1. Home
  2. Archives
  3. Vol 1 (2023) Issue 2
  4. Articles

Peran Penting Tokoh Srikandi Sebagai Tokoh Transeksual Dalam Mahabarata Jawa Karya Nano Riantiarno

Abstract

Penelitian ini mengupas keberadaan tokoh Srikandi, tokoh transseksual dalam kisah Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur. Tujuan penelitian ini adalah membedah bagaimana Srikandi ditampilkan dalam kisah Mahabarata sebagai wakil dari komunitas transgender dan transseksual serta posisinya dalam alur utama cerita. Penjabaran hasil pembacaan dekat mengenai Srikandi dalam teks Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno digunakan untuk menemukan posisi Srikandi. Hasil analisis menunjukkan tokoh Srikandi memiliki arti nama dan posisi penting dalam kisah Mahabarata. Ia menjadi kunci dari kemenangan Pandawa melawan pasukan Kurawa. Srikandi yang dididik layaknya anak laki-laki, berlaku dan berdandan seperti lelaki, dan bertukar kelamin dengan seorang raksasa ditampilkan sebagai kesatria yang gagah dan berani. Peran tokoh srikandi dalam kisah Mahabarata Jawa memperlihatkan pada pembaca, kelompok transgender dan transeksual serta transformasi mereka bisa menjadi kunci dari keberhasilan suatu perjuangan mencapai tujuan. Mereka juga pantas mendapatkan peran penting di tengah masyarakat.

Keywords

PENDAHULUAN

Srikandi merupakan salah satu tokoh perempuan dalam kisah Mahabarata. Karakternya digambarkan sebagai wanita gagah perkasa dan berkiprah di bidang militer yang dalam kisah ini umumnya dikuasai oleh kaum pria. Srikandi terkenal dengan keahliannya dalam memanah dan perannya dalam peraihan kemenangan Pandawa melawan sepupu mereka di Padang Kurukshetra. Keberadaannya membuat Pandawa, melalui Arjuna, berhasil mengalahkan Bhisma yang merupakan salah satu ksatria terkuat dari pihak Kurawa. Berdasarkan sumber terjemahannya atau gubahannya, tokoh Srikandi rupanya seorang transeksual. Tokoh ini hadir dengan nama perempuan Shikhandini dan nama laki-laki Srikhandi. Dalam epos tersebut, Shikhandini atau Shikhandi muncul dalam tiga parwa atau bagian, yakni Adiparwa, Udyogaparwa, dan Bhismaparwa.

Kisah permulaan Shikhandini tidak jauh berbeda dengan versi Jawa, bahwa dia merupakan salah satu putri Panchala dan titisan dari putri Amba. Namun, Shikhandini yang merasa terkekang dengan keadaannya sebagai perempuan, melakukan pertapaan dan persetujuan dengan raksasa Sthunakarna. Perubahan kelamin Shikhandini terjadi dalam persetujuan tersebut sehingga kemudian namanya berubah menjadi Shikhandi. Keberadaan Shikhandi dan sifatnya ini mewakili pandangan masyarakat India yang berada di bawah pengaruh agama Hindu. Praktik Hindu di India telah sejak lama menoleransi atau menerima keberadaan kaum yang diwakili oleh tokoh Shikhandi. Ini selaras dengan pernyataan Damono (1977:1), gambaran kehidupan dapat muncul dalam sastra sementara kehidupan itu sendiri merupakan suatu kenyataan sosial. Bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat India maupun Hindu di sana menerima kaum Shikhandi muncul dalam relief di kuil, kitab-kitab suci, dan buku-buku agama. Bahkan kitab Mahabharata, yang menampilkan sosok Shikhandi, dianggap sebagai Weda kelima.

Perubahan muncul ketika terjadi dominasi Kerajaan Inggris terhadap India yang saat itu datang membawa hukum baru di bawah pengaruh ajaran Kristen. Menurut Harbans Mukhia dalam artikel berita yang dimuat di laman bbc. com berjudul "India Sudah Akui Hakhak LGBT Sejak Zaman Kuno, 'bukan karena pengaruh barat'" selama menduduki tanah India pemerintah kolonial Inggris mengadaptasi peraturan yang digunakan di wilayah Kerajaan Inggris. Peraturan tersebut adalah peraturan yang didasarkan pada ajaran agama Kristen. Salah satu poin yang paling penting adalah melarang perilaku homoseksual dan perilaku sejenisnya karena bertentangan dengan ajaran agama. Peraturan tersebut

berlaku sepanjang masa pemerintahan kolonial. Ketika pemerintahan kolonialisme berakhir, peraturan sedikit demi sedikit mulai berubah. Hal yang berkaitan dengan perilaku homoseksual dan sejenisnya yang dulu sempat dilabeli ilegal dilakukan banding ke pengadilan yang berbuah legalitas terhadap perilaku tersebut.

Sementara itu, ahli lain meyakini India lebih terbuka pada perilaku homoseksual sejak sebelum masa pemerintahan Inggris. Devdutt Patnaik menyatakan, relief di kuil, kitab-kitab suci, dan buku-buku agama memperlihatkan adanya aktivitas homoseksual yang dalam bentuk tertentu ada di India kuno walaupun bukan bagian arus utama. Keberadaannya diakui meskipun tidak disetujui. Rana Safvi menyebutkan sejumlah kuil dan kronik yang memperlihatkan homoseksualitas. Contoh-nya ada pada kuil di Kota Khajuraho di Madhya Pradesh yang didirikan antara tahun 950 dan 1050 oleh Dinasti Chandela atau pada Kuil Matahari yang dibangun abad ke-13 di Konark, sebelah timur Orissa dan Gua Biara Buddha, Ajanta dan Ellora, sebelah barat Maharashtra.

Mukhia menambahkan sejumlah catatan sejarah mengenai keberadaan komunitas LGBTQ+. Anak dari pemerintah kesultanan Delhi antara tahun 1296 hingga 1316, Alauddin Khalji, yang bernama Mubarak diketahui menjalin hubungan dengan seorang pria terhormat di lingkungannya.

Pendiri dinasti Mughal, Babur, menuliskan tanpa rasa malu bahwa ia jatuh cinta kepada seorang pria bernama Baburi. Meski artikel tersebut tidak menyinggung secara langsung mengenai komunitas transgender dan transeksual, dari sejumlah pernyataan para ahli yang tertulis di sana dapat disimpulkan bahwa masyarakat India telah menerima atau setidaknya menoleransi keberadaan komunitas ini sejak masa lampau. Hal tersebut dapat dilihat melalui catatan-catatan sejarah, kitab-kitab suci, relief kuil, dan mitologi India. Bahkan beberapa dewa dan dewi Hindu juga merupakan sosok transgender. Masih berlakunya peraturan tersebut pasca-kolonialisme disebabkan sifat apatis dalam diri para politisi dan ketidakpedulian masyarakat terhadap sejarah.

Di Indonesia, Srikandi sering dijadikan sebagai sebutan bagi wanita-wanita perkasa, gagah, berani, seorang pahlawan ataupun atlet, terutama atlet panahan. Masyarakat pada umumnya juga mengenali Srikandi sebagai salah satu istri dari Arjuna, penengah Pandawa, putra ketiga Prabu Dewanata. Dari dua hal tersebut telah jelas bahwa Srikandi yang dikenali dalam Mahabarata versi Nusantara adalah seorang perempuan yang dengan keahliannya mampu menjadi salah satu ksatria yang ikut bertarung dalam peperangan di antara Pandawa dan Kurawa. Ini berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Nano Riantiarno dalam bukunya, Mahabarata Jawa. Dalam novel yang terbit pertama kali pada tahun 2016 ini, Srikandi dilahirkan sebagai seorang perempuan yang kemudian berubah kelamin menjadi laki-laki untuk meminang Dewi Hiranyawati. Hingga perang Baratayudha pecah, Srikandi tetap muncul sebagai seorang pria dan ikut bertarung dalam perang antara dua kubu saudara tersebut. Berkatnya, Bhisma tumbang dan Pandawa unggul dari Kurawa. Keunikan karya ini ialah karena Mahabarata Jawa tetap mengangkat tokoh transeksual dan memberikan posisi penting dalam alur utamanya. Ini mungkin sikap mempertahankan karakter, terutama karena karya ini hampir seperti rangkuman dari berbagai versi Mahabarata yang pernah ada dan sempat dirangkum oleh penulis sehingga karakter Srikandi, atau Shikhandi dalam versi asalnya, yang merupakan seorang transeksual tetap diadakan dalam cerita. Di samping posisi Srikandi dalam cerita ini, keberadaannya juga

menonjolkan kepatriarkian lingkungan militer yang dapat diambil contohnya dari cara ia bisa mendapatkan tempat dalam pasukan Pandawa. Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah "Masculinity in Javanese People: How Does Arjuna Masculinity Describe in Javanese Version Of Mahabharata" oleh Pratiwi dkk (2022) yang membahas mengenai sifat-sifat maskulinitas Arjuna dalam Mahabharata versi Jawa yang kemudian menjadi acuan sebagai sifat lelaki sejati bagi masyarakat Jawa. Dalam penelitian ini, dipaparkan bagian dalam epos tersebut yang menunjukkan adanya sifat maskulin tokoh Arjuna berdasarkan empat sifat maskulin yang dikemukakan oleh David dan Brannon. Penelitian ini menunjukkan sifat atau karakter seorang tokoh dalam sastra dijadikan acuan nilai bagi masyarakat. Sementara dalam "Peran Penting Tokoh Srikandi Sebagai Tokoh Transeksual Dalam Mahabarata Jawa Karya Nano Riantiarno", penelitian lebih terfokus pada karakter Srikandi sebagai seorang transeksual. Objek yang dikaji di antara dua penelitian ini sama, yaitu novel Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno, hanya perbedaan terletak pada fokus kajian, yaitu karakter transeksual yang cenderung mendapatkan pandangan negatif di masyarakat berperan penting dalam jalannya cerita.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu kajian yang menitikberatkan pada segi kualitas atau mutu dan bukan angka. Data yang terkumpul dan cara analisisnya lebih bersifat kualitatif dan induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Data tersebut kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. Data yang didapat juga bersifat mendalam atau data-data yang mengandung makna. Penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih pada makna. Kondisi objek yang diteliti bersifat alamiah dan peneliti dalam penelitian ini bertugas sebagai instrumen kunci (Sugiyono, 2013:9).

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Studi literatur merupakan teknik pengumpulan data berdasarkan bahan bacaan, seperti media massa, jurnal ilmiah, buku, dan sejenisnya. Peneliti melakukan pembacaan mendalam terhadap sumber untuk menemukan data. Berikutnya, data tersebut dikaji kembali untuk dipilah mana yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno. Data tersebut nantinya dihimpun dan disajikan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Pembacaan mendalam pada bagian-bagian kemunculan tokoh Srikandi dilakukan sebagai langkah awal pengumpulan data dalam penelitian ini. Kemudian data-data tersebut dianalisis menggunakan teori strukturalisme untuk menemukan peran Srikandi dalam perang Baratayudha dilihat dari posisinya dalam kisah Mahabarata dan karakternya sebagai seorang transeksual.

Epos menjadi salah satu bentuk karya sastra yang umumnya menceritakan tentang kisah-kisah kepahlawanan. Bentuknya berupa syair panjang. Salah satu epos besar yang terkenal adalah epos Mahabharata karya Vyasa. Epos Mahabharata termasuk dalam karya sastra tertua dan terpanjang di dunia. Naskah babon kisah mengenai perebutan kekuasaan antara Pandawa dan Kurawa ini memiliki panjang 100.000 sloka, atau 200.000 baris. Di dalamnya terdapat 18 parwa atau bagian, yakni Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Shantiparwa, Anusasanapar-wa, Aswamedhikaparwa, Asramaparwa, Mausalaparwa, Mahaprasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa. Kitab Mahabharata mengandung narasi Bhagavad Gita, narasi yang berisikan tentang ajaran nasional untuk pengembangan India (Nivedita & Ananda K. Coomaraswamy dalam Munandar, 2022: 639).

Analisis terhadap sifat dari Srikandi dalam penelitian ini mengacu pada pernyataan Caplan (1986) bahwa gender dan pembagian perannya terbentuk atas dasar konstruksi sosial. Dalam himpunan artikelnya mengenai seksualitas dan gender, Caplan menunjukkan contoh-contoh hasil penelitian yang dilakukan di berbagai wilayah di dunia dan memperlihatkan bagaimana seksualitas, gender, dan peran mereka dalam suatu kelompok itu dikonstruksi oleh lingkungan sosial. Perbedaan perlakuan terhadap dan perilaku yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki selain disebabkan oleh faktor biologis, sebagian besar terjadi melalui proses sosial dan budaya. Tokoh Srikandi yang sengaja dibesarkan sebagai laki-laki hingga dia merasa perlu untuk mengubah organ genitalnya demi menuntaskan masalah perkawinan di antara dua kerajaan akan dilihat dari bagaimana lingkungannya membentuk tokoh transgender ini sepanjang cerita sehingga dia mendapatkan posisi penting dalam akhir dari epos ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Epos Mahabharata termasuk kitab yang paling terkenal di antara kitab-kitab lainnya. Kitab ini juga sering dianggap sebagai Weda kelima dan mencakup narasi Bhagavad Gita. Epos ini disusun oleh Vyasa pada tahun sekitar 400 SM dan selesai pada abad kurang lebih 4 M. Di dalamnya terkandung 100.000 sloka dan 18 parwa atau bagian. Dalam versi ini, tokoh Shikhandini dan Shikhandi muncul dalam tiga parwa, yaitu Adiparwa, Udyogaparwa, dan Bhismaparwa.

Shikhandi atau Shikhandini adalah tokoh penting dalam epik Mahabharata yang kisahnya mencakup tema kelahiran kembali, perubahan kelamin, serta peran penting dalam perang Kurukshetra. Dalam Bagian 1 (Adiparwa), Shikhandini diperkenalkan sebagai putri Raja Drupada dari Panchala. Dia merupakan reinkarnasi dari Amba, putri Raja Kashi, yang setelah dipermalukan oleh Bhisma, bersumpah untuk membalas dendam. Amba menjalani pertapaan (pertapaan keras) dan lahir kembali sebagai Shikhandini dengan tujuan utama membunuh Bhisma.

Peran Shikhandini berkembang lebih lanjut dalam Bagian 5 (Udyogaparwa), bagian yang menceritakan perubahan kelaminnya menjadi pria. Merasa putus asa karena takdir yang terbatas sebagai wanita, Shikhandini bertemu dengan yaksha bernama Sthuna, yang setuju untuk menukar kelamin dengannya. Transformasi ini memungkin-kannya menjadi Shikhandi, seorang pria yang bisa berpartisipasi dalam pertempuran dan menjadi ancaman nyata bagi Bhisma. Yaksha ini kemudian dihukum oleh Dewa Kubera karena membantu Shikhandi. Tujuan utama dari perubahan ini adalah untuk memenuhi sumpah Amba dan membunuh Bhisma, yang memiliki janji untuk tidak mengangkat senjata melawan wanita atau orang yang sebelumnya adalah wanita. Pada Bagian 6 (Bhismaparwa), Shikhandi memainkan peran kunci dalam perang Kurukshetra. Dalam pertempuran, Shikhandi berhadapan langsung dengan Bhisma. Mengetahui bahwa Shikhandi adalah reinkarnasi dari Amba, Bhisma menolak untuk melawannya. Kejadian ini memberi kesempatan bagi Arjuna untuk menyerang Bhisma tanpa perlawanan yang berarti, sehingga Bhisma jatuh dari keretanya karena panah Arjuna yang ditembakkan melalui Shikhandi. Peran Shikhandi dalam pertempuran ini

menunjukkan kompleksitas tema gender dan takdir dalam Mahabharata. Transformasi tidak hanya mencerminkan perubahan fisik tetapi juga peran sosial dan tanggung jawab yang berbeda. Transformasi Shikhandi menjadi pria adalah elemen kunci yang memungkinkan penuntasan dendam Amba dan berkontribusi signifikan terhadap kemenangan Pandawa dalam perang besar ini. Kisah Shikhandini-Shikhandi dalam Mahabharata menggambarkan bagaimana mitologi Hindu sering menggunakan elemen supernatural untuk memfasilitasi penyele-saian takdir dan karma, serta menggambar-kan kompleksitas peran gender dalam konteks epik.

Dalam Mahabarata Jawa, Srikandi juga merupakan titisan dari Amba. Amba yang merasa telah disakiti oleh Bhisma memohon pada dewa untuk bisa mencabut nyawa Bhisma. Dewa mengabulkannya, tetapi dia tidak akan bisa melakukannya selagi masih sebagai Amba, atau berada di kehidupannya saat ini. Dia baru bisa melakukannya di kehidupan selanjutnya ketika jiwanya menitis pada seorang ksatria wanita bernama Srikandi, seperti yang ada dalam kutipan berikut.

Amba juga memberi tahu Bhisma, bahwa sukmanya akan menitis ke dalam tubuh seorang ksatria wanita bernama Srikandi. (Riantiarno, 2016: 22)

Dalam novel Mahabarata Jawa karya Nano Riantiarno, ada satu bab khusus yang menceritakan perihal Srikandi dan permasa-lahannya yang mengantarkan ksatria Pancala tersebut mengubah kelaminnya. Bab 22 yang berjudul "Srikandi" dibagi atas tiga bagian, yaitu Satu: Dewi Hiranyawati, Dua: Pengor-banan Stuna, dan Tiga: Lelaki itu Adalah.... Bagian Satu: Dewi Hiranyawati dibuka dengan latar belakang keluarga Kerajaan Pancala dan dua anak Raja Drupada, pemimpin kerajaan tersebut, yang terlahir secara gaib bernama Drupadi dan Drestajumna. Kemudian kisah berlanjut pada latar belakang kelahiran Srikandi. Raja memohon pada Dewa untuk diberikan seorang ksatria perkasa, seorang anak laki-laki, tetapi dewa justru mengaruniai seorang bayi perempuan cantik yang kemudian dinamai Srikandi. Kelamin Srikandi yang diumumkan kepada rakyat bukanlah perempuan, melainkan laki-laki.

Pada bagian pengenalan di awal bab, Srikandi dari kecil telah dikondisikan untuk menjadi laki-laki, biarpun berlawanan dengan kelaminnya. Pernyataan ini muncul berdasarkan anggapan lingkungan sosial yang mengonstruksi bahwa gender suatu individu harus sesuai dengan kelamin mereka. Maksudnya, gender maskulin untuk kelamin pria dan gender feminin untuk kelamin wanita, seperti perempuan yang wajar atau normal adalah perempuan yang berpenampilan cantik, mengenakan sanggul dan rok. Orang tua Srikandi mengondisikan Srikandi sebagai laki-laki sejak kecil dengan menerapkan pendidikan untuk anak laki-laki, melakukan kegiatan yang erat kaitannya dengan pria seperti berburu, serta membuat Srikandi berpakaian seperti laki-laki. Hal ini dideskripsikan dalam kutipan berikut. Sejak kecil Srikandi diberi pakaian lelaki, sehingga tingkahnya pun bagai lelaki sungguhan. Dia gemar berkelahi, pintar memanah, jago main pedang, dan ahli menunggang kuda. Hobi Srikandi, sama seperti ksatria lainnya, berburu (Riantiarno, 2016: 106).

Pengondisian tersebut terjadi sebab ayah Srikandi, Raja Drupada, memohon pada dewa agar dikaruniai anak yang diharapkan nantinya menjadi seorang kesatria untuk membalas penghinaan Drona, seperti yang tertera dalam kutipan berikut.

Sejak penghinaan Drona tempo hari, Drupada tak lepas dari

niatan membalas dendam. Dia khusyuk berdoa meminta kepada dewa agar sang Permaisuri, Dewi Gandawati, melahirkan seorang ksatria perkasa. Dewa mengabulkan permohonannya. Tapi, yang lahir bukan lelaki, melainkan bayi perempuan nan cantik. Dia diberi nama Srikandi. Kepada rakyat diumumkan, bayi yang lahir lelaki. Tak ada yang tahu rahasia itu. (Riantiarno, 2016: 106).

Berdasarkan kutipan di atas, pengondisian ini berlawanan dengan konstruksi masyarakat, Kerajaan Pancala khususnya, menetapkan jika perempuan sepatutnya tidak melakukan apa yang tercantum dalam kutipan dan laki-laki wajarnya berlaku demikian. Karena ada tujuan yang ingin dicapai, Prabu Drupada juga tidak mengumumkan kelamin asli dari Srikandi sejak kelahirannya sehingga mendukung pengondisian tersebut.

Pada akhir dari bagian satu, setelah Srikandi menyelamatkan Dewi Hiranyawati dan diminta untuk menikahinya oleh Raja Hiranyawarman, Raja Drupada mengalami kebingungan sebab dia berpikiran bahwa tidak mungkin keduanya menikah sebab berjenis kelamin sama. Srikandi dan Dewi Hiranyawati tidak mungkin menikah dan rahasia bahwa Srikandi sebenarnya adalah seorang perempuan akan terbongkar.

Srikandi akhirnya mencoba mencari solusi pada bagian Dua: Pengorbanan Stuna. Ia pergi bertapa sampai ia mendapatkan bisikan dari dewa. Dia harus pergi ke hutan di arah timur, keluar dengan berpakaian lelaki dan sampai di hutan harus berganti pakaian perempuan. Di sana dia bertemu dengan seorang raksasa bernama Stuna. Srikandi menceritakan keadaannya dan Stuna setuju untuk menolongnya dengan bertukar kelamin. Srikandi benar-benar berubah menjadi

lelaki dan pergi menemui Hiranyawati. Raja Jin mengutuk Stuna karena perbuatannya dengan membuat Stuna tidak bisa mengambil kembali kelaminnya sehingga mustahil pula bagi Srikandi untuk mendapatkan kembali miliknya. Srikandi menghadapi kenyataan barunya ini terjadi pada bagian terakhir, Tiga: Lelaki itu Adalah....

Pengubahan kelamin Srikandi terjadi sebab adanya keperluan mendesak yang harus dituntaskan. Dia tidak berniat untuk melakukannya jika bukan karena diarahkan oleh dewata ketika Srikandi memohon untuk dicarikan solusi atas masalah pertunangan-nya dengan Dewi Hiranyawati. Kutukan Raja Jin kepada Stuna juga berkonstribusi pada Srikandi yang akhirnya berubah menjadi pria tulen tanpa ada jalan kembali untuk menjadi perempuan.

Srikandi dengan kondisi fisik barunya divalidasi kembali dalam Bab Baratayudha. Validasi ini berupa keterangan dalam tanda kurung yang menyebut kalau Raja Hiranyawarman masih sebagai mertua Srikandi sewaktu persiapan perang Baratayudha.

Dan tentu, Raja Hiranyawarman (mertua Srikandi) dari Darsana (Riantiarno, 2016: 132).

Kutipan tersebut dapat dijadikan petunjuk Srikandi dan Dewi Hiranyawati masih menjalin hubungan sebagai suami istri.

Pada permulaan Bab 22, Srikandi telah dibiasakan melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kelelakian, seperti bertarung, memainkan pedang, hingga berburu. Srikandi juga merupakan kesatria yang mahir dalam hal memanah. Keahliannya yang satu ini nantinya akan menjadi kekuatan yang mengantarkan Pandawa pada kemenangan atas Kurawa.

Ketika perang Baratayudha pecah, Srikandi maju sebagai salah satu kesatria di pihak Pandawa. Dia dianggap sebagai titik kelemahan Bhisma, kakek dari Pandawa dan Kurawa sekaligus panglima dan kesatria terkuat sehingga pihak Kurawa menurunkan pasukan lebih untuk melindungi Bhisma dan menjauhkannya dari Srikandi. Di luar pengetahuan mereka, Pandawa menyusup ke dalam perkemahan Kurawa dan menemui Bhisma, bertanya mengenai cara untuk mengalahkannya. Jawaban Bhisma dijelaskan dalam kutipan berikut.

Sesudah saling menyapa dan duduk, Bhisma kemudian mengungkap kisahnya dengan Dewa Amba. Nasib Dewi yang sengsara karena ditolak dunia itu, adalah kesalahan Bhisma di kala muda. Roh sang dewi akan memasuki raga ksatria Pancala, Srikandi, dan akan membuat kekebalan Bhisma luntur. "Biarkan Srikandi maju melawanku. Besok adalah awal dari kematianku. Sesungguhnya, Paduka Sri Kresna sudah tahu perkara ini," kata Bhisma khidmad. (Riantiarno, 2016: 157).

Dengan mengalahkan Bhisma, Pandawa akan mampu memperluas jarak keunggulan atas Kurawa dalam perang tersebut. Dapat dikatakan, posisi dari Srikandi yang merupakan seorang transeksual ini penting, biarpun hanya untuk melunturkan kekebalan Bhisma. Pada saat keduanya berhadapan, Srikandi juga menunjukkan pengakuannya terhadap kondisi fisiknya sebagai seorang pria. Peran Srikandi dan pengakuannya tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut,

Srikandi sama sekali tak diacuhkan oleh Bhisma. Ksatria itu tersinggung. Apalagi ketika Bhisma berkata, "Aku tidak mau melawan perempuan". Maka, dengan kemarahan meluap, Srikandi berteriak. "Aku bukan perempuan," ujarnya.

Sembilan anak panah dilepaskan berbareng dan semuanya menancap ke tubuh Bhisma (Riantiarno, 2016: 159).

Penjelasan berikutnya juga terdapat pada kutipan berikut.

Melirik ke Srikandi pun tidak. Dia melanjutkan perang tanding dengan Arjuna. Srikandi makin tersinggung. Puluhan anak panah dilepaskan lagi. Dan, semuanya bersarang di tubuh jago tua itu. Tubuh Bhisma sudah dipenuhi anak panah, tak seinci pun yang lowong. Panah sakti Arjuna mengakhiri derita Bhisma, menancap tepat di dadanya. Bhisma rebah ke tanah (Riantiarno, 2016: 160).

Dari dua kutipan di atas, tampak Bhisma masih menganggap Srikandi sebagai perempuan sebab apa yang pernah dikatakan kepadanya dulu oleh Amba. Dia melihat Srikandi sebagai Amba di kehidupan yang lalu, seorang perempuan yang dalam sumpahnya tidak akan pernah menjadi lawannya. Srikandi memang pernah menjadi perempuan, tapi tidak pernah tampil sebagai perempuan. Sejak awal dia telah diasuh selayaknya lelaki dan berubah kelamin menjadi lelaki walau bukan karena keinginannya sendiri. Kedua kutipan di atas memperlihatkan Srikandi yang menerima dirinya yang seorang pria dan menolak jika dikatakan sebaliknya, hal yang mengha-langinya untuk membalaskan dendam Amba tetapi di saat yang bersamaan berkontribusi dalam melemahkan Bhisma. Arjuna tidak akan bisa membunuh kakeknya tanpa puluhan anak panah Srikandi.

Seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, transformasi Shikhandi menjadi pria adalah elemen kunci yang memungkin-kan penuntasan dendam Amba dan berkontri-busi signifikan terhadap

kemenangan Pandawa dalam perang besar ini. Sama seperti Shikhandi, Srikandi dan peralihannya dari perempuan menjadi pria adalah kunci dari pembalasan dendam Amba dan keme-nangan Pandawa.

Srikandi tidak mungkin membunuh Bhisma dan Amba tidak mungkin berhasil membalaskan dendamnya jika Srikandi tidak dikondisikan dan tidak berubah kelamin menjadi laki-laki. Dia tidak akan berada di Padang Kurukshetra, melecutkan anak panahnya jika tidak dibesarkan sebagai laki-laki. Dia tidak mungkin berada dalam satu kereta bersama Arjuna menemui Bhisma jika Stuna tidak mengorbankan kelaminnya untuk membantu Srikandi.

SIMPULAN

Shikhandi atau Shikhandini merupakan salah satu tokoh dalam epos Mahabharata yang bertransisi dari perempuan menjadi laki-laki. Shikhandi memiliki peran penting dalam pemenangan Pandawa atas sepupunya, Kurawa, dalam perang Baratayudha.

Dalam Mahabarata Jawa, tokoh ini muncul dengan nama Srikandi, seorang putri sekaligus kesatria Kerajaan Pancala yang dididik, berdandan, dan berperilaku seperti laki-laki. Srikandi juga mengalami perubahan kelamin menjadi laki-laki untuk menikahi Dewi Hiranyawati. Srikandi memegang peran penting dalam alur kisah Mahabarata yang ditulis ulang oleh Nano Riantiarno ini. Dia hadir sebagai titisan dari Dewi Amba yang dendam kepada Bhisma. Dia juga membantu Arjuna melemahkan Bhisma agar cucu panglima terkuat Kurawa itu dapat membunuhnya dan menghantarkan Pandawa pada kemenangan.

Transformasi Srikandi berkontribusi besar pada alur cerita utama. Jika dia tidak dikondisikan oleh orang tuanya sebagai pria, dia tidak akan memiliki kemampuan mempergunakan senjata. Jika Srikandi tidak menukar kelaminnya dengan Stuna, ia tidak akan ikut berperang di Padang Kurukshetra, melemahkan Bhisma, dan membalaskan dendam Amba. Srikandi memperlihatkan pada pembaca, berlawanan dengan pandangan masyarakat pada umumnya, bahwa kelompok yang diwakilkannya, transgender dan transeksual serta transformasi mereka bisa menjadi kunci dari keberhasilan suatu perjuangan mencapai tujuan, bahwa mereka juga pantas mendapat-kan peran penting di tengah masarakat.

References

  1. Amsari, U., Cahyono, A. (2019). The Value Of Srikandi Mustakaweni Act In Wayang Wong Bocah Tjipta Boedaja Residence Magelang. Catharsis: Journal Of Arts Education. 8(1), 11–20. Anggreni, N. M., Sukayasa, W., Bagus, G., & Denpasar, S. (2020). The Implications Of The Teo-Feminism Education In The Epic Of Mahābhārata For Readers (Vol. 4, Issue 1).
  2. Bagus, G. (2021). Panca Satya Tersirat Dalam Epos Mahabharata Sebagai Pendidikan Karakter Generasi Hindu. 8. Http://Ejournal. Ihdn.Ac.Id/Index.Php/Gw
  3. Candra N. A., Cahyo H. W. N. (2016). Rekonstruksi Cerita Mahabharata Dalam Dakwah Walisongo. Islamic Communication Journal Vol (Vol. 01, Issue 01).
  4. Caplan, P. (1987). Sex, sexuality and gender. The cultural construction of sexuality. London:Tavistock.
  5. Ganguli, K. Mohan., Rāya, P. (1896). The Mahabharata. Calcutta: Bharata Press.
  6. Hastuti, E. L. Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pegembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
  7. Nastikaputri, N. H., & Prawiroatmodjo, S. (2023). Transformasi Dimensi Kehidupan Srikandi Dalam Novel Kekasih Musim Gugur Karya Laksmi Pamuntjak. Susastra: Jurnal Ilmu Susastra Dan Budaya, 11(2), 76–86. Https://Doi.Org/10.51817/Susastra.V11i2.124 DOI: 10.51817/susastra.v11i2.124
  8. Pandey, V. (2019). India sudah akui hak-hak LGBT sejak zaman kuno, ‘bukan karena pengaruh Barat’. BBC News. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46719046. Diakses pada 14 Mei 2024 pukul 13.06 WIB.
  9. Pendit, N. S. (2003). Mahabharata. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  10. Pratiwi, C. P., Pratama, F. Y., Saddhono, K. (2022). Masculinity in Javanese People: How Does Arjuna Masculinity Describe in Javanese of Mahbharata. Jurnal Retorika: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajarannya. 2-15, 123-130.
  11. Raharjo, Y. (1997). “Seksualitas manusia dan masalah gender: dekonstruksi sosial dan reorientasi”. Populasi. 8 (1). 55-61.
  12. Riantiarno, N. (2016). Mahabarata Jawa. Jakarta: Grasindo (Gramedia Widia Sarana Indonesia).
  13. Sunardi D. M. (2007). Srikandi belajar Memanah. Jakarta: Balai Pustaka.
  14. Setiadi, G., & Yuwita, N. (2019). Hypogram Sastra Teks Dan Interteks Dalam Karya Sastra Mahabharata Dan Bharatayuda. Jurnal Akademika Pusat Studi Manajemen Pendidikan Islam Iai Sunan Kalijogo Malang
  15. Surawati, N. M, Winyana, I. N., Wiguna, I. P. P. A. (2022). “Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit”. Vidya Wertta. 5(1). 1-8.
  16. Wibowo, S. F. (2019). “Ketaksaan Identitas Gender dalam Cerpen “Saya di Mata Sebagian Orang”: Analsis Teori Queer”. LOA. 14(2).