1 Pendahuluan
Trowulan sebagai bekas ibu kota kerajaan Majapahit merupakan situs yang terbesar dan terdapat banyak sisa peninggalan bersejarah. Berbagai bukti tinggalannya berupa artefaktual, monumen, karya sastra dan cerita rakyat (folklore) [1]. Situs Trowulan dengan luas ± 100 km2 merupakan sebuah daerah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto, letaknya kurang lebih 13 km ke arah Jombang. Di situs Trowulan terdapat pula peningalanpeninggalan gerabah dan terakota. Temuan gerabah dari situs Trowulan beraneka ragam jenisnya, dari segi kualitas dan kuantitas menunjukkan tingkat yang tinggi.
Gerabah Majapahit pada masa Hayam Wuruk mencapai puncak perkembangannya dan menghasilkan benda-benda peralatan kehidupan yang memuat nilai-nilai estetika, simbolik dan fungsional. Temuan fragmen gerabah dapat dikelompokkan menjadi jenis wadah, bukan wadah dan komponen bangunan. Jenis wadah terdiri dari mangkuk, cawan, buli-buli, cepuk. Jenis temuan bukan wadah terdiri dari tungku, lampu minyak, figurin dan miniatur bangunan. Sedangkan jenis komponen bangunan terdiri dari genteng, hiasan atap, memolo, pipa saluran air, ubin, kemuncak, dan sebagainya. Gerabah dijadikan perlengkapan berbagai macam upacara yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Gerabah dianggap memiliki nilai religi yang sangat tinggi. Dalam upacara penguburan pada masyarakat prasejarah, gerabah sering dipakai sebagai bekal kubur (burial-gift) atau sebagai wadah kubur yang disebut "kubur tempayan" (jar burial). Gerabah dianggap penting dan dapat dipakai sebagai bekal perjalanan maupun bekal bagi kehidupan di alam yang lain.
Dalam perkembangannya terdapat gerabah dalam bentuk figurin yang berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan dalam rangka pelaksanaan upacara pitrayajna (upacara untuk leluhur). Figurin bisa merupakan gambaran atau perwujudan roh nenek moyang juga sebagai alat permainan anak-anak atau boneka dalam seni pertunjukan. Terutama dalam tokoh-tokoh yang dikenal dalam cerita Panji, pendeta/pertapa (Bubuksah) dan panakawan, yang dijadikan sebagai boneka, baik untuk permainan anak-anak atau sebagai alat peraga dalam membawakan cerita tertentu.
Yang menarik untuk dijadikan penelitian dari benda-benda kerajinan gerabah tradisional di Trowulan, adalah unsur-unsur bentuk dan makna simbolik sebagai benda-benda kehidupan sehari-hari maupun benda-benda sakral/upacara. Benda-benda gerabah tersebut perlu dikaji karena penggalian unsur-unsur bentuk dan makna simbolik yang terkandung pada gerabah peninggalan Majapahit memiliki rangkaian yang terkait dengan budaya dalam kehidupan masyarakat dan merupakan aset yang tak ternilai bagi kehidupan sosial budaya. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan maksud mengkaji bentuk dan makna simbolik yang terdapat di balik perwujudan figurin gerabah Majapahit. Metode yang digunakan adalah dengan memadukan pendekatan historis dan pendekatan estetik. Sementara teknik penelitian meliputi; teknik pengamatan atau observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur untuk memperoleh data yang akurat. Agar memperoleh akurasi, validitas, reliabilitas data yang mendukung pembahasan, maka analisis yang dikembangkan akan ditempuh dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi berbagai informasi tertulis, lisan dan visual. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis data secara tekstual dan kontekstual.
2 Bentuk dan Makna Simbolik Figurin Gerabah Majapahit 1350-1389
2.1 Bentuk Figurin Laki-laki
Di Trowulan banyak ditemukan figurin yang menggambarkan sosok laki-laki. Arca figurin laki-laki dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu: pendeta, kaum bangsawan dan rakyat biasa. Arca pendeta digambarkan dengan rambut disanggul di atas kepala atau tangan disilangkan di depan dada. Arca bangsawan digambarkan memakai perhiasan lengkap dan pada dahinya terdapat urna. Sedang arca laki-laki dari golongan rakyat biasa digambarkan berambut pendek, bertutup kepala, tidak memakai baju. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya sebagai benda bekal kubur, arca persembahan dan boneka pertunjukkan yang memerankan tokoh dalam cerita tertentu.
Gambar 1 Beberapa bentuk figurin laki-laki.
2.1.1 Arca Dewa Siwa
Di India maupun Indonesia, Siwa adalah figur dewa yang paling terkenal. Di Jawa, ia dianggap yang tertinggi, karenanya ada yang menganggapnya sebagai Mahadewa. Tanda-tanda sebagai Siwa ditunjukan pada mahkotanya yang terdapat tengkorak di atas bulan sabit, adanya mata ketiga pada dahi, bertangan 4, berselempangkan ular, mengenakan kulit harimau dipinggang serta senjata trisula pada sandaran. Tangan-tangannya memegang kipas, tasbih, tunas bunga teratai dan benda bulat sebagai benih
alam semesta.
Arca digambarkan dalam sikap duduk bersila di atas padmasana. Kedua telapak tangan di atas pangkuan, yang sebagian sudah pecah sehingga tidak diketahui lagi benda yang menjadi laksananya. Arca yang dibuat dari gerabah ini mempunyai sandaran berbentuk sisi sejajar, bentuk puncaknya sudah pecah. Sirascakra dipahat polos, berbentuk bulat telur sampai di belakang bahu. Asananya berupa padmasana ganda berbentuk segi empat polos di bagian
bawah, sementara lapik bagian atas berhias pola segi enam. Kalung yang dipahatkan di bagian leher arca bersusun 2, berhias pola sulur. Kalung yang kecil kecuali berhias pola sulur juga berhias deretan manik-manik. Tangannya mengenakan dua gelang lengan (kelat bahu) dengan pola sulur, sedangkan gelang tangan berbentuk gelang kana. Gelang kaki berwujud untaian manikmanik. Sampur yang dikenakan hanya tampak pada bagian melingkar di paha dan simpul di kanan-kiri pinggul, ujung sampur mengarah ke atas. Sampur yang dikenakan berbentuk polos dan berlipat-lipat. Selain hiasan-hiasan tersebut terdapat untaian manik-manik menjuntai ke bahu.
2.1.2 Figurin Dewa Siwa
Tabel 1 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Kalung Dewa Siwa.
| Bentuk dan detail | |||
|---|---|---|---|
| kalung | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
| Berfungsi | Motif sulur-suluran | Bentuk Kalung berbentuk lingkaran | |
| sebagai asesoris | melambangkan | karena mengikuti bentuk | |
| dan | kehidupan yang | leher. Kalung dibuat dalam | |
| simbol/tanda. | mengandung | dua komponen yaitu rantai | |
| pengertian suci. | dan gantungannya yang | ||
| Sebagai hiasan | Sulur-suluran juga | berbentuk gabungan dari | |
| leher, kalung | merupakan simbol | motif sulur-suluran dan | |
| sebagai simbol | kesuburan dan | kuncup bunga. Kombinasi | |
| Kalung bermotif | dan tinggi | kehidupan yang | bentuk sangat harmonis |
| bunga ceplok dan | rendahnya | bergerak dinamis. | seimbang kiri dan kanan. |
| kuncup yang | harkat | Kalung tergantung tinggi | |
| dikombinasikan | seseorang. | Motif ceplok | mengikat dari bagian leher |
| dengan motif sulur | merupakan simbol | yang memperlihatkan status | |
| suluran. | Mempunyai | tentang alam semesta | dan simbol keagungan dari |
| motif bunga | dan kekuasaan | dewa Siwa. Secara visual | |
| Ceplok adalah | ceplok dan kuncup yang | diantara manusia. | bentuk didominasi dengan |
| ragam hias yang | dikombinasikan | Motif kuncup | elemen sulur-suluran. Hal ini mempertimbangkan |
| menstilasi bentuk | dengan motif | merupakan simbol | aspek fungsi sebagai simbol |
| dari bunga, daun | sulur-suluran | kematian dan | kehidupan. Bentuk bunga |
| yang diatur secara | yang luwes dan | kehidupan kembali, | dan sulur-suluran |
| simetris. | dinamis. | kesempurnaan, | merupakan perpaduan |
| kekayaan dan | antara rantai dan | ||
| Kuncup menstilasi | kemegahan serta | gantungannya cukup | |
| dari bunga yang berpusat ditengah. | Kombinasi | keluhuran budi | dominan sehingga cukup |
| bentuk sangat | pekerti. | menonjol dan bentuknya | |
| Sulur merupakan | harmonis | dapat dikenali. | |
| ornamen yang | menunjukkan | Kombinasi motif | Makna Denotatif |
| menggambarkan | keindahan | sulur dan ceplok | Kalung menginformasikan |
| tumbuh-tumbuhan | secara visual. | merupakan simbol | fungsi guna dan fungsi |
| atau tanaman | Bentuk | keagungan dan | simbolis dengan |
| menjalar. | seimbang kiri | kemegahan. | menggunakan elemen sulur |
| dan kanan. | suluran, ceplok dan kuncup |
| Bentuk dan detail kalung | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
|---|---|---|---|
| bunga. Motif suluran pada | |||
| gantungan kalung | |||
| ditempatkan di kiri dan | |||
| kanan motif ceplok dan | |||
| kuncup bunga secara | |||
| simetris. | |||
| Makna Konotatif | |||
| Dari bentuk kalung yang | |||
| digunakan melambangkan | |||
| pemilikinya seorang laki | |||
| laki/dewa. Penggunaan | |||
| gantungan kalung berbentuk | |||
| sulur-suluran | |||
| melambangkan kehidupan | |||
| yang mengandung makna | |||
| kesempurnaan dan | |||
| kesucian, sesuai dengan | |||
| dewa Siwa yang dianggap | |||
| sebagai Mahadewa yang | |||
| memiliki sifat | |||
| kebijaksanaan dan | |||
| mengayomi. |
Tabel 2 Analisis Estetik dan Makna Kelat Bahu Dewa Siwa.
| Bentuk dan detail kelat bahu | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
|---|---|---|---|
| Berfungsi sebagai asesoris dan simbol/tanda. Sebagai hiasan lengan atas atau | Motif bunga teratai bermakna kesucian, kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan. Dalam agama Hindu | Bentuk Kelat bahu berbentuk lingkaran karena mengikuti bentuk lengan atas. Kelat bahu dibuat dalam dua komponen yaitu gelang dan ornamen berbentuk bunga | |
| Kelat bahu adalah hiasan lengan atau | bahu. Kelat bahu sebagai simbol keagungan dan | teratai melambangkan pengayoman dan kehidupan, sedangkan dalam agama Budha | teratai. Makna Denotatif Kelat bahu |
| bahu. Pada umumnya kelat bahu ini | tinggi rendahnya harkat | teratai melambangkan tempat duduk atau sebuah ajaran sang | menginformasikan fungsi guna dan fungsi simbolis dengan menggunakan |
| berpontoh polos (gelang yang besar dan bentuknya | seseorang. Bentuk kelat | Budha tentang kebenaran dan keadilan agar | elemen bunga teratai yang berkelopak empat helai dan pada bagian tengah bunga |
| bundar) Sedangkan kelat bahu yang dipakai figurin ini menggunakan motif | bahu seperti gelang, bentuknya bundar. | memperoleh kesempurnaan hidup di nirwana kelak. Kesempurnaan hidup | terdapat sari bunga dalam bentuk setengah lingkaran yang digabung dengan tangkai gelang polos |
| teratai. | (Arupa Dhatu) dapat | berpola simetris. |
| Bentuk dan detail kelat bahu | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
|---|---|---|---|
| Mempunyai ragam hias motif tumbuh tumbuhan dengan bentuk bunga teratai. | tercapai apabila memegang ajaran bunga teratai yaitu selalu dapat mengayomi dan memberikan ajaran kebaikan (teratai putih), berani membela kebenaran (teratai merah) dan setia terhadap dharma (teratai biru). | Makna Konotatif Dari segi bentuk kelat bahu melambangkan pemiliknya seorang laki-laki/dewa. Penggunaan kelat bahu berbentuk bunga teratai melambangkan kewibawaan. Hal ini merupakan manifestasi dari Siwa yang selalu memberikan kedamaian dan keteduhan pada manusia. |
Tabel 3 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Gelang Dewa Siwa.
Bentuk dan detail Gelang Fungsi Makna Simbolik Analisis Berbentuk lingkaran ada yang berukuran besar dan ada yang kecil. Berfungsi sebagai asesoris dan simbol/tanda. Sebagai hiasan pergelangan tangan. Gelang yang dipakai merupakan jenis gelang kana dan pontoh. Lingkaran adalah permulaan semua ciptaan Lingkaran merupakan lambang keagungan dan kekuasaan, juga sebagai simbol matahari yang bermakna sumber segala kehidupan. Lingkaran merupakan sistem simbol yang dapat diterapkan di berbagai hal. Bentuk bulat melambangkan dunia ini hanya singgahan saja, segala sesuatu akan berakhir dan ditinggalkan, untuk itu manusia harus selalu mawas diri dan mempersiapkan diri atas segala sesuatu yang dilakukan dan harus bisa dipertanggungjawabk an. Bentuk Gelang sebagai hiasan yang melingkar pada pergelangan tangan berbentuk bulat polos dengan penambahan ornamen pada bidang gelang. Makna Denotatif Secara visual gelang berbentuk dua buah bulatan polos tanpa motif dengan bentuk yang seimbang kiri dan kanan. Gelang berbentuk bulat berpasangan kecil dan besar berjumlah dua buah, hal ini untuk menunjukkan bahwa kedudukan dewa berbeda dengan manusia biasa. Makna Konotatif Gelang dengan motif kana dimaknai sebagai perhiasan yang memberikan kesan kesederhanaan. Sesuai dengan sifat Siwa yang selalu bersikap Dhyana Mudra (melindungi), memiliki sifat kebijaksanaan yang selalu memancarkan kasih sayang kepada manusia.
Bentuk dan detail Sampur Fungsi Makna Simbolik Analisis
Sampur yang dikenakan hanya tampak pada bagian melingkar di paha dan simpul di kanan-kiri pinggul, ujung sampur mengarah ke atas.
Sampur yang dikenakan berbentuk polos dan berlipat-lipat dilengkapi untaian manik-manik berbentuk piramida terpenggal.
Berfungsi sebagai selendang yang digantungkan di sekitar pinggang atau pinggul, dengan kedua ujung terurai lepas.
Terkadang ada bagian yang digantungkan melengkung pada bagian depan kaki.
Manik-manik adalah benda yang relatif kecil dan berlubang ditengahnya sebagai tempat untuk dimasuki sejenis benang/tali untuk dirangkai sebagai untaian.
Manik-manik dalam masyarakat Jawa berfungsi sebagai hiasan dan sarana upacara keagamaan
Sampur yang polos bermakna kesederhanaan. Semakin sederhana motif yang digunakan, semakin dalam makna dan simboliknya.
Manik-manik berbentuk piramida terpenggal memiliki makna harmoni yaitu kehidupan atas. Bentuk gunung atau segitiga menegaskan bentuk yang berstruktur segitiga artinya pola tiga, dimana bagian atas adalah yang paling sempurna.
Gambaran akan kosmologi tercermin dengan jelas, bahwa untuk mencapai dunia atas manusia harus melalui perantara yang mampu menghubungkan antara dunia atas dan bawah.
Komposisi memiliki makna yang senilai dengan gambaran dunia atas yang suci dimana para dewa bertempat tinggal, yang merupakan harapan dan tujuan.
Bentuk Merupakan selendang yang digantungkan sekitar pinggang atau pinggul dengan kedua ujung terurai. Berbentuk polos dan berlipat, pada kedua ujung sampur terdapat hiasan rumbai.
Makna Denotatif
Sampur menginformasikan fungsi guna dan fungsi simbolis dengan menggunakkan elemen piramida terpenggal berupa rumbai yang terdiri dari beberapa buah, sedangkan ikatan kain yang terletak pada selendang terdiri dari motif bunga yang mempunyai kelopak beberapa helai dengan sari bunga yang membentuk setengah lingkaran. Bentuk seimbang kiri dan kanan, melingkar pada bagian pinggul dengan dihiasi manik-manik.
Sampur yang dipakai laki-laki berbeda fungsinya dengan wanita, untuk laki-laki sampur dipakai hanya sebagai pelengkap/hiasan saja.
Makna Konotatif
Sampur memperlihatkan bahwa dari segi bentuk yang digunakan melambangkan seorang laki-laki/dewa. Penggunaan sampur bermotif piramida terpenggal melambangkan sesuatu yang transenden yang mampu menghubungkan antara dunia atas dan bawah.
Tabel 5 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Ptrabha Dewa Siwa.
Bentuk dan detail Prabha Fungsi Makna Simbolik Analisis
Berfungsi sebagai tempat duduk sang dewa
Sebagai lingkaran tanda kesucian yang terletak dibelakang seluruh tubuh arca
Dihiasi dengan jwala (hiasan berbentuk lidah api menyalanyala)
Teratai adalah salah satu simbolisasi penting yang muncul pada kebudayaan Hindu-Budha. Teratai dipercaya sebagai simbolisasi dari pertumbuhan, penciptaan, lambang keindahan dharma dan ketidakkekalan dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Teratai merupakan ajaran sang Budha tentang kebenaran dan keadilan agar memperoleh kesempurnaan hidup di nirwana kelak. Teratai melambangkan kesucian dan kesempurnaan, dimana bunga ini tetap bisa tumbuh dengan indah dan bersih walaupun akarnya berada di
Motif api adalah benda alam yang dipandang suci dan sebagai sumber hidup.
dalam lumpur.
Bentuk
Prabha sebagai lingkaran kesucian berada di belakang tubuh arca, berbentuk bulat telur. Prabha merupakan pengembangan tempat duduk/ kursi arwah nenek moyang yang terbuat dari batu di masa megalitik, sehingga pada seni Hindu dibuat padmasana untuk dewa-dewa.
Makna Denotatif Prabha dengan motif jwala (hiasan berbentuk lidah api menyala-nyala) tampil dalam bentuk
perwujudannya. Makna Konotatif Prabha merupakan singgasana/kursi yang melambangkan kekuasaan dan pengawasan. Dalam agama Hindu api adalah benda alam yang dipandang suci dan sebagai sumber hidup.Motif lidah api melambangkan kekuatan sakti pada empat unsur hidup (bumi, geni, banyu, angin). Api merupakan unsur kedua yang jika dikuasai akan menjadi watak pemberani, namun bila tidak dapat dikuasai akan menjadi sifat angkara murka.
2.2 Bentuk Figurin Wanita
Figurin gerabah wanita yang terdapat di Trowulan terdiri dari berbagai posisi, di antaranya dengan posisi berdiri maupun duduk. Ada juga beberapa bentuk figurin yang sedang memainkan alat-alat musik, di antaranya sedang memetik wina, menabuh rebana, dan lain-lain. Bentuk model rambut bermacam-macam, ada yang disanggul dan ada juga yang disisir ke belakang. Serta memakai asesoris berupa gelang, kalung dan subang serta hiasan bunga di atas telinganya.
Tubuhnya memakai kain, kemben serta selendang yang diselempangkan diatas pundaknya. Arca-arca ini menggambarkan penampilan atau status wanita pada masa Majapahit. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya sebagai bekal kubur, hiasan atau memerankan tokoh dalam cerita tertentu.
Gambar 2 Beberapa bentuk figurin wanita.
2.2.1 Arca Dewi Hariti
Di dalam agama Hindu, Hariti dikenal sebagai "Dewi Pelindung Anak', sedangkan dalam agama Budha Hariti merupakan "Lambang Kesuburan'. Di dalam agama Budha, Hariti adalah seorang yaksha perempuan atau yakshini yang aslinya berasal dari kota Rajagriha. Yaksha adalah salah satu dari delapan jenis makhluk gaib yang diceritakan memuja dan melindungi Dharma.
Yaksha adalah sejenis iblis pemakan daging atau roh yang menyusun pasukan raja penjaga Vaishravana. Sebagai "Pelindung Anak' dan wanita yang melahirkan, Hariti juga sebagai pelindung Dharma dan gambaran penuh welas asihnya sebagai "Pemberi Anak" kadang menyebabkan ia disalahkenali dengan Bodhisattva Avalokitesvara.
Di dalam agama Hindu dan Budha, Hariti termasuk dewi pujaan dan keberadaannya sangat diperlukan. Hariti dianggap sebagai tokoh baik dan jahat. Sebagai tokoh baik ia dipuja oleh pemeluknya dan dipercaya sebagai dewi penjaga dan pelindung anak-anak oleh orang tua yang sedang kehilangan juga dianggap sebagai ibu para dewi dan identik dengan Wrddhi isteri Kuwera (dewa kekayaan dan penjaga mata angin utara). Sebagai tokoh jahat Hariti disebut
Jara musuh Kresna. Hariti juga identik dengan Nanda salah satu bentuk Parwati yang diwujudkan mempunyai tangan empat atau delapan.
Arca Hariti di Trowulan menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh tersebut sebagai dewi pujaan. Dalam pengarcaannya Dewi Hariti digambarkan dikelilingi anak-anak kecil yang mengerubutinya, sebagai ciri pelindung, penyayang, dan sebagai perlambang kesuburan dan kemakmuran juga sebagai dewi pemberi kekayaan.
2.2.2 Figurin Dewi Hariti
Tabel 6 Analisis Estetik dan Maktna Simbolik Kalung Dewi Hariti.
| Bentuk dan detail | |||
|---|---|---|---|
| kalung Kalung yang dipakai merupakan hiasan yang tergantung di leher yang berhias kombinasi motif bunga dan sulur suluran. | Fungsi Merupakan hiasan yang tergantung pada leher. Kalung ini melambangkan tinggi rendahnya harkat seseorang baik pada tokoh raja maupun dewa. Berfungsi kalung sebagai perlengkapan/ hiasan berbusana sehingga tampak kemegahan. Menambah nilai indah, serasi dan harmonis dalam berbusana. Bentuk yang rumit mengungkapkan keindahan yang abadi. | Makna Simbolik Motif bunga dan sulur memberi makna suatu gerak atau siklus dalam kehidupan dan keluhuran budi pekerti Kuncup bunga yang dipakai sebagai hiasan kepala kalung bermakna kesucian, menjaga kehormatan. Sulur-suluran dalam kosmologi Hindu Budha merupakan lambang kehidupan dan simbol keseimbangan, mengandung makna bahwa untuk memasuki dunia atas harus melalui atau memiliki kesucian dan kesempurnaan. Motif pucuk daun yang melengkung dan berputar adalah simbol kesabaran, selalu tunduk, taat dan merendahkan diri. | Analisis Bentuk Kalung berbentuk lingkaran, dibuat dalam dua komponen yaitu rantai dan gantungannya yang berbentuk oval gabungan dari motif sulur-suluran dan kuncup bunga. Kalung memperlihatkan status dan simbol keagungan dari dewi Hariti. Makna Denotatif Kalung menginformasikan fungsi guna dan fungsi simbolis. Pada bagian atas kalung bermotif bunga berukuran kecil merupakan kepala kalung yang menempel pada tali yang menyerupai rantai kalung. Pada bagian bawah kepala kalung terdapat gantungan kalung berbentuk oval bermotif bunga yang berukuran besar yang dikombinasikan dengan elemen yang bermotif sulur-suluran membuat lengkungan dalam alur yang estetis. Makna Konotatif Kalung yang digunakan melambangkan pemiliknya |
| seorang wanita/dewi. Penggunaan gantungan |
| Bentuk dan detail kalung | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
|---|---|---|---|
| kalung berbentuk sulur | |||
| suluran melambangkan | |||
| kesuburan, seperti yang | |||
| dipercaya oleh masyarakat | |||
| bahwa Dewi Hariti dapat | |||
| membawa anugerah | |||
| kesuburan dan kemakmuran | |||
| juga dipercaya sebagai | |||
| Dewi pemberi kekayaan. | |||
| Sedangkan motif kuncup | |||
| bunga melambangkan | |||
| ketaatan, seperti halnya | |||
| Dewi Hariti menjadi | |||
| penganut agama Budha | |||
| yang taat dan penuh kasih | |||
| sayang yang dapat dijadikan | |||
| keteladanan. |
Tabel 7 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Kain Panjang Dewi Hariti.
Kain Panjang Fungsi Makna Simbolik Analisis
Bentuk dan detail
Sebagai busana yang dipakai untuk bebed atau sarung
Kain yang dikenakan berhias pola geometris, panjangnya sampai di atas pergelangan kaki tetapi bagian bawahnya berlekuk.
Garis lengkung identik dengan bentuk geometris. Dalam kosmologi Hindu-Budha bermakna penghubung antara dunia atas dan dunia bawah. Tangga juga bermakna jalan menuju tempat di atas atau penghubung dunia bawah dan atas yang bermakna suci.
Bentuk Kain melilit tubuh bagian bawah (panggul sampai mata kaki) dengan ketat sehingga garis yang terlihat berupa garisgaris yang luwes membentuk siluet tubuh, hal ini terutama terfokus pada bagian panggul.
Makna Denotatif Kain panjang yang digunakan menampilkan elemen garis sehingga menonjolkan bentuk tubuh. Kain panjang berlipat bergelombang tanpa wiron. Motif garis yang kecil dan halus memberikan kesan padat dan ramping sehingga memberi kesan luwes dan anggun
Makna Konotatif Motif garis yang halus melambangkan kelembutan yang bermakna memberi rasa aman dan dapat memberi ketenangan seperti sifat Dewi Hariti yang selalu memberi rasa aman pada anak-anak disekelilingnya. Oleh karenanya
Hariti dianggap sebagai "Dewi Ibu" atau Dewi pelindung anakanak yang penyayang dan penuh cinta. Hariti sebagai simbol wanita mempunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, isteri dan seorang ibu.
2.3 Bentuk Figurin Anak-anak
Figurin anak-anak adalah arca dengan roman muka yang pada umumnya menggambarkan wajah kekanak-kanakan, berpipi tembem, bibir kecil, mata besar, serta berhidung kecil. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya diduga digunakan sebagai boneka mainan dan boneka pertunjukkan dalam lakon tertentu. Dari empat buah arca anak-anak hanya satu buah saja yang dilengkapi dengan badan, itupun karena hasil penyambungan dibagian leher. Melihat proporsinya nampak bahwa figurin tidak mempunyai perbandingan yang seimbang antara besarnya kepala dengan badan; bagian kepala pada arca tersebut nampak terlalu besar untuk ukuran kepala seorang anak.
Gambar 3 Beberapa bentuk figurin anak laki-laki.
2.3.1 Figurin Anak laki-laki
Dari empat buah figurin anak-anak hanya sebuah saja yang dilengkapi dengan badan, itupun karena hasil penyambungan di bagian leher. Melihat proporsinya nampak bahwa arca ini mempunyai perbandingan yang tidak seimbang antara ukuran kepala dan badannya. Kalau dilihat bagian badannya saja, ada kemungkinan bahwa badan tersebut menggambarkan tubuh seorang anak yang berbadan gemuk. Ciri tubuh seorang anak nampak pada bagian bahunya yang belum berkembang dan ukuran tangannya yang pendek kegemuk-kegemukan yang lazim dimiliki oleh seorang anak, akan tetapi sikap duduk dan posisi tangannya sangat meragukan anggapan kalau yang digambarkan dengan cara demikian adalah seorang anak. Dengan tidak
seimbangnya proporsi serta sikap duduk yang tidak cocok bagi seorang anak, maka kemungkinan ada kesalahan rekonstruksi dimana kepala arca dipasang pada badan yang bukan miliknya.
Berdasarkan tatanan rambutnya, figurin gerabah anak-anak dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu: model rambut kuncung dan rambut kucir. Rambut yang digambarkan pada figurin ini merupakan jenis rambut kuncung. Jenis model rambut ini merupakan cara memotong rambut yang sampai sekarang masih dilakukan di dalam masyarakat Jawa dan Bali. Di Jawa seorang anak yang telah berumur 210 hari dicukur rambutnya sampai licin, kecuali segumpal rambut di bagian depan agar supaya anak terhindar dari penyakit. Sedangkan rambut kucir selain ditampilkan pada figurin anak-anak juga dibuat pada figurin dalam bentuk orang dewasa, seperti tokoh Panakawan misalnya Semar, Gareng dan Petruk. Kemungkinan pemberian kucir pada para Panakawan adalah untuk memberi kesan atas tingkah laku mereka yang lucu dan kadang ke kanak-kanakan.
Ditinjau dari segi pembuatan nampak bahwa figurin ini diselesaikan dengan penggarapan yang teliti. Figurin ini berukuran kecil dan bentuknya sederhana tetapi memancarkan kekuatan ekspresi. Seniman Majapahit ternyata telah menemukan cara yang baik untuk menggambarkan raut wajah anak-anak. Garisgaris wajah yang serba lembut dan ukuran dahi yang cenderung lebar serta bentuk mata yang bulat memberi kesan yang kuat tentang karakter anatomi anak-anak.
2.3.2 Figurin Anak Laki-Laki
Tabel 8 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Rambut Kuncung Anak Laki-Laki.
| Bentuk dan detail Rambut Kuncung | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
|---|---|---|---|
| Rambut yang ditampilkan pada figurin ini merupakan jenis rambut kuncung. | Bentuk Segumpal rambut di bagian depan. Makna Denotatif Tatanan rambut kuncung merupakan tatanan rambut yang biasa terdapat pada | ||
| Jenis model rambut ini merupakan rambut yang sampai sekarang masih dilakukan di dalam masyarakat | anak-anak di Jawa. Selain tatanan rambut, tidak ada lagi hiasan atau atribut lain yang dikenakan oleh anak dalam figurin gerabah ini. Makna Konotatif Bentuk dan tatanan rambut merupakan figurin yang |
| Jawa dan Bali, | digolongkan dalam |
|---|---|
| dimana seorang | masyarakat biasa. Dari |
| anak yang telah | figurin anak dengan tatanan |
| berumur 210 | rambut kuncung ini hanya |
| hari dicukur | terdapat kepercayaan dari |
| sampai licin. | orang Jawa bahwa tatanan |
| rambut kuncung merupakan | |
| kepercayaan agar anak | |
| terhindar dari penyakit. |
Tabel 9 Analisis Estetik dan Makna Simbolik duduk bersila Anak Laki-Laki.
| Bentuk dan detail duduk bersila | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis |
|---|---|---|---|
| Sikap duduk bersila menandakan bahwa pada masa itu budaya duduk di atas kursi belum dikenal, apalagi bagi masyarakat biasa yang biasa duduk di lantai dengan bersila. | - | Bentuk Sikap duduk bersila merupakan sikap duduk yang biasa ditampilkan oleh orang Jawa pada masa lalu. Makna Denotatif Duduk bersila yang ditampilkan figurin anak merupakan kebiasaan masyarakat pada masa lalu. Hal ini dikarenakan pada masa itu belum dikenal adanya budaya duduk di kursi, kecuali bagi raja pada zaman Majapahit (dampar kencana). Makna konotatif (-) |
2.4 Bentuk Figurin dengan Wajah Deformasi
Arca figurin dengan wajah dideformasi ialah figurin yang wajahnya dibuat lebih buruk dari wajah/roman muka pada umumnya, misalnya berwajah mirip kera, bibir tebal, mata sipit serta hidung pesek. Karakter wajah seperti ini antara lain dijumpai pada relief cerita Bubuksah dan Gagangaking di candi Surowono serta relief cerita Panji di Gunung Penanggungan. Teknik pembuatannya langsung memakai jari tangan dan detailnya dibuat dengan teknik gores, cukil dan pres. Fungsinya diduga untuk menggambarkan tokoh yang berwajah lucu dan berwajah kera dalam cerita Ramayana.
Bentuk figurin dengan wajah di deformasipun ada yang dibuat dengan wajah ¾ pandangan seperti pada figur Semar ini, selain untuk menunjukkan adanya dimensi, juga diperlukan untuk menjalin hubungan dengan tokoh lain. Hal ini biasanya diperuntukkan bagi figurin sebagai boneka pertunjukkan.
Gambar 4 Beberapa bentuk figurin dengan wajah deformasi.
2.4.1 Semar
Di kalangan spiritual Jawa, tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis yaitu: suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Golongan panakawan tidak memiliki potongan tubuh yang dapat mewakili
kelompoknya. Pada golongan ini masing-masing tokoh memiliki kekhasan. Semar bertubuh pendek khas, perut gendut dan pantat mencuat. Mata 'mulan' (ke atas), hidung pesek, mulut besar dan gigi hanya satu, wajah berwarna putih dan tubuh hitam.
Ciri sosok Semar adalah: (a) Berbadan bulat; (b) Bermata sipit kecil; (c) Dagu atau mulutnya diikat pakai rantai sampai ke kaki (d) Tangan kiri kelima jarinya digenggam; (e) Mempunyai satu gigi (f) Memakai kuncung (rambut di kepala) seperti kanak kanak; (g) Tertawannya selalu diakhiri nada tangisan; (h) Berprofil berdiri sekaligus jongkok; (i) Tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.
Semar dianggap sama dengan akal budi, Ratu Adil, tidak ingin memegang nafsu kekuasaan duniawi. Pada dasarnya menurut mitos kesaktian Semar ini hampir tidak terbatas.Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu: (a) tidak pernah lapar; (b) tidak pernah mengantuk; (c) tidak pernah jatuh cinta; (d) tidak pernah bersedih; (e) tidak pernah merasa capek; (f) tidak pernah menderita sakit; (g) tidak pernah kepanasan; (h) tidak pernah kedinginan. Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Dapat dikatakan bahwa Semar merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagian abadi lahir batin.
2.4.2 Figurin Semar
Tabel 10 Analisis Estetik dan Makna Simbolik Ikat Rambut.
| Bentuk dan detail Ikat Rambut | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis Estetik |
|---|---|---|---|
| Berfungsi sebagai ikat rambut. Memakai kuncung dan kucir (rambut di kepala) seperti kanak kanak, namun juga berwajah sangat tua. | Kuncung berasal dari kata Kun dan Muncung atau muncul dan timbul. Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/peribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan: akuning sang kuncung sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih. | Bentuk Rambut diatur dalam jalinan tunggal sehingga membentuk semacam kucir di bagian tengah atas kepala, bagian atas kucir diberi hiasan yang mungkin berfungsi sebagai pengikat rambut. Makna Denotatif Pemberian kucir pada Semar adalah untuk memberi kesan atas tingkah lakunya yang kadang kadang kekanak-kanakan dan jenaka. Makna Konotatif Ikatan rambut berbentuk "kucir' mengandung makna penyatuan sifat keduniawian Semar dengan daya-daya transenden. Ikatan rambut yang terdiri dari "8 sakti" atau delapan daya terdapat pada rambut yang diikat dan ada di ubun-ubun. |
Tabel 11 Analisis Estetik dan Makna Anting Semar.
| Bentuk dan detail Anting | Fungsi | Makna Simbolik | Analisis Estetik |
|---|---|---|---|
| Sebagai hiasan daun telinga. | Lingkaran merupakan lambang kesempurnaan, keagungan dan | Bentuk Hiasan telinga berbentuk silinder membentuk bulatan | |
| Berbentuk silinder dan berukuran | kekuasaan juga sebagai simbol matahari dan bulan yang bermakna | polos. Makna Denotatif Secara umum anting-anting | |
| besar. | sumber segala kehidupan, lambang | polos yang dipakai Semar mempunyai fungsi guna dan | |
| Pada subang tersebut nampak dengan | cakra/mata angin dan simbol kepercayaan kosmogoni. | fungsi simbolis dengan menggunakan elemen berbentuk lingkaran dan | |
| jelas adanya lubang di tengah. | Matahari dan bulan juga merupakan simbol | dilengkapi motif yang berbentuk geometris. Makna Konotatif |
kembar dari pelindung dan penyembuh yang membutuhkan perhatian baik siang maupun malam.
Bentuk bulat melambangkan agar manusia selalu mawas diri atas segala sesuatu yang dilakukan dan harus bisa dipertanggungjawabkan
.
Mandala bermakna lingkaran, bulatan sering kali diartikan sebagai lingkaran suci lambang kosmos yang memancarkan berbagai aspek pola tertentu sehingga membentuk sebuah lingkaran. Perpaduan bentuk lingkaran dan geometris melambangkan kesederhanaan dan kesempurnaan, sesuai dengan sosok Semar yang sederhana dan rendah hati. Semar selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, menguasai diri dan mempunyai kekuatan mengekang nafsu keduniawian agar mencapai kemuliaan.
3 Kesimpulan
Pembuatan figurin gerabah Majapahit berkaitan dengan pertimbangan kaidahkaidah seni yang menyangkut unsur bentuk, makna dan simbolik. Pembuatan figurin didasarkan atas suatu perhitungan yang matang menyangkut teknik dan proses penggarapan. Figurin gerabah merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan atau ajaran moral (nilai-nilai keagamaan, kepahlawanan, kesetiaan dan cinta kasih) yang memiliki nilai komunikatif.
Bentuk dan makna simbolik figurin gerabah Majapahit mengacu pada kaidahkaidah dan unsur-unsur budaya yang berlaku pada masa itu, di antaranya: agama dan kepercayaan yang dianut oleh raja dan masyarakat. Keterkaitan ini tidak hanya merupakan penggarapan sebuah patung arca untuk memenuhi rasa kepuasaan, akan tetapi terkait dengan keperluan upacara keagamaan sebagai arca pendharmaan dan simbol sosial masyarakat juga sebagai boneka pertunjukkan. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, figurin gerabah tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh asing yang masuk dalam kebudayaan Majapahit. Figurin gerabah dikategorikan sebagai produk akulturasi. Hal ini dapat dilihat pada unsur-unsur pembentuk figurin gerabah Majapahit yang memiliki unsur-unsur percampuran dari beberapa kebudayaan seperti halnya kebudayaan Hindu dan Budha.
Bentuk dan makna simbolik figurin gerabah Majapahit memiliki rangkaian yang terkait dengan budaya dalam kehidupan masyarakat. Keterkaitan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung, yaitu agama yang dianut sebagian besar masyarakat, kepercayaan dan keyakinan akan adanya kekuatan gaib, adat istidat, kesenian dan latar belakang masyarakat. Dengan demikian figurin gerabah Majapahit sarat dengan seluruh sendi kehidupan masyarakat pendukungnya yang mencerminkan ketaatan dalam beragama.
