1. Home
  2. Archives
  3. Vol 10 (2011) Issue 24
  4. Articles

Perbandingan Tingkat Komparatif Dan Superlatif Adjektiva Dalam Bahasa Inggris Dan Bahasa Indonesia (kajian Linguistik Kontrastif)

Abstract

The title of this paper is "Comparative and Superlative Comparison of Adjectives in English and Indonesian Language (An Analysis of Contrastive Linguistics)". This paper contained of problems about the degree of comparison of adjectives in English as the most popular foreign language used in Indonesia and Indonesian Language itself. Problems analyzed in this paper is the morphological process of the adjectives which shows the degree of comparative and superlative in English and Indonesian language. It is also discussed the difference of the morphological process in degree of comparison of adjectives: comparative and superlative in English and Indonesian language. The result shows that in English, the morphological process used to build the comparative and superlative adjective is defined by the number of the syllables and the last sound of the words in the words contained by two syllables. In Indonesian language, the comparative and superlative adjective is defined by the adverbial phrase followed by the adjectives. Key Words: Comparative, Superlative, Adjective, Syllable, Adverbial Phrase

1. Latar Belakang

Setiap bahasa memiliki kaidah yang unik. Ada kemungkinan beberapa bahasa memiliki persamaan, tetapi di sisi lain memiliki perbedaan yang kontras. Persamaan dan perbedaan tersebut bisa terletak dari tataran paling kecil, yaitu bunyi (fon dan fonem), morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, hingga tataran yang paling luas yakni paragraf atau wacana. Samsuri (1994: 10) mengemukakan bahwa tiap bahasa memiliki aturan-aturannya sendiri yang menguasai hal-hal bunyi dan urutanurutannya, hal-hal kata dan bentukanbentukannya, hal-hal kalimat dan susunan-susunannya. Dapatlah disimpulkan bahwa bahasa itu merupakan kumpulan aturan-aturan, kumpulan polapola, kumpulan kaidah-kaidah, atau dengan singkat merupakan sistem. Jadi, bahasa adalah sistem unsur-unsur dan kaidah-kaidah.

Sistem unsur dan kaidah itulah yang membedakan satu bahasa dengan bahasa lainnya. Keunikan setiap bahasa justru terletak pada pembedanya, yaitu unsur dan kaidah tadi. Misalnya, dalam bahasa Arab tidak dikenal bunyi vokal /e/, sedangkan dalam bahasa Indonesia bunyi /e/ sangat lazim digunakan. Contoh lainnya, dalam bahasa Indonesia dikenal perubahan makna kata karena adanya reduplikasi, misalnya mobil yang bermakna tunggal menjadi mobil-mobil

* Mahasiswa S2 Linguistik Umum Universitas Padjadjaran Bandung yang bermakna jamak. Sementara itu, dalam bahasa Inggris tidak dikenal proses reduplikasi. Proses perubahan makna tunggal menjadi jamak dalam bahasa Inggris ditandai dengan adanya afiks –s, misalnya pada car "mobil" menjadi cars "mobil-mobil".

Bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing terpopuler yang digunakan di Indonesia sangat banyak dipelajari. Dalam mempelajarinya, pembelajar kerap memperbandingkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Tentu tampak perbedaan kontras ketika diperbandingkan. Salah satu perbedaan yang kontras antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris adalah tingkat perbandingan dalam adjektiva. Jika dalam bahasa Indonesia tingkat perbandingan dalam adjektiva ditandai dengan adverbia yang mendahului atau mengikuti adjektiva tersebut, dalam bahasa Inggris penanda tingkat perbandingan adjektiva ditandai dengan afiksasi.

Misalnya, adjektiva cerdas ditandai dengan adverbia lebih sebagai penanda komparatif menjadi lebih cerdas, ditandai dengan kata paling untuk menandai superlatif menjadi paling cerdas. Sementara itu, dalam bahasa Inggris adjektiva smart "cerdas" dalam tataran komparatif mengalami proses afiksasi, yakni ditambahi afiks er menjadi smarter "lebih cerdas" dan dalam tataran superlatif mengalami proses afiksasi dengan penambahan afisk–est menjadi smartest "paling cerdas".

Perbedaan yang cukup kontras tersebut adalah hal yang sangat menarik untuk dianalisis. Oleh karena itu, hal tersebut akan menjadi bahan kajian lebih lanjut dalam makalah ini. Permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah sebagai berikut bagaimanakah proses pembentukan tingkat perbandingan komparatif dan superlatif adjektiva dalam bahasa Inggris? Bagaimanakah proses pembentukan tingkat perbandingan adjektiva komparatif dan superlatif dalam bahasa Indonesia? Apakah perbedaan dalam proses pembentukan perbandingan tingkat komparatif dan superlatif adjektiva dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia?

2. Landasan Teori 2.1 Adjektiva

Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988), disebutkan bahwa adjektiva adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang dan mempunyai ciri sebagai berikut.

  • a. Adjektiva yang dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: lebih besar, kurang baik, paling mahal.
  • b. Adjektiva dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu: sangat indah, amat tinggi, pandai benar, murah sekali, terlalu mudah.
  • c. Adjektiva dapat diingkari dengan kata ingkar tidak: tidak bodoh, tidak salah, tidak benar.
  • d. Adjektiva dapat diulang dengan awalan se- dan akhiran-nya: sebaikbaiknya, serendah-rendahnya, sejelek-jeleknya.
  • e. Adjektiva pada kata tertentu dapat berakhir antara lain dengan -er, - (w)i, -iah, -if, -al, dan -ik: honorer, duniawi, islami, ilmiah, negatif, formal, elektronik.

2.2 Tingkat Perbandingan Adjektiva

2.2.1 Tingkat Perbandingan Adjektiva (Degree of Comparison) dalam Bahasa Inggris

Terdapat aturan-aturan tersendiri dalam tingkat perbandingan adjektiva dalam bahasa Inggris. Kata sifat diklasifikasikan kembali menjadi dua jenis: beraturan dan tidak beraturan. Bentuk beraturan masih diklasifikasikan lagi menjadi beberapa jenis. Berikut perinciannya.

2.2.1.1 Tingkat Perbandingan Adjektiva Beraturan

Tingkat perbandingan adjektiva yang beraturan terdapat tiga jenis. Jenis pertama adalah adjektiva yang terdiri atas satu suku kata. Jenis kedua adalah adjektiva yang terdiri atas dua suku kata dengan bunyi akhir -er, -le, -ow, -y, dan -some. Jenis ketiga adalah adjektiva yang terdiri atas dua suku kata dengan bunyi akhir selain -er, -le, -ow, -y, dan some dan adjektiva yang terdiri atas lebih dua suku kata.

2.2.1.1.1 Adjektiva yang Terdiri atas Satu Silabe

Adjektiva jenis ini menggunakan sufiks -er untuk tingkat komparatif dan sufiks -est untuk tingkat superlatif.

2.2.1.1.2 Adjektiva yang Terdiri atas Dua Silabe dengan Bunyi Akhir -er, -le, -ow, -y, dan some

Adjektiva jenis ini mengalami proses morfologis yang sama dengan adjektiva yang terdiri atas satu silabe. Untuk tingkat komparatif digunakan –er sebagai akhiran, sedangkan untuk tingkat superlatif digunakan akhiran est.

2.2.1.1.3 Adjektiva yang Terdiri atas Dua Silabe dengan Bunyi Akhir selain -er, -le, -ow, -y, dan –some dan Adjektiva yang Terdiri atas Tiga Suku Kata

Adjektiva jenis ini tidak mengalami proses morfologis seperti halnya jenis pertama dan kedua. Untuk tingkat komparatif, adjektiva jenis ini diawali adverbia more, sedangkan untuk tingkat superlatif diawali adverbia most.

2.2.1.2 Tingkat Perbandingan Adjektiva Tidak Beraturan

Untuk adjektiva tertentu, kaidah penambahan afiks atau adverbia tidak berlaku untuk menyatakan tingkat perbandingan. Adjektiva-adjektiva tersebut di antaranya sebagai berikut.

PositifKomparatifSuperlatif
goodbetterbest
badworseworst
wellbetterbest
illworse
PositifKomparatifSuperlatif
littlelessleast
manymoremost
muchmoremost
latelatterlatest
farfurtherfurthest
oldeldereldest

Jika kita lihat contoh di atas, tampak bahwa tingkat perbandingan adjektiva tersebut tidak memiliki pola tertentu. Oleh karena itu, tingkat perbandingan adjektiva semacam ini disebut sebagai tidak beraturan.

2.2.2 Tingkat Perbandingan Adjektiva dalam Bahasa Indonesia

Salah satu ciri adjektiva adalah bahwa kelas kata itu dapat memiliki tingkat perbandingan yang menyatakan apakah maujud yang satu "sama", "lebih", atau "paling" jika dibandingkan dengan maujud lain. Dengan demikian, ada tiga macam tingkat perbandingan, yakni tingkat (1) ekuatif, tingkat (2) komparatif, dan tingkat (3) superlatif.

2.2.2.1 Tingkat Perbandingan Ekuatif

Tingkat perbandingan ekuatif yang menyatakan dua hal yang dibandingkan itu sama. Terdapat dua macam bentuk untuk menyatakan perbandingan ekuatif, yakni (1) pemakaian se-, dan (2) pemakaian sama … dengan. Jadi, perbandingan ekuatif dinyatakan dalam formula sebagai berikut.

se- + adjektiva … dan sama + adjektiva +-nya + dengan

2.2.2.2 Tingkat Perbandingan Komparatif

Tingkat perbandingan komparatif menyatakan bahwa satu dari dua maujud yang dibandingkan itu lebih atau kurang dari yang lain. Tingkat tersebut dinyatakan dengan formula berikut.

lebih kuran g + adjektiv a + daripad a

2.2.2.3 Tingkat Perbandingan Superlatif

Tingkat perbandingan superlatif menyatakan bahwa dari sekian hal yang dibandingkan satu melebihi yang lain. Tingkat itu dinyatakan dengan bentuk ter- atau paling yang diikuti adjektiva.

paling ter- + adjektiva

2.3 Afiksasi

Afiksasi adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Dalam proses ini, leksem (1) berubah bentuknya, (2) berubah menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata (atau bila telah berstatus kata berganti kategori), (3) sedikit banyak berubah maknanya. (Kridalaksana, 1989: 28)

Afiksasi adalah penggabungan akar atau pokok dengan afiks. Afiks terdapat tiga macam, yaitu awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan dibubuhkan di depan dasar, umpamanya awalan-awalan dalam bahasa Indonesia per-, ter-, me-. (Samsuri, 1994: 190)

Di antara proses-proses morfemis yang terpenting adalah afiksasi, yaitu pengimbuhan afiks. Afiks terdapat empat macam: (a) prefiks yang diimbuhkan di sebelah kiri dasar dalam proses yang disebut prefiksasi; (b) sufiks yang diimbuhkan di sebelah kanan dasar dalam proses yang disebut sufiksasi; (c) infiks yang diimbuhkan dengan penyisipan di dalam unsur dasar itu dalam proses yang namanya infiksasi, dan (d) konfiks atau simulfiks, atau ambifiks, atau sirkumfiks yang diimbuhkan untuk sebagian di sebelah kiri dasar dan untuk sebagian di sebelah kanannya, dalam proses yang dinamai

konfiksasi atau simulfiksasi, atau ambifiksasi, atau sirkumfiksasi. (Verhaar, 2001: 107)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah proses penambahan afiks atau imbuhan terhadap sebuah dasar. Penambahan imbuhan bisa terjadi sebelum dasar, setelah dasar, penyisipan pada dasar, atau gabungan imbuhan depan dan belakang.

3. Analisis terhadap Tingkat Perbandingan Adjektiva dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Berikut beberapa data adjektiva dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan tingkat perbandingan komparatif dan superlatif.

3.1 Tingkat Perbandingan Komparatif

Berikut perbandingan kalimat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang mengandung tingkat perbandingan komparatif.

NoBahasa InggrisBahasa Indonesia
1(a)
My dress is more beautiful
than
(b)
Baju saya lebih bagus
daripada
this one.ini.
2(a)
Tia is cleverer
than Ira.
(b)
Tia lebih pintar
daripada
Ira
3(a)
This writing is more scientific
(b)
Tulisan ini lebih ilmiah
daripada
that that article.artikel itu.
4(a)
He should be more honest.
(b)
Dia
seharusnya
bersikap
lebih
jujur.
5(a)
He wants to drink some colder
(b)
Ia ingin minum air yang lebih
water.dingin.

Pada kalimat (1a) tampak bahwa perbandingan terjadi antara frasa nomina my dress dengan this one menggunakan preposisi than. Dalam hal ini adjektiva beautiful didahului more untuk menyatakan perbandingannya. Sementara itu, pada kalimat (1b) komparasi terjadi pada frasa nomina baju saya dengan ini menggunakan preposisi daripada. Adjektiva bagus didahului adverbia lebih untuk menyatakan perbandingan atau komparasinya.

Seperti dalam kalimat (1a) tampak bahwa adjektiva beautiful menyatakan perbandingan dengan menggunakan adjektiva more. Seperti dalam bahasa Indonesia, muncul

perbandingan antara dua nomina dengan menggunakan preposisi than. Pada kalimat tersebut, frasa nomina my dress diperbandingkan dengan frasa nomina this one. Hal yang sama terjadi pada kalimat (3a) dan (4a), adjektiva scientific dan honest mengalami proses penambahan adjektiva more untuk menyatakan tingkat perbandingan komparatif.

Lain halnya dengan kalimat (2a) dan (5a). Adjektiva clever dan cold mengalami proses morfologis afiksasi dengan penambahan sufiks -er untuk menyatakan tingkat perbandingan komparatif sehingga menjadi cleverer dan colder.

Jadi, dalam bahasa Inggris tingkat perbandingan komparatif bisa dinyatakan dengan dua bentuk, yaitu penambahan kata more sebelum adjektiva atau proses afiksasi dengan penambahan sufiks -er. Jika

diperhatikan, adjektiva yang mengalami afiksasi adalah adjektiva yang terdiri atas satu atau dua suku kata. Mari kita lihat contoh yang lainnya.

(6) He is handsomer than my neighbor.

HeishandsomerThanmyneighbor
DiaØlebih tampanDaripada(milik) sayatetangga
Dia lebih tampan daripada tetangga saya.

(7) Today my heart feels mellower.

todaymyheartfeelsmellower
hari inisayahatiterasalebih sendu
Hari ini hati saya terasa lebih sendu

(8) This box is heavier than that box.

thisBoxisheavierthanthatBox
inikotakØlebih beratdaripadaituKotak
Kotak ini lebih berat daripada kotak itu.

(9) My problem is now simpler than before.

myproblemisNowSimplerThanbefore
(milik) sayamasalahØsekaranglebih sederhanaDaripadasebelumnya
Masalah saya sekarang lebih sederhana daripada sebelumnya

(10) The music sounds greater.

themusicsoundsgreater
tersebutmusikterdengarlebih hebat
Musik tersebut/itu terdengar lebih hebat

Ternyata, untuk adjektiva yang terdiri atas dua silabe dengan bunyi akhir -er, le, -ow, -y, dan -some mengalami proses afiksasi dengan sufiks –er. Seperti halnya pada kalimat (6) handsome menjadi handsomer, pada kalimat (7) mellow menjadi mellower, pada kalimat (8) heavy menjadi heavier, dan pada kalimat (9) simple menjadi simpler. Demikian pula pada adjektiva yang terdiri atas satu silabe seperti pada kalimat (5a) dan kalimat (10), cold

berubah menjadi colder dan great menjadi greater. Jadi, untuk adjektiva satu dan dua silabe dengan bunyi akhir er, -le, -ow, -y, dan -some dapat dirumuskan sebagai berikut.

N/FN/Pron + adj. + -er (+ than + N/FN/Pron)

Sementara itu, adjektiva yang terdiri atas dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -ow, -y, dan -some

tidak mengalami penambahan sufiks -er, tetapi mengalami penambahan adjektiva more. Demikian pula pada adjektiva dengan jumlah silabe lebih dari dua, seperti beautiful pada kalimat (1a) dan scientific pada kalimat (3a). Untuk adjektiva yang terdiri atas dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -ow, y, dan -some serta adjektiva dengan jumlah silabe lebih dari dua dapat dibuat pola sebagai berikut.

N/FN/Pron + more + adj. (+ than + N/FN/Pron)

Seperti pada kalimat (1b), hal yang sama terjadi pada kalimat (2b) dan (3b). Pronomina nama diri Tia dan frasa nomina tulisan ini mengalami komparasi dengan pronomina nama diri Ira dan frasa nomina artikel itu dengan menggunakan preposisi daripada. Namun, pada kalimat (4b) dan (5b), nomina pembanding tidak disebutkan sehingga preposisi adverbia daripada

tidak muncul. Oleh karena itu, tingkat perbandingan komparatif tidak selalu harus memunculkan unsur pembanding dengan menggunakan preposisi daripada seperti halnya pada kalimat (4b) dan (5b).

Jadi, tampak bahwa dalam bahasa Indonesia, tingkat perbandingan komparatif menggunakan adverbia lebih. Komparasi dapat menggunakan preposisi daripada yang diikuti unsur pembandingnya ataupun tidak. Oleh karena itu, dapat dirumuskan pola sebagai berikut.

N/FN/Pron. + lebih + Adj. (+ daripada + N/FN/Pron.)

3.1.2 Tingkat Perbandingan Superlatif

Berikut perbandingan kalimat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang mengandung tingkat perbandingan superlatif.

NoBahasa InggrisBahasa Indonesia
11(a)
Dani is the naughtiest
in the class.
(b)
Dani paling nakal
di kelas.
12(a)
Ahmad is the
richest
person in this
(b)
Ahmad adalah orang terkaya
di
village.desa ini.
13(a)
The
weapon
is
the
most
(b)
Senjata ini paling berbahaya.
dangerous.
14(a) This is the cheapest good
sold
(b)
Inilah
barang
termurah
yang
there.dijual di sana.
15(a)
His team is the most solid of all.
(b)
Timnya paling kompak di antara
semua.

Dalam bahasa Inggris tingkat perbandingan superlatif dinyatakan dengan -est seperti naughty menjadi naughtiest pada kalimat (11a), rich menjadi richest pada kalimat (12a), dan cheap menjadi cheapest pada (14a). Namun, pada adjektiva tertentu, tampak

bahwa tingkat perbandingan superlatif dinyatakan dengan adjektiva most, seperti dangerous menjadi most dangerous pada (13a) dan solid menjadi most solid pada (15a). Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.

(16) He is the handsomest boy in his class.

HeIsThehandsomestBoyinHisclass
DiaØØpaling tampananak lelakidi(milik) diakelas
Dia paling tampan di kelasnya

(17) Today my heart feels the mellowest.

todayMyheartfeelstheMellowest
hari iniSayaHatiterasaØpaling sendu
Hari ini hati saya terasa paling sendu

(18) This box is the heaviest.

thisboxistheheaviest
InikotakØØpaling berat
Kotak ini paling berat.

(19) My problem is the simplest one.

myproblemistheSimplestOne
(milik) sayamasalahØØpaling sederhanaSatu
Masalah saya paling sederhana

(20) This music is the greatest.

themusicistheGreatest
tersebutmusikØØpaling hebat
Musik tersebut/itu paling hebat

Ternyata, untuk tingkat perbandingan superlatif, adjektiva yang terdiri atas dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -ow, -y, dan -some mengalami proses afiksasi dengan sufiks -est. Seperti halnya pada kalimat (16) handsome menjadi handsomest, pada kalimat (17) mellow menjadi mellowest, pada kalimat (18) heavy menjadi heaviest, dan pada kalimat (19) simple menjadi simplest. Demikian pula pada adjektiva yang terdiri atas satu silabe seperti pada kalimat (12a), (14a) dan kalimat (20), rich berubah menjadi richest, cheap menjadi cheapest dan great menjadi greater.

Tampak pula bahwa tingkat perbandingan superlatif dalam bahasa

Inggris selalu disertai dengan kemunculan artikel the sebagai penanda tertentu. Pada (11a) naughty ditandai dengan the menjadi the naughtiest, pada (12a) rich menjadi the richest, pada (13a) dangerous menjadi the most dangerous, pada (14a) cheap menjadi the cheapest, dan pada (15a) solid menjadi the most solid. Demikian pula pada kalimat (16), handsome menjadi the handsomest, pada (17) mellow menjadi the mellowest, pada (18) heavy menjadi the heaviest, pada (19) simple menjadi the simplest, dan pada (20) great menjadi the greatest.

Jadi, untuk adjektiva satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -ow, -y, dan -some dapat dirumuskan sebagai berikut.

N/FN/Pron + the + adj. + -est

Sementara itu, adjektiva yang terdiri atas dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -ow, -y, dan -some tidak mengalami penambahan sufiks est, tetapi mengalami penambahan adjektiva most. Demikian pula pada adjektiva dengan jumlah silabe lebih dari dua seperti dangerous pada kalimat (13a). Untuk adjektiva yang terdiri atas dua silabe dengan bunyi akhir di luar er, -le, -ow, -y, dan -some serta adjektiva dengan jumlah silabe lebih dari dua dapat dibuat pola sebagai berikut.

N/FN/Pron + the + most + adj.

Pada kalimat (11b) adjektiva nakal ditandai dengan adverbia paling sebagai ciri tingkat perbandingan superlatif. Demikian pula pada kalimat (13b), adjektiva berbahaya ditandai dengan paling, dan kalimat (15b) adjektiva kompak ditandai dengan paling sebagai penanda superlatif. Sementara itu, pada kalimat (12b) dan (14b), adjektiva kaya dan murah mengalami proses afiksasi dengan adanya penambahan prefiks ter- yang bermakna "paling" menjadi terkaya "paling kaya" dan termurah "paling murah".

Namun, tidak semua adjektiva dapat menggunakan afiks ter- dalam tingkat superlatif. Misalnya, pada kalimat (13b) adjektiva berbahaya dapat didahului adverbia paling, tetapi tidak dapat menggunakan afiks ter-.

(13b) Senjata ini paling berbahaya.

(13c) *Senjata ini terberbahaya.

Mari kita perhatikan contoh lain.

  • (21a) Ini adalah air paling alami dari semua produk air minum dalam kemasan.
  • (21b) *Ini adalah air teralami dari semua produk air minum dalam kemasan.
  • (22a) Lampu-lampu jalan di kota ini tampak paling gemerlap.
  • (22b) *Lampu-lampu jalan di kota ini tampak tergemerlap.

Untuk menyatakan tingkat superlatif, adjektiva alami dapat didahului kata paling seperti pada kalimat (21a). Namun, tidak berterima ketika didahului afiks ter-. Demikian pula pada kalimat (21a), gemerlap dapat didahului adverbia paling untuk menyatakan tingkat superlatif, tetapi tidak dapat didahului ter-.

Ternyata, untuk adjektiva turunan, tingkat superlatif tidak dapat dinyatakan melalui proses afiksasi yang menggunakan prefiks ter-.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan pula contoh berikut.

  • (23a) Dia orang yang paling beruntung. (23b) *Dia orang yang terberuntung.
  • (24a) Gadis cantik itu tampak paling menarik di antara semua pengunjung. (24b) *Gadis cantik itu tampak termenarik di antara semua pengunjung.
  • (25a) Wanita yang agak gemuk itulah yang tampak paling keibuan. (25b) *Wanita yang agak gemuk itulah yang tampak terkeibuan.

Dengan demikian, terdapat dua cara menunjukkan tingkat perbandingan superlatif dalam bahasa Indonesia, yakni menggunakan prefiks ter- yang bermakna "paling" dan menggunakan adverbia paling itu sendiri. Pola tingkat perbandingan superlatif dengan menggunakan adverbia paling dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

N + paling + adjektiva dasar/turunan

Sementara itu, pola tingkat perbandingan superlatif dengan menggunakan prefiks ter- dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

N + ter- + adjektiva dasar

4. Simpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

  • a. Tingkat perbandingan dalam bahasa Inggris terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah adjektiva yang memiliki satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -y, -ow, dan -some. Sementara itu, adjektiva kelompok kedua adalah adjektiva yang memiliki dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -y, -ow, dan some dan adjektiva yang terdiri atas lebih dari dua silabe.
  • b. Adjektiva bahasa Inggris yang memiliki satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -y, -ow, dan -some mengalami proses afiksasi dengan penambahan sufiks -er untuk menyatakan tingkat perbandingan komparatif.

c. Pola yang digunakan untuk adjektiva bahasa Inggris yang memiliki satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -y, -ow, dan –some adalah sebagai berikut.

N/FN/Pron + adj. + -er (+ than + N/FN/Pron)

d. Adjektiva bahasa Inggris yang memiliki dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -y, -ow, dan some dan adjektiva yang terdiri atas lebih dari dua silabe didahului adjektiva more untuk menyatakan tingkat perbandingan komparatif.

N/FN/Pron + more + adj. (+ than + N/FN/Pron)

  • e. Tingkat perbandingan komparatif adjektiva dalam bahasa Indonesia menggunakan adverbia lebih sehingga membentuk frasa adjektiva.
  • f. Tingkat perbandingan komparatif adjektiva dalam bahasa Indonesia dapat dirumuskan dengan pola berikut.

N/FN/Pron. + lebih + Adj. (+ daripada + N/FN/Pron.)

g. Seperti halnya tingkat perbandingan komparatif, untuk menyatakan tingkat perbandingan superlatif dalam bahasa Inggris, adjektiva terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah adjektiva yang memiliki satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -y, -ow, dan -some. Sementara itu, adjektiva kelompok kedua adalah adjektiva yang memiliki dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -

  • y, -ow, dan -some dan adjektiva yang terdiri atas lebih dari dua silabe.
  • h. Semua adjektiva dalam tingkat perbandingan superlatif dalam bahasa Inggris menggunakan artikel the yang diletakkan sebelum adjektiva sebagai penanda benda tertentu.
  • i. Adjektiva bahasa Inggris yang memiliki satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -y, -ow, dan -some mengalami proses afiksasi dengan penambahan sufiks -est untuk menyatakan tingkat perbandingan superlatif.
  • j. Untuk menyatakan tingkat perbandingan superlatif, pola yang digunakan adjektiva bahasa Inggris yang memiliki satu silabe dan dua silabe dengan bunyi akhir -er, -le, -y, -ow, dan -some adalah sebagai berikut.

N/FN/Pron + the + adj. + -est

k. Adjektiva bahasa Inggris yang memiliki dua silabe dengan bunyi akhir di luar -er, -le, -y, -ow, dan some dan adjektiva yang terdiri atas lebih dari dua silabe didahului adjektiva most untuk menyatakan tingkat perbandingan komparatif.

N/FN/Pron + the + most + adj.

l. Untuk menandai tingkat perbandingan superlatif, adjektiva bahasa Indonesia didahului adverbia paling. Selain itu, adjektiva dalam bahasa Indonesia mengalami proses afiksasi, ditandai dengan awalan teruntuk menandai tingkat perbandingan superlatif.

m. Pola yang digunakan untuk menyatakan tingkat perbandingan superlatif dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan adverbial paling adalah sebagai berikut.

N + paling + adj. dasar/turunan

n. Pola yang digunakan untuk menyatakan tingkat perbandingan superlatif dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan adverbial teradalah sebagai berikut.

N + ter- + adj. dasar

5. Daftar Pustaka

  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.
  • Kridalaksana, Harimurti. 1993. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Laboratorium Pengembangan Bahasa Pusdai Jawa Barat. 2000. "Summing Up on English Grammar and Conversation"
  • Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Verhaar. 2001. Asas-Asas Linguistik Umum. Jogjakarta: Gajah Mada University Press.