PENDAHULUAN
Pada bidang desain komunikasi visual, logo dapat diterjemahkan sebagai simbol sebuah identitas yang di dalamnya terkandung konsep, nilai, ideologi, juga citra yang merepresentasikan produk, perusahaan, organisasi, perhelatan yang diwakilinya. Suatu logo yang ideal, secara keseluruhan merupakan kumpulan instrumen rasa harga diri dan nilai-nilai yang mampu mewujudkan citra positif dan bonafiditas yang disimbolkan dan direpresentasikan secara utuh dan total, bahwa logo tersebut mengandung arti atau makna suatu "kebijakan berpikir" dan maksud tertentu (Budiman, 2017)). Logo secara spesifik memiliki pola yang khas dan mampu membedakannya dengan indentitas atau simbol visual yang lain. Logo tercipta dari proses merancang wujud atau rupa melalui medium garis, warna, dan huruf yang diorganisasi untuk mendapatkan kesatuan bentuk yang memiliki konsep dan makna tertentu.
Dalam tulisannya Didit Widyatmoko (dalam Budiman, 2017) mengungkapkan jika pada abad XXII logo berupa tanda atau inisial perajin yang ditorehkan pada gerabah, semacam kendi dan mangkuk, juga dilukiskan pada benda-benda porselen, semuanya dengan tujuan untuk menunjukkan identitas produsen dan jaminan kualitas produk. Dewasa ini, keilmuan desain komunikasi visual mulai memperlebar fungsi dan peranan logo untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan media dan juga teknologi. logo saat ini bukan hanya sebagai penanda dan identitas produk saja, namun logo harus mampu menjadi spirit dan dapat secara kuat merepresentasikan karakteristik yang diwakilinya. Logo dalam kerangka branding, mampu menjadi wajah yang dapat memperkuat karakteristik dan meningkatkan nilai jual. Dibidang promosi turut menjadikan logo sebagai simbol komunikasi visual yang mudah dikenali dan dapat meningkatkan brand awareness. Dengan demikian, banyak pihak yang menjadikan logo sebagai salah satu elemen penting dalam meningkatkan rasa kehadiran kepada target market.
Logo mampu menjadi komoditas seni yang memiliki peranan sangat penting dalam proses promosi dan membangun jati diri penggunanya. Sektor pariwisata di Lampung menyadari akan pentingnya memiliki logo yang spesifik dan mampu untuk mencitrakan potensi pariwisata di daerah berjuluk "Sai Bumi Ruwa Jurai" ini (Lampung, 2020). Atas dasar hal tersebut, pada 2016 diluncurkanlah sebuah branding pariwisata di Lampung yang divisualisasikan melalui logo yang nantinya akan diaplikasikan di berbagai media. Logo yang dirancang hadir dalam tampilan yang khas dan memiliki karakteristik yang kuat bila dibanding dengan logo branding pariwisata lainnya di Indonesia.
Lampung dari sektor pariwisata merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cukup banyak destinasi wisata alam, budaya, dan juga buatan. Terdapat setidaknya 250 lebih destinasi wisata yang siap dikunjungi. Lampung tercatat memiliki tidak kurang 116 destinasi wisata alam yang tersebar di berbagai daerah di Lampung. Untuk lebih memperkenalkan diri dan mendapatkan kunjungan yang besar, perlu dilakukan promosi secara berkala dan juga branding yang tepat. Dengan demikian, promosi dapat menarik minat target market untuk bersedia datang dan menikmati pengalaman berwisata di Lampung. Dengan meningkatnya jumlah kunjungan, semakin tinggi pula potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari sektor tersebut. Pemerintah Indonesia mencatat kontribusi dari sektor pariwisata cukup besar dan mampu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (RI, 2018). Kementerian Pariwisata mencatatkan mampu menyumbang devisa sebesar 176 Triliun pada 2016, 202 Triliun pada 2017, 224 triliun pada 2018, dan 280 triliun pada 2019. Peningkatan tersebut ditunjang oleh semakin meningkatnya perkembangan infrastruktur, meningkatnya perekonomian masyarakat, dan juga pengembangan sektor
pariwisata di tiap-tiap daerah melalui penambahan destinasi serta penyelenggaraan acara bertajuk seni budaya. Lampung dengan kekayaan yang dimiliki berpeluang besar untuk menjadi primadona pada sektor pariwisata.
Penelitian ini mengkaji makna yang terkandung pada logo pariwisata Lampung dengan mengggunakan pendekatan teori ikonografi dan ikonologi. Di samping itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah logo tersebut sudah memenuhi unsur-unsur sebagai logo yang ideal dan dikategorikan sebagai logo yang baik atau tidak. Nantinya, hasil studi ini dapat dimanfaatkan sebagai contoh dalam merancang logo sejenis di daerah lain. Dengan menggunakan pendekatan unsur simbol budaya lokal, studi ini akan mengungkapkan makna di balik logo yang dirancang. Dengan berkembangnya media dan teknologi, mekanisme promosi di sektor pariwisata dan logo yang baik dapat meningkatkan nilai dan brand awareness. Hal ini akan berdampak banyak pada segala aspek. Branding daerah pariwisata menjadi tahapan awal yang dilakukan oleh pemerintah sebelum melakukan promosi lebih lanjut. Evaluasi dan kajian terhadap desain yang dirancang menjadi hal yang penting dan bermanfaat untuk dilakukan, serta dapat memberikan kontribusi dalam bidang keilmuan dan juga praktis.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik tersebut memungkinkan untuk mendapatkan data sesuai dengan kecenderungan yang diharapkan. Jenis data yang dibutuhkan pada penelitian ini, yakni berupa ungkapan visual (lambang dan logo) yang berhubungan dengan daerah Lampung sebagai subjek penelitian. Untuk menambah kedalaman dan juga validitas data, dilakukan juga studi literatur dan observasi.
Teori yang digunakan adalah ikonografi dan ikonologi yang dinyatakan oleh Erwin Panofsky. Dalam bukunya, Panofsky, menyampaikan ikonografi bersifat deskriptif dan classificatory, sedangkan ikonologi bersifat identifikasi. Panofsky berpandangan bahwa karya seni terbagi ke dalam tiga tahapan. Pertama, deskripsi praikonografis menangkap pemaknaan pertama (primer) ketika suatu karya seni dapat diidentifikasi melalui bentuk-bentuk yang masih murni seperti konfigurasi garis dan warna. Bentuk-bentuk itu dianggap sebagai representasi suatu objek alamiah. Kedua, tahap mengidentifikasi makna sekunder terhadap aspek representasi, baik metafora maupun alegori, yaitu dengan menerjemahkan makna dari lambang-lambang, dengan melihat hubungan antara motif sebuah karya seni dengan unsur, konsep, atau makna yang terkait pada karya tersebut. Tahap Ketiga, karya seni diinterprestasi dengan menggunakan pendekatan ikonologis dengan penetapan makna yang terkandung di dalamnya (Panofsky, 1955).
Ketiga proses tersebut dikaitkan dengan mentalitas dasar budaya yang dapat dimanivestasikan ke dalam ilmu pengetahuan, agama, filsafat, dan ideologi. Studi ikonografis dan ikonologis akan mengkaji makna tersembunyi yang terdapat pada logo pariwisata Lampung. Tahap awal dari proses tersebut adalah dengan mengidentifikasi unsur budaya, warna, dan juga elemen grafis yang terdapat pada simbol pada seluruh lambang daerah Lampung. Selanjutnya, dilakukan kajian untuk mengetahui hubungan antara lambang seluruh daerah Lampung dengan logo pariwisata Lampung yang divisualisasikan melalui simbol yang ditampilkan. Berdasarkan data tersebut, akan digali makna melalui studi ikonografis dan ikonologis. Penelitian ini juga akan menganalisis logo dengan teori logo berdasarkan variabel yang dinyatakan oleh Evelyn Lip. Evelyn mengemukakan logo memiliki kriteria,yaitu 1) harus sesuai dengan kebudayaan; 2) mampu menyandang citra yang diinginkan dan menunjukkan keadaan sebenarnya serta menggambarkan sasaran komersial organisasi yang diwakilinya; 3) dapat menjadi alat komunikasi visual; 4) seimbang dalam visual hitam putih atau warna; 5) menggambarkan irama dan proporsi; 6) artistik, elegan, simpel, dan memiliki point interest; 7) harmonis; merupakan penggabungan tulisan/huruf yang tepat sehingga logo menjadi logis dan jelas; 8) menguntungkan secara Feng Shui dan seimbang dalam unsur Yin dan Yang (Monica, 2011).
HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1 Logo pariwisata Lampung (sumber: https://pariwisatalampung.com/)
Logo dengan branding Lampung The Treasure of Sumatra resmi diperkenalkan pada publik pada perhelatan Jelajah Rasa Festival Krakatau 2016, 26-28 Agustus 2016 di Lapangan Saburai, Bandar Lampung. Logo yang merepresentasikan semangat Lampung dalam mempromosikan aset pariwisata tersebut dirancang dengan menggunakan pendekatan teknik visualisasi yang modern namun menggunakan spirit dan simbol lokal sebagai identitas utama. Logo pariwisata Lampung tergolong dalam jenis asosiatif logo. Menurut John Murphy dan Michael Rowe, logo asosiatif/Associative logos memiliki ciri yakni dapat berdiri sendiri dan tidak selalu berupa nama produk atau lembaga/pengguna, namun memiliki asosiasi langsung dengan nama produk atau daerah aktivitas yang dijalani (Perdana, 2007). Berdasarkan definisi tersebut, secara visual logo pariwisata Lampung tidak menggunakan nama pariwisata atau merujuk pada salah satu destinasi wisata terpopuler di sana, namun lebih menggunakan nama daerah dan salah satu simbol lokal yang merujuk pada kekhasan budaya di sana. Bentuk Siger pada logo tersebut secara harafiah mudah diidentifikasi bentuknya dan diperkuat lagi dengan kata "Lampung" yang merujuk pada daerah yang menggunakan logo tersebut.
Jenis huruf/tipografi pada logo tersebut menggunakan jenis Miscellaneous. Menurut James Craig (dalam Perdana, 2007), huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada dan ditambah hiasan ornamental bergaya lokal. Bentuk ornamen yang digunakan pada logo tersebut lebih mengarah pada gaya lekukan yang ada pada bentuk siger, lekukan, dan derajat ketajaman pada siger menjadi aksen utama dalam mendekorasi huruf Lampung dengan kesan yang lebih tradisional namun tetap memiliki keterbacaan yang baik. Sementara itu, makna dari teks pada logo pariwisata Lampung bertuliskan "Lampung" dengan jargon "Lampung The Treasure of Sumatra" ingin menunjukkan identitas Provinsi Lampung sebagai daerah yang berada di ujung selatan Pulau Sumatra, Indonesia yang memiliki dua kota dan tiga belas kabupaten. Jargon logo yang dituliskan dengan istilah berbahasa Inggris bermakna bahwa Lampung merupakan sebuah daerah yang memiliki kekayaan atau menjadi harta penting di Sumatra.
Harta tersebut adalah kekayaan alam, budaya, dan juga potensi lainnya yang mampu dikembangkan menjadi daya tarik pada sektor pariwisata. Penggunaan istilah bahasa Inggris sebagai jargon dalam logo tersebut bertujuan untuk memberikan kesan bahwa Lampung sebagai destinasi pariwisata berstandar Internasional.
TABEL I IDENTIFIKASI BENTUK LAMBANG DAERAH LAMPUNG
| No | Lambang | Simbol Kesuburan dan Kemakmuran (Padi, Kapas, | Simbol Potensi Kekayaan Alam (Gunung, Laut, Sungai, atau Mineral) | Simbol Pusaka Tradisi (Perisai, Laduk, Payung, Gong, Payam, | Simbol Siger | Unsur Warna | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Lada) | Motif Kapal) | Jurai Adat Pepadun | Jurai Adat Saibatin | Hijau | Biru | Putih | Emas | Merah | |||
| I | LAMPUNG | ✓ | - | √ | ✓ | _ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| II | KOTA CHOCKETON OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERTY OF THE PROPERT | ✓ | - | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| III | LAPPING TENGAL | ✓ | - | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | |
| IV | LAMPUNG TIMUR | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| V | KABUPATEN LAPPINGUTARA | ✓ | - | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | |
| VI | MESUJI | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| No | Lambang | Simbol Kesuburan dan Kemakmuran (Padi, Kapas, Lada) | Simbol Potensi Kekayaan Alam (Gunung, Laut, Sungai, atau Mineral) | Simbol Pusaka Tradisi (Perisai, Laduk, Payung, Gong, Payam, Motif Kapal) | Simbol Siger Jurai Jurai Adat Adat Pepadun Saibatin | Hijau Biru Putih Emas Merah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| VII | METRO | ✓ | - | ✓ | ✓ - | ///// |
| VIII | PESAWARAN | - | ✓ | ✓ | ✓ ✓ | ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ |
| IX | PRINGSEWU | √ | - | ✓ | ✓ - | ✓ ✓ ✓ ✓ |
| х | TULANG BAWANG BARAT | ✓ | - | ✓ | ✓ - | ✓ ✓ ✓ ✓ |
| XI | TULANG BAWANG | √ | - | ✓ | ✓ - | / / / / / |
| XII | WAY KANAN | √ | √ | ✓ | ✓ - | / / / / / |
| No | Lambang | Simbol Kesuburan dan Kemakmuran (Padi, Kapas, Lada) | Simbol Potensi Kekayaan Alam (Gunung, Laut, Sungai, atau Mineral) | Simbol Pusaka Tradisi (Perisai, Laduk, Payung, Gong, Payam, Motif Kapal) | Sim Sig Jurai Adat Pepadun | Jurai Adat | Hijau | | Unsu | 000 0000000 | Emas | Merah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| XIII | TANGGAMUS | ✓ | ✓ | √ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| XIV | LAMPUNG BARAT | ✓ | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | √ |
| xv | PESISIR BARAT | - | ✓ | √ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | √ |
| XVI | TUNPUNG SELATAN | ✓ | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| XII | UNITED A PARTY | ✓ | ✓ | ✓ | - | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| Total | 15 | 9 | 17 | 12 | 6 | 17 | 15 | 17 | 17 | 17 |
Pemerintah Lampung menyadari kekayaan budaya dan alam yang dimiliki. Hal ini ditunjukkan dengan lambang tiap-tiap daerah kabupaten dan kota selalu menyertakan simbol budaya dan alam untuk menunjukkan kekhasannya. Dari hasil identifikasi terhadap semua lambang di daerah Lampung ditemukan bahwa terdapat asosiasi dan konsistensi warna, simbol yang kuat antardaerah. Selain itu, simbol yang ditampilkan presisi dengan data yang dimiliki sehingga lambang daerah yang ada mampu menjadi spirit dan representasi potensi di tiap-tiap daerah.
TABEL II RANGKUMAN IKONOGRAFIS DAN IKOLOGIS LAMBANG DAERAH LAMPUNG
| No | Praikonografis | Ikonografis | Ikonologis |
|---|---|---|---|
| i | Deskripsi | Interpretasi | Evaluasi |
| ii | Terdapat simbol kesuburan dan kemakmuran yang direpresentasikan dalam ikon padi, kapas, atau lada sebagai komoditas penting di Lampung | Lampung merupakan daerah yang subur bagi sektor perkebunan dan pertanian sehingga mampu menghasilkan komoditas penting yakni padi, lada, kopi, jagung, dan ketela untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Simbol Kapas mewakili kemakmuran masyarakat Lampung | Dari 17 lambang daerah di Provinsi Lampung terdapat 15 lambang daerah yang menyertakan simbol kemakmuran sehingga dapat dikatakan bahwa Lampung memiliki kesamaan visi yang kuat dalam hal kontribusi bagi sektor perekonomian dan kesejahteraan masyarakat |
| iii | Terdapat simbol potensi kekayaan dan pariwisata alam yang dimiliki Lampung, antara lain potensi pegunungan, laut, sungai, atau mineral | Pegunungan, laut, dan sungai merupakan kekayaan yang tidak dimiliki semua daerah di Indonesia. Provinsi Lampung sendiri memiliki banyak potensi alam yang berbeda-beda di setiap daerah dan dapat dikembangkan bagi sektor pariwisata. | Dari data di atas Lampung Barat dan Selatan merupakan daerah dengan potensi alam yang paling banyak. Hal tersebut disadari oleh pemerintah untuk menjadikan sebagai aset bagi pengembangan parwisata. Beberapa kawasan telah dikelola dengan baik sehingga memberi nilai ekologis dan ekonomi |
| iii | Terdapat simbol benda pusaka tradisi yang khas Kerajaan Lampung, antara lain Perisai, Payung, Laduk, Gong, Payam, atau Kapal | Lampung tetap menjunjung tinggi budaya adat istiadat lokal yang ada. Salah satu caranya adalah dengan menyematkan simbol aset budaya Kerajaan Lampung seperti Perisai, Payung, Laduk, Gong, Payam, atau Kapal sebagai identitas yang khas | Aset benda pusaka tradisi yang ada menjadi nilai tersendiri bagi keberadaan budaya masyarakat di Provinsi Lampung. Di sisi lain, keberadaan aset benda pusaka tradisi yang tersimpan di museum ataupun di pusat kebudayaan mampu menjadi media wisata edukasi bagi masyarakat. |
| iv | Terdapat simbol Siger sebagai salah satu ikon khas jurai adat Pepadun atau jurai adat Saibatin | Siger merupakan mahkota yang dikenakan oleh wanita adat Lampung, dan memiliki bentuk yang khas seperti atap rumah adat di Sumatra Barat. Siger pada jurai adat Pepadun memiliki jumlah sembilan (9) lekuk, sedangkan pada jurai adat Saibatin memiliki jumlah tujuh (7) lekuk pada Mahkota | Siger disepakati menjadi salah satu ikon penting yang mampu merepresentasikan identitas Lampung. Siger secara sungguh-sungguh diaplikasikan sebagai identitas visual baik pada lambang daerah,lLogo formal dan informal, Landmark, bangunan arsitektural. Hal tersebut secara tidak langsung menjadi salah satu bentuk branding kota yang diterapkan secara masif |
|---|---|---|---|
| v | Terdapat unsur warna hijau, biru, putih, emas, dan merah | Warna hijau merepresentasikan kesuburan alam tanah Lampung; warna biru menunjukan ketenangan dan kekayaan potensi laut dan sungai; putih mewakili makna kesucian, ketulusan, dan kearifan masyarakat Lampung; emas merepresentasikan keagungan, kejayaan, dan kesuksesan di segala aspek, dan warna merah mewakili makna keberanian, adat istiadat, dan dataran rendah | Konsistensi pemerintah dalam menerapkan komposisi warna yang sama di semua lambang daerah menjadi bentuk kesungguhan dalam membangun citra daerah yang khas. Pemilihan warna dengan filosofi mendalam menjadikan lambang Provinsi Lampung sangat karakter; hal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar atau referensi bagi visualiser dalam menciptakan simbol warna yang identik Lampung. |
| vi | Komposisi bentuk simetris | Bentuk simetris pada komposisi lambang di setiap daerah Lampung merepresentasikan keselarasan dan keseimbangan pada setiap aspek kehidupan masyarakat dan pemerintah | Lambang daerah dan siger dibangun dalam bentuk dan konstruksi yang simetris atau seimbang. hal tersebut selaras dengan konsep budaya Lampung "Sai Bumi Ruwa Jurai" yang memiliki makna Lampung sebagai rumah tangga agung yang didiami oleh dua jurai masyarakat adat, yaitu jurai adat pepadun dan jurai adat saibatin |
Pemilihan warna pada logo pariwisata Lampung bila dikaji memiliki makna, antara lain warna hijau merepresentasikan kesuburan tanah, potensi alam, dan keharmonisan dengan alam. Warna biru menunjukkan ketenangan, keluasan, kecerahan, dan kekayaan potensi laut/sungai. Warna putih mewakili makna kesucian, ketulusan, dan kearifan masyarakat Lampung. Warna emas merepresentasikan keagungan, kejayaan, dan kesuksesan di segala aspek; warna merah mewakili makna keberanian, adat istiadat, potensi alam, kemajuan, serta representasi potensi alam, sosial, dan ekonomi dataran rendah. Dalam sebuah logo, warna merupakan elemen yang sangat penting dan warna menjadi identitas yang sangat unik untuk dikenali. Selain itu, warna juga mampu memengarui target audiense untuk merasakan kesan tertentu.Warna lebih dari sekedar hiasan semata dalam sebuah desain, tetapi lebih pada bahasa emosional dan simbolik (M. & L. C. L. Monica, 2011).
Ikon potensi alam Lampung yang unik dan berbeda di masing-masing daerah seperti kawasan pegunungan, sungai, laut, danau, dataran rendah, dan juga vegetasi dihadirkan secara presisi sesuai dengan kondisi yang ada. Dari studi yang dilakukan terdapat perbedaan antara potensi kekayaan yang ada di Lampung Barat dan Selatan dengan daerah Lampung lainnya. Tercatat tidak kurang 116 destinasi wisata alam yang telah dikembangkan secara serius menjadi andalan pariwisata di Lampung Barat dan Selatan (Nurul, 2020) . Sementara itu, daerah selain Lampung Barat dan Selatan tercatat memiliki setidaknya 89 potensi alam yang siap menjadi destinasi wisata berbasis alam di Lampung, antara lain Lampung Timur 11 destinasi wisata alam, Pesawaran 13 destinasi wisata alam, Lampung Tengah 11 destinasi wisata alam (Suwagi, 2017), Pringwsewu 5 destinasi wisata alam, Lampung Utara 14 destinasi wisata alam (Setiawan, 2020), Mesuji 2 destinasi wisata alam, dan Way Kanan tidak kurang 34 destinasi wisata alam (Lampung DP, 2020). Hasil kuantifikasi potensi pariwisata alam tersebut mengukuhkan Lampung Barat dan Selatan sebagai daerah dengan destinasi wisata alam terbanyak di Lampung. Studi Ikonografis dan Ikonologis, menunjukkan Siger Jurai adat Saibatin memiliki asosiasi yang kuat dengan bentuk logo pariwisata Lampung. Bentuk Siger tersebut menjadi representasi atas posisi Lampung Barat dan Selatan sebagai penyedia destinasi pariwisata alam terbanyak di Lampung sekaligus sebagai wilayah yang memegang budaya dan tatanan adat Saibatin.
Siger yang dijadikan sebagai aksen utama pada logo tersebut merupakan simbol mahkota adat yang masih dipergunakan dalam berbagai acara kebudayaan, keberadaanya juga menjadi ikon yang sangat populer di Lampung. Bentuknya yang khas dan filosofinya yang kuat, menjadikan Siger selalu ditampilkan sebagai identitas visual di Lampung. Secara khusus, bentuk Siger yang terdapat pada logo Lampung "The Treasure of Sumatra" memiliki ciri terdiri atas tujuh jeruji atau lekuk, dan bentuk mahkota distilasi melalui lekukan pita yang terdiri atas kombinasi enam warna. Makna tujuh jeruji atau lekuk yang terdapat pada Siger jurai adat Saibatin merupakan representasi dari jumlah gelar/adok yang diakui, yaitu: 1. Suttan/Dalom/Pangeran, 2. Khaja Jukuan/Depati, 3. Batin, 4. Kadin, 5. Minak, 6. Kimas dan 7. Mas/Itton (Ciciria, 2015).
Logo yang dijadikan sebagai senjata komunikasi visual yang berperan dalam membangun citra atas sektor pariwisata di lampung memiliki konsep dan bentuk yang berkaitan erat dengan lambang serta simbol budaya setempat. Bentuk Siger jurai adat Saibatin sebagai aksen utama, pemilihan warna yang identik dengan simbol daerah yang khas, serta pemilihan nama dan jargon yang menarik, menjadikan logo pariwisata Lampung memiliki posisi tawar yang kuat dalam mendukung pariwisata di Lampung.
Hasil analisis berdasarkan standar logo yang ditetapkan oleh Evelyn Lip (Perdana, 2007) , logo pariwisata Lampung memiliki ketentuan sebagai berikut.
TABEL III RANGKUMAN ANALISIS LOGO PARIWISATA LAMPUNG
| No | Kriteria Logo | Aspek Pemenuhan pada |
|---|---|---|
| Logo pariwisata Lampung | ||
| 1 | Sesuai dengan kebudayaan | Menampilkan simbol budaya Siger sebagai ak sen utama logo dan menggunakan konfigurasi warna yang identik dengan Lambang daerah di Lampung |
| 2 | Mampu menyandang citra yang diinginkan dan menunjukkan keadaan sebenarnya,atau meng gambarkan sasaran komersial organisasi/ perusahaan yang diwakilinya | Logo dibuat dengan jargon berbahasa Inggris yang bertujuan untuk menjadi alat komunikasi global bagi target market wisatawan domestik dan mancanegara. Banyaknya destinasi wisata yang ditawarkan didukung pula dengan infra struktur yang ada, sehingga sasaran branding mampu untuk mengakomodir kebutuhan wisa ta internasional. |
| 3 | Mampu menjadi alat Komuni kasi Visual | Logo menjadi citra visual yang dapat di aplikasikan dalam berbagai media cetak, elek tronik dan digital |
| 4 | Memiliki keseimbangan da lam penerapan hitam putih dan warna | Logo dapat diterapkan dalam bidang positif dan negatif serta berwarna, dengan tingkat keterbacaan yang baik |
| 5 | Memiliki irama dan proporsi | Irama bentuk pada logo terdiri dari ikon siger dan juga teks yang terdiri dari aksen Siger dan tulisan yang tetap memiliki unsur keterbacaan yang baik dan juga indah. |
| 6 | Artistik, Elegan, Simple dan memiliki Point interest | Dengan kombinasi warna dan bentuk aksen budaya lokal yang terstilasi dengan baik, men jadikan logo tersebut unik dan memiliki point interest yang jelas bila dibandingkan dengan logo pariwisata di daerah lain |
| 7 | Harmonis | Tata warna, tata letak, dan bentuk yang sime tris menjadikan logo tersebut memiliki visual yang harmonis dan sinergis |
| 8 | Terdiri dari penggabungan tulisan/huruf yang tepat dan memiliki pesan yang logis dan jelas. | Unsur teks pada logo tersebut langsung menga rah pada nama daerah yang diwakilinya. Selain itu, jargon yang dipilih menggunakan diksi yang artistik dan efektif |
| 9 | Menguntungkan secara Feng Shui dan seimbang dalam unsur Yin dan Yang | Sejak logo tersebut diluncurkan, terdapat pen ingkatan signifikan terhadap jumlah kunjungan pariwisata baik domestik maupun mancanegara dari tahun ke tahun. |
Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa logo pariwisata Lampung telah memenuhi unsur sebagai logo yang baik. Pada kriteria pertama, logo menampilkan unsur budaya melalui simbol Siger dan juga konfigurasi warna yang merepresentasi unsur filosofi budaya lokal. Selanjutnya, pada krtiteria kedua, logo menampilkan kondisi yang sebenarnya di Lampung, melalui aksen visual dan juga jargon yang menunjukan tentang kekayaan budaya dan alam Lampung sebagai potensi destinasi wisata. Berdasarkan kriteria ketiga, logo juga selama ini menjadi citra visual yang mewakili sektor pariwisata di Lampung, kehadiran logo pada berbagai media menjadi bentuk promosi atas destinasi wisata yang dapat dikunjungi. Pada kriteria keempat, logo tetap memiliki tingkat keterbacaan dan keseimbangan yang baik ketika diimplementasikan dalam konstrentasi warna hitam putih dan warna. Kriteria kelima menunjukkan irama dan proporsi pada logo dapat ditunjukkan melalui bentuk konstruksi yang simetris dan juga repetisi aksen Siger yang terukur. Selanjutnya, kriteria keenam, bentuk logo dapat dikategorikan cukup sederhana, dapat teridentifikasi dengan mudah karena menggunakan simbol yang cukup familiar. Bentuk logo memiliki point interest dan dengan penggunaan warna yang variatif serta visualisasi yang unik menjadikan logo tersebut menjadi artistik. Pada kriteria ketujuh, logo tersebut dinilai harmonis. Harmonis atau yang disebut juga dengan kesatuan memiliki definisi sebagai hubungan antarunsur yang disusun (Sanyoto, 2009). Warna, ikon, teks disusun melalui komposisi yang seimbang. Kriteria kedelapan memastikan bahwa logo mampu menggabungan unsur teks secara efektif: tingkat keterbacaan dan juga dekorasi yang selaras dengan aksen Siger mampu menjadikannya artistik, tetapi tidak meninggalkan unsur keterbacaan yang baik.
Jika merujuk kriteria feng shui untuk logo, (M. Monica, 2011) menyebutkan terdapat beberapa kriteria, yaitu (1) aliran Chi (energi): garis-garis melengkung, lingkaran, fokus, dan mengarah ke atas; (2) Yin dan Yang: harmonis dan seimbang; (3) sesuai dengan 5 elemen feng shui: air, api, logam, tanah, dan kayu; (4) simbolik: gambar, bentuk, warna, dan metafor. Pada logo tersebut seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, unsur-unsur yang terdapat pada variabel feng shui, Yin dan Yang sebagian besar telah ada pada logo tersebut. Unsur feng shui logo pariwisata Lampung terdapat pada aksen dan bentuk-bentuk garis melengkung yang membentuk mahkota Siger. Lekukan tersebut memiliki fokus yang simetris dan mengarah ke atas pada satu titik atau puncak. Bentuknya seimbang, terdapat tujuh pucuk dengan jumlah kanan dan kiri yang sama. Elemen feng shui, yakni logam direpresentasikan dari warna kuning dan emas yang terdapat pada logo. Proses stilasi bentuk Siger divisualisasikan dalam aksen lekukan pita berbagai warna yang mewakini makna lokal.
Logo pariwisata Lampung turut memberi kontribusi terhadap citra dan meningkatnya tingkat kunjungan wisatawan yang datang (Yasland, 2019). Selama kurun waktu lima tahun terjadi lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan, dinas pariwisata Lampung mencatat pada 2014 kunjungan mencapai 4,32 juta, pada 2015 naik menjadi 5,37 juta , disusul dengan peningkatan dari 2016 dengan 7,38 juta, 2017 mampu menembus angka 11,39, dan 2018 hingga 2019 berhasil tembus diangka 12 juta kunjungan. Angka tersebut diharapkan tersus meningkat seiring dengan kemajuan yang ada (Tuntas. Co, 2019).
Lampung dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki dapat dimanivestasikan menjadi modal visual pengembangan berbagai macam logo. Unsur-unsur lokalitas pada logo yang ditampilkan dalam bentuk warna, simbol, dan juga filosofi yang terkandung didalammnya menjadikan sebuah logo memiliki karakteristik yang kuat.
Selain itu, pengetahuan dalam merancang logo yang baik dapat menjadi dasar dalam menghasilkan karya yang berkualitas.
SIMPULAN
- 1. logo pariwisata Lampung menggunakan simbol Siger jurai adat Saibatin yang memiliki ciri terdapat tujuh jeruji atau lekuk, dan divisualisasikan dalam bentuk stilasi mahkota adat yang berbentuk lekukan pita dan dikombinasikan dengan warna yang identik dengan seluruh lambang daerah Lampung, yakni warna hijau, biru, putih, emas, dan merah. Warna-warna tersebut mewakili semangat budaya lokal dan juga merepresentasikan potensi alam, budaya, dan juga filosofi masyarakat yang dimiliki.
- 2. Pemilihan simbol Siger jurai adat Saibatin sebagai aksen utama pada logo mengandung makna bahwa destinasi pariwisata alam terbanyak di Lampung terdapat di daerah Lampung Barat dan Lampung Selatan yang juga menjadi bagian dari jurai adat Saibatin.
- 3. logo pariwisata Lampung dapat dikategorikan sebagai logo yang baik karena memenuhi unsur sinergi dengan budaya, mampu mewakili citra dan nama penggunanya, mampu menjadi senjata komunikasi visual yang aplikatif, artistik, dan memiliki keseimbangan warna dan komposisi yang selaras.
- 4. Peran Siger jurai adat Saibatin pada logo tersebut mewakili semangat keadaerahan, rasa hormat yang mendalam dan juga pengakuan oleh masyarakat dan pemerintah terhadap simbol Siger sebagai bagian dari identitas masyarakat Lampung.
- 5. Rancangan logo turut memberikan kontribusi bagi peningkatan kunjungan pariwisata di Lampung dari tahun-ketahun. Semenjak logo diluncurkan pada 2016 hingga 2019 tercatat terjadi peningkatan jumlah wisatawan hingga di atas 100% pengunjung yang terdiri atas wisatawan asing dan nusantara.
