | |||
| komunikasi yang efisien | ||||
| 4.2 Upaya kerja tim untuk meningkatkan kualitas komunikasi 4.3 | 0,622 | 4,012 | 50,91 | 0,71 |
| Hubungan kerja yang kondusif antar pihak di proyek | 0,597 | ., | , | -, |
| 4.3 Komunikasi dan koordinasi yang efektif antar pihak di proyek | 0,517 | |||
| berjalan baik | ||||
| Hasil Proyek (HP) | ||||
| 1 Proyek selesai pada waktunya | 0,779 | |||
| 2 Skop pekerjaan telah tercapai | 0,704 | 56,36 | 0,87 | |
| 3 Proyek sesuai dengan anggaran yang disetujui | 0,659 | 5,942 | ||
| 4 Kualitas proyek sesuai dengan spesifikasi | 0,511 | |||
| 5 Tingkat risiko kecelakaan di proyek rendah | 0,502 |
Tabel 3. Korelasi PMK dengan HP
| Faktor | Sig. (2-tailed) | Koefisien korelasi |
|---|---|---|
| TIK | 0,012 | 0,295 |
| KKK | 0,048 | 0,225 |
| RMK | 0,185 | 0,084 |
| KJT | 0,019 | 0,265 |
Faktor TIK berkorelasi positif yang kuat dengan HP didukung oleh studi Muszyńska (2015) tentang pentingnya manajemen komunikasi dalam tim proyek yang dikategorikan sebagai informasional. Pada kategori ini ditunjukkan oleh pusat pengetahuan bersama berupa portal web, grup-grup virtual, aplikasi pelacakan proyek, instant messenger, email dan sebagainya. Para pelaku jasa konstruksi di propinsi Sumatera Barat (Sumbar) sudah cukup lama mengadopsi kemajuan TIK untuk mendukung komunikasi di proyek.
Komunikasi sering dilakukan melalui grup WA sudah pertemuan-pertemuan mulai menggunakan aplikasi Zoom meeting dan Google meet. Untuk komunikasi visual, aplikasi CAD penjadwalan proyek (Microsoft Project) mudah dibaca dan dipahami oleh semua pihak yang terlibat di proyek. Hal yang sama juga teridentifikasi dari kajian Khanyile et al. (2019).
Faktor KKK juga menunjukkan hubungan yang positif yang relatif kuat dengan HP. Banyak kajian
membuktikan bahwa aspek keterampilan berkomunikasi berperan penting pada kesuksesan sebuah proyek konstruksi. Bakhtiyar, et al. (2012) dan Ceric (2014) dalam Harsian (2021) mengemukakan bahwa koordinasi dan komunikasi merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlambatan proyek konstruksi, dan juga berakibat pada penambahan biaya akibat pengulangan pekerjaan (Chundawan dan Alifen, 2018). Pelaku jasa konstruksi di Sumbar menyadari bahwa kemampuan teknis harus didukung oleh keterampilan berkomunikasi baik komunikasi secara verbal maupun tertulis. Tidak kalah pentingnya adalah kemampuan mendengar dan literasi penggunaan TIK dalam komunikasi proyek.
Faktor KJT juga menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan HP. Pada proyek konstruksi, tim proyek adalah multi disiplin baik secara pengetahuan, keahlian maupun organisasi (Davis et al. 2001). Kerjasama yang baik antar unit di proyek melahirkan komunikasi efektif yang berdampak pada peningkatan hasil proyek (Tipili et al. 2014). Komunikasi yang jelas dan terbuka antar pihak di proyek mampu meningkatkan kinerja proyek secara keseluruhan. Penugasan dan distribusi tugas yang tidak baik mempengaruhi hubungan antara anggota tim (Harsian 2021). Praktisi konstruksi di Sumbar meyakini bahwa inti dari seluruh aspek manajemen proyek adalah kerjasama tim yang didukung oleh kemampuan komunikasi yang baik disamping kemampuan teknikal.
Sebaliknya penelitian ini mendapati bahwa Faktor RMK tidak berkorelasi dengan HS. Hasil ini bertolak belakang dari kajian yang dilakukan oleh Khanyile et al. (2019). Rencana manajamen komunikasi tidak terlalu populer dalam manajemen proyek konstruksi di Sumbar, bahkan secara umum di Indonesia. Walaupun secara implisit sebagian aktivitas dalam elemen manajemen komunikasi proyek sudah dilaksanakan, namun sejauh ini belum dibakukan atau menjadi standar yang diikuti bersama. Belum ada bakuan tentang tanggungjawab siapa untuk mengirimkan informasi tertentu, apa saluran komunikasi yang harus digunakan, siapa saja yang berhak menerima informasi dan seterusnya. Oleh sebab itu cukup dapat diterima bahwa menurut responden penelitian ini, RMK tidak memiliki hubungan dengan hasil proyek.
5. Kesimpulan
- 1. Proyek konstruksi merupakan suatu aliran dari rangkaian kegiatan yang tidak berulang. Pada praktiknya, terjadi interaksi dalam bentuk pertukaran informasi secara timbal balik antar pihak yang terlibat. Praktik manajemen komunikasi di proyek konstruksi diyakini berkorelasi dengan hasil proyek (project outcome). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan korelasi tersebut dari empat unsur yaitu (1) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), (2) Kemahiran dan Kompetensi Komunikasi (KKK), (3) Rencana Manajemen Komunikasi (RMK) dan (4) Kerja Tim (KJT).
- 2. Penelitian ini mendapati bahwa ada korelasi positif yang relatif kuat antara faktor TIK, KKK dan KJT dengan hasil proyek (HP). Faktor TIK mencerminkan litrasi para praktisi konstruksi dalam penggunaan internet, aplikasi pendukung desain dan manajemen proyek serta aplikasi komunikasi sosial untuk keperluan proyek konstruksi. Berkaitan dengan faktor KKK, praktisi konsruksi di Sumbar percaya bahwa elemen ini memiliki pengaruh yang besar dalam keberhasilan pelaksanaan pekerjaan khususnya di lapangan. Sementa faktor KJT tidak diragukan lagi untuk keberhasilan pekerjaan dengan karakteristik multi disiplin, multi stakeholder dan penglibatan tenaga kerja yang banyak seperti proyek konstruksi. Sebaliknya, faktor RMK belum menjadi faktor yang memiliki korelasi dalam HP menurut praktisi konstruksi di Sumbar.
- 3. Penelitian ini hanya melibatkan stakeholder yang kecil (kontraktor dan konsultan konstruksi) di Sumbar. Selain dari itu, masih ada beberapa unsur praktik manajemen komunikasi yang belum disinggung seperti kanal-kanal dalam struktur organisasi, manajemen kerangka acuan proyek, manjemen kerangka acuan risiko serta hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Untuk kelanjutan penelitian berikutnya dimasa yang akan datang, penelitian ini merekomendasikan penglibatan stakeholder yang lebih luas sebagai responden penelitian agar mendapatkan respon yang lebih beragam. Penelitian ini juga mendukung agar praktik manajemen komunikasi yang lain juga dikaji
sehingga diketahui faktor PMK apa saja yang berkaitan dengan hasil proyek.
Penghargaan
Penelitian ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bung Hatta, melalui Mata Anggaran No. 11.2.13.03.2022. Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua responden yang membuat penelitian ini terlaksana dengan baik.
