1 Pendahuluan
Bentuk pertunjukan tari yang menggunakan topeng sebagai penutup muka ditenggarai telah lahir sejak zaman prasejarah. Hal ini ditandai dengan banyaknya artifak yang memperlihatkan bentuk penutup muka untuk kegiatan pemanggilan ruh-ruh nenek moyang. Bentuk kesenian ini mulai berkembang dengan pesat pada masa kerajaan Hindu, dan digunakan para raja untuk menghibur permaisuri, ratu dan kerabat istana.
Pada masa Islam, kesenian ini dimanfaatkan oleh Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah untuk menyiarkan agama Islam. Selanjutnya, kesenian ini berkembang di masyarakat akibat kolonialisme, yang mengatur sistem pemerintahan di keraton Cirebon, yaitu kerajaan sebagai pusat pemerintahan, sedangkan urusan agama dan kesenian harus berada di luar istana.

Skema 1 Kronologis perkembangannya topeng.
Bentuk pertunjukan topeng yang ada di wilayah Cirebon, sebenarnya memperlihatkan gabungan unsur campuran budaya mistis-magis sebagai serapan kebudayaan Jawa, serta serapan nilai-nilai filosofis agama Islam. Seperti dalam waktu penyelenggaraan hajat sering dipilih waktu berdasarkan penanggalan hitungan bulan-bulan Jawa, yaitu bulan Mulud sesudah tanggal 12, Syawal Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Syawal dan Rayagung, sedangkan bulan lainnya dianggap sebagai waktu larangan atau waktu pantangan.
Pertunjukan tari Topeng Cirebon semula berkonsentrasi di keraton lama kelamaan mulai melepaskan diri, dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat. Atas sentuhan dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar ajaran Islam, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis, dan diberikan perwatakan atau wanda, yaitu gambaran ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, yaitu: (a) Marifat atau Insan kamil, yaitu manusia yang telah mencapai tahap tertinggi dalam tingkatan
agama dan sesuai dengan aturan agama, (b) Hakikat, gambaran manusia yang sudah paham mana yang menjadi hak manusia dan mana yang hak sang Khalik, (c) Tarekat, gambaran manusia yang telah menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari, (d) Syariat, gambaran manusia yang mulai memasuki atau baru mengenal ajaran Islam.
Bagi masyarakat Cirebon sendiri istilah 'topeng' terbentuk dari kata 'camboran tugel' yaitu dua kata yang tidak sama artinya dipotong suku kata akhirnya dan digabungkan, dan dua kata tersebut adalah 'ketop-ketop' yang artinya berkilauan dan 'gepeng' yang artinya pipih. Kedua istilah tersebut merujuk pada sebuah elemen yang ada di bagian muka sobrah atau tekes, yaitu hiasan yang digunakan penari di kepalanya.
Dalam perjalanannya, bentuk kesenian topeng yang berkembang di Cirebon banyak pula dipengaruhi oleh topeng Jawa. Hal ini dikarenakan adanya kontak politik yang terjadi pada masa kerajaan Majapahit dan kerajaan Pajajaran. Jenis kesenian ini sering digunakan dalam pagelaran pertunjukan yang diselenggarakan oleh kerajaan.
Pengaruh yang lain diduga berasal dari kerajaan Mataram Islam dan Bali, setidaknya pengaruh dari kedua kerajaan ini mempengaruhi beberapa aspek, contohnya pada doa yang diucapkan oleh pedalang saat akan memulai pertunjukan topeng, umumnya para pedalang mengucapkan Bismillah dan diakhiri dengan Syahadat, namun di tengah-tengahnya mereka mengucapkan mantra-mantra berisi puisi atau jangjawokan.
Pada dasarnya kedua bentuk kesenian ini memiliki banyak kesamaan baik dari karakteristik tokoh, gerakan dan dialog, yang membedakan hanyalah pada gamelan musik yang mengiringi dan lakonnya saja. Walaupun kesenian ini mengakar pada budaya Jawa, perbedaan tetap akan ditemukan, contohnya adalah sebutan dalang, jika di wilayah Jawa Tengah dalang adalah sebutan bagi seniman yang memainkan media wayangnya sedangkan di Cirebon justru sebutan dalang ditujukan bagi para seniman topeng.
Adapun syarat untuk menjadi seorang penari topeng atau dalang topeng, adalah ia harus memiliki garis ibu atau bapak yang turunan seorang penari topeng, yang disebut kalunglungan kalung jagat, memiliki tingkat keilmuan yang disebut tauhid, dan telah berada pada tahap wishnu atau wishnunggal yang diartikan dirinya telah menyatu dengan Tuhan.
1.1 Hikayat Panji sebagai Dasar Tari Topeng Cirebon
Dalam pertunjukan topeng terdapat tiga unsur hidup manusia, yaitu perkawinan, perjalanan atau pengembaraan serta pertempuran, yang digambarkan oleh siklus hidup manusia, dari bayi, masa kanak-kanak, masa dewasa hingga ia menjadi orang yang memiliki kedudukan.
Karakter yang terdapat dalam tarian topeng adalah Panji, Pamindo, Rumyang, Patih dan Klana. Kelima karakter tersebut diurutkan dengan hari pasaran Jawa dan lima arah mata angin, lima unsur nafsu dan lima jenis karakter warna yang dipetakan dalam suatu konsep Mandala, sebagai berikut:
Arah : Utara Karakter : Rumyang Posisi : Permaisuri Raja Sifat : Perempuan perilaku laki-laki Warna : Putih Nafsu : Mutmainah Watak : Pon Dunia Atas-Dunia Ruhani Arah :Pusat Karakter : Panji Posisi : Raja Sifat : Semua Nilai Warna : Aneka Warna Nafsu : Mulhimah Watak : Pahing Dunia Atas-Dunia Ruhani Arah : Selatan Karakter : Klana Posisi : Raja Sifat : Nafsu Angkara Warna : Merah Nafsu : Amarah Watak : Wage Dunia Bawah-Dunia Manusia Arah :Barat Karakter : Patih Posisi: Pejabat kerajaan Sifat : Wibawa Warna : Kuning Nafsu : Supiyah Watak : Kliwon Dunia Bawah-Dunia Manusia Arah :Timur Karakter :Pamindo Posisi : Adik Raja Sifat : Laki-laki perilaku perempuan Warna : Hitam Nafsu : Lauwamah Watak : Legi Dunia Atas-Dunia Ruhani
Skema 2 Pola Mandala dalam Tari Topeng.
Dalam mencari makna simbolis dalam unsur visual kostum tari topeng, terlebih dahulu harus dipaparkan bagaimana bentuk dan makna yang ada dalam sebuah topeng. Uraiannya adalah sebagai berikut:
Panji, berasal dari kata siji, dalam bahasa Jawa berarti satu, ia menggambarkan bayi yang baru lahir ke dunia dan figur dari kalangan raja bangsawan, sekaligus
cermin dari sublimasi kewibawaan dan ketenangan. Tarian Panji ini berisi gerak kecil-kecil, statis, halus dan tenang, namun iringan musik hingar bingar, gambaran ini menghadirkan suatu nilai yang paradoks. Gerakan kecil-kecil merefleksikan perilaku waspada hati dan perilaku manusia yang baru lahir. Dalam falsafah Jawa, Panji bersifat mutmainah, menggambarkan filosofi kehidupan dan budi yang luhur serta penyerahan diri pada Tuhan. Dalam sufi Islam disebut Tarekat, ia berada pada posisi marifat, tingkat tertinggi posisi manusia yang di sebut Insankamil, yaitu perilaku yang tidak goyah serta menyadari bahwa setiap hembusan nafasnya adalah dari Allah.
Pamindo, simbol awal kehidupan semesta, dimulai dengan cahaya terang dari arah timur, hal ini dikaitkan dengan dimulainya tarian ini, yaitu pada pukul 10.00 – 12.00 siang, tarian ini sekaligus gambaran keberadaan masa kanakkanak. Warna topeng serumpun dengan Panji, serta gambaran sikap handap asor dan ngalai asor yang artinya suka merendah dan setia kawan.
Gerak tarian halus namun gagah atau landak, ia gambaran manusia yang beranjak dewasa dan baru mengenal dunia, tingkahnya terburu-buru, serba ingin tahu dan lelaki yang bersifat perempuan. Dalam falsafah Jawa, sifat Pamindo adalah Sawiyah atau Supiah, dalam susunan kosmologi ia berada pada posisi Timur dan identik dengan keberadaan awal penciptaa alam semesta yang masih suci. Dalam ajaran Islam tingkat tersebut berada dalam Hakekat, manusia pada tahap ini telah sampai pada pemahaman yang baik tentang mana yang menjadi hak mahluk dan mana yang hak Allah, sikap ini seolah menjadi penerang dan menjadi penunjuk arah dari kesesatan
Rumyang, gambaran sebagai dewi yang menjelma menjadi manusia, dan melakukan penyamaran sebagai laki laki. Penokohan Rumyang hampir sama dengan Panji, keduanya dianggap sebagai pasangan suami istri sejak di dunia atas. Asal kata Rumyang sendiri berasal dari ramyang-ramyang artinya mulai terang atau carangcang tihang dalam bahasa Sunda yang artinya setengah terlihat. Rumyang digambarkan sebagai manusia yang sudah mulai terang dalam melihat kehidupan di dunia, walaupun terlihat ragu-ragu dalam gerakannya.
Arah ruang Rumyang ada di utara, dalam paham primodial alam semesta dunia di bagi menjadi dua paradoks yaitu Timur-Utara, Barat-Selatan. Rumyang menggambarkan masa remaja, lambang anak sulung perempuan namun memiliki asas seperti laki-laki, maka gerak tarian seperti tokoh laki-laki, walaupun ia adalah perempuan. Tarian ini merefleksikan perjalanan serta penyamaran, sehingga sepanjang tariannya tak pernah sedikit pun menanggalkan topeng, agar penyamaran itu berhasil.
Warna topeng merah muda, menunjukan tingkat manusia yang pasrah, ikhlas dan nrimo. Rumyang adalah paduan sifat duniawi dan surgawi, hal ini terlihat dari hiasan Kembang Kliyang, Pilis dan stilasi gelungan rambut. Motif Pilis dianggap atribut duniawi pada tokoh wanita., dimana sifatnya masih dapat di pengaruhi oleh hal yang bersifat duniawi. Dalam falsafah Jawa, Rumyang, berada di utara, ia bergerak dari timur ke utara, arah Timur-Utara ini memiliki arti turunnya dunia atas ke dalam dunia material.
Patih, gambaran pejabat negara atau kerajaan yang selalu bergerak di area luar. Sosok Patih adalah lambang kedewasaan zaman. Ia berada di posisikan Barat, sebagai pihak luar, duniawi, pihak musuh, kematian, kasar dan kelelakian.
Warna topeng adalah warna kembang terong muda atau dadu pelang, namun ada, paras wajah menunjukkan sifat gagah dengan bentuk mata terbelalak dan berkumis, simbol dari kemauan yang keras, ambisius dan berani.Gerak tari bebas, gagah berani dan kelaki-lakian, kontras dengan tarian sebelumnya, yaitu Pamindo, Rumyang dan Panji. Topeng Patih memperlihatkan watak manusia dewasa yang telah menemukan pribadi dan watak yang baik. Dalam falsafah Jawa, tokoh Patih memiliki sifat luwamah dengan arah Barat, dan gambaran watak manusia dewasa, dalam filosifi Islam ia telah mencapai tingkatan tarekat, dimana semua perilaku sehari-hari mengacu pada sunnah dan hadist nabi, serta Al Quran sebagai petunjuk hidup, serta tegas dan konsekuen.
Klana, karakter yang penuh dinamika dengan hasrat jasmani-duniawi, ia melambangkan nafsu yang terkekang manusia. Warna topeng merah tua, mata membelalak, mulut menyeringai, kumis melingkar, berjambang dan berjanggut. Klana digambarkan figur gagah dengan hidung panjang, mata melotot, mulut monyong menganga, rambut godekan. Gerakan dalam tarian Klana menunjukan kegagahan, kasar, penuh nafsu hidup jasmani dan duniawi, berwatak angkara murka, serakah dan dzalim. Gerakan mengangkat kaki dan rentangan tangan yang melebar merupakan gambaran jiwa yang keras, kuat serta berkesan meraih atau mengambil sesuatu.
Tokoh Klana ditempatkan sebagai arah Selatan, dan sifat Amarah yang berarti penuh keduniawian, jiwa tidak tenang dan berpetualang. Warna topeng menunjukkan watak angkuh dan kejam, hingga merah diasosiasikan dengan darah, nafsu dan kemarahan. Dalam ajaran Islam, Klana berada di Syariah yang memiliki pembawaan serba ingin menonjolkan kepandaian, ingin tahu, dan bila kurang mendapat bimbingan penari akan masuk neraka karena tindakannya dianggap lepas kontrol.
Gambar 1 Gambar lima karakter dalam Topeng Cirebon.
1.2 Tari Topeng Babakan di Slangit-Cirebon
Pertunjukan topeng yang menceritakan hikyat Panji dan Damar Wulan menjadi awal perkembangan dari pertunjukan topeng babakan. Pertunjukan kesenian ini tidak menampilkan cerita yang utuh, melainkan menampilkan adegan babak demi babak. Perihal keberadaan pertunjukan topeng babakan ini diungkap pula dalam buku 'Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami Ing Jaman Kina' (Hazeu dalam Toto Sudarto, 2001:53), yang menuliskan bahwa topeng babakan adalah pertunjukan topeng yang berkelana kemana-mana untuk mencari uang, dapat ditanggap di tepi jalan atau dimana saja, dan orang yang menanggap topeng membayar perbabak. Dapat disimpulkan pengertian topeng babakan sendiri:
- a. Adalah tarian yang penyajiannya terdiri atas beberapa babak/tahap.
- b. Setiap penyajian menampilkan lima atau enam karakter tokoh, dapat dilakukan oleh satu atau enam orang.
- c. Lebih mengutamakan kualitas gerak dan nilai artistik dari gerakan tarian, sedangkan unsur cerita dalam pertunjukan tarian tersebut tidak menjadi perhatian utama.
Urutan pertunjukan tari topeng di Slangit, hampir sama dengan urutan di wilayah lain, yaitu dimulai dari topeng Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung, dan Klana. Sedangkan jenis tari topeng babakan adalah suatu pertunjukan lepas yang menampilkan fragmen atau potongan dari Hikayat Panji, yang diyakini sebagai 'pahlawan budaya' bagi masyarakat Hindu-Budha pada masa Mahapahit, serta menjadi dasar terbentuknya karakter-karakter dalam pertunjukan ini.
Ciri khas dari pertunjukan topeng di wilayah ini adalah gerakan bahu dan pinggang yang kuat, gesit dan detail pada setiap perpindahan gerakan satu ke gerakan berikutnya. Urutan dalam setiap pertunjukan biasanya terdiri dari: tetalu atau gagalan, yaitu musik yang dimainkan sebelum penari topeng muncul, penampilan pokok tarian, bodoran atau lawakan, lakon atau drama dan penutup atau Rumyang.
| No | Tokoh | Lagu Pengiring |
|---|---|---|
| 1 | Panji | Kembang Sungsang |
| 2 | Pamindo | Singa Kawung |
| 3 | Rumyang | Kembang Kapas |
| 4 | Patih | Tumenggungan atau bendrong |
| 5 | Klana | Gonjing |
Tabel 1 Tokoh dan lagu pengiring dalam Tari Topeng.
(Sumber: dari berbagai sumber)
1.3 Keni Arja, Penari Topeng di Slangit
Penari topeng yang berada di wilayah Slangit mayoritas berasal dari generasi Arja, ia dianggap memiliki garis keturunan dari Sunan Panggung. Walaupun sudah tidak dapat diurutkan lagi, tetapi pada intinya leluhur mereka berasal dari Buyut Ki Kijar yang menyebarkan kesenian ini di wilayah Cirebon.
Salah satu penari topeng turunan Arja yang masih hidup adalah Keni Arja, selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui keberadaanya, karena ia lebih mengutamakan pentas di kalangan masyarakat, sehingga sosoknya jarang terpublikasi seperti penari yanglain. Keni Arja adalah salah satu penari yang sampai saat ini masih mempertahankan ritual tradisi, yang bertujuan untuk menjaga nilai-nilai magis yang ada dalam pertunjukan ini. Ritual tersebut antaralain Mapag Tanggal, yang dilakukan setiap menyambut pergantian bulan dan Buka Panggung, ritual yang berkenaan dengan di mulainya musim hajatan.
Tabel 2 Siklus ritual Keni Arja.
(Sumber: hasil wawancara dengan Nunung Nurasih, puteri penari topeng Keni Arja, 2007)
2 Unsur Visual dalam Kostum Tari Topeng
Secara umum gambaran kostum tari topeng yang hingga kini dipakai adalah gambaran kostum para bangsawan atau kalangan raja. Karena terlihat berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh rakyat jelata. Contohnya adalah dari cara penggunaan kain panjang dan banyaknya aksesoris pada beberapa bagian tubuh, hal ini tampaknya berkaitan dengan awal kesenian topeng lahir, yaitu dikalangan kerajaan.
Keberadaan kostum dalam sebuah pertunjukan bersifat mutlak, karena pada dasarnya suatu tarian dapat terungkap dengan sempurna, bila seluruh unsur pendukung hadir di dalamnya, yaitu musik pengiring, tata rias, busana termasuk ungkapan gerak dan ekspresinya. Dengan kata lain penggunaan busana selain untuk menambah keindahan tampilan, juga menggambarkan identitas si penarinya. Dalam kostum tari topeng, ada beberapa unsur pokok yang harus digunakan oleh penarinya saat melakukan pertunjukan, yang terbagi atas bagian atas, tengah dan bawah, sebagai berikut:
Tabel 3 Bagian dan kelengkapan pada kostum Tari Topeng Cirebon.
| Bagian Atas | Bagian Tengah | Bagian Bawah | |
|---|---|---|---|
| Terdiri hiasan kepala, | Terdiri dari aksesoris dan | Terdiri dari: | |
| yaitu: | baju, yaitu: | 1. Ikat pinggang atau | |
| 1. Topeng | 1. Kalung | sabuk | |
| 2. Sobrah atau Tekes | 2. Kelat bahu | 2. Tutup rasa atau katok | |
| 3. Sabuk | 3. Kain yang disebut | ||
| 4. Gelang | dodot, dan selendang | ||
| 5. Baju | yang disebut soder. | ||
(Sumber: dirangkum dari berbagai sumber)
Tabel 4 Bagian dan kelengkapan pada kostum Tari Topeng Cirebon.
| Bagian | Panji | Pamindo | Rumyang | Patih | Klana |
|---|---|---|---|---|---|
| Atas | |||||
| Tengah | |||||
| Bawah | |||||
Panji Pamindo Rumyang Patih Klana Karakter raja halus, kain dodot Lancar Gelar, warna terang Karakter raja halus-lincah, kain dodot Lancar Cangcut, warna terang Karakter permaisuri, kain dodot Lancar Cangcut, warna terang Karakter pejabat raja, berwibawa, kain dodot Lancar Cangcut, warna gelap Karakter raja, arogan dan kasar, kain dodot Lancar Cangcut, warna gelap Kostum raja halus-diam Kostum raja halus-lincah Kostum pejabat kerajaan Kostum raja gagah
Tabel 5 Topeng dan kostum Keni Arja.
2.1 Bagian Atas
Sobrah atau Tekes, terdiri atas susunan rambut manusia, berbentuk setengah lingkaran, dihiasi jamang dari kulit, di tengahnya digantungi dua bulatan tipis yang disebut picis. Penggunaan sobrah hanya dipakai pada karakter Panji, Paminso, Rumyang dan Klana.
Tabel 6 Sobrah Keni Arja.
Peci-Bendo, dipakai pada karakter Patih, perubahan pada penggunaan pecibendo sebagai pengganti sobrah dan penggunaan kacamata adalah bentuk serapan dari masa kolonialisme.
Tabel 7 Peci bendo dan unsur serapannya.
2.2 Bagian Tengah
Unsur visual yang ada pada bagian tengah adalah penutup tubuh berupa baju, krodong sebagai penutup punggung, dan aksesoris yang digunakan pada bagian leher, yaitu kalung, gelang tangan, tutup rasa yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Uraiannya sebagai berikut:
Baju sebagai penutup tubuh, warna baju yang digunakan Keni Arja terbagi menjadi dua karakter, yaitu baju berwarna terang untuk karakter baik, dan warna gelap untuk karakter jahat.
Bentuk baju dan detail bagian lengan Keterangan Detail pada lengan : biku-biku berbentuk segitiga, terbuat dari benang emas Topeng Cirebon Wayang Wong Penggunaan hiasan pada bagian pangkal lengan yang disebut biku-biku ini tersebut digunakan sebagai pengganti kelat bahu, dan dianggap membedakan penggunaan antara
Tabel 8 Bentuk baju yang digunakan oleh Keni Arja.
Krodong yang berfungsi sebagai penutup punggung, terbuat dari kain batik lokcan dari Juwana-Jawa Tengah, dengan motif burung phoenix:
Tabel 9 Krodong.
Tabel 10 Kelengkapan pada leher dan pinggang.
2.3 Bagian Bawah
Unsur visual pada bagian bawah adalah kain dodot sebagai penutup bagian bawah, celana sontog, yaitu celana sebatas lutut, dan soder atau sampur, yaitu kain yang diikatkan pada bagian pinggang dan dibiarkan lepas di bagian kirikanan pinggang.
Tabel 11 Kain dodot.
Tabel 12 Motif kain dodot.
2.4 Celana Sontog
Penggunaan celana adalah pengembangan dari penutup kaki, diduga penggunaan penutup kaki berbentuk celana terjadi pada masa abad 18, hal ini terlihat dalam naskah Damar Wulan yang menggambarkan ia sedang menari topeng dan menggunakan celana panjang.
Pada kostum tari Keni Arja, celana yang digunakan panjangnya sampai batas lutut, diduga pengurangan penggunaan celana ini berkaitan dengan aktivitas bebarang yang dilakikan di lapangan terbuka, sehingga penari membutuhkan keleluasan gerak serta aspek kebersihan.
Akhir 1800 Awal 1900 2007
Tabel 13 Perubahan bentuk celana pada Tari Topeng.
(Sumber: dokumentasi penulis, 2006)
2.5 Kain Soder atau Sampur
Selendang yang diikatkan pada bagian pinggang dan dibiarkan menjuntai ke arah bawah melewati batas mata kaki. Selain sebagai unsur keindahan, soder juga berperan dalam gerakan tari topeng, seperti gerakan sepak soder. Jenis kain yang digunakan pada umumnya disesuaikan dengan jenis kain yang dipakai atau warna kostum yang dikenakan para penari.
Penggunaan soder atau kain sebagai pelengkap dalam kegiatan tari telah ada sejak dari masa kerajaan Hindu-Budha. Hal ini terlihat dalam arca-arca serta relief yang ada pada beberapa panil di Borobudur yang memperlihatkan pengenaan kain sebagai salah satu pelengkap dalam kegiatan menari.
Tabel 14 Motif kain dan penggunaan soder.
3 Makna Simbolis pada Unsur Visual Kostum Tari Topeng Babakan
Untuk mencari makna simbolis dalam sebuah kostum, harus dilakukan rekonstruksi terhadap data gambar tertua untuk mencari unsur-unsur yang tetap digunakan dalam kegiatan pementasan Keni Arja. Data gambar yang digunakan sebagai panduan adalah kostum tari pada masa Hindu-Budha yang terdapat pada relief Borobudur, berikutnya adalah kostum tari topeng yang terdapat pada naskah Damar Wulan pada abad 18, kostum tari topeng dalam catatan Thomas Stamford Raffles pada tahun 1811-1816, kostum tari topeng yang dipentaskan di Istana raja di Kutai Kalimantan pada tahun 1879, kostum tari topeng pada awal abad 19, kostum tari topeng dalam catatan Pigeaud pada tahun 1938 dengan kostum tari topeng miliki Keni Arja pada tahun 2006.
Relief Borobudur Abad 7-8 Naskah 'Damar Wulan' Abad 18 Catatan Raffles, 1811 Kerajaan Kalimantan, 1879 Catatan Pigeaud, 1938 Keni Arja, 2006 Aksesories leher-Kalung Gelang ( kelat bahu) Gelang kaki -kroncong Sumping makuta sampur
Tabel 15 Perkembangan kostum tari dan Tari Topeng.
(Sumber: berbagai sumber dan direkontruksi oleh penulis, 2007)
Dari paparan gambar pada tabel, ternyata unsur-unsur yang tetap digunakan adalah hiasan pada bagian kepala, kain dan celana, uraiannya sebagai berikut:
- a. Masa Hindu-Budha di relief Borobudur, baju tidak digunakan dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam pertunjukan, tetapi kain hiasan di kepala dan kain penutup kaki telah digunakan.
- b. Masa Islam di Jawa, gambaran kostum tari topeng terdapat pada naskah 'Damar Wulan', dimana penutup tubuh atau baju tidak digunakan, tetapi hiasan kepala seperti gelungan telah digunakan, termasuk kain penutup di kaki dan celana.
- c. Awal abad 18 dalam catatan Raffles, kostum tari topeng terlihat tidak menggunakan baju atau penutup tubuh, tetapi telah ada pemberian kain selendang yang dililitkan pada leher sebatas dada. Pada bagian kaki telah digunakan celana sepanjang mata kaki, kain penutup kaki dan hiasan kepala berbentuk setengah lingkaran.
- d. Pada tahun 1879 penari topeng telah menggunakan kain penutup berupa kemben, celana sepanjang mata kaki, kain panjang sebagai penutup kaki dan hiasan kepala berbentuk setengah lingkaran.
- e. Pada awal abad 19, pertunjukan topeng mulai dipentaskan di jalanan, penari tidak menggunakan baju. Celana, kain dan hiasan kepala tetap digunakan
- f. Tahun 1938, tari topeng mulai ditarikan oleh perempuan, dan kostum yang digunakan berupa kemben, kain panjang dan hiasan kepala berbentuk setengah lingkaran.
- g. Pada tahun 2006 yaitu kostum tari topeng Keni Arja, baju telah digunakan sebagai penutup tubuh, celana sebatas lutut yang disebut sontog dan hiasan kepala berbentuk setengah lingkaran
Dari data perbandingan di atas, unsur perlengkapan kostum yang digunakan oleh Keni Arja masih terlihat adanya unsur-unsur dari kostum yang lama yaitu:
| Bagian Atas | Bagian Tengah | Bagian Bawah |
|---|---|---|
| Sobrah | Kalung | Ikat pinggang |
| Topeng | Selendang soder | |
| Kain dodot |
Tabel 16 Pembagian unsur kostum.
Proses pemaknaan akan dilakukan pada sobrah, topeng dan kain dodot, karena ketiga unsur ini dipandang sebagai unur utama dalam kegiatan pertunjukan topeng.
3.1 Makna Simbolis pada Hiasan Kepala, yaitu Sobrah
Bentuk hiasan pada kepala telah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Budha, yang menandakan tingkat kesucian dan atribut duniawi, yaitu penandaan atas
keberadaan dirinya yang telah berada di dunia. Hal ini dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam seni pertunjukan tari topeng, yaitu gambaran siklus hidup manusia, serta tingkatan iman seorang manusia. Setiap bentukbentuk yang mengarah ke atas disimbolkan sebagai jalan menuju ke arah atas atau ke arah Tuhan, sedangkan bentuk dari setengah lingkaran, tampaknya mengacu pula pada rotasi atau siklus perjalanan bulan.
Bulat atau lingkaran adalah sebuah bentuk yang tidak memiliki akhir, tidak memiliki awal, namun bentuknya berkelanjutan secara sempurna tanpa terputus. Hal ini dapat diartikan bahwa manusia dalam hidupnya senantiasa berubah atau disebut tansah ewah gingsir, selain itu bentuk lingkaran ini diartikan pula sebagai citra dunia, seperti yang terlihat pada istana-istana raja Jawa, yang disebut imago mundi. Bentuk lingkaran juga ternyata memiliki makna yang universal, dimana bentuk yang mengandung unsur bulat atau lingkaran sering disimbolkan sebagai sesuatu yang bermakna wanita dan bersifat sebagai dunia langit.
Pemaknaan pada bentuk dan simbol tersebut mengacu pula pada sistem perlambangan atau ikonografi yang berdasarkan filosofi ajaran Islam. Sebagai contoh bentuk bulat dan setengah bulatan, sebenarnya telah dikenal sejak jaman Rasul, yaitu berhubungan dengan sinar yang mampu menerangi malam hari, dan bentuk bulan identikkan dengan simbol dari penyebaran agama Islam.
Bentuk bulat dan setengah bulatan juga sering ditemukan dalam bentuk-bentuk kubah mesjid, dan disimbolkan sebagi lambang ketuhanan, atau lambang menuju kearah jalan Tuhan. Bentuk sobrah yang mengandung unsur setengah bulatan pada bagian kepala dapat dimaknai sebagai media atau jalan menuju ke arah atas, dan kepala adalah pusat dari kehidupan manusia. Dalam filosofi Islam, jalan menuju ke atas adalah jalan menuju kebaikan, atau lambang dari kualitas iman yang mengarah pada surga.
Tabel 17 Bentuk lingkaran pada Sobrah.
Pemaknaan lain adalah, jika dari bentuk sobrah tersebut kita ambil garis terluarnya, maka kita akan melihat bentuk segitiga yang mengarah ke atas. Penggunaan bentuk segitiga pun ternyata berkaitan erat dengan simbol Islam, walaupun sebenarnya bentuk segitiga tidak hanya digunakan oleh peradaban Islam, karena pada masa kebudayaan Mesir, simbol ini sering juga ditemukan pada beberapa artefak, di antaranya pada bangunan piramid.
Tabel 18 Bentuk segitiga pada sobrah.
Segitiga, yang mengarah pada satu titik pusat. Pusat yang megarah ke atas adalah simbol sesuatu yang transeden
Pada bagian belakang terdapat tiga buah titik yang membentuk segitiga, sedangkan pada bagian depan, titik tersebut tepat berada di bagian tengah kepala, yang artinya memusat.
Simbol yang terkandung dalam bentuk segitiga dapat ditinjau dari dua aspek filosofi agama, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kesenian topeng sebenarnya telah lahir sejak masa Hindu. Adanya transisi pada dua agama besar saat perkembangannya, setidaknya akan memberikan pula pengaruh kepada pemaknaannya, bahkan sering pula ditemukan makna yang sifat ganda.
Tabel 19 Perbedaan simbol segitiga pada Islam dan Hindu.
| Islam | Hindu | |
|---|---|---|
| Berkait dengan sifat transeden, dalam bahasa Arab bentuk ini disebut musalas, yang berkait dengan falsafah tingkat pemahaman seorang muslim terhadap agama Islam, yaitu syariat, hakikat dan marifat | Gambaran tiga tingkatan alam semesta atau 'triloka'. Yaitu alam bawah, alam tengah dan alam atas atau kaki, tubuh dan kepala. | |

Tabel 20 Tingkatan Keimanan Manusia dalam Islam dan Tingkat Alam Semesta pada Hindu.
3.2 Makna Simbolis pada Kain dalam Tari Topeng
Makna simbolis pada kain berkaitan dengan peristia perkawinan dunia atas yang berasas perempuan dan dunia bawah yang berasas laki-laki. Peritiwa meleburnya dua semesta untuk melahirkan daya-daya transeden sebagai pembawa nilai berkah, dapat terjadi bila unsur paradoks bertemu dan saling melengkapi. Tari topeng sendiri berasas laki-laki, sedangkan ruh yang ada di dunia atas berasas perempuan.
Asas laki-laki dalam tari topeng terlihat dari bentuk kain terbuka pada bagian depan dan memperlihatkan sebagian kaki, walaupun penarinya perempuan, tetapi cara berpakaiannya memperlihatkan sifat lelaki dan hal ini berkaitan pula dengan awal kelahiran tarian ini di masa Hindu, yang ditarikan para raja dihadapan permaisuri.
Tabel 21 Perbedaan pada bentuk kain.
Tabel 22 Bentuk kain pada kostum Topeng dari masa Hindu - masa Modern.
Dapat disimpulkan bahwa kain adalah simbol keagungan, kebesaran, kekuasaan dan kesucian. Hal ini juga menguatkan posisi seni topeng ini di kalangan masyarakat, bahwa yang menari dihadapan mereka adalah raja atau penguasa yang memiliki kekuatan untuk memberikan berkah dan keselamatan bagi hidup mereka, gambaran raja yang berperan sekaligus sebagai dewa merupakan warisan dari konsep ajaran Hindu, sesuai dengan masa awal berkembangnya kesenian ini.
4 Simpulan
Penggunaan sobrah atau hiasan kepala dapat dimaknai sebagai salah satu atribut yang dapat menghantarkan manusia untuk mencapai nilai yang suci, arah yang menyatukan alam ruhani dan duniawi, serta gambaran tingkat hidup manusia. Sobrah ditempatkan di kepala karena kepala adalah pusat hidup dan posisi tertinggi dari manusia. Bentuk sobrah menjulang ke atas memiliki makna yang dalam yaitu melambangkan keberadaan sesuatu yang suci, agung dan sakral.
Bentuk kain yang digunakan Keni Arja tidak mengalami perubahan yang berarti, karena tujuan dan makna yang terdapat dalam unsur tersebut adalah untuk menguatkan posisi penari topeng sebagai figur yang menggambarkan raja dan pemimpin, baik di dunia maupun di alam surga. Hingga kini posisi penari topeng oleh masyarakat pendukungnya tetap dianggap sebagai orang yang memiliki kelebihan, terutama yang berkaitan dengan ritual-ritual untuk memohon berkah, bahkan dianggap mampu mengobati bererapa penyakit yang dialami oleh masyarakat setempat.
