1. Home
  2. Archives
  3. Vol 14 (2015) Issue 2
  4. Articles

Analisis Implementasi Corporate Social Responsibility Di PT Bio Farma

Abstract

CSR merupakan komitmen perusahaan untuk bertindak etis terhadap pemangku kepentingan secara langsung maupun tidak langsung untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan para pihak yang terkait dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan dari aktivitas perusahaan. CSR dipahami sebagai kewajiban pemenuhan aturan yang harus dilakukan perusahaan tanpa memahami esensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program CSR di PT Bio Farma berdasarkan observasi di lapangan, merekomendasikan strategi yang tepat sasaran dan tujuan dalam implementasi CSR bagi perusahaan di Desa Sukamulya, Kabupaten Sukabumi. Secara umum metode kerja dalam penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap evaluasi menggunakan kerangka konseptual dengan analisis deskriptif serta rekomendasi teknis dan tahap penyusunan rekomendasi strategi, menggunakan analisis SWOT. Berdasarkan sintesis kerangka konseptual, dari 17 kriteria, sebanyak 12 telah dipenuhi oleh implementasi CSR PT Bio Farma di Desa Sukamulya dengan hasil yang memuaskan. Analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi strategis CSR PT Bio Farma di Desa Sukamulya adalah Agressive (poin 3,25; 2,20). Berdasarkan hasil tersebut, maka usulan strategi pengembangan yang dapat diterapkan, yaitu mengembangkan pertanian terpadu yang terintegerasi dengan budidaya ikan koi, meningkatkan produktivitas budidaya ikan koi, agar dapat dipasarkan lebih luas di dalam dan luar negeri dan membuka lapangan kerja yang baru berdasarkan potensi desa di bidang pertanian dan perikanan Kata kunci: CSR, Implementasi, BUMN

Keywords

Keywords: CSR, implementation, SWOT analysis

LATAR BELAKANG

Perusahaan merupakan badan usaha yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, seperti membuka lapangan kerja dan menyediakan barang kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, tanpa disadari aktivitas perusahaan sering menimbulkan berbagai persoalan sosial dan lingkungan, seperti menimbulkan polusi udara, kebisingan, diskriminasi, dan bentuk negative externalities lainnya (Harahap, 2001). Berdasarkan hal tersebut, muncul kebutuhan bagi korporat untuk dapat berinteraksi dan beradaptasi dengan komunitas lokal agar mendapatkan

kepercayaan yang dikaitkan dengan budaya perusahaan dan etika bisnis dalam bentuk tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk bertindak secara etis terhadap pemangku kepentingan secara langsung maupun tidak langsung dengan meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dari aktivitas perusahaan (The World Business Council for Sustainable Development, 2005; International Organization for Standardization, 2007). Jika pelaksanaan CSR hanya merujuk pada UUPT No. 40 Tahun 2007, hal itu akan menimbulkan permasalahan karena dalam pelaksanaannya masih terdapat perbedaan pemahaman baik konsep maupun penerapan CSR. Dalam UU tersebut, seakan-akan hanya perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam yang melakukan kegiatan negatif dan tidak bertanggung jawab secara sosial. Secara filantropi, perusahaan seharusnya meredistribusi keuntungannya setelah mereka memanfaatkan sumber daya dari lokasi masyarakat. Hal tersebut sebetulnya merupakan kewajiban moral. Namun motif yang didasarkan pada komitmen moral tersebut masih sebatas wacana dan belum terlihat nyata (Rahmatullah, 2010).

Hal tersebut bisa terjadi karena dipicu beberapa kondisi, yaitu (1) masih belum seragam dan belum jelas batasan tanggung jawab sosial; (2) motif ekonomi perusahaan untuk mendapatkan profit menjadi berkurang karena dana CSR bersumber dari profit; (3) dukungan tata perundangan yang masih lemah; (4) standar operasional yang kurang jelas; dan (5) belum jelasnya tata cara evaluasi CSR (Hadi, 2011).

PT Bio Farma yang merupakan BUMN produsen vaksin dan antisera di Indonesia sudah melaksanakan CSR sejak tahun 2008. Perusahaan yang berlokasi di Kota Bandung ini melaksanakan tanggung jawab sosial sesuai dengan peraturan pemerintah, berupa CSR PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Salah satu kegiatan CSR PKBL PT Bio Farma dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

BUMN (Badan Usaha Milik Negara) memiliki aturan dan tata cara sendiri dalam pelaksanaan CSR yang diimplementasikan dalam bentuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) untuk keberlanjutan usahanya. Program tersebut banyak diarahkan dalam pola kemitraan pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai pilar ekonomi bangsa serta bina lingkungan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini, yaitu untuk mengevaluasi implementasi program CSR

(Corporate Social Responsibility) di PT Bio Farma berdasarkan observasi di lapangan dan merekomendasikan strategi yang tepat sasaran dan tujuan dalam implementasi CSR.

Pelaksanaan CSR di BUMN

Corporate Social Responsibility (CSR) untuk perusahaan BUMN di Indonesia dikenal dengan sebutan PKBL, yaitu Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Dasar hukum pelaksanaan PKBL adalah UU No.19 tahun 2003 tentang BUMN serta Peraturan Menteri BUMN No. Per-05/MBU/2007 yang menyatakan maksud dan tujuan pendirian BUMN tidak hanya mengejar keuntungan melainkan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat. PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) merupakan program pembinaan usaha kecil dan pemberdayaan masyarakat serta kondisi lingkungan oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Jumlah penyisihan laba untuk pendanaan program maksimal sebesar 2% dari laba bersih untuk program kemitraan dan maksimal 2% dari laba bersih untuk program bina lingkungan. Secara umum, fokus utama PKBL meliputi

  • 1. program kemitraan yang mayoritas dengan UMKM,
  • 2. program bina lingkungan dikelompokkan menjadi bantuan bencana alam, kesehatan masyarakat, pendidikan dan pelatihan masyarakat, keagamaan, pengembangan sarana umum, dan pelestarian alam.

CSR di PT Bio Farma

PT Bio Farma (Persero) adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dengan saham yang dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. PT Bio Farma merupakan produsen vaksin dan antisera bagi manusia di Indonesia. Vaksin yang diproduksi PT Bio Farma terdiri atas vaksin virus (vaksin campak, vaksin polio oral, dan vaksin hepatitis b), dan vaksin bakteri (vaksin DTP, vaksin TT, vaksin DT, dan vaksin BCG). Selain produk tersebut, PT Bio Farma juga memproduksi sediaan farmasi lainnya seperti serum antibisa ular, serum antirabies, serum antitetanus, serum antidifteri dan reagensia/diagnostika.

Program CSR di PT Bio Farma mengacu pada ISO 26000:2010 sebagai Guideline for Social Responsibility. Bentuk kepedulian dan kontribusi terhadap pembangunan nasional diwujudkan PT Bio Farma sebagai perusahaan BUMN dalam dua program CSR yaitu program kemitraan dan program bina lingkungan (PKBL). PT Bio Farma menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait dan masyarakat melalui empat pilar utama, yaitu program kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup.

METODE

Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi yang melibatkan 104 responden. Responden yang dijadikan objek penelitian adalah pria dan wanita usia produktif pada rentang usia 21 s.d. 64 tahun.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Penduduk Desa Sukamulya, walaupun masih dalam usia produktif, banyak yang tidak/belum sekolah dan buta huruf latin. Tingkat pendidikan penduduk rata-rata dikelompokkan berdasarkan jenjang Sekolah Dasar (49%), SMP (17,3%), SMA (23%), dan lainnya sebesar 10,7%. Hal ini berpengaruh besar pada mata pencaharian penduduk. Tingkat pendidikan yang rendah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Desa Sukamulya dikategorikan sebagai desa tertinggal.

Badan Pusat Statistik mengelompokkan batas kerja yang dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Berdasarkan kualitasnya, dibedakan menjadi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terlatih, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Berdasarkan kriteria tersebut, mata pencaharian masyarakat di Desa Sukamulya dikelompokkan seperti pada tabel I.

Jumlah responden dengan penghasilan ≤ Rp500.000,- per bulan sebesar 27,9% dan antara Rp500.000, s.d. Rp1.000.000,- per bulan sebesar 38,5%. Jumlah penghasilan tersebut masih berada jauh di bawah upah minimum regional (UMR) Kabupaten Sukabumi, yaitu Rp1.201.020,- per bulan menurut Badan Pusat Statistik tahun 2013. Mengacu pada UMR Kabupaten Sukabumi, hanya sebesar 33,6% responden yang memiliki penghasilan sesuai dengan UMR.

Berdasarkan standar garis kemiskinan versi Bank Dunia dan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Sukabumi, masyarakat Desa Sukamulya masih berada dalam taraf hidup di bawah garis kemiskinan. Desa Sukamulya pun dikategorikan sebagai Desa Tertinggal berdasarkan Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal (2012) sehingga desa ini tepat mendapatkan bantuan untuk pengembangan desa, di antaranya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup.

TABEL I KUALITAS TENAGA KERJA MASYARAKAT DESA SUKAMULYA

No.JenisJumlah Responden (%)
1.tenaga kerja terdidik7,7%
2.tenaga kerja terlatih2,8%
3.tenaga kerja tidak terdidik dan
terlatih
72,2%
4.ibu
rumah
tangga
(bukan
angkatan kerja)
17,4%.

Program CSR PT Bio Farma di Desa Sukamulya

Sejak tahun 2010 PT Bio Farma mulai melaksanakan kegiatan CSR di Desa Suka-mulya. Adapun fokus CSR dari PT Bio Farma di antaranya program pemberdayaan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hidup. Implementasi CSR dilaksanakan PT Bio Farma di Desa Sukamulya dalam bentuk kegiatan Pemberdayaan Masyarakat (Community Development) dan filantropi, berupa Program Kemitraan Mizumi Koi Farm Sukabumi (MKFS), pembangunan prasarana pipanisasi dan penghijauan mata air, program pengobatan dan vaksinasi flu bio gratis, program pembangunan MCK (mandi, cuci, kakus), program pembangunan PAUD dan Posyandu Mawar, serta program pemberian bibit pohon pala (tabel III).

Analisis Proses Community Development

Community development adalah kegiatan pembangunan masyarakat yang dilakukan secara sistematis, berencana, dan diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat guna meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan sebelumnya (Budimanta, 2002). Untuk mengetahui efektivitas program CSR yang dilaksanakan PT Bio Farma di Desa Sukamulya perlu dilakukan analisis terhadap proses pelaksanaan program tersebut.

1. Pelaksanaan Program Kemitraan Mizumi Koi Sukabumi, program pembangunan

  • prasarana pipanisasi dan penghijauan mata air, dan pemberian bibit pohon pala sudah mengarah pada kegiatan community development. Hakikat community development adalah aktivitas sosial yang membantu masyarakat mengorganisasi dirinya untuk mampu mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang ada, mampu menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada dirinya, memilih alternatif kebijakan terbaik bagi dirinya, dan mengimplementasikan alternatif kebijakan tersebut pada sumber daya masyarakat itu sendiri (Sumardiyono, 2007). Program-program tersebut mencerminkan prinsip community development yang sesungguhnya karena community development adalah suatu kegiatan untuk membantu masyarakat miskin sumber daya, kaum perempuan, dan kelompok terabaikan lainnya agar mampu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri.
  • 2. Pembangunan fasilitas MCK, pembangunan PAUD dan posyandu, pengobatan dan vaksinasi Flu Bio gratis belum terlihat sebagai community development sehingga dapat dikelompokkan dalam kegiatan filantropi. Kegiatan filantropi merupakan kepedulian perusahaan dengan memberikan sumbangan langsung untuk kalangan masyarakat tertentu dalam bentuk pemberian uang tunai, bingkisan/paket bantuan, atau pelayanan secara cuma-cuma (Kotler, 2005).

TABEL II PROGRAM/KEGIATAN CSR PT BIO FARMA

No.Program CSRBentuk Kegiatan
FilantropiPemberdayaan
Masyarakat
1.Kemitraan Mizumi Koi Sukabumi (MKFS)
2.Pembangunan prasarana pipanisasi dan
penghijauan mata air
3.Pengobatan dan vaksinasi flu bio gratis
4.Pembangunan MCK (mandi, cuci, kakus)
5.Pembangunan PAUD dan Posyandu Mawar
6.Pemberian bibit pohon pala

3. Pembangunan PAUD, Posyandu, dan MCK didesain dan dibiayai oleh PT Bio Farma. Proses pembangunannya dilaksanakan oleh kontraktor swasta dari PT Bio Farma tanpa melibatkan masyarakat. Masyarakat Desa Sukamulya yang terlibat dalam proyek ini sebatas sebagai pekerja kasar. Pelaksanaan pembangunan program-program ini terlihat kurang partisipatif karena masyarakat tidak diajak dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, model pembangunan fasilitas-fasilitas ini bukanlah community development yang sesungguhnya, tetapi merupakan salah satu cara untuk memperbaiki reputasi dan meningkatkan keunggulan kompetitif yang biasa disebut corporate citizenship. Walaupun

belum bisa dikatakan bentuk community development yang sesungguhnya, salah satu tujuan community development untuk merealisasi keadilan distributif kepada masyarakat sudah bisa terpenuhi.

Evaluasi Implementasi CSR

Berdasarkan definisi, kriteria, dan standar internasional, peneliti berupaya mensintesis kerangka konseptual untuk mengevaluasi implementasi/kelayakan CSR dari suatu perusahaan. Kerangka tersebut tersusun atas prinsip-prinsip, yaitu ISO 26000: 2010, Global Report Initiative (GRI), dan definisi. Prinsip dan kriteria tersebut akan dikelompokkan untuk mengetahui relevansinya dari sudut pandang peneliti (subjective judgement) (tabel III).

TABEL III EVALUASI IMPLEMENTASI CSR BERDASARKAN KERANGKA KONSEPTUAL

PrinsipKriteriaEvaluasiProgram yang
Berkaitan
lingkunganISO 26000pencegahan polusitidak ada-
penggunaan sumber
daya yang
berkelanjutan
ada1.pipanisasi dan
penghijauan
mata air
mitigasi dan adaptasi
terhadap perubahan
iklim
tidak ada_
perlindungan dan
pemulihan lingkungan
ada1.pipanisasi dan
penghijauan
mata air
GRI
Biodiversitasuraian atas berbagai
dampak signifikan
yang diakibatkan oleh
aktivitas, produk, dan
jasa organisasi pelapor
terhadap
keanekaragaman hayati
di daerah yang
diproteksi (dilindungi)
dan di daerah yang
memiliki
keanekaragaman hayati
bernilai
tinggi di luar
daerah yang diproteksi
(dilindungi)
tidak ada_
PrinsipKriteriaEvaluasiProgram yang
Berkaitan
perlindungan dan
pemulihan habitat
ada1.pipanisasi dan
penghijauan
mata air
jumlah spesies
berdasarkan tingkat
risiko kepunahan yang
masuk dalam Daftar
Merah IUCN (IUCN
tidak ada_
Red List Species)
dan
yang masuk dalam
daftar konservasi
nasional dengan
habitat di daerah
daerah yang terkena
dampak operasi
PembangunanSosial
ISO 26000
dan
keterlibatan
di
masyarakat
Ekonomi
ada
Masyarakat
1.pipanisasi dan
penghijauan
mata air
2.pemberian
bibit pohon
pala
3.pengobatan
dan vaksinasi
flubio
4.program
kemitraan
Mizumi Koi
Farma
Sukabumi
5.pembangunan
PAUD dan
posyandu
6.pembangunan
fasilitas MCK
peningkatan kapasitasada1.program
kemitraan
Mizumi Koi
Sukabumi
2.Pembangunan
PAUD dan
posyandu
penciptaan
lapangan
kerja
ada1.program
kemitraan
Mizumi Koi
Sukabumi
2.pemberian
bibit pohon
pala
pengembangan
teknologi
ada1.program
kemitraan
Mizumi Koi
Sukabumi
kekayaan dan
pendapatan
ada1.program
kemitraan
Mizumi Koi
Sukabumi
2.pemberian
bibit pohon
pala
investasi yang
bertanggung jawab
ada1.program
kemitraan
Mizumi Koi
Sukabumi
pendidikan
dan
kebudayaan
ada1.pembangunan
PAUD dan
posyandu
kesehatanada1.pengobatan
dan vaksinasi
flubio
2.pembangunan
fasilitas MCK
Core BusinessPorter, 2007pelaksanaan CSR
melalui berbagai
bentuk kegiatan yang
cocok dengan strategi
dan core business
dari
perusahaan sehingga
jenis dan prioritas para
pemangku
kepentingan relatif
berbeda antara satu
perusahaan dengan
perusahaan lainnya.
tidak ada_
Wineberg dan
Rudolph
dalam
Reksodiputro,
2004
Kontribusi perusahaan
terhadap masyarakat
melalui kegiatan yang
sesuai dengan core
business, investasi
sosial dan kegiatan
filantropi, serta
keterlibatannya dalam
kebijakan publik
ada1.pembangunan
PAUD dan
posyandu
2.pengobatan
gratis dan
vaksinasi flu
bio
3.pembangunan
MCK

Berdasarkan tabel III dari 17 kriteria implementasi CSR yang ideal, sebanyak 12 kriteria telah dipenuhi oleh PT Bio Farma dengan hasil memuaskan. Pelaksanaan CSR tersebut telah mengikuti peraturan pemerintah khususnya untuk perusahaan BUMN dan standar internasional ISO 26000 sebagai Guidance Social Responsibility dan Global Reporting Initiative (GRI). Implementasi CSR PT Bio Farma ini juga mendapat pencapaian proper peringkat emas berdasarkan penilaian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk sektor manufaktur, prasarana, dan jasa. Akan tetapi, terdapat permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus dari perusahaan maupun pemerintah, yaitu program yang dilaksanakan kurang berkaitan dengan core bisnis. Namun demikian, program yang telah dilaksanakan tidak melanggar aturan, tetap bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Perusahaan tentu memanfaatkan sumber daya alam untuk setiap produk yang dihasilkannya. Selain itu, segala aktivitas perusahaan memiliki dampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat di sekitar/tempat perusahaan berada. Pelaksanaan CSR seharusnya memiliki kontribusi untuk mengembalikan segala sesuatu yang telah dipergunakan oleh perusahaan ke tempat semula. Melalui CSR, perusahaan berkontribusi terhadap komunitas yang terkena dampak secara langsung maupun tidak langsung dari aktivitas perusahaan dalam bentuk kegiatan yang sesuai dengan core bisnisnya.

Karena core bisnis PT Biofarma bergerak di bidang farmasi, aspek biodiversitas sangat tepat untuk dijadikan fokus program CSR selanjutnya. Hal ini menjadi tantangan bagi perusahaan untuk berperan menjaga biodiversitas di Indonesia. Berdasarkan beberapa kriteria yang tidak terpenuhi, analisis ini memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dilaksanakan.

1. Mengalokasikan dana CSR untuk membantu mengembangkan dan melestarikan plasma nutfah. Salah satu perlindungan flora dan fauna dari kepunahan dilakukanlah pelestarian plasma

nutfah. Pelestarian plasma nutfah yang ada di wilayah Jawa Barat tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian. Adapun peraturan menteri tentang plasma nutfah untuk fauna Jawa Barat di antaranya:

  • 1. Kepmen Pertanian Republik Indonesia No.2914/Kpts/OT.140/6/ Tentang Penetapan Rumpun Domba Garut
  • 2. Kepmen Pertanian Republik Indonesia No.2918/Kpts/Ot.140/6/2011 Tentang Penetapan Rumpun Ayam Pelung
  • 3. Kepmen Pertanian Republik Indonesia No.698/Kpts/Pd.410/2/2013 Tentang Penetapan Rumpun Ayam Sentul
  • 4. Kepmen Pertanian Republik Indonesia No.425/Kpts/Sr.120/3/2014 Tentang Penetapan Rumpun Itik Cihateup
  • 2. Salah satu produk PT Bio Farma sebagai perusahaan farmasi adalah vaksin polio yang berasal dari ginjal monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah salah satu satwa primata yang diketahui dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk obat-obatan dan pendidikan/penelitian. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) saat ini marak dijadikan sebagai topeng monyet. Mereka ditangkap dari alam liar maupun dikurung/dirantai/dipelihara di lingkungan permukiman.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan Macaca fascicularis sebagai bahan baku vaksin polio dapat dikatakan dalam batas aman karena berasal dari penangkaran secara legal. Perdagangan monyet ekor panjang diatur dalam kuota yang dibuat oleh pemerintah dan LIPI. Hal tersebut didasarkan pada status perlindungan satwa menurut perun-dangan dan CITES (Convention of International Trade Endangered Flora and Fauna). Menurut PP No.7 Tahun 1999 Macaca fascicularis merupakan jenis satwa yang tidak dilindungi karena populasinya cukup tinggi. Namun, tidak menutup kemungkinan di beberapa

dae-rah satwa ini sudah mulai berkurang. Berdasarkan pemaparan di atas, program yang bisa dilaksanakan oleh PT Bio Farma adalah membantu perlindungan dan pelestarian monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari eksploitasi khususnya di daerah Jawa Barat dan Banten. Program bantuan CSR dari PT Bio Farma bisa disalurkan untuk mendi-rikan pusat penyelamatan dan rehabilitasi monyet ekor panjang (Macaca fascicu-laris) bekerja sama dengan Departemen Kehutanan RI, Conservation Inter-national Indonesia, dan pihak lainnya.

Fokus kegiatannya adalah merawat/memelihara monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari hasil sitaan dan penyerahan sukarela masyarakat. Tujuan lembaga ini adalah merehabilitasi monyet ekor panjang bekas peliharaan, mengembalikan kondisi fisik, kesehatan, dan perilaku pada masa rehabilitasi, serta melepasliarkan kembali pasangan mo-nyet ekor panjang yang telah siap ke kawasan hutan yang sesuai berdasarkan prinsipprinsip konservasi.

3. Perencanaan program CSR mengarah pada pemberdayaan masyarakat. Memberdayakan masyarakat berarti melakukan investasi untuk masyarakat, khususnya masyarakat miskin, termasuk organisasi mereka, sehingga aset dan kemampuan mereka bertambah, baik perorangan maupun kelompok. Sasaran program ini adalah masyarakat sekitar kawasan konservasi yang masih terpinggirkan dari segi ekonomi dan sosial. Tujuan pemberdayaan masyarakat desa terpencil atau di sekitar konservasi adalah meningkatkan kesejahteraannya sehingga mereka dapat menikmati hidup sebagaimana yang dinikmati oleh masyarakat pada umumnya, seperti dapat mengakses informasi, mendapatkan air bersih dan listrik, serta memiliki tempat tinggal yang layak.

Selanjutnya, penelitian ini difokuskan pada analisis posisi strategis beberapa program CSR PT Biofarma yang memenuhi kriteria kerangka konseptual sebagai dasar perumusan strategi pengembangan.

Analisis SWOT

Analisis Implementasi Program di Desa Sukamulya

Berdasarkan hasil analisis implementasi program CSR PT Bio Farma di Desa Sukamulya, berikut adalah faktor-faktor yang akan dipergunakan untuk menentukan strategi melalui analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Faktorfaktor tersebut adalah

  • 1. lahan pertanian luas
  • 2. mata air untuk perikanan dan pertanian memadai
  • 3. tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan tinggi
  • 4. tingkat pendidikan masyarakat rendah
  • 5. tingkat kemandirian dalam keberlangsungan program tinggi
  • 6. daya serap tenaga kerja Mizumi koi kecil
  • 7. tingkat partisipasi dalam perencanaan rendah
  • 8. tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan tinggi
  • 9. alokasi dana CSR PKBL tersedia setiap tahun
  • 10. perilaku hidup masyarakat kurang bersih dan sehat
  • 11. pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana masih rendah
  • 12. market size untuk koi di pasar lokal dan mancanegara besar
  • 13. laju pertambahan penduduk cukup tinggi
  • 14. perubahan lahan menjadi kawasan industri
  • 15. masuknya pesaing swasta untuk Mizumi koi
  • 16. struktur geologi dan curah hujan tinggi menyebabkan sangat rentan bencana alam.

Matriks SWOT

Berdasarkan 16 faktor yang telah ditelaah, setiap faktor yang muncul dikelompokkan ke dalam dua faktor, yaitu eksternal dan internal. Faktor-faktor tersebut dibuat menjadi matriks SWOT; Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat. Adapun matriks yang telah dianalisis terdapat pada tabel IV.

Evaluasi Faktor Ekternal dan Internal

Berdasarkan analisis yang telah dibuat di dalam matriks SWOT, tiap faktor dievaluasi dengan pembobotan x rating. Dengan demikian, dihasilkan skor pembobotan. Hasil evaluasi faktor eksternal dan internal terdapat pada tabel V. Berdasarkan pembobotan antarevaluasi faktor eksternal dan internal dihasilkan skor total. Jika dilihat dari diagram kuadran (David, 2009) skor tersebut berada di kuadran I.

3

Gambar 1 Grand Strategy Matrix (David, 2009)

TABEL IV MATRIKS ANALISIS SWOT

INTERNAL FAKTOR Strength (kekuatan) 1. Alokasi sumber dana untuk CSR PKBL tersedia setiap tahun.

  • 2. Lahan pertanian luas.
  • 3. Mata air untuk perikanan dan pertanian memadai.
  • 4. Tingkat kemandirian masyarakat dalam kelangsungan program tinggi.
  • 5. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan tinggi.

Weakness (Kelemahan)

  • 1. Tingkat pendidikan masyarakat rendah.
  • 2. Perilaku masyarakat dalam hidup bersih dan sehat rendah.
  • 3. Daya serap tenaga kerja Mizumi koi kecil.
  • 4. Tingkat partisipasi dalam perencanaan rendah.
  • 5. Pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana rendah.

EKSTERNAL FAKTOR

Opportunity (Peluang)

  • 1. Market size koi di pasar lokal dan mancanegara besar.
  • 2. Laju pertambahan penduduk cukup tinggi.

Strategi SO

  • 1. Mengembangkan pertanian terpadu yang terintegrasi dengan budidaya ikan koi
  • 2. Meningkatkan. produktivitas budidaya ikan koi agar dapat dipasarkan lebih luas di dalam dan luar negeri.
  • 3. Membuka lapangan kerja yang baru berdasarkan potensi desa di bidang

Strategi WO

  • 1. Meningkatkan pendidikan masyarakat dengan cara memberikan pelatihan keterampilan dan pendampingan yang berkaitan dengan pertanian dan perikanan.
  • 2. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dengan mengadakan
pertanian dan
perikanan.
penyuluhan dan
pembangunan sarana
prasarana yang
berkaitan dengan
kesehatan dan
lingkungan.
Threats
(Ancaman)
Strategi STStrategi WT
1.
Perubahan lahan
menjadi kawasan
industri.
2.
Masuknya pesaing
swasta untuk mizumi
1.
Membuka lahan
pertanian dan
perikanan baru dengan
kepemilikan
masyarakat.
1.
Pembangunan sistem
jaringan infrastruktur
pedesaan seperti
jembatan dan jalan
desa.
koi.
3.
Struktur geologi dan
curah hujan tinggi
menyebabkan sangat
rentan bencana alam.
2.
Memperkuat posisi
kelompok tani Mizumi
Koi dengan tambahan
akses permodalan.
2.
Koordinasi dalam
penyusunan dan
pelaksanaan CSR
bersama BUMN dan
instansi lain yang
terkait.

TABEL V EVALUASI ANALISIS INTERNAL SWOT

Faktor-faktor strategi internalBobotRatingBobot x Rating
Kekuatan
1.
alokasi sumber dana untuk csr pkbl tersedia
0,1540,60
setiap tahunnya
2.
lahan pertanian luas
0,1540,60
3.
mata air untuk perikanan memadai
0,0520,10
4.
tingkat kemandirian dalam keberlangsungan
0,1030,30
program tinggi
5.
tingkat partisipasi dalam pelaksanaan tinggi
0,1040,40
Total Kekuatan2,00
Kelemahan
1.
tingkat pendidikan masyarakat rendah
0,1040,40
2.
rendahnya perilaku masyarakat dalam hidup
0,1030,30
bersih dan sehat
3.
daya serap tenaga kerja mizumi koi kecil
0,1020,20
4.
tingkat partisipasi dalam perencanaan
0,0530,15
rendah0,1020,20
5.
kualitas pembangunan infrastruktur masih
rendah
Total Kelemahan1,25
TOTAL3,25

TABEL VI EVALUASI ANALISIS EKSTERNAL SWOT

Faktor-faktor strategi internalBobotRatingBobot x Rating
Peluang
1.
market size
di pasar lokal dan mancanegara
0,2020,40
besar untuk koi
2.
laju pertambahan penduduk cukup tinggi
0,2030,60
Faktor-faktor strategi internalBobotRatingBobot x Rating
Total Peluang1,00
Ancaman
-
Perubahan lahan menjadi kawasan industri
0,2020,40
-
Masuknya pesaing swasta untuk Mizumi Koi
0,2020,40
-
Struktur geologi dan curah hujan tinggi
menyebabkan sangat rentan bencana alam
0,2020,40
Total Ancaman1,20
TOTAL2,20

Pada gambar 1 terlihat bahwa perusahaan berada pada posisi kuadran I yang berarti perusahaan mampu mengambil keuntungan dari peluang-peluang eksternal yang ada sehingga perusahaan akan bersaing meng-gunakan strategi-strategi bisnis yang agresif. Menurut David (2009), perusahaan yang berada di Kuadran I dalam Matriks Grand Strategy berada pada posisi yang sangat bagus. Jika perusahaan berkonsentrasi pada pasar saat ini, penetrasi pasar dan pengembangan pasar adalah pilihan yang sesuai. Jika perusahaan berkonsentrasi pada produk yang dimiliki, pengembangan produk adalah strategi yang sesuai. Karena perusahaan berada di kuadran I, implementasi CSR di Desa Sukamulya dapat memaksimalkan strategi antara strength dan opportunity (SO). Strategi tersebut dapat diterapkan dalam kondisi berikut.

  • 1. Mengembangkan pertanian terpadu yang terintegrasi dengan budidaya ikan koi.
  • 2. Meningkatkan produktivitas budidaya ikan koi agar dapat dipasarkan lebih luas di dalam dan luar negeri.

SIMPULAN

Berdasarkan sintesis kerangka konseptual, dari 17 kriteria yang dikelompokkan ke dalam prinsip lingkungan, pembangunan sosial, ekonomi masyarakat, dan core business, sebanyak 12 kriteria telah dipenuhi dalam implementasi CSR PT Bio Farma di Desa Sukamulya dengan hasil yang memuaskan.

Analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi strategis CSR PT Bio Farma di Desa Sukamulya adalah agressive. Berdasarkan hasil tersebut, usulan strategi pengembangan yang dapat diterapkan sebagai berikut.

  • a. Mengembangkan pertanian terpadu yang terintegerasi dengan budidaya ikan koi.
  • b. Membuka lapangan kerja yang baru berdasarkan potensi desa di bidang pertanian dan perikanan.
  • c. Meningkatkan produktivitas budidaya ikan koi agar dapat dipasarkan lebih luas di dalam dan luar negeri.

SARAN

  • 1. Pengembangan kegiatan CSR diharapkan terintegrasi sesuai dengan keadaan lapangan dan kondisi masyarakat.
  • 2. Kerangka konseptual bisa dikembangkan lebih lanjut untuk bentuk-bentuk CSR yang serupa menggunakan pendekatan kuantitatif.
  • 3. Rekomendasi untuk perusahaan farmasi dan jenis lainnya agar implementasi CSR disesuaikan dengan core business.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
7th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20221

Semantic Profile AI-classified research signals

Business 0.52
level 0
level 1

Institution Network

References

  1. Anonim. https://www.globalreporting.org/resourcelibrary/BahasaIndonesiaG3 Reporting Guidelines.pdf. Tersedia online 20 Mei 2013.
  2. Anonim. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/static/categories_criteria_3_1. Tersedia online 18 Desember 2014.
  3. Bio Farma. (2012) : Corporate Annual Report, Bandung.
  4. Bio Farma. (2013) : Corporate Annual Report, Bandung.
  5. BKKBN. (2000) : http://aplikasi.bkkbn.go.id/mdk/BatasanMDK.aspx. Tersedia online 22 Januari 2015.
  6. Budimanta, A., Prasetijo, A., Rudito, B. (2004) : Corporate Social Responsibility Jawaban Bagi Model Pembangunan Indonesia Masa Kini, Indonesia Center for Sustainable Development, Jakarta.
  7. David, F. (2009) : Manajemen Strategis Konsep, Salemba Empat, Jakarta.
  8. Hadi, N. (2011) : Corporate Social Responsibility, Graha Ilmu, Yogyakarta.
  9. Harahap, S. (2001) : Menuju Perumusan Akuntansi Islam, Pustaka Quantum, Jakarta.
  10. ISO. (2007) : Guidance on Social Responsibility (ISO 26000:2010). International Organisation for Standardization.
  11. Nursaid, F. (2008) : CSR Bidang Kesehatan dan Pendidikan Mengembangkan Sumber Daya Manusia, Indonesia Business Link, Jakarta.
  12. Kadin (2009) : http://kadin-indonesia.or,id/enm/images/dokumen/KADIN-167-3770-15042009.pdf. Tersedia online : 10 Februari 2015
  13. Keputusan Menteri BUMN. (2013) : No. Kep-236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan.
  14. Kotler, P. dan Lee, N. (2005) : Corporate Social Responsibility : Doing The Most Good For Your Company And Your Cause, Jhon Wiley & Son, New Jersey.
  15. Porter, M. dan Kramer, M (2007) : "Strategy and Society: The Link Between Competitive Advantage and Corporate Social Responsibility" . Harvard Business Review Collection.
  16. Rahmatullah dan Trianita, K. (2011) : Panduan Praktis Pengelolaan CSR, Samudra Biru, Yogyakarta.
  17. Rangkuti, F. (2009) : Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit Gramedia, Jakarta.
  18. Reksodiputro, M. (2004) : Makalah Lokakarya Nasional Departemen Luar Negeri RI, dengan tema "Peran sektor usaha dalam pemenuhan, pemajuan, dan perlindungan HAM di Indonesia" . Jakarta: Hotel Borobudur.
  19. Sugiyono. (2008) : Metode Penelitian Bisnis. Cetakan keduabelas 2008. Penerbit Alfabeta, Bandung.
  20. Sumardiyono, E. (2007) : Evaluasi Pelaksanaan Community Development dalam Perolehan Proper Hijau (Studi Kasus di PT. Pupuk Kaltim Bontang), Tesis Program Magister, Universitas Diponegoro.
  21. The World Bank Institute. 2004. Corporate Social Responsibility and Sustainable
  22. Competitiveness. Module-1. CSR Main Concepts.
  23. Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.