1. Home
  2. Archives
  3. Vol 1 (2020) Issue 2
  4. Articles

Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung Dalam Novel Kembara Rindu

Abstract

Masyarakat Lampung menganut lima falsafah hidup yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari, yaitu piil pesenggiri, sakai sambayan, nengah nyappur, nemui nyimah, dan juluk adek. Novel Kembara Rindu yang berlatar tempat di Lampung merepresentasikan falsafah-falsafah tersebut. Kalimat atau ujaran dalam novel tersebut diidentifikasi, diklasifikasi, dan diinterpretasi sesuai muatan falsafah. Falsafah piil pesenggiri tercermin melalui sikap tokoh yang menghindari perilaku buruk, membela sosok yang dihormati, menghukum orang yg jahat, dan sebagainya. Falsafah sakai sambayan direpresentasikan melalui narasi tolong menolong oleh beberapa karakter. Falsafah nengah nyappur ditunjukkan oleh upaya tokoh dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Falsafah nemui nyimah ditampilkan melalui perilaku silaturahmi antar tokoh. Falsafah juluk adek yang sesuai pakem adat Lampung tidak ditemukan.

PENDAHULUAN

Masyarakat Lampung memiliki alam pikiran atau falsafah yang dianut dan diterapkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Falsafah tersebut antara lain piil pesenggiri, sakai sambayan, nengah nyappur, nemui nyimah, dan juluk adek. Baharudin dan Luthfan (2019) menerangkan bahwa piil berarti perilaku, dan pesenggiri berarti bermartabat tinggi. Martabat tinggi itu diperoleh dari sikap yang terhormat karena memahami hak dan kewajiban diri dan menghindari perilaku yang tidak terpuji. Dengan menjaga kehormatan tersebut, diharapkan seseorang dapat "dianggap" dan "dipandang" secara positif di dalam kehidupan bermasyarakat.

Sakai sambayan bermakna gotong royong atau tolong menolong (Martiara, 2012). Makna tersebut diturunkan dari kata sakai yang berarti memberi barang atau jasa ke pihak lain dan berharap imbalan, dan sambayan yang berarti memberi barang atau jasa ke pihak lain tanpa berharap imbalan. Sakai sambayan mengandung spirit bahwa dalam hidup bermasyarakat, orang Lampung harus menunjukkan peran serta dan rasa kebersamaan dalam kehidupan sosial, baik dalam penyelenggaraan acara yang bersifat umum maupun pribadi.

Nengah nyappur terdiri dari dua kata yaitu nengah yang berarti di tengah, dan nyappur yang bermakna bercampur atau berbaur. Nengah nyappur bermakna ramah, suka bersahabat, suka bergaul, dan mudah beradaptasi di suatu lingkungan sosial (Hadikusuma, 1989). Penerapan falsafah hidup ini menumbuhkan semangat kekeluargaan dan persaudaraan tanpa membeda-bedakan suku, agama, aras, dan golongan.

Nemui nyimah dibentuk dari dua kata: nemui, yang berarti bertamu, atau berkunjung, dan nyimah yang berarti pemberi, pemurah, atau dermawan. Nemui nyimah adalah falsafah yang melandasi asas kekeluargaan, kerukunan, dan keakraban masyarakat Lampung (Syani, 2013). Sikap yang diturunkan dari falsafah ini adalah sikap terbuka dan ikhlas.

Secara umum, juluk adek bermakna gelar adat. Akan tetapi, dari segi etimologi, istilah tersebut terdiri dari kata juluk dan adek. Juluk adalah nama panggilan semasa kecil/belum menikah, sedangkan adek adalah gelar/nama adat bagi yang sudah menikah. Pemberian gelar adat lazim dilakukan melalui upacara adat (Irianto dan Margaretha, 2011).

Novel Kembara Rindu karya Habiburrahman El-Shirazy yang diterbitkan tahun 2019 berkisah tentang perjalanan seorang pemuda asal Lampung Barat yang menuntut ilmu di sebuah pesantren di Cirebon. Setelah beberapa tahun tinggal di pesantren dan menjadi asisten kyai yang mengelola pesantren tersebut, ia diinstruksikan sang kyai untuk kembali ke Lampung. Di Lampung, ia mendapati keluarganya sedang kesulitan. Pemuda tersebut berjuang untuk mengatasi persoalan yang dihadapi keluarga besarnya dan merawat "pusaka" yang diwariskan leluhurnya dengan berbekal ilmu dari pesantren. Dalam perjuangan pemuda tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang ia hadapi, dapat ditemukan penerapan falsafah hidup orang Lampung yang direpresentasikan melalui ujaran, sikap, atau tindakan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita.

Dengan latar tempat dan budaya daerah Lampung, dapat ter cermin falsafahfalsafah hidup orang Lampung yang terkandung di dalam narasi novel tersebut. Misalnya, saat pemuda tersebut berusaha melindungi kyainya dari serangan fisik orang yang tidak bertanggung jawab, atau saat pemuda tersebut menolong perempuan yang sedang mengalami masalah dengan kendaraannya. Tindakan tersebut sesungguhnya contoh konkret penerapan falsafah piil pesenggiri dan sakai sambayan.

Sebelumnya, penelitian perihal identitas dan falsafah masyarakat Lampung dilakukan oleh Irianto dan Margaretha (2011), Sinaga (2012), dan Yusuf (2016). Dalam studinya, Irianto dan Margaretha menguraikan falsafah piil pesenggiri sebagai modal budaya dan identitas masyarakat Lampung. Falsafah piil pesenggiri direpresentasikan dalam perilaku masyarakat Lampung di berbagai lini kehidupan seperti penentuan pasangan hidup, status pekerjaan (misalnya berstatus pegawai negeri sipil atau bukan), kepemilikan gelar adat, dan penguasaan sumber daya politik. Falsafah piil pesenggiri diterapkan masyarakat Lampung demi menjaga martabat atau harga diri masyarakat Lampung.

Sinaga (2012) menjelaskan reproduksi identitas masyarakat Lampung dengan cara membangkitkan nilai-nilai piil pesenggiri sesuai konteks zaman, terutama untuk menghilangkan stigma malas bekerja dan daya saing lemah di tengah kontestasi dengan kelompok pendatang. Pemaknaan baru terhadap spirit piil pesenggiri menggugah masyarakat Lampung dari keterbuaian romantisme masa lalu sebagai tuan tanah.

Dalam studi yang dilakukan oleh Yusuf (2016), disimpulkan bahwa falsafah hidup masyarakat Lampung sejalan dengan ajaran-ajaran dalam agama Islam dan nilai-nilai Pancasila. Piil pesenggiri yang muatan utamanya adalah menjaga kehormatan diri; juluk adek yang bermakna menyandang nama atau gelar yang baik; nemui nyimah yang berarti

memiliki sikap ramah dan terbuka; nengah nyappur yang bermakna bermasyarakat dengan baik; dan sakai sambayan yang bermakna saling bergotong-royong; merupakan khasanah budaya nusantara dan sejalan dengan ajaran agama Islam serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Penelitian Irianto dan Margaretha (2011) dan Sinaga (2012) di atas adalah studi etnografi yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara dengan masyarakat Lampung. Penelitian Yusuf (2016) merupakan studi perbandingan antara budaya Lampung dengan nilai-nilai ajaran Islam. Darojat (2019) menulis tentang kajian religiusitas novel Kembara Rindu. Sholikha (2019) meneliti tentang maskulinitas dalam novel Kembara Rindu. Secara metode, penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini berpijak pada analisis teks dalam novel yang berlatar masyarakat Lampung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi falsafah hidup orang Lampung, yaitu piil pesenggiri, sakai sambayan, nengah nyappur, nemui nyimah, dan juluk adek yang terkandung dalam narasi novel Kembara Rindu.

Melalui penelitian ini, diharapkan masyarakat Lampung atau non-Lampung dapat lebih mengenal falsafah hidup, terutama bagi generasi muda. Pengenalan falsafah hidup melalui novel adalah salah satu strategi budaya untuk merekam dan melestarikan khasanah budaya suatu masyarakat secara lebih populer. Generasi muda dapat menarik role model penerapan falsafah hidup tersebut melalui karakter atau tokoh di dalam novel.

METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra Alan Swingewood. Pendekatan sosiologi sastra memandang bahwa karya sastra adalah potret kenyataan sosial dan dapat menjadi gudang adat istiadat (Wiyatmi, 2013). Karya sastra berupa novel dapat menyajikan topik yang dibahas dalam bidang sosiologi, yaitu masyarakat, atau nilai-nilai dan kegiatan di sekitar masyarakat (Damono, 1977). Nilai-nilai yang dianut masyarakat Lampung dapat digali dalam novel Kembara Rindu. Data kualitatif berupa narasi dan dialog dalam novel diobservasi melalui pembacaan berulang. Setelah diobservasi, potongan narasi atau dialog diidentifikasi, diinterpretasi, dan diklasifikasi berdasarkan lima katagori falsafah hidup masyarakat Lampung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lima katagori falsafah hidup masyarakat Lampung adalah piil pesenggiri, sakai sambayan, nengah nyappur, nemui nyimah, dan juluk adek. Narasi atau dialog yang merepresentasikan falsafah hidup tersebut ditampilkan di dalam tabel-tabel di bawah ini.

1. FALSAFAH PIIL PESENGGIRI DALAM NOVEL KEMBARA RINDU

Tabel I merangkum kalimat/ujaran yang memuat falsafah piil pesenggiri dalam Novel Kembara Rindu.

TABEL I FALSAFAH PIIL PESENGGIRI

NOMOR
KODE
HALAMAN
(DALAM
NOVEL)
KALIMAT/UJARAN
16Dalam hati gadis itu berdoa kepada Tuhan minta dijauh
kan dari perbuatan tercela seperti mencuri dan sejenisnya.
Meskipun ia kini juga miskin, ia berharap kuat iman dan
tidak memakan harta orang lain dengan haram.
217-18"Tidak usah. Sudah jadi kewajiban saya mengamankan
masjid ini. Toh yang menemukan tadi juga bukan saya.
Tapi kalau Dik Lina mau beramal, silakan saja dimasukkan
ke kotak amal, di sana itu."
466"… Almarhumah ibumu pasti juga akan sangat bahagia
dan bangga kalau anaknya shalih, pintar ngaji, pintar baca
kitab kuning."
669Sejak saat itu ia sungguh mendapatkan pengalaman yang
luar biasa, antara lain contoh kepemimpinan seorang
ulama yang disegani banyak kalangan, sekaligus adab
dan etika seorang ulama.
871"Kita sebagai santri jangan kalah militan dengan Kopas
sus. Kopassus sangat setia pada komandan dan korpsnya.
Kita harus melebihi mereka. Ketika kita mengawal Kyai
Nawir, maka kehormatan dan keselamatan beliau adalah
segalanya …"
973Mengenakan gaun pengantin adat Lampung dengan ma
hkota Siger di kepala mereka tampak anggun dan ber
wibawa. Duduk berdampingan di pelaminan, keduanya
bagaikan seorang raja dan ratu.
1075"… Daripada nanggap Organ Tunggal yang kadang bid
uanitanya tidak menjaga sopan santun berpakaian, lebih
baik menampilkan seni tradisional kita yang indah dan
sopan seperti ini."
1180Ia langsung tahu penyebabnya. Ridho merasa dua pemuda
itu seperti serigala memandangi mangsanya. Hati Ridho
membara. Ingin rasanya ia mencolok mata mereka.
1284Santri berasal dari Way Meranti itu marah besar kepada
dua orang yang berani mengganggu dan mencolek putri
kyainya.
1385"Aku sudah hukum mereka. Tangan kanan mereka akan
keple, lumpuh seumur hidupnya. Memegang sendok saja
tidak bisa. Kecuali dia datang minta maaf kepadamu dan
kita minta tolong Cak Rosyid memperbaikinya…"
15134Ia santri, dan pasti menyukai semua itu. Tapi ia harus ikh
tiar agar keluarganya bisa tetap makan tanpa minta-minta.
Ia merasa bertanggung jawab menafkahi keluarga. Karena
itulah ia jualan ayam goreng, lalu gorengan.
16134Ia mungkin hanya terlalu polos dan jujur mengungkapkan
apa yang dilihat dan dirasakannya. Satu-satunya hal yang
bisa membungkam mulut-mulut yang miring pada dirinya
adalah sebuah keberhasilan, sebuah prestasi. Ia harus ber
hasil.
34198"Kau jangan berprasangka buruk dulu. Udo suka kau suk
ses, terkenal, kaya, bisa bantu keluarga dan banyak orang.
Demi Allah, Udo suka. Tapi Udo tidak suka melihat Syifa
melenggak lenggok di atas panggung. Syifa didandani se
suai keinginan manajemen. Tidak. Ya itu mungkin kesuk
sesan. Tapi cuma kesuksesan duniawi. Udo ingin suara ba
gusmu itu bukan untuk menyanyi tapi untuk melantunkan
kalam Ilahi. Itu yang Udo inginkan."

Piil pesenggiri sering dimaknai secara umum sebagai harga diri. Falsafah ini dipraktikkan dalam kehidupan melalui pendidikan yang baik, menjaga nama baik diri dan keluarga, memiliki pekerjaan yang baik dan harta yang cukup, membela kehormatan diri atau keluarga, dan menghindari perilaku yang tidak terpuji.

Dari temuan di atas, terdapat representasi falsafah piil pesenggiri dengan berperilaku dan berpendidikan yang baik seperti yang terdapat dalam data nomor kode (4), (6), dan (7). Pendidikan yang baik dapat meningkatkan harga diri seseorang. Tak jarang, demi mendapatkan pendidikan yang baik, seseorang harus merantau dan menempa diri lahir batin. Dalam temuan data di atas, tokoh yang mengenyam pendidikan di pesantren menjadikan ajaran- ajaran yang ia peroleh sebagai landasan bersikap secara pribadi, maupun untuk keluarga dan masyarakatnya.

Menjaga nama baik keluarga merupakan praktik falsafah piil pesenggiri yang dapat dicermati pada data nomor kode (8), (9), (16), . Selain dengan perilaku, menjaga nama baik diri dan keluarga juga dilakukakan melalui sikap mandiri, tidak cengeng, dan berintegritas.

Pekerjaan yang baik dan harta yang cukup juga merupakan salah satu wujud falsafah piil pesenggiri yang dapat ditemukan pada data nomor kode (2), (10), dan (15). Sikap amanah terhadap pekerjaan dan harta adalah bagian dari implementasi falsafah piil pesenggiri. Pekerjaan yang dijalani hendaknya pekerjaan yang diyakini sebagai pekerjaan yang terhormat dan membawa berkah.

Piil pesenggiri juga ditabalkan melalui upaya membela harga diri sendiri maupun keluarga atau orang yang dihormati. Perilaku ini direpresentasikan dalam data nomor kode (11), (12), (13). Bagi masyarakat Lampung, harga diri sendiri dan keluarga atau tokoh yang dihormati adalah kehormatan yang harus dibela meskipun dengan mengorbankan nyawa. Emosi yang meluap seperti amarah atau tangisan, juga pertarungan fisik dan tuntutan hukum merupakan bentuk-bentuk pemertahanan piil pesenggiri seseorang. Dalam data di atas, dapat dilihat bahwa tokoh-tokoh dalam novel kerap berkelahi atau berkata-kata secara tegas demi menunjukkan dan membela harga dirinya.

Perilaku selanjutnya yang menunjukkan falsafah piil pesenggiri adalah menghindari

perilaku yang tidak terpuji. Data nomor (1) dan (34) merepresentasikan perilaku tersebut. Tokoh lebih memilih untuk hidup seadanya asal terhindar dari perilaku yang tidak terpuji dan pekerjaan yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarga.

Menurut Swingewood, karya sastra memiliki fungsi untuk merefleksikan konstruksi sosial melalui unsur instrinsiknya (Wahyudi, 2013). Konstruksi sosial yang tertanam dalam masyarakat Lampung adalah harga diri (piil pesenggiri) dapat diraih melalui kecukupan harta, pekerjaan yang mapan, pendidikan yang tinggi, dan keturunan yang baik. Data-data di atas merefleksikan bahwa harga diri harus dipertahankan dengan nyawa dan keberanian. Harga dibangun susah payah dari nilai-nilai yang luhur dan biaya ekonomi yang tinggi (misalnya melalui harta/pekerjaan/pendidikan). Oleh karena itu, piil pesenggiri harus selalu dipertahankan dengan menjaga perilaku dan bertanggung jawab atas konsekuensi dari perilaku tersebut.

2. FALSAFAH SAKAI SAMBAYAN DALAM NOVEL KEMBARA RINDU

Dengan spirit sakai sambayan, masyarakat Lampung dapat menghidupkan kehidupan masyarakat yang harmonis, toleran, dan peduli pada kebutuhan sesama. Falsafah sakai sambayan dalam novel Kembara Rindu dapat diamati dalam tabel berikut.

Gotong royong dan saling membantu merupakan perwujudan falsafah sakai sambayan. Prinsip ini berlaku baik bagi yang mengharapkan balasan maupun yang tidak mengharapkan pamrih apapun. Balasan ini tidak selalu dalam bentuk materi, akan tetapi dapat berupa hal-hal yang sifatnya immaterial seperti bantuan atau sekadar doa. Bagi pihak yang mendapatkan bantuan, biasanya cukup tahu diri untuk membalas kebaikan pihak yang lain yang telah membantunya.

Bentuk pertolongan tanpa mengharap balasan dapat diamati pada data (1), (2), dan (6). Tindakan para tokoh dalam data tersebut saat menolong orang yang kesulitan murni didorong oleh rasa kemanusiaan, sehingga tidak membutuhkan imbalan apapun.

Terdapat pertolongan yang mengharapkan balasan karena pertolongan yang diberikan merupakan jasa terapi sebagai bagian dari mata pencaharian. Perilaku ini tercermin dalam data nomor kode (16), (17), (18). Dalam data-data tesebut, pertolongan yang diberikan terlihat wajar apabila pihak yang menolong berharap balasan seperti menemukan kembali barang yang hilang, pengembalian utang, pengabdian atas jasa yang sudah diberikan, dan pembayaran jasa.

Upaya membalas pertolongan direpresentasikan dalam data nomor kode (3), (4), dan (7). Sebagai pihak yang pernah ditolong, adalah wajar jika hendak membalas kebaikan atas pertolongan yang telah diperoleh sebelumnya. Hal ini bukan perkara pamrih, akan tetapi sebagai bentuk dari rasa terima kasih dan penghargaan terhadap kebaikan pihak yang menolong. Cara membalas pun tidak harus selalu dalam bentuk materi. Namun, dalam data yang ditemukan, semua upaya membalas pertolongan diwujudkan melalui imbalan materi.

Sebagaimana yang disebut oleh Swingewood dan Laurenson (1972), karya sastra mengandung refleksi langsung struktur sosial, hubungan kekeluargaan, komposisi populasi, dan tren lain yang mungkin muncul (Wahyudi, 2013). Dalam temuan data di atas, tercermin sikap saling menolong yang antar anggota masyarakat sesuai dengan keberadaan atau posisi masing-masing baik sebagai sesama manusia, sebagai kerabat, maupun sebagai penyedia jasa tertentu. Dalam konteks cerita di novel, perilaku tolong menolong cenderung bersifat sukarela. Terdapat juga tolong menolong yang bersifat transaksional (misalnya pembayaran jasa profesi dan utang piutang), tetapi kita tidak bisa melepaskan nuansa tolong menolong dalam transaksi tersebut.

TABEL II FALSAFAH SAKAI SAMBAYAN

NOMOR
KODE
HALA
MAN
(DALAM
NOVEL)
KALIMAT/UJARAN
112Gadis penjual pisang goreng itu berkelebat masuk ke dalam
masjid mencari takmir masjid. Kepada takmir berkopiah
putih dan berbaju koko motif tapis ia serahkan handphone
yang ia temukan di tempat wudhu. Takmir masjid tua itu
menanyakan nomor yang bisa dihubungi, jika pemilik
handphone itu menanyakan tentang penemu handphone.
217"Sebentar Dik Lina, saya lanjutkan, tetapi berbahagialah
bahwa masih banyak orang baik di negeri kita ini, di daerah
kita ini. Handphone Dik Lina aman, sebab ditemukan oleh
anak gadis yang jujur dan baik." "Benarkah Pak?" Lelaki
berkopiah itu mengangguk lalu mengambil ponsel dari laci
nya. "Ini kan barangnya?" "Iya. Alhamdulillah. Allahu Akbar!" Air
mata Lina menetes haru. Ia langsung sujud syukur.
318"Ya Allah ampuni hamba-Mu yang tidak peduli." Ia berjanji
jika ketemu anak itu, ia akan menyerahkan sepersepuluh
isi rekeningnya, sebagai tanda terima kasih sekaligus se
bagai infak untuk anak yatim.
450Baginya itu bukan uang yang banyak dibandingkan harga
isi ponselnya yang menurutnya tiada ternilai, tetapi bagi
gadis itu uang tiga puluh juta ia yakin sangat berharga.
Mungkin gadis itu ingin putus sekolah, maka dengan uang
itu ia bisa lanjut sekolah. Atau, uang itu bisa ia gunakan
untuk modal usaha bikin warung kaki lima, sehingga ia
tidak perlu menjajakan air mineral eceran seperti itu. Ia
ingin berterima kasih pada gadis itu dan ingin memban
tunya. Ia sangat terkesan bahwa masih ada orang baik di
negeri ini.
689"Ah, ini bukan apa-apa. Santai saja lah! Selama aku bisa,
aku akan bantu.Tak usah sungkan seperti dengan orang tak
dikenal."
789"Ini bukan aku membayar kamu, bukan. Sebab kamu
bukan tukang ojek. Ini aku ingin sedikit membantu beli
bensin, tolong diterima. Kalau tidak terima, tidak usah
antar-antar aku lagi!" Syifa gantian mengancam.
16130Selain menerapi Kakek Jirun, ia juga minta agar Pak Mu
fid dan Bang Yasin menerapi kedua neneknya. Hasilnya
cukup menggembirakan, kedua neneknya itu merasa lebih
segar dan enteng badannya.
17196"… Kali ini, demi Tuhan, saya ingin membantu dengan
tulus. Saya merasa, sangat sayang, jika bakat dan potensi
besar dibiarkan terpendam jauh di pelosok Lampung. Ha
rus diangkat agar dunia tahu. Begitu tawaran dari saya."
18210"… Jadi kamu jangan kecil hati. Segera kamu buka rekening
di bank syariah. Jika kau sudah buka rekening kabari aku.
Insya Allah nanti aku transfer empat puluh juta"

3. FALSAFAH NENGAH NYAPPUR DALAM NOVEL KEMBARA RINDU

Nengah nyappur menunjukkan karakter masyarakat Lampung yang suka berbaur dan adaptif. Nilai-nilai nengah nyappur merangsang kreativitas dan sikap cepat tanggap terhadap masalah dan perubahan zaman. Sikap yang dapat ditumbuhkan dari falsafah ini adalah suka mendengarkan pihak lain. Falsafah ini melandasi musyawarah untuk mufakat masyarakat dan sikap tanggung jawab terhadap keputusan yang telah ditetapkan. Sikap lain yang dapat ditumbuhkan dari falsafah ini adalah perilaku santun agar dapat diterima secara lapang dada oleh masyarakat. Berikut adalah falsafah nengah nyappur yang tercermin dalam kalimat/ujaran dalam novel Kembara Rindu.

Falsafah nengah nyappur dapat dikatakan serupa maknanya dengan peribahasa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Falsafah ini menuntun masyarakat Lampung untuk dapat beradaptasi sesuai situasi sosial di sekitarnya. Perilaku ini dapat diamati dalam data nomor (3), (5), (10), Perilaku adaptasi di dalam data tersebut didominasi oleh etiket atau bahasa tubuh tokoh dalam berinteraksi di lingkungan pesantren seperti mencium tangan, menunduk, tidak menatap wajah kyai, dan mengerjakan rutinitas sehari- hari.

Sikap yang tumbuh dari falsafah nengah nyappur adalah taat pada hasil keputusan orang yang dituakan atau keputusan bersama. Sikap ini dapat dilihat pada data nomor (1), (7), (12),. Tokoh di dalam novel digambarkan amat patuh pada keputusan kyai atau orang yang dituakan. Juga terdapat kesepakatan anggota masyarakat atau kesepakatan antartokoh secara pribadi.

Falsafah nengah nyappur juga memberi inspirasi untuk menumbuhkan kreativitas. Bentuk perilaku kreatif ini dapat ditemukan pada data nomor (8), (9), (16),. Kreativitas yang ditemukan dalam data berkaitan dengan cara tokoh untuk terus hidup di lingkungan yang baru. Ketika di pesantren, tokoh berpikir kreatif dengan mengambil pelajaran yang kurang diminati santri lain. Terdapat pula kreatifitas dalam segi mencari nafkah, yaitu dengan cara menabung dan memberikan nilai tambah pada barang yang dijual.

Swingewood dan Laurenson (1972) memandang bahwa terdapat hubungan langsung antara unsur karya sastra dengan unsur di dalam masyarakat, baik bersifat satir, karikatur, realistis maupun idealisme romantis (Wiyatmi, 2013). Dalam temuan di atas, representasi falsafah nengah nyappur cenderung bersifat idealisme romantis. Tokoh-tokoh digambarkan memiliki hubungan yang harmonis karena masing-masing menerapkan nengah nyappur dengan baik.

TABEL III FALSAFAH NENGAH NYAPPUR

NOMOR
KODE
HALAMAN
(DALAM
NOVEL)
KALIMAT/UJARAN
124"Saya ikut dawuh Gus Najib saja." Jawab Ridho dengan
menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah putri
bungsu Kyai Nawir. "
340Meskipun tidak bisa hadir setiap pagi, Ridho termasuk
santri yang ikut ngaji kitab Tanwirul Qulub. Jika dirin
ya longgar, tidak harus ke pasar untuk membantu bagian
dapur belanja, ia selalu ikut pengajian kitab itu.
545Ia terus menunduk, pandangannya hanya tertuju ke piring
nasinya. Ia sama sekali tidak berani memandang wajah
teduh Kyai Nawir.
748Saat Ridho mencium ulama penyayang itu keharuannya
tidak bisa dibentuk. Ia menangis terisak-isak. Air matanya
mengalir membasahi punggung tangan kanan Kyai Nawir.
868Sebenarnya ia sangat tertarik dengan Karya Ilmiah Rema
ja, tetapi ia harus mengejar ketertinggalannya di sisi ilmu
alat untuk membaca kitab. Beruntung ada ekstrakurikuler
membaca kitab. Itu sedikit peminatnya karena dianggap
membosankan. Tetapi karena itu yang ia cari, maka Ridho
pun memilihnya.
977Santi diminta pengantin perempuan untuk menampilkan
grup tarinya di pesta pernikahannya. Pengantin perempuan
– yang masih sepupu Santi – menyampaikan bahwa ba
yaran yang telah disiapkan untuk organ tunggal akan diber
ikan kepada Santi dan grup tarinya.
12119"Waktumu ngaji dan belajar di pesantren ini sudah khatam.
Sudah saatnya kamu pulang ke Lampung. Keluarga dan
masyarakatmu saat ini sangat memerlukan kehadiranmu.
Berkemaslah, dan besok, pulanglah ke Lampung!"
16156Ia memutar uang yang dapatkan selama bekerja di Hong
Kong. Ia membuka warung kelontong di dekat Pasar Pagi.
Dari situ Nurlaila bisa bertahan hidup, bahkan bisa menolong
beberapa temannya yang kekurangan.

4. FALSAFAH NEMUI NYIMAH DALAM NOVEL KEMBARA RINDU

Secara umum, nemui nyimah adalah menjalin silaturahmi dengan sopan santun. Tabel di bawah ini menampilkan kalimat/ujaran dalam novel Kembara Rindu yang mengandung falsafah nemui nyimah.

Falsafah nemui nyimah merupakan landasan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan kekeluargaan masyarakat Lampung. Wujud perilaku yang didasari falsafah ini adalah menjamu tamu dengan ramah dan bersikap sopan santun. Data nomor kode (3), (6), (7), menunjukkan sikap ramah yang dilakukan tokoh novel saat menjamu tamu. Sikap ramah tersebut dicerminkan melalui senyum, sikap menyimak, menyambut hangat, memeluk, menggelar tikar, memberesi dagangan, dan mengantar tamu ke tempat duduk.

Sikap sopan santun dapat ditemukan dalam data nomor kode (1), (2), dan (10). Sikap sopan santun ini direpresentasikan melalui penggunaan kata maaf dan terima kasih, untuk menolak tawaran, serta sikap hormat kepada orang yang dihormati.

TABEL IV FALSAFAH NEMUI NYIMAH

NOMOR
KODE
HALAMAN
(DALAM
NOVEL)
KALIMAT/UJARAN
19"Pisang goreng Mbak?" "Tidak Dik, terima kasih." Perem
puan berjilbab biru itu menjawab dengan ramah dan hanya
sekilas memandang ke arah penjual pisang goreng. "Air
mineral Mbak?" "Terima kasih. Lain kali ya."
29"Tolong Mbak dibeli, keuntungannya untuk anak yatim."
Suara iqamat menggema. Perempuan berjilbab biru itu ber
jalan cepat ke masjid. "Maaf Dik, sudah iqamat."
316Maka ia menuju kantor takmir untuk menjelaskan kehil
angannya. Ia ditemui lelaki tua berkopiah putih memakai
koko motif tapis. Lelaki tua itu tersenyum ramah setelah
mendengarkan semua cerita Lina.
688Setelah shalat Shubuh bersama Kyai Shobron dan menik
mati susu cokelat panas serta pisang goreng, Ridho dipersi
lakan untuk istirahat dulu.
7137"… Saya dengar sendiri pas Abah ngundang Ridho sarapan,
seperti apa kata-kata abah pada Ridho. Sampai manggil dia
itu dengan 'anakku'. Aku aja jarang dipanggil 'anakku',
abah kalau manggil langsung namaku 'Na … Diana!' gitu!
Apa sih istimewanya Si Ridho itu? "
10203"Masya Allah Pak Kyai Shobron. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Ridho langsung mencium tangan
Kyai Shobron. Syifa jadi kaget melihat betapa Ridho sangat
hormat pada lelaki itu.

5. FALSAFAH JULUK ADEK DALAM NOVEL KEMBARA RINDU

Di dalam novel Kembara Rindu, tidak ditemukan nama atau gelar adat yang disahkan melalui upacara adat. Hanya terdapat panggilan yang sifatnya kekeluargaan atau penghormatan secara umum sesuai profesi yang melekat pada seseorang, sebagaimana yang tercantum dalam tabel berikut.

Panggilan hormat yang ditemukan dalam novel ini adalah panggilan udo (data nomor 1), yang dalam Bahasa Lampung berarti kakak laki-laki. Panggilan ini lazim ditemukan di masyarakat Lampung yang tinggal di Lampung Barat. Selain itu, terdapat panggilan hormat dengan menggunakan kata kyai (data nomor 2). Panggilan tersebut umum digunakan oleh warga Indonesia untuk menyebut pemuka atau tokoh agama Islam.

NO
MOR
HALAMAN
(DALAM
NOVEL)
KALIMAT/UJARAN
17Dan ia tahu persis, Udo Ridho adalah anak yang sangat
patuh pada pesan Kakek Jirun, juga sangat patuh pada
guru-gurunya.
267Kakeknya bercerita pernah mendengar dari seorang kyai
dari daerah Air Hitam bahwa Kyai Nawir atau lengkapnya
Kyai Munawir Abdul Jalil dari Sidawangi adalah seorang
kyai yang ikhlas, seorang pendidik yang penuh kasih sayang.
Maka kakeknya itu ingin cucunya diasuh oleh orang yang
ikhlas dan penuh kasih sayang.

TABEL V FALSAFAH JULUK ADEK

SIMPULAN

Berdasarakan pembahasan di atas, novel Kembara Rindu merepresentasikan falsafah hidup masyarakat Lampung berupa piil pesenggiri, sakai sambayan, nengah nyappur, dan nemui nyimah. Falsafah juluk adek tidak ditemukan yang sesuai pakem adat Lampung, tetapi terdapat panggilan yang secara umum ditujukan sebagai panggilan hormat, yaitu panggilan udo (yang berarti kakak laki-laki) dan kyai. Falsafah-falsafah tersebut tercermin dalam narasi novel melalui ujaran-ujaran dari para tokoh novel atau kalimat-kalimat yang menceritakan adegan yang dilakukan oleh para tokoh. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan melalui sudut pandang yang lain seperti mendedah secara semiotis simbol-simbol ajaran agama yang kental dalam narasi novel.

References

  1. Jurnal Ilmiah
  2. Irianto, S., dan Margaretha, R. (2011). Piil Pesenggiri: Modal Budaya dan Strategi Identitas Ulun Lampung. Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Volume 15, Nomor 2, 140-150.
  3. Sinaga, R.M. (2012). (Re)produksi Piil Pesenggiri: (Identitas Etnis Lampung dalam Hubungan dengan Pendatang). Jurnal Antropologi Indonesia, Volume 33, Nomor 2, 98-109.
  4. Yusuf, H. (2016). Nilai-nilai islam dalam falsafah hidup masyarakat Lampung. Jurnal Kalam, Volume 10, Nomor 1, 167-192.
  5. Website
  6. Syani, A. (2013, April 2). Falsafah Hidup Masyarakat Lampung: Sebuah Wacana Terapan. Retrieved from http://staff.unila.ac.id/abdulsyani/2013/04/02/falsafah-hidup-masyarakat-lampung-sebuah-wacana-terapan/