1 Pendahuluan
Naskah-naskah tua merupakan artifak yang merekam pencapaian kebudayaan dan kekayaan berfikir suatu bangsa di zamannya. Leluhur bangsa Indonesia merekam kebudayaannya dalam wujud naskah yang beragam baik isi, jenis maupun bentuknya. Naskah-naskah itu tersebar di kepulauan Nusantara. Salah satu dari wilayah Nusantara yang memiliki peninggalan manuskrip berupa naskah tua adalah masyarakat Jawa. Kekayaan artifak budaya Jawa yang dapat ditelusuri keberadaannya sejak masa awal kerajaan-kerajaan di Jawa, mulai dari Tarumanagara, Singosari, Majapahit, Pajang, Demak, hingga Surakarta dan Yogyakarta. Hal ini menunjukkan budaya tulis di Jawa sudah menjadi konsensi sejak berabad-abad yang lalu. Keunikan karakter visual naskah tua Jawa merupakan suatu pencapaian penciptaan karya seni, yang menunjukkan juga ketinggian rasa estetik dalam dunia ilustrasi. Sebagaimana diketahui, seni ilustrasi adalah produk kebudayaan yang menjadi salah satu tolok ukur dalam
menentukan nilai-nilai suatu bangsa yang dapat dipahami berdasarkan tingkat intelektual masyarakat itu sendiri pada masanya. Namun hal itu, belum banyak dikaji secara lebih mendalam, terutama yang berkaitan dengan ilustrasi yang menjadi bagian utama naskah lama itu.
2 Naskah Jawa sebagai Produk Budaya
Berdasarkan penelitian, sebagian naskah lama Jawa memuat pula ilustrasi. Naskah-naskah itu ada yang didokumentasi di beberapa perpustakaan di Indonesia maupun diluar negri, disayangkan modernisasi menyebabkan keberadaan naskah lama Jawa yang berharga ini tidak diketahui oleh generasi sekarang. Mengingat berbagai fungsi dan latar belakang penciptaannya, penciptaan naskah lama Jawa itu, harus dilihat sebagai suatu penanda kebudayaan yang dapat dipelajari. Hal itu diperkuat oleh teori yang dikemukakan Koentjaraningrat dalam memandang kebudayaan sebagai landasan teoritis yang membagi menjadi 3 wujud, sehingga naskah lama Jawa dapat dilihat :
- 1. Naskah lama Jawa sebagai rekaman sekumpulan ide, pikiran serta gagasannya dan kearifan cara berfikir merupakan gambaran skema-skema budaya Jawa (ideas).
- 2. Naskah lama Jawa sebagai representasi dari berbagai macam aktivitas kehidupan sosial (activities)
- 3. Naskah lama Jawa merupakan wadah yang memuat makna dan nilai-nilai kehidupan berupa artifak buku yang merefleksikan pencapaian ketinggian intelektualitas masyarakat Jawa dihasilkan dalam kegiatan menulis dan kesenian bidang seni rupa. (practices) [1]
3 Naskah Lama Jawa Periode 1800-1920
Naskah lama Jawa yang masih dapat diapresiasi adalah naskah yang dibuat pada abad ke 18 hingga awal abad ke 20. Naskah pada periode ini banyak menginterpertasi ulang kisah pewayangan dari masa Majapahit yang kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kaidah-kaidah Islam. Dengan demikian dalam menelusuri penciptaan naskah zaman ini, tidak dapat dipisahkan juga dari peranan kebudayaan Islam yang berkembang di tanah Jawa.
Naskah lama Jawa merupakan catatan penting dan seringkali berkaitan dengan dengan peristiwa penting yang terjadi pada masa dibuatnya sehingga memiliki nilai sejarah. Sebagian besar naskah yang dibuat pada periode 1800-1900 an merupakan hasil gubahan dari naskah sebelumnya dan kebanyakan dalam bentuk tembang macapat. Kebanyakan naskah ini ditulis dalam rentang waktu 150 tahun akhir masa kolonial - hingga menjelang Revolusi Kemerdekaan
Indonesia. Sebagian naskah Jawa lama memuat gambar berupa ilustrasi yang merupakan karya seni rupa masyarakat Jawa. Menjadi hal khusus bahwa sebagian naskah-naskah lama Jawa bergambar periode tahun 1800 – 1920 merepresentasikan gejala-gejala kultural pada masa itu. Menurut John Pemberton dalam bukunya, Jawa (2003) sebagian naskah yang dibuat pada abad ini memuat tentang dampak budaya kolonialisasi Belanda terhadap kebudayaan Jawa, khususnya pada naskah-naskah keraton Jawa ( Surakarta dan Yogyakarta ).
Periode ini oleh peneliti Belanda ditulis sebagai masa kebangkitan sastra Jawa yang dianggap "tertidur" setelah sedemikian lama. Beberapa ahli menyebutnya sebagai masa renesans kesusastraan klasik Jawa. Hal itu ditandai oleh banyaknya penulisan kembali kesusastraan Jawa melalui penyaduran sastra lama dan penciptaan karya sastra baru, serta upaya penerjemahan karya sastra asing yang dilakukan oleh raja dan para pujangganya.

Gambar 1 Proses transformasi naskah lama Jawa.
Untuk menelusuri penciptaan naskah Jawa tidak dapat mengenyampingkan keterkaitannya dengan kesenian wayang, karena peristiwa penting kerajaan dan kisah para raja Jawa sering dianalogikan dengan kisah pewayangan yang ditulis dalam sastra Jawa. Oleh karenanya perkembangan kebudayaan Jawa selalu dianggap sejalan dan disejajarkan dengan kisah pewayangan. Melalui pemahaman kisah dan tokoh-tokoh pewayangan Jawa sekaligus juga memahami karakter dan filsafah hidup masyarakat Jawa.
4 Tradisi Menulis dan Menggambar di Jawa
Bagi masyarakat Jawa istilah "penulis", berasal dari kata panulis, panyerat yaitu orang yang melakukan kegiatan menulis atau menyuratkan (anulis, anyerat) atau menyalin suatu naskah. Penulis adalah sang penggubah (panganggit, pangiket ). Penulis pada masa ini biasanya kaum intelektual yang secara strategis mampu merekam lingkup sosio-politis, tidak hanya merekam masa lalu, tapi juga tulisan yang dapat mewujudkan prediksi dimasa datang. Sastrawan atau penulis dalam tradisi Jawa adalah pelaku aktif dalam kuasa/perbawa dan diberi kebebasan penuh dalam menjalin (nganggit ) dan mengikat (ngiket ) kata-kata atau teks-teks dengan cara tekstual yang produktif untuk menghasilkan suatu karya.
"Pelukis" atau juru gambar dalam tradisi Jawa seringkali disebut penyungging, atau penganggit .Seorang "penyungging" adalah seorang yang mampu menginterpretasikan dan melukiskan, serta mewarnai (menyungging) kemudian mengikatnya dengan nedhak/nurun.
5 Peranan Naskah dalam Masyarakat Jawa
Untuk memahami wujud ilustrasi naskah lama Jawa harus dimulai dengan pemahaman masa lalu kebudayaan Jawa. Naskah Jawa dimasa lalu kebanyakan berisi ajaran kebathinan Jawa dan dikemas dalam kisah pewayangan juga merupakan analogi dengan perjuangan raja-raja dimasa itu. Di antaranya adalah kitab Ramayana berbahasa Jawa berupa sastra macapat (903 M), kitab Mahabharata (991 – 1007M) dan Naskah Kakawin Arjuna Wiwaha, (abad 11) gubahan Mpu Tantular. (Sri Mulyono, 1975:182–184).
Pada abad 12, epos Mahabharata diinterpertasi ulang oleh Mpu Sedah dan mengalami pelokalan, digubah dalam lakon wayang yang mengandung simbolsimbol ajaran kebatinan Jawa , seperti Serat Dewa Ruci dan Serat Arjuna Wiwaha, yang merefleksikan sinkretisme dan akulturasi budaya Jawa dan Hindu. Naskah ini menjadi acuan cerita wayang dan variannya sampai sekarang. Naskah yang sangat terkenal yang menceritakan masa kejayaan Majapahit adalah Naskah Pararathon yang ditulis oleh Mpu Tantular dan Naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Kedua naskah tersebut menggambarkan kondisi masa kejayaan Majapahit yang menyelaraskan kebudayaan Hindu dan Budha dalam tatanan kompleksitas kebudayaan yang harmonis.
Ketika agama Islam mulai berpengaruh di Jawa, terjadi proses Islamisasi oleh kaum intelektual Islam dan terjadi proses peningkatan kualitas religiusitas dan spiritualitas pada masyarakat muslim Jawa. Hal itu dapat diamati dari sisi
perkembangan pemikiran transformatifnya, pemikiran-pemikiran itu terefleksikan dalam naskah Jawa masa pertengahan abad ke 19.Sistim egaliter Islam berhasil meluruhkan perbedaan antara tatanan hierarkis yang berada kerajaan Majapahit. Pemikiran sufistik dan mistik Islam berakulturasi dengan dunia mistik lokal yang berakar kuat pada masyarakat Jawa tradisional. Hal yang penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa adalah sistim pendidikan yang berfungsi sebagai pembelajaran Islam melanjutkan sistim Padepokan masa Hindu menjadi sistim Pesantren yang dikenal sampai sekarang. Di pesantren pula budaya baca tulis berkembang pesat dan tumbuhnya penulisan naskah-naskah bernafaskan Islam.
Dilain pihak, penulisan ulang Al Quran memicu tumbuhnya seni kaligrafi dan mushaf. Pada masa itu disebut puncak kebudayaan Islam dan intelektualitas bangsa Indonesia, karena di wilayah Nusantara terjadi kegiatan melek aksara yaitu bahasa Arab, bahasa daerah serta bahasa Melayu. Pada masa Islam pula penulisan naskah pada kertas daluang yang memuat gambar iluminasi dan ilustrasi.
Pada masa kolonialisasi Belanda, perkembangan kesenian dan kebudayaan Jawa sempat mengalami kesenjangan pada periode awal abad ke 17 hingga pertengahan abad ke 18. Hal ini disebabkan politik divide et impera Belanda yang menyulut perang saudara antar raja Jawa, sekaligus juga pemberontakan pada pemerintah Belanda secara terus-menerus. Pada periode ini terjadi peristiwa-peristiwa budaya yang cukup penting di Jawa yang menyebabkan perubahan pada tatanan kehidupan masyarakat Jawa. Perubahan-perubahan kearah proses modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan yang menyebabkan pemikiran intelektualitas masyarakat Jawa bertambah luas. Lalu memunculkan gerakan "kesadaran modern" yang luas dalam masyarakat Jawa dan keinginan untuk menjadi bangsa yang berdaulat. (Florida, 1995) Harapan-harapan itu dituangkan dalam bentuk penulisan naskah karena didukung Belanda.
Kalangan masyarakat terpelajar Jawa memanfaatkan situasi ini untuk mempersatukan kekuatan masyarakat di bawah naungan istana. Menulis menjadi pemicu untuk gerakan kebudayaan. Naskah-naskah yang dibuat pada periode ini, memuat tujuan utama untuk mempersatukan rakyat membangun kembali kemerosotan moral dan mental masyarakat Jawa yang ambigu akibat pengaruh budaya materalistis Eropa serta sistim kapitalis yang diterapkan Belanda. Di samping itu, Belanda kemudian menjalankan politik kebudayaan, yaitu sejak itu koloni Belanda secara langsung masuk ke wilayah kebudayaan masyarakat Jawa. Strategi ini berdampak pada perubahan pola berfikir pribumi Jawa yang sudah terpuruk baik secara jasmani dan material. (Florida,1995).
Selaras dengan politik kebudayaan kolonial, agar kaum istana tidak lagi berkuasa secara politis dan secara langsung memutuskan hubungan masyarakat Jawa dengan dunia luar. Akan tetapi secara spititual maupun rohani terjadi pencerahan dan menyebabkan kerangka berfikir masyarakat Jawa berubah, dan hal ini berdampak pada perubahan penciptaan produk budaya yang didukung Belanda, antara lain karya sastra yang akhirnya mendorong kebangkitan sastra Jawa.
6 Naskah Lama Jawa bergambar sebagai Refleksi Realitas Sosio-Budaya Masyarakat Jawa
Perubahan-perubahanpun terjadi dalam penulisan naskah Jawa pada masa itu, pujangga sepakat untuk mempergunakan simbol-simbol modern dalam menyampaikan pesan-pesan sosial dengan ilustrasi yang lebih modern disesuaikan dengan perubahan cara berfikir masyarakat Jawa pada waktu itu. Ilustrasi yang dimuat didalam naskah-naskah Jawa merefleksikan kompleksitas persinggungan dengan budaya Barat,sehingga terjadi proses pergeseran pemikiran spiritual-religius ke pemikiran materialistis-kapitalis.
Gambar 2 Naskah Jawa "Bharatayudha,1901-1903 dan Naskah Panji Selarasa, 1880.
Gambar 3 Ilustrasi pada naskah Damar Wulan, 1815 dan Naskah Blambangan Purwasatra, 1804.
Gambar-gambar pada naskah Jawa menunjukkan perubahan kosmologi rakyat Jawa yang tidak hanya berorientasi pada istana sebagai pusat kekuasaan tertinggi, akan tetapi terjadi pergeseran bahwa konsep dewa raja dan istana tidak lagi sebagai pusat buwana. Meskipun Raja dan bangsawan masih dijadikan tokoh penting dalam naskah sejarah raja Jawa, akan tetapi pada masa ini muncul kembali pahlawan dari kalangan rakyat Jawa. Kisah keseharian tentang kehidupan masyarakat biasa mulai banyak dimunculkan, menunjukkan kondisi egaliter dan peran rakyat yang cukup penting pada masa pemerintah kolonial. Hal ini juga lebih menjelaskan secara tersamar tentang meredupnya kekuasaan absolut raja dan istana.
7 Konsep Visual Ilustrasi pada Naskah Jawa
Ilustrasi pada naskah Jawa masa kolonial cara pembuatanya masih menerapkan konsepsi seni tradisional. Teknik yang dipergunakan juga teknik tradisional yang telah berlangsung secara turun temurun merujuk pada adat istiadat masyarakat Jawa yaitu berupa karya ikonografi yang menampilkan representasi dari realitas.
Ilustrasi merupakan media penyampaian pesan yang mempunyai misi tertentu. Dalam penciptaannya objek pilihan mengalami pengolahan bentuk sedemikian rupa sehingga memiliki makna sosial, pada akhirnya keindahan tampak bukan karena sempurna bentuknya akan tetapi disebabkan oleh konsep perupaan yang tercipta menjadi baik dan komunikatif. (Tabrani,2005).
8 Wujud Visual dan Penggayaan Ilustrasi pada Naskah Jawa Periode 1800-1920
Wujud visual ilustrasi pada naskah Jawa periode 1800-1920 memperlihatkan karakter yang khas. Ilustrasi pada Naskah Jawa masa ini masih dominan menggambarkan sosok "wayang" akan tetapi memperlihatkan karakter yang beragam, baik bentuk , tema cerita dan fungsinya masing-masing. Tema naskah terdiri dari varian kisah pewayangan, panji (kisah pahlawan rakyat Jawa), sejarah raja-raja Jawa, cerita para nabi dan para wali, umumnya berupa cerita rakyat yang bernafaskan Islam. Wujud visual yang khas merefleksikan kondisi pada masa itu dan penggayaan dominan stilasi wayang kulit.
Penggayaan ilustrasi pada naskah lama Jawa sebagian besar memperlihatkan kecenderungan gaya stilasi wayang kulit yang cukup dominan. Hal tersebut menunjukkan bahwa di masa itu wayang merupakan kesenian yang sangat digemari oleh masyarakat. Selain itu juga menunjukkan kebudayaan Hindu-Budha-Islam masih berakar pada masyarakat Jawa.
Paradigma Islam terefleksi dari konsep egaliter dan esensi pemikiran keesaan Tuhan. Paradigma pra-Hindu terefleksi dengan munculnya gambaran tiga alam, manusia, transenden dan kegaiban ( mikrokosmos-metakosmos-makrokosmos) dan konsep bahasa rupa Jawa.
Karakter visual ilustrasi Jawa sebagian besar merupakan gambar yang masih dikenali wujudnya. Keterpengaruhan budaya asing terlihat cukup signifikan akan tetapi tidak sampai menghilangkan karakter lokal Jawa berupa perupaan datar/dwimatra, stilasi wayang, ornamen-ornamen ragam hias, figur mahlukmahluk gaib (denawa/raksasa/punakawan), karakter itu menjadi benang merah yang menghubungkan masa kolonial ini ke masa lalu Jawa. Menunjukkan paradigma pra Hindu menjadi benang merah kesinambungan konsep visual.
Wujud visual dan penggayaan gambar ilustrasi pada naskah tua Jawa periode ini dapat dikalsifikasikan menjadi 3 besar karakter utama, yang pertama adalah : (1)Gaya Stilasi Wayang Kulit (2)Gaya Gabungan Stilasi Wayang Beber dan Wayang Kulit (3) Gaya Naturalis-Stilasi- Realis-Perspektif Terbatas
Sebagian besar ilustrasi pada naskah itu memperlihatkan stilasi wayang yang dikembangkan menjadi berbagai bentuk baru. Penggayaan wayang dari yang masih merujuk pada pakem hingga bentuk deformasi stilasi wayang menjadi bentuk baru. Perubahan ini memungkinkan terjadi pembelajaran secara formal mapun informal pada masyarakat.
Proses interaksi sosial terjadi antara seniman Jawa dengan seniman Eropa terjadi ketika menggambar lukisan potret raja-raja Jawa yang berada di Keraton, atau menggambar potret yang sebelumnya berkembang di Eropa. Selanjutnya pengetahuan menggambar semacam itu menyebar dikalangan masyarakat Jawa.
Perubahan dalam gambar ilustrasi Jawa periode 1800-1920 yang terlihat cukup jelas adalah pada penggayaan yang bergeser ke arah gaya naturalistis dan realis, sifat simbolis meditatif pada gestur dan wajah manusia memperlihatkan sifat metafor yang ekspresif.
Perubahan lainnya adalah bentuk naratif tentang pesan yang disampaikan menjadi tersamar. Ilustrasi dalam naskah lama Jawa tetap memunculkan figurfigur denawa atau raksasa-raksasa, binatang yang disucikan, dan unsur ornamen. Sedangkan karakter visualnya memperlihatkan perubahan karakter dwimatra wayang menjadi gambar naturalistis atau realis terbatas, hingga mendekati naturalis realistis.
Dari segi teknik menggambar, terlihat unsur ilustrasi tradisi dipadukan dengan teknik menggambar perspektif Barat. Selain itu terdapat pula perubahan pada medium, peralatan, dan berkembangnya warna yang bukan karakter warna Jawa.
Ilustrasi pada naskah lama Jawa memperlihatkan relasi dengan kehidupan sosial dan karakter sosial masyarakat Jawa. Refleksi kehidupan sosial ditampilkan dengan cara tersurat dan tersirat. Relasi tersebut tampak dalam muatan isi, bahasa rupa, sifat komunikatif dan naratif .yang ditampilkan dalam gambar ilustrasi. Sejumlah ilustrasi merefleksikan kehidupan dan tatanan yang berubah, akibat masuknya kebudayaan barat di masa kolonialisasi Belanda.
Seniman/Pujangga/Penyunging Jawa tetap memperlihatkan kecerdasan lokal, dalam menyampaikan pesan melalui bahasa gambar yang naratif dan simbolis. Terdapat dakwah keislaman secara tersamar dalam kisah-kisah pewayangan. Selain itu, perjuangan rakyat menentang pemerintah kolonial disamarkan dalam cerita panji, sedangkan perjuangan para raja disamarkan dalam naskah babad.
Situasi politik di negara jajahan disamarkan dalam kisah Mahabharata atau Bharatayudha. Sandi-sandi sosial dan simbolisme Jawa muncul dalam ilustrasi, tersamar dan terselubung, menjadi bahasa komunikatif antara sesama masyarakat Jawa kalangan tertentu yang memahaminya, dan menjadi bacaan bagi masyarakat biasa.
Introspeksi diri dan hubungan vertikal antara pribadi dengan Yang Maha Pencipta diungkap dalam naskah serat Dewa Ruci, Bima Ruci, Arjuna Wiwaha dll. Sedangkan pemikiran egaliter kesetaraan antara rakyat dan kaum istana tersirat dalam kisah-kisah panji yang diinterpertasi ulang dari kisah-kisah di masa Majapahit, seperti Serat Damar Wulan, Panji Jayakusuma, Panji Selarasa, Panji Asmarasupi dll.
Perkembangan media baru , teknik dan konsep visual menyebabkan wujud visual dan penggayaan ilustrasi pada naskah lama Jawa mengalami penyesuaian dan berubah juga disesuaikan dengan fungsi dan karakter medianya. Masuknya pengetahuan modern Barat mempengaruhi pula peran dan konsep berkesenian. Demikian pula peranan naskah semakin meluas, selain dipergunakan sebagai alat propaganda paham dan politik, juga sebagai media pendidikan dalam mencerdaskan rakyat.
Menjadi hal penting adalah naskah-naskah lama Jawa periode tahun 1800 – 1920 memuat gambaran ilustrasi yang merepresentasikan gejala-gejala kultural masa itu, dibuat oleh kalangan terpelajar yang paham dengan sandi-sandi dan simbol-simbol sosial masyarakat Jawa. Gambaran tersebut menjadi wujud visual dan teks yang representatif dan cerdas.
9 Simpulan
Karakter visual ilustrasi pada naskah lama Jawa periode 1800-1920 mengalami perubahan yang disesuaikan dengan ruang dan waktu serta kerangka berfikir masyarakat semasa pemerintah kolonial. Wujud visual ilustrasi tersebut merefleksikan pencapaian estetik bidang seni rupa dan capaian prestasi budaya berfikir masyarakat Jawa di masanya.
Penggayaan ilustrasi pada naskah tua Jawa periode 1800-1920 merefleksikan empat paradigma yang telah menjadi kerangka berfikir masyarakat Jawa selama berabad-abad yaitu paradigma Prahindu (Animistis), Hindu-Budha ( Kedewaan) , paradigma Islam-Wayang Beber dan Wayang Kulit ( Keesaan Tuhan) dan paradigma baru yaitu penggayaan naturalistis,wujud tiga dimensional dan gambar perspektif Barat.
Ilustrasi pada Naskah Jawa periode 1800-1920 memuat ciri-ciri visual (kasat mata) sebagai berikut:
- 1. Ciri-ciri pola pikir Pra Hindu yaitu gambaran animisme dalam wujud mahluk alam gaib ( Etiologi ), denawa/raksasa, binatang-binatang mitos, bentuk dwimatra, ungkapan transenden, mistis dan simbolik.
- 2. Ciri-ciri politheisme Hindu, perwatakan dewa-dewi, kesan trimatra, lingkungan istana dan gambaran hirarki sosial/kasta.
- 3. Ciri-ciri monotheisme Islam, penyederhanaan wujud menjauhi bentuk alam/stilasi alam dan bentuk dwimatra, ungkapan realitas yaitu keseharian dan non hirarki/egaliter.
- 4. Ciri-ciri konsep visual Barat dengan munculnya perwatakan manusia, gambaran naturalistis-realis-eksresif dan ungkapan liberal/kebebasan, tidak terlalu terikat pada kaidah pakem dan munculnya ekspresi individu.
- 5. Dari semua ciri-ciri ini yang menjadi benang merah penghubung adalah sifat naratif, simbolik dan stilasi alam, bentuk dwimatra dan stilasi wayang. Penciptaan ilustrasi pada naskah masih ditujukan pengabdian kepada raja.
Pada masa ini, ciri visual stilasi wayang mempengaruhi wujud visual dan penggayaan ilustrasi pada naskah- naskah lama Jawa. Transformasi wujud visual dan penggayaan ilustrasi pada naskah Jawa adalah pengembangan, penggayaan yang berakar dari gaya stilasi Wayang Kulit dan Wayang Beber.
Penggayaan ilustrasi pada naskah Jawa periode ini adalah :
1. Penggayaan stilasi wayang, yang mengacu pada konsepsi visual (pakem) wayang kulit.
- 2. Penggayaan stilasi wayang kulit dimanusiakan, atau wujud stilasi wayang kulit yang menjadi cenderung ekspresif, meskipun cara menggambarkan wombat berbeda, pakem wayang masih tetap dipergunakan.
- 3. Penggayaan gabungan gaya stilasi Wayang Kulit dan Wayang Beber dengan perubahan tertentu.
- 4. Penggayaan yang tidak mengacu pada gaya wayang, wimba digambarkan mendekati wujud naturalistis.
- 5. Penggayaan bentuk deformasi yang naïf.
- 6. Penggayaan bentuk naturalistis-perspektif-terbatas (gabungan gaya perspektif terbatas tradisi Jawa dan teknik gambar perspektifis seperti cara Barat).
Kesinambungan konsep visual lama dan bahasa rupa yang masih terlihat cukup jelas adalah sebagai berikut :
- 1. Penyampaian pesan dengan cara wimba : gambar ilustrasi tampil dengan cara simbolik dan sifat meditatif pada sikap tubuh (gesture) dan wajah manusia, refleksi dari fungsi sosial seni ( (panduan hidup).
- 2. Ilustrasi yang mempergunakan bahasa rupa Ruang Waktu Datar (RWD), cara kembar, cara digeser, skala diperbesar dan diperkecil, posisi tokoh baik dan tokoh buruk, statis, dinamis dll.
- 3. Gambar ilustrasi pada naskah Jawa bersifat naratif, ( menyiratkan sandisandi budaya, kisi-kisi terselubung yang dimetaforakan atau disatirekan sehingga orang-orang yang paham sandi-sandi budaya Jawa dapat memahaminya).
Dari wujud visual dan penggayaan ilustrasi pada naskah tua Jawa dapat disusun konsepsi maupun ciri-ciri visual sebagai ciri-ciri utama konsep seni rupa tradisi Jawa masa Kolonialis.
Ciri dan Konsep Utama Seni Rupa Jawa Masa Kolonialis/pra modernisme yaitu:
- 1. Berkesinambungan dengan masa sebelumnya
- 2. Eksposisi komunal atau inovasi yang mewakili kelompok Orientasi Seni Rupa Klasik Hindu (Majapahit) dan Seni Rupa Klasik Islam (Demak-Mataram)
- 3. Mengagungkan budaya leluhur
- 4. Transisi istana sentris menjadi egaliter
- 5. Memiliki fungsi Sosial
- 6. Komunikasi lokal
- 7. Seni masih untuk pengabdian pada Raja
- 8. Sifat\muatan/Mistisisme/Simbolik/Stilasi/Dekoratif/Dwimatra
- 9. Naturalisme+ Perspektifis +Realisme terbatas (gabungan RWD+NPM) **
- 10. Gambaran Spiritualitas Horizontal (manusia –alam) Vertikal ( manusia-Tuhan)
- 11. Lokalitas Budaya Tradisional
- 12. Karya terbuka sebagai panduan ritual atau pengajaran tentang pengetahuan (bukan dalam pemahaman Fine Art )
- 13. Ke- ilahi-an masih sebagai referensi
- 14. Paradigma Animisme-Hindu-Islam-Barat
**RWD = Ruang Waktu Datar,
NPM = Naturalis Perspektive Momenopname
Bahasa Rupa Ilustrasi pada Naskah Jawa
| PERIODE | Sbl Masehi+.4 00 | 900 - 1400 | 150 0 | 190 0 | 194 5 |
|---|
