1. Home
  2. Archives
  3. Vol 10 (2011) Issue 23
  4. Articles

ELIT

Abstract

Some people are used to saying something without understanding the meanings of a word or term. The term of "politik" is an example. People often read or hear or pronounce the word. However, how many of them are aware of its meaning? As a primitive term, such a world is in the scientific realm. Therefore, this article is designed to reflect and constantly invites us back to basics before we involve ourselves in the play that will be a public watch of the world. Keywords: term, meaning, back to basics

1. Pendahuluan

Dede, anak paling bongsor di keluarga Mang Madja yang baru duduk di kelas 3 SD, paling takut kalau diastagfirullahkan. "Dede mah paling takut da kalau diastagfirullahkan teh". Begitu dia berujar pada suatu acara makan malam keluarga tatkala mendengar Mang Madja berucap "astaghfirullah". Biasa, acara seperti itu oleh keluarga Mang Madja selalu dibumbui dengan diskusi. Bahkan acara itu senantiasa dinanti-nantikan oleh semua anggota keluarga. Pada saat itu anggota keluarga yang satu boleh mengkritik secara terbuka anggota keluarga yang lain atau mengkritik Mang Madja dan Bi Madja sekalipun sebagai pimpinan keluarga. Apabila ada sesuatu yang dilakukan anggota keluarga dan tidak berkenan bagi kenyamanan dan produktivitas keluarga, maka Mang Madja secara sadar akan

Bagi mereka, astaghfirullah adalah sebuah kata yang sangat dalam dan tinggi nilainya. Di dalamnya tersirat pengakuan tulus (i) akan kekurangan diri, (ii) tekad untuk memberikan yang terbaik, dan (iii) setia (committed) untuk melakukan perbaikan kualitas hidup yang terus menerus. Bagi orang kebanyakan, barangkali kata itu masih sangat abstrak. Namun, tidak demikian bagi keluarga Mang Madja. Astagfirullah adalah suatu realitas hidup yang sangat operasional dalam keseharian mereka.

2. Hermeneutik

Sebagai anggota keluarga besar bangsa Indonesia, terus terang timbul rasa iri melihat keharmonisan keluarga Mang Madja. Mereka hidup dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Peace, Happiness, Love, dan Trust (mengutip sebuah iklan) telah menjelma

mengucapkan astaghfirullah. In harmonia progressio sangat dijunjung tinggi di keluarga itu.

dan terjaga dalam keluarga itu. Alangkah indahnya kalau para pengurus keluarga besar bangsa Indonesia, dari mulai pengurus bidang eksekutif, legislatif, sampai yudikatif; juga dari pengurus partai politik sampai pengurus arisan – dari atas sampai ke bawah – membiasakan diri saling mengastagfirullahkan satu sama lain dan saling mengelingi makna kata itu. Memang, secara hermeneutics, proses pemaknaan dari apa yang tersurat adalah proses pembelajaran yang paling sulit. Mengapa? Karena ia adalah proses iqra dimana kita tidak dapat mengharapkan memperoleh berkah nilai tambah dari pembelajaran apapun tanpa hermeneutics. Termasuk pembelajaran politik terutama bagi para pemain politik.

Terbayang di pelupuk mata betapa eloknya apabila para pemain politik negeri ini mencontoh manajemen keluarga Mang Madja. Memang patut diakui bahwa bagi para pemain politik, urusan mencontek yang satu ini termasuk jihad akbar; perjuangan yang sejati untuk mengalahkan hawa nafsu dan menjaga moral serta etika. Akan mampukah mereka? Wallahu'alam. Namun, mereka sudah meneken kontrak moral dan sosial untuk memenangkan perjuangan itu, bukan? Jika mereka berusaha, mari kita bantu dan do'akan. Kita bantu dengan cara menunjukkan kepada mereka jalan yang benar lagi baik.

3. Back to basic

Bagaimana dan dari mana memulai urusan mencontek yang satu itu? Barangkali mulai dari pemahaman tentang value atau makna kata politik itu sendiri. Dalam Reader's Dictionary

(Indonesian Edition) terbitan Oxford University Press tahun 1972, karya Hornby dan Parnwell, politic adalah kata sifat. Ia menunjuk kepada "(of persons) acting or judging wisely" atau "(of actions) well judged"

Lain lagi dengan kata politics (dengan huruf s di belakangnya). Kata ini mempunyai arti "the science or art of governance". Sedangkan politician, yang sering diterjemahkan menjadi politisi – atau terkadang politikus (tidak ada kaitannya dengan "poli" dan "tikus") – menunjuk kepada "person taking part in politics or much interested in politics". Oleh karena itu, secara epistemology, orang-orang partai politik tidak otomatis dapat disebut politisi. Mengapa? Sebab, harus melekat predikat "wise" dan "scholar" agar mampu acting or judging wisely. Orang-orang partai politik adalah orang-orang yang bermain di arena politik. Untuk dapat disebut politisi, apalagi disebut elit politik, yang pertama dan utama yang harus mereka tunjukkan adalah their wisdom and scholarship. Kedua karakter ini menuntut pendidikan yang baik dan benar.

Mencermati makna yang melekat pada kata politic atau politics, maka mimpi tersebut di atas yakni mimpi agar para pemain politik mencontek/meniru in harmonia progressio keluarga Mang Madja, adalah sesuatu yang realistis dan seharusnya otomatis apabila ingin disebut politisi. Bahkan, sudah seharusnya begitu, "take for granted", mengingat predikat yang melekat pada diri dan jiwa para politisi. Adalah salah besar apabila ada orang yang mengatakan politik itu kotor. Stigma ini sengaja dibangun untuk menyembunyikan kekotoran yang mungkin melekat

dalam perilaku para pemain politik. Bukan politik yang kotor tapi para pemain politik yang mungkin kotor! Yang betul, politisi adalah wise man dan scholar; wise dalam berperilaku dan dalam mengambil keputusan.

4. Realitas

Itulah politisi (pemain politik yang scholar dan wise). Kalau elit politik, apa ya? Istilah ini, bagi masyarakat awam, masih sangat kabur maknanya. Sila buat survey. Bagi masyarakat, tak jelas apa yang dimaksud dan siapa yang layak menyandang predikat "elite". Padahal, salah satu pakem dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah: "jangan mengucapkan sesuatu kata yang belum difahami" dan "jangan menuliskan sesuatu kata yang belum difahami". Dalam bahasa Descartes, "Never to accept anything for true which I did not clearly know to be such".

"Elite" adalah sebuah konsep yang penjelasannya mungkin harus dicari dalam konsep fuzzy logic. Sama halnya dengan "cantik", "hijau", "dingin", "halus", dlsb. Karena sifat fuzziness itulah maka akan sangat berbahaya jika orang menggunakannya sesuai dengan keinginannya tanpa melalui kajian scientific untuk menyibak rahasia di balik konsep itu sehingga, sebagai primitive term, ia menjadi telanjang. Lebih berbahaya lagi jika si pengguna istilah itu belum paham apa yang dimaksud. Fuzzinezz yang melekat pada kata elite memiliki spektrum yang luas dari mulai "yang terpilih", "pilihan", "golongan atas", "orang-orang terkemuka", hingga "petit groupe consideré comme ce qu'il y a de meilleur dans un ensemble de

personnes" atau "se dit d'une person qui se distingue par ses grandes qualités" seperti termaktub dalam Dictionnaire du Francais Contemporain terbitan Larouse, Paris, karya Dubois et al. (1966).

Nah, tatkala orang menyebut elit politik, predikat mana yang dimaksud? Jangan-jangan hanya predikat "yang terpilih" dan bukan yang "wise" dan "meilleur" dan "grandes qualités". Hatihati! Sebutan "elit" bisa juga menunjuk jenis huruf pada mesin ketik.

5. Daftar Pustaka

Dryden, G., dan Vos, J. 1999. The Learning revolution: To change Thw way the wolrd learns (BahasaIndonesia).New Zealand : The learning web.

Dubois, J., Lagane, R., Niobey, G., Casilis, D., Casilis, J., dan Meschonnic, H. 1966. Dictionnaire du Francais Contemporain. Paris : Larause.

Gladwell, M. 2008. Outliers : The story of succes. New York : Back Bay Books.

Khun, T.S. 1996. The structure of scientific revolutions, 3rd edition. Chicago : The University of Chicago Press.

Roberts H.V., dan Sergesketter, B.F. 1993. Quality is personal. New York : The free Press, A Division of Maemillan, Inc.

Tjaya, T.H. 2004. Kierkegaard dan pergulatan menjadi diri sendiri. Jakarta : KPG (kepustakaan Populer Gramedia).

Hornby, A.S., dan Parnwel, E.C. 1972. Reader's Dictionary ( Indonesia Edition). London : Oxford University Press.

References

  1. Dryden, G., dan Vos, J. 1999. The Learning revolution: To change Thw way the wolrd learns (Bahasa Indonesia).New Zealand : The learning web.
  2. Dubois, J., Lagane, R., Niobey, G., Casilis, D., Casilis, J., dan Meschonnic, H. 1966. Dictionnaire du Francais Contemporain. Paris : Larause.
  3. Gladwell, M. 2008. Outliers : The story of succes. New York : Back Bay Books.
  4. Khun, T.S. 1996. The structure of scientific revolutions, 3rd edition. Chicago : The University of Chicago Press.
  5. Roberts H.V., dan Sergesketter, B.F. 1993. Quality is personal. New York : The free Press, A Division of Maemillan, Inc.
  6. Tjaya, T.H. 2004. Kierkegaard dan pergulatan menjadi diri sendiri. Jakarta : KPG (kepustakaan Populer Gramedia).
  7. Hornby, A.S., dan Parnwel, E.C. 1972. Reader