1 Pendahuluan
Simbol berkembang sesuai dengan peradaban, budaya, dan lingkungan. Menurut Edmund Spenser dalam karya tulisnya Faerie Queene [1], kata dasar simbol berasal dari Yunani, yaitu symbolon yang berarti tanda. Syn berarti 'bersama' dan bole berarti 'melempar' atau 'memasukkan'. Kata ini dapat dimaknai sebagai 'tanda luar' atau 'sesuatu yang berdiri menggantikan makna lain'. Penggunaan simbol dalam peradaban manusia telah berlangsung lama dan dapat dipetakan sejak ditemukannya gambar pada dinding-dinding gua. Melalui wujudnya, simbol adalah bahasa visual yang dapat diinterpretasikan secara luas oleh masing–masing orang dan memiliki keterbacaan yang dinamis. Terkadang, simbol dimunculkan bukan hanya dalam satu wujud, tetapi tergabung dengan simbol lainnya, membentuk sebuah ilustrasi, artefak, produk kreatif (film, komik, game) atau karya seni.
Jung dalam Gauding [2] menyatakan bahwa simbol adalah kunci untuk mengenal manusia. Simbol arketipal atau primordial merefleksikan pola dasar dan tema universal seluruh manusia, sehingga reaksi manusia saat ini terhadap kehidupan sama dengan reaksi manusia sebelum dirinya. Berbeda dengan simbol setiap suku yang memiliki arti beragam, simbol arketipal berada pada wilayah alam bawah sadar kolektif dan mempunyai arti yang sama di seluruh bagian dunia, sehingga setiap orang memiliki reaksi psikologis yang sama terhadap simbol tersebut. Berdasarkan kondisi ini, menarik untuk menelusuri pemakaian arketipal yang bersifat universal pada karya seni rupa karena karya adalah hasil dari pemikiran, ideologi, dan faktor personal dari seniman, sehingga karya seni dapat dikatakan sebagai bagian dari diri seniman yang tervisualkan atau terepresentasikan melalui karya.
1.1 Ay Tjoe Christine
Ay Tjoe Christine merupakan salah satu seniman Indonesia beretnis Tionghoa yang dilahirkan di Bandung pada tanggal 27 Desember 1973. Berasal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pemukiman padat dan ramai. Ia tinggal bersama ketiga saudara kandung, orang tua, dan neneknya. Namun, meskipun tinggal di dalam satu atap, hubungan mereka tidak hangat dan bahkan cenderung dingin serta kaku. Meskipun dilahirkan di dalam keluarga non–seni dengan ayah seorang pedagang, kedua orang tuanya memiliki ketertarikan umum pada bidang seni. Hal ini yang menyebabkan Ay Tjoe Christine menyenangi seni rupa, sehingga melalui ketertarikan ini dirinya melanjutkan pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung pada tahun 1992 dengan jalur studio seni grafis dan pada akhirnya merampungkan pendidikannya pada tahun 1997 [3].
Namun, meskipun ketertarikan pada bidang seni dimiliki oleh keluarga ini, Ay Tjoe Christine tidak diberi dukungan oleh orang tuanya untuk melanjutkan karier di bidang seni, sehingga setelah lulus Ay Tjoe Christine bekerja di pabrik tekstil serta menjadi asisten fashion Biyan. Namun, dikarenakan ketertarikan Ay Tjoe Christine terhadap seni tidak lagi dapat dibendung, akhirnya dirinya berhenti bekerja dan memulai karir di bidang seni [3]. Pencapaiannya pada medan seni rupa mulai terlihat ketika memperoleh penghargaan 5 besar Phillip Morris [4] dan prestasi ini dilanjutkan pada tahun 2004 dengan didapatkannya beasiswa di Stiftung Koenstlerdof Schoeppingen Jerman [3].
Hingga kini Ay Tjoe Christine masih meneruskan kekaryaannya dan banyak mengikuti pameran bersama serta mengadakan pameran tunggal baik di dalam maupun luar negeri. Prestasi lainnya yang pernah diraih yaitu SCMP Art Futures Prize winner, Hongkong Art Fair pada tahun 2009 dan Prudential Eye Award pada tahun 2015 [4]. Penelitian ini mengangkat Ay Tjoe Christine sebagai seniman yang akan diteliti karena dia merupakan salah satu seniman kontemporer Indonesia dengan karir kesenimanan yang panjang. Dirinya juga tercatat memiliki konsep serta tema berkarya yang bersifat personal. Bahkan dalam salah satu wawancara, Ay Tjoe Christine mengatakan bahwa karya adalah representasi dari perjalanan hidupnya [3]. Dikarenakan simbol arketipal merupakan simbol yang berada dalam ketidaksadaran kolektif, maka seharusnya karya-karyanya yang dekat dengan faktor personal dapat menghadirkan simbol arketipal di dalamnya.
1.2 Objek Teliti
Pada sub-bab ini dijelaskan perkembangan 2 (dua) tema yang memiliki hubungan dengan karya pembahasan, yaitu tema sekutu dan tema karya landscape yang berlanjut hingga tema karya layer. Perlu diketahui bahwa dalam
penyeleksian karya, perkembangan tema ditetapkan peneliti melalui judul yang diberikan oleh seniman, sehingga dapat dilihat pada tema sekutu di Gambar 1 dan tema landscape, layer di Gambar 2 yang secara jelas menampilkan perkembangan setiap tema yang tidak terputus oleh tahun tertentu.
Karya yang akan diteliti secara mendalam adalah karya Sekutu II pada tema sekutu (2002), karya Landscape in My Head pada tema landscape (2009), dan karya The Last Layer pada tema layer (2012). Tema sekutu pada tahun 2002 dipilih sebagai objek teliti karena tema tersebut berkembang dan bergabung dengan tema fanatik yang ada pada tahun 2003. Pada tahun 1999-2002 tidak ada tema karya lain selain tema sekutu yang memiliki perkembangan secara berkelanjutan pada tahun kekaryaan selanjutnya. Meskipun terdapat beberapa tema lain yang memiliki perkembangan baru, perkembangan tersebut terputus selama beberapa tahun sebelum akhirnya dilanjutkan kembali. Contohnya dapat dilihat pada tema religius karya Manna tahun 2000 yang kembali dilanjutkan pada tahun 2003 dengan karya Santa/Satan [3]. Berbeda dengan tema ini, tema sekutu memiliki perkembangan tema yang tidak terputus

Gambar 1 Periodisasi perkembangan tema karya 'Sekutu' [3].
Karya kedua dan ketiga yang akan diteliti dipilih berdasarkan keputusan yang sama dengan objek pertama. Karya Landscape in My Head pada tema landscape merupakan karya yang dibuat pada tahun 2009. Karya ini memiliki perkembangan yang bersinggungan dengan tema layer yang menjadi karya ketiga yang akan diteliti. Hubungan kedua karya ini berlanjut tanpa terputus oleh tahun-tahun tertentu.

Gambar 2 Periodisasi perkembangan tema karya 'Landscape' dan 'Layer' [3].
Pada Gambar 2 dapat dilihat persinggungan perkembangan karya bertema landscape dan karya bertema layer, khususnya pada objek karya yang diteliti. Karya Landscape in My Head diciptakan pada tahun 2009. Pada tahun 2009-2010, mulai terjadi penggantian judul yaitu dengan adanya penempatan nama landscape dan layer pada karya ...Today I Kill the First Layer. And I Find Other Layers Living as Landscape, Landscape, Landscape.... Setelah karya ini dapat dilihat bahwa judul selanjutnya menggunakan penamaan layer, sehingga karya The Last Layer (2012) yang akan dibahas dapat dikatakan terhubung dengan tema landscape.
2 Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam analisis menggabungkan metode kritik seni Feldman [5] dan teori arketipal Jung [6]. Pembedahan dengan menggunakan Feldman dipilih karena bersifat pembedahan visual unsur dan elemen rupa pada karya, sedangkan teori Jung digunakan untuk menganalisis simbol arketipal. Metode Feldman terbagi menjadi 4 tahap utama, yaitu:
- 1. Deskripsi: tahap inventarisasi dalam menghadirkan apa yang dihadirkan langsung di depan pengamat. Tidak boleh menuliskan interpretasi.
- Analisa Formal: tahap ini masih bersifat deskriptif dengan cara menjelaskan sedetail mungkin seluruh teknik, ukuran, warna, serta berbagai unsur formal yang terdapat dalam karya. Seluruh penilaian harus bersifat objektif tanpa ada interpretasi.
- 3. Interpretasi: Tahap ini memaparkan makna pada karya dengan bantuan akumulasi tahap satu dan dua. Saat tahap interpretasi perlu disadari bahwa seniman bukan otoritas terbaik dalam memaknai karyanya sendiri karena seniman tidak sepenuhnya menyadari nilai yang terkandung dalam karya.
- Meskipun kritikus tetap mempertimbangkan konsepsi kekaryaan, hal ini hanya dijadikan pertimbangan dalam interpretasi.
- 4. Evaluasi: Penarikan kesimpulan dari tiga tahap sebelumnya dengan menghubungkan mereka pada karakteristik pandangan dan nilai yang berkembang pada zaman karya tersebut diciptakan.
Tahap yang digunakan hanya sampai tahap interpretasi. Tujuan utama pembedahan karya hanya dimaksudkan untuk mengetahui dan mengidentifikasi simbol yang digunakan. Setelah deskripsi dan analisis formal rampung dilakukan, maka interpretasi akan dilakukan dengan bantuan pemaknaan simbol secara umum agar penentuan arketipal bersifat objektif. Setelah pemaknaan berdasarkan simbol rampung dilakukan, maka hasil dari interpretasi tersebut akan direfleksikan pada teori arketipal Jung untuk kembali di interpretasi.

Gambar 3 Bagan metode gabungan [3].
Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa bagian interpretasi karya pada metode kritik Feldman dianalisis dengan bantuan teori arketipal Jung. Gambar ini khususnya menampilkan tahap dari hasil interpretasi Feldman dan simbol secara umum yang direfleksikan kembali pada lapisan inti arketipal dalam teori Jung. Bila metodologi ini dipetakan pada susunan di Tabel 1, maka dapat dilihat bahwa hasil akhir dari penelitian ini adalah penentuan arketipal yang hadir pada karya, khususnya arketipal Diri (Self).
| Kritik Seni Feldman | Psikoanalisis Jung |
|---|---|
| 1. Deskripsi | 1. Arketipal: |
| 2. Analisis Formal | Persona, Shadow, Anima/Animus, Self |
| Iı | nterpretasi |
| 4. Evaluasi | 3. Penentuan arketinal |
Tabel 1 Metodologi analisis [3].
3 Kajian Teori
Terdapat dua teori mengenai simbol yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu simbol secara umum dan simbol arketipal Jung. Pada saat menginterpretasi karya, sebelum dipetakan terhadap simbol arketipal, karya terlebih dahulu dipetakan terhadap simbol secara umum agar hasil dari interpretasi lebih objektif.
3.1 Simbol
Definisi simbol yang umum digunakan:
"Symbol: 1. A sign, shape or object which is used to represent something else 2. something that is used to represent a quality or idea"[7].
Melalui penjabaran di atas dapat dikatakan bahwa simbol merupakan tanda, bentuk, atau objek yang digunakan untuk merepresentasikan suatu hal yang lain atau sesuatu yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah kualitas atau ide, sehingga dapat disimpulkan bahwa simbol merupakan bentuk visual yang tidak secara spontan menggambarkan suatu bentuk gagasan ataupun konsep.
Melalui hasil observasi peneliti, simbol yang digunakan dalam penelitian ini adalah simbol lingkaran yang terbentuk dari penyederhanaan bentuk karya, simbol landscape dan kepala yang diangkat dari objek dan judul pada karya, serta simbol jantung yang didapat dari interpretasi kekaryaan sebelumnya. Simbol lingkaran merupakan sebuah bentuk yang kerap kali direpresentasikan sebagai simbol feminin atau perempuan. Melalui bentuknya yang tidak bersudut, simbol ini kerap kali dimaknai sebagai gagasan perlindungan, ruang suci, pusat tanah air, dan konsep kesetaraan. Bentuk ini juga identik dengan pemaknaan dinding rahim.
Tabel 2 Dua perbandingan arti simbol lingkaran [3].
| No. | Arti |
|---|---|
| 1 | Lingkaran merupakan simbol utama yang menggambarkan tanda feminin. |
| Simbol ini juga diasosiasikan dengan gagasan dari perlindungan atau ruang suci [8]. | |
| 2 | Lingkaran berhubungan dengan keadaan keutuhan [9]. |
Menurut Cirlot [9], faktor pemilihan landscape bersifat subjektif, namun pengolahan landscape memiliki unsur objektif. Hal ini sangat terlihat pada lukisan Cina. Hasil observasi Luc Benoist menyatakan bahwa lukisan Cina lebih mementingkan landscape daripada figur dan makrokosmos daripada mikrokosmos. Ide primordial dari landscape adalah representasi dari susunan kosmik. Pada tradisi gambar di Cina, pesan moral dan spiritual disampaikan
melalui tema gambar, khususnya pemandangan. Setiap bagian dari pemandangan dipercaya menyimbolkan aspek menjadi manusia. Air adalah darah, pohon dan rumput adalah rambut, awan dan kabut adalah baju, serta pelajar yang berjalan sendiri adalah jiwa. Bambu yang dapat menunduk tanpa patah menyimbolkan spirit dari pelajar tersebut, sedangkan hijau berdiri sebagai kesucian [10].
Kedua simbol terakhir yang digunakan pada penelitian ini memiliki arti yang berlawanan. Secara universal kepala dipercaya menyimpan spirit esensial dari manusia maupun dewa/dewi, sedangkan dalam bahasa imej dan unconscious, kepala menyimbolkan kekuatan vital, esensi, dan jiwa imortal. Bentuk kepala yang bulat menandakan kepala sebagai wadah dari transformasi dan keutuhan yang sama dengan alkemis "alembic". Sebuah mikrokosmos dari semesta. Setelah memasuki abad saintifik, kepala mulai merepresentasikan pikiran dan logika [11].
Pemaknaan ini berbeda dengan simbol jantung yang merepresentasikan jiwa dan pada simbolisme oriental merupakan pusat dari semesta [8]. Jantung juga dianggap sebagai pemimpin dalam tubuh dan mereka percaya bahwa jantung merupakan sumber intelektual [12]. Jantung kerap kali diasosiasikan dengan pusat [13].
3.2 Teori Arketipal Jung
Simbol adalah salah satu bahasa visual yang manusia ciptakan untuk menyampaikan ide atau pemikirannya. Jung berpendapat bahwa simbol dapat menjadi kunci untuk mengenal manusia lebih jauh. Menurut Jung dalam Gauding [2], alam bawah sadar terbagi menjadi 2 lapis (layer). Lapis pertama menyimpan material (memori) pada 'alam bawah sadar personal', sedangkan layer kedua adalah 'alam bawah sadar kolektif'. Lapis kedua berisi memori 'tunggal' yang dipercaya menjadi struktur utama dalam pembentukan pikiran serta imajinasi manusia, sehingga materi pada layer ini membentuk arketipal yang merefleksikan tema universal seluruh manusia. Hal ini yang menyebabkan reaksi manusia saat ini terhadap kehidupan, sama dengan reaksi manusia sebelum dirinya. Wilayah bawah sadar manusia, tanpa sepengetahuannya terbawa ke alam sadar dalam bentuk simbol.
Jung mengkategorikan beberapa arketipal universal yang berada di luar perkembangan waktu dan ruang, yaitu bayangan (shadow), orang tua bijak (the wise old man), anima, animus, penipu (the trickster), sosok Ibu/Ayah, anak yang tidak bersalah (the innocent child), api, laut, gunung, pohon, langit, sungai, dewa/dewi, dan pahlawan dalam mitos. Arketipal dipercaya terjadi berulang kali dalam kehidupan dan sudah ada sebelum manusia dilahirkan.
Arketipal bukan imej dan motif pasti dari mitologi tertentu, namun mereka hanya representasi alam sadar karena tidak mungkin seluruh imej dan motif mitologi yang beragam diwariskan pada satu orang [6].
Gambar 4 Diagram arketipal [14].
Sejumlah arketipal telah berkembang sedemikian jauh, sehingga harus dipandang sebagai sistem terpisah dalam kepribadian. Mereka dibagi menjadi 4 kategori utama [15], yaitu:
- 1. Persona: Topeng yang digunakan seseorang untuk merespon tuntutan kebiasaan, tradisi masyarakat, dan kebutuhan arketipal. Ia digunakan ketika berinteraksi dan untuk menyembunyikan sifat sebenarnya seseorang.
- 2. Anima/Animus: Sisi maskulin dan feminin pada lawan jenis.
- 3. Bayangan (Shadow): Insting binatang yang diwarisi manusia dalam evolusinya dari bentuk kehidupan yang lebih rendah.
- 4. Diri (Self): Arketipal yang mencerminkan perjuangan manusia ke arah satu kesatuan. Diri adalah pusat kepribadian dan tujuan hidup. Ia mempersatukan seluruh sistem dan memberikan kesatuan, keseimbangan, serta kestabilan pada kepribadian. Lambang utama arketipal ini adalah mandala/lingkaran magis yang merupakan prinsip kesatuan total.
Penjelasan mengenai arketipal Diri memiliki kemiripan dengan prinsip kesatuan dalam estetika paradoks Jakob Soemardjo [16] yang didapat melalui persatuan dua sifat saling bertolak belakang. Tempat persatuan ini adalah mandala yang dipercaya sebagai ruang bertemunya imanen dan transenden. Menurut O'Connell dan Airey [10], arketipal Diri adalah keutuhan yang diperjuangkan manusia dan kerap kali direpresentasikan dengan lingkaran atau kotak.
Arketipal Diri adalah tujuan proses individuasi dan rumah atau bangunan dapat merepresentasikan struktur arketipal Diri. Arketipal ini juga dapat digambarkan sebagai proses ketika seseorang berjuang mencari diri yang sebenarnya atau proses individualitas.
4 Pembahasan
Penelitian mengenai arketipal bukanlah hal yang baru. Banyak penelitian lain yang menggunakan ataupun menjabarkan arketipal sebagai objek teliti. Namun, tidak banyak dari penelitian tersebut yang mengambil karya seni sebagai objek utama dalam penelitian. Pada pembahasan ini terdapat karya yang akan dibahas dengan bantuan karya pendukung, yaitu karya The Last Layer. Dikarenakan karya tersebut memiliki keterkaitan tema serta narasi dengan karya sebelumnya, proses pembahasan harus disertai pembahasan sebelumnya.
4.1 Analisis Karya Sekutu II (2002)
Karya Sekutu II diciptakan pada tahun 2002 dalam mix media on canvas. Objek yang diambil berbentuk abstraksi figur manusia dengan warna dominan putih pada bagian dasar kanvas, warna hitam untuk penggambaran abstraksi objek dan warna coklat yang memberikan penekanan impresi bentuk pada beberapa bagian karya. Komposisi dari karya ini adalah non-simetris. Penempatan objek figur berada di bagian tengah kanvas dengan penekanan detail pada bagian atas, sedangkan bagian tengah dan bawah lebih bersifat impresi. Diperkirakan figur manusia ini berkelamin perempuan dan digambarkan sedang menunduk, seperti sedang merangkul suatu benda berbentuk segi empat yang pada bagian ujungnya terlihat hancur.
Karya Sekutu II memiliki pewarnaan yang halus serta garis yang lembut. Bentuk abstraksi objek terlihat masif karena terdapat beberapa bagian tubuh dengan warna yang cukup masif seperti warna abu-abu dari hasil arsir halus yang memberikan volume pada objek abstraksi.
Bila disederhanakan seperti yang terlihat pada Gambar 5, maka objek abstraksi dari figur manusia akan membentuk gabungan bentuk lingkaran pada bagian wajah, beberapa bangun lengkung pada bagian bahu, lengan, dan tubuh, serta bangun persegi pada bagian bentuk abstraksi badan. Meskipun bangun ini terbentuk dari susunan garis abstraksi, tetap terlihat bahwa bangun setengah lingkaran mendominasi sebagian besar dari karya Sekutu II, sedangkan bangun persegi terletak di dalam bangun lengkung, sehingga dirinya terdominasi oleh bangun tersebut. Bangun objek yang memiliki potensi besar untuk dihubungkan pada simbol secara umum adalah bangun objek lingkaran. Meskipun di dalam karya ini terdapat bangun kotak, posisinya yang terdominasi menunjukkan
bahwa bangun yang paling penting adalah bangun lingkaran yang pada karya ini terdiri dari lingkaran utuh dan garis-garis lengkung.
Gambar 5 Penyederhanaan bentuk subject matter [3].
Secara umum, lingkaran merupakan simbol utama yang menggambarkan tanda feminin. Simbol ini juga berhubungan dengan keutuhan dunia dan perlindungan. Pusat dari lingkaran juga dimaknai sebagai representasi kesempurnaan, absolut, dan persatuan. Bentuk ini juga identik dengan pemaknaan dinding rahim. Melalui visual dan tema karya Sekutu II, maka pemaknaan lingkaran secara umum pada karya ini dapat dihubungkan dengan makna keutuhan, kesempurnaan, dan harmoni. Khususnya pada karya ini, representasi bangun lingkaran sebagai rahim dan maknanya sebagai perlindungan sangat terasa. Kemungkinan besar hal ini dikarenakan gestur objek figur yang serupa dengan beberapa gestur yang biasa digambarkan pada pelukisan sosok Ibu. Ditambah lagi lingkaran juga banyak dimaknai sebagai bentuk yang melambangkan feminin atau perempuan.
Bila melihat karya pada Gambar 6, secara keseluruhan wajah sosok Ibu dapat dilihat digambarkan dalam gestur yang mirip dengan lukisan Sekutu II karya Ay Tjoe Christine. Wajah selalu menghadap ke bawah dengan bentuk postur bahu yang melengkung. Meskipun penggambaran seperti ini tidak terlihat di seluruh karya bersubjek Ibu dan anak, namun sebagian besar karya bertema ini memiliki gestur yang serupa, sehingga dapat dikatakan bahwa gestur ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa mothering (keibuan). Peristiwa ini merupakan sebuah peristiwa intim yang menggambarkan kasih sayang, perlindungan, serta cinta yang diberikan oleh seorang Ibu, sehingga penggambaran peristiwa ini akan identik dengan bentukan yang tidak bersudut. Penggambaran jempol yang detail pada kedua karya juga dapat menunjukkan penggambaran Ibu. Hal ini
dikarenakan jari jempol dalam bahasa Indonesia juga kerap kali disebut sebagai ibu jari, sehingga ada kemungkinan jari ini merepresentasikan sosok Ibu.
Gambar 6 Madonna Litta (1490) karya Leonardo da Vinci (kiri) dan Madonna and Child (1901) Picasso (kanan) dengan objek sosok Ibu [3].
Karya Sekutu II memperlihatkan kecenderungan perlindungan ini dengan bentuk-bentuk yang tidak bersudut dan gestur lembut, sehingga bila dihubungkan dengan arketipal, sosok dalam karya Sekutu II mengacu pada arketipal bangun lingkaran, arketipal Diri (Self) yang terbentuk dari mandala (persatuan bangun lingkaran dan kotak), dan arketipal Ibu melalui aktivitas mothering (keibuan) yang dibentuk elemen rupa, susunan komposisi, dan pemaknaan simbol setiap elemen. Arketipal Ibu secara primordial memang menggambarkan sifat penyayang, pelindung dan kesuburan. Sifat-sifat yang digambarkan pada pemaknaan ini sama dengan sifat-sifat yang terdapat pada judul karya Sekutu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [17], sekutu didefinisikan sebagai "peserta pada suatu perusahaan dan sebagainya, rekanan atau kawan (yang ikut berserikat), serta serikat, gabungan, dan federasi". Makna judul ini bersifat positif dan seluruhnya berkaitan dengan pemaknaan simbol secara umum maupun arketipal yang terdapat pada karya.
4.2 Analisis Karva Landscape in My Head (2009)
Karya yang berjudul Landscape in My Head diciptakan pada tahun 2009 dengan medium akrilik di atas kanvas berukuran 180 cm x 260 cm. Subjek utama yang terdapat pada karya ini adalah abstraksi figur manusia dan pemandangan. Karya Landscape in My Head memiliki komposisi non-simetris dengan objek yang diletakkan di bagian tengah karya. Berbeda dengan karya yang dibahas sebelumnya, latar belakang karya Landscape in My Head diwarnai dengan rapi oleh abu-abu. Pewarnaan ini memberikan kesan latar yang datar (flat). Sosok figur ditampilkan membungkuk dengan kepala menengadah ke depan dan kedua lengan lurus menghadap ke belakang (seperti dikekang). Wajah figur digambarkan tidak tersenyum dengan pemandangan di kepalanya. Kemungkinan besar pemandangan tersebut juga berperan sebagai rambut dari figur. Warna yang digunakan dalam objek ada 5 (lima), yaitu hitam (dan abu), putih, kuning, merah, serta biru.
Gambar 7 Penyederhanaan karya Landscape in My Head [3].
Secara keseluruhan, melalui penggambaran visual karya, dapat diketahui bahwa bagian pemandangan pada karya digambarkan keluar dari dalam kepala seniman. Hal ini juga ditekankan melalui judul karya yang dalam bahasa Indonesia dapat secara harfiah diartikan sebagai Pemandangan di dalam Kepalaku. Melalui judul juga dapat diketahui bahwa figur yang digambarkan berjenis kelamin perempuan dan merupakan tubuh seniman.
Pada bagian lengan dalam penyederhanaan bentuk karya di Gambar 7, terlihat bangun kotak lengan atas dengan lengan bawah terbagi menjadi susunan tiga kotak yang tidak menyambung dengan rapi. Hal yang sama juga terlihat pada bagian garis-garis menyerupai penggambaran bangun paha yang tidak tepat berada pada penghujung bangun torso bagian pinggul, sehingga kotak yang dibentuk badan dengan bagian bangun garis tidak tepat bertemu, sehingga terlihat adanya ketidakharmonisan bentuk. Disharmonisasi yang terbentuk dari patahan bangun kotak dan beberapa abstraksi khususnya pada bagian lengan yang menggambarkan warna sama dengan warna pemandangan pada bagian kepala menandakan adanya intensi pemandangan untuk 'keluar' dari tubuh seniman. Pada karya Landscape in My Head, tubuh seniman digambarkan terkoyak, patah, dan tercabik oleh pemandangan. Kondisi tubuh ini dapat mengilustrasikan perasaan dan keinginan seniman terhadap tubuh atau penampang jiwa dirinya. Keinginan ini tergambar juga dalam salah satu wawancara dengan Ay Tjoe Christine yang dilakukan Rustika Herlambang [18].
"Saya tak suka. Kulit ini, saya mati-matian ingin mengusir. Atau sebaliknya, saya ingin keluar dari kulit ini... Saya sangat marah. Mungkin ini yang membuat saya sekarang sangat tidak suka batas. Saya hampir terobsesi menembus semua "kotak", batas, fisik sebagai batas kebebasan hidup, dan semua aturan yang diakui orang banyak..." (Ay Tjoe Christine).
Bila kondisi ini direfleksikan pada simbol landscape berdasarkan lukisan Cina, maka landscape diartikan sebagai tubuh, sedangkan figur adalah jiwa yang ditampung pemandangan. Kondisi pelukisan karya Ay Tjoe Christine menggambarkan landscape dan tubuh dalam kondisi tumpang tindih, sehingga landscape di dalam tubuh terlihat mengoyak tubuh. Hal ini dapat diinterpretasi sebagai tubuh yang berada di dalam jiwa (kebalikan dari lukisan cina yang meletakkan jiwa di dalam tubuh). Kondisi ini menggambarkan kondisi transenden di dalam imanen, makrokosmos di dalam mikrokosmos, atau kondisi keluarnya tubuh 'asli' dari tubuh fisik. Pandangan ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan landscape pada bagian kepala seniman. Kepala dapat dimaknai sebagai mikrokosmos dan zaman dahulu dianggap sebagai penampang jiwa. Posisi landscape di dalam kepala seniman yang seperti ingin 'keluar', secara keseluruhan dapat dimaknai sebagai usaha seniman dalam membebaskan diri dari batasan. Visual ini juga menggambarkan ketidaksukaan seniman pada batasan dan tubuh. Ketika direfleksikan pada arketipal, maka karya ini memunculkan arketipal Diri melalui kondisi tubuh yang ada di dalam karya. Arketipal Diri adalah tujuan akhir proses individuasi dan merupakan usaha pencarian diri sebenarnya (proses individualitas), serta arketipal juga menggambarkan keutuhan pribadi seseorang.
Gambar 8 Karya (a) 'Mengangkat Pemandangan' dan (b) 'Diangkat Pemandangan' [3].
Pada dasarnya proses individuasi seseorang atau arketipal Diri dapat digambarkan melalui objek bangunan. Melalui premis ini, maka tubuh sebagai penampang jiwa merupakan 'bangunan' dari diri seseorang, sehingga tubuh yang dilukiskan pada karya merupakan refleksi dari arketipal Diri seniman. Perkembangan pemikiran seniman yang tercermin dalam karya berarti akan direfleksikan juga pada visual arketipal Diri. Hal ini terlihat dari perkembangan tema landscape selanjutnya, yaitu pada karya 'Mengangkat Pemandangan' dan karya 'Diangkat Pemandangan' (Gambar 8) [3].
4.3 Analisis Karya The Last Layer (2012)
Karya The Last Layer merupakan karya yang diciptakan pada tahun 2012 dengan menggunakan media oil on canvas dan proyeksi video animasi. Objek yang tergambarkan dalam karya berbentuk abstrak sapuan cat dan bentuk distorsi lingkaran. Warna yang dominan pada lukisan The Last Layer adalah nuansa merah dengan sapuan cat ekspresif serta bentukan distorsi lingkaran yang sama dengan tampilan video animasi.
Gambar 9 Penyederhanaan karya The Last Layer [3].
Komposisi penyusunan karya The Last Layer menampilkan komposisi terpusat dengan lukisan berada pada bagian tengah ruangan dan proyeksi video animasi yang tepat disorotkan pada bagian tengah lukisan, sehingga bila disederhanakan, maka karya ini dapat menggambarkan komposisi mandala dengan lingkaran berada di dalam kotak. Susunan bangun lingkaran dan kotak pada karya ini memiliki komposisi yang cukup seimbang dengan bagian kotak lukisan dengan lingkaran yang terbentuk dari proyeksi video animasi, serta bagian kotak ruangan dan distorsi lingkaran proyeksi video animasi. Bila ditelaah melalui judul karya, maka dapat diketahui bahwa karya ini menggambarkan lapisan terakhir (The Last Layer), sehingga interpretasi kekaryaan ini tidak dapat terlepas dari perkembangan karya sebelumnya.
Berdasarkan perkembangan karya, tema layer memiliki kaitan langsung dengan tema landscape. Pada saat menggambarkan tema landscape tubuh digambarkan utuh dan berada pada karya sebagai objek yang diangkat. Karya ini berkembang pada saat masuk ke dalam tema gabungan antara layer dan landscape pada karva ... Today I Kill The First Layer, and I Find Other Layers Living as Landscape, Landscape, Landscape.... Karya ini menggambarkan tubuh keseluruhan sebagai objek non-figur yang didalamnya memiliki lapisan landscape. Berbeda dengan objek pada tema landscape yang menggambarkan tubuh yang terpisah dari landscape. Meskipun pada karya Landscape in My Head tubuh dan objek landscape dibuat bersatu, kedua objek tersebut dikomposisikan pada susunan yang membuat keduanya tidak koheren, tidak harmonis, dan merupakan dua objek terpisah. Tidak seperti karya bertema gabungan yang menggambarkan landscape sebagai bagian dari tubuh yang tidak terpisah. Pada perkembangan tema layer, maka kemungkinan besar setiap karyanya menggambarkan susunan landscape sebagai lapisan tubuh, sehingga tiap karya merepresentasikan tiap lapisan pada tubuh seniman.
Gambar 10 Perjalanan karya bertema layer [3].
Bila ditelaah lebih jauh melalui penyederhanaan bentuk (Gambar 10), terlihat adanya perkembangan berupa pergerakan masuk 'ke dalam' lapisan yang lebih dalam. Pada mulanya, kekaryaan awal pada tema layer yang berjudul Left Layer and Right Layer pada tahun 2010 digambarkan dalam bentuk statis dengan rongga di bagian kanan yang dapat dianggap sebagai poin masuk ke dalam lapisan berikutnya. Pergerakan baru mulai terlihat pada karya selanjutnya, yaitu Layers for The Circles pada tahun 2011 yang digambarkan dengan bentukan lingkaran yang keluar bingkai lukis dan bangun kotak yang berbentuk diagonal. Pada karya ketiga yang berjudul Layers with More Circles, pergerakan ini juga semakin ditekankan melalui bangun kotak berbentuk jajar genjang yang seperti didesak bangun lingkaran untuk keluar dari bingkai kanyas. Pergerakan ini
akhirnya berhenti pada karya terakhir yang menampilkan posisi mandala yang seimbang. Bila langsung direfleksikan pada arketipal, mandala yang terbentuk pada karya Ay Tjoe Christine dapat langsung dihubungkan pada arketipal Diri. Namun, sebelum pada akhirnya memasuki wilayah arketipal, ada baiknya informasi ini kembali diproses melalui pembahasan simbol secara umum.
Bila karya bertema layer diartikan sebagai perjalanan dari permukaan hingga menuju inti tubuh, maka perkembangan karya ini menggambarkan usaha seniman untuk mengupas kulit hingga bagian terdalam tubuh. Karya The Last Layer, yang dalam bahasa Indonesia berarti lapisan terakhir, dapat diartikan sebagai pusat tubuh atau bagian terdalam dari tubuh, sehingga dalam representasi simbol secara umum karya ini mengandung simbol jantung yang dapat dimaknai sebagai pusat semesta dalam simbol oriental. Jika layer dihubungkan dengan landscape, maka karya ini juga dapat diinterpretasikan sebagai pencarian tatanan kosmis di dalam tubuh, sehinga tubuh tidak lagi digambarkan mengurung landscape seperti pada tema landscape, tetapi tubuh itu sendiri adalah landscape.
Bila interpretasi melalui unsur formal digabung dengan interpretasi melalui pemahaman simbol secara umum, maka karya pada titik ini sudah menjadi arketipal Diri (Self) seniman. Hal ini dikarenakan, karya telah menjadi sebuah 'bangunan nyata' milik seniman yang didalamnya terkandung proses individualisasi seniman. Karya sebagai cerminan dari seniman yang membuatnya, menempatkan karya sebagai salah satu cara seniman untuk mencapai kesempurnaan atau menemukan dirinya. Karya juga kerap kali menjadi katarsis seniman ataupun digunakan sebagai pelepasan, sehingga sebuah karya diciptakan sebagai upaya seniman untuk mencapai suatu hasrat (desire) atau mendamaikan hal yang ada di dalam diri seniman agar dia dapat menerima bagian dari diri tersebut.
Hal menarik yang dapat dilihat pada pemaknaan karya sebagai arketipal Diri adalah kenyataan bahwa sebagai 'bangunan nyata' seniman, karya pada titik ini juga merefleksikan susunan psikologis seniman, sehingga di dalam karya terdapat arketipal Diri lainnya yang mengutuhkan karya tersebut. Komponen arketipal Diri di dalam karya merupakan salah satu komponen terpenting yang digunakan dalam interpretasi karya karena dianggap sebagai hal terdalam yang diinginkan atau dibutuhkan oleh seniman, sehingga di satu sisi karya telah menjadi arketipal Diri seniman, namun di sisi lain di dalam karya masih terdapat pembagian arketipal yang menempatkan arketipal Diri di dalamnya. Bila karya dinyatakan sebagai 'tubuh' seniman, maka arketipal inti dari Jung (Self, Persona, Anima/Animus, dan Shadow) tersimpan dan direpresentasikan secara visual dalam karya tersebut. Melalui konsepsi ini maka karya dianggap sebagai bangunan tubuh seniman, yang didalamnya terdapat susunan lapisan
arketipal inti Jung, sehingga bila secara langsung diinterpretasikan pada karya The Last Layer, maka akan tercipta susunan seperti berikut:
1. Persona,
Persona pada karya The Last Layer dapat direpresentasikan pada bagian terluar karya, yaitu pada bagian unsur kotak ruangan tempat karya diletakkan. Ruangan gelap yang terisolasi dan dipartisi oleh tirai sebagai sebuah bangun dirinya yang membatasi wilayah ruang pamer utama dan ruang karya The Last Layer, sehingga dapat dikatakan ruang ini adalah sisi luar pertama yang akan dilihat oleh pengamat, sebelum pada akhirnya 'mengenal' bagian dalamnya. Ruang pamer dianggap tubuh luar dari karya.
2. Animus/Anima,
Animus dapat berada di lapisan kedua setelah persona maupun pada lapisan Shadow karena sifatnya yang cair dan dinamis. Pada karya The Last Layer, unsur maskulin dapat ditemukan pada pemilihan ruang yang kotak serta sapuan kuas dan garis yang ekspresif. Unsur ekspresif ini menimbulkan kesan tegas, khususnya pada warna-warna yang opak hitam dan merah. Selain itu pemilihan warna yang kuat juga dapat menginterpretasikan sifat maskulin. Anima dapat ditemukan pada distorsi bentuk lingkaran dan pergerakan lingkaran dalam proyeksi yang dinamis. Sisi feminin juga tercipta dari nuansa yang dibangun oleh karya.
3. Shadow,
Arketipal ini menjembatani wilayah persona dan Diri (Self). Pada karya ini, unsur Shadow dapat ditemukan pada kepingan distorsi lingkaran yang digambarkan oleh proyeksi video maupun unsur lingkaran dalam lukisan. Dikarenakan proyeksi tersebut menutupi hampir keseluruhan ruangan dengan fokus utama lukisan, pada satu sisi unsur ini dapat menjadi persona kedua dari karya atau bagian Shadow dalam fungsinya sebagai penjembatan antara persona dan Diri (Self). Shadow dalam artian bayangan dapat juga disituasikan pada suasana gelap ruangan.
4. Diri (Self),
Arketipal ini merupakan arketipal inti terdalam yang merupakan esensi dari seniman atau karya. Biasanya arketipal ini diletakkan di bagian terdalam dari karya, sehingga dalam karya The Last Layer, arketipal ini dapat ditemukan pada lukisan yang tergantung di dinding ataupun pada unsur sapuan cat (merah, kuning, dan lainnya) yang berada di balik unsur distorsi lingkaran.
Bila diinterpretasikan secara keseluruhan, karya The Last Layer menggambarkan substansi yang dicari oleh seniman dalam usahanya menemukan yang transenden dan bagaimana seniman menemukan hal tersebut melalui pencarian dari tubuh atau dirinya sendiri, bukan dari dorongan luar.
Pada wawancara dengan Ay Tjoe Christine [18] yang menceritakan simbolisasi dari bentuk lingkaran yang dirinya visualkan pada karya:
"Hampir selalu saya berbicara dalam karya melalui simbol... misalnya dari karya seri Layer, saya memakai bentuk lingkaran... sebagai lapisan terluar, dengan maksud menyampaikan ide sebuah bentuk yang tidak bersudut untuk bisa dipakai bergerak dengan cepat diantara kepadatan, sebagai sikap manusia yang tidak menyakiti atau menjadi fleksibel dengan apa saja yang ada di sekelilingnya... lingkaran sebagai bentuk yang damai, dan menjadi penting untuk bicara kondisi saat ini..."
(Ay Tjoe Christine).
Hasil wawancara ini menggambarkan keinginan seniman untuk menemukan kedamaian dan kelugasan dalam merespon lingkungan sekitarnya. Keinginan ini dituangkan dalam karya, sehingga wujud dari karya seri layer merupakan keinginan terdalam dari seniman, yang terpenuhi melalui penciptaan karya. Terlihat dari penyederhanaan bentuk yang menampilkan bentuk mandala yang identik dengan pemaknaan harmonis dan kesempurnaan. Transenden dalam hal ini berarti dapat disamakan dengan usaha seniman dalam menemukan kedamaian. Tidak selamanya yang transenden selalu dihubungkan pada hal religius ataupun spiritual. Setiap tujuan akhir atau keinginan terdalam seseorang (selama bukan dalam hal duniawi) merupakan perwujudan dari transenden dirinya. Akan tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan dihubungkannya kesimpulan ini dengan konten religius.
Benz dalam Sabana [19] mengenai sub-bab Spiritualitas Kristiani, disebutkan bahwa manusia menjadi gambaran Allah, "Allah yang transenden serentak imanen. Ia tinggal dengan ciptaan-Nya". Dengan demikian ia mengangkat manusia ke taraf yang lebih tinggi di mana "Allah dikenal dalam gambarannya. Allah juga menyatakan diri-Nya dalam manusia". Allah mengangkat manusia dalam membangun dunia menjadi rekan-Nya. Bila melihat kutipan ini, pencarian yang transenden melalui pencerminan terhadap tubuhnya sendiri ataupun interpretasi tentang mengupas kulit luar hingga masuk ke bagian terdalam tubuh dapat dibuktikan dalam ajaran Kristiani, bahwa sesungguhnya Tuhan digambarkan melalui manusia dan diri-Nya berada di dalam manusia.
5 Kesimpulan
Bila direfleksikan pada teori arketipal Jung, maka pada kekaryaan Ay Tjoe Christine, peneliti mendapatkan 3 temuan fase kemunculan arketipal Diri yang berkembang seiring dengan perkembangan kekaryaan, yaitu:
- 1. Kemunculan arketipal Diri secara langsung dalam karya melalui pengolahan representasi langsung objek ataupun karakterisasi arketipal.
- 2. Kemunculan visual arketipal Diri pada objek tubuh ataupun benda yang dilukiskan dalam karya, sehingga objek dalam karya sama dengan representasi tubuh seniman.
- 3. Kemunculan arketipal Diri sebagai karya dari seniman, sehingga karya keseluruhan dianggap sebagai tubuh seniman yang memiliki lapisan inti arketipal di dalamnya.
Melalui penjelasan ini maka dapat dikatakan bahwa arketipal Diri dapat dimunculkan dalam wujud visual dan tema yang berbeda-beda. Pada karya Sekutu II dapat dilihat bahwa arketipal muncul secara langsung dengan bentuk pengolahan familiar, sehingga dapat ditemukan pengolahan serupa pada karya seniman lain. Visual yang ditampilkan pada tahap ini juga memiliki karakterisasi yang serupa dengan arketipal dalam teori Jung. Hal ini berbeda dengan analisis karya Landscape in My Head yang memunculkan arketipal Diri sebagai refleksi pada tubuh ataupun objek dalam karya, sehingga simbol arketipal yang ditampilkan mulai bercampur dengan unsur personal dari seniman. Arketipal Diri pada karya rupa kedua tidak menunjukkan format yang serupa dengan seniman lain. Setiap seniman memiliki kecenderungan tertentu dalam berkarya. Tubuh atau objek yang menampung arketipal akan menyesuaikan dengan teknik serta idiolek seniman yang membuatnya, sehingga sudah tidak ada lagi karakterisasi yang dapat menyamakan kemunculan arketipal setiap seniman. Analisis karya The Last Layer telah memunculkan arketipal inti yang dapat direfleksikan pada karya secara keseluruhan, sehingga karya menjadi 'diri' lain dan bagian dari seniman. Pada tahap ini karya merupakan tubuh arketipal Diri seniman, sehingga arketipal Diri tidak hanya tercermin pada objek dalam karya.
Arketipal sebagai simbol hanya merupakan tema universal yang secara luas merangkum konsepsi suatu symbol. Namun dikarenakan arketipal tidak membatasi bentuk visual dari suatu simbol, maka seorang seniman dapat tetap menciptakan bentuk visual simbol yang sepenuhnya baru (atau personal). Arketipal yang hadir dalam karya memiliki kaitan atau hubungan yang intim dengan faktor personal seniman. Kemunculan arketipal selalu berjalan paralel dengan kekaryaan serta kondisi seniman dalam menyingkapi keinginan, harapan, serta makna keutuhan bagi diri mereka. Bila dipetakan pada karya yang dianalisis dapat dilihat bahwa bentuk visual dan makna arketipal selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan yang terjadi pada hasrat ataupun kebutuhan seniman terhadap suatu hal.
Pada tahun 2002, seniman menggambarkan kebutuhan, keutuhan, ataupun situasi yang dihadapinya terhadap perlindungan yang diberikan oleh sosok Ibu, aktivitas mothering, ataupun segala hal yang menyangkut peran Ibu. Sedangkan pada tahun 2009, arketipal Diri lebih menekankan pada keinginan seniman untuk keluar dari batasan fisik yang dianggapnya sangat mengganggu dan menghalangi jalan mencapai kesempurnaan. Perkembangan karya terakhir pada tahun 2012 menggambarkan kondisi arketipal Diri seniman yang akhirnya menemukan titik keseimbangan, keutuhan atau kesempurnaan. Hal ini dapat dilihat juga melalui perkembangan berikutnya yang lebih bersifat spiritual dengan karya Layers of Transendence.
Pustaka
- [1] Danesi, M., Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, Jalasutra, Yogyakarta, pp. 91-92, 2010.
- [2] Gauding, M., The Signs and Symbols Bible, Octopus Publishing Group Ltd., London, pp.8-14, 2009.
- [3] Zainsjah, A.B., Kajian Simbol Arketipal pada Karya Rupa Ay Tjoe Christine, Program Magister Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2016.
- [4] OTA Fine Arts Tokyo, Ay Tjoe Christine Biography, http://www. otafinearts.com/en/artists/ay-tjoe-christine/?p=biography (13 Mei 2016).
- [5] Feldman, E.B., Art as Image and Idea, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, 1967.
- [6] Jung, C.G., Man and His Symbols, N.V. Drukkerij Senefelder, Amsterdam, pp.67-69, 1964
- [7] Cambridge, Cambridge Advance Learner's Dictionary, Third Edition, Cambridge University Press, Singapore, 2008.
- [8] Walker, B.G., The Woman's Dictionary of Symbols and Sacred Objects, Harper Collins Publishers, New York, 1988.
- [9] Cirlot, J.E., A Dictionary of Symbols, Taylor & Francis e-Library, Routledge, 2001.
- [10] O'Connell, M. & Airey, R., The Illustrated Sourcebook of Signs & Symbols, Lorenz Books, Leicestershire, 2013.
- [11] ARAS, The Book of Symbols: Reflections on Archetypal Images, Taschen, Germany, 2010.
- [12] Williams, C.A.S., Chinese Symbolism and Art Motifs: A Comprehensive Handbook on Symbolism in Chinese Art Through the Ages, Tuttle Publishing, Singapore, 2006.
- [13] Colin, D., Dictionary of Symbols, Myths, and Legends, Hachette Illustrated U.K, London, 2000.
- [14] Mitchell, G., Carl Jung & Jungian Analytical Psychology, http://minddevelopment.eu/jung.html (7 Desember 2015)
- [15] Supratiknya, A., Teori–Teori Psikodinamik (Klinik), PT Kanisius Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, pp.182-192, 1993.
- [16] Sumardjo, J., Estetika Paradoks, Sunan Ambu Press, Bandung, 2010.
- [17] Kamus Bahasa Besar Indonesia, Sekutu, http://kbbi.web.id/sekutu (13 Mei 2016).
- [18] Herlambang, R., Cinta Merah Ay Tjoe Christine, http://rustikaherlambang .com/2008/08/30/christine-ay-tjoe/ (7 Desember 2015).
- [19] OTA Fine Arts Tokyo, Ay Tjoe Christine Biography, http://www. otafinearts.com/en/artists/ay-tjoe-christine/?p=biography (13 Mei 2016).
- [20] Sabana, S., Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, Disertasi Program Doktor, Institut Teknologi Bandung, 2002.
