1. Home
  2. Archives
  3. Vol 2 (2008) Issue 2
  4. Articles

Kajian Bentuk dan Makna Simbolik Figurin Gerabah Majapahit (Periode Hayam Wuruk 1350-1389 M)

Abstract

The earthware figurines of Majapahit were clay-based artworks from the Majapahit Kingdom (1350-1389 AD) of Trowulan at Mojokerto, East Java. The name "majapahit" itself refers to the known great kingdom that unite "nusantara" (covering Malay peninsula, Sumatra, Java, Bali, Borneo, Celebes, up North to the Southern of Phillipine). Having exposed to the varieties and high-quality of earthware figurines of Majapahit from the Trowulan site, the study looks into their symbolic shapes and meanings which was known to be heavily influenced by Hinduism. To address this issue, the study applied qualitative-descriptive method by means of visual analysis. Study on clay-objects

Keywords

1 Pendahuluan

Trowulan sebagai bekas ibu kota kerajaan Majapahit merupakan situs yang terbesar dan terdapat banyak sisa peninggalan bersejarah. Berbagai bukti tinggalannya berupa artefaktual, monumen, karya sastra dan cerita rakyat (folklore) [1]. Situs Trowulan dengan luas ± 100 km2 merupakan sebuah daerah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto, letaknya kurang lebih 13 km ke arah Jombang. Di situs Trowulan terdapat pula peningalanpeninggalan gerabah dan terakota. Temuan gerabah dari situs Trowulan beraneka ragam jenisnya, dari segi kualitas dan kuantitas menunjukkan tingkat yang tinggi.

Gerabah Majapahit pada masa Hayam Wuruk mencapai puncak perkembangannya dan menghasilkan benda-benda peralatan kehidupan yang memuat nilai-nilai estetika, simbolik dan fungsional. Temuan fragmen gerabah dapat dikelompokkan menjadi jenis wadah, bukan wadah dan komponen bangunan. Jenis wadah terdiri dari mangkuk, cawan, buli-buli, cepuk. Jenis temuan bukan wadah terdiri dari tungku, lampu minyak, figurin dan miniatur bangunan. Sedangkan jenis komponen bangunan terdiri dari genteng, hiasan atap, memolo, pipa saluran air, ubin, kemuncak, dan sebagainya. Gerabah dijadikan perlengkapan berbagai macam upacara yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Gerabah dianggap memiliki nilai religi yang sangat tinggi. Dalam upacara penguburan pada masyarakat prasejarah, gerabah sering dipakai sebagai bekal kubur (burial-gift) atau sebagai wadah kubur yang disebut "kubur tempayan" (jar burial). Gerabah dianggap penting dan dapat dipakai sebagai bekal perjalanan maupun bekal bagi kehidupan di alam yang lain.

Dalam perkembangannya terdapat gerabah dalam bentuk figurin yang berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan dalam rangka pelaksanaan upacara pitrayajna (upacara untuk leluhur). Figurin bisa merupakan gambaran atau perwujudan roh nenek moyang juga sebagai alat permainan anak-anak atau boneka dalam seni pertunjukan. Terutama dalam tokoh-tokoh yang dikenal dalam cerita Panji, pendeta/pertapa (Bubuksah) dan panakawan, yang dijadikan sebagai boneka, baik untuk permainan anak-anak atau sebagai alat peraga dalam membawakan cerita tertentu.

Yang menarik untuk dijadikan penelitian dari benda-benda kerajinan gerabah tradisional di Trowulan, adalah unsur-unsur bentuk dan makna simbolik sebagai benda-benda kehidupan sehari-hari maupun benda-benda sakral/upacara. Benda-benda gerabah tersebut perlu dikaji karena penggalian unsur-unsur bentuk dan makna simbolik yang terkandung pada gerabah peninggalan Majapahit memiliki rangkaian yang terkait dengan budaya dalam kehidupan masyarakat dan merupakan aset yang tak ternilai bagi kehidupan sosial budaya. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan maksud mengkaji bentuk dan makna simbolik yang terdapat di balik perwujudan figurin gerabah Majapahit. Metode yang digunakan adalah dengan memadukan pendekatan historis dan pendekatan estetik. Sementara teknik penelitian meliputi; teknik pengamatan atau observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur untuk memperoleh data yang akurat. Agar memperoleh akurasi, validitas, reliabilitas data yang mendukung pembahasan, maka analisis yang dikembangkan akan ditempuh dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi berbagai informasi tertulis, lisan dan visual. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis data secara tekstual dan kontekstual.

2 Bentuk dan Makna Simbolik Figurin Gerabah Majapahit 1350-1389

2.1 Bentuk Figurin Laki-laki

Di Trowulan banyak ditemukan figurin yang menggambarkan sosok laki-laki. Arca figurin laki-laki dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu: pendeta, kaum bangsawan dan rakyat biasa. Arca pendeta digambarkan dengan rambut disanggul di atas kepala atau tangan disilangkan di depan dada. Arca bangsawan digambarkan memakai perhiasan lengkap dan pada dahinya terdapat urna. Sedang arca laki-laki dari golongan rakyat biasa digambarkan berambut pendek, bertutup kepala, tidak memakai baju. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya sebagai benda bekal kubur, arca persembahan dan boneka pertunjukkan yang memerankan tokoh dalam cerita tertentu.

Gambar 1 Beberapa bentuk figurin laki-laki.

2.1.1 Arca Dewa Siwa

Di India maupun Indonesia, Siwa adalah figur dewa yang paling terkenal. Di Jawa, ia dianggap yang tertinggi, karenanya ada yang menganggapnya sebagai Mahadewa. Tanda-tanda sebagai Siwa ditunjukan pada mahkotanya yang terdapat tengkorak di atas bulan sabit, adanya mata ketiga pada dahi, bertangan 4, berselempangkan ular, mengenakan kulit harimau dipinggang serta senjata trisula pada sandaran. Tangan-tangannya memegang kipas, tasbih, tunas bunga teratai dan benda bulat sebagai benih

alam semesta.

Arca digambarkan dalam sikap duduk bersila di atas padmasana. Kedua telapak tangan di atas pangkuan, yang sebagian sudah pecah sehingga tidak diketahui lagi benda yang menjadi laksananya. Arca yang dibuat dari gerabah ini mempunyai sandaran berbentuk sisi sejajar, bentuk puncaknya sudah pecah. Sirascakra dipahat polos, berbentuk bulat telur sampai di belakang bahu. Asananya berupa padmasana ganda berbentuk segi empat polos di bagian

bawah, sementara lapik bagian atas berhias pola segi enam. Kalung yang dipahatkan di bagian leher arca bersusun 2, berhias pola sulur. Kalung yang kecil kecuali berhias pola sulur juga berhias deretan manik-manik. Tangannya mengenakan dua gelang lengan (kelat bahu) dengan pola sulur, sedangkan gelang tangan berbentuk gelang kana. Gelang kaki berwujud untaian manikmanik. Sampur yang dikenakan hanya tampak pada bagian melingkar di paha dan simpul di kanan-kiri pinggul, ujung sampur mengarah ke atas. Sampur yang dikenakan berbentuk polos dan berlipat-lipat. Selain hiasan-hiasan tersebut terdapat untaian manik-manik menjuntai ke bahu.

2.1.2 Figurin Dewa Siwa

Tabel 1 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Kalung Dewa Siwa.

Bentuk dan detail
kalungFungsiMakna SimbolikAnalisis
BerfungsiMotif sulur-suluran
Bentuk
Kalung berbentuk lingkaran
sebagai asesorismelambangkankarena mengikuti bentuk
dankehidupan yangleher. Kalung dibuat dalam
simbol/tanda.mengandungdua komponen yaitu rantai
pengertian suci.dan gantungannya yang
Sebagai hiasanSulur-suluran jugaberbentuk gabungan dari
leher, kalungmerupakan simbolmotif sulur-suluran dan
sebagai simbolkesuburan dankuncup bunga. Kombinasi
Kalung bermotifdan tinggikehidupan yangbentuk sangat harmonis
bunga ceplok danrendahnyabergerak dinamis.seimbang kiri dan kanan.
kuncup yangharkatKalung tergantung tinggi
dikombinasikanseseorang.Motif ceplokmengikat dari bagian leher
dengan motif sulurmerupakan simbolyang memperlihatkan status
suluran.Mempunyaitentang alam semestadan simbol keagungan dari
motif bungadan kekuasaandewa Siwa. Secara visual
Ceplok adalahceplok dan
kuncup yang
diantara manusia.bentuk didominasi dengan
ragam hias yangdikombinasikanMotif kuncupelemen sulur-suluran. Hal
ini mempertimbangkan
menstilasi bentukdengan motifmerupakan simbolaspek fungsi sebagai simbol
dari bunga, daunsulur-sulurankematian dankehidupan. Bentuk bunga
yang diatur secarayang luwes dankehidupan kembali,dan sulur-suluran
simetris.dinamis.kesempurnaan,merupakan perpaduan
kekayaan danantara rantai dan
Kuncup menstilasikemegahan sertagantungannya cukup
dari bunga yang
berpusat ditengah.
Kombinasikeluhuran budidominan sehingga cukup
bentuk sangatpekerti.menonjol dan bentuknya
Sulur merupakanharmonisdapat dikenali.
ornamen yangmenunjukkanKombinasi motif
Makna Denotatif
menggambarkankeindahansulur dan ceplokKalung menginformasikan
tumbuh-tumbuhansecara visual.merupakan simbolfungsi guna dan fungsi
atau tanamanBentukkeagungan dansimbolis dengan
menjalar.seimbang kirikemegahan.menggunakan elemen sulur
dan kanan.suluran, ceplok dan kuncup
Bentuk dan detail
kalung
FungsiMakna SimbolikAnalisis
bunga. Motif suluran pada
gantungan kalung
ditempatkan di kiri dan
kanan motif ceplok dan
kuncup bunga secara
simetris.
 Makna Konotatif
Dari bentuk kalung yang
digunakan melambangkan
pemilikinya seorang laki
laki/dewa. Penggunaan
gantungan kalung berbentuk
sulur-suluran
melambangkan kehidupan
yang mengandung makna
kesempurnaan dan
kesucian, sesuai dengan
dewa Siwa yang dianggap
sebagai Mahadewa yang
memiliki sifat
kebijaksanaan dan
mengayomi.

Tabel 2 Analisis Estetik dan Makna Kelat Bahu Dewa Siwa.

Bentuk dan detail
kelat bahu
FungsiMakna SimbolikAnalisis
Berfungsi
sebagai asesoris
dan
simbol/tanda.
Sebagai hiasan
lengan atas atau
Motif bunga teratai
bermakna kesucian,
kesempurnaan,
keagungan, dan
kemuliaan.
Dalam agama Hindu

Bentuk
Kelat bahu berbentuk
lingkaran karena mengikuti
bentuk lengan atas. Kelat
bahu dibuat dalam dua
komponen yaitu gelang dan
ornamen berbentuk bunga
Kelat bahu adalah
hiasan lengan atau
bahu. Kelat
bahu sebagai
simbol
keagungan dan
teratai melambangkan
pengayoman dan
kehidupan, sedangkan
dalam agama Budha
teratai.

Makna Denotatif
Kelat bahu
bahu.
Pada umumnya
kelat bahu ini
tinggi
rendahnya
harkat
teratai melambangkan
tempat duduk atau
sebuah ajaran sang
menginformasikan fungsi
guna dan fungsi simbolis
dengan menggunakan
berpontoh polos
(gelang yang besar
dan bentuknya
seseorang.
Bentuk kelat
Budha tentang
kebenaran dan
keadilan agar
elemen bunga teratai yang
berkelopak empat helai dan
pada bagian tengah bunga
bundar) Sedangkan
kelat bahu yang
dipakai figurin ini
menggunakan motif
bahu seperti
gelang,
bentuknya
bundar.
memperoleh
kesempurnaan hidup
di nirwana kelak.
Kesempurnaan hidup
terdapat sari bunga dalam
bentuk setengah lingkaran
yang digabung dengan
tangkai gelang polos
teratai.(Arupa Dhatu) dapatberpola simetris.
Bentuk dan detail
kelat bahu
FungsiMakna SimbolikAnalisis
Mempunyai
ragam hias
motif tumbuh
tumbuhan
dengan bentuk
bunga teratai.
tercapai apabila
memegang ajaran
bunga teratai yaitu
selalu dapat
mengayomi dan
memberikan ajaran
kebaikan (teratai
putih), berani
membela kebenaran
(teratai merah) dan
setia terhadap dharma
(teratai biru).

Makna Konotatif
Dari segi bentuk kelat bahu
melambangkan pemiliknya
seorang laki-laki/dewa.
Penggunaan kelat bahu
berbentuk bunga teratai
melambangkan
kewibawaan. Hal ini
merupakan manifestasi dari
Siwa yang selalu
memberikan kedamaian dan
keteduhan pada manusia.

Tabel 3 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Gelang Dewa Siwa.

Bentuk dan detail Gelang Fungsi Makna Simbolik Analisis Berbentuk lingkaran ada yang berukuran besar dan ada yang kecil. Berfungsi sebagai asesoris dan simbol/tanda. Sebagai hiasan pergelangan tangan. Gelang yang dipakai merupakan jenis gelang kana dan pontoh. Lingkaran adalah permulaan semua ciptaan Lingkaran merupakan lambang keagungan dan kekuasaan, juga sebagai simbol matahari yang bermakna sumber segala kehidupan. Lingkaran merupakan sistem simbol yang dapat diterapkan di berbagai hal. Bentuk bulat melambangkan dunia ini hanya singgahan saja, segala sesuatu akan berakhir dan ditinggalkan, untuk itu manusia harus selalu mawas diri dan mempersiapkan diri atas segala sesuatu yang dilakukan dan harus bisa dipertanggungjawabk an. Bentuk Gelang sebagai hiasan yang melingkar pada pergelangan tangan berbentuk bulat polos dengan penambahan ornamen pada bidang gelang. Makna Denotatif Secara visual gelang berbentuk dua buah bulatan polos tanpa motif dengan bentuk yang seimbang kiri dan kanan. Gelang berbentuk bulat berpasangan kecil dan besar berjumlah dua buah, hal ini untuk menunjukkan bahwa kedudukan dewa berbeda dengan manusia biasa. Makna Konotatif Gelang dengan motif kana dimaknai sebagai perhiasan yang memberikan kesan kesederhanaan. Sesuai dengan sifat Siwa yang selalu bersikap Dhyana Mudra (melindungi), memiliki sifat kebijaksanaan yang selalu memancarkan kasih sayang kepada manusia.

Bentuk dan detail Sampur Fungsi Makna Simbolik Analisis

Sampur yang dikenakan hanya tampak pada bagian melingkar di paha dan simpul di kanan-kiri pinggul, ujung sampur mengarah ke atas.

Sampur yang dikenakan berbentuk polos dan berlipat-lipat dilengkapi untaian manik-manik berbentuk piramida terpenggal.

Berfungsi sebagai selendang yang digantungkan di sekitar pinggang atau pinggul, dengan kedua ujung terurai lepas.

Terkadang ada bagian yang digantungkan melengkung pada bagian depan kaki.

Manik-manik adalah benda yang relatif kecil dan berlubang ditengahnya sebagai tempat untuk dimasuki sejenis benang/tali untuk dirangkai sebagai untaian.

Manik-manik dalam masyarakat Jawa berfungsi sebagai hiasan dan sarana upacara keagamaan

Sampur yang polos bermakna kesederhanaan. Semakin sederhana motif yang digunakan, semakin dalam makna dan simboliknya.

Manik-manik berbentuk piramida terpenggal memiliki makna harmoni yaitu kehidupan atas. Bentuk gunung atau segitiga menegaskan bentuk yang berstruktur segitiga artinya pola tiga, dimana bagian atas adalah yang paling sempurna.

Gambaran akan kosmologi tercermin dengan jelas, bahwa untuk mencapai dunia atas manusia harus melalui perantara yang mampu menghubungkan antara dunia atas dan bawah.

Komposisi memiliki makna yang senilai dengan gambaran dunia atas yang suci dimana para dewa bertempat tinggal, yang merupakan harapan dan tujuan.

Bentuk Merupakan selendang yang digantungkan sekitar pinggang atau pinggul dengan kedua ujung terurai. Berbentuk polos dan berlipat, pada kedua ujung sampur terdapat hiasan rumbai.

Makna Denotatif

Sampur menginformasikan fungsi guna dan fungsi simbolis dengan menggunakkan elemen piramida terpenggal berupa rumbai yang terdiri dari beberapa buah, sedangkan ikatan kain yang terletak pada selendang terdiri dari motif bunga yang mempunyai kelopak beberapa helai dengan sari bunga yang membentuk setengah lingkaran. Bentuk seimbang kiri dan kanan, melingkar pada bagian pinggul dengan dihiasi manik-manik.

Sampur yang dipakai laki-laki berbeda fungsinya dengan wanita, untuk laki-laki sampur dipakai hanya sebagai pelengkap/hiasan saja.

Makna Konotatif

Sampur memperlihatkan bahwa dari segi bentuk yang digunakan melambangkan seorang laki-laki/dewa. Penggunaan sampur bermotif piramida terpenggal melambangkan sesuatu yang transenden yang mampu menghubungkan antara dunia atas dan bawah.

Tabel 5 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Ptrabha Dewa Siwa.

Bentuk dan detail Prabha Fungsi Makna Simbolik Analisis

Berfungsi sebagai tempat duduk sang dewa

Sebagai lingkaran tanda kesucian yang terletak dibelakang seluruh tubuh arca

Dihiasi dengan jwala (hiasan berbentuk lidah api menyalanyala)

Teratai adalah salah satu simbolisasi penting yang muncul pada kebudayaan Hindu-Budha. Teratai dipercaya sebagai simbolisasi dari pertumbuhan, penciptaan, lambang keindahan dharma dan ketidakkekalan dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Teratai merupakan ajaran sang Budha tentang kebenaran dan keadilan agar memperoleh kesempurnaan hidup di nirwana kelak. Teratai melambangkan kesucian dan kesempurnaan, dimana bunga ini tetap bisa tumbuh dengan indah dan bersih walaupun akarnya berada di

Motif api adalah benda alam yang dipandang suci dan sebagai sumber hidup.

dalam lumpur.

Bentuk

Prabha sebagai lingkaran kesucian berada di belakang tubuh arca, berbentuk bulat telur. Prabha merupakan pengembangan tempat duduk/ kursi arwah nenek moyang yang terbuat dari batu di masa megalitik, sehingga pada seni Hindu dibuat padmasana untuk dewa-dewa.

Makna Denotatif Prabha dengan motif jwala (hiasan berbentuk lidah api menyala-nyala) tampil dalam bentuk

perwujudannya. Makna Konotatif Prabha merupakan singgasana/kursi yang melambangkan kekuasaan dan pengawasan. Dalam agama Hindu api adalah benda alam yang dipandang suci dan sebagai sumber hidup.Motif lidah api melambangkan kekuatan sakti pada empat unsur hidup (bumi, geni, banyu, angin). Api merupakan unsur kedua yang jika dikuasai akan menjadi watak pemberani, namun bila tidak dapat dikuasai akan menjadi sifat angkara murka.

2.2 Bentuk Figurin Wanita

Figurin gerabah wanita yang terdapat di Trowulan terdiri dari berbagai posisi, di antaranya dengan posisi berdiri maupun duduk. Ada juga beberapa bentuk figurin yang sedang memainkan alat-alat musik, di antaranya sedang memetik wina, menabuh rebana, dan lain-lain. Bentuk model rambut bermacam-macam, ada yang disanggul dan ada juga yang disisir ke belakang. Serta memakai asesoris berupa gelang, kalung dan subang serta hiasan bunga di atas telinganya.

Tubuhnya memakai kain, kemben serta selendang yang diselempangkan diatas pundaknya. Arca-arca ini menggambarkan penampilan atau status wanita pada masa Majapahit. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya sebagai bekal kubur, hiasan atau memerankan tokoh dalam cerita tertentu.

Gambar 2 Beberapa bentuk figurin wanita.

2.2.1 Arca Dewi Hariti

Di dalam agama Hindu, Hariti dikenal sebagai "Dewi Pelindung Anak', sedangkan dalam agama Budha Hariti merupakan "Lambang Kesuburan'. Di dalam agama Budha, Hariti adalah seorang yaksha perempuan atau yakshini yang aslinya berasal dari kota Rajagriha. Yaksha adalah salah satu dari delapan jenis makhluk gaib yang diceritakan memuja dan melindungi Dharma.

Yaksha adalah sejenis iblis pemakan daging atau roh yang menyusun pasukan raja penjaga Vaishravana. Sebagai "Pelindung Anak' dan wanita yang melahirkan, Hariti juga sebagai pelindung Dharma dan gambaran penuh welas asihnya sebagai "Pemberi Anak" kadang menyebabkan ia disalahkenali dengan Bodhisattva Avalokitesvara.

Di dalam agama Hindu dan Budha, Hariti termasuk dewi pujaan dan keberadaannya sangat diperlukan. Hariti dianggap sebagai tokoh baik dan jahat. Sebagai tokoh baik ia dipuja oleh pemeluknya dan dipercaya sebagai dewi penjaga dan pelindung anak-anak oleh orang tua yang sedang kehilangan juga dianggap sebagai ibu para dewi dan identik dengan Wrddhi isteri Kuwera (dewa kekayaan dan penjaga mata angin utara). Sebagai tokoh jahat Hariti disebut

Jara musuh Kresna. Hariti juga identik dengan Nanda salah satu bentuk Parwati yang diwujudkan mempunyai tangan empat atau delapan.

Arca Hariti di Trowulan menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh tersebut sebagai dewi pujaan. Dalam pengarcaannya Dewi Hariti digambarkan dikelilingi anak-anak kecil yang mengerubutinya, sebagai ciri pelindung, penyayang, dan sebagai perlambang kesuburan dan kemakmuran juga sebagai dewi pemberi kekayaan.

2.2.2 Figurin Dewi Hariti

Tabel 6 Analisis Estetik dan Maktna Simbolik Kalung Dewi Hariti.

Bentuk dan detail
kalung
Kalung yang
dipakai merupakan
hiasan yang
tergantung di leher
yang berhias
kombinasi motif
bunga dan sulur
suluran.
Fungsi
Merupakan
hiasan yang
tergantung pada
leher. Kalung
ini
melambangkan
tinggi
rendahnya
harkat
seseorang baik
pada tokoh raja
maupun dewa.
Berfungsi
kalung sebagai
perlengkapan/
hiasan
berbusana
sehingga
tampak
kemegahan.
Menambah nilai
indah, serasi
dan harmonis
dalam
berbusana.
Bentuk yang
rumit
mengungkapkan
keindahan yang
abadi.
Makna Simbolik
Motif bunga dan sulur
memberi makna suatu
gerak atau siklus
dalam kehidupan dan
keluhuran budi
pekerti
Kuncup bunga yang
dipakai sebagai hiasan
kepala kalung
bermakna kesucian,
menjaga kehormatan.
Sulur-suluran dalam
kosmologi Hindu
Budha merupakan
lambang kehidupan
dan simbol
keseimbangan,
mengandung makna
bahwa untuk
memasuki dunia atas
harus melalui atau
memiliki kesucian
dan kesempurnaan.
Motif pucuk daun
yang melengkung dan
berputar adalah
simbol kesabaran,
selalu tunduk, taat dan
merendahkan diri.
Analisis

Bentuk
Kalung berbentuk
lingkaran, dibuat dalam dua
komponen yaitu rantai dan
gantungannya yang
berbentuk oval gabungan
dari motif sulur-suluran dan
kuncup bunga. Kalung
memperlihatkan status dan
simbol keagungan dari dewi
Hariti.

Makna Denotatif
Kalung menginformasikan
fungsi guna dan fungsi
simbolis. Pada bagian atas
kalung bermotif bunga
berukuran kecil merupakan
kepala kalung yang
menempel pada tali yang
menyerupai rantai kalung.
Pada bagian bawah kepala
kalung terdapat gantungan
kalung berbentuk oval
bermotif bunga yang
berukuran besar yang
dikombinasikan dengan
elemen yang bermotif
sulur-suluran membuat
lengkungan dalam alur yang
estetis.

Makna Konotatif
Kalung yang digunakan
melambangkan pemiliknya
seorang wanita/dewi.
Penggunaan gantungan
Bentuk dan detail
kalung
FungsiMakna SimbolikAnalisis
kalung berbentuk sulur
suluran melambangkan
kesuburan, seperti yang
dipercaya oleh masyarakat
bahwa Dewi Hariti dapat
membawa anugerah
kesuburan dan kemakmuran
juga dipercaya sebagai
Dewi pemberi kekayaan.
Sedangkan motif kuncup
bunga melambangkan
ketaatan, seperti halnya
Dewi Hariti menjadi
penganut agama Budha
yang taat dan penuh kasih
sayang yang dapat dijadikan
keteladanan.

Tabel 7 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Kain Panjang Dewi Hariti.

Kain Panjang Fungsi Makna Simbolik Analisis

Bentuk dan detail

Sebagai busana yang dipakai untuk bebed atau sarung

Kain yang dikenakan berhias pola geometris, panjangnya sampai di atas pergelangan kaki tetapi bagian bawahnya berlekuk.

Garis lengkung identik dengan bentuk geometris. Dalam kosmologi Hindu-Budha bermakna penghubung antara dunia atas dan dunia bawah. Tangga juga bermakna jalan menuju tempat di atas atau penghubung dunia bawah dan atas yang bermakna suci.

Bentuk Kain melilit tubuh bagian bawah (panggul sampai mata kaki) dengan ketat sehingga garis yang terlihat berupa garisgaris yang luwes membentuk siluet tubuh, hal ini terutama terfokus pada bagian panggul.

Makna Denotatif Kain panjang yang digunakan menampilkan elemen garis sehingga menonjolkan bentuk tubuh. Kain panjang berlipat bergelombang tanpa wiron. Motif garis yang kecil dan halus memberikan kesan padat dan ramping sehingga memberi kesan luwes dan anggun

Makna Konotatif Motif garis yang halus melambangkan kelembutan yang bermakna memberi rasa aman dan dapat memberi ketenangan seperti sifat Dewi Hariti yang selalu memberi rasa aman pada anak-anak disekelilingnya. Oleh karenanya

Hariti dianggap sebagai "Dewi Ibu" atau Dewi pelindung anakanak yang penyayang dan penuh cinta. Hariti sebagai simbol wanita mempunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, isteri dan seorang ibu.

2.3 Bentuk Figurin Anak-anak

Figurin anak-anak adalah arca dengan roman muka yang pada umumnya menggambarkan wajah kekanak-kanakan, berpipi tembem, bibir kecil, mata besar, serta berhidung kecil. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya diduga digunakan sebagai boneka mainan dan boneka pertunjukkan dalam lakon tertentu. Dari empat buah arca anak-anak hanya satu buah saja yang dilengkapi dengan badan, itupun karena hasil penyambungan dibagian leher. Melihat proporsinya nampak bahwa figurin tidak mempunyai perbandingan yang seimbang antara besarnya kepala dengan badan; bagian kepala pada arca tersebut nampak terlalu besar untuk ukuran kepala seorang anak.

Gambar 3 Beberapa bentuk figurin anak laki-laki.

2.3.1 Figurin Anak laki-laki

Dari empat buah figurin anak-anak hanya sebuah saja yang dilengkapi dengan badan, itupun karena hasil penyambungan di bagian leher. Melihat proporsinya nampak bahwa arca ini mempunyai perbandingan yang tidak seimbang antara ukuran kepala dan badannya. Kalau dilihat bagian badannya saja, ada kemungkinan bahwa badan tersebut menggambarkan tubuh seorang anak yang berbadan gemuk. Ciri tubuh seorang anak nampak pada bagian bahunya yang belum berkembang dan ukuran tangannya yang pendek kegemuk-kegemukan yang lazim dimiliki oleh seorang anak, akan tetapi sikap duduk dan posisi tangannya sangat meragukan anggapan kalau yang digambarkan dengan cara demikian adalah seorang anak. Dengan tidak

seimbangnya proporsi serta sikap duduk yang tidak cocok bagi seorang anak, maka kemungkinan ada kesalahan rekonstruksi dimana kepala arca dipasang pada badan yang bukan miliknya.

Berdasarkan tatanan rambutnya, figurin gerabah anak-anak dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu: model rambut kuncung dan rambut kucir. Rambut yang digambarkan pada figurin ini merupakan jenis rambut kuncung. Jenis model rambut ini merupakan cara memotong rambut yang sampai sekarang masih dilakukan di dalam masyarakat Jawa dan Bali. Di Jawa seorang anak yang telah berumur 210 hari dicukur rambutnya sampai licin, kecuali segumpal rambut di bagian depan agar supaya anak terhindar dari penyakit. Sedangkan rambut kucir selain ditampilkan pada figurin anak-anak juga dibuat pada figurin dalam bentuk orang dewasa, seperti tokoh Panakawan misalnya Semar, Gareng dan Petruk. Kemungkinan pemberian kucir pada para Panakawan adalah untuk memberi kesan atas tingkah laku mereka yang lucu dan kadang ke kanak-kanakan.

Ditinjau dari segi pembuatan nampak bahwa figurin ini diselesaikan dengan penggarapan yang teliti. Figurin ini berukuran kecil dan bentuknya sederhana tetapi memancarkan kekuatan ekspresi. Seniman Majapahit ternyata telah menemukan cara yang baik untuk menggambarkan raut wajah anak-anak. Garisgaris wajah yang serba lembut dan ukuran dahi yang cenderung lebar serta bentuk mata yang bulat memberi kesan yang kuat tentang karakter anatomi anak-anak.

2.3.2 Figurin Anak Laki-Laki

Tabel 8 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Rambut Kuncung Anak Laki-Laki.

Bentuk dan detail
Rambut Kuncung
FungsiMakna SimbolikAnalisis
Rambut yang
ditampilkan
pada figurin ini
merupakan jenis
rambut
kuncung.

Bentuk
Segumpal rambut di bagian
depan.

Makna Denotatif
Tatanan rambut kuncung
merupakan tatanan rambut
yang biasa terdapat pada
Jenis model
rambut ini
merupakan
rambut yang
sampai sekarang
masih dilakukan
di dalam
masyarakat
anak-anak di Jawa. Selain
tatanan rambut, tidak ada
lagi hiasan atau atribut lain
yang dikenakan oleh anak
dalam figurin gerabah ini.

Makna Konotatif
Bentuk dan tatanan rambut
merupakan figurin yang
Jawa dan Bali,digolongkan dalam
dimana seorangmasyarakat biasa. Dari
anak yang telahfigurin anak dengan tatanan
berumur 210rambut kuncung ini hanya
hari dicukurterdapat kepercayaan dari
sampai licin.orang Jawa bahwa tatanan
rambut kuncung merupakan
kepercayaan agar anak
terhindar dari penyakit.

Tabel 9 Analisis Estetik dan Makna Simbolik duduk bersila Anak Laki-Laki.

Bentuk dan detail
duduk bersila
FungsiMakna SimbolikAnalisis
Sikap duduk
bersila
menandakan
bahwa pada
masa itu budaya
duduk di atas
kursi belum
dikenal, apalagi
bagi masyarakat
biasa yang biasa
duduk di lantai
dengan bersila.
-
Bentuk
Sikap duduk bersila merupakan
sikap
duduk
yang
biasa
ditampilkan oleh orang Jawa pada
masa lalu.

Makna Denotatif
Duduk bersila yang ditampilkan
figurin anak merupakan
kebiasaan masyarakat pada masa
lalu. Hal ini dikarenakan pada
masa itu belum dikenal adanya
budaya duduk di kursi, kecuali
bagi raja pada zaman Majapahit
(dampar kencana).
 Makna konotatif (-)

2.4 Bentuk Figurin dengan Wajah Deformasi

Arca figurin dengan wajah dideformasi ialah figurin yang wajahnya dibuat lebih buruk dari wajah/roman muka pada umumnya, misalnya berwajah mirip kera, bibir tebal, mata sipit serta hidung pesek. Karakter wajah seperti ini antara lain dijumpai pada relief cerita Bubuksah dan Gagangaking di candi Surowono serta relief cerita Panji di Gunung Penanggungan. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya diduga untuk menggambarkan tokoh yang berwajah lucu dan berwajah kera dalam cerita Ramayana.

Bentuk figurin dengan wajah di deformasipun ada yang dibuat dengan wajah ¾ pandangan seperti pada figur Semar ini, selain untuk menunjukkan adanya dimensi, juga diperlukan untuk menjalin hubungan dengan tokoh lain. Hal ini biasanya diperuntukkan bagi figurin sebagai boneka pertunjukkan.

Gambar 4 Beberapa bentuk figurin dengan wajah deformasi.

2.4.1 Semar

Di kalangan spiritual Jawa, tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis yaitu: suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Golongan panakawan tidak memiliki potongan tubuh yang dapat mewakili

kelompoknya. Pada golongan ini masing-masing tokoh memiliki kekhasan. Semar bertubuh pendek khas, perut gendut dan pantat mencuat. Mata 'mulan' (ke atas), hidung pesek, mulut besar dan gigi hanya satu, wajah berwarna putih dan tubuh hitam.

Ciri sosok Semar adalah: (a) Berbadan bulat; (b) Bermata sipit kecil; (c) Dagu atau mulutnya diikat pakai rantai sampai ke kaki (d) Tangan kiri kelima jarinya digenggam; (e) Mempunyai satu gigi (f) Memakai kuncung (rambut di kepala) seperti kanak kanak; (g) Tertawannya selalu diakhiri nada tangisan; (h) Berprofil berdiri sekaligus jongkok; (i) Tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.

Semar dianggap sama dengan akal budi, Ratu Adil, tidak ingin memegang nafsu kekuasaan duniawi. Pada dasarnya menurut mitos kesaktian Semar ini hampir tidak terbatas.Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu: (a) tidak pernah lapar; (b) tidak pernah mengantuk; (c) tidak pernah jatuh cinta; (d) tidak pernah bersedih; (e) tidak pernah merasa capek; (f) tidak pernah menderita sakit; (g) tidak pernah kepanasan; (h) tidak pernah kedinginan. Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Dapat dikatakan bahwa Semar merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagian abadi lahir batin.

2.4.2 Figurin Semar

Tabel 10 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Ikat Rambut.

Bentuk dan detail
Ikat Rambut
FungsiMakna SimbolikAnalisis Estetik
Berfungsi sebagai
ikat rambut.
Memakai
kuncung dan
kucir (rambut di
kepala) seperti
kanak kanak,
namun juga
berwajah sangat
tua.
Kuncung berasal dari
kata Kun dan
Muncung atau muncul
dan timbul.
Rambut semar
"kuncung"
(jarwadasa/peribahasa
jawa kuno) maknanya
hendak mengatakan:
akuning sang kuncung
sebagai kepribadian
pelayan. Semar
sebagai pelayan
mengejawantah
melayani umat, tanpa
pamrih.

Bentuk
Rambut diatur dalam jalinan
tunggal sehingga membentuk
semacam kucir di bagian
tengah atas kepala, bagian
atas kucir diberi hiasan yang
mungkin berfungsi sebagai
pengikat rambut.

Makna Denotatif
Pemberian kucir pada
Semar adalah untuk
memberi kesan atas tingkah
lakunya yang kadang
kadang kekanak-kanakan
dan jenaka.

Makna Konotatif
Ikatan rambut berbentuk
"kucir' mengandung makna
penyatuan sifat
keduniawian Semar dengan
daya-daya transenden.
Ikatan rambut yang terdiri
dari "8 sakti" atau delapan
daya terdapat pada rambut
yang diikat dan ada di
ubun-ubun.

Tabel 11 Analisis Estetik dan Makna Anting Semar.

Bentuk dan detail
Anting
FungsiMakna SimbolikAnalisis Estetik
Sebagai hiasan
daun telinga.
Lingkaran merupakan
lambang kesempurnaan,
keagungan dan

Bentuk
Hiasan telinga berbentuk
silinder membentuk bulatan
Berbentuk
silinder dan
berukuran
kekuasaan juga sebagai
simbol matahari dan
bulan yang bermakna
polos.

Makna Denotatif
Secara umum anting-anting
besar.sumber segala
kehidupan, lambang
polos yang dipakai Semar
mempunyai fungsi guna dan
Pada subang
tersebut
nampak dengan
cakra/mata angin dan
simbol kepercayaan
kosmogoni.
fungsi simbolis dengan
menggunakan elemen
berbentuk lingkaran dan
jelas adanya
lubang di
tengah.
Matahari dan bulan juga
merupakan simbol
dilengkapi motif yang
berbentuk geometris.

Makna Konotatif

kembar dari pelindung dan penyembuh yang membutuhkan perhatian baik siang maupun malam.

Bentuk bulat melambangkan agar manusia selalu mawas diri atas segala sesuatu yang dilakukan dan harus bisa dipertanggungjawabkan

.

Mandala bermakna lingkaran, bulatan sering kali diartikan sebagai lingkaran suci lambang kosmos yang memancarkan berbagai aspek pola tertentu sehingga membentuk sebuah lingkaran. Perpaduan bentuk lingkaran dan geometris melambangkan kesederhanaan dan kesempurnaan, sesuai dengan sosok Semar yang sederhana dan rendah hati. Semar selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, menguasai diri dan mempunyai kekuatan mengekang nafsu keduniawian agar mencapai kemuliaan.

3 Kesimpulan

Pembuatan figurin gerabah Majapahit berkaitan dengan pertimbangan kaidahkaidah seni yang menyangkut unsur bentuk, makna dan simbolik. Pembuatan figurin didasarkan atas suatu perhitungan yang matang menyangkut teknik dan proses penggarapan. Figurin gerabah merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan atau ajaran moral (nilai-nilai keagamaan, kepahlawanan, kesetiaan dan cinta kasih) yang memiliki nilai komunikatif.

Bentuk dan makna simbolik figurin gerabah Majapahit mengacu pada kaidahkaidah dan unsur-unsur budaya yang berlaku pada masa itu, di antaranya: agama dan kepercayaan yang dianut oleh raja dan masyarakat. Keterkaitan ini tidak hanya merupakan penggarapan sebuah patung arca untuk memenuhi rasa kepuasaan, akan tetapi terkait dengan keperluan upacara keagamaan sebagai arca pendharmaan dan simbol sosial masyarakat juga sebagai boneka pertunjukkan. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, figurin gerabah tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh asing yang masuk dalam kebudayaan Majapahit. Figurin gerabah dikategorikan sebagai produk akulturasi. Hal ini dapat dilihat pada unsur-unsur pembentuk figurin gerabah Majapahit yang memiliki unsur-unsur percampuran dari beberapa kebudayaan seperti halnya kebudayaan Hindu dan Budha.

Bentuk dan makna simbolik figurin gerabah Majapahit memiliki rangkaian yang terkait dengan budaya dalam kehidupan masyarakat. Keterkaitan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung, yaitu agama yang dianut sebagian besar masyarakat, kepercayaan dan keyakinan akan adanya kekuatan gaib, adat istidat, kesenian dan latar belakang masyarakat. Dengan demikian figurin gerabah Majapahit sarat dengan seluruh sendi kehidupan masyarakat pendukungnya yang mencerminkan ketaatan dalam beragama.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

2
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
25th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Related Research

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20261
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

Hinduism 0.68
level 2
Buddhism 0.58
level 2
level 1

References

  1. Sedyawati, Edi, et al. 1992. Sejarah Kebudayaan Jawa. Jakarta: Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.