PENDAHULUAN
Pengembangan tanaman kelapa sawit saat ini telah banyak dilakukan pada lahan-lahan marginal dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah. Hal ini berdampak pada kegiatan pembibitan kelapa sawit, terutama dalam hal penyediaan tanah yang memenuhi syarat untuk media pembibitan kelapa sawit. Selain sifat kimia, pada jenis tanah tertentu sifat fisik ternyata juga menjadi faktor pembatas. Salah satu sifat fisik tersebut adalah kandungan pasir yang tinggi. Tanpa
perlakuan-perlakuan tertentu, pertumbuhan bibit yang ditanam pada media yang kurang baik umumnya tidak standar sehingga tidak layak pindah tanam ke lapangan.
Jenis tanah dengan sifat fisik dan kimia tanah yang kurang memenuhi syarat untuk media pembibitan kelapa sawit di antaranya adalah tanah Typic Udipsamment dan tanah bekas tambang (tailing) timah. Kesuburan jenis-jenis tanah tersebut umumnya rendah yang dicirikan oleh rendahnya kandungan hara, bahan organik, pH, dan KTK tanah
(Adiwiganda et al., 1994) [1]. Selain itu, dominannya fraksi pasir pada jenis-jenis tanah tersebut umumnya menyebabkan tingginya laju kehilangan hara dari pemupukan. Tanpa upaya-upaya perbaikan, level nutrien yang optimum untuk pertumbuhan bibit sesuai standar akan sulit terpenuhi.
Upaya perbaikan yang dapat dilakukan untuk jenis tanah tersebut adalah dengan aplikasi bahan pembenah tanah baik dari bahan organik maupun bahan tambang. Salah satu bahan pembenah tanah dari hasil tambang adalah zeolit, senyawa alumino-silikatterhidrasi dengan formula M2/nO.Al2O3.x(SiO2).yH2O (Arifin, 1991; Vaughan, 1989) [2],[3]. Dengan mempertimbangkan sifat-sifat zeolit seperti penyusun utamanya yang terdiri atas kation alkali dan alkali tanah, mudah menahan air dan melepaskannya pada proses timbal balik adsorpsi dan dehidrasi, memiliki nilai KTK yang tinggi (115-150 me/100g, bahkan dilaporkan dapat mencapai 545 me/100g), serta luas permukaan yang mencapai 900 m 2 /g (Arifin, 1991; Sinaga, 1996; Suyartono dan Husaini, 1991) [4],[5], maka zeolit banyak digunakan sebagai bahan pembenah tanah (Arifin, 1991). Aplikasi zeolit umumnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan dan menyediakan unsur hara serta air untuk kebutuhan tanaman, dan juga untuk menekan kehilangan unsur hara yang diberikan melalui pemupukan (Ming, 1988; Vaughan, 1989) [6]. Penelitian untuk mengetahui kemampuan zeolit dalam memperbaiki kesuburan media pembibitan kelapa sawit menggunakan tanah Typic Udipsamment dan tailing timah telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai penggunaan zeolit sebagai alternatif untuk memecahkan permasalahan kesulitan penyediaan media tanam untuk pembibitan pada lahan-lahan dengan jenis tanah yang didominasi fraksi pasir.
BAHAN DAN METODE
PPKS telah melakukan penelitian aplikasi zeolit untuk perbaikan media tanam di pembibitan kelapa sawit sebanyak dua kali.
Kedua penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Aek Pancur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Sumatera Utara. Bahan tanaman adalah bibit kelapa sawit DxP.
Penelitian I
Penelitian ini dilakukan pada 2004-2005. Sebagai media tanam digunakan tanah Typic Udipsamments yang diambil dari Sumatera Utara. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan 4 taraf dosis aplikasi zeolit yaitu 0, 50, 100, 150 g zeolit/polibeg (berat per polibeg 25 kg). Setiap perlakuan diulang 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 6 tanaman pengamatan.
Pupuk yang diberikan adalah pupuk standar pembibitan yaitu NPKMg 15-15-6-4, 12-12- 17-2 dan kiserit dengan dosis sesuai dengan standar PPKS. Pengamatan meliputi sifat kimia tanah (pH tanah, KTK tanah, Ptersedia, K-dd, Mg-dd, Ca-dd), pertumbuhan bibit (tinggi, diameter batang, dan berat kering) serta serapan hara (N, P, K, Mg,Ca dan B). Pengamatan bobot kering dan serapan hara dilakukan setelah tanaman berumur 11 bulan.
Penelitian II
Penelitian ini dilakukan pada 2008-2009. Sebagai media tanam digunakan tailing timah yang diambil dari Pulau Bangka. Sebagai pembanding, diambil juga top soil tanah Typic Hapludult dari Kebun Percobaan PPKS di Aek Pancur, Sumatera Utara. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 5 perlakuan media tanam dengan 4 ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 4 tanaman pengamatan. Perlakuan yang dicobakan dalam penelitian ini adalah (i) kontrol, yaitu 20 kg tailing tambang timah per polibeg tanpa bahan pembenah tanah; (ii) top soil tanah Typic Hapludult, 20 kg per polibeg tanpa bahan pembenah tanah; (iii) aplikasi zeolit dengan dosis 40 g per polibeg berisi 20 kg tailing tambang timah; (iv) aplikasi dolomit dengan dosis 40 g per polibeg berisi 20 kg tailing tambang timah; dan (v) aplikasi kompos tandan kosong sawit (TKS) dengan dosis 4 kg per polibeg berisi 20 kg tailing tambang timah.
Tabel 1. Hasil analisis awal tanah Typic Udipsamment pada penelitian I.
| рН | С | N | P-tersedia (ppm) | K-dd | Na-dd | Mg-dd | KTK | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (H2O) | (%) | (%) | i toroccia (ppiii) | (n | ||||
| 6,1 | 0,28 | tr | tr | 0,22 | 0,02 | 2.56 | 0,48 | 3,95 |
Tabel 2. Hasil analisis awal tailing timah pada penelitian II.
| pH (H2O) | C (%) | N (%) | P-tersedia (ppm) | K-dd | Ca-dd ne/100 g | KTK | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 4.4 | 0.04 | 0.01 | 3 | tr | tr | 0.03 | 80.0 | 0.73 |
Pupuk yang diberikan adalah pupuk standar pembibitan yaitu NPKMg 15-15-6-4, 12-12-17-2 dan kiserit dengan dosis sesuai standar PPKS. Pengamatan meliputi pertumbuhan bibit (bobot kering bonggol, pelepah, dan daun) serta serapan hara (N, P, K, Mg,dan Ca). Pengamatan bobot kering dan serapan hara dilakukan setelah tanaman berumur 13 bulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian I
Sifat Kimia Tanah
Pada penelitian ini, KTK tanah meningkat seialan dengan peningkatan dosis aplikasi zeolit. Peningkatan KTK tanah tersebut diduga berasal dari tingginya KTK zeolit yang diaplikasikan. Tingginya KTK zeolit berkaitan dengan sifat zeolit yang memiliki struktur berpori yang dapat diisi oleh molekul air sehingga mampu menyerap air yang bersifat reversible, menyaring molekul, dan menukar (Diadiulie dan Bisri, 1998) [7]. Peningkatan KTK ini diikuti dengan peningkatan ketersediaan kation-kation tertukar seperti K, Ca, Na, dan Mg.
Meskipun demikian, dalam penelitian ini aplikasi zeolit cenderung menaikan kadar Aldd. Diduga kenaikan kada Al-dd ini selanjutnya berpengaruh terhadap penurunan pH dan P tersedia. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian lain yang menyebutkan bahwa aplikasi zeolit dapat menurunkan kadar Al-dd tanah karena zeolit mampu menyerap logam (Sutarti dan Rachmawati, 1994) [8] yang selanjutnya akan meningkatkan pH tanah.
Pertumbuhan Bibit
Dibandingkan kontrol (tanpa zeolit), aplikasi zeolit baik dosis 50, 100, maupun 150 pada penelitian ini a/polibea menghasilkan beda nyata pada tinggi bibit, diameter batang, maupun bobot kering total. Meskipun demikian, pertumbuhan bibit pada dosis 50 dan 100 g/polibeg cenderung lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan juga dengan aplikasi 150 g zeolit/polibeg (Tabel 4). Pada dosis 50 dan 100 g/polibeg, kecenderungan pertumbuhan bibit yang lebih baik ini diduga berkaitan dengan perbaikan sifat kimia tanah akibat aplikasi zeolit. Sebaliknya dosis 150g/polibeg. pada peningkatan kadar Al-dd dan penurunan pH diduga telah menyebabkan terhambatnya pertumbuhan bibit.
Tabel 3. Hasil analisis tanah setelah aplikasi zeolit pada tanah Typic Udipsamment.
| Dosis zeolit | »H (H O) | NI /0/ \ | D (nnm)- | K | Na | Ca | Mg | K.T.K | Al-dd |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (g/polibeg) | pH (H2O) | N (%) | P (ppm) | me/100 g | |||||
| 0 | 6,81 | 1,56 | 5,61 | 0,27 | 0,03 | 0,79 | 4,18 | 4,94 | 0,02 |
| 50 | 6,30 | 2,84 | 5,41 | 1,78 | 0,01 | 1,28 | 3,82 | 6,26 | 0,00 |
| 100 | 6,32 | 1,94 | 3,40 | 2,45 | 0,04 | 1,26 | 4,70 | 7,00 | 0,04 |
| 150 | 5,48 | 1,94 | 3,76 | 2,56 | 0,05 | 1,20 | 3,20 | 7,99 | 0,04 |
Tabel 4. Pengaruh aplikasi zeolit terhadap tinggi, diameter batang, dan bobot kering bibit kelapa sawit pada penelitian I.
| Dosis Zeolit (g/polibeg) | Tinggi bibit (cm) | Diameter batang (cm) | Bobot Kering Total (g) |
|---|---|---|---|
| 0 | 106,20 | 6,74 | 281,58 |
| 50 | 108,88 | 7,04 | 281,80 |
| 100 | 109,55 | 6,93 | 288,78 |
| 150 | 106,44 | 6,82 | 256,65 |
Keterangan : - angka pada kolom yang sama yang tidak diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan tidak beda nyata pada uji LSD 5 %.
Tabel 5. Serapan hara pada daun (g) dalam penelitian aplikasi zeolit pada tanah Typic Udipsamment
| Dosis zeolit (g/polibeg) | N | P | K | Mg |
|---|---|---|---|---|
| 0 | 2,22 | 0,22 | 1,49 | 0,51 |
| 50 | 2,26 | 0,21 | 1,54 | 0,61 |
| 100 | 2,24 | 0,21 | 1,61 | 0,54 |
| 150 | 2,16 | 0,18 | 1,53 | 0,52 |
Serapan Hara Daun
Sejalan dengan perubahan sifat kimia tanah dan pertumbuhan bibit, serapan hara pada daun bibit kelapa sawit cenderung meningkat pada aplikasi zeolit dengan dosis 50 dan 100 g per polibeg. Sebaliknya, serapan hara cenderung menurun pada aplikasi 150 g zeolit/polibeg (Tabel 5). Sifat kimia tanah yang lebih baik pada dosis 50 dan 100 g/polibeg diduga berpengaruh terhadap kemampuan tanaman menyerap hara, sementara peningkatan kadar Al-dd dan penurunan pH pada dosis 150g zeolit/polibeg diduga menyebabkan penurunan kemampuan tanaman menyerap hara.
Penelitian II
Hasil penimbangan bobot kering tanaman menunjukkan bahwa bobot kering total tertinggi terdapat pada media tanam menggunakan top soil tanah Typic Hapludult (Tabel 6). Pada media tanam menggunakan tailing timah, bobot kering total tertinggi terdapat pada perlakuan aplikasi kompos tandan kosong sawit. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh aplikasi bahan pembenah tanah dalam bentuk organik (kompos TKS) terhadap total bobot kering bibit masih lebih baik dibandingkan dengan aplikasi bahan pembenah tambang baik zeolit maupun dolomite. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan dolomite, aplikasi zeolit
relative masih menghasilkan bobot kering bibit yang lebih baik.
Serapan Hara
Hasil analisis terhadap serapan hara pada daun menunjukkan pola yang relatif sama dengan hasil pengukuran bobot kering tanaman. Serapan hara N, P, K, Ca, dan Mg daun yang relatif lebih tinggi terdapat pada bibit yang ditanam pada media top soil dan tailing timah dengan perlakuan aplikasi kompos TKS.
Dalam percobaan ini, aplikasi bahan pembenah dari bahan tambang yaitu zeolit dan dolomite relatif belum memberikan pengaruh sebaik pada aplikasi kompos TKS.
Pembahasan Umum
Baik pada tanah Typic Udipsamment maupun tailing timah, aplikasi zeolit pada penelitian ini secara umum belum menghasilkan pertumbuhan bibit yang nyata lebih baik dibandingkan dengan kontrol (tanpa aplikasi zeolit). Pada tanah Typic Udipsamment (penelitian I), peningkatan dosis aplikasi zeolit hingga 150 g/polibeg kg tanah justru cenderung meningkatkan kemasaman tanah dan kadar Al-dd yang diikuti dengan kecenderungan penurunan bobot kering tanaman dan serapan hara.
Tabel 6. Bobot kering bibit dalam penelitian aplikasi zeolit pada tailing timah
| Bobot kering (g) | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Perlakuan | Bonggol | Pelepah | Daun | Total | |||
| Kontrol (20 kg tailing timah per polibeg) | 49.23b | 177.15c | 91.35b | 317.73c | |||
| Top Soil (20 kg top soil Typic Hapludult per polibeg) | 77.96a | 375.23a | 152.7a | 605.89a | |||
| Kompos (20 kg tailing timah + 4 kg kompos TKS) | 74.35a | 323.18ab | 123.88a | 521.41b | |||
| Zeolit (20 kg tailing timah + 40 g zeolit) | 40.00b | 261.68b | 86.65b | 388.33bc | |||
| Dolomit (20 kg tailing timah + 40 g dolomit) | 40.53b | 203.80c | 87.8b | 332.17c | |||
Keterangan : - angka pada kolom yang sama yang tidak diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan tidak beda nyata pada uji LSD 5 %.
Tabel 7. Serapan hara pada sampel daun (g) dalam penelitian aplikasi zeolit pada tailing timah
| Perlakuan | N | P | K | Ca | Mg |
|---|---|---|---|---|---|
| Kontrol | 2.44 | 0.19 | 2.03 | 0.34 | 0.36 |
| Top Soil | 3.83 | 0.21 | 2.71 | 0.87 | 0.47 |
| Kompos | 3.37 | 0.22 | 2.37 | 1.10 | 0.49 |
| Zeolit | 2.34 | 0.17 | 1.75 | 0.32 | 0.38 |
| Dolomit | 2.40 | 0.18 | 1.75 | 0.38 | 0.36 |
Sedangkan pada tailing timah, aplikasi zeolit dengan dosis 40 g/polibeg masih belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bibit sebaik pada aplikasi kompos TKS dan media top soil.
Dengan mempertimbangkan hasil kedua penelitian ini, penelitian-penelitian terkait aplikasi zeolit untuk perbaikan media pembibitan kelapa sawit yang didominasi fraksi pasir masih sangat diperlukan. Penelitian-penelitian tersebut hendaknya tidak terbatas pada aplikasi zeolit per se, namun perlu diarahkan pada penentuan dosis yang tepat didukung dengan upaya memperoleh kombinasi yang tepat dengan bahan pembenah lain sesuai sifat fisik dan kimia tanah. Sebagai contoh, pada Typic Udipsamment yang digunakan dalam penelitian ini, kombinasi dengan bahan pembenah tanah yang lebih bersifat memperbaiki pH akan lebih diperlukan. Sementara pada tailing timah, kombinasi dengan perlakuan bahan organik akan lebih diperlukan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Aplikasi zeolit terutama dengan tujuan untuk perbaikan media tanam pembibitan kelapa sawit menggunakan tanah Typic Udipsamment dengan fraksi pasir yang dominan memerlukan penentuan dosis yang tepat. Pada tailing timah, aplikasi zeolit saja
tanpa kombinasi dengan bahan pembenah lainnya untuk perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Penelitian-penelitian lanjutan untuk mengetahui dosis aplikasi zeolit yang tepat serta kombinasi aplikasi zeolit dengan bahan pembenah tanah lainnya masih diperlukan untuk mengetahui teknik aplikasi zeolit yang efektif dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi pada tanah-tanah yang didominasi fraksi pasir sebagai media tanam pembibitan kelapa sawit.
DAFTAR PUSTAKA
- 1. Adiwiganda, R, A. U. Lubis, dan P. Purba. 1994. Karakteristik tanah pada beberapa tingkat famili di areal kelapa sawit di Indonesia. Berita Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2(3): 174 - 188.
- 2. Arifin, M. 1991. Zeolit Alam; potensi, teknologi dan prospeknya di Indonesia. Laporan Ekonomi Bahan Galian N0.72. Proyek Pengembangan Pusat Informasi Mineral, Pusat Pengembangan Teknologi Mineral Bandung, 1990/91; 52 pp.
- 3. Vaughan, D.E.W. 1989. Zeolites and other microporous materials. Zeolites; Facts, figure, future (Ed. P.A. Jacobs & R.A. van Santen). Proceed. Of the 8th International Zeolite Conference,
- Amsterdam, The Netherlands, July 10-14 1989, Elsevier Amsterdam; p 95-115
- 4. Sinaga, P.P. 1996. Kajian pemberian zeolit dan pupuk fosfor terhadap sifat kimia tanah dan serapan P oleh tanaman jagung (Zea mays) pada tanah Ultisol. Skripsi S1 Fakultas Pertanian UHN, Medan 1996, 29 pp.
- 5. Suyartono dan Husaini. 1991. Tinjauan terhadap kegiatan penelitian karakteristik dan pemanfaatan zeolit di Indonesia yang dilakukan Pusat pengembangan Teknologi Mineral pada periode 1980- 1991. Bulletin PPTM Vol.13 No.4, Mei 1991; 15 pp.
- 6. Ming, D.W. 1988. Applications for special purpose minerals at a lunar base. Symposium on Lunar Bases & Space Activities in The 21st Century. April 5-7 1988, Houston, Texas; 22 pp.
- 7. Djadjulie, A. dan Bisri, U. 1998. Pemanfaatan batu kapur dan zeolit untuk pertanian. Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Jakarta. 15p.
- 8. Sutarti, M dan Rachmawati, M. 1994. Zeolit tinjauan literatur. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. 57pp.
