1. Home
  2. Archives
  3. Vol 5 (2006) Issue 8
  4. Articles

Kerancagean Dalam Penggunaan Kata dan Istilah

Abstract

Indonesian people are generally less precise and creative in using the Indonesian Language. Most of them are satisfied when other interlocutors understand what they said. This belief cannot be tolerated in both scientific and technology-related communication. The point is that science and technology requires preciseness. Many instances of impreciseness in scientific and technology-related communication result in negative impacts. Besides their being imprecise, they are less creative in using both dictions and terminologies of science and technology. The following are the examples of both imprecise and less creative use of language. In Indonesian, the word air minum, which means drinkable water in English, is confused with air bersih; the equivalence for both the English words discovery and invention is penemuan in Indonesian. The equivalence for the English words instruments, appliance, tool, utensil, and device is alat in Indonesian. If we were creative enough, the equivalence of the later words could be found in Indonesian and vernacular languages, which are, in fact, highly abundant. Therefore, it is time that we held in high esteem of Indonesian as the language for national communication, science, and technology. Hence, we are obliged to develop our precise and creative attitude in using Indonesian language so that Indonesian as the language of science and technology can be achieved. In other words, it is about time that our society was discouraged to being imprecise and less creative in using Indonesian in their both written and spoken communication although the mastery of a foreign language is important.

Berhematlah dengan air minum (?)

Itulah salah satu imbauan kepada masyarakat. Apakah ada dokter yang setuju dengan imbauan di atas? Masalahnya, apa yang disebut air minum? Jangan-jangan dikelirukan dengan air bersih. Air minum adalah air yang layak diminum (manusia) setelah diproses sesuai dengan syarat kesehatan dengan bahan baku air bersih. Air bersih adalah air yang memenuhi syarat kimia, fisika, dan biologi dalam arti tak berbau, tak berwarna, dan tak berasa. Air bersih

belum layak diminum sebelum diproses. Di sini tampak jelas perbedaan air minum dengan air bersih. Oleh karena itu, siapa yang berani langsung meminum air dari PDAM karena ternyata tangki PDAM itu berisi air bersih bukan air minum. Sampai kapan kekeliruan ini dan tentu kekeliruan lain akan terjadi? Di pihak lain kaum terpelajar menerima hal ini begitu saja. Menanggapi imbauan di atas, boleh kita berhemat dengan air bersih, tetapi jangan berhemat dengan air minum. Berhemat dengan air minum jelas

dapat merusak kesehatan. Biarkan imbauan itu sekadar tulisan belaka. Contoh kasus di atas merupakan salah satu bukti bahwa umumnya kita tak tergolong bangsa yang cermat berbahasa yang dalam hal ini adalah pemakaian kata dan istilah.

discovery – penemuan, invention – perekaciptaan

Paparan berikut adalah di samping gambaran kekurangcermatan bangsa kita, juga ketidakrancagean (ketidakkreatifan) khususnya dalam penggunaan kata dan istilah yang berasal dari bahasa asing (Inggris). Selama ini invention dan discovery sama-sama dipadankan dengan penemuan, padahal kedua kata itu berbeda maknanya sesuai dengan prinsip berbeda bentuk berbeda makna. Discovery adalah menemukan sesuatu yang memang tadinya sudah ada. Di sini tak ada unsur rekacipta walaupun pada proses menemukannya, unsur pemikiran, kerancagean, dan rekacipta sangat diperlukan. Contoh yang paling dikenal adalah Benua Amerika yang memang sudah ada, ditemukan Columbus. Benar tidaknya Columbus

sebagai penemu pertama benua itu bukan persoalan di sini. Contoh lain adalah penemuan fosil manusia purba di berbagai tempat yang memang sudah ada. Demikian pula, satelit Uranus kelima yang diberi nama Miranda telah ditemukan Gerriet Pieter Kuiper dan sebuah komet di Sabuk Asteroid utama telah ditemukan para peneliti Universitas Hawaii.

Invention adalah (hasil) penciptaan sesuatu dengan mereka-reka pemikiran dan kerancagean sehingga menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada seperti mesin uap (James Watt), mesin diesel (R. Diesel), lampu listrik (Thomas Alva Edison), serta berbagai jenis komputer dan ponsel. Oleh karena itu, padanan yang tepat untuk invention adalah perekaciptaan (proses) atau rekaciptaan sebagai hasil merekacipta.

Berikut ini beberapa contoh padanan kata/istilah Inggris yang memiliki keserupaan sehingga sering dikacaukan penggunaannya akibat penutur kurang cermat dan rancage.

acccesorry – lengkapan ; equipment –perlengkapan
appliance – peranti ; tool – perkakas
instrument – alat ; utensil – perabot
means – sarana ; device – gawai
gadget -- acang ; gauge -- sukat 
area – daerah (geografis) ; territory (ial)/region – wilayah (hukum)
zone – kawasan (lingkungan) ; domain – ranah 
true – betul ; false – salah
right – benar ; wrong – tak benar
mistake – keliru ; error – galat 
output – keluaran ; outcome – hasilan
product – hasil ; land use – tata guna lahan bukan tata guna 
                          tanah
land – lahan ; soil – tanah
earth – bumi ; take of – lepas landas bukan tinggal landas
concern – kepedulian ; commitment – janji /tanggung jawab
training – pelatihan ; exercise – perlatihan
thinking – pemikiran ; reasoning – pernalaran
variable – peubah ; variance – ragam
variety – jenis ; temporary – sementara
temporal – kewaktuan ; moment – saat
example – contoh ; sample – terok (percontoh)

Dari beberapa contoh kasus di atas melalui tulisan ini kaum terpelajar (ilmuwan), rekayasawan, cendekiawan, dsb.) diimbau untuk mempertimbangkan ihwal berikut.

1. Setiap anak bangsa hendaknya menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional serta bahasa ilmu dan teknologi dalam arti bahasa Indonesia yang benar dengan baik digunakan baik dalam pergaulan maupun dalam kegiatan pengembangan ilmu dan teknologi. Bahasa Indonesia sudah sepatutnya dijadikan sumber utama menggantikan kata/istilah asing. Bahasa Indonesia sebenarnya cukup potensial untuk menjadi bahasa ilmu dan teknologi bahkan bahasa internasional. Masalahnya adalah pemakai bahasa atau kita ini mampu atau tidak, cermat atau tidak, rancage atau tidak. Memang diakui tidak semua kata atau istilah asing dapat dipadankan ke dalam bahasa Indonesia. Prinsip tak ada konsep tak ada kata tak dapat dibantah. Oleh karena itu, jika tak ada dalam

bahasa Indonesia yang memenuhi syarat, kata/istilah asing atau istilah baru, kita dapat menggunakan bahasa daerah (Nusantara) yang tentu saja harus memenuhi syarat. Jika masih tidak ada, jalan terakhir adalah mengambil dari bahasa asing (terutama bahasa Inggris) melalui penyerapan dan penerjemahan sesuai dengan prosedur pembentukan istilah.

  • 2. Kecermatan berbahasa perlu ditingkatkan yang dalam hal ini pemahaman kosa kata betulbetul dikuasai terutama seperangkat kata bersinonim atau memiliki keserupaan yang kadang-kadang perbedaannya tak jelas. Untuk ini, peran kamus sangat penting. Oleh karena itu, selaku ilmuwan dsb. tak bisa tidak, harus bersahabat dengan kamus baik kamus istilah maupun kamus umum bahkan ensiklopedi. Urusan kamus bukan hanya urusan orang bahasa.
  • 3. Budaya rancage perlu dikembangkan untuk mencari kata atau istilah baru yang
sebelumnya tak ada. Selain bersahabat dengan kamus, kita juga harus rancage dalam mencari dan membentuk kata. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah dengan kosa kata dan pengimbuhan berpotensi menciptakan kata/istilah baru. Masalahnya kita rancage atau tidak.

4. Budaya "nginggris" yang semakin merajalela di negeri ini perlu dihentikan. Hal ini mencerminkan erosi nasionalisme dengan merasa bangga dan bergengsi jika berkomunikasi dengan diselingi bahasa Inggris. Masih beruntung kalau benar, kenyataan banyak yang salah seperti kata bentukan mengkritisi dan memodernisasikan. Memang tak bisa disangkal lagi, untuk pergaulan dunia dan persaingan mendunia kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris dan bahasa internasional lain serta bahasa Jepang tak bisa ditawar lagi. Dengan demikian, kita sebagai bangsa dapat berdiplomasi dan berunding dengan bangsa lain dan tidak berada pada pihak yang lemah.

Dengan berbekal kecermatan dan kerancagean yang tinggi, diharapkan terpacunya pengembangan kata serta istilah ilmu dan teknologi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar dengan baik. Lebih jauh lagi bangsa Indonesia terdorong untuk benar-benar menjadi bangsa penemu dan perekacipta ilmu dan teknologi. Harapan selanjutnya adalah bangsa Indonesia benar-benar menjadi bangsa pembuat dan penjual (hasil teknologi) tidak semata-mata sebagai pengguna. Dengan demikian, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang dihormati dan sejajar dengan bangsa lain yang sudah maju. Semoga.

Pustaka:

  • Depdikbud RI, 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
  • Hayakawa, S.I.(Ed) 1987. The Penguin Modern Guide to Syunonyms and Related Words. London : Penguin Books Ltd.
  • Mendikbud RI. 1990 . Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Edisi kedua
  • Pusat Bahasa Depdiknas, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka

References

  1. - Depdikbud RI, 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
  2. - Hayakawa, S.I.(Ed) 1987. The Penguin Modern Guide to Syunonyms and Related Words. London : Penguin Books Ltd.
  3. - Mendikbud RI. 1990 . Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Edisi kedua
  4. - Pusat Bahasa Depdiknas, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka