1. Home
  2. Archives
  3. Vol 1 (2023) Issue 2
  4. Articles

Menelusuri Fenomena Budaya Foto Polaroid dari Analog ke Digital sebagai Pembentukan Citra

Abstract

Artikel ini menunjukkan pergeseran fenomena budaya foto polaroid dari era analog ke era digital dan dampaknya terhadap pembentukan citra. Polaroid telah menjadi simbol kuat dengan kemampuan menghasilkan foto instan yang dapat dilihat langsung secara fisik. Dengan kemajuan teknologi digital, fotografi polaroid masih diminati dan mampu beradaptasi hingga saat ini. Perkembangan kamera digital dan aplikasi smartphone memungkinkan pengguna memotret dan mengedit gambar secara instan dengan tetap menggunakan citra polaroid sebelumnya. Hal ini mengarah pada munculnya pergerakan revolusi kultur visual polaroid dalam bentuk filter digital dan platform media sosial yang tetap mengapresiasi estetika foto polaroid. Melalui pendekatan kualitatif, artikel ini memperlihatkan perkembangan foto polaroid dari analog ke digital sehingga membentuk citra dalam modernitas budaya. Penelitian ini membentuk wawasan baru terhadap pergeseran teknologi dapat memengaruhi makna dan persepsi terhadap foto polaroid saat ini.kata kunci: citra, budaya, makna, polaroid This article aims to show the shifting process of the cultural phenomenon of Polaroid photography from the analog era to the digital era and its impact on image production up to the present day. Polaroid has become a strong symbol with its ability to produce instant photos that can be seen physically. With the current advancements in digital technology, Polaroid photography has undergone significant changes in creating its meaning. The development of digital cameras and smartphone applications allows users to easily capture and edit images instantly while still adapting the previous Polaroid image. This has led to the emergence of a visual cultural revolution movement in the form of digital filters and social media platforms that continue to appreciate the aesthetics of Polaroid photos. Through a qualitative approach, this article will analyze the process of Polaroid photo development from analog to digital, thus shaping the image in cultural modernity. This research will also provide new insights into how technological shifts can affect the meaning and perception of Polaroid photos today.Keywords: image, culture, meaning, polaroid

Keywords

Keywords: image, culture, meaning, polaroid

PENDAHULUAN

Fotografi analog terus mengalami perkembangan sebagai salah satu bagian dari media sebab adanya adaptasi berupa digitalisasi dan cara membagi hasil foto yang bersifat instan. Pada dasarnya, fotografi analog tradisional memerlukan tiga tahap untuk menghasilkan foto, yaitu pengambilan foto dengan kamera, pencucian film, hingga penyebaran ke publik dalam bentuk hasil cetak (Adams, 2019). Menurut Oliveira (2019), fotografi analog memerlukan konsep baru untuk memperluas makna dengan memanfaatkan keberadaan teknologi. Perluasan makna tersebut dapat menjelaskan foto sebagai objek telah berkembang dari makna historis menjadi objek yang menjelaskan keadaan saat ini sehingga perspektif foto bertambah luas.

Polaroid masih diminati karena sifatnya yang instan dan fisik. Kemampuan untuk melihat hasil foto secara langsung memberikan kekuatan hubungan pengamat dengan momen yang terbentuk pada foto. Keunikan ini

memberikan pengalaman yang berbeda dari fotografi digital, sehingga hasil foto dapat dilihat dan disentuh secara nyata. Meskipun teknologi digital memberikan kenyamanan dan kecepatan dalam mengambil foto, banyak orang masih tertarik dengan pengambilan momen dengan polaroid. Hal ini didukung oleh kenaikan produksi kamera INSTAX Fujifilm sebanyak 20% (Fujifilm Reinforces Production Facilities for INSTAX Films, 2023) karena tingginya permintaan konsumen terhadap jenis kamera tersebut pada 2023.

Dalam perkembangannya, citra visual foto polaroid tetap menarik dan diminati karena memiliki kemampuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Munculnya filter digital yang meminjam tampilan foto polaroid, aplikasi khusus untuk mengedit dan membagikan foto dengan citra foto polaroid, serta platform media sosial yang memungkinkan pengguna untuk berbagi hasil jepretan polaroid secara luas, telah menghidupkan kembali minat serta penggunaan polaroid dalam bentuk yang baru. Pada era baru, polaroid tetap mampu bertahan dengan memanfaatkan teknologi sehingga mampu memberikan sirkulasi informasi dan kemudahan penggunaan kamera. Dalam perkembangannya, polaroid dapat mempertahankan sisi teknik dan simbolik foto analog serta memanfaatkan perkembangan teknologi digital (Margadona, 2023). Inovasi ini membuat foto polaroid dapat membentuk makna melalui metode pengambilan foto dan sisi citra visual sebab media fotografi yang berbeda memengaruhi konsep dan makna yang ada pada foto (Stockholm University, SE &

Callahan, 2018). Melalui penelitian ini, peneliti mengkaji perubahan teknologi dan pergeseran produksi foto polaroid sebagai pembentukan citra yang dikonsumsi dan diinterpretasikan. Pembahasan ini akan mengkaji penyebab foto polaroid masih diminati serta pengaruhnya sebagai sebuah bentuk perluasan makna dan fungsi hingga saat ini.

PEMBENTUKAN CITRA PADA POLAROID

Citra merupakan pengetahuan dan sikap (Soemirat & Ardianto, 2007), kesan, perasaan, dan gambaran (Canton dalam Sukatendel, 1990) yang dimiliki oleh kelompok terhadap seseorang, perusahaan, aktivitas maupun objek yang sengaja diciptakan untuk memiliki nilai positif (Sukatendel dalam Soemirat & Ardianto, 2007) dan dapat berbeda dengan realitas sesungguhnya (Rakhmad dalam Soemirat dan Ardianto, 2007). Maka dari itu, citra dapat diartikan sebagai gambaran yang didapat oleh lingkungan di sekitar atau pihak lain sebagai hasil pengalaman dan pengetahuan tentang suatu objek. Citra polaroid membentuk gambaran atau kesan spontan, cepat, serta memiliki makna tersendiri.

Citra dapat terbentuk dari pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima seseorang. Komunikasi yang terjadi dapat menimbulkan perilaku tertentu dan cenderung memengaruhi cara individu mengorganisasikan citra tentang sosial (Elviaro, 1995). Menurut Nimpoerno (dalam Soemirat & Ardianto, 2007), pembentukan citra secara kognitif dapat dijelaskan dalam struktur teori sistem komunikasi. Proses tersebut dijelaskan dalam bagan pada gambar 1.

2

Gambar 1 Skema model pembentukan citra pengalaman stimulus (sumber: Soemirat dan Elvinaro, 2007)

Pembentukan citra pada foto polaroid terjadi saat manusia mendapat stimulus atau rangsangan dari luar. Pada konteks foto polaroid, stimulus pembentuk citra dapat berupa informasi yang berasal dari luar, seperti objek yang difoto, cahaya, komposisi visual, dan konteks lingkungan tempat pengambilan gambar. Kontak langsung secara fisik menjadi rangsangan visual yang memengaruhi pembentukan citra. Terdapat empat faktor yang dapat memengaruhi stimulus sampai akhirnya membentuk respons atau perilaku pada objek polaroid. Empat faktor tersebut adalah persepsi, kognisi, motivasi, dan sikap.

Persepsi terjadi ketika individu mengamati unsur-unsur pada foto polaroid dan mengaitkannya dengan pemahaman mereka. Proses informasi visual yang terlihat dalam foto menjadi salah satu contoh persepsi sehingga terbangun pemahaman tentang objek dalam foto serta konteks foto tersebut. Kognisi berkaitan dengan pengetahuan, keyakinan, dan konsep yang dimiliki individu. Dalam konteks foto polaroid, kognisi individu berperan dalam memahami objek yang difoto serta hubungannya dengan pengetahuan sebelumnya sehingga terbentuk ide atau konsep tentang foto polaroid. Motivasi individu juga dapat memengaruhi pembentukan citra pada foto

polaroid, seperti minat pribadi, preferensi estetika, dan eksistensi individual dalam masyarakat. Motivasi individu ini dapat memengaruhi cara seseorang melihat, memilih, dan mengevaluasi objek. Faktor terakhir adalah sikap yang merupakan hasil evaluasi individu terhadap konsekuensi-konsekuensi penggunaan suatu objek. Dalam konteks foto polaroid, sikap muncul dalam respons individu terhadap kepuasan mengenai hasil foto. Keempat faktor tersebut dapat menghasilkan perilaku atau respons terhadap citra foto polaroid. Perilaku dan respons dapat berupa aktivitas seperti memamerkan foto kepada orang lain, mengunggahnya ke media sosial, atau menggunakan gambar sebagai sarana ekspresi diri. Perilaku ini mencerminkan cara individu berinteraksi dengan foto polaroid yang menghasilkan makna dan memengaruhi persepsi dan citra yang terbentuk dari gambar tersebut.

Berdasarkan skema pembentukan citra, dapat disimpulkan bahwa pembentukan citra pada foto polaroid melibatkan stimulus visual, persepsi, kognisi, motivasi, sikap, perilaku, dan respons individu terhadap foto polaroid. Aspek tersebut memengaruhi persepsi individu saat melihat foto dengan frame Polaroid dalam pembentukan interpretasi makna historis.

REVOLUSI BUDAYA VISUAL PADA FOTOGRAFI POLAROID

Perkembangan teknologi mulai memengaruhi pemaknaan ulang polaroid sebagai suatu objek. Perkembangan tersebut terjadi karena munculnya modernitas yang membentuk logika kebaruan (Sugiharto, 2019) sehingga terjadi pembentukan kultural baru yang diterjemahkan ulang sebagai bentuk kerangka baru. Modernitas ini memengaruhi sebuah citra foto polaroid menjadi bentuk interpretasi baru, didukung oleh logika kebaruan tersebut. Bahwa kini sebuah foto melalui foto polaroid bisa dibentuk dan diciptakan, tidak hanya membekukan sebuah momen historis tertentu (Pâquet, 2019), tetapi juga sebagai instrumen penciptaan memori.

Foto polaroid yang dulunya memiliki fungsi untuk menangkap momen sekarang memiliki pertambahan makna dan fungsi. Foto polaroid pada pembentukan historis atau momen tertentu dihasilkan melalui bentuk yang dikonversi ke dalam sebuah objek lembar foto (Buse, 2020). Polaroid kemudian memiliki perpanjangan makna sebagai kumpulan fragmen kehidupan sehari-hari (Le Moignan dkk., 2017) dengan adanya perkembangan teknologi yang dapat memungkinkan foto polaroid dikonversi dalam bentuk digital. Perkembangan tersebut juga menunjukkan bahwa foto polaroid memiliki pertambahan fungsi baru untuk membuat momen yang dapat menerangkan apa yang terjadi saat ini (Hand, 2020).

Hal tersebut menunjukkan proses terbentuknya revolusi dalam kultur visual pada sebuah foto polaroid. Revolusi ini terbentuk sebagai respons terhadap

perkembangan teknologi digital dan penyebaran citra digital dalam sebuah budaya interpretasi foto polaroid. Revolusi budaya visual merupakan salah satu bentuk perubahan dalam cara orang memahami, menciptakan, dan mengonsumsi gambar secara visual (Hall, 1997). Dengan adanya perkembangan tersebut, polaroid kini memiliki pemikiran yang luas karena adanya pertambahan pola konsumsi baru untuk menikmati citra visualnya melalui sebuah bentuk digital.

Revolusi kultur visual didorong oleh beberapa faktor (Factory, 2004). Pertama, perkembangan teknologi digital pada media sosial dan fitur filter pada proses pasca produksi foto (Liu, 2022) telah mengubah cara kita menciptakan, memproses, dan membagikan foto. Pergeseran paradigma komunikasi visual telah memengaruhi revolusi kultur visual. Polaroid pada bentuk visual sekarang menjadi bahasa universal yang dapat dengan cepat dan mudah dikomunikasikan melalui platform digital dan media sosial (Zappavigna, 2016).

Polaroid yang dihasilkan di sosial media tidak lagi membahas komposisi dan teknisnya, tetapi mengalami perluasan bahwa polaroid dapat dirancang untuk menerangkan apa yang terjadi saat ini melalui sebuah filter tertentu. Foto yang dihasilkan diproses dengan menggunakan citra polaroid pada media sosial menggunakan serangkaian teknik pasca-pemrosesan (Liu, 2022). Hal ini menekankan peran penting media sosial dalam mengonfigurasi ulang hasil produksi foto pada keseharian (Hand, 2020). Perkembangan teknologi yang memengaruhi perubahan perilaku manusia pada foto (Jensen, 2014) dijelaskan melalui skema pada gambar 2.

2

Gambar 2 Skema perluasan makna (sumber: dokumentasi pribadi)

Perpanjangan makna dan fungsi yang terbentuk dalam perkembangan foto polaroid dapat menggambarkan cara bias kehidupan nyata dan virtual membentuk interkoneksi antara keduanya (Serafinelli, 2017). Oleh karena itu, foto polaroid kini dapat hadir pada berbagai momen juga dapat menyampaikan pesan yang lebih ekspresif. Foto polaroid mengalami perluasan makna dan fungsi sebagai bagian dari objek desain, di dalamnya mengandung pesan yang dapat dikomunikasikan sehingga perkembangan makna dan fungsi foto polaroid dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dan memperluas penyampaian pesan pada objek desain.

MEMAKNAI CITRA FOTO POLA-ROID DARI ASPEK EPISTEMOLO-GI

Citra pada epistemologi dapat dilihat secara mendalam melalui proses dalam usaha individu memperoleh struktur, metode, dan validitas sosial (Uhi, 2016). Dalam konteks objek foto polaroid, epistemologi berperan penting dalam memahami dasar-dasar pengetahuan tentang citra yang dihasilkan melalui foto polaroid. Epistemologi membahas pertanyaan mendasar mengenai sifat, batasan, dan keberadaan pengetahuan yang dapat diperoleh melalui citra foto polaroid.

Setelah fotografi analog masuk ke perkembangan digital, konsep epistemologi dalam konteks foto polaroid juga mengalami perubahan yang signifikan. Masuknya platform digital dan media sosial telah memberikan perluasan makna pada foto, namun juga menyebabkan hilangnya beberapa elemen yang terkait dengan epistemologi tradisional foto polaroid.

Foto polaroid yang dulunya memiliki makna tetap sekarang berubah sehingga memiliki makna tidak tetap. Fotografi dengan makna tetap didasari oleh film negatif dan bentuk fisik cetak sebuah foto. Sebelumnya, proses fotografi dimulai dengan mencari material yang tepat untuk dimasukkan ke dalam kamera, untuk menangkap gambar hingga mencetak hasil gambar (Bamberg, 2012), sekarang

foto berpusat pada bentuk visual yang dihasilkan. Elemen fotografi yang berupa file digital kini dapat diproduksi, direproduksi, dibagikan secara digital, dan tidak dicetak, tetapi ditampilkan pada layar (Cobley & Haeffner, 2009). Selain itu, foto juga terbuka untuk dimanipulasi, mudah dibagikan, mobile, dan dapat dilihat pada layar dan bertahan sebentar, dapat dihapus, dan dapat dihilangkan tanpa usaha yang besar (Bull, 2010). Dengan demikian, dengan adanya teknologi, foto dapat berfungsi sebagai cerminan objek asli dan juga dapat mengubah bentuk objek aslinya.

Dalam era digital dan media sosial, foto polaroid tidak hanya dianggap sebagai representasi akurat dari realitas sehingga dapat mengakibatkan lenyapnya batas-batas yang ada. Penyebaran foto polaroid melalui platform digital memungkinkan manipulasi, penyuntingan, dan pengeditan yang luas sehingga mengaburkan batas antara citra asli dan citra yang diubah. Hal ini menyebabkan foto polaroid mampu bertahan di tengah perkembangan teknologi digital sehingga objek tersebut dapat memberi opsi pada individu dalam memperluas persepsi pada berbagai makna foto yang dihasilkan.

Dengan demikian, epistemologi menjelaskan perubahan objek foto secara signifikan setelah analog masuk ke perkembangan digital dengan membiaskan citra baru yang terbentuk. Pengaruh platform digital dan media sosial menyebabkan perluasan makna foto, namun juga menghilangkan beberapa elemen konvensional yang terkait dengan epistemologi foto polaroid.

MEMAKNAI CITRA FOTO POLA-ROID DARI ASPEK ONTOLOGI

Ontologi merupakan konsep yang menggambarkan eksistensi sebuah objek, baik dalam hierarki, fungsi, maupun relasi objek dengan sebuah budaya yang ada (Jiang dkk., 2005). Ontologi dapat menentukan citra pada sebuah foto polaroid untuk memudahkan sosial memahami konsep budaya (Thomasson, 2005). Pembentukan citra memerlukan latar belakang budaya yang kuat untuk menentukan eksistensi foto polaroid.

Cerminan Realitas Objek Foto Polaroid

Foto polaroid merupakan hasil pembekuan cahaya sebuah objek fisik menjadi susunan bentuk visual pada permukaan kertas. Sebagai sebuah objek, foto polaroid merupakan bentuk material fisik ruang dan waktu yang dibentuk dari momen yang memiliki hubungan emosional dengan manusia dan menjadi bagian dalam praktik keseharian. Berdasarkan sudut pandang nilai, objek yang ada dalam foto polaroid tersebut tidak hanya bentuk representasi suatu hal, melainkan subjek yang menggambarkan realitas kejadian asli atau momen sebenarnya yang sedang dilihat oleh pengambil foto (Scruton, 1981). Hal ini menunjukkan bahwa hasil foto tersebut merupakan makna yang dipahami oleh pengambil foto.

Kepuasan atas Ketidaksempurnaan pada Foto Polaroid

Foto polaroid merupakan bentuk fotografi analog yang mampu beradaptasi di tengah perkembangan teknologi media. Bagi penggunanya, polaroid memberikan kesan tidak terduga dan tidak sempurna pada hasil fotonya (Buse, 2010). Proses menunggu hasil dan ekspektasi yang dialami oleh pengguna polaroid ini dianggap memberikan pengalaman berupa kepuasan tersendiri. Proses menunggu hasil cetak foto langsung dari kamera polaroid dengan visibilitas yang tidak tajam memberi kesan ritual bagi individu pengguna yang mengalami rasa jenuh dengan teknologi yang selalu terkesan sempurna (Han, 2020). Menurut Elkins

(2007), manusia selalu ingin terendam dalam perasaan menolak keadaan sekarang untuk kembali merasakan euphoria dalam nostalgia. Hal ini diwakili oleh pengalaman yang diberikan oleh kamera polaroid yang dianggap autentik.

Memiliki sifat yang kontradiktif, fotografi digital seolah-olah sudah dimanipulasi secara digital sebab adanya teknologi yang membuat foto dihasilkan dalam bentuk bit. Hal ini menyebabkan foto tidak lagi terasa seperti gambaran asli yang menggambarkan objek dan manusia yang apa adanya (Morlot, 2013). Pengambilan foto dengan analog dipengaruhi oleh insting, kemauan, dan pertimbangan dibanding dengan fotografer digital saat ini yang cenderung lebih impulsif, namun pada proses post-produksi hingga pencetakan hasil foto, fotografer sadar akan tindakan pengambilan gambar yang ia lakukan (Bamberg, 2012). Foto polaroid dianggap dapat menangkap momen asli sebab kamera selalu diletakkan di tengah objek, pencahayaan yang tidak dapat diatur, kontras, tidak tajam, dan latar belakang objek yang ditampilkan dalam kualitas yang sederhana (Stockholm University, SE and Callahan, 2018), warna yang dihasilkan dari foto polaroid juga memiliki kesan kuno tanpa kontras tinggi (Morlot, 2013) dengan jumlah film yang terbatas (Edwards, 2012). Fotografi dengan timing (waktu) pengambilan pada momen dan konteks yang sama pula dapat menciptakan makna yang berbeda (Bamberg, 2012). Hal ini yang memberikan kesan relasi tersendiri antara pemilik foto polaroid dengan hasil foto.

MEMAKNAI CITRA FOTO POLA-ROID DARI ASPEK DROMOLOGI

Dromologi citra pada perkembangan foto polaroid membentuk hubungan antara citra yang cepat dan makna dalam teknologi

polaroid (Batchen, 2001) dengan melibatkan pemahaman tentang cara teknologi memengaruhi pengalaman waktu dan ruang (Wells, 2011) dalam pembentukan modernitas pada foto polaroid.

Dalam konteks perkembangan Polaroid, dromologi citra dapat dilihat berdasarkan pembentukan aspek-aspek berikut.

1. Kecepatan Pembentukan Citra

Polaroid dengan kemampuan secara instan mengubah cara individu berinteraksi dengan foto, karena tidak perlu menunggu pengembangan yang lebih lama seperti pada film analog lainnya (Factory, 2004). Polaroid masih diminati karena telah membentuk budaya dalam menikmati momen pada sebuah lembar foto (Buse, 2020). Dengan kecepatan menghasilkan foto tersebut, polaroid membentuk hubungan yang kuat antara pembentukan foto oleh pengguna dengan nilai historis dari fotografi.

2. Membagikan Foto Polaroid dengan Cepat

Perkembangan teknologi berupa filter foto polaroid mengakibatkan adanya penambahan makna baru (Pâquet, 2019) sebagai bentuk komunikasi sekunder dengan objek aslinya (Romney and Johnson, 2020). Objek frame putih foto polaroid mampu membuka kesadaran individu atau kelompok akan realitasnya hingga membangun ciri khas mengenai hal tersebut (Bamberg, 2012). Oleh karena itu, teknologi polaroid juga memfasilitasi pembagian foto polaroid dengan cepat. Foto yang dihasilkan dengan kamera polaroid dapat segera diberikan atau dibagikan kepada orang lain tanpa perlu pengolahan tambahan. Hal ini memungkinkan pengalaman dan perayaan momen secara langsung.

3. Reproduksi dan Duplikasi

Foto polaroid yang berpusat pada fisiknya dapat diubah menjadi dokumen digital yang lebih mudah diproduksi dan dibagikan secara digital (Cobley & Haeffner, 2009). Polaroid memungkinkan foto diproduksi dengan mudah melalui perkembangan filter foto polaroid (Liu, 2022). Penggunaan teknologi tersebut dapat mengubah pengalaman dan praktik fotografi sehingga dapat menghasilkan foto polaroid dalam jumlah yang lebih banyak di rentang waktu yang sama. Hal ini memengaruhi cara individu melihat dan berinteraksi dengan foto polaroid, mengubah dinamika sosial, dan memperluas budaya citra foto polaroid.

SIMPULAN

Fenomena budaya foto polaroid

telah mengalami pergeseran yang signifikan dari era analog ke era digital. Dengan adanya kemajuan teknologi digital saat ini, polaroid sebelumnya hanya memiliki fungsi sebagai alat yang dapat menghasilkan foto instan yang secara langsung dilihat secara fisik. Munculnya teknologi filter dan aplikasi dalam smartphone menimbulkan perluasan pembentukan makna baik pada proses fotografi maupun objek foto polaroid. Perkembangan teknologi digital memudahkan pengguna untuk memotret dan mengedit foto secara instan dengan tetap mempertahankan estetika dan citra polaroid sebelumnya. Hal tersebut terbentuk karena adanya kemampuan filter digital yang mengadopsi gaya foto polaroid serta platform media sosial yang masih mengapresiasi dan mengedepankan makna foto polaroid tersebut.

Gambar 3 Foto Polaroid (sumber: dokumentasi probadi)

2

Gambar 4 Skema pengembangan makna citra Polaroid (sumber: dokumentasi pribadi)

Secara epistimologi, foto polaroid mengalami perubahan signifikan dan membentuk citra baru. Platform digital dan media sosial dapat memperluas makna foto polaroid dan menghilangkan beberapa elemen konvensional yang terkait dengan epistemologi foto polaroid. Berdasarkan aspek ontologinya, eksistensi foto polaroid memberikan kesan tidak terduga dan tidak sempurna pada hasil foto, pengambilan foto polaroid tetap digemari karena memberi kesan ritual bagi individu dan penggunanya yang mengalami rasa jenuh dengan teknologi yang terkesan sempurna. Dalam konteks dromologi, pergeseran foto polaroid dari analog ke digital mencerminkan perubahan kecepatan dalam menghasilkan objek foto polaroid. Hal tersebut dapat menghasilkan foto yang lebih mudah diproduksi dan dibagikan dengan tidak merubah citra visual foto polaroid sehingga memiliki relasi yang kuat antara nilai historis, bentuk objek fisik, dan kepraktisan.

Dengan memahami perkembangan ini, pengaruh, nilai, dan makna yang dimiliki foto polaroid dalam membentuk citra visual dapat dipahami. Penelitian ini juga memberikan pemahaman tentang cara teknologi dapat memberikan preferensi dan pengalaman yang signifikan bagi pengguna untuk memosisikan foto polaroid dalam praktik keseharian. Perubahan ini dapat dipahami sebagai bentuk apresiasi peran budaya visual dalam menghadapi perkembangan teknologi dan memahami cara citra dan makna terus berkembang dari bentuk analog hingga digital pada foto polaroid hingga saat ini.

References

  1. Bamberg, M. (2012): New image frontiers: defining the future of photography, Course Technology, Boston, MA, 246.
  2. Becker, Karin (1998) Bilden i den visuella kulturen/ The Image and Visual Culture. In Carl Heideken (ed.)
  3. Xposeptember Stockholm Fotofestival 1998. Stockholm: Xposeptember,
  4. Bull, S. (2010): Photography (Routledge introductions to media and communications), Routledge, London; New York, 240
  5. Buse, P. (2020). The camera does the rest: How Polaroid changed photography. University of Chicago Press.
  6. Cobley, P., & Haeffner, N. (2009). Digital cameras and domestic photography: communication, agency and structure. Visual Communication, 8(2), 123-146.
  7. Becker, K. (2004): Where is Visual Culture in Contemporary Theories of Media and Communication, Nordicom Review, 25(1–2), 149–157. https://doi.org/10.1515/nor-2017-0278 DOI: 10.1515/nor-2017-0278
  8. Buse, P. (2010): The Polaroid Image as Photo-Object, Journal of Visual Culture, 9(2), 189–207. https://doi.org/10.1177/1470412910372754 DOI: 10.1177/1470412910372754
  9. Edwards, E. (2012): Objects of Affect: Photography Beyond the Image, Annual Review of Anthropology, 41(1), 221–234. https://doi.org/10.1146/annurev-anthro-092611-145708 DOI: 10.1146/annurev-anthro-092611-145708
  10. Factory, T. I. (2004): The image factory: consumer culture, photography and the visual content industry, Choice Reviews Online, 42(04), 42-1978-42–1978.
  11. Elkins, J. (2007): Photography Theory (1st ed.), Routledge, 484.
  12. Hand, M. (2020): Photography meets social media: image making and sharing in a continually networked present. In The handbook of photography studies (pp. 310-326). Routledge.
  13. Jiang, S.-Q., Du, J., Huang, Q.-M., Huang, T.-J., and Gao, W. (2005): Visual Ontology Construction for Digitized Art Image Retrieval, J. Comput, Sci. & Technol., 20. https://doi.org/10.1007/s11390-005-0855-x DOI: 10.1007/s11390-005-0855-x
  14. Margadona, L. A. (2023): Understanding the New Analogue Photography: Meanings, Methodologies and Aesthetics, New Explorations, 3(1), 1097584ar. https://doi.org/10.7202/1097584ar DOI: 10.7202/1097584ar
  15. Morlot, E. (2013): Nostalgic consumption behaviours among young generations in photography: A comparative approach of Instagram and analogue photography.
  16. Scruton, R. (1981): Photography and Representation.
  17. Serafinelli, E. (2017). Analysis of photo sharing and visual social relationships: Instagram as a case study. photographies, 10(1), 91-111.
  18. Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro. 2007, Dasar-Dasar Public Relation Cetakan kelima, Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
  19. Stockholm University, SE, and Callahan, S. (2018): “The Analogue”: Conceptual Connotations of a Historical Medium, 287–319 in Stockholm University, SE, S. Petersson, C. Johansson, Stockholm University, SE, M. Holdar, Stockholm University, SE, S. Callahan, and Stockholm University, SE, eds., The Power of the In-Between: Intermediality as a Tool for Aesthetic Analysis and Critical Reflection, Stockholm University Press. https://doi.org/10.16993/baq.l DOI: 10.16993/baq.l
  20. Sugiharto, B. (2019): Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi, PT Kanisius, Yogyakarta.
  21. Thomasson, A. L. (2005): The Ontology of Art and Knowledge in Aesthetics, The Journal of Aesthetics and Art Criticism, 63(3), 221–229. https://doi.org/10.1111/j.0021-8529.2005.00202.x DOI: 10.1111/j.0021-8529.2005.00202.x
  22. Webster (1994): Visual: Webster’s Timeline History, 1993 - 1994, ICON Group, France.
  23. Uhi, Jannes Alexander. (2016): Filsafat Kebudayaan: Konstruksi Pemikiran Cornelis Anthonie van Peursen dan Catatan Reflektifnya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
  24. Pâquet, L. (2019): Selfie-Help: The Multimodal Appeal of Instagram Poetry, Journal of Popular Culture, 52(2), 296–314. https://doi.org/10.1111/jpcu.12780 DOI: 10.1111/jpcu.12780
  25. Zappavigna, M. (2016): Social media photography: construing subjectivity in Instagram images, Visual Communication, 15(3), 271–292. https://doi.org/10.1177/1470357216643220 DOI: 10.1177/1470357216643220