PENDAHULUAN
Zeolit alam umumnya dijumpai dalam batuan tufa. terbentuk dari sedimentasi abu vulkanik yang teralterasi. Karena terbentuk dari proses alami, komposisi dan sifat kimiawi zeolit alam berbeda-beda, tergantung pada lingkungan pembentukannya [1] Sehingga sebelum melakukan modifikasi sifat zeolit, agar diperoleh zeolit dengan kemampuan yang diharapkan, beberapa hal perlu dilakukan. Antara lain preparasi, untuk memperoleh ukuran produk yang sesuai dengan tujuan penggunaan, melalui peremukan (crushing), sampai penggerusan (grinding), proses aktivasi yang bertujuan untuk meningkatkan sifatkhusus zeolit sifat dengan menghilangkan unsur-unsur pengotor dan menguapkan air yang terperangkap dalam kristal zeolit. Kemudian tahap pori modifikasi dengan mengubah sifat dari struktur zeolit dengan bahan lain, untuk mencapai sasaran yang diperlukan.
Kerangka dasar zeolit, terdiri dari unit-unit tetrahedral, Т (Si,Al) yang saling berhubungan melalui atom oksiaen. mengandung kation alkali/alkali tanah (K. Na, Ca, Ba dan Mg), yang menetralkan gugus Al di dalam struktur, kation tersebut dapat dipertukarkan [2]. Struktur kristal berongga, rongga biasa diisi oleh air, memiliki ukuran pori tertentu sehingga mempunyai sifat penyaring molekul. penukar ion, maupun sebagai penyerap. Sifat tukar kation secara efektif tergantung porositas. tingkat kerapatan tetrahedral, T(Al,Si), kerangka densitas dan efektifitas penukarannya dipengaruhi pula oleh perubahan struktur kristal, angka banding Si/Al dan ukuran pori efektif. Sistem pembentukan struktur sangat dipengaruhi oleh angka banding Si/Al, logam alkali/alkali tanah pembentuknya, tingkat keasaman lingkungan dan kondisi hidrotermal, sehingga memungkinkan peluang rekayasa zeolit sebagai penukar yang efektif.
Kapasitas tukar kation tidak dipengaruhi oleh faktor dalam saja (internal struktur zeolit), tetapi juga faktor eksternal atau faktor luar. Seperti konsentrasi kation dalam larutan dan sifat dari senyawa yang akan dipertukarkan. Di dalam proses tukar kation, dapat pula terjadi fenomena ion sieving, karena ketidak sesuaian ukuran pori dengan ion yang masuk, dimana volume lorong atau chanel pada struktur tidak mampu mengakomodasi zeolit sejumlah kation: adanya pengikatan kation pada tempat lain di luar lokasi pertukaran, serta adanya perubahan fase zeolit setelah proses penukaran kation.
Gugus Al dalam zeolit menyebabkan muatan negatif dalam struktur, sehingga secara alami akan mudah berikatan dengan logam alkali/alkali tanah (M) yang bermuatan positif (kation), sehingga terbentuk tetrahedral, T (Al,Si)M. Selain dapat disubstitusi oleh logam alkali/alkali tanah, juga dapat disubstitusi oleh gugus lain yang bermuatan positif. Melalui substitusi secara isomorf pada gugus tetrahedral T (Si,Al) oleh gugus lain seperti PO<sub>2</sub><sup>+</sup>, zeolit dapat dimodifikasi menjadi gugus penukar kation maupun anion.
Proses yang telah dilakukan yaitu memperlakukan zeolit alam dengan senyawa ammonium dihidrogen fosfat (ADHP), upaya modifikasi tersebut dilakukan untuk melihat peluang pemanfaatannya dalam proses penukaran ion uranium [3]. Telah pula dilakukan penelitian substitusi zeolit dengan senyawa ADHP tersebut dengan substitusi sebanyak 30%-40%, hasil analisis menunjukkan terjadi penurunan nilai tukar kation, diduga seiring terjadi kemampuan tukar anion [4]. Untuk menguji hasil proses produk, perlu dilakukan pengkajian kemampuan tukar kation dan anion di dalam suatu sistem yang mengandung ke dua ion tersebut.
Perkembangan pembangunan di daerah pantai utara Jawa Barat telah memacu perkembangan industri yang mengubah tata guna lahan, kondisi lingkungan, peningkatan sumberdaya alam terutama sumberdaya air. Selain hal tersebut, perkembangan industri di daerah tersebut telah berakibat pula pada limbah hasil buangan industri yang semakin besar jumlah serta jenisnya, sehingga akan berakibat negatif terhadap kondisi lingkungan sumberdaya air.
Air mengalami daur hidrologi, selama menjalani daur tersebut, air kontak dengan zat lain yang menyebabkan air itu tidak lagi murni. Zat-zat yang diserap oleh air alam dapat diklasifikasikan sebagai padatan terlarut, gas terlarut dan padatan tersuspensi. Jenis zat pengotor yang terkandung dalam air bergantung pada jenis bahan yang kontak dengan air tersebut, dan konsentrasi pengotor bergantung pada waktu kontaknya. Bahan-bahan mineral yang terkandung di dalam air, yang disebabkan karena kontak dengan batu-batuan terutama terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3), magnesium karbonat (MgCO3), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium sulfat (MgSO4). Air yang banyak mengandung Ca dan Mg dikenal sebagai "air sadah", atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan menjadi kerak
Kondisi air tanah Pantura, dimana sumber air tanah dari dataran tinggi bagian selatan yang membentang dari timur ke barat, bersifat payau ringan dan berat. Air tanah tawar yang diharapkan sebagian besar sudah berubah menjadi payau dan asin. Padahal air merupakan kebutuhan sangat vital bagi kehidupan manusia.
Jika kebutuhan air belum tercukupi, memberikan dampak yang besar terhadap kerawanan kesehatan maupun sosial. Air yang layak untuk kehidupan manusia, mempunyai standar persyaratan tertentu, yakni fisis, kimiawi, bakteriologis dan syarat ini merupakan satu kesatuan. Diketahui, tipe air tanah daerah Karawang dan Bekasi berbentuk, CaHCO3, MgHCO3, NaHCO3, NaCl, CaCl, MgCl2 dan CaSO4 dan nilai DHL bisa mencapai 7200uS/cm [5], sehingga layak dijadikan studi kasus penelitian untuk menguji produk senyawa mikro pori alumina siliko fosfat (ASP) dari hasil modifikasi zeolit alam dengan gugus fosfat. Untuk melihat kemampuan daya tukar kation dan anion dari produk terhadap air tanah di daerah tersebut.
BAHAN DAN METODE
Produk alumina siliko fosfat (ASP) hasil modifikasi mineral silikat alam (zeolit) Cikancra,Tasikmalaya yang diproses dengan peleburan menggunakan senyawa ammonium dihidrogen fosfat (ADHP) dengan angka substitusi sebesar 30-40%, diujikan terhadap air tanah Karawang dan Bekasi.
Dilakukan analisis conto air tanah (fresh) dari sumur-sumur gali dengan menggunakan alat-alat antara lain : pH, suhu, daya hantar listrik di lapangan (DHL) serta kuantitas kandungan kation, anion di dalam conto tersebut. Alat-alat lain yang digunakan adalah : Automatic Absorption
Journal of Indonesian Zeolites
Spectrophotometer (AAS), Turbidimeter, pH-meter, Electro Conductivity meter.
Percobaan pengujian produk, dilakukan dengan menggunakan senyawa ASP sebanyak 2 gram terhadap 250 ml air tanah dan diaduk selama 5 (lima) hari pada suhu kamar. Substrat disentrifuge dengan kecepatan 10.000 rpm dan filtrat ditampung untuk dianalisis kandungan anion dan kation dengan cara AAS, dan volumetri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Air tanah fresh contoh dari sumur gali (kode 5) daerah Karawang dan Bekasi, mempunyai nilai daya hantar listrik (DHL) paling tinggi sebesar 8100 uS/cm (syarat air minum DHL maksimum 800 uS/cm). Sedangkan konsentrasi natrium sebesar 1338.2 mg/l (syarat air minum MENKES
RI/1990, maksimum 200 mg/l)[6], konsentrasi ion khlorida dan sulfat masingmasing 1989.21 mg/l dan 390 mg/l (syarat air minum maksimum 250 mg/l). Pada sumur gali kode 117, DHL sebesar 6670 uS/cm, konsentrasi natrium 453.27 mg/l, sedangkan. khlorida 994.60 mg/l dan sulfat sebesar 1900 mg/l. Dari hasil analisis air tanah fresh tersebut, memperlihatkan bahwa air tanah daerah Karawang dan Bekasi tidak memenuhi syarat sebagai air bersih untuk keperluan sehari-hari apalagi sebagai air minum. Melalui proses perhitungan jumlah konsentrasi kation dan anion di dalam conto air, tipe conto air tanah sumur gali secara keseluruhan mempunyai dua jenis tipe, yaitu NaCl dan CaSO4, hal tersebut terjadi karena konsentrasi khlorida dan sulfat cukup tinggi.
Tabel 1. Komposisi kimia zeolit Cikancra, Tasikmalaya
| No. | Komposisi | Konsentrasi (%) | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1. | SiO2 | 66.64 | |||||
| 2. | Al2O3 | 11.98 | |||||
| 3. | Fe2O3 | 0.89 | |||||
| 4. | MnO | 0.01 | |||||
| 5. | TiO | 0.45 | |||||
| 6. | P2O5 | 0.04 | |||||
| 7. | CaO | 0.14 | |||||
| 8. | MgO | 0.14 | |||||
| 9. | Na2O | 3.07 | |||||
| 10. | K2O | 0.93 | |||||
| 11. | LOI | 15.65 | |||||
| 12. | H2O- | 4.69 | |||||
Tabel 2. Hasil analisis air tanah Karawang/Bekasi yang diperlakukan dengan alumina silikofosfat
| = | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No. | Air Tanah | Ca | Mg | Na | K | Cl- | SO4 |
| (sumur gali) | (ppm) | (ppm) | (ppm) | (ppm) | (ppm) | (ppm) | |
| 1 | Kode 5 (fresh) | 139.43 | 285.87 | 1274.30 | 34.80 | 1989.21 | 390 |
| 2 | Kode5 (proses) | 93.90 | 276.30 | 1242.15 | 26.59 | 2054.51 | 330 |
| 3 | Kode 96 (fresh) | 78.40 | 70.45 | 143.04 | 0.95 | 346.60 | 166 |
| 4 | Kode 96 (proses) | 42.13 | 57.51 | 118.82 | 1.36 | 366.70 | 148 |
| 5 | Kode 117 (fresh) | 417.83 | 537.79 | 434.22 | 42.99 | 984.56 | 1900 |
| 6 | Kode117 (proses) | 373.99 | 547.07 | 415.13 | 28.67 | 1019.72 | 1800 |
| Tabel 3. Hasil analisis air tanah daerah Pantura (Karawang & Bekasi) | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Sum ur | Na (ppm) | K (ppm) | Mg (ppm) | HCO3 (ppm) | - | Cl- (ppm) | CO2 (ppm) | CO3 | Ca (ppm) | рН | Suhu (°C) | DHL |
| - | uı | (ррііі) | (ррпі) | (ррпі) | (ррііі) | (ррііі) | (ррпі) | (ррпі) | (ррп | (ррпп) | ( 0) | ||
| 1. | 3 | 551.2 | 17.69 | 5.63 | 518.21 | 40 | 557.58 | 3 - | 43.1 | 4.63 | 7.23 | 28.5 | 2770 |
| 2. | 5 | 1338.2 | 182.61 | 200.88 | 966.61 | 390 | 1989.2 | 1 53.06 | - | 275.06 | 6.53 | 29.8 | 8100 |
| 3. | 14 | 488.43 | 10.99 | 133.32 | 564.64 | 1260 | 120.56 | 6 48.64 | - | 276.99 | 6.58 | 31.70 | 3590 |
| 4. | 96 | 183.81 | 0.99 | 75.12 | 309.61 | 166 | 336.56 | 6 101.7 | - | 134.72 | 6.26 | 28.60 | 1920 |
| 5. | 97 | 45.58 | 2.74 | 15.35 | 25.32 | 10,7 | 86.40 | 53.06 | - | 4.91 | 5.36 | 28.70 | 525 |
| 6. | 117 | 453.27 | 52.43 | 357.09 | 545.77 | 1900 | 994.60 | 0 44.22 | - | 630.69 | 6.62 | 28.90 | 6670 |
| 7. | 123 | 182.57 | 15.87 | 73.25 | 348.65 | 800 | 30.14 | 21.23 | - | 155.83 | 6.57 | 30.80 | 1760 |
| Tabel 4. Tipe air tanah daerah Pantura ( Karawang & Bekasi) | |||||||||||||
| ır Na*) | K | Na Na | Ca | Mg | Ca | Jml | - SO4= | Cl | Jml | Tipe | |||
| + K | + Mg | Kat | Anion | ||||||||||
| 1. | 3 | 23.98 | 0.45 | 24.42 | 0.23 | 1.29 | 1.52 | 25.95 | 8.49 | 0.83 | 15.73 | 25.06 | NaCl |
| 2. | 5 | 58.21 | 4.67 | 62.88 | 13.73 | 16.52 | 30.25 | 93.13 | 15.84 | 8.12 | 56.12 | 80.08 | NaCl |
| 3. | 14 | 21.25 | 0.28 | 21.53 | 13.82 | 10.97 | 24.79 | 46.32 | 9.25 | 26.25 | 3.40 | 38.90 | CaSO4 |
| 4. | 96 | 8.0 | 0.03 | 8.02 | 6.72 | 6.18 | 12.90 | 20.92 | 5.07 | 3.46 | 9.49 | 18.03 | CaCl2 |
| 5. | 97 | 2.0 | 0.07 | 2.05 | 0.25 | 1.26 | 1.51 | 3.56 | 0.42 | 0.22 | 2.44 | 3.08 | NaCl |
| 6. | 117 | 9.72 | 1.34 | 21.06 | 31.47 | 29.37 | 60.85 | 81.90 | 8.95 | 39.58 | 28.06 | 76.58 | CaSO4 |
| 7. | 123 | 7.94 | 0.41 | 8.35 | 7.78 | 6.03 | 13.80 | 22.15 | 5.71 | 16.66 | 0.85 | 23.23 | CaSO4 |
| Tal | pel 5. | Tipe air | r tanah | daerah | Karawa | ana & B | ekasi. ı | pra&pas | ca pros | ses der | ngan A | ASP | |
| Sumu | K | Na + K | Са | Mg | Ca . | CO3 | Tipe | ||||||
| 1. | 5*) | 55.43 | 0.86 | 56.29 | 6.96 | 23.52 | 30.47 | 86.77 | 3.12 | 5.84 5 | 6.12 | 80.08 | NaCl |
| 2. | 5**) | 54.03 | 0.67 | 54.71 | 4.69 | 22.73 | 27.41 | 82.13 | 6.87 | - 5 | 7.96 | 80.67 | NaCl |
| 3. | 96 *) | 6.22 | 0.02 | 6.25 | 3.91 | 5.80 | 9.71 | 15.95 | 3.46 | - | 9.78 | 18.31 | CaCl2 |
| 4. | 96**) | 5.17 | 0.03 | 5.20 | 2.10 | 4.73 | 6.83 | 12.04 | 3.08 | - 1 | 0.35 | 18.50 | CaCl2 |
| 5. | 117 ' | °) 18.89 | 1.1 | 19.99 | 20.85 | 44,.24 | 65.09 | 85.08 3 | 9.58 8 | 3.95 2 | 7.78 | 76.30 | MgSO4 |
| 6. | 117* | , | 0.73 | 18.79 | 63.66 | 82.46 3 | 39.49 | - 2 | 8.77 | 75.21 | Mg-Mix | ||
| *)air tanah fresh; **) air tanah setelah proses | |||||||||||||
Air tanah contoh yang diperlakukan dengan senyawa ASP memperlihatkan hasil sebagai berikut : Pada contoh sumur dengan kode 5, tipe NaCl, terjadi penurunan kation Ca, Mg, Na dan K masing-masing sebanyak 32.94%: 3.35%: 2.52%; dan 23.60%. Juga terjadi penurunan anion sulfat sebanyak 15.39%, tetapi belum menunjukkan terjadinya penurunan anion khlorida, hal ini mungkin disebabkan substitusi gugus fosfat pada struktur belum optimal untuk maksud tersebut. Kemudian pada sumur gali kode 96, dengan tipe CaCl<sub>2</sub>, terjadi pula penurunan konsentrasi Ca. Mg dan Na masing-masing sebanyak 46.26%; 18.37% dan 16.93%, sedangkan sulfat sebanyak 10.84%. Dan pada sumur gali dengan 117. CaSO<sub>4</sub>. kode bertipe teriadi penurunan Ca, K sebanyak masingmasing 89.71% dan 33.31%, sedangkan sulfat sebanyak 5.26%. Terlihat pula pada sumur gali dengan kode 117 tersebut, yang mempunyai tipe CaSO<sub>4</sub>, setelah diperlakukan oleh senyawa ASP terjadi perubahan tipe air tanah yaitu menjadi tipe Hal ini mungkin disebabkan Mg-Mix. karena dava serap senvawa ASP terhadap kation kalsium lebih tinggi daripada terhadap kation magnesium.
Kemampuan tukar kation senyawa ASP terhadap kation kalsium paling tinggi sedangkan terhadap kation kalium lebih tinggi daripada kation natrium. tersebut, disebabkan karena zeolit alam asal mengandung natrium cukup tinggi yaitu sebesar 3.07%, hal tersebut dapat dilihat pada hasil analisis komposisi zeolit alam. Ini juga memperlihatkan zeolit alam conto vang berasal dari Tasikmalaya tersebut mempunyai jenis Na mordenit. Jenis tersebut cukup baik digunakan untuk memproses air dengan tingkat kesadahan tinggi, sehinga senyawa natrium dapat dilepaskan dari sistem, dan kalsium akan diikat oleh struktur zeolit.
Fenomena tukar kation pada air tanah conto di atas, memperlihatkan bahwa, tukar kation tidak saja dipengaruhi oleh faktor dalam saja (struktur zeolit), tetapi juga faktor eksternal. Seperti konsentrasi
kation dalam larutan, sifat dari senyawa yang akan dipertukarkan, seperti kondisi dan konsentrasi dari contoh air tanah yang digunakan. Pada proses tukar kation dapat pula terjadi fenomena ion sieving, karena ketidak sesuaian ukuran pori dengan ion yang masuk, volume lorong atau chanel pada struktur zeolit tidak mampu mengakomodasi sejumlah kation, atau karena adanya pengikatan kation pada tempat lain di luar lokasi pertukaran, serta adanya perubahan fase zeolit setelah proses penukaran kation
Dari hasil percobaan, terlihat bahwa senvawa alumino siliko-fosfat secara kuantitas dapat menurunkan konsentrasi kation bermuatan positif dua (Ca, Mg), maupun kation bermuatan positif satu (K, Na), serta dapat menurunkan konsentrasi anion yang bermuatan negatif dua seperti sulfat, tetapi belum dapat menurunkan anion bermuatan negatif satu seperti khlorida. Dari hasil di atas, yang menarik adalah bahwa kemampuan tukar kation terhadap Ca cukup tinggi, selain mampu juga terhadap kation Mg, maka senyawa ASP tersebut berpeluana menurunkan tingkat kesadahan air, tetapi perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk meminimisasi konsentrasi anion negatif satu (Cl<sup>-</sup>), sehingga berpeluang digunakan sebagai pengolah air tanah yang telah terintrusi air laut.
KESIMPULAN
Kemampuan tukar kation senyawa ASP terhadap kation kalsium lebih besar daripada kalium, magnesium dan natrium (Ca>K>Mg>Na). Senyawa alumino silikofosfat secara umum dapat menurunkan konsentrasi kation bermuatan positif dua, maupun kation bermuatan positif satu. serta dapat menurunkan konsentrasi anion yang bermuatan negatif dua (sulfat), tetapi belum dapat menurunkan anion bermuatan negatif satu (khlorida). Dan dari kemampuan tukar kation terhadap kalsium dan magnesium yang cukup tinggi, senyawa ASP tersebut berpeluang untuk menurunkan tingkat kesadahan air.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dalam substitusi gugus fosfat ke dalam struktur zeolit agar dapat meminimisasi konsentrasi anion negatif satu seperti khlorida, sehingga senyawa ASP berpeluang untuk menetralkan air tanah yang telah terintrusi oleh air laut.
DAFTAR PUSTAKA
- 1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 1990. Persyaratan Air Minum dan Air Bersih.
- 2. De Breuek W. 1991. Hydrogeology of Salt Water Intrusion. International Association of Hydrogeologists, Series Editorial Board, Volume 11, p.329-335.
- 3. Amini, S. 2001. Upaya Peningkatan Manfaat Zeolit Sebagai Penukar Ion, Prosiding Seminar Nasional Zeolit II, 21 Agustus 2001, ISBN 979-96682-0-4.
- 4. Lenny M. Estiaty. 2002. Modifikasi Mineral Zeolit Sebagai Penukar Anion dan Kation, Jurnal Nusantara Kimia, No.1.1,vo. IX.
- 5. Puslitbang Geoteknologi-LIPI. 1996/1997. Laporan Monitoring Sumberdaya Air tanah dan Lingkungan Hidup.,
- 6. Vernon, L. 1980. Water Chemistry, John Wiley & Sons, New York, Chicester, Brisbane, Toronto.
