1. Home
  2. Archives
  3. Vol 15 (2016) Issue 1
  4. Articles

Pengembangan Potensi Lokal di Desa Panawangan sebagai Model Desa Vokasi dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional

Abstract

Desa Vokasi merupakan desa yang dijadikan model pengembangan potensi lokal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Potensi lokal pedesaan merupakan komoditas yang patut dikembangkan karena berperan penting dalam mengangkat taraf hidup bangsa pada umumnya dan masyarakat desa pada khususnya. Potensi lokal yang dikembangkan di Desa Panawangan berupa perikanan, peternakan, dan pertanian. Ketiga bidang tersebut dikembangkan dengan menerapkan bioteknologi sederhana. Budidaya ikan bawal menjadi pilihan utama untuk dikembangkan. Budidaya ikan bawal organik dengan sentuhan bioteknologi merupakan hasil penelitian di SITH. Kegiatan ini meliputi persiapan induk, larvikultur dengan sistem resirkulasi, growing, penyiapan pakan fermentasi organik, dan pemanfaatan ikan yang dihasilkan. Luas seluruh kolam ikan yang digunakan mencapai 9.433,32 m2, dimiliki oleh 30 orang petani. Pelatihan dan pendampingan diberikan oleh dosen dan 22 orang mahasiswa selama dua tahun berturut-turut. Produk yang dihasilkan dipasarkan dengan strategi bisnis dan pengemasan yang menarik, bekerja sama dengan Agato (pemasok sayuran organik). Pengembangan potensi tersebut merupakan bukti pengabdian SITH-ITB yang melakukan transfer teknologi kepada masyarakat Desa Panawangan. Dari 7 dusun yang diberikan pelatihan, saat ini telah berkembang dan diterapkan di 8 desa dan 3 kabupaten di luar Panawangan; yakni Desa Babantar, Desa Kawali Mukti, Desa Rajadesa, Desa Ciendut, Desa Nagara Pageuh, Desa Nagara Jaya, Desa Lumbung Girang, dan Desa Mulya Sari. Kabupaten yang menerapkan sistem tersebut adalah Garut, Kadipaten, dan Tasikmalaya.Kata kunci: Desa Vokasi, Potensi Lokal, Desa Panawangan, Ketahanan Pangan AbstractVocational village program is a model of local resources development for increasing wealthy in remote area. Local potential commodity is important to be developed because of its role in rising wealth. Fishery, ranch, and agriculture are the local potential commodity developed in Panawangan Village. Those commodities are developed using simple biotechnology principle. White Organic Pomfret fishery in freshwater using simple biotechnology ptinciple is the main activity in this programme as the result of research in SITH. The fishery activity includes parent preparation, larviculture with resirculation system, growing, organic fermented feed, and developing fishery product. Fishery pond with 9,433.32 m2 in wide and 30 farmers are utilized in this activity. Training and support system are provided by our team for two years. The products are packed, sold to market by using market and management strategy, in collaboration with Agato (organic vegetable supplier). Those development are the form of empowerment program by SITH ITB. Nowadays, there are 8 villages and 3 residences outside Panwangan and Ciamis apply the system. They are Babantar village, Kawali Mukti village, Rajadesa village, Ciendut village, Nagara Pageuh village, Nagara Jaya village, Lumbung Girang village, and Mulya Sari village. The residences are Garut, Kadipaten, dan Tasikmalaya.Keywords: vocational village, local potency, Panawangan Village, Food Security

Keywords

PENDAHULUAN

Potensi lokal adalah kekayaan alam, budaya, dan SDM pada suatu daerah. Potensi alam di suatu daerah bergantung pada kondisi geografis, iklim, dan bentang alam daerah tersebut. Kondisi alam yang berbeda tersebut menyebabkan perbedaan dan ciri khas potensi lokal setiap wilayah. Kekhasan bentang alam, perilaku dan budaya

masyarakat setempat, dan kesejahteraan masyarakat membentuk segitiga interaksi yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pembangunan dan pengembangan potensi lokal suatu daerah harus memperhatikan ketiga unsur tersebut.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri atas berbagai jenis suku, budaya, dan bentang alam memiliki potensi lokal yang sangat kaya.

Potensi tersebut meliputi keragaman budaya dan hasil bumi. Hasil bumi yang terdapat pada suatu daerah kurang dikembangkan dengan baik dan belum bernilai tambah. Kondisi tersebut kurang diperhatikan sebagai aspek pembangunan dan penyejahteraan rakyat sehingga banyak wilayah tertinggal yang semakin terpuruk dan ingin melepaskan diri dari NKRI (Dirjen Potensi SDA-Dirjen Potensi Pertahanan, 2011).

Desa vokasi merupakan program yang bertujuan mengembangkan potensi lokal suatu daerah, terutama desa, dengan memanfaatkan kekayaan alam dan potensi budaya di desa tersebut (Santoso, 2011). Pengembangan potensi lokal tersebut dilakukan dengan penerapan teknologi sederhana yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat, namun tetap dapat meningkatkan nilai guna potensi tersebut. Teknologi sederhana yang dilatihkan dan diterapkan adalah persiapan larvikultur ikan dengan sistem resirkulasi, pembuatan dan penggunaan pakan organik fermentasi, dan pengolahan produk ikan dengan cara fermentasi.

Salah satu wilayah yang memiliki potensi lokal yang patut dikembangkan adalah Desa Panawangan, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Pengembangan Desa Panawangan sebagai desa vokasi merupakan langkah tepat yang dapat mendayagunakan potensi lokal desa dengan optimal.

Daerah Ciamis memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, baik dari segi pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, peternakan, bahkan pariwisata serta peluang di sektor jasa dan industri sangatlah besar. Akan tetapi, sumber daya alam tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Ciamis. Hal ini terlihat dari tabel penggunaan lahan di Kabupaten Ciamis tahun 2007. Masih sedikit persentase penggunaan lahan yang diolah oleh masyarakat setempat. Lahanlahan tersebut jika diolah dengan baik akan membantu perekonomian daerah Ciamis menjadi lebih baik (tabel I).

TABEL I PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN CIAMIS PADA TAHUN 2007

Penggunaan LahanPersentase
Sawah51.688 Ha (21,14 %)
Pekarangan29.926 Ha (12,24 %)
Tegal/Kebun/Ladang/Huma76.676 Ha (31,36 %)
Penggembalaan Padang Rumput1.777 Ha (0,73 %)
Hutan56.141 Ha (22,97 %)
Perkebunan Negara/Swasta16.188 Ha (6,62 %)
Tambak43 Ha (0,02 %)
Kolam2.716 Ha (1,11 %)
Lain-lain9.324 Ha (3,81 %)

Sumber: http://www.ciamiskab.go.id

Potensi produk pertanian dari daerah Ciamis sendiri sangat melimpah dengan dua komoditas utama berupa kelapa dan jagung. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian tahun 2007, diketahui bahwa produksi kelapa di daerah Ciamis mencapai 70 ribu ton lebih. Jumlah ini lebih dari cukup untuk pengembangan pengolahan kelapa lebih lanjut. Tanaman jagung merupakan jenis palawija yang banyak ditanam setelah padi dengan produktivitas tanam sekitar 2,2 ton setiap hektarnya (tabel II).

Saat ini, di Desa Panawangan, Lumbung Sari, Kawali Mukti, dan sekitarnya sedang dikembangkan pertanian organik yang hasilnya dimanfaatkan untuk penyediaan pakan organik bagi sektor peternakan terutama unggas dan perikanan untuk ikan. Khusus bagi Desa Panawangan, hasildari pertanian organik diserap untuk perikanan, yaitu untuk penyediaan pakan dalam budidaya ikan bawal air tawar yang dikembangkan dengan memanfaatkan bahan alam (jagung, kelapa, singkong, ubi, dan rempah-rempah). Berdasarkan data yang telah dikumpulkan oleh tim SITH, Desa Panawangan memiliki luas kolam lebih dari 9.433,32 m2 yang dimiliki oleh 30 orang petani. Kondisi tersebut merupakan potensi yang patut dimanfaatkan secara maksimal untuk budidaya perikanan organik.

Jumlah penduduk Kabupaten Ciamis pada Tahun 2008 tercatat 1.542.003 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 619 jiwa/km. Jumlah pengangguran di Ciamis mengalami peningkatan dari 72.060 pada tahun 2004 menjadi 95.750 pada tahun 2008. Data statistik tahun 2009 dari Departemen Perikanan menunjukkan bahwa Kabupaten Ciamis menghasilkan produksi ikan yang tidak terlalu besar (gambar 1).

Pencapaian indikator makro merupakan salah satu keberhasilan

TABEL II PERKEMBANGAN PRODUKSI KOMODITI UNGGULAN (TON) TAHUN 2004 – 2007

TAHUN
NOKOMODITI2004200520062007
1Padi sawah595.239609.598582.785601.438
2Keledai4.4164.3173.503,61.160
3Cabe merah2.157,12.9372.820,31.309,2
4Kelapa74.265,174.67770.056,664.324,9
5Kakao1.881,4690680,4590
6Telur3.8123.8596.352,96.775,4
7Daging144.118138.019,261.69592.831,7
8Ikan air tawar10.227,210.056,910.189,310.491,4

Sumber: http://www.ciamiskab.go.id

3

Gambar 1 Data statistik produksi perikanan kabupaten/kota Jawa Barat tahun 2009 Sumber : http://www.ciamiskab.go.id

pembangunan. Selama tiga tahun terakhir hampir semua indikator mengalami peningkatan yang cukup besar, kecuali Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2006. LPE pada tahun tersebut mengalami penurunan yang disebabkan turunnya produktivitas pertanian sebagai akibat dari kemarau tahun 2006. Perkembangan capaian indikator makro untuk daerah Kabupaten Ciamis dari tahun 2004-2007 tercantum pada tabel III. Proyeksi pencapaian indikator makro Kabupaten Ciamis tahun 2008 dan 2009 tercantum pada tabel IV.

Program ini dapat mewujudkan pemberdayaan masya-rakat yang menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, meningkatkan produksi ikan bawal di wilayah Ciamis, meningkatkan penghasilan, membuka lapangan kerja baru, atau membuka usaha sendiri dengan mengolah hasil alamnya lebih lanjut dan menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran.

METODE

Secara umum, penelitian ini dilaksanakan berkat kerja sama antara

SITH ITB, FSRD ITB, SBM ITB, dan stakeholder. SITH ITB berperan dalam menerapkan sistem produksi secara organik, FSRD ITB berperan mengaplikasikan pengemasan produk olahan yang menarik, SBM ITB berperan memberikan pelatihan mengenai pemasaran produk, dan stakeholder berperan memberikan dana operasional.

Pelaksanaan penelitian program desa vokasi ini terdiri atas tiga langkah utama, yakni, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan berupa survei perangkat desa, kondisi geografi, demografi, potensi lokal, dan biaya yang dibutuhkan. Tahap pelaksanaan meliputi pemberian materi dan praktik tentang bioteknologi terapan, pemasaran, dan pengemasan, aplikasi sistem resirkulasi pada perikanan, dan penerapan produksi sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang ditetapkan.

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu melalui pelatihan dan pendampingan. Sumber penelitian yang dijadikan kajian adalah 30 orang yang dibagi menjadi 5 kelompok. Setelah pelatihan, setiap kelompok diberikan tugas untuk mengembangkan salah satu

bagian dari keseluruhan proses.

  • a. K e l o m p o k y a n g m e n g u a s a i penyediaan benih
  • b. Kelompok larvikultur
  • c. Kelompok growing
  • d. Kelompok yang menyediakan pakan
  • e. Kelompok pembuatan VCO (sebagai produk samping dari pembuatan pakan ikan)

Peserta akan diberikan pembekalan berupa teori dan lebih ditekankan pada praktik pembuatan produk-produk tersebut. Selain itu, diberikan SOP sebagai panduan masyarakat dalam melakukan kegiatan. Pendampingan dilakukan selama masa monitoring sampai peserta dapat menerapkan materi pelatihan yang sudah

didapatkan dan dapat memproduksi secara mandiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan masyarakat agar tetap sesuai dengan standar pasar yang diinginkan.

Setelah menguasai materi, kelima kelompok diberikan modal dan tanggung jawab untuk mengembangkan budi daya bawal sesuai dengan keahlian kelompok masing-masing. Perencanaan keuangan yang meliputi perkiraan biaya dan keuntungan disusun bersama tim dosen dari SBM-ITB yang mencakup rencana penjualan dan prediksi harga jual.

TABEL III PERKEMBANGAN CAPAIAN INDIKATOR MAKRO KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2004-2007

TAHUN
INDIKATOR MAKRO2004200520062007
IPM70,8970,9371,0571,12
LPP (%)0,400,330,220,71
PDRB/Kapita ADH Berlaku *(Rp.)4.972.4946.051.3256.846.8907.429.015
LPE4,034,483,845,22
AMH (%) * 15 Tahun +95,6796,196,2196,57
AHH * (Tahun)65,8566,3866,4766,69
RLS * 15 Tahun +6,596,76,756,78
Daya beli * (Rp.)646.320640.676640.792638.767
Penduduk miskin * (%)14,7223,5623,563,57
Jumlah pengangguran (%)3,983,8510,21

Sumber : http://www.ciamiskab.go.id

TABEL IV PERKEMBANGAN CAPAIAN INDIKATOR MAKRO KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2009-2009

TAHUN
INDIKATOR MAKRO20082009
LPE5,435,74
PDRB Adh. Konstan (Rp. Juta)2.658.015,122.752.814,02
PDRB perkapita (Rp.)7.257.7778.056.132
IPM74,1374,86
RLS (Tahun)7,007,20
AMH (%)96,6096,75
AHH (I ahun)68,8469,36
Daya beli (Konsumsi)660.500663.500

Sumber : http://www.ciamiskab.go.id

HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Teknologi

Pembinaan desa vokasi dibekali beberapa metode bioteknologi terapan yang dapat meningkatkan nilai tambah produk sumber daya alam yang mereka hasilkan melalui proses-proses yang cukup ramah lingkungan serta dapat memanfaatkan sisa hasil produksinya. Selain itu, terdapat paket pelatihan lingkungan hidup. Pelatihan juga dapat disesuaikan dengan menggunakan produk sumber daya alam lokal yang terdapat di lingkungan sekitar mereka sehingga mereka dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk mendatangkan sumber daya dari daerah lain. Selepas pelatihan, para petani diharapkan dapat menjalankan suatu usaha yang berkelanjutan dan berwawasan l i n g k u n g a n . M e l a l u i p e l a t i h a n bioteknologi terapan, masyarakat dapat menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah sehingga dapat

meningkatkan GNP yang merupakan bagian dari program pengurangan kemiskinan.

Hasil pengembangan potensi lokal desa vokasi dengan bioteknologi sederhana terdiri atas teknik pemijahan, larvikultur, pemantauan fase growing, budidaya pakan alami, dan pembuatan pakan fermentasi (gambar 2). Semua kegiatan dilakukan oleh peserta pelatihan dengan pendampingan oleh mahasiswa yang mengunjungi Desa Panawangan secara rutin.

Tabel V menjelaskan produk yang dihasilkan oleh petani selama menjalankan sistem ini. Pakan alami yang digunakan adalah alga dan galendo dari kelapa. VCO dihasilkan dari santan kelapa. Ampas yang dihasilkan digunakan sebagai pakan ikan (galendo). Ikan bawal yang dihasilkan dari implementasi sistem ini telah dapat dijual hingga Rp16.000,00 untuk benih per Juli 2011.

Masalah yang tercatat selama pelatihan budi daya bawal adalah kematian bawal akibat mikroba patogen dan kondisi lingkungan yang tidak terkontrol. Sementara itu, kendala pada pembuatan pakan fermentasi, pemijahan, dan budidaya ikan bawal, terutama terjadi karena petani tidak

mengikuti SOP yang telah ditetapkan sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Masalah tersebut diselesaikan dengan pendampingan oleh mahasiswa yang menuntun petani agar bekerja sesuai dengan SOP.

4

Gambar 2 Implementasi pengembangan potensi lokal Desa Panawangan

TABEL V HASIL PENGEMBANGAN POTENSI LOKAL DESA PANAWANGAN

ProdukAlga (pakan alami)Pakan fermentasi
(galendo VCO)
Produksi Ikan
bawal
vco
Bahan
baku
Alga dari kolam ikanDaun singkong, talas,
ubi jalar, pepaya, dan
bandotan ditambah
kultur mikroba aktif
Per seekor indukan
jantan dan betina
yang siap memijah
Air kelapa,
santan, gula pasir,
bibit VCO
ProsesPengkulturan per 10
liter alga dengan aerasi
dibawah sinar matahari
dalam kontainer plastik
Pencucian, pemotongan, penimbangan, fermentasi, pengeringan, penggilingan, pencetakan.Pemijahan,
larvikultur, growing
penambahan bibit
VCO aktif ke
santan kental
Hasil
akhir
kultur alga (Chlorella sp)tepung pakan16.000 ekor benih
dengan harga jual
Rp 1000 /ekor (Juli
2011)
Minyak VCO
30% dari volume
santan kental
EvaluasiMemperhatikan kondisi
pertumbuhan Chlorella
sp
Sanitasi harus
diperhatikan
Kondisi
kematangan gonad
harus diperhatikan,
mikroba patogen
dikontrol.
Jumlah santan
yang tidak stabil
karena diperas
dengan tangan

Gambar 3 Skema wilayah yang mengaplikasikan model desa vokasi (modifikasi dari http://gambar-peta.blogspot.com/2010/03/ gambar-peta-jawa-barat-jabar-west-java.html)

TABEL VI REKAPITULASI KEMAJUAN PROGRAM DESA

Tahun20092011
Peserta
(wilayah)
8 dusun Desa Panawangan3 kabupaten (Garut, Tasikmalaya, dan
Majalengka)
8 desa (Babantar, Kawali Mukti,
Rajadesa, Ciendut, Nagara Pageuh,
Nagara Jaya, Lumbung Girang, dan
Mulya Sari)
Kegiatan
  • Budi daya ikan bawal organik
  • Produksi VCO dan pakan organik
  • Pemijahan ikan bawal
  • Penjualan hasil budi daya ikan bawal organik
  • Jasa konsultasi budi daya ikan
  • Jasa pemijahan
  • Pembuatan pakan
  • Pencegahan penyakit
  • Pembuatan kompos dan pupuk cair
Modal dan
keuntungan
Modal untuk biaya langsung dan
tidak langsung, operasional, dan
pembelanjaan produksi Rp
35.453.489,00 per kelompok
Keuntungan yang diperoleh langsung
dialokasikan untuk kebutuhan
operasional dan sarana prasarana (bak
fiber, pemanas air).

Diseminasi

Kegiatan desa vokasi dimulai pada tahun 2009 dengan peserta berjumlah 30 orang dari delapan dusun Desa Panawangan telah menjadi model pengembangan desa vokasi di Kabupaten Ciamis dan sekitarnya (gambar 3).

Para petani daerah sekitar datang untuk belajar secara sukarela tentang berbagai bidang yang dikembangkan di desa vokasi, terutama budidaya ikan bawal meliputi sistem penyuntikan hormon, penggunaan pakan alami, dan pencegahan penyakit. Para petani yang datang ke desa vokasi berasal dari kelompok, pedesaan, maupun perorangan. Desa-desa yang telah berkonsultasi dan mengadopsi model desa vokasi antara lain dari Desa Babantar, Desa Kawali Mukti, Desa Rajadesa, Desa Ciendut, Desa Nagara Pageuh, Desa Nagara Jaya, Desa Lumbung Girang, dan Desa Mulya Sari. Model desa vokasi tidak hanya dicontoh oleh warga Ciamis, tetapi juga kabupaten sekitarnya yakni Kabupaten Garut, Kadipaten, dan Tasikmalaya. Kemajuan program desa vokasi ini dapat dilihat pada tabel VI.

SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

  • a. Implementasi teknologi sederhana telah dilakukan oleh 30 orang (yang terbagi menjadi 5 kelompok) dari Desa Panawangan. Setiap kelompok memiliki keahlian khusus. Keahlian tersebut adalah teknik pemijahan, larvikultur, pemantauan fase growing, budidaya pakan alami, dan pembuatan pakan fermentasi.
  • b. Diseminasi model mencapai daerah sekitar Desa Panawangan hingga Desa Babantar, Desa Kawali Mukti, Desa Rajadesa, Desa Ciendut, Desa

Nagara Pageuh, Desa Nagara Jaya, Desa Lumbung Girang, dan Desa Mulya Sari, Kabupaten Garut, Majalengka, dan Tasikmalaya. Diseminasi tersebut telah meluas hingga mencapai jarak kurang lebih 60 km.

c. Perubahan petani lokal di Desa Panawangan sebagai model desa vokasi dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan ketahanan nasional cukup berhasil.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

26
Citations
2.22
FWCIfield-weighted
90th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251
20244
202312
20224
20212
20201
20191
20181

Semantic Profile AI-classified research signals

Institution Network

  • Telkom Institute of Management ID
    Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba SITH-ITB · Pingkan Aditiawati · Dea Indriani Astuti · Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba SITH-ITB
  • Badan Pusat Statistik ID
    Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba SITH-ITB · Pingkan Aditiawati · Dea Indriani Astuti · Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba SITH-ITB

References

  1. Direktorat Jendral Potensi Pertahanan. 2011. "Direktorat Potensi Sumber Daya Alam" . Diunduh tanggal 31 Januari 2012. (http://www.dephan.go.id/pothan/LeafletPotSDA.pdf)
  2. Gambar Peta Jawa Barat Indonesia. 2011. Diunduh Desember 2011. (http://gambar-peta.blogspot.com/2010/03/gambar-peta-jawa-barat-jabar-west-java.html)
  3. Santoso. 2011. "Desa Vokasi Meningkatkan Ekonomi Masyarakat melalui Pemberdayaan Sentra Vokasi Berbasis Potensi Unggulan Lokal" . Kementrian Pendidikan Nasional BPPNFI IV Surabaya. 2011. Diunduh 31 Januari 2012 (http://www.bppnfi-reg4.net/index.php/desa-vokasi.html)
  4. Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Ciamis. 2009. Diunduh Agustus 2011. (www.ciamiskab.go.id)