1. Home
  2. Archives
  3. Vol 32 (2025) Issue 2
  4. Articles

Dampak Beban Sumbu Kendaraan Berlebih (Over Dimension Over Loading) Terhadap Penurunan Umur Layan Perkerasan Jalan Dan Peningkatan Kebutuhan Biaya Pemeliharaan Jalan Tol

Abstract

Abstrak Kebijakan Zero ODOL telah dideklarasikan tahun 2023 namun faktanya masih banyak pelanggaran ODOL khususnya di ruas jalan tol. Dampak dari pelanggaran ODOL ini adalah penurunan umur layan perkerasan jalan dan meningkatnya biaya pemeliharaan jalan yang harus di alokasikan oleh Pengelola Jalan Tol. Kajian ini dilakukan untuk mengukur seberapa besar dampak yang terjadi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan umur layan perkerasan dan biaya pemeliharaan jalan yang dihasilkan beban faktual dari data Weight in Motion (WIM) dan beban normal kendaraan berdasarkan beban ijin yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan. Hasil analisis menunjukkan penurunan umur layan yang lebih cepat daripada umur layan yang direncanakan akibat kendaraan ODOL pada ruas jalan tol Jakarta – Bogor – Ciawi, tol JORR E dan tol Padalarang – Cileunyi. Dampak dari penurunan umur layan yang lebih cepat ini adalah kenaikan biaya pemeliharaan jalan sebesar 17.38% untuk ruas tol Jakarta – Bogor – Ciawi, tol JORR E naik 13.59% dan tol Padalarang – Cileunyi naik 10.89% dari biaya normal pemeliharaan jalan. Kata-kata kunci: ODOL, umur layan perkerasan jalan, biaya pemeliharaan jalan tol Abstract The Zero ODOL policy has been declared in 2023, but in fact there are still many ODOL violations, particularly on toll road sections. The impact of these ODOL violations is the reduction in the service life of the road pavement and the increase in maintenance costs that must be allocated by the Toll Road Operators. This study is conducted to measure the extent of the impact. Data analysis was perfomed by comparing the service life of the pavement and road maintance costs generated by actual load data from Weight in Motion (WIM) and the normal vehicle load based on the weight limits set by the Ministy of Transportation. The analysis results show a faset reduction in the service life compared to the planned service life due to ODOL vehicles on the toll roads of Jakarta – Bogor – Ciawi, JORR E, and Padalarang – Cileunyi. The impact of this faster reduction in service life is an increase in Toll Road maintenance costs by 17.38% for the Jakarta – Bogor – Ciawi, 13.59% for the JORR E, and 10.89% for the Padalarang – Cileunyi, compared to the normal Toll Road maintenance costs. Keywords: ODOL, remaining service life of pavement, toll road maintenance costs

Keywords

1. Pendahuluan

Kendaraan dengan beban sumbu berlebih akibat Over Dimension dan Over Loading (ODOL) meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan tol sebesar 32%, sementara 68% disebabkan oleh faktor lainnya (Oktarinda et al, 2022). Selain meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, kendaraan ODOL juga menurunkan umur layan perkerasan lebih cepat dari yang direncanakan. Penurunan umur layan lebih cepat terjadi pada kondisi beban berlebih (overload) 40% - 100% dari beban ijin (Hadi, 2023). Hal ini disebabkan beban

sumbu kendaraan ODOL menghasilkan nilai daya rusak terhadap perkerasan atau Vehicle Damage Factor (VDF) yang lebih besar daripada VDF ijin. Bahkan nilai VDF beban aktual lebih besar dari nilai VDF yang ditetapkan dalam Manual Desain Perkerasan Jalan (Erzag et al, 2023). Selain beban muatan berlebih, kendaraan ODOL akan menurunkan kecepatan arus lalu lintas sehingga beban terhadap perkerasan akan lebih besar (Tjahjono dan Setiawan, 2019). Selain besarnya beban aktual, nilai VDF dihitung menggunakan persamaan eksponensial pangkat 4 (VDF4) atau

* Penulis Korespondensi: fitrianingsih2009@gmail.com

pangkat 5 (VDF5), sehingga peningkatan beban sumbu kendaraan akan sangat mempengaruhi nilai VDF. Besarnya nilai VDF ini faktor yang sangat menentukan penurunan umur rencana jalan (Cahyani et al, 2024).

Walaupun kebijakan Zero ODOL telah berlaku di seluruh jalan tol dan non tol Indonesia mulai tahun 2023, namun dalam praktiknya masih banyak kasus ODOL khususnya di jalan tol karena terjadi empat jenis pelanggaran yaitu persyaratan teknis dan laik jalan, pelanggaran terhadap muatan, pelanggaran perizinan, serta pelanggaran rambu dan marka (Febriani et al. 2023). Dampak utama kendaraan ODOL ini adalah peningkatan biaya pemeliharaan jalan akibat kerusakan dini yang ditanggung oleh pengelola jalan tol. Di sisi lain, penyesuaian tarif hanya bisa dilakukan setiap dua tahun sekali berdasarkan laju inflasi sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tol. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dampak beban sumbu kendaraan ODOL terhadap penurunan umur layan dan kebutuhan biaya pemeliharaan jalan tol. Pada penelitian terdahulu, muatan truk berlebih mencapai 50% mempengaruhi biaya pemeliharaan jalan hingga 2,5 kali terhadap rencana biaya pemeliharaan rutin per tahun dalam rentang waktu masa layan (Saleh et al, 2009). Diharapkan setiap pengelola jalan tol dapat menyesuaikan anggaran pemeliharaan jalan setiap tahun dengan mempertimbangkan beban faktual akibat ODOL sehingga kondisi jalan tol selalu dalam kondisi mantap sesuai umur layan yang direncanakan. Sebagai gambaran, PT Jasamarga (Persero) Tbk sebagai pengelola jalan tol terbesar di mengalami peningkatan Indonesia pemeliharaan jalan sekitar 1,5 triliun rupiah per tahun akibat kendaraan ODOL dimana 40% biaya di alokasikan untuk pemeliharaan Rutin dan 60% untuk Rekonstruksi (Hidayat dan Barus, 2020).

2. Metodologi

Langkah pertama yang dilakukan menganalisis umur layan adalah menghitung nilai VDF dari beban sumbu kendaraan normal (VDF Normal) dan VDF dari beban sumbu kendaraan faktual (VDF Faktual). Beban normal diperoleh dari berat maksimum berdasarkan Jumlah Berat Ijin (JBI) dan Jumlah Berat Kombinasi Ijin (JBKI) Kementerian Perhubungan yang termuat dalam Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 4/SE/M/2019. Beban faktual diperoleh dari hasil pengukuran Weigh in Motion (WIM) tahun 2024 di ruas jalan tol diantaranya tol Jakarta - Bogor - Ciawi, tol JORR E dan tol Padalarang – Cileunyi. Ketiga ruas ini dipilih karena proporsi kendaraan berat dan kendaraan ODOL yang cukup tinggi. Perhitungan VDF menggunakan persamaan eksponensial pangkat 4 sebagai berikut:

\[VDF4 = \left(\frac{\textit{Beban Sumbu Kendaraan}}{\textit{Beban Sumbu Standar}}\right)^4 \tag{1}\]

Keterangan:

VDF4 = Vehicle Damaged Factor Pangkat 4

Beban Standar Sumbu Tunggal Roda Tunggal (STRT) = 53 kN

Beban Standar Sumbu Tunggal Roda Ganda (STRG) = 80 kN

Beban Standar Sumbu Tandem Roda Tunggal (STdRT)= 90 kN

Beban Standar Sumbu Tandem Roda Ganda (STdRG)= 135 kN

Beban Standar Sumbu Tridem Roda Ganda (STrRG)= 181 kN

Langkah kedua setelah diperoleh nilai VDF Normal dan VDF Faktual, selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah kumulatif beban sumbu standar pada lajur rencana atau Cumulative Equivalent Single Axle Load (CESA) dengan persamaan dibawah ini:

\[CESA4 = (\sum LHR \ x \ 365 \ x \ DD \ x \ DL \ x \ VDF4) (2)\]

Keterangan:

CESA4 = Cumulative Equivalent Single Axle Load Pangkat 4 (ESA4)

LHR = Lintas Harian Rerata (kendaraan / hari)

DD = Faktor Distribusi ArahDL = Faktor Distribusi Lajur

VDF4 = Vehicle Damaged Factor Pangkat 4

Langkah ketiga adalah menghitung umur layan sisa perkerasan jalan atau \(Remaining\ Life\ (RL)\). Untuk menentukan umur sisa, maka harus ditentukan terlebih dahulu jumlah lalu lintas faktual perkerasan \((N_p)\) dan jumlah lalu lintas perkerasan pada umur yang dapat diharapkan \((N_{1,5} = Total\ traffic\ to\ pavement\ failure)\). Berikut ini persamaan untuk menghitung umur sisa:

\[RL = 100 \left[ 1 - \left( \frac{N_p}{N_{1.5}} \right) \right] \tag{3}\]

Keterangan:

RL = Remaining Life (%)

N<sub>p</sub> = Total Traffic to Date atau jumlah lalu lintas faktual perkerasan

N<sub>1,5</sub> = Total Traffic to Pavement Failure atau jumlah lalu lintas yang diharapkan

Untuk jalan tol nilai N<sub>1,5</sub> digunakan N<sub>2,5</sub> dengan nilai 2,5 adalah yaitu dimana perkerasan berada pada kondisi kritis. Nilai N<sub>1,5</sub> dihitung secara mundur (back calculation) menggunakan persamaan AASHTO 1993 sesuai dengan tebal dan jenis perkerasan eksisting di masing-masing segmen ruas tol. Berikut ini persamaan AASHTO 1993 untuk segmen perkerasan lentur:

\[\label{eq:log_weight} \begin{split} Log\left(W_{18}\right) &= Z_R S_0 + 9,36 Log_{10} \left(SN_f + 1\right) - \\ 0,20 &+ \frac{Log_{10} \left\{\frac{\Delta PSI}{4,2-1,5}\right\}}{0,4+\frac{1094}{\left(SN_f + 1\right)^{5,19}}} + 2,32 Log 10(M_R) - 8,0 \quad (4) \end{split}\]

Keterangan

W18 = Perkiraan jumlah sumbu (ESA4)

\(Z_{R}\)= Standar deviasi normal

= Simpangan baku (untuk perkerasan lentur antara 0,4 sampai 0,5)

\(SN_{\rm f}\)= Structural Number Future

= Present Serviceability Index (untuk perkerasan lentur jalan arteri \(\Delta PSI = 4,2-1,5\))

\(M_{\text{R}}\)= Modulus Resilient

Persamaan AASHTO 1993 untuk segmen perkerasan kaku yaitu sebagai berikut:

Log \[(W_{18}) = Z_R S_0 + 7,35 Log_{10}(D+1) - 0,06 + \frac{Log_{10}\left(\frac{APSI}{8,5-1.5}\right)}{0,4+\frac{1624+7}{(D+1)8,46}} + \left(4,22 - \frac{1624+7}{(D+1)8,46}\right)\]

\[0,32_{pt})Log \frac{s_{rccd}[D^{0,75}-1,132]}{215,63J} D^{0,75} - \frac{18,42}{\binom{EC}{V}}\] (5)

Keterangan:

W18 = Perkiraan jumlah sumbu (ESA4)

\(Z_R\)= Standar deviasi normal

\(S_0\)= Simpangan baku (untuk perkerasan kaku

\(SN_f\)= Structural Number Future

ΔPSI = Present Serviceability Index (untuk perkerasan kaku jalan arteri \(\Delta PSI = 4.5\) -1,5)

\(=\sqrt{0.7(f'c)}\)S'c

f'c = kuat tekan beton (diasumsikan beton K-400 dengan f'c minimal 38 MPa)

\(=\sqrt{57.000f'c}\)Ε

Setelah diperoleh umur layan, maka selanjutnya adalah menghitung estimasi biaya pemeliharaan jalan secara makro atau optimum untuk mengembalikan dan menjaga kondisi jalan dalam kondisi mantap. Pemeliharaan jalan tol yang direncanakan berdasarkan Indikator Kinerja

Program (IKP) sesuai Surat Edaran Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan No.09/Db/BM/2021. Indikator ini digunakan untuk mengukur pemenuhan atas tingkat layanan jaringan jalan (Sowolino, 2023). Bobot IKP yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 60% untuk ketidakraatan jalan, 10% untuk kondisi permukaan perkerasan atau Pavement Condition Index (PCI), 15% untuk sisa umur perkerasan dan 15% untuk efektifitas drainase. Rating kondisi jalan yang dihitung berdasarkan keempat kriteria tersebut akan menghasilkan nilai antara 0 sampai dengan 5 dan diperoleh kebutuhan jenis penanganan diantaranya Pemeliharaan Rutin, Pemeliharaan Preventif, Rehabilitasi Minor, Rehabilitasi Mayor dan Rekonstruksi.

Skema perhitungan biaya tidak hanya dilakukan untuk tahun dasar tapi dihitung sampai dengan lima tahun berikutnya dimulai dari tahun 2025 hingga tahun 2029. Oleh karena itu perlu dilakukan prediksi kondisi jalan menggunakan model penurunan kinerja atau Pavement Deterioration Model. Pada kajian ini digunakan model penurunan nilai Ketidakrataan atau International Roughness Index menggunakan model penyederhanaan Highway Design and Maintenance-III atau HDM-III (Paterson dan Attoh-Okine, 1992). Nilai IRI pada segmen jalan akan mengikuti fungsi penurunan sederhana yang dipengaruhi oleh nilai IRI tahun sebelumnya, umur perkerasan, beban lalu lintas dan jenis kegiatan pemeliharaan (Zukhruf, 2019). Model ini dinilai tepat digunakan untuk jalan tol karena parameter IRI merupakan salah satu kriteria dalam SPM Tol dan pengukuran IRI dilakukan secara rutin setiap tahun sehingga secara histori IRI lengkap. Berikut ini persamaan model IRI HDM III (Jihanny et al, 2018):

\[IRI_n = 1,04e^{0.023n}[IRI_0 + 263(1 + SNC)^5CSA_n]\] (6)

Keterangan:

\(IRI_n\)= Nilai ketidakrataan jalan pada tahun ke-n (m/km)

\(IRI_0\)= Nilai ketidakrataan jalan pada tahun dasar (m/km)

SNC = Structural Number Capacity

\(CSA_n\)= Cumulative Equivalent Single Axle Load tahun ke-n (ESA4)

Untuk menghitung nilai SNC menggunakan persamaan dibawah ini:

\[SNC = \{0.04\Sigma(a_ih_i)\} + SN_{sa}\] (7)

Keterangan:

SNC = Structural Number

= Material and Layer Strength Coeficient atau koefisien material

hi = Ketebalan Lapisan (mm)

SNsg = Subgrade contribution

Nilai SNsg dihitung menggunakan persamaan dibawah ini (Rolt dan Parkman, 2000):

\[SN_{sg} = 3.51 LogCBR - 0.86(LogCBR)^2 - 1.4\] (8)

Keterangan:

SNsg = Structural Number for Subgrade

CBR = California Bearing Ratio of Subgrade (%)

Persamaan (6), (7) dan (8) digunakan untuk menghitung kenaikan nilai IRI akibat repetisi beban

lalu lintas dan pengaruh lingkungan selama satu tahun. Nilai IRI setelah penganganan atau IRI After Maintenance merujuk pada Surat Edaran Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan No.09/Db/BM/2021 seperti pada Tabel 1 berikut ini.

Biaya masing-masing penanganan dihitung berdasarkan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) sesuai Spesifikasi Umum Untuk Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Tol tahun 2020. Harga satuan penanganan dihitung per 100 meter per lajur dengan lebar lajur 3,6 meter. Biaya dihitung untuk lajur utama L1, L2, L3 (jika ada), L4 (jika ada) dan bahu luar (Outer Shoulder) dengan lebar 3 meter masing-masing untuk jalur A dan jalur B. Tabel 2 berikut adalah hasil perhitungan biaya untuk setiap penanganan.

Tabel 1. Jenis Program Penanganan dan Efek Perubahan IRI Setelah Penanganan

Perubahan IRI Setelah Penanganan (m/km)
Jenis Penanaganan< 4.54.5 - 66 - 88 - 12>12
Rekonstruksi-turun ke-3turun ke-3turun ke-3turun ke-3
Rehabilitasi Mayorturun ke-3turun ke-3turun ke-3turun ke-3turun ke-3
Rehabilitasi Minor-turun ke-3turun ke-3turun ke-3turun ke-3
Pemeliharaan Preventifdetmod
Pemeliharaan Rutindetmoddetmoddetmoddetmoddetmod

Sumber: Perencanaan dan Pemrograman Pekerjaan Preservasi Jaringan Jalan, 2021

detmod = Deterioration Model (hasil perhitungan sesuai model yang digunakan)

Tabel 2. Biaya Penanganan Jalan per 100 Meter dan per KM per Lajur

Biaya Per 100 Meter (Rp.)Biaya Per Km (Rp.)
Jenis PenangananLenturKakuLenturKaku
Pemeliharaan Rutin5,587,0635,587,06355,870,62855,870,628
Pemeliharaan Rutin Kondisi6,983,8296,983,82969,838,28569,838,285
Pemeliharaan Preventif13,967,65713,967,657139,676,571139,676,571
Rehabilitasi Minor648,826,606664,619,7776,488,266,0646,646,197,775
Rehabilitasi Mayor816,644,1921,363,341,7868,166,441,91813,633,417,864
Rekonstruksi1,072,979,0451,573,983,58510,729,790,45415,739,835,846

Sumber: PT Jasamarga Tollroad Maintenance, 2024

3. Hasil dan Analisis

3.1. Hasil Survei WIM

Dari hasil pengukuran WIM tahun 2024 di rual tol Jakarta – Bogor – Ciawi, tol JORR E dan tol Padalarang – Cileunyi diperoleh dari PT Jasamarga Toll Maintenance. Dari data tersebut diketahui

bahwa beban kendaraan ODOL terjadi pada semua golongan mulai dari Golongan I sampai Golongan V seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Selain itu, dari data WIM diketahui kelebihan muatan terjadi pada beban 50% sampai dengan 100% dari beban izin (lihat Gambar 2).

3.2. Vehicle Damaged Factor (VDF)

Pada Tabel 3 disajikan data hasil survei WIM yang terbagi menjadi 28 Sub Class atau golongan berdasarkan konfigurasi sumbu masing-masing kendaraan. VDF Normal dan VDF Faktual dihitung menggunakan persamaan (1). Beban maksimum yang digunakan per golongan yaitu Gross Vehicle Weight (GVW) persentil ke-90. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai VDF Faktual yang jauh lebih besar dari VDF Normal, bahkan pada beberapa golongan > 100. Jika tidak ada pembatasan maupun penindakan terhadap kendaraan ODOL, dikhawatirkan penurunan umur layan akan terjadi semakin cepat. Ruas tol JORR E adalah ruas dengan kelebihan muatan paling tinggi dibandingkan tol Jakarta – Bogor – Ciawi dan tol Padalarang - Cileunyi. Hal ini disebabkan ruas tol JORR E merupakan akses utama dari wilayah Bogor dan Tanggerang menuju Pelabuhan Tanjung Priok (Pardede et al, 2025).

3.3. Jumlah Kumulatif Beban Sumbu Standar (CESA4)

Nilai CESA dihitung menggunakan persamaan (2) dan diperoleh perbedaan nilai CESA yang sangat signifikan antara CESA Normal dan CESA Faktual. Kenaikan nilai CESA disebabkan besarnya nilai VDF dari kendaraan - kendaraan ODOL. Pada ruas tol Jakarta – Bogor – Ciawi terjadi kenaikan sebesar 83,87%, tol JORR E naik 73,78% dan tol Padalarang – Cileunyi naik 76,38% (lihat Gambar 3).

3.4. Umur sisa perkerasan

Umur sisa perkerasan dihitung diperoleh berdasarkan persamaan (3) dan terbukti beban Faktual menurunkan umur layan jauh lebih cepat dari umur layan yang direncanakan. Contoh penurunan umur layan dapat dilihat pada Gambar 4 yang menunjukkan penurunan umur layan di segmen Cililitan - Taman Mini ruas tol Jakarta – Bogor – Ciawi. Umur layan sisa dengan beban Normal diperoleh persamaan regresi linier Y = -0.0157x + 32.803 dimana akhir umur layan atau RL = 0% diperkirakan terjadi pada tahun 2111 atau tersisa 86 tahun, sementara umur layan sisa dengan beban Faktual diperoleh persamaan regresi linier Y = - 0.0975x + 198.22 dan akhir umur layan atau RL = 0% diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun 2023 atau tersisa 8 tahun. Hasil umur layan sisa di ruas tol Jakarta – Bogor – Ciawi, tol JORR E dan tol Padalarang – Cileunyi secara lengkap disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 4 dan Tabel 5, diketahui umur layan perkerasan ruas tol Jakarta – Bogor – Ciawi rata-rata turun lebih cepat 7,26 kali dari umur layan yang direncanakan, tol JORR E rata-rata turun 5,72 kali lebih cepat dan tol Padalarang – Cileunyi rata-rata turun 4,35 kali lebih cepat.

3.5. Estimasi Kebutuhan Biaya Pemeliharaan Jalan

Biaya pemeliharaan jalan tol mulai tahun 2025 sampai dengan 2023 dihitung berdasarkan prediksi kondisi dan jenis penanganan yang dihasilkan oleh deterioration model melalui persamaan (6), (7), dan (8). Hasil estimasi biaya untuk ketiga ruas tol ditunjukkan pada Tabel 6. Rincian kenaikan biaya pemeliharaan jalan pada masing-masing ruas tol dapat dilihat pada Gambar 5, Gambar 6 dan Gambar 7. Dampak adanya beban ODOL terbukti meningkatkan kebutuhan biaya pemeliharaan jalan menjadi semakin tinggi. Hal ini menjadi tantangan bagi pengelola jalan tol dan seluruh pihak terkait untuk mengupayakan pembatasan dan penindakan kendaraan ODOL sesuai kebijakan Zero ODOL yang telah di deklarasikan tahun 2023.

Tabel 3. Vehicle Damage Factor (VDF) Normal dan VDF Faktual

Sub
Class
Konfigurasi
Sumbu
Gol.
Kend.Tol
Gol.
Kendaran
Bina Marga
VDF
Normal
VDF Faktual
Tol Jagorawi
VDF Faktual
Tol JORR E
VDF Faktual
Tol Padaleunyi
101.1I10.00030.00730.00020.0002
201.1I20.04400.20920.00380.0089
301.1I3, 40.04409.21820.25830.1839
311.1-1I30.02718.19890.04000.0382
321.1-11I30.01920.72961.42340.8981
331.1-11I30.01922.69226.95111.7163
401.2II6b3.777140.42733.64952.0014
411.2II5b3.777117.74094.71927.2758
5011.2III7a4.509738.43252.43471.5685

Tabel 3. Vehicle Damage Factor (VDF) Normal dan VDF Faktual

Sub
Class
Konfigurasi
Sumbu
Gol.
Kend.Tol
Gol.
Kendaran
Bina Marga
VDF
Normal
VDF Faktual
Tol Jagorawi
VDF Faktual
Tol JORR E
VDF Faktual
Tol Padaleunyi
511.22III7a4.442259.380979.234892.8533
561.22III5b4.442212.254826.760313.5459
571.222III7a4.378129.477322.738113.7258
5811.22IV7a8.78860.000026.76387.7409
5911.222V7a6.74492.0659135.833647.6349
601.2-1IV7b15.49859.7902291.161619.7500
611.2-2.2IV7b8.29316.409333.87030.8114
621.2-22IV7b8.23232.35999.09715.5001
631.2-2.22V7b10.490314.99177.42563.0385
701.22-2.2V7b10.49036.09307.780444.7404
711.22-2.22V7b10.42951.8688188.0760314.6677
1001.2-2V86.035119.59211.71630.6530
1011.2-22V86.700113.74481.50760.2445
1021.1.2.2.2V820.014538.421414.230313.8728
11011.2-2V86.767717.1308104.01250.5888
1111.22-2V88.23230.647156.800383.1662
1121.22-22V810.42950.040122.75471.5976
11311.2-22V88.964932.2715263.4151339.1945
1201.22-222V820.49890.0000117.402631.1895
3

Gambar 3. Grafik Persentase Kelebihan Muatan

1

Gambar 4. Grafik Perbandingan Umur Sisa Beban Normal dan Beban Faktual

Tabel 4 Hasil Perhitungan Umur Sisa Perkerasan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual Jalur A

Beban Normal Jalur A4Beban FaktıFaktual Jalur A
Ruas TolSegmen RuasPers. Regresi
Linier
RL 0%
(Tahun
ke-)
Sisa
Tahun
Pers. Regresi
Linier
RL 0%
(Tahun
ke-)
Sisa
Tahun
Cililitan - Taman Mini-0.012x + 25.337211186-0.0746x + 151.92203611
lakantaTaman Mini - JORR-0.012x + 25.337211186-0.0746x + 151.92203611
Jakarta –
Bogor -
JORR - Cibubur-0.0115x + 24.278211186-0.0713x + 145.35203914
CiawiCibubur - Cisalak-0.0141x + 29.514209368-0.0874x + 177.83203510
Cisalak - Cimanggis-0.0145x + 30.253208661-0.0897x + 182.4120349
Ruas TolCimanggis - Gunung
Putri
-0.0122x + 25.733210984-0.0758x + 154.38203712
Gunung Putri –
Citeureup
-0.0104x + 21.957211186-0.0642x + 130.97204015
Citeureup – IPCS-0.009x + 19.2742142117-0.056x + 114.33204217
IPCS - Sentul Selatan-0.0383x + 78.422204823-0.2373x + 481.1320283
Sentul Selatan – Bogor-0.0194x + 40.159207045-0.12x + 243.8420327
Bogor - Ciawi /
Simpang Gadok
-0.0461x + 94.221204419-0.2857x + 579.120272
JORR EUlujami - Pondok
Pinang
-0.0337x + 69.144205227-0.1285x + 260.9320316
Bambu Apus -
Jatiwarna
-0.0337x + 69.144205227-0.1285x + 260.9320316
Jatiwarna - Jatiasih-0.0337x + 69.144205227-0.1285x + 260.9320316
Jatiasih - Cikunir-0.0337x + 69.144205227-0.1285x + 260.9320316
Cikunir - Kranji-0.0337x + 69.144205227-0.1285x + 260.9320316
Kranji - Bintara-0.0337x + 69.144205227-0.1285x + 260.9320316
Bintara - Cakung-0.0823x + 167.57203611-0.314x + 636.3420272
Cakung - Rorotan-0.0823x + 167.57203611-0.314x + 636.3420272
Padalarang
- Cileunyi
Padalarang - Cimahi /
Pasteur
-0.02x + 41.457207348-0.0847x + 172.2720349
Cimahi / Pasteur - Pasir
Koja
-0.02x + 41.4242074( -0.0846x + 172.13203510
Pasir Koja – Kopo-0.0086x + 18.3022128103-0.0363x + 74.248205126
Kopo - Moh Toha-0.0081x + 17.4162150125-0.0343x + 70.498205530
Moh Toha - Buah Batu-0.0086x + 18.3052128103-0.0362x + 74.261205126
Buah Batu - Cileunyi-0.008x + 17.1742147122-0.0338x + 69.469205530

Tabel 5 Hasil Perhitungan Umur Sisa Perkerasan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual Jalur B

Tabel 5 Hasil Perhitungan Umur Sisa Perkerasan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual Jalur B
Beban Normal Jalur B
Beban Faktual Jalur B
Ruas TolSegmen RuasPers. Regresi LinierRL 0%
(Tahun
ke-)
Sisa
Tahun
Pers. Regresi
Linier
RL 0%
(Tahun
ke-)
Sisa
Tahun
Cililitan - Taman
Mini
-0.0157x + 32.803208964-0.0975x + 198.2220338
Taman Mini -
JORR
-0.0157x + 32.799208964-0.0975x + 198.220338
JORR - Cibubur-0.0157x + 32.799208964-0.0975x + 198.220338
Cibubur - Cisalak-0.0115x + 24.301211388-0.0714x + 145.5203813
Cisalak -
Cimanggis
-0.0115x + 24.301211388-0.0714x + 145.45203712
Jakarta -
Bogor - Ciawi
Cimanggis -
Gunung Putri
-0.0076x + 16.3912157132-0.0472x + 96.444204318
Gunung Putri –
Citeureup
-0.0105x + 22.239211893-0.0651x + 132.71203914
Citeureup – IPCS-0.0105x + 22.239211893-0.0651x + 132.71203914
IPCS - Sentul
Selatan
-0.0105x + 22.239211893-0.0651x + 132.71203914
Sentul Selatan –
Bogor
-0.012x + 25.354211388-0.0746x + 152.03203813
Bogor - Ciawi /
Simpang Gadok
0.0139x + 29.037208964-0.0859x + 174.87203611
Ulujami - Pondok
Pinang
-0.0322x + 66.204205631-0.1229x + 249.7120327
Bambu Apus -
Jatiwarna
-0.0556X + 113.4204015-0.2119X + 429.7220283
Jatiwarna - Jatiasih-0.0556X + 113.4204015-0.2119X + 429.7220283
JORR EJatiasih - Cikunir-0.0828x + 168.56203611-0.3159x + 640.1420261
Cikunir - Kranji-0.0828x + 168.56203611-0.3159x + 640.1420261
Kranji - Bintara-0.08X + 162.87203611-0.3052X + 618.4320261
Bintara - Cakung-0.047X + 96.169204621-0.1794X + 364.0120294
Cakung - Rorotan-0.047X + 96.169204621-0.1794X + 364.0120294
Padalarang -
Cimahi / Pasteur
-0.0071X + 15.3432161136-0.03X + 61.719205732
Padalarang -
Cileunyi
Cimahi / Pasteur -
Pasir Koja
-0.0087X + 18.5822136111-0.0368X + 75.431205025
Pasir Koja – Kopo-0.0087X + 18.5822136111-0.0368X + 75.431205025
Kopo - Moh Toha-0.0086X + 18.4052140115-0.0364X + 74.683205227
Moh Toha - Buah
Batu
-0.0086X + 18.4052140115-0.0364X + 74.683205227
Buah Batu -
Cileunyi
-0.0075X + 16.1562154129-0.0317X + 65.163205631

Tabel 6 Hasil Estimasi Biaya Pemeliharaan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual

Biaya Pemeliharaan Jalan Tahun 2025 s.d. 2030Tol Jakarta - Bogor -
Ciawi
Tol JORR ETol Padalarang -
Cileunyi
Biaya Pemeliharaan Tanpa Overload atau Beban Normal (Rp.)165,741,085,361173,762,228,083156,418,189,485
Biaya Pemeliharaan Memperhitungkan ODOL atau
Beban Faktual (Rp.)
200,594,580,109201,087,155,657175,525,944,390
Peningkatan Biaya (Rp.)34,853,494,74827,324,927,57419,107,754,905
Persentase Peningkatan Biaya (%)17.3813.5910.89
3

Gambar 5 Grafik Perbandingan Biaya Pemeliharaan Jalan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual Jalan Tol Jakarta -Bogor - Ciawi

5

Gambar 6 Grafik Perbandingan Biaya Pemeliharaan Jalan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual Jalan Tol JORR E

7

Gambar 7 Grafik Perbandingan Biaya Pemeliharaan Jalan Dengan Beban Normal dan Beban Faktual Jalan Tol Padalarang – Cileunyi

4. Kesimpulan

Dari hasil analisis Dampak Beban Berlebih (ODOL) Terhadap Penurunan Umur Layan Perkerasan dan Peningkatan Kebutuhan Biaya Pemeliharaan Jalan Tol, dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • 1. Kendaraan ODOL terbukti mengurangi umur layan perkerasan jalan tol dengan sangat signifikan. Hal ini disebabkan kelebihan muatan di jalan tol terjadi pada seluruh golongan kendaraan mulai dari Golongan I sampai dengan Golongan V.
  • 2. Dari hasil survei WIM pada ruas Tol Jakarta-Bogor – Ciawi, Tol JORR E dan Tol Padalarang Cileunyi diketahui beban sumbu kendaraan ODOL naik bahkan sampai puluhan kali lipat dari beban ijin yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan.
  • 3. Dampak dari kendaraan ODOL adalah terjadi peningkatan biaya pemeliharaan jalan tol diatas 10% dari biaya normal untuk tahun 2025 sampai dengan tahun 2030. Hal ini perlu di antisipasi dan sekaligus menjadi tantangan pengelola jalan tol untuk membatasi dan mengurangi jumlah kendaraan ODOL.

4.1. Saran

Dalam upaya membatasi dan melakukan tindakan penertiban kendaraan ODOL, disarankan memasang alat WIM tambahan di beberapa ruas seperti tol Jakarta – Cikampek, tol Jakarta – Tanggerang dan ruas jalan tol dengan lalu lintas berat lainnya. Alat WIM tidak hanya difungsikan untuk mengukur beban sumbu kendaraan namun juga dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan sistem deteksi e-Tilang. Pada penelitian selanjutnya disarankan melakukan kajian penyesuaian tarif tol dengan mempertimbangkan dampak kendaraan ODOL.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
28th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

level 0
Toxicology 0.27
level 1
Forestry 0.23
level 1

References

  1. Anugrah, D. (2011). Mnalisis biaya rehabilitasi dan pemeliharaan jalan akibat muatan lebih (Ruas Jalan Puding Besar–Kota Waringin Kabupaten Bangka) (Doctoral dissertation, UNS (Sebelas Maret University)).
  2. Asie, H., Dwimawanti, I. H., Astuti, R. S., & Afrizal, T. (2022). Advokasi kebijakan zero overloading angkutan barang di kabupaten lamandau. Perspektif, 11(3), 1050-1060.
  3. Erzag, A. N., Sentosa, L., & Putra, B. H. R. (2023). Perbandingan VDF Jembatan Timbang Tanjung Balik Terhadap VDF MDPJ 2017 Berdasarkan Beban Aktual. Cantilever: Jurnal Penelitian dan Kajian Bidang Teknik Sipil, 12(2), 103-110.
  4. Febriani, S. P., & Mintarsih, M. (2023). Penegakan Hukum Dalam Kebijakan Zero Overdimension dan Overloading Terhadap Pengangkutan Barang: Law Enforcement in Zero Over Dimension and Over Loading Policy for Transportation of Goods. Reformasi Hukum, 27(1), 42-50.
  5. Hadi, M. A. (2023). Identifikasi Kerentanan Kinerja Perkerasan Jalan Terhadap Aktivitas Overload Kendaraan Menggunakan Program KENPAVE. Siklus: Jurnal Teknik Sipil, 9(2), 95-104.
  6. Oktarinda, E., Prihutomo, N. B., & Maulani, E. O. (2022). Analisis Pengaruh Kendaraan Odol Terhadap Tingkat Kecelakaan Di Jalan Tol. Construction and Material Journal, 4(1), 49-57.
  7. Pardede, J. P., Putranto, L. S., & Aji, R. B. (2025). Road Pavement Repair Methods to Achieve SDG9: Due to the Impact of Overloading Vehicles on Jorr E Toll Road. Journal of Lifestyle and SDGs Review, 5(1), e04171-e04171.
  8. Paterson, W., & Attoh-Okine, B. (1992). Summary models of paved road deterioration based on HDM-III. Transportation Research Record, (1344).
  9. Rolt, J., & Parkman, C. C. (2000). Characterisation of Pavement Strength in HDM III and changes adopted for HDM-4. In 10th International Conference of the Road Engineering Association of Asia and Australia.
  10. Zukhruf, F., Frazila, R. B., Burhani, J. T., & Ag, R. A. S. (2019). Pengembangan Model Optimasi Pemeliharaan Jalan Tahun Jamak dengan Batasan Anggaran.