1. Home
  2. Archives
  3. Vol 14 (2015) Issue 1
  4. Articles

Potensi Dan Tantangan Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional

Abstract

dan banyaknya pelaku bisnis yang datang ke Indonesia. Seiring dengan hal itu, bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi pun mulai berkembang dan banyak digunakan oleh penutur asing. Dengan demikian, bahasa Indonesia juga berpotensi menjadi bahasa internasional. Di Korea Selatan akhir-akhir ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk mempelajari bahasa Indonesia. Akan tetapi, terdapat beberapa hambatan yang dialami orang Korea ketika belajar bahasa Indonesia. Untuk itu, penulis akan mengemukakan beberapa masalah dan memberikan saran yang belum terpikir oleh orang Indonesia. Semoga saran tersebut berguna bagi perkembangan bahasa Indonesia, khususnya untuk penutur asing. Penulis mengamati pengembangan bahasa Indonesia saat ini berorientasi pada penutur bahasa Indonesia saja, belum ada yang berorientasi pada penutur asing. Pengembangan bahasa Indonesia banyak dilakukan oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Kiranya pemerintah memiliki langkah untuk menduniakan bahasa Indonesia dengan melakukan beberapa pembenahan tata bahasa dan membuat software untuk mempelajari bahasa Indonesia bagi penutur asing.Kata kunci: bahasa indonesia, korea selatan, bipaIn recent years, the economic growth of Indonesia has been remarkable, marked by the industrial development and the high number of business doers coming to Indonesia. In line with the country

Keywords

PENDAHULUAN

Saat ini, di Korea Selatan terdapat kecenderungan masyarakat untuk belajar bahasa Indonesia. Kecenderungan ini dapat dibuktikan dengan banyaknya orang Korea yang datang ke Indonesia untuk belajar bahasa dan budaya yang ada di berbagai universitas di Indonesia melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Pada saat ini, tiga universitas di Korea Selatan telah membuka jurusan yang berkaitan dengan bahasa Melayu-Indonesia. Selain itu, di Korea Selatan terdapat beberapa institusi swasta yang menyelenggarakan pengajaran bahasa Indonesia kepada orang

Korea, khususnya di ibu kota Seoul, karena ketiga universitas tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin belajar bahasa Indonesia. Kecenderungan ini boleh dikatakan hal yang baru karena ketika penulis belajar pada Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Jurusan Bahasa Melayu - Indonesia pada 2011 tidak ditemukan institusi yang mengajarkan bahasa Indonesia. Saat ini dapat ditemukan lebih dari 10 institusi swasta yang mengajarkan bahasa Indonesia melalui internet dalam waktu singkat.

Mengapa saat ini banyak orang Korea ingin belajar bahasa Indonesia? Alasannya, perkembangan ekonomi Indonesia yang begitu cepat. Rasio pertambahan Growth Domestic Product (GDP) Indonesia per tahun semakin meningkat. Ekonomi Indonesia tumbuh 6,2% pada tahun 2010, 6,5% pada tahun 2011, 6,3% pada tahun 2012, dan 5,8% pada tahun 2013, sedangkan ekonomi Korea Selatan hanya mencapai 6,5% pada tahun 2010, 3,7% pada tahun 2011, 2,3% pada tahun 2012, dan 3,0% pada tahun 2013.

Selain itu, orang Indonesia juga sangat tertarik dengan Korea Selatan, misalnya dengan adanya hallyu (Gelombang Korea) yang digemari remaja Indonesia melalui acara televisi dan K-pop. Seiring dengan perkembangan ekonomi, turis Indonesia yang datang ke Korea Selatan pun meningkat sangat tajam. Pada tahun 2009 pengunjung Indonesia yang datang ke Korea Selatan untuk berwisata tercatat 35.754 orang, tahun 2010 sebanyak 45.101 (rasio pertambahan 26,1%), tahun 2011 sebanyak 64.344 (rasio pertambahan 42,7%), tahun 2012 sebanyak 90.266 (rasio pertambahan 40,3%), dan tahun 2013 sebanyak 96.631 (rasio pertambahan 7,1%). Di sisi lain, investasi Korea di Indonesia sedang meningkat pula. Tabel I menunjukkan investasi Korea di wilayah Indonesia sejak tahun 2008 sampai 2013.

Hubungan yang terjalin antara Korea dan Indonesia merupakan imbas perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu orang Korea terhadap Indonesia. Berdasarkan hal tersebut tampak bahwa potensi bahasa Indonesia yang dapat menjadi bahasa internasional cukup besar.

Tulisan ini memiliki keterbatasan disebabkan tidak menggunakan kaidah tata bahasa yang baku di dalam penjelasannya. Selain itu, penulis hanya mengungkapkan masalah yang umumnya bukan masalah yang spesifik. Hal ini disebabkan penulis merupakan mahasiswa program BIPA yang hanya belajar bahasa Indonesia selama kurang lebih 2 tahun. Walaupun begitu, kesulitan yang dialami penulis selama belajar bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai salah satu gambaran kesulitan orang asing yang tidak memiliki latar belakang budaya Indonesia.

Penulis tidak memiliki latar belakang budaya Melayu atau Indonesia sedikit pun sebelum memasuki universitas. Hambatan yang penulis hadapi juga dialami oleh teman-teman penulis sesama orang Korea ketika belajar bahasa Indonesia. Jadi, dapat dikatakan hambatan ini merupakan hambatan bagi orang Korea, bukan hanya penulis.

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam tulisan ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut.

  • a. Apa penyebab bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional?
  • b. Apa tantangan untuk belajar bahasa Indonesia dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik bagi orang Korea yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan tentang Indonesia?

METODE DAN PENELITIAN TERDAHULU

Tulisan ini menggunakan metode deskriptif. Selain itu, penulis akan membandingkan kasus antara Indonesia dan Korea Selatan karena ada beberapa kebijakan pe-merintahan Korea Selatan mengenai bahasa yang dapat dijadikan acuan atau contoh oleh pemerintah Indonesia. Korea merdeka dari penjajahan Jepang pada 1945.

TABEL I INVESTASI KOREA SELATAN DI INDONESIA

200820092010201120122013
Jumlah
kasus
investasi
182186356456421807
Jumlah
uang
investasi
(million USD)
3016253291,2191,9502,206

Pemerintah kolonial Jepang memaksakan kebijakan bahasa Jepang selama 35 tahun dan melarang penggunaan bahasa Korea berdasarkan kebijakan yang disebut "민족말살정책 (Minjokmalsaljeongchaek: kebijakan untuk pematian jiwa orang Korea)" sejak 1938 sampai kemerdekaan. Jadi, menurut Young (1943) 22% dari penduduk Korea berbahasa Jepang, misalnya orang Korea yang sudah berusia lebih dari 70 tahun tidak bisa menulis bahasa Korea, tetapi bisa berbahasa Jepang. Hal ini berbanding terbalik dengan data bahwa Korea Selatan termasuk salah satu negara dengan rasio "melek" huruf tertinggi. Jika melihat peringkat GDP dari seluruh dunia pada tahun 2013, Korea Selatan menduduki peringkat ke-14 dan Indonesia ke-16. Jadi, boleh dikatakan kebijakan Korea sekarang mudah disamai oleh Indonesia pada kurun waktu yang akan datang dari segi ekonomi.

Penelitian terdahulu berkaitan tentang pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing adalah "Empowering and Passionate BIPA Learning Process Through The Use of Photography and Videography - Related Activities in BIPA" yang ditulis oleh Kuntarto pada tahun 2014 dan "Belajar Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua untuk Tujuan Khusus (Studi Kasus Pembelajar Bahasa Asing di Dunia Kerja)" yang ditulis oleh Tisna pada tahun 2014. Kedua makalah tersebut dipresentasikan pada seminar Pertemuan Ilmiah Tahunan Pengajar BIPA 2014 yang diadakan oleh Asosiasi Pengajar BIPA se-Jakarta Raya (APBIPA Jaya) pada 15 Desember 2014 di Universitas Atmajaya, Jakarta.

Pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing sudah banyak diteliti oleh peneliti dari berbagai program BIPA di universitasuniversitas di Indonesia. Walaupun demikian, jika melihat penelitian yang sudah ada, kebanyakan makalah memfokuskan pada metode pengajaran untuk penutur asing, misalnya pada penggunaan berbagai media ajar dalam pengajaran BIPA.

Penelitian yang banyak dilakukan adalah penelitian tentang tata cara pengajaran bahasa Indonesia kepada orang asing, penelitian bahasa daerah, dan penelitian bahasa Indonesia. Adapun penelitian untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia sangat kurang.

Hal itu terjadi karena di wilayah terpencil masih terdapat orang yang tidak dapat berbahasa Indonesia dan bahasa daerah yang ada menghadapi kepunahan. Tulisan ini bertujuan untuk menelisik kemungkinan karakteristik bahasa Indonesia bagi penutur asing sehingga diharapkan ditemukan solusi untuk memudahkan pengenalan bahasa Indonesa pada masyarakat internasional/BIPA.

HASIL PENELITIAN

Penulis akan merumuskan potensi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Penulis pernah menghadapi beberapa kesulitan selama pembelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, ada beberapa masukan untuk mengatasi kesulitan dan nilai ekonomi yang diharapkan jika ujian kemahiran berbahasa Indonesia dapat dilakukan di luar negeri.

Potensi Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional

Penulis ingin menitikberatkan bahwa tulisan ini tidak ada maksud merendahkan bahasa Indonesia sedikit pun. Dibandingkan bahasa lain, bahasa Indonesia mempunyai dua keunggulan, yaitu menggunakan aksara Latin dan tata bahasa yang sederhana. Penggunaan aksara Latin adalah keunggulan yang luar biasa karena sangat efisien. Dari segi pembelajaran bahasa, jika orang mampu menguasai bahasa Inggris, dia langsung dapat membaca tulisan bahasa Indonesia. Jika dibandingkan dengan bahasa lain yang mempunyai aksara seperti bahasa Arab atau Vietnam, akses terhadap bahasa Indonesia boleh dikatakan begitu mudah.

Selain itu, tata bahasa Indonesia terasa sangat mudah karena tidak mengenal jenis kelamin, jumlah, kasus, waktu/kala, dan tingkatan tutur (speech level). Kemudahan mempelajari bahasa Indonesia dapat dijelaskan saat membandingkan dengan bahasa lain. Tabel II contoh perbandingan tata bahasa dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Korea.

Hambatan yang Dihadapi Penutur Korea dalam Mempelajari Bahasa Indonesia

Pada bagian ini penulis akan menguraikan beberapa hal yang menjadi hambatan.

a. Tantangan Fonologi

Hasil penelitian yang sudah ada tentang bidang fonologi adalah "Kemahiran Berbahasa Indonesia Penutur Korea: Kajian Prosodi dengan Pendekatan Fonetik Eksperimental" yang ditulis oleh Suryani dan Darmayanti. Dalam makalah itu, mereka menjelaskan

bahwa dari segi tekanan dan temporal, penutur Korea menekan bagian yang tidak perlu diucapkan. Selain itu, terdapat beberapa bunyi yang agak sulit diucapkan oleh penutur Korea karena bunyi tersebut tidak ada dalam bahasa Korea, misalnya "kh" dan "r".

TABEL II KEMUDAHAN TATA BAHASA INDONESIA DIBANDINGKAN DENGAN BAHASA LAIN

BahasaBahasa InggrisBahasa Korea
Indonesia
GenderDiahe, she그[Geu] (he),
그녀[Geunyeo](she)
plural,dua ekoris→are,개[Gae](dog)→
singularanjinga dog→dogs개들[Gaedeul](dogs)
nominatie,SayaI
(subjective),
나[Na](subjective)
possesive,My
(possesive),
나의[Naui](possesive)
objectiveMe
(objective),
나를[Nareul](objective)
Mine
(Possesive
나의것[nauigeot](Possesivep
pronoun)ronoun)
tenseMakanEat
(present)
먹다[meok-da](present)
(Past,Ate
(Past)
먹었다[meo-geot-da](past)
Present,Eaten먹을것이다[meo-geulgeon
Future)(PastPerfect)ni-da](future)
speechAkanWill
(Normal)
먹어라[meo-geora](Normal)
levelWould
(Sopan)
드십시오[deu-sip-sio](Sopan)

TABEL III CONTOH PENGGUNAAN PEMBENTUKAN KATA PE(R)-AN DAN PE(N)-AN

Kata
Dasar
Penggunaan pembentukan kata pe(r)-an dan pe(N)-an.
Gunung*bergunung→pegunungan
menggunung→*penggunungan
Hutan*berhutan→perhutanan
menghutan→penghutanan
Nikahbernikah→pernikahan
menikah→*penikahan
Kawinberkawin→perkawinan
mengawin→pengawinan

b. Tantangan Morfologi

Tantangan dari segi morfologi adalah penggunaan bentukan kata yang masih belum konsisten. Penulis diajari kaidah tata bahasa Indonesia seperti bentukan kata yang berasal dari awalan ber-, me(N)-, ke-an. Namun, penulis sering bingung menggunakan imbuhan tersebut.

Tabel III menunjukkan pembentukan kata dengan imbuhan pe(r)-an dan pe(N)-an dari kata gunung, hutan, nikah, dan kawin yang dikutip dari KBBI (2008) edisi keempat yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa. Jika mencari arti gunung di kamus tersebut ditemukan bentukan kata menggunung. Jadi, penulis menduga bahwa sangat mungkin dapat menemukan penggunungan. Namun, ternyata pada kamus tersebut tidak memuat bentukan kata penggunungan hanya ada bentukan kata pegunungan. Jika demikian, pegunungan berasal dari bentukan kata apa? Dalam kamus tidak ditemukan bentukan kata bergunung, hanya bergunung-gunung. Jika dibandingkan dengan kata hutan pada kamus yang sama, ada penghutanan dari menghutan. Oleh karena itu, adanya penghutanan menambah kebingungan penulis atas tidak adanya bentukan kata penggunungan.

Selain itu, jika membandingkan antara bentukan kata nikah dan kawin, akan ditemukan bentukan kata pernikahan diturunkan dari kata bernikah, tetapi tidak ditemukan bentukan kata penikahan yang berasal dari bentuk kata menikah, tetapi perkawinan dan pengawinan dari berkawin dan mengawin ditemukan. Adapun kosakata mempunyai bila ditulis sesuai kaidah tata bahasa memunyai. Menurut informasi yang penulis dapatkan, kata ini berasal dari empunya. Namun, pada waktu yang sama penggunaan bentuk pasif adalah dipunyai bukan diempunyai.

Selain itu, ada contoh lain bentuk yang dibenarkan, tetapi tidak sesuai dengan kaidah misalnya pedesaan (seharusnya pendesaan) dan penglihatan (seharusnya pelihatan sebab berasal dari melihat). Dari sudut pandang pembelajar orang asing, ketidakkonsistenan ini sangat membingungkan. Alasannya, penggunaannya belum konsisten tanpa kaidah. Bahkan, tidak bisa ditemukan penjelasan tentang hal ini sebagai pengecualian.

c. Tantangan dari Segi Sintaksis

Salah satu tantangan sintaksis yang dijumpai ketika penulis membuat kalimat Institusi swasta mengajar……., kalimat tersebut salah sehingga institusi swasta bukan orang, tidak bisa dilekatkan dengan kata mengajar. Kalimat Tata bahasa tidak bergantung pada gender pun tidak tepat, seharusnya Tata bahasa Indonesia tidak mengenal gender. Di satu pihak, kesalahan kalimat di atas itu karena subjek yang bukan orang tidak bisa dilekatkan dengan verba "me(N)-", tetapi di pihak lain kalimat tersebut dibenarkan sebab hal ini merupakan kebiasaan penggunaan bahasa Indonesia.

d. Tantangan Semantik

Dari segi semantik, penulis masih merasa sulit menggunakan kosakata yang tepat dalam kalimat karena makna bentukan kata belum konsisten. Tabel IV adalah bagian hasil pen-carian kata hutan dan gunung dalam KBBI edisi keempat dan penulis mengutip bagian per-an dan pe(N)-an untuk perbandingan arti.

Pada tabel IV penulis melihat arti pegunungan yang terasa agak aneh karena jika dibandingkan dengan perhutanan dan penghutanan, tidak ditemukan arti seperti bentuk pergunungan yang bermakna tempat dan penggunungan yang bermakna proses.

Tabel V adalah bagian hasil pencarian kata desa dan kota dalam KBBI edisi keempat dan penulis mengutip bagian per-an dan pe(N) an untuk perbandingan makna. Arti perdesaan dan perkotaan terlihat taat asas, tetapi makna pedesaan dan pengotaan tidak taat asas. Selain data kamus, penggunaan kosakata sehari-hari belum taat asas. Tabel VI adalah data yang menunjukkan kata yang berterima dan tidak berterima oleh penutur Indonesia tanpa kaidah.

Dalam seminar Bahasa dan Sastra dalam Media Massa dan Media Sosial yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Barat, penulis bertanya tentang bentukan kata pada tabel VI. Jawaban yang penulis diterima bahwa sistemnya sudah ada dan menunggu digunakan oleh masyarakat. Jawaban tersebut dapat penulis pahami bahwa beliau sudah tahu kebingungan orang asing dengan kata mencantik, mengenak, dan sebagainya, tetapi hanya menunggu sampai banyak orang menggunakan kosakata itu.

Pengaruh Bahasa Daerah

Bahasa daerah memang dapat memperkaya bahasa Indonesia dari segi kosakata. Sampai saat ini, penulis pernah ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Tengah, dan Riau. Penulis sangat terkesan dengan kemajemukan bahasa daerah. Namun, di sisi lain bahasa daerah juga mengganggu bahasa Indonesia resmi. Mungkin bagi penutur orang Indonesia pengaruh dari bahasa daerah tidak bermasalah karena dia dapat membedakan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah, tetapi orang asing tidak bisa membedakannya. Jika penulis mengikuti acara resmi, pemahaman penulis tentang bahasa yang digunakan dalam acara tersebut lebih dari 80%. Namun saat di pasar, jalan, angkutan umum, dan tempat umum lainnya, pemahaman penulis tentang bahasa yang sedang diucapkan lebih kecil dari 50%, misalnya kata ngopi, ngebahas, ngerokok, bikin, ambilin, idupin, woles, galau, dan kepo.

Penulis tidak bermaksud memaksakan bahasa baku kepada penutur Indonesia. Bahasa daerah juga mempunyai peran dan fungsi tertentu. Peran bahasa daerah, fungsi bahasa daerah, serta hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah sangat jelas dipaparkan dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1998. Penulis sangat setuju dengan pandangan penyusun buku tersebut. Namun, tidak bisa dihindari sebuah fakta bahwa pemahaman orang asing yang hanya belajar bahasa Indonesia baku sangat terbatas saat berada di tengah kehidupan nyata ketika keluar dari lingkungan akademik. Jadi, bahasa lisan pun harus ada dalam kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing.

Belum Adanya Ujian Untuk Kemahiran Berbahasa Indonesia yang Bisa Dijangkau di Luar Negeri

Sampai saat ini belum ada ujian untuk kemahiran berbahasa Indonesia yang terjangkau di luar negeri. Di Korea Selatan lembaga yang menguji kemahiran berbahasa Indonesia, adalah HUFS bukan badan bahasa atau institusi yang berasal dari Indonesia. HUFS adalah salah satu universitas yang khusus mengkaji ilmu asing.

Universitas ini mempunyai jurusan bahasa asing yang sangat banyak. Jadi, boleh dikatakan hampir seluruh bahasa di dunia dapat diajarkan. Untuk lulus universitas, mahasiswa harus lulus ujian Foreign Language Examination (FLEX). Setiap jurusan bahasa mempunyai soal FLEX, termasuk Jurusan Bahasa Indonesia. Awalnya tes ini hanya untuk mahasiswa HUFS yang akan lulus, tetapi lama kelamaan digunakan oleh orang Korea yang mau menguji kemahiran berbahasa Indonesia dan mulai diterima oleh perusahaan dan pemerintah Korea secara resmi.

Amerika Serikat (TOEIC, TOEFL), German (Goethe-Zertifikat), Cina (HSK), Jepang (JLPT), Korea (TOPIK), dan banyak negara lainnya mempunyai tes tertentu untuk menguji kemahiran berbahasa yang diselenggarakan oleh badan bahasa negara masingmasing. Tes itu pun dapat dijangkau di luar negeri.

TABEL IV PER-AN, PEN-AN DARI PENCARIAN HUTAN DAN GUNUNG DARI KBBI EDISI KEEMPAT

KBBI edisi keempat
HutanPerhutanan
n.①urusan (pemeliharaan dsb)
hutan
②pengelolaan
&
pemanfaatan
sumber
daya
hutan
untuk
tujuan
komersial yang merupakan
spesifikasi
kegiatan
kehutanan
Penghutanan
n. proses, cara, perbuatan menjadikan hutan
GunungPegunungan
n.tempat yang bergunung-gunung

TABEL V PER-AN, PEN-AN DARI PENCARIAN DESA DAN KOTA DARI KBBI EDISI KEEMPAT

KBBI edisi keempat
DesaPerdesaan
n. daerah permukiman penduduk yang sangat dipengaruhi oleh
kondisi tanah, iklim, dan air sbg syarat penting bagi terwujudnya
pola kehidupan agraris penduduk di tempat
itu;
Pedesaan
n. perdesaan;
KotaPerkotaan
n.①daerah
(kawasan) kota; ②kelompok
permukiman yang terdiri
atas
tempat
tinggi
dan
tempat
kerja
pertanian
Pengotaan
n. proses, cara, perbuatan mengotakan

Di bawah ini penulis sebagai penutur asing bahasa Indonesia menyarankan hal-hal berikut.

a. Menaatasaskan Kaidah Tata Bahasa

Pertama-tama, usaha untuk memperbaiki hasil yang sudah ada sangatlah penting, misalnya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dan Lentera Indonesia 1-3. Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia edisi ketiga pertama kali diterbitkan tahun 1998 dan masih menunggu edisi keempat. Sementara itu, buku Lentera Indonesia 1-3 yang pertama kali diterbitkan oleh Tim BIPA Pusat Bahasa pada tahun 2008 masih menunggu edisi baru. Pembaruan buku yang sudah ada secara berkelanjutan dengan mengikuti perkembangan bahasa sangat dibutuhkan.

Kedua, menciptakan tabel yang menunjukkan penggunaan imbuhan. Jika ada institusi yang berhasil menerbitkan kamus tentang penggunaan imbuhan sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia, orang asing tidak akan bingung lagi terhadap penggunaan imbuhan tersebut.

Ketiga, menciptakan software yang dapat mengoreksi tulisan secara otomatis seperti tampak pada gambar 1. Perangkat lunak pemeriksa tulisan tersebut dibuat oleh sebuah perusahaan swasta AI Lab & Narainfotech. Penggunaan perangkat lunak tersebut gratis untuk tujuan individu dan penelitian. Penulis sengaja memasukkan kalimat yang salah dan langsung keluar hasilnya, yaitu bagian salah diberi tanda merah dan kaidah yang menjelaskan kesalahan kalimat. Penulis berharap perangkat seperti ini dapat diciptakan oleh institusi di Indonesia pada masa depan.

TABEL VI CONTOH KEBIASAAN PENUTUR INDONESIA DALAM IMBUHAN PER- DAN MEN-

KataBer-MeN
Kurang (adv)Berkurang*Mengurang
Tambah (n)BertambahMenambah
Tari (n)*BertariMenari
Canda (n)Bercanda*Mencanda
Ukur (n)*BerukurMengukur
Mobil (n)Bermobil*Memobil
Tanya (v)Bertanya*Menanya
Ajar (v)BelajarMengajar

Gambar 1 Software yang Memeriksa Tulisan Secara Otomatis

b. Membuat Korpus Bahasa Indonesia

Korpus adalah salah satu alat yang dapat menunjukkan penggunaan kosakata. Jadi, ketika orang memasukkan kata "cinta" dalam korpus, dia dapat menemukan hasilnya bergantung pada konteks yang dipilih, yaitu konteks hukum, konteks sastra, konteks kabar berita, dan lain-lain. Korpus dapat digunakan untuk berbagai tujuan penelitian, tetapi pada waktu yang sama sangat berguna untuk orang asing yang mau belajar bahasa Indonesia. Dengan menggunakan korpus, dia dapat membedakan arti antara "sebentar", "sekilas", "sejenak", dan "sekejap".

c. Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia

Tujuan diselenggarakannya ujian untuk kemahiran berbahasa Indonesia yang terjangkau di luar negeri menunjukkan arah pembelajaran bahasa Indonesia kepada orang asing dan sebagai salah satu sarana menyebarkan bahasa Indonesia ke luar negeri. Hasil ujian dapat digunakan sebagai data objektif ketika memasuki perguruan tinggi di seluruh wilayah Indonesia atau untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan berbahasa Indonesia.

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang dirancang oleh Badan Bahasa terdiri atas lima seksi, yaitu seksi mendengarkan, seksi merespons kaidah, seksi membaca, seksi menulis, dan seksi berbicara. Peringkat Hasil UKBI dibagi menjadi tujuh tingkat bergantung pada nilai yaitu Tingkat 1 Istimewa (750-900) kemahiran yang sempurna sampai tingkat 7 Terbatas (0-149) yaitu kemahiran yang sangat tidak memadai. Menurut petugas Balai Bahasa Jawa Barat, seksi IV menulis dan seksi V berbicara hanya dapat diuji di Badan Bahasa di Jakarta karena keterbatasan peralatan ujian di Balai Bahasa.

Jika UKBI sudah tersedia, mengapa tidak disebarkan ke luar negeri? Pada saat ini berdasarkan informasi dalam laman internet Kementrian Luar Negeri RI, Indonesia sudah membuka 95 kedutaan besar dan 31 konsulat jenderal di luar negeri. Jadi, jika pemerintah Indonesia menyediakan ujian di kantor kedutaan besar dan konsulat jenderal, ujian ini dapat dijangkau oleh kurang lebih 100 negara di luar negeri. Tahap selanjutnya, menjalin kerja sama dengan universitas di luar negeri yang membuka jurusan bahasa Indonesia untuk menyelenggarakan ujian tersebut sehingga ujian ini terjangkau oleh lebih banyak orang dengan lebih mudah.

SIMPULAN DAN SARAN

Saat ini, upaya untuk menyebarkan bahasa Indonesia ke luar negeri terus dilakukan walaupun relatif masih kurang jika dibandingkan dengan upaya untuk penguatan bahasa Indonesia di wilayah Indonesia. Akhirakhir ini, pemerintah Indonesia dan perguruan tinggi di Indonesia lebih baik memperhatikan penyebaran bahasa Indonesia ke luar negeri karena seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia, bahasa Indonesia mulai menjadi tren di luar negeri, termasuk Korea Selatan saat ini. Bahkan, dengan karakteristik yang dimiliki bahasa Indonesia, bahasa Indonesia relatif mudah untuk dipelajari oleh orang asing. Hal yang dapat diperbaiki agar penutur asing dapat lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia adalah perbaikan tata bahasa yang belum taat asas, khususnya pembentukan kata imbuhan dan kurangnya infrastruktur untuk belajar bahasa Indonesia, misalnya korpus, perangkat lunak yang mengoreksi tulisan, dan ujian kemahiran berbahasa Indonesia yang terjangkau di luar negeri.

Penulis yakin bahwa tantangan tersebut dapat diatasi dengan usaha dari para ahli bahasa. Jadi, dengan hasil penelitian yang berfungsi sebagai katalis untuk belajar bahasa Indonesia, orang asing dapat memahami Indonesia lebih saksama, bahkan dapat menghasilkan peluang ekonomi baru bagi banyak orang Indonesia. Selain itu, penulis ingin bangsa Indonesia tetap menjaga status bahasa Indonesia.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

12
Citations
3.26
FWCIfield-weighted
94th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20233
20222
20203
20192
20181
20171

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.65
level 1
Indonesian 0.55
level 2
level 0

Institution Network

References

  1. Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (3rd ed.). Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.
  2. KOTRA (Korea Trade Investment Promotion Agency) ìž ì¹
  3. Suryani, Yani dan Nani Darmayanti. (2012). The Skill of Korean Speakers in Indonesian Language: Prosody Study Using an Experimental Phonetics Approach. Journal Politeknik Negeri Bandung 4(2) Dapat diperoleh dari http://digilib.polban.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptppolban-gdl-yanisuryan-3900
  4. Tim BIPA Pusat Bahasa. (2008). Lentera Indonesia 1-3.Jakara: Pusat Bahasa.
  5. Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indoneia Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  6. Wagiati, Wahya, Hardiati, Lina Meilinawati dan Nana Suryana. (2014). Mahir Berbahasa Indonesia untuk penutur asing tingkat 4, Ed. Nani Darmayanti. Bandung: Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
  7. -ˆìž-ì (Heo Jae Young). (2007). ì 1/4ì oeê°•ì ê",° ì¡°ì, ì-
  8. 송ì•,ë 1/4 (Song Ara). (2013). ì‹ ë™ëì•, ë-",™ êµ ë¥ ê",°ë° êµ-ì•. ìŠ-ë 1/4ë",Œ•™ë³
  9. Pustaka Internet
  10. The World Bank. (2014). Gross domestic product ranking table. (Online). tersedia pada:http://data.worldbank.org/data-catalog/GDP-ranking-table (diakses 10 Desember 2014).
  11. website Korea Tourism Organization pada http://kto.visitkorea.or.kr/ (diakses: 19 Desember 2014)
  12. website Narainfotech pada http://speller.cs.pusan.ac.kr/ (diakses: 22 Desember 2014)
  13. website PAN localization project pada http://www.panl10n.net/indonesia/ (diakses: 24 Desember 2014)
  14. website q-net pada http://www.q-net.or.kr/ (diakses: 13 Desember 2014)
  15. website The National Institute of the Korean Language pada http://www.korean.go.kr/ (diakses: 10 Desember 2014)
  16. website TOPIK pada http://www.topik.go.kr/ (diakses: 19 Desember 2014)
  17. website wordbank http://data.worldbank.org/ (diakses: 19 Desember 2014)
  18. website worknet http://www.work9.go.kr/ (diakses: 10 Desember 2014)
  19. website Dewan Badan Bahasa pada http://sbmb.dbp.gov.my/ (diakses: 24 Desember 2014)
  20. website Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia http://www.kemlu.go.id(diakses: 14 Desember 2014)