PENDAHULUAN
Pengembangan tanaman kelapa sawit saat ini telah banyak dilakukan pada lahan-lahan marginal, dengan tingkat
kesuburan tanah yang relatif rendah. Hal tersebut juga berdampak pada kegiatan pembibitan kelapa sawit. Keterbatasan medium tanam (tanah) untuk pembibitan kelapa sawit dengan tingkat kesuburan yang baik saat ini telah menjadi masalah yang cukup serius, khususnya kesuburan kimia tanahnya.
Penggunaan tanah-tanah masam dan berpasir untuk pembibitan saat ini menimbulkan permasalahan rendahnya tingkat pertumbuhan bibit, sehingga meniadi tidak lavak untuk ditanam di lapangan karena pertumbuhannya yang tidak standar. Tanah yang memiliki sifat masam dan tekstur berpasir pada daerah pengembangan perkebunan kelapa sawit antara lain Typic Paleudults, Typic Udipsamments, dan Typic Hapludults. Tanah tersebut diketahui memiliki kesuburan kimia seperti kapasitas tukar kation yang rendah dan kandungan liat yang rendah, sehingga ketersediaan hara menjadi kurang (1). Aplikasi bahan pembenah tanah telah banyak dilaporkan dapat memperbaiki beberapa sifat kimia tanah sehingga diharapkan meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit
TINJAUAN PUSTAKA
Berbagai bahan pembenah tanah yang berupa hasil tambang telah banyak ditemukan di Indonesia, antara lain zeolit. Zeolit adalah salah satu bahan tambang yang tergolong senyawa alumino-silikatformula terhidrasi dengan \(M_{2/n}O.Al_2O_3.x(SiO_2).yH_2O\) (2,9). Sifat dan ciri zeolit terpenting di antaranya 1) penyusun utamanya terdiri atas kation alkali dan alkali tanah, 2) berstruktur tiga dimensi dan berpori dengan ukuran pori 2A->12A (A=Angstrom) sehingga terisi molekul air dengan volume 20-30% dari volume kristal zeolit: mudah menahan air dan melepaskannya pada proses timbal balik adsorpsi dan dehidrasi. 3) memiliki muatan listrik negatif baik di permukaan maupun dalam porinya dan umumnya memiliki nilai KTK berkisar 115-150 me/100g (bahkan dilaporkan dapat mencapai 545 me/100g), sehingga dapat berperan sebagai penukar kation (khusus kation vang berdiameter lebih kecil dari diameter zeolit). pori
pengadsorpsi dan sebagai katalis, 4) luas permukaannya 900 m²/g (2,6,8). Oleh karena beberapa sifat tersebut, maka zeolit dapat digunakan untuk memperbaiki kesuburan aktual tanah dan bahan pembenah tanah (soil conditioner) (2).
Zeolit yang diberikan ke dalam tanah diharapkan dapat meningkatkan muatan negatif tanah dan memperbaiki kesuburan tanah aktual sehingga tanah memiliki kemampuan yang maksimal dalam 1) menyimpan unsur hara dan melepaskannya kepada tanaman, 2) menyimpan air dan menyediakannya untuk kebutuhan tanaman, 3) mengurangi kehilangan unsur hara yang diberikan melalui pemupukan (5,9).
BAHAN DAN METODE
Lokasi penelitian di Kebun Percobaan Aek Pancur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Sumatera Utara, Bahan tanaman adalah benih kelapa sawit DxP. Tanah untuk media pertumbuhan bibit diambil dari tanah Typic Paleudults, Udipsamments, dan Typic Hapludults, berturut-turut dari kebun Sawit Langkat PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV), kebun Adolina PTPN IV. dan Kebun Percobaan Aek Pancur. Sifat kimia tanah dari ketiga ienis tanah tersebut disaiikan pada Tabel 1. sedangkan sifat kimia zeolit disaiikan pada Tabel 4. Rancangan percobaan digunakan vana adalah rancangan acak lengkap. dengan perlakuan 4 taraf dosis aplikasi zeolit yaitu: 0, 50, 100, 150 g Zeolit/polibag. Setiap perlakuan diulang 3 kali dan setiap terdiri dari 6 tanaman ulangan pengamatan.
Pupuk yang diberikan adalah pupuk standar pembibitan yaitu NPKMg 15-15-6-4, 12-12-17-2 dan kiserit dengan dosis sesuai dengan standar pemupukan di pembibitan (Tabel 2). Parameter yang diamati meliputi: 1) Tanah: pH tanah, KTK tanah, P-tersedia, K-dd, Mg-dd, Ca-dd; 2) Tanaman: tinggi bibit, diameter batang, berat kering tanaman, dan serapan hara
(N, P, K, Mg,Ca dan B).
Tabel 1. Sifat kimia tiga macam tanah sebelum perlakuan pada penelitian pengujian zeolit di pembibitan kelapa sawit
| Jenis | pH | C | N | P | K-dd | Na | Ca | Mg | KTK |
| Tanah | (H2O) | (%) | (%) | tersedia | dd | dd | dd | ||
| (ppm) | (me/100 g tanah) | ||||||||
| Typic Paleudults | 4.7 | 0.47 | 0.05 | 5 | 0.07 | 0.04 | 0.10 | 0.05 | 9.04 |
| Typic | 6.1 | 0.28 | tr | tr | 0.22 | 0.02 | 2.56 | 0.48 | 3.95 |
| Udipsamments | |||||||||
| Typic Hapludults | 5.2 | 0.39 | 0.09 | 4 | 1.78 | 0.20 | 2.61 | 0.62 | 17.38 |
Tabel 2. Dosis dan waktu pemberian pupuk standar di pembibitan utama kelapa sawit
| Dosis pupuk (g/bibit) | |||
|---|---|---|---|
| Umur bibit (minggu) | Pupuk majemuk | Pupuk majemuk | Kiserit |
| 15-15-6-4 | 12-12-17-2 | ||
| 2 | 2.5 | - | - |
| 3 | 2.5 | - | - |
| 4 | 5.0 | - | - |
| 5 | 5.0 | - | - |
| 6 | 7.5 | - | - |
| 8 | 7.5 | - | - |
| 10 | 10.0 | - | - |
| 12 | 10.0 | - | - |
| 14 | - | 10.0 | - |
| 16 | - | 10.0 | 5.0 |
| 18 | - | 10.0 | - |
| 20 | - | 10.0 | 5.0 |
| 22 | - | 15.0 | - |
| 24 | - | 15.0 | 7.5 |
| 26 | - | 15.0 | - |
| 28 | - | 15.0 | 7.5 |
| 30 | - | 20.0 | - |
| 32 | - | 20.0 | 10.0 |
| 34 | - | 20.0 | - |
| 36 | - | 20.0 | 10.0 |
| 38 | - | 25.0 | - |
| 40 | - | 25.0 | 10.0 |
| Jumlah | 50.0 | 230.0 | 55.0 |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Kimia Tanah
Secara umum hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah Typic Hapludult lebih tinggi dibandingkan tanah Typic Paleudults dan Typic Udipsamments (Tabel 1). Tanah Typic Paleudults memiliki tingkat kesuburan yang paling rendahHasil analisis tanah setelah perlakuan menunjukkan bahwa tingkat kemasaman tanah umumnya tergolong agak masam pada tanah Typic
Paleudults dan Typic Hapludults, sedangkan pada tanah Typic Udipsamments tergolong netral. Ketersediaan kation-kation tertukar seperti K, Ca, Na, dan Mg pada ketiga jenis tanah tersebut dengan adanya penambahan zeolit meningkat, begitu juga dengan kapasitas tukar kation (KTK) tanah (Tabel 3). Peningkatan KTK tanah tersebut berasal dari KTK zeolit yang tinggi yaitu sebesar 186,52 me/100 g yang dapat berpengaruh positif terhadap tanah.
Journal of Indonesian Zeolites
Tabel 3. Hasil analisis tanah setelah perlakuan
| Jenis Tanah/ | Dosis zeolit | pH | N | P | K | Na | Ca | Mg | K.T.K | Al-dd |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Medium | (g/polibag) | (H2O) | (%) | (ppm) | me/100 g | |||||
| T. Paleudults | 0 | 5.30 | 2.20 | 6.97 | 1.04 | 0.04 | 1.14 | 5.89 | 13.84 | 0.15 |
| 50 | 4.55 | 2.20 | 4.55 | 1.60 | 0.09 | 1.66 | 3.33 | 15.71 | 1.05 | |
| 100 | 4.42 | 2.04 | 4.59 | 2.00 | 0.07 | 1.80 | 4.82 | 15.84 | 1.26 | |
| 150 | 4.54 | 2.06 | 4.55 | 5.00 | 0.08 | 2.33 | 4.86 | 17.23 | 1.36 | |
| T. Udipsamments | 0 | 6.81 | 1.56 | 5.61 | 0.27 | 0.03 | 0.79 | 4.18 | 4.94 | 0.02 |
| 50 | 6.30 | 2.84 | 5.41 | 1.78 | 0.01 | 1.28 | 3.82 | 6.26 | 0.00 | |
| 100 | 6.32 | 1.94 | 3.40 | 2.45 | 0.04 | 1.26 | 4.70 | 7.00 | 0.04 | |
| 150 | 5.48 | 1.94 | 3.76 | 2.56 | 0.05 | 1.20 | 3.20 | 7.99 | 0.04 | |
| T. Hapludults | 0 | 5.98 | 1.96 | 8.99 | 3.49 | 0.04 | 2.79 | 9.78 | 23.38 | 0.05 |
| 50 | 5.88 | 1.86 | 9.51 | 6.07 | 0.12 | 3.40 | 11.71 | 27.30 | 0.00 | |
| 100 | 5.29 | 1.86 | 9.08 | 8.45 | 0.11 | 3.51 | 9.09 | 34.94 | 0.14 | |
| 150 | 5.25 | 1.84 | 8.59 | 9.86 | 0.18 | 3.16 | 7.53 | 38.60 | 0.18 |
Peningkatan KTK tanah dengan adanya pemberian zeolit dikarenakan zeolit memiliki struktur berpori yang dapat diisi oleh molekul air, menyebabkan zeolit mampu menyerap air secara reversible, menyaring molekul dan sebagai penukar ion. Peningakatan kation-kation tertukar dan KTK tanah sejalan dengan peningkatan dosis aplikasi zeolit. Hasil analisis tanah setelah perlakuan juga menunjukkan bahwa pemberian zeolit menaikan kadar Al dapat ditukar dalam tanah, sehingga menyebabkan tingkat kemasaman tanah meningkat. Hal ini berbeda dengan hasil yang dilaporkan oleh Sutarti dan Rachmawati (1994) bahwa pemberian zeolit akan menurunkan kadar Al-dd tanah karena zeolit mampu
menyerap logam. Disamping itu, penurunan Al-dd tersebut akan meningkatkan pH tanah.
Pertumbuhan Bibit
Aplikasi bahan pembenah tanah zeolit di pembibitan utama umumnya dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit, akan tetapi peningkatan tersebut tidak nyata dibandingkan dengan perlakuan tanpa aplikasi zeolit (Tabel 5). Hal tersebut dapat dilihat pada peubah tinggi bibit yang secara keseluruhan belum menunjukkan perbedaan yang nyata dengan adanya pemberian berbagai dosis zeolit (Gambar 1).
Tabel 4. Sifat kimia zeolit yang digunakan dalam penelitian
| No. | Sifat | Nilai |
|---|---|---|
| 1 | Fe2O3 (%) | 1.90 |
| 2 | Al2O3 (%) | 11.20 |
| 3 | CaO (%) | 0.30 |
| 4 | MgO (%) | 0.60 |
| 5 | K2O (%) | 0.20 |
| 6 | KTK (me/100 g) | 186.52 |
Tabel 5. Pengaruh aplikasi zeolit terhadap tinggi dan diameter batang bibit kelapa sawit
umur 11 bulan di pembibitan utama
| Dosis Zeolit | Tinggi bibit (cm) | Diameter batang (cm) | |||||
| (g/polibag) | TP | TU | TH | TP | TU | TH | |
| 0 | 94.69 | 106.20 | 103.73 | 6.40 | 6.74 | 6.98 | b |
| 50 | 99.60 | 108.88 | 106.37 | 6.46 | 7.04 | 7.28 | a |
| 100 | 102.54 | 109.55 | 102.25 | 6.44 | 6.93 | 7.26 | a |
| 150 | 101.23 | 106.44 | 102.04 | 6.50 | 6.82 | 7.16 | ab |
| L.S.D 5 % | 12.98 | 5.58 | 6.49 | 0.49 | 0.44 | 0.30 | |
| C.V. | 6.53 | 2.59 | 3.13 | 3.81 | 3.22 | 2.09 | |
Keterangan : - angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji LSD 5 %.
- TP = Typic Paleudults, TU = Typic Udipsamments , dan TH = Typic Hapludults
Peningkatan dosis aplikasi zeolit hingga 100 g/polibag cenderung meningkatkan tinggi bibit maupun diameter batang, namun peningkatan hingga 150 g/polibag cenderung menurunkan baik tinggi bibit maupun diameter batang. Hal tersebut diduga disebabkan oleh ketersedian hara dalam tanah yang justru menekan pertumbuhan tanaman. Ketersediaan hara dalam tanah disamping berasal dari pupuk yang ditambahkan juga berasal dari mekanisme peningkatan ketersediaan hara oleh zeolit. Pertumbuhan yang tertekan diduga juga sebagai akibat dari kadar Al-dd yang cukup tinggi dalam tanah.

Gambar 1. Tinggi bibit kelapa sawit umur 11 bulan di pembibitan utama dengan perlakuan aplikasi zeolit
Aplikasi zeolit di pembibitan utama juga meningkatkan bobot kering bibit yang ditanam pada tanah Typic Paleudults, Typic Udipsamments, maupun Typic Hapludults, namun peningkatan tersebut
belum nyata dibandingkan dengan perlakuan tanpa aplikasi zeolit (Tabel 6). Peningkatan dosis aplikasi zeolit hingga 100 g/polibag cenderung meningkatkan bobot kering bibit, namun peningkatan hingga 150 g/polibag cenderung menurunkan baik tinggi bibit maupun diameter batang (Gambar 2). Kecenderungan penurunan bobot kering tersebut senada dengan penurunan yang terjadi terhadap tinggi dan diameter batang bibit di atas.
Bobot kering bibit kelapa sawit yang ditanam pada tanah Typic Hapludults menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding pada kedua jenis tanah lainnya, sedangkan pada tanah Typic Paleudults menunjukkan hasil yang paling rendah (Gambar 2). Hal ini disebabkan oleh tingkat kesuburan tanah Typic Hapludults yang lebih baik dibanding kedua jenis tanah lainnya.

Gambar 2. Bobot kering bibit umur 11 bulan di pembibitan utama dengan perlakuan aplikasi zeolit
Tabel 6. Pengaruh aplikasi zeolit terhadap bobot kering bibit kelapa sawit umur 11 bulan di pembibitan utama
| Bobot kering total bibit (g/bibit) | |||
|---|---|---|---|
| Dosis Zeolit (g/polibag) | TP | TU | TH |
| 0 | 219.36 | 281.58 | 325.11 |
| 50 | 235.87 | 281.80 | 333.95 |
| 100 | 243.10 | 288.78 | 325.20 |
| 150 | 226.58 | 256.65 | 305.86 |
| L.S.D 5 % | 67.7 | 66.2 | 31.6 |
| C.V. | 14.6 | 11.9 | 4.9 |
Keterangan : - TP = Typic Paleudults, TU = Typic Udipsamments , dan TH = Typic Hapludults
Tabel 7. Pengaruh aplikasi zeolit terhadap serapan hara daun (g/bibit) bibit kelapa sawit umur 11 bulan di pembibitan utama
| Tanah | Dosis zeolit (g/polibag) | N | P | K | Mg |
|---|---|---|---|---|---|
| T. Paleudults | 0 | 1.88 | 0.14 | 1.54 | 0.36 |
| 50 | 1.93 | 0.17 | 1.61 | 0.37 | |
| 100 | 1.98 | 0.18 | 1.59 | 0.41 | |
| 150 | 1.,92 | 0.15 | 1.53 | 0.45 | |
| T. Udipsamments | 0 | 2.22 | 0.22 | 1.49 | 0.51 |
| 50 | 2.26 | 0.21 | 1.54 | 0.61 | |
| 100 | 2.24 | 0.21 | 1.61 | 0.54 | |
| 150 | 2.16 | 0.18 | 1.53 | 0,52 | |
| T. Hapludults | 0 | 2.31 | 0.16 | 1.62 | 0.51 |
| 50 | 2.41 | 0.13 | 1.47 | 0.49 | |
| 100 | 2.40 | 0.19 | 1.62 | 0.51 | |
| 150 | 2.13 | 0.17 | 1.56 | 0.41 |
Serapan Hara Daun
Serapan hara daun bibit kelapa sawit cenderung meningkat dengan pemberian zeolit hingga dosis 100 g/polibag dibandingkan perlakuan tanpa aplikasi zeolit, sedangkan peningkatan dosis aplikasi zeolit hingga 150 g/polibag menyebabkan penurunan serapan hara (Tabel 7). Peningkatan serapan bibit ini berkaitan dengan sifat-sifat positif akibat aplikasi zeolit dalam tanah. Aplikasi zeolit dalam tanah akan memberikan nilai positif antara lain: 1) meningkatkan ketersediaan hara untuk tanaman melalui peningkatan KTK tanah, 2) menyimpan air dan menyediakannya untuk kebutuhan
tanaman, 3) mengurangi kehilangan unsur hara yang diberikan melalui pemupukan.
KESIMPULAN
Pemberian zeolit ke dalam tanah umumnya mampu meningkatkan kandungan hara dalam tanah, terutama kapasitas tukar kation tanah. Aplikasi zeolit sebagai bahan pembenah tanah pada pembibitan kelapa sawit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan serapan hara bibit hingga umur 11 bulan. Namun demikian, secara umum aplikasi zeolit hingga dosis 100 g/polibag cenderung dapat meningkatkan pertumbuhan dan serapan hara bibit dibandingkan dengan perlakuan tanpa aplikasi zeolit. Aplikasi hingga dosis 150 g/polibag zeolit cenderung menurunkan petumbuhan bibit dan serapan hara. Pemberian zeolit dengan dosis yang terlalu tinggi (>100 a/bibit) dengan pemupukan sesuai standar bibitan menyebabkan pertumbuhan dan serapan hara bibit terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
- Adiwiganda, R, A. U. Lubis, dan P. Purba. 1994. Karakteristik tanah pada beberapa tingkat famili di areal kelapa sawit di Indonesia. Berita Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2(3): 174 - 188.
- 2. Arifin, M. 1991. Zeolit Alam; potensi, teknologi dan prospeknya di Indonesia. Laporan Ekonomi Bahan Galian N0.72. Proyek Pengembangan Pusat Informasi Mineral, Pusat Pengembangan Teknologi Mineral Bandung, 1990/91; 52 pp.
- Dirjen Perkebunan. Dept. Kehutanan Dan Perkebunan. 1998. Statistik Perkebunan Indonesia.
- Djadjulie, A. dan Bisri, U. 1998. Pemanfaatan batu kapur dan zeolit \nuntuk pertanian. Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Pusat
- Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Jakarta. 15p.
- Ming, D.W. 1988. Applications for special purpose minerals at a lunar base. Symposium on Lunar Bases & Space Activities in The 21<sup>st</sup> Century. April 5-7 1988, Houston, Texas; 22 pp.
- 6. Sinaga, P.P. 1996. Kajian pemberian zeolit dan pupuk fosfor terhadap sifat kimia tanah dan serapan P oleh tanaman jagung (Zea mays) pada tanah Ultisol. Skripsi S1 Fakultas Pertanian UHN, Medan 1996, 29 pp.
- 7. Sutarti, M dan Rachmawati, M. 1994. Zeolit tinjauan literatur. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. 57pp.
- 8. Suyartono & Husaini. 1991. Tinjauan terhadap kegiatan penelitian karakteristik dan pemanfaatan zeolit di Indonesia yang dilakukan Pusat pengembangan Teknologi Mineral pada periode 1980-1991. Bulletin PPTM Vol.13 No.4, Mei 1991; 15 pp.
- Vaughan, D.E.W. 1989. Zeolites and other microporous materials. Zeolites; Facts, figure, future (Ed. P.A. Jacobs & R.A. van Santen). Proceed. Of the 8<sup>th</sup> International Zeolite Conference, Amsterdam, The Netherlands, July 10-14 1989, Elsevier Amsterdam; p 95-115.
