1 Pendahuluan
Manusia adalah makhluk dengan akal dan pikiran, dalam sejarah evolusinya manusia selalu berusaha untuk mencatat dan mewariskan hasil kebudayaannya baik dalam wujud fisik maupun nonfisik, lewat artefak-artefak kebudayaannya maupun kebijaksanaan-kebijaksanaannya. Salah satu artefak kebudayaan yang masih bertahan sampai sekarang adalah buku yang berfungsi sebagai mediator pengetahuan, dan kebijaksanaan. Melalui berbagai macam bahasa dan jenis tulisan maupun penulisannya, buku hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Tidak sedikit perkembangan dan pencapaian kita saat ini yang dipengaruhi oleh buku yang kita baca dan pelajari maupun dipahami dan diimani.
Dalam dunia modern saat ini buku sebagai objek bacaan yang telah diketahui sejak lama kini memiliki bentuk baru seiring dengan kemajuan teknologi. Buku
tersebut diciptakan dalam bentuk virtual, berada di dalam dunia maya, tanpa adanya artefak yang biasa kita pegang ketika membaca. Sebuah kemudahan fungsi bagi manusia tentu diutamakan disini, namun secara tidak disadari, ada reduksi dalam interaksi manusia terhadap buku. Berkurangnya interaksi langsung antara manusia dengan artefak buku itu sendiri mengurangi nilai esensial yang umumnya terjadi ketika memilih sebuah buku. Umumnya kita akan bersikap sangat hati-hati membukanya, takut andaikan buku tersebut rusak atau robek. Lalu setelah sekian lama buku tersebut di taruh di atas rak, menjadi sebuah pajangan yang bisa dibanggakan atau diacuhkan.
Buku merupakan kumpulan sebuah tulisan yang tesusun dari berbagai kalimat, terdiri atas kata-kata yang terbentuk akibat susunan huruf dan menghasilkan makna. Secara harfiah, buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Sedangkan tulisan sendiri adalah rangkaian dari huruf-huruf yang membentuk kata, kata yang memiliki sebuah makna atau lebih yang saling bertautan membentuk kalimat, dan kalimat menjadi paragraf. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Andaikan sebuah tulisan memiliki makna yang mewakili perasaan penulis dalam satu hari, maka sebuah buku dapat mewakili perasaan penulis dalam satu tahun. Buku dapat dikatakan sebagai sebuah rangkuman perjalanan yang dialami baik oleh penulis maupun orang lain yang menginspirasinya.
Penemuan tulisan telah membawa cahaya peradaban ke dalam kehidupan manusia, penemuan yang telah ada lebih dari 5000 tahun yang lampau tersebut memungkinkan pelestarian buah pikiran maupun pengalaman, dan pewarisan kebijaksanaan yang telah diperoleh kepada generasi berikutnya, proses tersebut mutlak diperlukan bagi pemeliharaan masyarakat yang kompleks [1].
Sebagai buah pikiran maupun pengalaman dan pewarisan kebijaksanaan, maka manusia merasa perlu melestarikan sebuah tulisan kedalam sebuah artefak, agar nilai dari tulisan itu bersifat abadi. Penerapan tulisan pada awal peradaban manusia ditemukan pada media lembaran tanah liat di Sumeria sekitar 3500 tahun sebelum masehi, hal tersebut merupakan bentuk awal dari lembaran tulisan sebagai objek nyata. Dalam perkembangannya dari abad ke abad terjadilah perubahan bentuk dari buku tersebut, yang semula diaplikasikan pada lembaran tanah liat, kemudian berubah menjadi media kertas papirus, tulang, kayu, bambu, sutra, parchment, hingga pada tahun 1430 ditemukanlah buku xylographic pertama yang diproduksi di Jerman dan Belanda, yang disebut juga block books. Teknik xylographic adalah teknik woodcut yang merupakan awal mula ditemukannya teknik printing seperti buku yang kita ketahui hingga kini, disebut juga paperbook.
Wujud buku seperti yang kita ketahui saat ini awalnya terbuat dari lempengan tanah liat, kemudian beralih dengan wood block, hingga menjadi wujud yang kita kenal sekarang yaitu terdiri dari susunan kertas-kertas. Sejak abad ke-15 hingga abad ke-21 wujud buku tidak berubah dari standar lembaran kertas yang tersusun dan dapat ditulis di kedua sisinya. Dimulai pada awal abad ke-21 buku mengalami perubahan bentuk menjadi e-book, terutama sejak terjadinya perkembangan teknologi pada hampir seluruh bidang kehidupan. Berbagai kemudahan akses didapatkan oleh manusia, namun dengan segala resikonya pula. Salah satu konsekuensi yang didapat adalah hilangnya interaksi nyata antara buku secara fisik dengan manusia sehingga sedikit banyak menyebabkan turunnya nilai esensial sebuah buku sebagai wadah ilmu pengetahuan.
Buku sebagai objek nyata merupakan salah satu media yang representatif untuk menggambarkan mengenai konsep kebermaknaan sebuah perjalanan, tulisan, ide, pengalaman, perasaan, dari seseorang yang dapat berpengaruh pada orang lain. Ketika manusia tidak lagi mengapresiasi ilmu pengetahuan tersebut kedalam tindakan diibaratkan sebagai sebuah buku yang tidak lagi dibaca, dipahami, dan dimaknai dengan tingkah laku, ia hanya menjadi sebuah media kosong yang tanpa arti. Buku sudah seperti batu yang tidak mungkin untuk dibuka dan dibaca, ia hanya menjadi hiasan belaka. Tidak ada lagi konsep kebermaknaan sebuah perjalanan, tulisan, ide, pengalaman, perasaan, dari seseorang yang berpengaruh pada orang lain, juga yang diwariskan dari sebuah generasi ke generasi berikutnya. Ketidakmampuan manusia membaca tiap pesan yang tertuliskan dalam buku mengesankan bahwa buku sudah menjadi semacam artefak yang membatu, nilai-nilainya sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman, walau sebenarnya sebuah ilmu pengetahuan tidak akan pernah mati, ia hanya berkembang dan berubah menjadi lebih dewasa seiring kebutuhan zamannya.
2 Proses Studi Kreatif
Batu yang dipilih sebagai material pada karya "The World as Will and Idea" berjenis Andesit, yang diambil dari pegunungan Padalarang, Jawa Barat. Dahulu di utara Padalarang terdapat endapan material letusan Gunung Sunda, sehingga batu Andesit dikategorikan dalam jenis batuan vulkanik, yang merupakan hasil letusan gunung berapi dan telah terendap sangat lama.
Apabila waktu diputar mundur ke belakang sekitar 30 hingga 25 juta tahun yang lalu, maka akan terbukalah lembaran-lembaran sejarah Bumi Bandung yang masih tersimpan baik dalam catatan-catatan alam di bebatuan di Cekungan Bandung, dimana dahulu sebagian daerah ini masih berupa lautan [2]. Tidak mengherankan material batu andesit memiliki warna hitam yang tidak pekat, terdapat corak warna putih sedikit dan samar, hal itu disebabkan oleh terjadinya pengendapan material laut.
Batu andesit Padalarang dipilih untuk merepresentasikan buku selaras dengan makna batu tersebut sebagai media penyimpan catatan-catatan alam yang mengkisahkan lembaran-lembaran sejarah Bumi Bandung sama seperti fungsi nyata sebuah buku dalam kehidupan manusia.
2.1 Teknis Berkarya
2.1.1 Pemotongan Batu di Gunung
Batuan Padalarang yang masih menyatu dengan gunung di potong dengan menggunakan mesin besar, yang umumnya berfungsi mirip dengan gergaji mesin raksasa. Metode lama seperti penggunaan dinamit sudah lama dilarang, dikarenakan efeknya yang buruk terhadap lingkungan sekitar. Penggunaan mesin besar dapat mengurangi polusi debu yang dan bising yang biasanya dihasilkan dari metode pengeboman. Selain mengurangi polusi udara dan suar, dampak retakan yang disebabkan dari metode bom juga bisa diminimalisasikan, sehingga tidak terdapat material dari batu-batu yang retak yang tidak terpakai bahkan beresiko menyebabkan longsor gunung. Batu biasanya dipotong dalam bentuk kubikan balok batu yang sangat besar yang dibagi-bagi menurut jatahnya masing-masing.
2.1.2 Proses Pemotongan Bentuk Dasar Batu
Tidak jauh berbeda dengan pemotongan batu dari gunung, pemotongan batu dari bongkahan batu kubik besar menjadi bongkahan kecil berbentuk persegi menyerupai ukuran buku dengan skala 1:1, namun dengan ukuran yang bervariasi, dengan menggunakan mesin gergaji atau mesin grinda hanya saja bentuk potongannya disesuaikan dengan bentuk dasar dan proporsional sebuah buku. Tentu saja hasil proses pemotongan ini tidak akan langsung sempurna dan membentuk wujud buku, karena masih batu masih bertekstur kasar dan cenderung tidak beraturan yang nantinya akan dihaluskan pada proses pemahatan.
2.1.3 Proses Pemotongan dan Pemahatan Batu
Setelah batu dipotong bongkahan kecil seukuran buku asli, kemudian batu mulai dipahat untuk mengejar bentuk semirip mungkin dengan buku asli. Ukuran buku dibuat bervariasi, sesuai dengan beragam fungsinya. Ukuran dan visual yang dibuat seolah buku asli merupakan stimulus yang familiar dengan keseharian manusia. Stimulus dari objek buku tersebut pada akhirnya ditangkap oleh alat indera manusia sehingga menimbulkan sensasi yang menghasilkan
persepsi berakibat pada timbulnya interaksi antara manusia dengan buku batu tersebut.
2.1.4 Proses Grafir Judul Buku
Proses grafir adalah proses pengukiran detail judul buku. Umumnya grafir adalah metode pembuatan pola ukir pada sebuah bidang, bisa kayu, besi, atau batu dengan menggunakan bantuan mesin grafir. Proses grafir pada tahap pengerjaan karya ini tujuannya untuk membuat judul buku. Judul buku terlebih dahulu diprint diatas kertas dan disesuaikan ukurannya dengan ketebalan buku yang berbeda-beda. Setelah itu kertas hasil cetakan ditempelkan menggunakan lakban bening sebagai patokan grafiran nantinya.
2.1.5 Proses Finishing
Setelah bentuk batu sudah sesuai dengan bentuk proporsional buku dan diberi judul dengan metode grafir, maka tahap selanjutnya adalah finishing permukaan dengan cara semir atau polishing. Batu sebenarnya sudah memiliki ciri dan warnanya sendiri-sendiri. Dari satu jenis batu yang sama kita tidak mungkin mendapatkan warna yang sama persis dengan tekstur yang sama pula, karena batu sangat jarang yang identik. Dengan jenis permukaan tekstur dan warna batu yang sebenarnya bervariasi kita mungkin untuk mengejar sebuah tampilan yang sesuai dengan konsep berkarya. Semir batu dapat dilakukan dengan menggunakan bahan semir untuk mengeluarkan warna asli batu, lalu bisa ditambah dengan coating glossy atau doff untuk menghasilkan kesan basah pada permukaan batu.
2.1.6 Instalasi Karya
Karya seni instalasi merupakan sebuah arena dimana terjadi interaksi antara seniman, konsep, ide, dan penikmat [3]. Instalasi buku sebagai objek karya disusun membentuk lengkung busur setengah lingkaran. Garis semu setengah lingkaran tersebut menandakan hilangnya garis semu setengah lingkaran lainnya, yang menyimbolkan terputusnya sebuah siklus ilmu dari generasi satu ke generasi lainnya akibat dari buku-buku yang telah membatu.
Susunan buku ditumpuk berirama dengan ukuran bervariasi, kemudian tumpukan tersebut disusun sejajar berirama, dengan patokan tumpukan tertinggi adalah setinggi tubuh manusia, dan tumpukan terendah adalah satu sampai dua buku saja. Proses penumpukan buku tidak dibuat dengan cara kuncian dan sengaja ditumpuk seperti halnya buku asli ditumpuk namun tetap dalam skema instalasi yang jelas, yaitu setengah lingkaran.
Kedekatan ukuran buku batu dengan buku asli, dan kedekatan skala-skala yang digunakan pada proses instalasi dengan manusia ditujukan agar dapat menjadi stimulus yang familiar dengan keseharian manusia. Stimulus dari objek buku tersebut pada akhirnya ditangkap oleh alat indera manusia sehingga menimbulkan sensasi yang menghasilkan persepsi berakibat pada timbulnya interaksi antara manusia dengan instalasi buku batu hingga menimbulkan sebuah impresi dan menghasilkan sebuah interpretasi atas permasalahan yang diangkat pada karya ini [4].
3 Konsep Karya
3.1 Konsep Reinkarnasi Buku
Reinkarnasi adalah sebuah konsep agama atau filsafat bahwa jiwa atau roh, setelah kematian biologis, akan memulai kehidupan baru dalam tubuh baru, mungkin sebagai manusia, hewan atau zat spiritual. Semua wujud baru tersebut tergantung pada kualitas moral dari tindakan kehidupan sebelumnya. Reinkarnasi merupakan prinsip utama dari agama-agama India dan merupakan keyakinan yang dipegang oleh tokoh-tokoh bersejarah seperti Pythagoras, Plato dan Socrates. Reinkarnasi secara konseptual juga merupakan kepercayaan umum agama-agama pagan seperti Druidism, Spiritisme, Theosophy Eckankar, dan ditemukan dalam kelompok masyarakat suku pedalaman atau primitif hampir di seluruh dunia, di tempat-tempat seperti Indonesia, Siberia, Afrika Barat, Amerika Utara, dan Australia.
Meskipun mayoritas penganut ajaran Kristen dan Islam tidak mempercayai sistem ataupun konsep reinkarnasi, namun ada beberapa kelompok tertentu dalam agama-agama tersebut yang meyakini bahwa konsep reinkarnasi adalah konsep universal dan sangat mendasar dalam siklus kehidupan rohaniah. kelompok ini termasuk pengikut sejarah dan kontemporer utama dari Kabbalah, Cathar, dan sekte Syiah seperti Alawi Syiah dan Druze dan Rosicrucian. Sejarah hubungan antara sekte-sekte dan kepercayaan tentang reinkarnasi yang menjadi karakteristik dari Neoplatonisme, Orphism, Manicheanism Hermetisisme, dan Gnostisisme dari era Romawi, serta agama-agama India telah menjadi subyek penelitian ilmiah baru-baru ini.
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak orang Eropa dan Amerika Utara telah mengembangkan minat dalam reinkarnasi. Telah muncul cukup banyak film kontemporer, buku, dan lagu-lagu populer yang sering menyebutkan reinkarnasi. Dalam dekade terakhir, peneliti akademis telah mulai mengeksplorasi reinkarnasi dan menerbitkan laporan kenangan anak-anak dari kehidupan sebelumnya didalam jurnal dan buku.
Seperti halnya tubuh yang diisi dengan jiwa, kemudian jiwa mengalami perkembangan dan kedewasaan dalam proses kehidupan duniawi hingga akhirnya mati dan ditinggalkan. Lalu jiwa akan kembali memasuki tubuh yang baru yang sesuai dengan tingkat kebijaksanaan yang telah digapai di kehidupan sebelumnya sebagai bekal di kehidupan yang baru. Seperti itu pula bagaimana buku secara fisik berperan sebagai tubuh yang menampung isi tulisannya sebagai jiwanya.
Isi buku yang baik akan selalu dibaca dan bermanfaat bagi generasi-generasi selanjutnya tanpa terbatas usia. Saat orang membaca dan memahami isi buku maka buku sebagai energi ilmu pengetahuan telah berpindah tempat dari sekedar buku dan tulisan menjadi sebuah pemahaman dan tindakan. Sebuah pemahaman dan tindakan yang dibawa oleh manusia dan akan bertemu dengan ilmu pengetahuan lain yang bisa jadi merupakan hasil dari pemahaman dari isi buku yang lainnya atau merupakan hasil interaksi dengan manusia lain yang membaca buku lain.
Pada titik ini ilmu pengetahuan telah mengalami pendewasaan melalui medium manusia, dan pada saat beberapa ilmu pengetahuan itu bercampur menjadi sebuah ilmu pengetahuan dan pemahaman baru yang kemudian dituliskan kembali kedalam sebuah buku baru, maka buku pun secara jiwa dan fisik telah bereinkarnasi.
3.2 Buku Sebagai Objek Karya
Buku sebagai objek nyata merupakan salah satu media yang representatif untuk menggambarkan mengenai konsep kebermaknaan sebuah perjalanan, tulisan, ide, pengalaman, perasaan, dari seseorang yang dapat berpengaruh pada orang lain. Kehidupan manusia itu sendiri tidak terlepas dari peran berbagai catatan yang diwariskan dalam bentuk buku.
Buku yang kita kenal kini adalah kumpulan dari kertas-kertas yang dirangkum dan dijilid menjadi satu. Diatas kertas dituliskan berbagai huruf, angka, simbol, serta gambar. Buku merupakan jendela informasi, faktanya bahwa melalui buku, pembaca mampu terbawa dalam imajinasi yang disampaikan oleh penulis buku tersebut, tentang harumnya bunga, indahnya padang gurun, serta nikmatnya hidangan makanan, dan cerita-cerita lainnya.
Buku memanglah hanya sebuah media penyampaian cerita secara dua dimensi, namun dengan dilengkapi imajinasi manusia yang membacanya, maka cerita maupun pesan didalam buku itu menjadi terkesan nyata. Terdapat berbagai perbedaan cara dalam memandang buku, yaitu bagaimana cara kita mengisi sebuah buku kosong dengan berbagai kisah hidup dan pengalaman kita, sebaliknya bagaimana cara kita menghadapi buku-buku yang sudah memiliki judul dan berisi cerita. Namun kedua perbedaan cara pandang tersebut saling berkaitan, seperti kehidupan manusia. Hal tersebut menjadi penting dan melatarbelakangi pemilihan bentuk visual buku sebagai objek karya.
Peran buku sebagai bagian dari kemajuan peradaban manusia, hingga keberadaannya kini merupakan pilihan dari manusia sesuai dengan cara pandangnya masing-masing. Ruang pengetahuan yang luas didalam buku menjadi alternatif pilihan hidup yang dapat dicapai oleh manusia.
Metamorfosa yang terjadi pada buku, sejak penciptaan paperbook yaitu bentuk buku yang telah kenal lama, hingga kini tercipta e-book membuat makna buku sebagai objek nyata mulai pudar. Kemudahan untuk mengunduh dan menghilangkan sebuah judul buku di dunia maya, serta merta merupakan bagian dari kemudahan fungsi yang dibutuhkan oleh manusia, padahal interaksi antara buku sebagai objek nyata dan manusia sebagai pembaca memiliki makna tersendiri bagi manusia tersebut.
Wujud buku seperti yang kita ketahui saat ini tidak mengalami perubahan standar bentuk sejak abad ke-15, sebelum berubah bentuk menjadi e-book sejak terjadinya perkembangan teknologi melalui dunia virtual. Bentuk buku konvesional yang terdiri atas sampul depan, halaman-halaman isi yang dilambangkan dengan tumpukan lembaran kertas, ketebalan jilid, judul buku dan pengarang pada sampul depan, judul buku, serta pengarang pada ketebalan jilid, merupakan bentuk visual buku yang mewakili peran buku selama enam abad lamanya. Pada karya "The World as Will and Idea" bentuk visual buku tersebut digunakan sebagai bentuk objek karya.
3.3 Batu Sebagai Artefak
Batu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan zaman, memiliki bentuk yang kokoh dan kuat, serta secara filosofis mewakili sifat yang abadi, itulah mengapa batu identik dengan konsep fosil, sesuatu yang telah lama terpendam dalam bumi dan membatu.
Pada proses berkarya ini, karya "The World as Will and Idea" penggunaan material batu pada objek karya dianalogikan sebagai sebuah objek profan yang menstimuli sensasi alat indera manusia sebagai apresiator, secara visual dan raba, dikarenakan visual dari batu tersebut yang terlihat kokoh dan memiliki makna yang abadi. Sehingga menambah pemaknaan karya tersebut secara individu, membuat apresiator melakukan kontemplasi sejenak, merespon, mengapresiasi karya, serta meninggalkan sepenggal memori yang abadi akan peran buku dan kaitannya dengan perjalanan hidup.
3.4 Instalasi dan Hubungannya Dengan Reinkarnasi
Reinkarnasi adalah sebuah ritus berulang dari siklus kehidupan. Reinkarnasi sebenarnya sebuah konsep ketuhanan yang sangat rasional tentang sifat energi yang abad, bahwa energi hanya akan berpindah tempat tanpa bisa dihilangkan. Pola-pola yang umum dipakai untuk berbicara tentang dan dapat diaplikasikan serta diterjemahkan kedalam pola-pola. Seperti halnya pola lingkaran yang dipakai dalam sistem mandala yang membagi kehidupan dalam beberapa tingkatan. Jika kita memandang reinkarnasi sebagai sebuah pola yang berulang tanpa henti maka akan dapat diwakili oleh bentuk lingkaran. Berbeda dengan bentuk kotak atau segitiga, atau bentuk-bentuk bersudut patah yang identik dengan batas dan keterbatasan (manusia = keterbatasan).
Lingkaran berupakan simbol yang banyak dipakai untuk melambangkan ketuhanan, sesuatu yang abadi karena wujudnya yang berputar tanpa ada akhir. Instalasi yang berbentuk lengkung busur dan memiliki tinggi yang sedikit melebihi tinggi manusia sebenarnya berupaya membangun kesan meruang, baik ketika diletakkan didalam ruang maupun diluar ruangan. Secara filosofis juga berupaya mereprenstasikan dari sebuah monumen dan dinding pemisah.
Skala buku yang digunakan adalah skala 1:1 dengan ukuran buku aslinya walaupun ukurannya bervariasi. Skala merupakan besaran perbandingan yang tidak memiliki nilai mutlak, bersifat relatif atau tergantung pada area dimana bentuk tersebut berada. Benda yang bersifat monumental bagi manusia berarti benda tersebut memiliki skala yang lebih besar dari ukuran benda-benda yang bisa terjangkau manusia, sebaliknya sebuah benda dikatakan mini, apabila benda tersebut memiliki skala yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan benda-benda di sekitar manusia.
Penggunaan skala buku 1:1 pada karya dimaksudkan agar secara psikologis dapat membawa apresiator seperti merasa memiliki ikatan dengan karya tersebut, menggugah memori akan buku yang sebenarnya dan apa adanya, tanpa berlebihan.
Susunan buku yang ditumpuk berirama menggambarkan perjalanan buku dan pengaruhnya terhadap peradaban manusia, serta dianalogikan sebagai perjalanan hidup manusia itu sendiri, jalan yang ditempuh berliku-liku, terkadang diatas, dan terkadang dibawah.
3.5 Judul Sebagai Identitas
Setiap manusia memiliki nama panjang, dan nama panggilan. Beberapa nama diberikan oleh orang tua sebagai simbol dari sikap atau harapan yang baik. Tapi tidak jarang sebuah nama berubah seiring perjalanan hidup manusia, dikarenakan ciri fisik maupun sikapnya ditengah masyarakat, sehingga muncullah nama julukan sebagai identitas tambahan, maupun identitas baru yang lebih sesuai. Seperti halnya nama asli dan nama panggilan yang menjadi sebuah identitas diri, maka sebuah judul buku sangat penting untuk di tuliskan di tiap depan maupun cover buku sebagai identitas dari isi yang tertulis didalamnya. Beberapa buku mungkin mengalami revisi isi, namun judul tetap akan sama.
Mengukirkan judul diatas batu seperti mengukir nama diatas batu nisan. Untuk mengingat dan menghargai rangkaian perjalanan hidup dan pemikiran sang pengarangnya.
4 Proses Penciptaan Karya
4.1 Proses Eksekusi Penciptaan Karya
Secara garis besar proses eksekusi penciptaan karya dapat dijabarkan secara skematis seperti skema pada Gambar 1.

Gambar 1 Skema Proses Eksekusi Karya, 2012.
4.2 Gunung dan Simbol Keabadian
Gunung merupakan sebuah simbol akan suatu kekuatan yang agung, menjadi bagian dari sebuah lingkaran kosmos kepercayaan masyarakat Indonesia pada abad 7 hingga 15. Kepercayaan tersebut menghasilkan berbagai ritual yang kompleks hingga sederhana yang dilakukan oleh para leluhur yang bahkan tetap berlangsung hingga kini [5]. Gunung dan berbagai material yang terkandung didalamnya berperan sebagai media perantara untuk menyembah Sang Khalik oleh sebagian penduduk lokal yang masih mempercayai dan melakukan ritual tradisional.
4.3 Proses Pemotongan Batu Sebagai Proses Perpindahan Nilai
Sebuah gunung menjulang tinggi dimuka bumi ini bukan hadir begitu saja tanpa manfaat. Ia adalah wujud nyata kebesaran Illahi, dengan kemegahannya dan kekuatannya, agar manusia selalu ingat ada yang lebih besar dan kuasa dibandingkan mereka. Namun bukan juga hanya sekedar itu, gunung diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagai sebaik-baiknya ciptaan Tuhan dan pemimpin dimuka bumi ini. Dengan dianugerahi akal, pikiran, dan perasaan, manusia mengambil sebagian dari "tubuh" sang gunung dan memanfaatkannya untuk hidup.
Banyak manfaat yang didapatkan dari mengekplorasi gunung, sebagai bahan bangunan seperti lantai rumah sampai dengan hiasan patung-patung. Manusia mendapatkan kenyamanan dan keindahan untuk membantu jiwanya menjadi lebih sehat dan bisa mengembalikan manfaatnya kepada alam juga sekitarnya. Sampai dengan tahap tersebut manusia masih dapat merasakan perpindahan nilai dan makna dari saling berbagi dengan alam.
Umumnya dalam tiap proses pengambilan material dari gunung masyarakat setempat melakukan ritual tradisional sebagai simbolisasi permintaan ijin kepada para penjaga untuk mengambil batu-batu dari tempat "mereka". Namun seperti yang kita ketahui sekarang, manusia selalu melewati batas-batas seperti adam dan hawa melanggar larangan Allah SWT. Seperti itulah manusia melewati batas antara berbagi dengan alam, menjadi mengeksploitasinya untuk kepentingan komersialisasi. Cara kita menghargai alam sebanding dengan cara alam berbagi dengan kita. Pada titik ini kita sudah tidak melandaskan segala perbuatan diatas nilai yang mulia. Padahal azas kebermanfaatan yang timbal balik antara kita dengan alam menjadi titik terpenting dalam proses transfer nilai dan proses kehidupan kita dan anak cucu kita kelak.
4.4 Proses Pengendapan Nilai dalam Bentuk Sebuah Buku
Memahat adalah proses mengurangi sebuah material dari satu wujud ke wujud lainnya. Proses memahat adalah upaya untuk mencari bentuk yang tersembunyi didalam wujud lamanya. Dengan wujud baru tersebut diharapkan ada pemaknaan baru dari material tersebut sebelumnya. Dalam proses memahat kita berupaya membentuk sebuah identitas baru, namun juga melengkapi identitas lamanya.
Batu adalah material mentah, kecuali dia telah dipahat dan dibentuk sebelumnya. Pemilihan wujud buku sebagai bentuk akhir yang akan dipahatkan menegaskan upaya untuk menghadirkan identitas dan memori tentang buku. Namun dengan penggunaan material batu berarti ada identitas baru yang tercipta dari penggabungan antara wujud buku tersebut dengan material batu.
Seperti halnya artefak dan batu yang merupakan hasil endapan ribuan tahun yang lalu, maka jelas ada upaya untuk menjadikan karya buku ini sebagai benda yang tidak lagi memiliki fungsi, karena sudah membatu dan memfosil.
4.5 Wujud Instalasi Sebagai Simbol Siklus
Instalasi memang bukan hanya tentang pola namun juga tentang ruang, pengunjung dan karya itu sendiri. Pendekatan visual kepada khalayak dalam karya tiga dimensi berbeda dengan karya dua dimensi. Ada keterlibatan secara fisik antara karya dan pengunjung, karena mereka dapat membandingkan secara volume antara karya dengan tubuh mereka. Secara otomatis perbandingan tersebut membawa pada kedekatan dan keintiman pengunjung terhadap karya. Keintiman untuk menyentuh dan merasakan permukaan karya menjadi point penting dalam karya instalasi
Kemampuan membuat sebuah simulasi ruang sangat berpengaruh terhadap kesan yang ditangkap pengunjung. Sebuah pola umum dipakai pada karya instalasi, bermacam-macam pola dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan konsep karya. Bentuk garis lingkaran menggambarkan sebuah siklus yang terus berputar, dan berkelanjutan. Bentuk garis setengah lingkaran yang dijadikan pola instalasi mewakili putusnya sebuah siklus. Siklus yang dimaksud disini merupakan siklus reinkarnasi buku itu sendiri sebagai simbol ilmu pengetahuan. Siklus ilmu pengetahuan melalui buku terjadi dari manusia-menulis dalam buku-dibaca manusia-diterapkan-ditulis dalam buku-dibaca-diterapkan, begitu seterusnya tanpa terhenti.
Pada realita kehidupan manusia masa kini, terjadi apa yang disebut pemutusan siklus, secara umum, mengambil contoh dari banyaknya manusia yang tidak menerapkan nilai-nilai maupun ilmu pengetahuan bersifat positif , diibaratkan seagai pengendapan buku, dimana buku tersebut tidak dapat lagi dibaca maupun ditulis.
5 Tinjauan Karya
5.1 Tinjauan Visual Karya
Bentuk visual dari objek karya "The World as Will and Idea" adalah menyerupai sebuah buku dengan skala sebenarnya. Instalasi karya ini terdiri atas tumpukan buku dengan ukuran buku yang bervariasi, kemudian disusun berjejer membentuk garis imajiner lengkung busur (Gambar 2). Tumpukan buku tertinggi adalah setinggi manusia, dan tumpukan buku terendah hanyalah satu atau dua buku saja. Material karya adalah batu Andesit Padalarang yang dipahat, diukir, di-grafir, dan diberi finishing yang membuat warna batu menjadi terlihat lebih gelap dan kokoh (Gambar 3-5).
Gambar 2 Instalasi Karya The World as Will and Idea Membentuk Garis Imajiner Lengkung Busur, 2012.
Gambar 3 Instalasi Karya The World as Will and Idea Tampak Depan, 2012.
Gambar 4 Detail Grafir Cover Karya The World as Will and Idea, 2012.
Gambar 5 Detail Susunan Karya The World as Will and Idea, 2012.
Ukuran buku bervariasi ada yang berukuran A4, A5, dan custom serta ketebalan yang bervariasi pula dari 1,5cm sampai 3 cm. Ukuran yang dipakai sebagai patokan pembuatan buku adalah ukuran buku yang sering kita baca, dengan artian skala yang dipakai adalah 1:1.
Dari sekitar 400 buku yang didisplay, ada 300 buku yang diberikan judul di tiap sisinya. Judul-judul buku yang dipilih merupakan judul dari buku-buku yang mempengaruhi peradaban manusia, khususnya manusia modern. Dimana semua buku tersebut sampai saat ini masih dipakai dan dibaca sebagai panduan untuk setiap bidang keilmuannya masing-masing. Dari berbagai judul yang ditulis, banyak yang merupakan hasil karya tulis orang luar, namun sebagian juga terdapat judul yang merupakan hasil karya tulis indonesia. Dengan total hanya 300 buku yang diberi judul, berarti ada sekitar 100 buku yang memang tidak diberi judul dan dibiarkan kosong.
5.2 Tinjauan Filosofis Karya
Objek yang terlihat pada karya ini adalah buku yang ditumpuk sedemikian rupa dengan ukuran yang bervariasi namun tetap berirama. Pemilihan buku sebagai objek karya dipengaruhi oleh peran buku sebagai bagian dari kemajuan peradaban manusia, hingga keberadaannya kini merupakan pilihan dari manusia sesuai dengan cara pandangnya masing-masing. Seperti yang telah diungkapkan oleh Pierre Perroud dalam sebuah artikel yang ditebitkan pada Februari 1996 oleh The Swiss Magazine [6], bahwa buku sebagai objek nyata tetap tak tergantikan, bahwa buku sebagai objek nyata adalah media untuk membaca dengan sebenar-benarnya, serta memiliki nilai personal bagi setiap individu pembacanya.
Buku hanyalah sebuah media penyampaian cerita secara dua dimensi, namun dengan dilengkapi imajinasi manusia yang membacanya, maka cerita maupun pesan didalam buku itu menjadi terkesan nyata. Terdapat berbagai perbedaan cara dalam memandang buku, yaitu bagaimana cara kita mengisi sebuah buku kosong dengan berbagai kisah hidup dan pengalaman kita, sebaliknya bagaimana cara kita menghadapi buku-buku yang sudah memiliki judul dan berisi cerita. Namun kedua perbedaan cara pandang tersebut saling berkaitan, seperti kehidupan manusia. Hal tersebut menjadi penting dan melatarbelakangi pemilihan bentuk visual buku sebagai objek karya.
Pada proses berkarya ini, karya "The World as Will and Idea" "dianalogikan sebagai sebuah objek profan yang menstimuli sensasi alat indera manusia sebagai apresiator, secara visual dan raba, sehingga menambah pemaknaan karya tersebut secara individu, yang menghasilkan respon maupun tindakan, yang menghasilkan apresiasi bagi karya, serta menimbulkan efek batiniah bagi individu tersebut.
Dalam dunia seni rupa sesungguhnya telah banyak seniman yang menggunakan bentuk buku sebagai objek nyata pada karyanya. Namun disini secara fisik buku-buku yang berpengaruh di dunia dihadirkan dalam wujud nyata menggunakan material batu, sebagai pengingat bahwa makna sebuah buku tidak akan usang dimakan waktu.
6 Kesimpulan
Proses pengkaryaan "The World as Will and Idea" telah melalui berbagai tahapan, dimulai dari penentuan konsep, pemilihan objek karya, pemilihan material, proses teknis berkarya, hingga instalasi karya tersebut.
Tema yang diangkat dalam kekaryaan ini bermaksud untuk menggugah memori perupa secara pribadi dan para apresiator pada umumnya mengenai masalah tereduksinya makna dari sebuah buku sebagai objek nyata, mengingat perkembangan dari sejak penciptaannya hingga kini, serta banyaknya tulisan dari gambaran perasaan, ide, pengalaman, dan bahkan warisan berbagai pengetahuan dan kebudayaan yang telah dituliskan pada sebuah buku.
Selain itu melalui kekaryaan ini diharapkan dapat terciptanya interaksi secara fisik antara manusia sebagai apresiator dengan buku sebagai karya seni, serta diharapkan dengan melihat karya ini menyadarkan manusia, bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari peran buku itu sendiri, yang membangun karakter, pandangan, pola pikir, untuk itu dibuatlah karya dengan objek buku seukuran dengan ukuran buku sebenarnya walaupun bervariasi.
Lahirnya bentuk buku yang ada sekarang ini merupakan perkembangan dari bentuk buku di sekitar abad ke-15 tanpa perubahan yang signifikan. Buku merupakan hasil dari tulisan yang berkembang sedikit demi sedikit, sehingga timbul dari kebutuhan praktis untuk membuat catatan. Pada masa tersebut telah terdapat keinginan dari manusia untuk melestarikan buah pikiran maupun pengalaman, dan pewarisan kebijaksanaan yang telah diperoleh kepada generasi berikutnya. Hal tersebut menegaskan betapa pentingnya sebuah buku bagi peradaban manusia.
Tanpa mengurangi nilai-nilai positif dari perkembangan buku dalam bentuk objek non nyata yang ada saat ini, seperti terciptanya e-book, bentuk paperbook adalah bentuk buku yang sifatnya tidak tergantikan, secara fisik, maupun secara psikologis. Penggunaan material batu pada objek karya dianalogikan sebagai sebuah objek profan yang menstimuli sensasi alat indera manusia sebagai
apresiator, secara visual dan raba, dikarenakan visual dari batu tersebut yang terlihat kokoh dan memiliki makna yang abadi. Sehingga menambah pemaknaan karya tersebut secara individu, membuat apresiator melakukan kontemplasi sejenak, merespon, mengapresiasi karya, serta meninggalkan sepenggal memori yang abadi akan peran buku dan kaitannya dengan perjalanan hidup.
Pada karya "The World as Will and Idea" terdapat buku yang telah diberi judul menyampaikan bahwa telah tertulis didalamnya pengalaman dan pengetahuan sesorang, yang berpengaruh di dunia. Sedangkan yang tidak berjudul mencoba menyatakan masih banyaknya peluang bagi manusia untuk menuliskan sejarahnya dalam kehidupan ini.
Penggunaan skala buku 1:1 pada karya dimaksudkan agar secara psikologis dapat membawa apresiator seperti merasa memiliki ikatan dengan karya tersebut, menggugah memori akan buku yang sebenarnya dan apa adanya, tanpa berlebihan.
Susunan buku yang ditumpuk berirama menggambarkan perjalanan buku dan pengaruhnya terhadap peradaban manusia, serta dianalogikan sebagai perjalanan hidup manusia itu sendiri, jalan yang ditempuh berliku-liku, terkadang diatas, dan terkadang dibawah. Melalui karya ini diharapkan dapat mempengaruhi manusia untuk melakukan introspeksi diri, serta bagaimana setiap individu dapat memberikan pengaruh bagi dirinya dan lingkungannya.
Ucapan Terimakasih
Artikel ini didasarkan kepada catatan proses berkarya dalam mata kuliah Tugas Akhir Program Studi Magister FSRD ITB. Proses pelaksanaan TugasAkhir ini disupervisi oleh Dr. A. Rikrik Kusmara M.Sn.dan Dr. Tisna Sanjaya M.Sch.
