PENDAHULUAN
Tarot merupakan alat divinasi yang merupakan bagian dari kartomansi (alat meramal dengan media kartu). Tarot berbentuk satu dek kartu bergambar yang terdiri atas 78 kartu, yang dibagi menjadi 22 keping kartu arkana mayor dan 56 keping kartu arkana minor (Fasta dan Lestari, 2012). Kartu arkana mayor merepresentasikan pelajaran hidup, sebab-akibat karma, dan perjalanan spiritual. Sementara itu kartu arkana minor merepresentasikan alur hidup dan perilaku manusia yang terbagi menjadi 4 elemen atau simbol, yaitu pedang (sword), tongkat (wand), cawan (cups), dan koin (coin atau pentacles) yang masing-masing terdiri atas 10 kartu dengan 4 kartu court (Raja/King, Ratu/Queen, Ksatria/ Knight, dan Pembantu/Page). Menurut Dummet (dalam Sosteric, 2014), adanya kartu trumph (dalam hal ini, 22 arkana mayor) membedakan kartu tarot dengan kartu remi biasa. Dalam kartu tarot, arkana minor bisa jadi diilustrasikan maupun tidak. Namun, arkana mayor hampir selalu diilustrasikan dengan citra fantastis, mitologis, spiritual, dan budaya. Semetsky
(2010) mengemukakan ilustrasi pada kartu tarot dapat dianggap secara simbolis mewakili arketipe ketidaksadaran kolektif yang dikemukakan oleh Carl Gustav Jung, seorang psikolog yang mendalami psikoanalisis, sebagai kumpulan memori yang "merekam" pengalaman kolektif umat manusia di seluruh waktu, tempat, dan budaya.
Perkembangan tarot di Indonesia dimulai sejak buku Bunga Rampai Wacana Tarot yang ditulis oleh Ani Sekarningsih diterbitkan pada 2001 (Bima,2019). Hal itu disusul dengan terbitnya Tarot Wayang. Setelah itu mulai bermunculan komunitas-komunitas tarot seperti Komunitas Full Moon Surabaya (2009) dan Komunitas Tarot Jakarta (2017). Setelah itu, Hisyam Fachri menerbitkan buku The Real Art of Tarot beserta dengan Kartu Tarot Nusantara pada 2010 dengan menggaet Sweta Kartika sebagai ilustrator. Setelah itu disusul dengan menerbitkan buku Tarot Psikologi pada 2011. Bahkan pada 2022, Donny Hendrawan menerbitkan kartu tarot bertemakan Imaginary Friends yang memiliki nuansa warna hitam dan putih. Pada awal 2000 hingga 2010-an juga banyak acara TV yang menggunakan media kartu tarot, salah satunya acara Dunia Lain di Trans TV. Acara-acara TV ini banyak melambungkan nama-nama pembaca tarot, seperti Almarhumah Mama Lauren, Citra Prima, dan Madam Arra.
Saat ini pembacaan kartu tarot juga ramai di sosial media, terutama sejak era pandemi Covid 19. Di aplikasi TikTok bermunculan banyak pembacaan tarot secara general di FYP (singkatan dari For Your Page). Di Instagram pun banyak postingan maupun reels yang menyajikan pembacaan tarot. Begitu pula dengan Youtube. Sebagai contoh, pembaca tarot membuat konten pick a card (pemilihan satu grup kartu pembacaan tarot dari beberapa grup kartu yang disediakan), atau pembacaan berdasarkan pertanyaan tertentu dalam kurun waktu tertentu (seperti percintaan di bulan Januari atau karier di tahun 2023). Hal ini membuktikan kartu tarot cukup berkembang di Indonesia, terutama di masa pandemi Covid 19 untuk meramal peruntungan ekonomi hingga waktu pandemi berakhir atau untuk hiburan semata.
Namun meskipun masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka dengan kartu tarot, sebagian masyarakat lainnya masih belum dapat menerima tarot karena dikaitkan dengan kepercayaan dan budaya masing-masing sehingga salah satu pencipta kartu tarot membuat suatu desain kartu tarot berjudul "Tarot Nusantara" dengan unsur-unsur visual yang mengangkat budaya Indonesia dengan harapan kartu tarot dapat lebih dekat dan diterima masyarakat di Indonesia. Untuk membuktikan hal tersebut, diperlukan sebuah penelitian yang menganalisis desain visual dari kartu tarot tersebut terhadap citranya di masyarakat Indonesia.
Kartu Tarot
Kartu tarot pertama kali diperkenalkan oleh seorang pendeta Swiss pada 1377 yang diperkuat Girilamo Gargagli pada 1572 dengan menerbitkan dan memopulerkan tulisan tentang kartu tarocchi sebagai media ramal dan alat untuk menentukan tipe psikologi seseorang (Giles dalam Fasta dan Lestari, 2012). Ketika muncul pertama kali, kartu ini tidak lebih dari sebuah buku bergambar, alat untuk bermain, mungkin sebuah alat untuk berjudi (Dummett dalam Sosteric, 2014) dan tidak memiliki makna mistis, magis, maupun ramalan (Farley dalam Sosteric, 2014). Asosiasi pertama kartu tarot dengan kecenderungan mistik atau ramalan muncul pada karya tulis Antoine Court de Gébelin, Monsieur le Comte de M., dan Etteilla (nama samaran Jean-Baptiste Alliette). Setelah itu,
Tarot secara bertahap menjadi karya ramalan dan kunci untuk semua kehidupan misteri. Robert M. Place menuliskan, kartu tarot tertua dan terlengkap yang ditemukan adalah dek kartu Visconti Sforza Tarot. Dek kartu Visconti-Sforza ini diciptakan berawal pada pertengahan Abad 15, Francesco Sforza memesan sebuah dek kartu bermain sebagai hadiah pernikahan untuk Bianca Maria Visconti, putri dari Duke Filippo Visconti.
Kartu tarot yang paling terkenal saat ini adalah kartu Rider-Waite. Kartu ini dibuat oleh Arthur Edward Smith, seorang penyair dan sarjana mistik, bersama dengan Pamela Colman Smith, seorang pelukis dan ilustrator. Kartu ini merujuk pada Tarot de Marseille yang dibuat di Prancis dan Swiss pada 1700 an. Dalam artikel "Kisah Pamela Colman Smith, Seniman Tarot yang Terlupakan" oleh Nuraini Dewi, pada abad 20, Waite ingin membuat kartu tarot yang lebih modern. Setelah itu, ia meminta Pamela Colman Smith untuk melukis tarot modern, tiap lembar kartu memiliki ilustrasi, yang merupakan sesuatu yang baru pada masa itu. Awalnya kartu tarot hanya memiliki ilustrasi pada arkana mayor dan terkadang kartu court saja (King, queen, knight, dan page), sementara kartu lainnya hanya angka dan simbol seperti kartu remi. Kartu tarot yang telah direvitalisasi diterbitkan oleh Rider and Sons pada 1910, dikomersilkan dengan nama Rider-Waite Tarot. Sampai saat ini Tarot Rider-Waite masih menjadi kartu tarot yang paling banyak dipakai di dunia dan digunakan sebagai rujukan berbagai macam produksi Tarot, bahkan direkomendasikan untuk pembaca pemula yang ingin mempelajari seni kartu tarot.
Citra
Menurut Roesady (dalam Rustan, 2010), citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan seseorang terhadap
suatu objek tertentu. Langer (1953) dalam buku Feeling and Form menyatakan apa yang diekspresikan oleh seni bukanlah perasaan yang sebenarnya, tetapi ide-ide perasaan, karena bahasa tidak mengekspresikan hal dan peristiwa yang sebenarnya, tetapi ide-ide mereka. Tabrani dalam bukunya yang berjudul Proses Kreasi, Apresiasi, Belajar (2000) menjelaskan bagaimana image atau citra terbentuk yaitu dimulai dari sensasi yang diperoleh oleh pancaindera seperti penglihatan, penciuman, perabaan, dan perasaan. Tahap ini disebut dengan citra sensasi persepsi. Lalu, informasi yang ditangkap pancaindera tersebut akan disampaikan ke dalam memori otak. Tahap ini disebut dengan citra memori. Persepsi dari pancaindera yang disampaikan ke dalam memori dan dihayati menjadi imajinasi disebut dengan citra imajinasi, yaitu image yang dikeluarkan (diimajinasikan) dari memori.
Hasil citra yang diperoleh seseorang bisa jadi berbeda dengan orang lain atau bahkan dari penciptanyanya sendiri, tetapi tidak ada citra yang salah. Sebaliknya, manusia dapat mempelajari mengapa suatu citra terbentuk dari obyek-obyek yang ada. Dari proses di atas, kita dapat mengetahui suatu citra dipengaruhi oleh kesan pancaindera yang dalam konteks grafis adalah indera penglihatan terhadap unsur-unsur visualnya atau yang biasa disebut dengan visual image, dan juga bergantung pada budaya yang tersimpan dalam memori pengamat. Unsur-unsur tersebutlah yang kemudian akan diamati oleh peneliti dalam penelitian "Desain Kartu Tarot 'Nusantara' dan citranya di masyarakat Indonesia".
Citra Kartu Tarot di Indonesia
Kartu tarot memiliki banyak fungsi dalam membantu manusia dalam ranah psikologis maupun spiritual. Menurut Fachri (2009), seni tarot di Indonesia
masih berkisar pada kalangan tertentu dan terbatas karena ada yang menganggapnya tidak ilmiah. Banyak masyarakat Indonesia mempersepsikan kartu tarot sebagai alat untuk melakukan praktik sihir yang dianggap bertentangan dengan ajaran 6 agama di Indonesia. Sebagian orang di Indonesia percaya bahwa nasib seseorang tidak boleh diprediksi atau dimainkan dan menganggap penggunaan kartu tarot adalah suatu bentuk permainan nasib yang bertentangan dengan keyakinan agama mereka.
Korelasi antara kepercayaan agama yang bertentangan dengan persepsi ramalan membuat kartu tarot memiliki citra negatif di kalangan masyarakat di Indonesia. Hal ini karena belum adanya penjelasan ilmiah mengenai kartu tarot pada masa itu. Hal ini ditambah dengan akses informasi yang masih terbatas dan cenderung satu arah (tayangan televisi dengan penonton) yang berhubungan dengan terbentuknya persepsi masyarakat hanya berdasarkan beberapa sumber.
Namun saat ini dengan mudahnya akses informasi berupa internet dan sosial media, masyarakat mudah mencari tahu lebih dalam mengenai kartu tarot. Kartu tarot tidak semata-mata alat untuk meramal maupun alat sihir, tapi dapat membantu dalam konseling psikologis dan memecahkan masalah tertentu.
Konseling menggunakan kartu tarot dapat membantu mengungkapkan emosi dan menyelesaikan masalah dan tak jarang pembacaannya akurat. Hal ini menimbulkan pertanyaan di sebagian kalangan masyarakat saat ini. Apabila dapat dijelaskan secara psikologis maupun keilmuan lainnya, teori kartu tarot sebagai ramalan tidak berlaku. Akan tetapi, dengan masih adanya anggapan bahwa kartu tarot merupakan hal yang berhubungan dengan mistis, diperlukan batasan antara kartu tarot sebagai alat bantu psikologi dengan mistis.
METODE
Metode penelitian yang dilakukan yaitu menggunakan pendekatan secara kualitatif dengan pengumpulan data berupa kuesioner dan kajian literatur. Kuesioner yang disebarluaskan secara acak digunakan untuk mengetahui kesan visual Kartu Tarot Nusantara. Setelah itu, data yang diperoleh dari wawancara tersebut dianalisis secara tematik dengan menggunakan teknik analisis isi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini dibatasi pada citra Kartu Tarot Nusantara secara visual, yang meliputi warna, ilustrasi, dan gaya visual desain kartu tersebut sehingga data dan analisis yang dilakukan dalam pembahasan ini juga hanya terbatas pada citra dan kesan secara visual dari kartu tersebut.
Tarot Nusantara diciptakan oleh Hisyam A. Fachri dengan menggaet ilustrator Sweta Kartika. Tarot Nusantara diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media pada 2009. Kartu ini mengadaptasi kartu A. E. Waite dan menyesuaikan visualnya dengan nuansa Nusantara yang didominasi dengan unsur Jawa kuno yang mewakili simbol Kerajaan Mataram. Gambar pada elemen tongkat mengusung budaya Jawa-Bali yang didominasi warna merah dan kecokelatan yang mewakili unsur tongkat, yaitu api. Tiap karakternya divisualisasikan menggunakan motif batik Jawa dan Bali. Elemen koin merujuk pada budaya Tana Toraja yang mengusung unsur tanah dengan rujukan warna kain tenun Tana Toraja. Elemen pedang merujuk pada budaya Kalimantan, yakni suku Dayak. Kartu ini memperlihatkan tato suku Dayak yang konon merujuk Dewa Angin Waprakesvara pada masa kekuasaan Kutai di era Kerajaan Hindu-Buddha Kuno. Elemen piala dengan unsur air digambarkan dengan budaya suku Sentani di Papua yang berdomisili di pinggir Danau Sentani. Corak kain pada arcana ini mengacu pada ukiran kayu Sentani dan kain perempuan Sentani yang kebanyakan mengusung ikon ikan dan binatang melata.
Untuk mengetahui citra Kartu Tarot Nusantara di masyarakat Indonesia, dilakukan pengumpulan data
melalui kuesioner. Adapun pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner tersebut merupakan pertanyaan terbuka sehingga dapat diperoleh data yang objektif dari masyarakat mengenai citra Kartu Tarot Nusantara. Dari hasil sebaran kuesioner tersebut, didapatkan data seperti pada tabel berikut.
Berdasarkan paparan data dari ta-
Gambar 1. Visual Kartu Tarot Nusantara (Arcana Mayor) Sumber: www.deviantart.com/transbonja
Gambar 2. Visual Kartu Tarot Nusantara (Arcana Minor) Sumber: www.deviantart.com/transbonja
Gambar 3. Visual Kartu Tarot Nusantara (Arcana Minor) Sumber: www.deviantart.com/transbonja
TABEL I PAPARAN DATA KESAN KARTU TAROT NUSANTARA (GENERAL)
| Kesan Visual oleh Responden | Jumlah Responden |
| Vintage, klasik, kuno, tua | 4 orang |
| Terdapat unsur magis | 1 orang |
| Unik, jarang ditemui, lokal, khas pewayangan | 7 orang |
| Bagus, keren, menarik | 8 orang |
| Spiritual | 2 orang |
| Tidak bisa dipahami, kurang tahu | 2 orang |
| Biasa saja seperti tarot pada umumnya | 1 orang |
| Misterius | 2 orang |
| Imajinatif | 1 orang |
| Dark | 1 orang |
| Kurang padu antara budaya barat dan timur | 2 orang |
| Tidak tertarik | 1 orang |
| Terkesan bermakna | 2 orang |
| Familiar | 1 orang |
| Tidak terkesan horor | 1 orang |
bel I, ditemukan bahwa citra Kartu Tarot Nusantara memiliki kesan secara umum yang cukup beragam seperti citra secara positif, negatif, dan cenderung netral. Dari data yang diperoleh juga, kesan yang didapatkan lebih didominasi oleh kesan positif. Citra positif tersebut didasari oleh kesan yang menarik dan unik dari desain visual secara keseluruhan. Selain menarik dan unik, kesan familiar juga didapatkan dari citra Kartu Tarot Nusantara tersebut melalui visual yang merepresentasikan budaya-budaya khas Indonesia.
TABEL II PAPARAN DATA KESAN ILUSTRASI KARTU TAROT NUSANTARA
| Citra yang Dihasilkan | Jumlah Responden | Kesan dari Citra |
|---|---|---|
| Jawa Banget | ||
| Unik | ||
| Seperti Wayang | ||
| Familiar | ||
| Tradisional | 23 orang | Positif |
| Nusantara/Indonesia | ||
| Menarik | ||
| Bagus | ||
| Keren | ||
| Asing | ||
| Tidak Nusantara | 3 orang | Negatif |
| Tidak Menarik | ||
| Netral | 10 orang | Netral |
TABEL III PAPARAN DATA KESAN WARNA KARTU TAROT NUSANTARA
| Citra yang Dihasilkan | Jumlah Responden | Kesan dari Citra | |
|---|---|---|---|
| Menarik | Positif | ||
| Seperti warna rempah-rempah Indo | 26 orang | ||
| nesia | |||
| Jawa | |||
| Historical | |||
| Earth tone | |||
| Hangat | |||
| Romantis | |||
| Vintage, old-style | |||
| Dramatis | |||
| Eye catching | |||
| Kumuh | Negatif | ||
| Kurang menarik | 6 orang | ||
| Terlalu vibran | |||
| Mistis | |||
| Tidak Selaras | |||
| Tidak padu dengan konsep Tarot | |||
| Netral | 7 orang | Netral | |
Berdasarkan paparan data di atas, kesan dominan pada Kartu Tarot Nusantara adalah tradisional dan mampu merepresentasikan budaya Nusantara. Meskipun lebih dominan pada ilustrasi yang mewakili tradisi Jawa dan pewayangan, gaya ilustrasi pada Kartu Tarot Nusantara memiliki anatomi yang panjang dan ramping, terutama pada bagian tangan, kaki, dan jari jemari.
Ilustrasi Kartu Tarot Nusantara yang terkesan seperti budaya Indonesia direpresentasikan oleh ilustrasi wayang dalam kartu tarot tersebut. Ilustrasi pewayangan mendominasi visualisasi secara general dalam desain kartu tarot tersebut. Pewayangan kerap diasosiasikan dengan kesan kuat terhadap kata "tradisional", "budaya", "Jawa", "Indonesia", dan "Nusantara". Hal tersebut juga dijelaskan oleh Purwanto (dalam Rohman, et.al, 2020) bahwa secara harfiah wayang merupakan bahasa Jawa yang berarti bayangan (pertunjukan wayang dengan memainkan bayangan). Rohman, et.al (2020) sendiri juga menjelaskan wayang memang diakui secara internasional sebagai media representasi budaya Indonesia. Hal ini yang menyebabkan citra yang muncul dalam kartu tarot "Nusantara" berkesan "tradisional", "budaya", "Jawa", "Indonesia", dan "Nusantara".
Warna yang terkesan secara menyeluruh dalam visual Kartu Tarot "Nusantara" memiliki kecenderungan berwarna hangat dengan dominasi warna kuning pudar dan merah tua yang terkesan "hangat", "kuno", "kumuh" dan "rempah-rempah". Kesan-kesan tersebut kerap diasosiasikan dengan representasi dari budaya Jawa dan budaya Indonesia. Penyebab hal tersebut dijelaskan oleh Syarif (2018) bahwa warna telah membentuk sejarah, emosi, dan keyakinan budaya yang berbeda selama berabad-abad. Warna merupakan proses semiotis di masyarakat dan telah menjadi tanda budaya bagi penuturnya. Berbagai konsep warna telah dikaitkan dengan budaya yang merepresentasikan pandangan atau cara berpikir masyarakat Hasyim (dalam Syarif, 2018). Pada khususnya, suku Jawa memaknai warna seperti pada umumnya suku-suku pada budaya yang lain di Indonesia. Seperti warna merah, hitam, putih, kuning (emas), dan hijau merupakan warna yang identik dengan budaya Jawa (Syarif, 2018). Jika dikaitkan dengan ilustrasi wayang dalam Kartu Tarot Nusantara yang juga merepresentasikan budaya Jawa hingga Indonesia, pernyataan bahwa warna-warna yang terdapat dalam Kartu Tarot Nusantara memang selaras dengan ilustrasi dan kesan yang dihasilkan.
Selain warna-warna dominan yang merepresentasikan budaya Jawa hingga Indonesia, terdapat beberapa warna vibran yang terkesan menjadi penarik perhatian audiens karena warnanya memiliki tingkat saturasi yang berbeda jauh. Warna-warna tersebut meliputi warna fuchia, merah hati, hijau neon, dan ungu, sedangkan dalam karya-karya tradisional Nusantara tidak terbiasa menggunakan warna-warna ini. Sebaliknya, perlu digaris bawahi bahwa karya wayang Indonesia memiliki kedekatan dengan karya-karya dalam budaya India. Terlebih warna-warna vibrant juga banyak digunakan dalam karya-karya budaya India seperti pada salah satu artikel dari color-meanings.com yang menjelaskan warna-warna India meliputi warna merah, kuning, hijau, biru, orange jeruk, dan pink. Warna terang dan cerah dalam budaya India dikaitkan dengan kebahagiaan, kemakmuran, dan gairah. Di India, simbolisme warna dikaitkan dengan kelompok sosial, hierarki kasta, dan kelahiran dari masyarakat India.
SIMPULAN
Ilustrasi di dalam kartu memberikan kesan familiar bagi sebagian audiens karena mengandung unsur-unsur yang biasa ditemui di dunia nyata oleh audiens. Hal ini sebagai salah satu bukti keberhasilan Sweta Kartika untuk menghadirkan unsur-unsur Nusantara. Dalam buku petunjuk yang didapat ketika membeli katu ini, terdapat penjelasan bahwa visual dalam kartu ini merupakan kombinasi beberapa budaya. Namun, hasil kuisioner dari audiens membuktikan budaya yang paling dominan muncul adalah budaya Jawa. Oleh karena itu, terdapat juga audiens yang merasa bahwa kartu ini masih kurang mampu mewakili "Nusantara". Hal ini karena penggunaan budaya yang kurang merata dan penggunaan warna yang masih kurang tepat. Bahkan, penggunaan warna yang vibrant dalam sebagian kartu justru merepresentasikan budaya India.
Dalam usaha Sweta Kartika dan Hisyam Fachri memadukan budaya Indonesia dan tarot, dengan mempertahankan penafsiran dari kartu tarot. Namun, Kartu Tarot "Nusantara" belum dapat secara sepenuhnya menghilangkan kesan supranatural yang juga diwakili oleh kata magis dan mistis yang disampaikan oleh audiens. Hal ini terjadi karena penggunaan tokoh-tokoh dalam ilustrasi dan warnanya. Tokoh-tokoh yang digunakan banyak menggambarkan tokoh dari kayangan seperti malaikat, raja, dan ratu. Sebaliknya, banyak juga digunakan tokoh ghaib seperti setan dan iblis. Warna-warna yang digunakan juga didominasi oleh warna-warna yang bersaturasi rendah seperti biru kusam, cokelat gelap, kuning kusam, dan hitam. Warna-warna tersebut memberikan kesan yang deep dan dark.
Terlepas dari bagaimana kesan kartu tarot "nusantara" di masyarakat, namun dalam kartu ini kita bisa banyak mengagumi budaya Indonesia, seperti penggunaan tokoh pewayangan, ornamen batik, awan mega mendung, dan gunungan wayang. Selain didistribusikan di dalam negeri, kartu ini juga didistribusikan ke luar negeri dan bahkan menjadi salah satu collectible item sehingga Kartu Tarot "Nusantara" juga dapat menjadi medium yang baik untuk mengenalkan budaya nusantara kepada dunia.
Saran untuk penelitian berikutnya yang ingin menganalisis bagaimana citra dapat dibentuk dari visual suatu tarot, sebaiknya menyajikan data secara netral terlebih dahulu, contohnya dengan menyajikan visual tarot tanpa menampilkan kata "tarot". Kata "tarot" memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat Indonesia sehingga apabila terdapat nama tarot, audiens tidak bisa menyampaikan kesan secara netral dan terdistraksi oleh kesan kata "tarot" itu sendiri.
