1. Pendahuluan
Fenomena likuefaksi yang terjadi di Palu akibat Gempa Palu Donggala pada tahun 2018 merupakan salah satu bencana alam yang mendapatkan perhatian khusus dari pihak nasional maupun internasional. Hal tersebut disebabkan karena fenomena likuefaksi khususnya fenomena likuefaksi alir berhasil mengakibatkan kerusakan infrastruktur maupun perumahan dalam skala besar seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1.
Menurut Jefferies dan Been (2006), likuefaksi alir dapat terjadi pada tanah pasir lepas dan lanau pada kondisi jenuh ataupun mendekati jenuh. Likuefaksi alir yang memicu kegagalan struktur tanah umumnya diakibatkan oleh perilaku strain softening pada material tanah. Bentuk kegagalan tersebut dapat berupa longsoran maupun aliran yang penyebabnya sangat bergantung terhadap karakteristik dari material tanah dan geometri permukaan tanah.
* Penulis Korespondensi: albert.johan83@gmail.com

Gambar 1. Fenomena likuefaksi di Palu (Sumber : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan, 2018)
Ketika suatu material tanah mengalami likuefaksi dan mengalami tegangan geser yang lebih besar dibandingkan kuat geser residual, maka hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya likuefaksi yang berbentuk aliran fluida non Newtonian yang merupakan fungsi dari nilai kuat geser residual dan nilai viskositas (Hamada dan Wakamatsu, 2004).
Mengacu kepada hal tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk menambah kajian yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini memiliki tinjauan pada Desa Sibalaya yang merupakan area terdampak peristiwa flow liquefaction. Fokus kajian penelitian ini ialah untuk membahas perilaku material tanah Desa Sibalaya ketika dalam kondisi terlikuifaksi dan mencari besaran nilai viskositas ketika material tanah dalam kondisi terlikuefaksi dengan menggunakan piezocone.
2. Studi Literatur
Berikut di bawah ialah studi literatur yang dilakukan untuk menunjang kajian mengenai likuefaksi dan viskositas material tanah ketika dalam kondisi terlikuefaksi.
2.1 Studi terdahulu mengenai likuefaksi
Wu et al. (2004) menyampaikan bahwa tekanan air pori ekses berperan penting dalam kajian mengenai mekanisme dari likuefaksi perihal informasi tersebut
digunakan untuk menentukan nilai ratio tekanan air pori ekses yang menunjukkan suatu material tanah telah mengalami likuefaksi. Ishihara (1993) menyatakan bahwa ratio tekanan air pori ekses pada tanah pasir kelanauan atau lanau kepasiran yang mengandung partikel butiran halus tidak dapat menggenerasi tekanan air pori secara keseluruhan, namun hanya dapat mencapai 90 - 95% dari tegangan vertikal efektif initial (σv').
2.2 Studi terdahulu mengenai efek Viscous pada penetrasi Shaft
Mahajan dan Budhu (2006) menyatakan bahwa ketika suatu rigid shaft mengalami penetrasi pada tanah butir halus, tanah yang terletak pada area ujung konus akan mengalami tegangan yang tinggi dan akan berada dalam kondisi failure, sehingga tanah tersebut akan mengalir melalui sekeliling permukaan shaft selama penetrasi berlangsung (Gambar 2).
Menurut Marsland dan Quarterman (1982), hubungan antara resistensi penetrasi shaft dan rate penetrasi bergantung terhadap hubungan tegangan regangan dan sifat viscous dari material tanah. Pada saat penetrasi terjadi, tanah pada sekeliling shaft akan mengalir dalam kondisi volume konstan (critical state) dan parameter viskositas berperan dalam menentukan resistensi terhadap kondisi viscous tersebut. Aliran

Gambar 2. Kondisi tanah pada area ujung konus (Mahajan dan Budhu, 2006)
tanah yang berada dalam kondisi critical state serupa dengan aliran yang memiliki nilai yield stress, sehingga pada kasus ini nilai kuat geser residual tanah saat kondisi critical state ialah sama dengan nilai yield stress. Ketika tegangan geser yang terjadi pada suatu material tanah lebih besar dari kuat geser residual tanah saat kondisi critical state, maka tanah akan mengalir dalam kondisi critical state.
Mahajan dan Budhu (2006) menyampaikan bahwa pergerakan aksial dari suatu shaft dengan radius, r<sub>0</sub>, dalam kondisi viscous, menghasilkan total tegangan resistensi selimut (τ) yang terdiri dari komponen statik / komponen CS shear stress (τ<sub>cs</sub>) yang independen terhadap rate penetrasi dan komponen viscous \((\tau_v)\) yang bergantung terhadap rate penetrasi seperti yang disajikan pada Persamaan 1 dan Persamaan 2.
\[\tau = \tau_{cs} + \tau_{v} \tag{1}\]
\[\tau = \tau_{cs} + \eta \, (du/dr) \tag{2}\]
Komponen viscous sangat bergantung terhadap rate dari kecepatan penetrasi. Jika shaft berada dalam kondisi diam (rate penetrasi = 0), maka resistensi viscous tidak bekerja sehingga praktis total resistensi selimut hanya terdiri dari komponen statik. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka gaya-gaya yang bekerja pada saat penetrasi shaft dan profil kecepatan pada saat penetrasi shaft dapat dilihat pada Gambar 3.
Sehubungan dengan saat pengujian piezocone, penetrasi konus akan mengakibatkan tanah yang berada di sekeliling konus akan berada dalam kondisi viscous, maka pendekatan nilai viskositas dapat didapatkan melalui pengujian piezocone. Menurut Mahajan dan Budhu (2006), friksi yang terjadi pada saat pengujian sondir terdiri dari friksi selimut dalam kondisi statik (fss) dan friksi selimut dalam kondisi viscous (fsv) seperti yang dapat dilihat pada pada Persamaan 3.
\[f_s = f_{ss} + f_{sv} \tag{3}\]
Dikarenakan friksi selimut kondisi viscous sangat bergantung terhadap parameter viskositas (η), rate penetrasi (V<sub>z</sub>), zona area critical state (β<sub>o</sub>), dan keliling piezocone (πD), maka parameter friksi selimut dalam kondisi viscous (\(f_{sv}\)) dapat dilihat pada Persamaan 4.
\[f_{sv} = \frac{2 \pi \eta \, V_{z \beta_0}}{\pi D} \tag{4}\]
Pada perhitungan parameter friksi selimut dalam kondisi viscous (f<sub>sv</sub>), peran ukuran dari zona area critical state sangat bergantung terhadap parameter λ<sub>0</sub> yang merupakan parameter input dalam perhitungan parameter \(\beta_0\). Formula dari parameter \(\lambda_0\) dan \(\beta_0\) dapat dilihat pada Persamaan 5 dan Persamaan 6.
\[\lambda_0 = \frac{R_0}{r_0} \tag{5}\]
\[\beta_0 = \frac{{\lambda_0}^4 - 4{\lambda_0}^2 + 4\ln{\lambda_0} + 3}{1 - {\lambda_0}^2 - 1 - {\lambda_0}^2 - \ln{\lambda_0} - 1 - 2\ln{\lambda_0}}\](6)
Berdasarkan hubungan antara \(\lambda_0\) dan \(\beta_0\) (Gambar 4) diketahui bahwa \(\lambda_0 < 4\) akan menghasilkan perubahan resistensi viscous yang signifikan, sedangkan \(\lambda_0 > 4\)tidak secara signifikan berdampak terhadap resistensi viscous. Secara umum, semakin besar zona area critical state, maka nilai \(\beta_0\) akan semakin rendah sehingga resistensi viscous juga akan semakin tinggi.

Gambar 3. Gaya yang bekerja dan profil kecepatan pada saat penetrasi shaft (Mahajan dan Budhu, 2006)

Gambar 4. Hubungan zona area critical state (λo) terhadap parameter βo (Mahajan dan Budhu, 2006)
Cooke dan Price (1973) melakukan pengujian load test dengan menggunakan instrumented pile pada material London Clay dan menemukan bahwa pergerakan tanah (yang diduga sebagai CS Zone) di sekeliling shaft terjadi sekitar 4 kali dari radius shaft. Randolph et al. (1979) mengasumsi bahwa penetrasi shaft dapat dimodelkan plane strain dalam kondisi undrained expansion dengan menggunakan model Cam Clay. Dari kajian tersebut, didapatkan bahwa zona area critical state (λ0) bernilai 5 untuk tanah normally consolidated dan bernilai 4 untuk tanah over consolidated (OCR=8).
2.3 Studi terdahulu mengenai shake table
Pengujian dengan menggunakan skala model untuk mempelajari kondisi prototype merupakan suatu hal yang penting ketika hendak mempelajari suatu kasus yang kompleks. Bojadjieva et al. (2015) menyatakan bahwa penelitian mengenai pemodelan studi seismik dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu yang dilakukan pada kondisi gravitasi bumi (umumnya disebut sebagai pengujian shake table atau pengujian 1-g) dan yang dilakukan pada kondisi gravitasi yang lebih tinggi (pengujian centrifuge atau pengujian multi-g). Menurut Jafarzadeh (2004), penggunaan shake table memiliki beberapa keuntungan seperti : amplitudo yang terkontrol, gerakan input dapat dilakukan pada multisumbu, dan lebih mudah dalam pada tahap pengukuran.
2.4 Studi terdahulu mengenai calibration chamber
Seiring dengan perkembangan waktu, telah dilakukan pembuatan dan penelitian menggunakan calibration chamber oleh berbagai pihak. Calibration chamber memiliki kemampuan untuk memodelkan kondisi lapangan dengan cara memberikan tegangan vertikal dan tegangan horizontal pada sampel tanah. Dengan kemampuan calibration chamber dalam pemodelan kondisi lapangan, perlu diperhatikan bahwa ukuran chamber dan boundary condition merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan perihal dapat menyebabkan ketidaktelitian pada output yang di dapat. Jamiolkowski et.al. (1985) mengusulkan limitasi dalam pemodelan kondisi lapangan pada calibration chamber dapat dilakukan 4 pendekatan seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5.
Parkin (1988) menyatakan bahwa dari keempat limitasi tersebut, limitasi BC1 dan BC3 merupakan limitasi

Gambar 5. Limitasi pada pemodelan calibration chamber (Jamiolkowski et al., 1985)
yang umumnya digunakan pada penelitian yang menggunakan calibration chamber.
2.5 Studi terdahulu mengenai persiapan sampel butiran kasar
Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui bahwa terdapat 4 metode dalam persiapan sampel tanah pasir yaitu dengan menggunakan tamping, getaran, konsolidasi, dan pluviation. Dari keempat metode tersebut, metode pluviation adalah metode yang paling umum digunakan. Namun, menurut Rahardjo (1989), penggunaan metode pluviation kurang cocok pada sampel pasir kelanauan karena sampel tanah butiran halus dapat menyumbat lubang saringan sehingga mengakibatkan sampel tanah yang tersisa menumpuk pada saringan. Kelembaban dari udara cenderung membuat butiran tanah untuk melekat menjadi gumpalan yang kemudian gumpalan tersebut menjadi melekat pada peralatan laboratorium yang digunakan.
Rahardjo (1989) mengusulkan metode persiapan sampel pasir kelanauan dapat menggunakan metode slurry dengan cara mengkonsolidasikan material pasir kelanauan tersebut. Kondisi di alam, material tanah aluvial telah mengalami proses pengendapan dan telah terkonsolidasi selama beberapa tahun. Proses alami ini dapat disimulasikan di laboratorium dengan cara mengkonsolidasikan material pasir kelanauan tersebut dalam bentuk slurry. Metode slurry juga dapat menghasilkan suatu material sampel tanah dengan tingkat saturasi yang tinggi. Kekurangan dari metode slurry ialah metode pekerjaannya tidak dapat diotomatisasi seperti pluviator dan memerlukan waktu yang untuk proses konsolidasi.
3. Metode Penelitian
Untuk menunjang studi eksperimental yang akan dilakukan pada penelitian ini, maka berikut di bawah ialah penjelasan terkait metode penelitian yang dilakukan.
3.1 Pengambilan sampel tanah penelitian
Pengambilan sampel tanah dilaksanakan pada area terdampak likuefaksi alir di Desa Sibalaya. Lokasi titik pengambilan sampel tanah dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Lokasi titik pengambilan sampel pada area terdampak likuefaksi alir di desa Sibalaya
Sehubungan dengan pengambilan sampel tanah hanya dilakukan pada 5 titik sehingga jumlah sampel tanah cukup terbatas, maka telah dilakukan pencampuran beberapa sampel tanah dan pemisahan untuk material sampel tanah yang mengandung butiran halus > 15% untuk mencegah dominasi dari perilaku material tanah butiran halus. Dari hasil pencampuran dan pemisahan tersebut, persentase distribusi butiran tanah yang digunakan untuk sampel tanah penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
3.2 Pembuatan shake table
Pemodelan kondisi dinamik pada penelitian ini menggunakan shake table yang dapat menghasilkan getaran dengan cara memodelkan gerakan multi-sumbu (arah horizontal dan arah vertikal) dengan gelombang input berupa gelombang sinusoidal. Pada penelitian ini arah gerakan shake table hanya dilakukan pada arah horizontal. Dimensi shake table yang digunakan berukuran 0.8 m x 0.8 m. Shake table dilengkapi dengan motor 1 HP 3 phase, 380 VAC sehingga dapat dilakukan kontrol akselerasi yang bervariasi.
3.3 Pembuatan chamber
Penempatan material sampel tanah ditentukan menggunakan chamber yang mengacu terhadap limitasi BC3 (σvkonstan, εh = 0). Limitasi BC3 dimodelkan dengan menggunakan chamber kaku yang terbuat dari acrylic setebal 3 cm sehingga tidak diizinkan terjadinya deformasi horizontal pada sampel tanah. Dimensi chamber yang digunakan pada penelitian ini memiliki diameter 40 cm dan tinggi 70 cm. Pada sisi perimeter dasar chamber dilengkapi dengan buret untuk mengukur tekanan air pori dan lubang kuras untuk membersihkan chamber.
Tabel 1. Persentase distribusi butiran tanah pada sampel tanah campuran
| No | Jenis Material | Persentase Distribusi Butiran Tanah (%) |
|---|---|---|
| 1 | Gravel | 0,00 |
| 2 | Coarse sand | 0,00 |
| 3 | Medium sand | 39,71 |
| 4 | Fine sand | 46,49 |
| 5 | Silt & clay | 13,80 |
Gambar 7. Dokumentasi material sampel tanah pada chamber
Gambar 8. Dokumentasi persiapan pengujian piezocone
3.4 Persiapan sampel tanah penelitian
Sehubungan dengan sampel tanah penelitian didominasi oleh material pasir kelanauan, maka persiapan sampel tanah penelitian ditentukan menggunakan metode konsolidasi dengan menggunakan slurry seperti yang diusulkan oleh Rahardjo (1989). Pada tahapan ini, material sampel tanah dikonsolidasikan selama 1-3 minggu dan ditargetkan memiliki nilai kepadatan relatif (Dr) sebesar 50%.
3.5 Pengujian piezocone dan pemberian beban dinamik
Setelah sampel tanah dibiarkan terkonsolidasi selama 1-3 minggu (Gambar 7), tahapan selanjutnya ialah persiapan pengujian piezocone seperti yang dapat dilihat pada Gambar 8.
Sebelum beban dinamik diberikan, untuk memodelkan kondisi lapangan, sampel tanah diberikan beban surcharge sebesar 3.8 kPa dengan menggunakan pelat besi yang memiliki berat 30 kg pada suatu pelat kayu yang berukuran 60 cm. Pengujian piezocone ditujukan untuk memantau perubahan tekanan air pori ketika beban surcharge (Gambar 9) dan beban dinamik diberikan (Gambar 10). Selain itu, pengujian piezocone juga ditujukan untuk mengetahui kekuatan tanah dan viskositas material tanah ketika dalam kondisi terlikuefaksi melalui nilai tahanan ujung konus (qc) dan melalui nilai friksi selimut (fs).
Gambar 9. Dokumentasi pasca pemberian beban surcharge pada material sampel tanah
4. Hasil penelitian
Pengujian dilakukan dengan 2 tahapan, tahapan pertama untuk memahami perilaku material tanah Desa Sibalaya ketika dalam kondisi terlikuefaksi, sedangkan tahapan kedua untuk mencari besaran nilai viskositas material tanah Desa Sibalaya ketika dalam kondisi terlikuefaksi.
4.1 Tahapan pengujian pertama
Tujuan utama dari pengujian pertama ialah untuk mengamati perilaku tahanan ujung konus (qc) dan tekanan air pori (u) pada saat material sampel tanah Desa Sibalaya berada dalam kondisi terlikuefaksi. Pada pengujian pertama, material slurry sampel tanah Desa Sibalaya dibuat dengan diameter 40 cm, tinggi 57 cm, dan kepadatan relatif sebesar 50%. Waktu jeda setelah penuangan material tanah slurry ke dalam chamber pada tahap pengujian pertama ialah selama 21 hari.
Tahap pengujian pertama dilakukan dengan cara melakukan penetrasi konus sedalam 34 cm, lalu diikuti dengan pemberian beban surcharge dan pemberian beban dinamik yang mengacu kepada pendekatan besaran nilai akselerasi gempa yang terjadi di Desa

Gambar 10. Dokumentasi pasca pemberian beban dinamik pada material sampel tanah
Sibalaya, dan kemudian besaran akselerasi tersebut ditingkatkan untuk mengetahui perilaku material sampel tanah Desa Sibalaya ketika menerima beban dinamik yang lebih besar.
Beban dinamik yang digunakan pada pengujian pertama dibagi menjadi 2 fase yaitu :
- a) Fase initial dengan akselerasi sebesar 0.22 g pada sumbu x dan 0.27 g pada sumbu y selama 1.5 menit
- b) Fase peningkatan beban dinamik dengan akselerasi sebesar 0.65 g pada arah sumbu x dan 0.84 g pada arah sumbu y selama 3.3 menit.
4.1.1 Pengaruh beban dinamik terhadap tekanan air pori ekses [pengujian pertama]
Dari hasil pemberian beban dinamik, terlihat bahwa material sampel tanah mengalami peningkatan tekanan air pori ekses (Gambar 13). Nilai ratio tekanan air pori ekses pada saat material tanah mengalami likuefaksi ialah sebesar 0.93. Hal tersebut memverifikasi pernyataan Ishihara (1993) yang menyatakan bahwa material pasir kelanauan yang mengandung partikel butiran halus tidak dapat menggenerasi tekanan air pori secara keseluruhan. Ratio tekanan air pori hanya dapat

Gambar 11. Input beban dinamik pada arah x dan y terhadap waktu [pengujian pertama]
Akselerasi initial pada sumbu x = 0,22 g Peningkatan akselerasi pada sumbu x = 0,65 g
Gambar 12. Detail Input beban dinamik pada arah x terhadap waktu [pengujian pertama]

Gambar 13. Perilaku tekanan air pori terhadap waktu pada tahap pemberian beban dinamik [pengujian pertama]
mencapai 90% hingga 95% dari tegangan overburden yang pada kasus ini merupakan kumulatif antara tegangan vertikal efektif dengan tegangan yang dihasilkan oleh beban surcharge (σv' + Δσv') pada kedalaman yang ditinjau.
Fenomena lainnya ialah disipasi air pori ekses pasca likuefaksi pada material pasir kelanauan tidak terjadi dalam waktu yang cepat. Pada pengujian ini dapat dilihat bahwa setelah jeda waktu disipasi selama 12 menit, nilai ratio tekanan air pori ekses masih menunjukkan angka 0.89. Hal tersebut diduga disebabkan oleh material butiran halus yang cenderung memiliki sifat permeabilitas yang rendah sehingga air pori ekses yang muncul akibat beban dinamik tersebut tidak dapat langsung terdisipasi.
4.1.2 Pengaruh beban dinamik terhadap tahanan ujung konus
Dari hasil pengamatan terhadap nilai tahanan ujung konus setelah input beban dinamik diberikan (Gambar 14), diketahui bahwa nilai tahanan ujung konus mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya tekanan air pori ekses. Nilai tahanan ujung konus mengalami penurunan yang signifikan hingga mendekati 0 kg/cm2 saat terjadi peningkatan tekanan air pori ekses puncak dengan ratio tekanan air pori ekses sebesar 0.93 yang menunjukkan bahwa material tanah telah mengalami likuefaksi.
4.2 Tahapan pengujian kedua
Tujuan utama dari pengujian kedua ialah untuk mengetahui nilai viskositas material sampel tanah Desa Sibalaya Ketika dalam kondisi terlikuefaksi. Pada pengujian kedua, material slurry sampel tanah Desa Sibalaya dibuat dengan diameter 40 cm, tinggi 55 cm,

Gambar 14. Perilaku tahanan ujung konus terhadap waktu pada tahap pemberian beban dinamik [pengujian pertama]
dan kepadatan relatif sebesar 50%. Waktu jeda setelah penuangan material tanah slurry ke dalam chamber pada tahap pengujian kedua ialah selama 9 hari.
Tahap pengujian kedua dilakukan dengan cara melakukan penusukan konus sedalam 20 cm, lalu diikuti dengan pemberian beban surcharge dan pemberian beban dinamik yang mengacu kepada pendekatan besaran nilai akselerasi gempa yang terjadi di Desa Sibalaya.
Beban dinamik yang digunakan pada pengujian kedua hanya menggunakan 1 input yaitu dengan akselerasi sebesar 0.22 g pada arah sumbu x dan 0.33 g pada arah sumbu y selama 6.9 menit seperti yang dapat dilihat pada Gambar 15.
4.2.1 Pengaruh beban dinamik terhadap tekanan air pori ekses [pengujian kedua]
Dari hasil pengukuran tekanan air pori ekses (Gambar 16), diketahui bahwa nilai ratio tekanan air pori ekses pada kondisi puncak berkisar sebesar 0.94. Setelah beban dinamik dari shake table diberhentikan selama 1

Gambar 15. Input beban dinamik pada arah x dan y terhadap waktu [pengujian kedua]

Gambar 16. Perilaku tekanan air pori terhadap waktu pada tahap pemberian beban dinamik [pengujian kedua]

Gambar 17. Nilai friksi selimut dan viskositas terhadap kedalaman pasca pemberian beban dinamik pada pengujian kedua
menit terukur bahwa nilai ratio tekanan air pori ekses menurun menjadi 0.91. Dari hasil pengukuran tersebut, terlihat bahwa penurunan tekanan air pori ekses terjadi cukup lama dimana hal tersebut diduga disebabkan oleh material butiran halus memiliki nilai permeabilitas yang lebih rendah sehingga tekanan air pori ekses yang muncul akibat beban dinamik tersebut tidak dapat langsung terdisipasi seluruhnya.
4.2.2 Penentuan nilai viskositas material sampel tanah pada kondisi terlikuefaksi
Penentuan viskositas pada penelitian ini mengacu kepada hasil pengukuran friksi selimut pada saat material sampel tanah mengalami likuefaksi yaitu pada saat material sampel tanah memiliki nilai ratio tekanan air pori ekses sebesar 0.91. Dari hasil pengukuran nilai friksi selimut tersebut, diduga bahwa hasil pengukuran pada kedalaman 20 -28 cm dan 40 - 50 cm mengalami efek dari boundary condition, sehingga hasil pengukuran yang dianggap valid ialah yang terletak pada kedalaman 28 - 40 cm.
Perhitungan parameter viskositas dilakukan dengan mengganggap efek friksi selimut dalam kondisi statik
(fss) pada saat likuefaksi ialah sebesar 0 perihal kuat geser tanah residual pada saat terjadinya likuefaksi mendekati 0 sehingga perhitungan viskositas hanya memperhitungkan efek friksi selimut dalam kondisi viscous (fsv). Selain itu, pada perhitungan viskositas yang dilakukan, zona area critical state pada saat penetrasi konus diasumsikan sebesar 4.
Mengacu kepada beberapa hal tersebut, maka dengan menggunakan formula yang disampaikan pada Persamaan (4), maka didapatkan viskositas rata-rata pada kedalaman 28 - 40 cm pada saat nilai ratio tekanan air pori ekses sebesar 0.91 ialah sebesar 18 Pa.s seperti yang dapat dilihat pada Gambar 17.
5. Kesimpulan
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, maka berikut ialah kesimpulan yang dapat disampaikan.
1. Penelitian difokuskan pada pembahasan perilaku material tanah Desa Sibalaya yang didominasi oleh material pasir kelanauan ketika dalam kondisi terlikuefaksi dan mencari besaran nilai viskositas
- ketika material tanah tersebut berada dalam kondisi terlikuefaksi dengan menggunakan piezocone.
- 2. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel tanah penelitian secara langsung di Desa Sibalaya dan pengujian laboratorium dilakukan dengan menggunakan beberapa set alat pengujian seperti : shake table, chamber, dan piezocone.
- 3. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap perilaku material sampel tanah ketika menerima beban dinamik, diketahui bahwa pemberian beban dinamik akan menghasilkan tekanan air pori ekses hampir sebesar kumulatif dari tegangan vertikal efektif dan beban surcharge yang diberikan pada material sampel tanah. Dari hasil observasi terhadap tekanan air pori ekses yang terukur, diketahui bahwa tekanan air pori ekses yang terukur hanya mencapai ± 93% dari kumulatif dari tegangan vertikal efektif dan beban surcharge yang diberikan pada material sampel tanah. Hal tersebut diduga disebabkan oleh dampak dari material butiran halus yang tidak dapat menggenerasi tekanan air pori secara keseluruhan
- 4. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kurva disipasi pasca peningkatan tekanan air pori ekses setelah material sampel tanah menerima beban dinamik, diketahui bahwa nilai ratio tekanan air pori ekses cenderung masih tinggi walaupun telah didiamkan untuk beberapa saat. Hal tersebut diduga disebabkan oleh permeabilitas material butiran halus yang cenderung lebih rendah sehingga tekanan air pori ekses yang muncul tidak dapat langsung terdisipasi
- 5. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap nilai tahanan ujung konus pada saat material sampel tanah mengalami likuefaksi, diketahui bahwa nilai tahanan konus mengalami penurunan nilai secara signifikan yang hampir mendekati 0 kg/cm2 . Hal tersebut membuktikan bahwa pada saat likuefaksi terjadi, material tanah kehilangan kekuatannya karena terdapat peningkatan tekanan air pori ekses.
- 6. Nilai tahanan friksi yang terukur pada pengujian piezocone dapat digunakan untuk mendapatkan parameter nilai viskositas. Dari hasil pengujian, diketahui bahwa nilai viskositas sangat bergantung kepada parameter friksi selimut dalam kondisi viscous, diameter piezocone, rate penetrasi, dan zona area critical state yang mana merupakan fungsi dari zona pengaruh akibat penusukan konus.
- 7. Berdasarkan nilai tahanan friksi pada sampel tanah Desa Sibalaya yang terukur pada saat berada dalam kondisi terlikuefaksi (nilai ratio tekanan air pori ekses sebesar 0.91), diketahui bahwa nilai viskositas ratarata untuk material sampel tanah Desa Sibalaya pada saat terlikuifaksi ialah sebesar 18 Pa.s.
