PENDAHULUAN
Fenomena mendaki gunung sudah mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1964, tahun ini dianggap sebagai awal sejarah pendakian gunung di Indonesia karena lahirnya dua perkumpulan pendaki gunung tertua, Mapala Ul di Jakarta dan Wanadri di Bandung (Seno, 2004). Sejak saat itu, popularitas kegiatan mendaki gunung di Indonesia meningkat secara signifikan dalam 15-20 tahun terakhir. Data dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pun menjelaskan bahwa jumlah pendakian di tahun 2019 mengalami peningkatan dalam empat tahun terakhir. Kegiatan mendaki gunung menjadi
sebuah trend yang amat digandrungi para pemuda pencinta alam. Tidak hanya dilakukan sebagai kegiatan olahraga, mendaki gunung juga dilakukan sebagai aktivitas waktu luang. Clara Sumarwati menjadi perempuan Indonesia dan perempuan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai puncak Everest. Selain Clara, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari juga menciptakan sejarah sebagai perempuan pertama asal Asia Tenggara yang berhasil menyelesaikan misi seven summits (Wibowo, 2018). Hal ini menunjukkan kegiatan mendaki gunung bukanlah kegiatan laki-laki seperti yang selama ini distereotipkan.
Selain menjadi kegiatan waktu luang, mendaki gunung juga memiliki manfaat lain seperti yang dijelaskan oleh Anna (Anna, 2017) dalam artikelnya, mendaki gunung dianggap efektif untuk kesehatan mental karena dapat menciptakan rasa nyaman, tenang, dan sebagai bentuk terapi alami mengatasi stres. Meningkatnya popularitas kegiatan pendakian nyatanya sebanding dengan meningkatnya jumlah kecelakaann yang terjadi pada para pendaki. Tercatat ada 63 kematian pendaki pada periode tahun 2013 hingga 2018, yang kemudian ditambah 5 kematian di tahun 2019. Penyebab terbanyak kematian adalah cuaca alam yang tidak bersahabat, buruknya manajemen logistik, dan hipotermia (Puspita, 2019). Data-data tersebut semakin menegaskan risiko yang dihadapi para pendaki termasuk dalam risiko tingkat tinggi, bahkan dapat menyebabkan kematian. Beragam aktivitas di outdoor seperti panjat tebing, susur goa, paralayang, olahraga arus deras, dan mendaki gunung tergolong ke dalam aktivitas yang berisiko tinggi. Studi Breivik (1991) dan Jack dan Ronan's (1998) menjelaskan pendaki gunung merupakan salah satu dari dua kelompok olahraga dengan tingkat tertinggi dalam pencarian sensasi dan pengambilan risiko (Zuckerman, 2007). Hal tersebut juga dipertegas oleh Pedersen (Pedersen, 1997), mendaki gunung adalah salah satu dari beberapa kegiatan berisiko tinggi. Risiko dan tantangan yang akan dihadapi para pendaki meliputi hipotermia, menipisnya persediaan logistik, bahaya binatang buas, hingga penghirupan gas beracun ketika di puncak gunung.
Penelitian yang dilakukan oleh Rizkiyah et al (Rizkiyah, Susanto, & WP, 2016) dengan judul "Perbedaan Persepsi Risiko Ditinjau dari Gender pada Kegiatan Pendakian" menyimpulkan bahwa persepsi risiko perempuan dalam kegiatan olahraga pendakian lebih tinggi daripada laki-laki. Data dalam penelitian ini menjelaskan persepsi laki–laki termasuk ke dalam urgensi persepsi risiko yang rendah, karena sebagian besar responden merasakan risiko yang serius dan memiliki kemungkinan mengalami kecelakaan. Perempuan memiliki persepsi risiko yang tinggi karena sebagian besar responden perempuan merasakan risiko yang sangat serius, serta ada banyak kecemasan dan distress. Hal ini terjadi karena penilaian risiko laki–laki secara signifikan dilihat dari keparahan cidera yang dialami, sementara perempuan menilai sebuah risiko dari kerentanan terhadap setiap jenis cidera (Harris & Jenkinks, 2006). Penelitian milik (Rizkiyah et al., 2016) memiliki keterkaitan yang kuat dengan salah satu fokus dalam penelitian ini, yaitu kekuatan fisik perempuan untuk menghadapi risiko yang tinggi dalam kegiatan pendakian gunung.
Ketika para pendaki memutuskan untuk melakukan pendakian, berarti ia sadar dan bersedia menerima segala risiko yang akan dihadapinya. Kesediaan para pendaki gunung untuk menerima tantangan dengan menanggung segala risiko yang ditimbulkan disebut sebagai dorongan pencarian sensasi (Zuckerman, 2007). Dorongan mencari sensasi merupakan suatu kecenderungan individu untuk mencari pengalaman baru, merangsang tubuhnya untuk melakukan kegiatan tersebut, dan menikmatinya. Keputusan individu untuk mengambil tindakan yang berisiko ini didasari oleh adanya kemauan dan atau keberanian (Larasati, 1993). Tidak sedikit individu atau kelompok mengikuti kegiatan
mendaki gunung dengan tujuan utama untuk merasakan pengalaman menghadapi tantangan-tantangan di dalamnya. Keterlibatan mereka dalam kegiatan pendakian ditujukan untuk pencarian sensasi dan menghadapi risiko-risiko pendakian. Hal ini menunjukkan bahwa mendaki gunung merupakan salah satu media untuk para pendaki, baik profesional maupun pemula untuk mendapatkan kepuasan pengalaman dan pencarian sensasi. Kegiatan mendaki gunung sebagai kegiatan waktu luang selama ini distereotipkan sebagai kegiatan laki-laki. Stereotip tersebut dibangun karena jenis kegiatannya bersifat ekstrim, mengandung risiko tinggi dan identik dengan maskulinitas. Pandangan tersebut telah membedakan tugas, gerak-gerik, peralatan, bentuk tuturan, maupun kegiatan yang selanjutnya dikaitkan dengan laki-laki atau perempuan. Namun, gagasan tersebut dilawan oleh kaum perempuan yang mulai mengikuti kegiatan mendaki gunung seperti Clara Sumarwati, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari. Hal ini merupakan bentuk upaya perempuan untuk memasuki ranah kebebasan laki-laki melalui aktivitas atletiknya, dengan tujuan untuk lebih menegaskannya sebagai kegiatan unisex. Untuk itu, peneliti bertujuan untuk memfokuskan penelitian ini pada para perempuan pendaki yang memiliki kekuatan fisik berbeda dengan pendaki laki-laki. Berdasarkan permasalahan yang dijelaskan, peneliti ingin melihat bagaimana gambaran sensasi yang dicari oleh pendaki gunung perempuan ketika melakukan pendakian dan bagaimana perempuan pendaki mengkonstruksikan identitas maskulin mereka di media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana gambaran pencarian sensasi pada pengalaman perempuan pendaki dan untuk melihat bagaimana konstruksi identitas maskulin perempuan pendaki di media sosial. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan beberapa teori yaitu pencarian sensasi yang dikemukakan oleh (Zuckerman, 2007), teori perilaku pengambilan risiko yang dikemukakan oleh Langewisch & Frisch (Langewisch & Frisch, 1998), dan teori identitas diri (Liliweri, 2005).
METODE
Penelitian ini tidak bersifat menguji kebenaran suatu teori, melainkan mengungkap dan memaparkan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data (Kriyantono, 2006). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang akan dipaparkan secara deskriptif dan berfokus pada kedalaman data (Neuman, 2003). Peneliti memilih untuk menggunakan penelitian kualitatif karena pencarian sensasi pada pengalaman perempuan pendaki dapat diinterpretasikan melalui konsep yang telah dikontekstualkan. Peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan mengambil data mengenai situasi dan uraian naratif tentang situasi sosial para pendaki. Metode ini dipilih karena mampu memberikan analisis dan mengungkapkan objek penelitian secara jelas.
Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada 14 responden yang sudah dipilih, yaitu para perempuan pendaki yang tergabung dalam komunitas Wanita dan Gunung. Para responden dipilih dengan teknik probability sampling (cluster random sampling), dijelaskan sebagai teknik pengambilan sampel dari anggota populasi tertentu, dalam hal ini komunitas Wanita dan Gunung yang dilakukan secara acak (Sugiyono, 2008). Dalam tahapannya, peneliti memilih 7 dari 14 orang yang kemudian dijadikan objek penelitian. Pemilihan 7 responden ini didasari frekuensi pendakian responden dalam 1 tahun. Ketujuh responden pilihan rata-rata mendaki gunung tiga sampai lima kali dalam setahun. Dari tujuh responden, peneliti memilih 4 akun media sosial yang menampilkan identitas maskulin di dalamnya untuk kemudian menjawab pertanyaan penelitian mengenai konstruksi identitas. Data-data hasil kuisioner dan analisis akun media sosial akan menggambarkan diri individu berdasarkan fakta yang terjadi dalam kehidupan sosial, terutama gambaran pencarian sensasi para pendaki gunung perempuan. Selain kuisioner dan analisis media sosial, peneliti juga melakukan telaah berbagai literatur terkait pencarian sensasi dan perempuan pendaki untuk mendapatkan hasil penelitian. Moleong (Moleong, 2004) menjelaskan bahwa hasil telaah berbagai literatur dapat digunakan sebagai referensi data dalam proses analisis. Untuk mendapatkan hasil penelitian, peneliti menggunakan beberapa tahapan yang dilakukan secara interaktif yaitu pereduksian data, penyajian data, dan pengambilan simpulan. Pada tahap analisis data, analisis dipaparkan secara deskriptif untuk mengungkapkan fakta-fakta yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini membahas bagaimana gambaran sensasi para perempuan pendaki yang tergabung dalam komunitas Wanita dan Gunung. Untuk memudahkan pembahasan, peneliti akan membagi pembahasan kepada empat subjudul yaitu pencarian sensasi pendaki perempuan: pencarian gairah & petualangan, pencarian sensasi pendaki perempuan: pencarian pengalaman baru, mendaki gunung sebagai kegiatan olahraga unisex, dan konstruksi identitas maskulin.
Wanita dan Gunung merupakan sebuah komunitas sosial dan edukasi yang menerapkan sistem pembelajaran dari dasar dengan media alam bebas untuk pembentukan karakter. Komunitas ini berupaya untuk mendukung kaum perempuan beraktivitas di alam bebas serta meningkatkan "self awarness" pada diri masing-masing. Konsep perempuan yang diangkat dalam komunitas ini menarik perhatian peneliti untuk memaparkan lebih dalam mengenai karakter diri anggota komunitas terkait pencarian sensasi perempuan pendaki dan konstruksi identitas. Hasil penelitian ini diambil dari data-data kuisioner yang sudah dibagikan kepada 7 responden yang tergabung dalam komunitas Wanita dan Gunung. Data tersebut menunjukkan bahwa 100% dari responden lebih memilih menjadikan kegiatan pendakian sebagai kegiatan waktu luang dibandingkan kegiatan olahraga. Olahraga hanya dijadikan sebagai manfaat tambahan yang bisa mereka dapat dari pendakian. Frekuensi kegiatan pendakian yang dilakukan tiga dari tujuh orang responden adalah sebanyak lebih dari lima kali pendakian, sedangkan empat responden lainnya mendaki tiga hingga lima kali dalam satu tahun.
Gambar 1. Pendakian Gn. Merbabu oleh Komunitas Wanita & Gunung (Sumber: www.wanitadangunung.id)
| Nama | Usia | Lama Mendaki Gunung | Frekuensi Pendakian (1 Tahun) |
|---|---|---|---|
| Dini Meilani | 27 | 6 tahun | Lebih dari 5 kali |
| Mega Sani Fadela | 25 | 9 tahun | 3-5 kali |
| Nurul Syarifah | 20 | 5 tahun | 3-5 kali |
| Dewi Khulasyoh | 30 | 15 tahun | 3-5 kali |
| Nuni Handini | 26 | 5 tahun | Lebih dari 5 kali |
| Diana Ayuningtyas | 23 | 6 tahun | 3-5 kali |
| Laily Dwi Anggraini | 23 | 10 tahun | Lebih dari 5 kali |
TABEL I DATA RESPONDEN
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Data lainnya memaparkan rata-rata dari responden sudah berkecimpung di dunia pendakian selama delapan tahun. Hal ini menunjukkan ketujuh responden termasuk ke dalam kategori bukan pendaki pemula yang baru mengikuti kegiatan pendakian. Durasi keterlibatan dalam kegiatan pendakian yang cukup lama menandakan para responden memiliki pengalaman yang cukup untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai pencarian sensasi. Berikut data singkat tujuh responden yang menjadi objek dalam penelitian ini.
Komunitas Wanita dan Gunung bukanlah komunitas pecinta alam atau organisasi pendaki gunung biasa yang mengadakan pendakian beberapa kali dalam satu tahun dan harus dipenuhi. Komunitas ini lebih memprioritaskan karakter setiap anggotanya melalui beberapa program yang diselenggarakan. Berdasarkan latar belakang komunitas yang demikian, peneliti akan lebih fokus pada pencarian sensasi dalam kegiatan pendakian para responden dan konstruksi identitas maskulin secara individu. Berdasarkan hasil kuisioner, sensasi yang dicari para responden dikategorikan ke dalam dua aspek yaitu pencarian gairah dan petualangan (thrill and adventure seeking) dan pencarian pengalaman baru (experience seeking).
Pencarian Sensasi Perempuan pendaki: Pencarian Gairah & Petualangan
Pencarian sensasi merupakan sifat kepribadian yang didefinisikan dengan mencari sensasi, pengalaman yang tidak terduga, kompleks, dan intens, dan kemauan untuk mengambil risiko fisik, sosial, hukum, dan finansial demi pengalaman seperti itu (Zuckerman, 2007). Para responden mengatakan bahwa mereka berani menghadapi hal tersebut karena mereka sudah siap dengan segala strateginya. Seperti yang dijelaskan oleh responden 4, ia sebagai perempuan sudah mempersiapkan hal-hal atau strategi untuk menghadapi risiko pendakian. Lain halnya dengan responden 1, 2, 6, dan 7 yang mengatakan tetap melakukan pendakian karena mereka merasa pendakian itu sesuatu yang dapat menyebabkan rasa ketagihan, walaupun mereka tahu akan menghadapi risiko-risiko pendakian yang sudah mereka alami sebelumnya.
Sensasi yang diharapkan oleh para responden dalam penelitian ini adalah sensasi dalam bentuk kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi sesuatu. Hal ini selaras dengan pendapat Baron & Stogdill (Baron & Stogdill, 1990), secara umum individu akan lebih berani mengambi1 risiko ketika perasaannya sangat senang daripada ketika perasaannya
sedang netral. Pengambilan tindakan berisiko oleh para responden menunjukkan bahwa seorang perempuan pendaki menjadikan perasaan senang, kesiapan, dan rasa ketagihan sebagai dasar keputusannya. Larasati (Larasati, 1993) juga menegaskan bahwa keputusan individu untuk mengambil tindakan atau kegiatan yang berisiko didasari oleh adanya kemauan dan atau keberanian.
Mengenai risiko yang diambil, lima responden mengatakan, mereka senang untuk menghadapi petualangan, tantangan tidak terduga ketika mendaki, merasakan pengalaman baru, merasakan ketegangan baru, dan ingin mengulanginya lagi. Zuckerman ( 2007) menjelaskan, pencarian gairah dan petualangan (thrill and adventure seeking) merupakan keinginan untuk terlibat dalam aktivitas fisik, berisiko tinggi, dan mengandung unsur petualangan. Para responden menyatakan, selain komunitas Wanita dan Gunung, mereka juga mengikuti kegiatan outdoor ekstrim dengan tingkat risiko tinggi lainnya, seperti panjat tebing dan rafting ketika memiliki waktu luang. Kegiatan ini dipilih dengan alasan yang sama, karena dapat menciptakan sesuatu yang tidak terprediksi, menimbulkan rasa puas dan akhirnya mampu menghilangkan rasa bosan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan perasaan sensasionalnya, sehingga biasanya faktor pertimbangan secara rasional cenderung diabaikan (Levenson, 1990). Sebagai seorang perempuan, empat dari tujuh responden mengalami kesulitan dalam perizinan. Orang tua atau keluarga mereka mengkhawatirkan adanya kecelakaan atau bahaya saat pendakian. Sulitnya mendapat izin dari pihak keluarga ini juga menjadi salah satu petualangan yang mereka hadapi sebelum kegiatan pendakian. Keputusan para responden untuk terlibat dalam aktivitas ini merupakan keinginan untuk mengalami petualangan tidak terduga yang mereka yakin mereka mampu untuk menghadapi segala risikonya sebagai perempuan pendaki.
Dalam kegiatan yang banyak melibatkan fisik, penilaian risiko laki–laki secara signifikan dilihat dari keparahan cidera yang dialami, sementara perempuan menilai sebuah risiko dari kerentanan terhadap setiap jenis cidera (Harris & Jenkinks, 2006). Mengenai pertimbangan pengambilan risiko, seluruh responden mengatakan, mereka mempertimbangkan beberapa hal sebelum melakukan pendakian seperti pertimbangan waktu, kesehatan fisik, budget, jarak perjalanan, dan lingkungan atau cuaca alam yang mendukung. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sadar akan menghadapi risiko, merasa cemas (Levenson, 1990), tetapi kemudian berpikir bahwa mengambil risiko adalah pilihan terbaik. Mereka merasa sebagai perempuan pendaki memiliki kemampuan, membutuhkan upgrade pengetahuan, dan mengasah keterampilan melalui risiko-risiko dalam pendakian atau kegiatan outdoor lainnya. Keterlibatan mereka dalam kegiatan outdoor ekstrem, terutama pendakian ini merupakan upaya untuk mendobrak stereotip kegiatan outdoor dan ekstrem sebagai kegiatan laki-laki yang telah lekat di masyarakat. Para perempuan pendaki ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan fisik dan mental yang sesuai dengan tubuh mereka untuk menghadapi risiko dalam kegiatan tersebut.
Dua dari tujuh responden dalam penelitian ini pernah melakukan perilaku terlarang ketika berada di trek gunung, perilaku tersebut berisiko pada bahaya binatang buas dan risiko sosial terkait dengan budaya masyarakat sekitar. Perilaku ini disebut dengan perilaku disinhibisi yang didasari keinginan yang kuat yang untuk menimbulkan efek negatif terhadap posisi individu dalam masyarakat, tubuh, ataupun pikirannya sendiri. Disinhibisi merupakan perilaku yang merefleksikan perilaku impulsif yang ekstrovert pada individu, meliputi keinginan yang kuat (desire) untuk melakukan perilaku yang mengandung risiko sosial dan kesehatan (Zuckerman, 2007). Perilaku ini juga merupakan salah satu sensasi yang didapatkan para pendaki gunung dalam pendakian. Namun, perilaku disinhibisi kedua responden tidak didasari perilaku impulsif atau keinginan yang kuat (desire), tetapi didasari minimnya pengetahuan akan hal tersebut.
Pencarian Sensasi Perempuan pendaki: Pencarian Pengalaman
Mengenai pengalaman yang dirasakan ketika mendaki gunung, Zuckerman (2007) juga menjelaskan, pencarian pengalaman (experience seeking) merupakan dorongan kecenderungan untuk melakukan aktivitas tertentu yang bertujuan mendapatkan pengalaman melalui pikiran dan sensasi. Dua dari tujuh responden mengatakan, mereka senang mengikuti kegiatan pendakian karena bisa menjadi lebih dekat dengan alam apalagi jika mendaki bersama sesama perempuan. Alam bebas tidak memiliki batasan pandangan. Secara realistis, perempuan lebih sering menggunakan ruang tubuh yang lebih kecil dari seluruh ruang tubuh yang tersedia (Young, 2018). Hal ini menunjukkan para perempuan pendaki di komunitas Wanita dan Gunung merasa lebih bebas menggunakan seluruh ruang tubuhnya ketika berada dekat dengan alam dan mendaki bersama para perempuan. Ketika mereka berada di alam bersama perempuan lainnya, mereka merasa ruang tubuhnya berada pada posisi yang tidak biasanya dan mampu melewati hambatan atau batasan yang ada.
Ketika berada di puncak gunung, semua responden melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa mereka lakukan sehari-hari, seperti memasak, mengobrol dengan teman, dan mengabadikan momen dengan berfoto. Perbedaannya adalah mereka melakukan kegiatan-kegiatan itu dengan latar yang berbeda, yaitu alam bebas. Dimensi pencarian pengalaman (experience seeking) mengekspresikan pencarian individu terhadap pengalaman (novel experiences) melalui pemikiran, penginderaan, dan gaya hidup yang tidak konvensional (Zuckerman, 2007). Ketika berada di atas gunung, mereka berpotensi untuk bertemu dengan teman baru, sehingga obrolan yang mungkin dilakukan menjadi sangat terbuka karena latar belakang yang berbeda. Penginderaan yang dimaksud dalam hal ini adalah seluruh pancaindera di tubuh individu. Pancaindera ini akan berhadapan dengan sesuatu yang baru dan mulai beradaptasi untuk melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan. Para pendaki mengalami aktivitas atau kebiasaan yang tidak biasa sehingga mereka terdorong untuk mengeksploitasi stimulus-stimulus yang mengandung sejumlah informasi baru. Pengalaman baru yang didapatkan para perempuan pendaki merupakan salah satu ketertarikan mereka untuk melakukan pendakian. Pengalaman baru tersebut didapatkan dalam bentuk pemikiran (melalui obrolan sesama pendaki), penginderaan (aktivitas yang dilakukan dengan latar yang berbeda), dan gaya hidup yang tidak monoton.
Ketika diberi pertanyaan perbandingan mengenai capaian mendaki gunung di awal mendaki dan saat ini, para responden menjawab dengan sangat beragam. Di awal pendakian, kebanyakan dari mereka mendaki gunung dengan tujuan ingin sampai ke puncak dan turun dengan selamat, mendaki gunung sebagai bentuk keterampilan atau latihan fisik, dan ingin melihat pemandangan dari atas gunung. Hal ini menjadi alasan yang memang sangat normatif karena mereka termasuk dalam golongan pendaki pemula. Berbeda ketika saat ditanyakan mengenai tujuan mendaki gunung setelah beberapa kali mendaki, jawaban mereka didominasi oleh merefleksi diri atau sebagai bentuk peristirahatan dan pelarian dari rutinitas sehari-hari. Jawaban lainnya adalah berdamai dengan diri sendiri, mengatur ego. Jawaban paling menarik adalah tujuan mengenal budaya masyarakat dan kehidupan sosial di sekitar tempat pendakian. Dengan mengenal budaya masyarakat dan kehidupan sosial di sekitar tempat pendakian, para pendaki mampu melihat dan merasakan pengalaman baru dalam aspek sosial budaya. Jawaban dari para responden menunjukkan bahwa kegiatan mendaki gunung dilakukan oleh para perempuan pendaki di komunitas Wanita dan Gunung lebih berfokus pada kepentingan refleksi diri atau kesehatan mental. Ketertarikan dan keingintahuan para responden dalam mengenal lebih jauh bagaimana kehidupan masyarakat di daerah sekitar gunung atau tempat mereka mendaki menjadi hal yang menarik. Hal ini seakan-akan mewakili seluruh perempuan pendaki yang tidak hanya menjadikan kegiatan pendakian gunung sebagai aktivitas fisik saja, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang pembelajaran.
Mendaki Gunung Sebagai Kegiatan Olahraga Unisex
Kegiatan mendaki gunung sebagai kegiatan waktu luang selama ini distereotipkan sebagai kegiatan laki-laki. Stereotip tersebut dibangun karena jenis kegiatannya bersifat ekstrem, mengandung risiko tinggi, dan identik dengan maskulinitas. Namun, gagasan tersebut dilawan oleh kaum perempuan yang mulai mengikuti kegiatan mendaki gunung seperti Clara Sumarwati, Fransiska Dimitri Inkiriwang, dan Mathilda Dwi Lestari. Clara Sumarwati menjadi perempuan Indonesia dan perempuan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai puncak Everest. Selain itu, Clara, Fransiska Dimitri Inkiriwang, dan Mathilda Dwi Lestari juga menciptakan sejarah sebagai perempuan pertama asal Asia Tenggara yang berhasil menyelesaikan misi seven summits (Wibowo, 2018). Hal ini merupakan bentuk upaya untuk memasuki ranah kebebasan laki-laki melalui aktivitas atletiknya, dengan tujuan untuk lebih menegaskan mendaki gunung sebagai kegiatan olaharaga unisex. Penjelasan para responden dalam penelitian ini juga merupakan salah satu upaya pendobrakan stereotip tersebut. Ketujuh responden menjelaskan sensasi yang mereka cari dalam kegiatan mendaki gunung. Hal tersebut tergambar dalam dua aspek besar yaitu pencarian gairah dan petualangan dan pencarian pengalaman baru. Dalam kegiatan pendakian, kesehatan fisik menjadi perhatian utama, para responden menyiapkan hal tersebut dengan pelatihan fisik seperti berlari, naik turun tangga, push-up, sit-up, dan stretching. Semua kegiatan fisik tersebut dilakukan guna mendapatkan fisik yang kuat, sehat, dan siap menghadapi trek di gunung. Trek gunung yang begitu curam justru dimaknai oleh seluruh responden sebagai suatu hal yang menyenangkan, mampu menciptakan petualangan yang tidak terduga, dan selalu membuat mereka ingin melakukannya kembali berulang kali. Persepsi risiko menyangkut bagaimana individu menilai risiko yang melekat pada situasi tertentu. Bahkan ketika individu dihadapkan pada kegiatan dan keadaan yang sama, akan menghasilkan persepsi risiko yang berbeda (Rizkiyah et al., 2016).
Hal ini secara tegas menjelaskan bahwa perempuan yang dinilai sebagai individu yang berada di bawah laki-laki dalam hal kekuatan mental dan pikiran, juga menyiapkan segala strategi untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam kegiatan pendakian. Para responden perempuan pendaki yang berupaya untuk menjadikan kegiatan olahraga mendaki sebagai kegiatan olahraga yang unisex. Hal tersebut tergambar dalam sensasi pencarian gairah dan petualangan, dan pencarian pengalaman baru dalam kegiatan mendaki gunung yang mereka lakukan. Sifat femininitas yang dinamis tumbuh dalam diri para responden membuat kekuatannya lebih menitikberatkan pada kualitas daripada kuantitas, sehingga lebih sulit untuk diukur. Para responden dalam penelitian ini menegaskan bentuk kekuatan perempuan pada kegiatan mendaki gunung dalam bentuk kekuatan fisik, mental, maupun pikiran. Maskulinitas tidak lagi menjadi hak perogratif laki-laki saja, tetapi juga menjadi bagian dari karakteristik perempuan yang kemudian melahirkan istilah maskulinitas perempuan. Begitupun kegiatan yang bersifat maskulin tidak lagi menjadi kegiatan laki-laki saja, tetapi juga dapat dilakukan dan didalami oleh kaum perempuan dengan menerapkan sifat-sifat maskulin di dalamnya. Aktivitas-aktivitas petualangan yang dilakukan seluruh responden merupakan representasi dari maskulinitas perempuan yang mampu dan mau melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim.
Identitas Perempuan pendaki di Media Sosial
Identitas dapat dianggap fixed ataupun fluid dan selalu berubah, identitas diri maupun kolektif dibentuk dalam diri individu melalui proses sosial yaitu keterlibatannya dalam interaksi sosial yang memicu pembentukan suatu kelompok budaya tertentu (Liliweri, 2005). Peneliti mengambil akun media sosial instagram sebagai media untuk melihat identitas perempuan pendaki yang tergabung dalam komunitas Wanita dan Gunung. Pemilihan media sosial ini didasari sifat media sosial sharing yang hadir dalam bentuk visual dan dilengkapi dengan teks. Dari 7 responden, peneliti memilih 3 akun media sosial yang mampu merepresentasikan maskulinitas pada beberapa unggahannya. Ketiga akun yang akan menjadi objek penelitian adalah @dianaayuntyas, @megasf, dan @lailyangga. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada 3 akun ini, peneliti melihat adanya persamaan pada jenis foto dan teks/ caption yang di unggah.
Gambar 3 hadir dalam akun @dianaayuntyas yang merupakan responden 6. Sebanyak 70% dari seluruh foto akunnya merupakan foto pemandangan alam dan kegiatan outdoor yang dilakukan. Sebanyak 20% lainnya merupakan kegiatan pendakian gunung. Foto-foto unggahannya tersebut didominasi oleh foto yang menampilkan identitas dirinya sebagai perempuan pendaki. Terdapat satu unggahan yang menarik perhatian peneliti, yaitu pada foto dan kutipan dalam gambar di atas. Gambar 3 menampilkan responden 2 yang sedang melakukan pendakian di salah satu gunung di Bandung. Responden menggunakan atribut pendakian yang lengkap terlihat dari alat-alat pendakian yang hadir. Atribut-atribut tersebut adalah tas carrier, celana gunung, topi, dan tracking pole. Seluruh atribut tersebut merupakan atribut yang wajib dibawa oleh para pendaki untuk mendapatkan kemudahan dan keamanan dalam kegiatan pendakian. Olahraga dan petualangan selalu dikaitkan dengan kekuatan, maskulinitas dan laki-laki, sehingga perempuan dimarjinalkan dalam kegiatan tersebut. Namun, foto akun media sosial responden 6 menunjukkan bahwa ia memperhatikan hal-hal kecil terkait pendakian.

Gambar 3. Unggahan Akun Responden 2 @dianaayuntyas (Sumber: Instagram)
Gambaran ini memberikan imaji kuat seorang petualang yang merujuk pada maskulinitas. Selain foto, akun ini juga menampilkan kutipan yang menampilkan sisi maskulinitas seorang perempuan pendaki, ia menjelaskan makna "keren" untuk kaum perempuan.
"keren bisa angkat galon, keren bisa mengalah, keren bisa bikin tenang, keren bisa dipercaya, keren bisa masak, keren bisa rendah hati, keren bisa jadi penyemangat, keren bisa berpendirian kuat, keren bisa menjaga kehormatan" (Sumber : Instagram).
Perempuan keren diartikan oleh responden 6 dengan perempuan yang mampu melakukan banyak hal, baik itu sebuah kegiatan atau sebuah pemikiran. Kata-kata yang disampaikan menunjukkan perempuan keren adalah perempuan yang mampu merangkul dua gender dalam dirinya. Hal ini ditunjukkan melalui kemampuan untuk berpendirian kuat, bisa dipercaya, dan menjaga kehormatannya. Pada foto ketiga, responden 6 memberikan detail kiat untuk mendaki gunung secara informatif. Kiat tersebut meliputi persiapan pendakian, manajemen waktu, manajemen logistik, kiat membawa carrier yang benar, dan barang-barang yang harus dan tidak boleh dibawa ke atas gunung. Kutipan yang disampaikan oleh responden 6 ini menunjukkan dirinya memiliki pengetahuan mengenai pendakian secara mendalam. Dalam hal ini, tulisan kutipan dalam akun Instagram responden 6 menunjukkan kekuatan yang hadir pada tubuh perempuan, yaitu pengetahuan. Kekuatan perempuan bukan hanya tampilan fisik melainkan juga pengetahuan yang dimiliki.
Akun media sosial kedua adalah @megasf milik responden 2. Akun ini memiliki hampir 90% foto terkait pemandangan alam dan kegiatan outdoor. Beberapa foto merupakan foto yang dilengkapi dengan kutipan yang informatif, salah satu fotonya adalah gambar 4 di atas. Kutipan foto menjelaskan responden 2 mengajak adik laki-lakinya untuk mendaki gunung bersama. Ia juga menulis makna pendakian dan makna pulang bagi dirinya. Dari kutipan tersebut dapat terlihat bahwa responden 2 yang merupakan perempuan pendaki memiliki keberanian dan rasa tanggung jawab atas adik laki-lakinya. Hal ini membuatnya berani mengajak adiknya melakukan pendakian. Mengingat bahwa kegiatan pendakian gunung merupakan olahraga ekstrim, responden 2 telah mempertimbangkan hal-hal yang mungkin terjadi, dan melakukan persiapan fisik dan logistik. Hal ini menandakan bahwa responden 2 sebagai seorang perempuan pendaki memiliki ruang untuk menjadi pemimpin, dalam hal ini pemimpin kegiatan pendakian gunung untuk adiknya. Melalui gambar 4, dapat terlihat bahwa ia sedang membantu adiknya yang kesulitas membuka botol air minum. Responden 2 menunjukkan dirinya sebagai seorang kakak dan perempuan pendaki menampilkan rasa kepedulian, kasih sayang, tanggung jawab, dan empati kepada adiknya.Seperti halnya re-
Gambar 4. Unggahan Akun Responden 2 @megasaf (Sumber: Instagram)

Gambar 5. Unggahan Akun Responden 7 @lailyangga (Sumber: Instagram)
sponden 6 dan 2, responden 7 dengan akun instagram @lailyangga juga menampilkan banyak hal terkait pendakian dalam unggahannya. Peneliti berfokus pada teks kutipan yang ditulis oleh responden 7 dalam unggahannya, karena hal itu merepresentasikan identitas maskulin responden sebagai perempuan pendaki. Pada foto pertama, responden menceritakan pengalamannya ketika kurangnya persiapan fisik dan mental untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango. Foto kedua menceritakan dirinya yang mengikuti kegiatan dari komunitas Wanita & Gunung. Ia berbagi pengalaman kepada setiap pengikutnya di media sosial. Rasa ingin berbagi pengalaman responden 7 ini menunjukkan bahwa ia memiliki jiwa sosial yang tinggi, terutama dalam hal pendakian. Dari pengalaman yang dinarasikan, peneliti melihat bahwa responden 7 merupakan perempuan pendaki yang kuat, berani mengambil risiko, dan seorang pengambil keputusan yang baik.
SIMPULAN
Sensasi yang dicari oleh perempuan pendaki gunung dalam komunitas Wanita dan Gunung tergambar melalui kesediaan mereka untuk menghadapi risiko fisik, sosial, hukum, dan finansial. Hal tersebut tergambar dalam dua aspek besar yaitu pencarian gairah dan petualangan dan pencarian pengalaman baru. Pencarian gairah dan petualangan meliputi perasaan senang, kesiapan, dan rasa ketagihan sebagai dasar keputusan pendaki melakukan pendakian untuk mengalami petualangan tidak terduga. Sedangkan pengalaman baru yang para perempuan pendaki didapatkan dalam bentuk pemikiran (melalui obrolan sesama pendaki), penginderaan (aktivitas yang dilakukan dengan latar yang berbeda), dan gaya hidup yang tidak monoton. Para perempuan pendaki dalam komunitas Wanita dan Gunung dalam penelitian ini berupaya menunjukkan kekuatannya dalam bentuk fisik, mental, maupun pikiran. Para perempuan pendaki mengkonstruksi identitas diri maskulin mereka melalui beberapa hal yang ditampilkan melalui akun media sosialnya, yaitu dengan pengetahuan, sifat berani, kuat, bertanggung jawab, dan pengambil keputusan. Kekuatan dan sifat maskulin yang ditunjukkan oleh perempuan dan komunitas ini merupakan bentuk upaya penegasan kegiatan olahraga pendakian gunung sebagai olahraga unisex.
