1. Home
  2. Archives
  3. Vol 7 (2016) Issue 2
  4. Articles

Kain Songket Palembang dengan Penerapan Teknik Batik sebagai Produk Fesyen

Abstract

Minimnya perkembangan motif Songket Palembang dan menghadapi kemunculan

Keywords

1 Pendahuluan

Tenun songket Palembang, sebagai warisan tradisi dari propinsi Sumatera Selatan yang umumnya dilakukan oleh perempuan dikenal sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Terbuat dari serat bahan alam (katun atau sutera) yang ditenun dan dipadukan dengan benang emas sebagai coraknya, menjadikan kain songket merupakan kain yang mewah dan memberikan status sosial tersendiri atas penggunanya. Akhir-akhir ini industri kreatif mulai digalakkan, namun Songket Palembang tidak muncul ke permukaan, melainkan kreasi-kreasi yang baru mengundang kegelisahan bagi pengrajin dan masyarakat pengguna Songket Palembang sendiri, seperti songket mesin dan songket pancawarna yang dicolet tinta glitter.

Ditengah tren batik sejak UNICEF menetapkan batik sebagai warisan tak benda dari Indonesia pada 2 Oktober 2009 tetapi batik Palembang tidak muncul ke permukaan. Padahal, diketahui ternyata batik juga sudah dikenal oleh masyarakat Palembang sejak dulu. Dalam Syarofie [1] disebutkan bahwa penggunaan batik biasanya sebagai ikat kepala, kain bawah, kain basahan dan tutup jenazah. Ikat-ikat yang dipakai sultan, serupa tanjak dengan tiga lapis ikatan di bagian dahi dan dua sisi menuju puncak berlipat. Diyakini juga, ikatikat yang dipakai sultan sehari-hari pada masa lalu berbahan batik. Batik Palembang secara historikal berasal usul dari tanah Jawa. Pemakaian batik disebabkan adanya ikatan budaya yang kuat antara Palembang dan Jawa.

Berangkat dari keinginan untuk meningkatkan variasi desain dan pelestarian karya budaya, penelitian dilaksanakan di Kota Palembang. Penelitian ini berbasis praktik (Practice Based Research) dengan karya tugas penelitian, eksplorasi teknik batik yang biasanya dilakukan di atas permukaan kain mori, akan dicoba diterapkan pada kain tenun songket khususnya songket Palembang. Sedangkan ragam hias batik yang dipilih juga ragam hias batik dari Palembang.

2 Hasil Kerajinan di Kota Palembang

Selain songket dan pempek, Palembang juga memiliki hasil kerajinan khas yaitu kain Jumputan, kain Tajung dan Blongsong, kerajinan ukiran dan lakuer. Kain Jumputan merupakan salah satu kerajinan tekstil dengan teknik ikat celup, sedangkan kain Tajung merupakan salah satu hasil kain tenun tanpa benang emas untuk sarung lelaki, sedangkan untuk perempuan disebut kain Blongsong. Kerajinan ukir nampaknya juga mendapat pengaruh dari Jawa, namun memiliki gaya khas tersendiri dari corak dan warnanya yaitu merah dan emas banyak ditemui pada benda-benda furnitur rumah tangga. Sedangkan lakuer merupakan kerajinan lukis pada kayu dengan ciri khas warna yang kurang lebih sama. Pada zaman dahulu diaplikasikan pada peralatan rumah tangga seperti wadah nasi (Dulang), tempat lauk pauk, wadah dan rantang kue basah (Tending dan Sena), wadah bumbu (Labu dan Manggis) dan sebagainya, kini benda-benda tersebut sebagai pajangan. Sebagai perhatian, hal-hal ini juga menjadi sumber inspirasi desain karya.

3 Batik Palembang

Dari berbagai sumber ditemukan, hubungan masa lalu dengan Wangsa Syailendra kerajaan Budha di Jawa, membuat masyarakat Palembang mengenal batik sebagi komoditi dagang. Selain itu, sebagai kota dagang, sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang, kehadiran bangsa India dan Cina memberi pengaruh terhadap motifnya (Gambar 1). Motif berupa bungabunga menyerupai mawar kelopak delapan yang dipadukan dengan motif bintang merupakan ciri khas motif kain Patola India yang sangat digemari di Asia Tenggara termasuk di Palembang. Motif semage ini pada kain India merupakan perwujudan bunga teratai. Selain itu, motif Pucuk Rebung (Tumpal)

Gambar 1 Kain Sembagi dari Palembang hasil perdagangan dengan India. Kira-kira dari abad 17-18M. Terbuat dari katun, dengan teknik cap blok. Koleksi Australian National Gallery [2].

merupakan personifikasi dari undakan candi dan stupa dari kepercayaan Hindu-Budha India. Selanjutnya, motif burung Phoenix tampak juga menjadi motif kegemaran. Pada kain batik motif Geribik dan Jepri pengaruh pesisir Jawa yang bersentuhan dengan etnis Cina sangat terasa. Burung yang merupakan mitos dalam legenda bangsa Cina ini sangat diasosiasikan pada wanita (ratu) dan sesuatu yang berkesan mewah. Diketahui, kain batik digunakan sebagai pakaian sehari-hari oleh semua kalangan termasuk untuk menghadiri acara pernikahan, sebagai bawahan (kain) kebaya wanita, sebagai pelengkap pakaian pria, tutup jenazah (motif semage berwarna gelap) dan sebagai kain basahan saat mandi. Sebagai pembeda, kain batik golongan bangsawan diberi perada emas ataupun disulam pada tepi motif-motifnya [3] karena emas merupakan simbol kekayaan. Sejak ratusan tahun motif-motif batik ini memang secara khusus dipesan di Jawa sebagai motif batik Palembang antara lain ialah, kembang Semage, Bungo Kangkung, Tampuk Manggis, Geribik, Jepri dan Lasem.

4 Perkembangan Batik Palembang

Tidak mudah untuk menelusuri jejak Batik Palembang. Berdasarkan Maxwell [3] dan pengamatan dari koleksi Museum Balaputradewa Palembang serta wawancara dengan Ibu Marlina SE, bagian Pendidikan Non Formal Informal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan, ia mengatakan kain batik yang ada dan dikenal oleh masyarakat Palembang dulu ialah kain batik Jepri, Semage, Lasem dan Geribik. Warna-warna khas batik Palembang ialah merah, biru dan kadang-kadang hijau tua. Namun kain-kain tersebut sudah jarang ditemui, karena penggunanya sudah mulai berkurang. Hasil wawancara dengan beberapa orang Palembang asli membenarkan pernyataan kebanyakan mereka sudah tidak memiliki lagi kain-kain ini melainkan kain batik Jawa saja, dengan alasan penggunaannya tidak sepenting kain songket.

Bapak Yan H. M. Hasan, pemilik toko batik di Pasar 16 Ilir Kompleks Pertokoan Ilir Barat Permai mengatakan, orang Palembang sendiri tidak terlalu berminat apalagi sering membeli batik Palembang, hanya beberapa untuk dipakai pada acara adat Palembang asli saja, seperti akad nikah. Namun orang dari kota Kayuagung (ibukota kabupaten Ogan Ilir, di luar kota Palembang) masih sangat antusias, terutama yang masih menggunakan warna-warna asli merah dan biru sebagai kain hantaran pernikahan maupun pakaian untuk menghadiri akad nikah. Bahkan ia banyak mendapat kain-kain batik lama dari mereka, kemudian motifnya dibuat ulang di Cirebon atau Pekalongan. Diantara motif-motif tersebut antara lain motif Jepri, Geribik, Lawon, Sisik Belanak, dan lain-lain (Tabel 1). Ujang Songket yang merupakan kolektor dan penjual barang antik khas Palembang, menginformasikan bahwa batik Palembang dibuat di Jawa, namun motif-motifnya khas dan hanya ada di Palembang. Motif Jepri asli umumnya hanya satu warna, merah atau coklat kehitaman dan warna dasar kain

(putih kekuningan). Variasi motifnya antara lain Jepri Kembang Teh dan Jepri Bungo Bakung. Ia juga mengatakan warna merah memang disenangi oleh warga Palembang, menjadi ciri khas yang ada pada batik dan songket. Pengrajin Palembang menyebutnya warna merah sepah karena menyerupai sepah pinang dan sirih. Hasil wawancara kepada Bapak Katura pengrajin Batik Cirebon di Trusmi ia menerangkan orang-orang Palembang sudah memesan batik di Cirebon dan sekitarnya sejak ratusan tahun lalu. Motif yang disenangi antara lain Jepri, Banji (geribik) dan repro dari kain sembagi. Motif Jepri pun dapat bervariasi dengan motif flora fauna lain, seperti Bunga Bakung, burung dan sebagainya. Warna-warnanya khas yaitu merah mengkudu dan biru indigo. Karena ciri khas ini, pengrajin Cirebon menyebutnya Motif Palembangan.

Tabel 1 Ragam motif kain Batik Palembang.

Ragam Motif Keterangan

Kain Semage, bahan katun, detail nama motif tidak diketahui. Kain koleksi Ibu Anna Kumari, Palembang. (Salim, 2015)

Kain Semage, Batik Palembang (nama motif tidak diketahui) kain koleksi Museum Sultan Mahmud Badarudin, Palembang. (Salim, 2015)

Kain Semage (1), asal India, bahan katun, detail nama motif tidak diketahui, kain koleksi Ujang Songket, Palembang. (Salim, 2015)

Ragam Motif Keterangan

Kain Semage (2), asal India, bahan katun, detail nama motif tidak diketahui, kain koleksi Ujang Songket, Palembang. (Salim, 2015)

Kain Semage (3), asal India, detail nama motif tidak diketahui, kain koleksi Ujang Songket, Palembang. (Salim, 2015)

Kain batik Jepri Kembang Teh. Kain asli koleksi Ujang Songket, Palembang. (Salim, 2015)

Kain motif Jepri Kapal. Kain koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

Ragam Motif Keterangan

Beberapa kain batik Jepri. (Detail nama motif tidak diketahui) kain koleksi Rumah Tenun, Palembang. (Salim, 2015)

Kain motif Geribik (1). Kain repro koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

Kain motif Jepri Pusar. Kain koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

Kain motif Lawon. Kain koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

Ragam Motif Keterangan

Kain motif Pete Cino. Kain koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

Kain motif Sisik Belanak. Kain koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

Kain Jepri Bungo Bakung. Kain koleksi Bapak Yan H. M. Hasan, Pasar 16 Ilir Barat Permai, Palembang. (Salim, 2015)

5 Tenun Songket Palembang

Dari beberapa sumber, arti kata songket yaitu antara lain, "Songket…, berasal dari kata disongsong dan di-teket. Kata teket dalam baso Plembang lamo berarti sulam" [1]. Pada sumber lain yang mendukung pernyataan ini bahwa, "Sedangkan memproses benang timbul dalam bentuk-bentuk tertentu dibuat dengan cara menyisipkan benang tambahan … yaitu dengan cara mengangkat atau menjungkit beberapa helai benang lungsi. … Prinsip benang tambahan itu disebut songket, karena dihubungkan dengan proses menyungkit…" [4]. Selain benang emas, atau perak, ada yang menggunakan benang sutera berwarna, benang sulam, benang serat tumbuhan, benang rayon, dan sebagainya yang berfungsi sebagai penghias permukaan kain tenun dengan bentuk seperti menyulam bersamaan dengan kegiatan menenun kain.

Mengenai sejarah tenun songket Palembang, diantaranya "…di Palembang sudah aktivitas penenunan, yaitu tenun ikat. Selanjutnya akibat persentuhan budaya, orang-orang Palembang mulai berkreasi dalam pembuatan bahan pakaian. Sutera yang baru dalam bentuk benang, ditenun di Palembang. Sebagai penghiasnya digunakan benang emas". Mengenai pengaruh songket ini, disebutkan pula, "Satu hal yang sama diyakini…, pengaruh Cina pada estetis dan filosofis songket…. Merah bermakna berani, sedangkan kuning (emas) bermakna kekayaan, kejayaan, dan kemakmuran" [1]. Pada awalnya,motif songket juga mendapat pengaruh India, seperti motif Bintang dan Tampuk Manggis. Selain itu, ada pula motif Nago Besaung yang merupakan pengaruh dari Cina, zaman dulu hanya boleh digunakan oleh raja saja. Selain itu ada pula motif-motif lama lainnya yang masih dipertahankan seperti Pulir, Bintang Berakam, Kenango Makan Ulet, Nampan Perak, Jando Beraes dan Bungo Pacik. Selanjutnya, berbagai motif baru dan kreasinya hasil pemikiran seniman lokal tenun songket Palembang juga terus bermunculan, namun tidak lagi mengandung unsur filosofis, hanya estetika saja seperti motif Bungo Mawar, Tigo Negeri, Cantik Manis, Kucing Tidur, Puncak Rebung Ayam dan sebagainya.

Penggunaan Songket Palembang pada awalnya hanya untuk wanita yang sudah menikah atau janda di acara-acara khusus saja seperti acara adat, pernikahan keluarga dan akikah anak bagi keluarga kesultanan Palembang. Sebagai kain adati, kain songket ditenun oleh penenun khusus kerajaan, sedangkan untuk pengantin ditenun sendiri oleh sang gadis beberapa bulan menjelang pernikahannya. Perkembangan ekonomi masyarakat menyebabkan gaya berbusana elit ini diikuti rakyat, kain songket mulai menjadi komoditi dagang, diciptakanlah motif khusus untuk masyarakat. Warga Palembang golongan Keraton Kesultanan Palembang menggunakan songket jenis Lepus, sedangkan warga biasa menggunakan songket jenis Tawur. Motifnya, untuk warga keturunan Cina menggunakan songket jenis Tawur bungo Cino sedangkan warga keturunan Arab mengunakan songket jenis Tawur bungo Pacik. Songket masa kini telah mengalami perkembangan, terutama terjadi pergeseran nilai pada penggunaannya. Kini songket Palembang dapat dipakai oleh siapa saja yang mampu memilikinya karena sudah tidak ada aturan ketat sejak kedatangan Belanda ke Palembang dan menghapus Kesultanan tahun 1823. Kemudian lambat laun songket banyak dikerjakan sebagai industri rumah tangga, hingga akhirnya Palembang dikenal sebagai sentra kerajinan songket yang terkenal hingga ke manca negara.

Gambar 2 Songket jenis Lepus motif kembang manggis dari abad ke-19M. Koleksi Australian National Gallery. (http://nga.gov.au/indonesiantextiles/code/ Detail.cfm?IRN=95487&BioArtistIRN=10384&MnuID=2, diakses 11 Maret 2015 pukul 13.05)

Gambar 3 Proses menenun songket di Palembang: A. Lempaut atau Por, B. Pengapit, C. Beliro, D. Sisir atau suri, E. Benang lungsin atau benang lungsen songket, F. Penyincing, G. Lidi atau Gun, H. Dayan, I. Cacak, J. Anak beliro/pemimpil, K. Tumpuan/pijakan, sebagai tumpuan kaki penenun, L. Benang pakan pada peleting di dalam terompong.

"Menenun dimulai dari menentukan warna dan desain, mengolah benang, membuat pola di kertas, menyiapkan peralatan, memasang benang, baru mulai menenun dan terakhir merapikan pinggir-pinggirnya dari sisa benang. Semua rangkaian pekerjaan itu tidak bisa dikerjakan oleh satu orang melainkan oleh banyak orang" [5]. Pekerjaan menenun dimulai dengan mempersiapkan benang unutk lungsin dan pakan. Setelah semua bahannya (benang, lidi motif dan sebagainya) siap, maka pekerjaan menenun dimulai. Penenun mengangkat benang-benang penahan lungsi yang diselipkan dalam penyincing dan di tahan dengan beliro, lalu meluncurkan benang pakan songket yang sudah digulung pada peleting dari kanan ke kiri lalu disentak agar rapat dengan suri dan beliro. Saat ingin membentuk motif, ia mengangkat lagi benang-benang gun, ditahan dengan anak beliro, barulah benang emas diselipkan diantaranya, kemudian disentak lagi dengan suri dan beliro. Selanjutnya ia mengangkat penyincing kemudian ditahan dengan beliro, lalu meluncurkan benang pakan dari arah sebaliknya, lalu disentak. Begitu seterusnya benang pakan, berikutnya motif, benang pakan lagi, lalu benang motif, berselang seling sehingga terbentuk motif benang emas diantara anyaman benang pakan.

Didapati bahwa lokasi penenunan selain di Suro 30 Ilir, terdapat pula di 25 Ilir dan beberapa wilayah di Seberang Ulu, seperti 14 Ulu. Sedangkan tempat pencelupan benang banyak dilakukan oleh penduduk di wilayah 5 Ulu yang lebih dekat ke arah pinggir rawa-rawa menuju Sungai Musi. Sedangkan di 15 Ulu, masyarakatnya banyak yang mengambil upahan sebagai tukang cecep (mencolet warna benang Limar) dan membuat kain pelangi atau Jumputan. Semua pekerjaan ini umumnya dilakukan oleh yang professional di bidangnya, yang umumnya perempuan.

6 Variasi Tenun Songket Palembang

Dari wawancara dengan pemilik Ujang Songket di 5 Ulu, Songket Palembang lama (usia dua ratus tahun) ialah yang menggunakan benang emas Jantung, sedangkan bahan dasarnya bisa dari benang sutera atau katun. Benang emas Jantung diyakini merupakan benang yang betul-betul berlapis emas sebagai kualitas terbaik yang ada saat itu. Kilaunya tidak secemerlang buatan masa kini, namun daya tahan kilaunya tidak cepat pudar. Bahkan ketika bahan dasarnya sudah mulai rapuh, benang emasnya masih dapat dicabut untuk ditenun menjadi songket baru. Songket Palembang ada pula yang menggunakan kawat halus menyerupai benang, juga diperkirakan berusia sama, namun warnanya kini pudar karena bukan dilapis emas asli seperti benang emas Jantung. Di era berikutnya sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an berkembang songket dengan 'benang emas' Satibi, selanjutnya hingga kini berkembang songket dengan 'benang emas Kristal' (impor atau lokal). Tabel pengelompokannya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Pengelompokan songket berdasarkan penggunaan jenis benang emas.

Kain Songket Keterangan

Contoh songket sutera lama benang emas Jantung. Usia kain diperkirakan mencapai duaratus tahun. Benang dapat dicabut dan digulung kembali untuk ditenun baru. Songket koleksi Ujang Songket. (Salim, 2015)

Contoh songket lama dengan benang emas Satibi. Songket koleksi Ujang Songket. (Salim, 2015)

Songket sutera lama dengan benang kawat. Usia kain diperkirakan mencapai duaratus tahun . Songket koleksi Ujang Songket. (Salim, 2015)

Perbandingan; (kiri) songket buatan baru dengan benang emas Kristal, (tengah) songket beneng emas Satibi, (kanan) songket benang emas Jantung. Songket koleksi Ujang Songket. (Salim, 2015)

Ditemukan ada banyak variasi baru desain Songket Palembang. Setelah dilakukan wawancara dengan dengan beberapa pedagang pasar 16 Ilir dan rumah galeri songket, saat ini terdapat songket tenun dengan kualitas asli (benang sutra asli dan benang emas kualitas satu), songket tenun kualitas sedang (menggunakan benang sutra campuran dan benang emas kualitas sedang) dan kualitas tenunan mesin (songket tunggal maupun meteran). Sedangkan dari segi desainnya, banyak atau sedikitnya penggunaan benang emas juga berbeda-beda. Songket asli zaman dulu yang hanya mengenal warna emas dan merah, kini motif dapat dihasilkan dari kombinasi tenunan benang emas dan benang sutera berwarna, ada pula yang tidak menggunakan benang emas melainkan benang perak dan tembaga. Tambahan lainnya adapula yang dibordir variasi warna ataupun dibubuhkan cat dengan efek glitter pada beberapa motif disebut songket pancawarna, penggunaan benang pakan yang memiliki efek mengkilap, dihias renda bordir di tepinya dan diberi rumbai-rumbai. Songket-songket model baru ini digemari oleh mereka yang kurang mengerti tentang Songket Palembang, atau pemilik penyewaan pelaminan, sanggar tari dan sebagainya, demikian menurut para pedagang di pasar ini. Berdasarkan variasi koleksi songket yang ada di pasaran dan koleksi songket buatan baru (setelah tahun 2010) dari beberapa konsumen di Palembang, maka pengelompokannya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Pengelompokan Songket Palembang dan Kreasinya.

Kain Songket Keterangan

Songket kualitas asli (buatan baru) umumnya masih mengguna-kan benang sutera asli dan benang emas kristal kualitas terbaik. Songket 'asli' masih mengangkat motif-motif klasik. Songket koleksi Rumah Tenun dan Asia Songket. (Salim, 2015)

Songket sutera benang tembaga. Songket koleksi Rumah Tenun. (Salim, 2015)

Kain Songket Keterangan

Songket sutera benang perak. Songket koleksi Rumah Tenun. (Salim, 2015)

Songket sutra murni sedikit benang emas, motif Limar Tigo Negeri. Songket koleksi Anna Kumari Songket. (Salim, 2015)

Songket sutera kualitas dua, benang emas, motif songket dimunculkan pula dengan penggunaan benang sutera berwarna. Songket koleksi Anna Kumari Songket. (Salim, 2015)

Songket Lepus benang emas dengan sutera kualitas dua warna merah. Songket koleksi Rumah Tenun. (Salim, 2015)

Kain Songket Keterangan Songket dengan variasi pinggi-ran renda benang emas, dan rumbai-rumbai. Songket koleksi Ibu Hajiratun, Pelaminan Metasari, Palembang. (Salim, 2015) Songket kualitas sedang, motif dilukis cat glitter. Songket koleksi Ilham Songket dan Toko Asia Songket. (Salim, 2015) Songket tenun mesin. Kualitas rabaan dan motif terasa kasar. Songket koleksi Rumah Tenun dan Ilham Songket. (Salim, 2015)

7 Perancangan Karya

Kegiatan menghias kain seperti menyulam, dan menambahkan motif limar pada kain songket juga sudah dilakukan sejak dulu. Ada nilai estetika yang perlu diperhatikan saat mendesain suatu motif dari daerah tertentu. Hal ini mendasari ide untuk pengembangan desain kain Songket Palembang.

Sebagai karya tekstil berbahan dasar serat alam, dalam hal ini benang sutera, tentunya kain tenun songket dapat dilakukan teknik pencelupan warna, begitu juga perintangan warna menggunakan malam/lilin atau yang disebut batik, dari sinilah penelitian ini berangkat. Namun perlu dilakukan trik khusus seperti

pemilihan canting yang sesuai, karena ketebalan helai benang yang menyusun kain Songket Palembang.

Adapun tahapan proses perancangan karya dimulai dari pengumpulan berbagai corak karya seni rupa yang ditemukan di Palembang, seperti bangunan, ukiran, tenunan, batik dan sebagainya juga dari dokumentasi peninggalan-peninggalan bersejarah, hal-hal yang dapat menjadi inspirasi karya yang mendukung tesis ini. Dibuatlah beberapa Citra atau mood board berupa kolase ide yang menjadi inspirasi dari kota Palembang. Selanjutnya eksplorasi pada mood board itu dilakukan hingga terbentuklah sketsa-sketsa desain motif yang akan dikembangkan pada songket Palembang. Kemudian dilakukan eksperimen awal pada songket ukuran kecil, lalu desain diterapkan pada kain songket Palembang ukuran selendang dan kain sarung untuk selanjutnya dilakukan proses pembatikan.

Dari paparan Citra, disimpulkan bahwa keindahan karya oleh masyarakat Palembang adalah yang repetitif, terstruktur dan simetri. Dari nilai estetika yang diyakini ini, mereka dapat menerima bahwa suatu karya terlihat indah dan elegan. Struktur yang rumit pada tenunan, ikata-ikat dan ukiran membuat karyakarya kerajinan masyarakatnya terlihat sangat kompleks dan berkesan mewah, sehingga wajar menjadi kebanggaan warganya. Selanjutnya, warna-warna songket Palembang umumnya adalah ungu, merah, biru, hijau, toska dan kuning emas. Warna-warna yang termasuk kategori Gorgeous ini, dalam Creative Color Scheme, ialah berkesan kaya, menawan dan diasosiasikan dengan barangbarang mahal. Sebagai tambahan, koleksi yang akan dihadirkan harus mengacu pada tren mode tahun depan. Menurut tim Trend Forecast BD+A dan Indonesia Fashion Week, tema tren mode Indonesia tahun 2016/2017 adalah Resistance, yang mengatakan bahwa manusia harus melindungi diri dari segala tantangan kelangsungan hidup dan habitatnya seperti penurunan kualitas alam dan kualitas hidup akibat gejolak ekonomi dan politik. Manusia harus bertahan, maka manusia melindungi dirinya. Salah satu kelompok warna yang akan populer adalah nuansa biru kelabu dan turkuas, kemudian dipadukan dengan gaya klasik masa kerajaan sebagai tema warna koleksi, menengok kearifan masa lalu untuk memulai hidup kembali yang lebih baik di masa depan.

5

Gambar 4 SkemaWarna Tren Resistance 2016/2017 menurut BD+A. (http://www.bdadesign.co.id/showcase/featured/trend_research/108/trend-forecas ting-201617-resistance diakses 8 Agustus 2015, pukul 5:38).

Setelah mengamati citra sebagai kumpulan kolase inspirasi mengenai kota Palembang, maka beberapa sketsa desain mulai dimunculkan, kemudian diciptakan desain motif batik mengikuti kain songket yang tersedia. Motif Batik Palembang akan diterapkan pada kain songket Palembang. Ragam hias yang dipilih ialah bukan yang merespon atau meniru bentuk songketnya, namun stilasi dari motif batiknya maupun bentuk baru yang terinspirasi dari lingkungannya sehingga prinsip kontras sengaja dihadirkan dalam komposisi motif. Motif batik dipilih lalu dikembangkan lebih lanjut kemudian diatur proposi dan komposisinya pada kain songket yang tersedia. Sebagai bentuk eksperimen, maka kain Songket Palembang yang dipilih pun bervariasi. Ada yang bermotif tengah dengan banyak motif pinggir, tanpa motif tengah, dan sedikit motif tengah maupun pinggir. Hal ini dilakukan untuk mencapai kemungkinan peletakan motif batik secara maksimal di atas kain Songket Palembang. Sedangkan pemilihan warna yang diambil merupakan perpaduan warna dari citra tentang Palembang dipadukan dengan kelompok warna Gorgeous, Classic, Wild dan Dynamic dengan konsep warna monokromatik dipadukan dengan warna kontras sebagai aksen pada motif.

3

Gambar 5 Proses perancangan karya Desain Bungo Jepri Tegulung dan Bungo Ceplok.

8 Proses Produksi

Proses produksi dimulai setelah mendapat songket tanpa warna dari pengrajin, selanjutnya dilakukan proses pembatikan seperti biasa yaitu kain songket direndam dan dicuci untuk menghilangkan kanji, kemudian dijemur. Selanjutnya motif digambarkan pada kain dengan pensil halus, lalu motif dicanting dengan malam menutupi benang emasnya jika ingin tetap putih atau menghendaki warna lain dibelakangnya, kemudian diwarnai sesuai warna yang diinginkan, menggunakan Naftol, Indigosol dan Reaktif dengan pencelupan atau colet pada motif-motif kecil, terakhir kain dilorod. Proses produksi ini juga dapat diterapkan misalnya pada kain songket yang sudah memiliki benang sutra berwarna sebagai penghiasnya. Benang berwarna itu harus ditutup terlebih dulu agar tidak menyerap warna saat pencelupan. Pada proses ini, ditemukan benang emas tidak menyerap warna batik. Sehingga warna benang latarnya juga dapat dieksplorasi.

9 Hasil Produksi

Setelah semua proses selesai kita mendapatkan hasilnya. Sesuai eksperimen awal, umumnya tidak terjadi masalah yang berarti pada proses batik di atas songket. Warna tampak meresap pada kain yang memang terbuat dari sutra, jika kanji betul-betul terbuang sempurna maka akan membantu peresapan lebih baik lagi. Benang emas tidak kalah terhadap proses malam dan perebusan umumnya, namun benang emas menjadi rusak pada kain dengan pewarnaan indigosol karena fiksasi HCl. Selain itu kain menjadi lebih lemas dari sebelumnya, karena proses pencelupan dan kadar kanji telah terbuang.

9.1 Analisa Hasil Produksi Desain Bungo Ceplok

9.1.1 Kesan Fisik

Pada desain ini, pewarnaan menggunakan Naftol dan Indigosol. Pada hasil ini, tampak kain menyerap warna dengan baik, namun warna benang emas tidak begitu muncul selah-olah pudar dan tidak rata di beberapa bagian. Diduga obat pewarna batik dari Indigosol yang menggunakan penguat warna berjenis HCl atau Asam Klorida berefek kepada benang emas kain songketnya, sehingga benang emas tampak pudar.

9.1.2 Kesan Estetik

Pola berulang dan terstruktur menampakkan kain terlihat sederhana namun anggun mengikuti nilai estetika yang diyakini oleh masyarakat Palembang. Keindahan terjadi saat motif tersusun rapi, namun menyebar seperti songket tabur.

Kesalahan pewarnaan menyebabkan kesan emas menghilang, sehingga kesan mewahnya berkurang.

Gambar 6 Hasil Produksi Desain Bungo Ceplok.

9.2 Analisa Hasil Produksi Desain Bungo Jepri Tegulung

9.2.1 Kesan Fisik

Pada kain ini, hasil pewarnaan tampak jauh lebih baik, walaupun jika diperhatikan dengan seksama, efek kerutan itu sedikit terlihat, namun tertutup karena motif Jepri memenuhi ruang songket. Obat batik nampak terhapus semua, sehingga warna benang emas muncul dan rata di semua bagian. Selain itu warna batikan juga tampak terlihat, hasil coletan merah yang kontras dengan latar belakang hijau menghidupkan motifnya dan keseluruhan kainnya. Pewarnaan menggunakan Naftol saja pada celupan warna dasar dan coletan pada motif-motif jepri.

9.2.2 Kesan Estetik

Walaupun motif sulur-sulurnya tidak sama persis di tiap bentuknya, namun posisinya yang seolah-olah tersusun masih mewakili kesan simetri yang menjadi ciri kain-kain dari Palembang. Ditambah motif batik yang berpadu dengan bunga emas songket yang menyebar di tengahnya, menambah kesan sulur-sulur tersebut memang dibuat untuk menyeimbangkan songketnya.

Gambar 7 Hasil Produksi Desain Bungo Jepri Tegulung.

9.3 Analisa Hasil Produksi Desain Salur Ombak Sungai Musi

9.3.1 Kesan Fisik

Pada kain ini pewarnaan menggunakan Naftol. Hasil pewarnaan tampak cukup baik, jika diperhatikan dengan seksama, efek kerutan itu sedikit terlihat, terutama di bagian tumpal kain, namun cukup samar karena banyak motif yang mengisi ruang tengah songket. Malam batik nampak terhapus semua, warna benang emas muncul dan rata di semua bagian. Selain itu warna batikan juga tampak terlihat, hasil coletan biru toska dan merah muda yang kontras dengan latar belakang ungu menghidupkan motifnya dan keseluruhan kainnya.

9.3.2 Kesan Estetik

Walaupun motif tengah songket berada diantara motif-motif batik, namun ternyata tidak cukup mengangkat keseluruhan estetik kain ini. Kesan tidak seimbang nampak antara motif songket dan motif batiknya yang tidak mendukung satu sama lain. Selain itu, motif isen-isen yang mendominasi dan besar-besar akhirnya menampakkan kain ini juga berkesan Jawa, walaupun warnanya tampak menarik dan mempesona di atas benang-benang emas songketnya.

Gambar 8 Hasil Produksi Desain Salur Ombak Sungai Musi.

10 Kesimpulan

Berdasarkan hasil eksperimen karya maka disimpulkan bahwa proses batik dapat diterapkan di atas kain Songket Palembang yang berbahan dasar sutra alam dan benang emas. Pembatikan dilakukan dengan cara pencantingan malam, dengan pewarnaan Indigosol maupun Naftol. Namun, harus berhati-hati agar pewarna indigosol tidak boleh diterapkan pada bagian benang emas, karena

menggunakan fiksasi atau penguat warna berbahan asam klorida yang akan merusak logam. Selain dari itu maka pewarnaan kimia lain bisa diterapkan, misalnya prosyen, rapid dan reaktif. Hasil penelitian ini dapat memberikan solusi atas pengembangan variasi desain kain Songket Palembang sekaligus mempopulerkan motif batik Palembang serta menghasilkan suatu produk fesyen yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Produk fesyen perempuan berupa kain dan selendang merupakan produk yang terbaik sebagai awalan untuk menampilkan keseluruhan hasil batik di atas kain tenun Songket Palembang. Selain itu produk kain dan selendang pasarnya luas dan masih banyak dicari karena kedua produk ini umum dikenakan oleh perempuan manapun sebagai pakaian yang anggun saat menghadiri acara formal seperti pesta pernikahan tradisional Indonesia dan sebagainya.

Batik sebagai teknik reka latar dan songket sebagai teknik reka rakit, keduanya merupakan teknik ragam hias pada tekstil sebagai permukaan dua dimensi. Tidak mudah untuk tetap mempertahankan karakteristik keduanya agar jangan sampai salah satu menjadi sangat dominan. Karakter motif kain songket yang terstruktur berbeda dengan motif batik yang bebas. Oleh karena itu, tidak sembarang songket yang dapat diterapkan motif batik di atasnya untuk menghasilkan kekhasan gaya Palembang yang tersusun rapi. Estetika hasil kriya yang mengangkat budaya masyarakat tertentu harus dapat diterima oleh masyarakat lokal itu pula. Nilai estetika pada kain batik songket yang memiliki motif-motif repetitif lebih dapat diterima dibanding kain batik songket tanpa motif tengah sama sekali. Motif-motif tengah songket disesuaikan bersama motif batik sehingga saat bergabung akan mencapai keseimbangan satu sama lain seperti pada desain Bungo Ceplok dan Bungo Jepri Tegulung. Kesan kain dari Palembang yang ditampakkan dari songket yang mewah dengan ciri khas motif pucuk rebung, bekandang dan pinggirannya tetap harus lebih kuat dari motif batiknya. Oleh karena itu harus berhati-hati dalam memilih warna dan motif agar tetap berkesan keemasan dari Sumatera bukan malah berkesan kain Jawa.

Saran untuk pengembangan dari penelitian ini antara lain, teknik pewarnaan alam. Selain itu dapat dicoba pada kain tenun songket benang sutra berwarna (seperti pada Bungo Pacik) dan benang perak atau tembaga yang kini ada di pasaran kain Songket Palembang. Saran selanjutnya dapat mencoba dengan berbagai teknik batik lain misalnya teknik batik cap di atas songket untuk mencapai hasil produksi yang lebih cepat dan banyak agar menjangkau diversifikasi komoditi kain jenis ini. Sebagai saran untuk pengembangan pada teknik reka rakitnya, dengan bekerja sama dengan tukang cukit motif agar motif songket dapat diatur sedemikian rupa menjadi bentuk tertentu untuk produk fesyen lain (pakaian atau aksesoris), kemudian dilakukan teknik batik diatasnya untuk memberikan capaian produk yang maksimal, dan sebagainya. Aplikasi

teknik ini dapat ke berbagai macam produk fesyen siap pakai lain seperti syal, baju atasan perempuan maupun laki-laki, kain pria, gaun dan sebagainya. Sedangkan kemungkinan pengembangan kain ini untuk dikombinasikan pada aksesori misalnya seperti pada tas tangan, sepatu dan sebagainya yang bernilai jual tinggi. Pengembangan penelitian ini ke depan, dapat lebih memperdalam estetika yang diyakini oleh masyarakat Palembang, hubungannya dengan karyakarya tekstil dan sebagainya. Dari penelitian ini diharapkan selain dapat menambah variasi motif Songket Palembang, selain itu dalam bidang edukasi masyarakat menjadi lebih mengenal asal usul kota ini dan budaya yang ada di dalamnya dan dapat diajarkan dibangku pendidikan untuk menghasilkan karyakarya inovatif dari seniman-seniman muda Palembang.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih sedalam-dalamnya kepada keluarga atas segala dukungan, juga kepada Dosen pembimbing Dr. Dian Wiadiawati, M. Sn, dan Dr. Ratna Panggabean dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB atas bimbingan selama menjalani tesis ini, juga segenap pihak

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
8th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

Art 0.51
level 0
Humanities 0.48
level 1

References

  1. Syarofie, Y., Songket Palembang, Nilai Filosofis, Jejak Sejarah dan Tradisi, Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, 2007.
  2. Australian National Gallery, http://cs.nga.gov.au/Detail-LRG.cfm?IRN= 92289 (9 Febuari 2015).
  3. Maxwell, R., Textiles of Southeast Asia. Periplus Editions (HK) Ltd. Australia, 2003.
  4. Kartiwa, S., Kain Songket Indonesia = Songket Weaving in Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1996.
  5. Efrianto A., Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Songket Palembang di Sumatera Selatan, BPSNT Padang Press, Padang, 2012.