PENDAHULUAN
Fenomena pergantian nama jalan di Kota Bandung sangat unik. Banyak nama jalan diubah, namun nama lama tetap dikenal dan digunakan sehingga timbul kesan bahwa kehidupan seharihari masyarakat Bandung masih tetap berpegang pada dasar sejarah lokal (Suganda, 2007: 370-382). Pergantian nama ini berlaku pula untuk gang bernama Tionghoa, seperti gang Gwan An yang berasal dari nama developer setempat Kok Gwan dan Kok An pada awal abad ke-20. Gang itu diubah namanya menjadi Jalan Kerta Laksana.
Jalan Jo Sun Bie, bekas pengusaha tekstil Bandung terkenal saat itu, menjadi Jalan Mayor Sunarya (Kustedja, 2012: 123- 126). Di kawasan Citepus Bandung ada juga nama Gang Sim Tjong yang sudah diganti menjadi Gang Adibrata. Mengenai gang dan SD Simcong telah ditulis oleh Lina Nursanty dalam koran Pikiran Rakyat Bandung (2015). Simcong berasal dari nama Tan Sim Tjong, seorang Tionghoa peranakan yang pernah tinggal bersebelahan dengan gang Simtjong tersebut. Bagaimanakah hubungan ia dengan pernikahan semarga di Bandung pada awal abad ke-20 dan apakah peranannya dalam konteks hubungan semarga ini? Siapakah sosok Tan Sim Tjong sebenarnya dan jejak apakah yang dapat direkam di Bandung? Penelitian ini menjawab beberapa pertanyaan tersebut.
METODE
Tulisan ini mengkaji dalam bingkai historis deskriptif. Data-data sejarah dipaparkan sebagai dasar pembahasan dan analisis. Pengumpulan data silsilah keluarga, pembicaraan di antara keluarga, dengan tetua yang masih hidup, serta kunjungan ke lapangan telah dilakukan dan masih terus berlangsung sesuai dengan pertanyaan yang muncul serta kebutuhan untuk mengisi kekosongan yang masih ada. Variasi data dari berbagai sumber dianalisis keakuratannya. Dengan demikian, sebagian tulisan ini masih merupakan potret sesaat dan terus berkembang sesuai dengan data yang diperoleh. Berbagai pihak menelusuri silsilah keluarga Tan mulai dari Indonesia, Belanda, sampai Jerman. penelusuran silsilah terus berlanjut dengan pertukaran informasi yang menggunakan bantuan teknologi informasi seperti media sosial, atau skype.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian pertama tulisan ini membahas latar belakang adat pernikahan orang Tionghoa menurut hukum yang berlaku di Tiongkok saat itu, serta perkembangan dalam masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa/Indonesia. Selanjutnya, tulisan ini membahas kasus hubungan semarga keluarga Tan di Bandung pada awal abad ke-20: Tan Tjeng Hoe, putra Tan Sim Tjong yang menikah dengan Tan Hermine, putri Tan Djin Gie. Dibahas juga beberapa momentum penting yang menggambarkan bentuk dukungan Tan
Sim Tjong di satu pihak dan penolakan Tan Djin Gie terhadap hubungan dan pernikahan semarga di lain pihak. Selain itu, diulas sosok dan jejak Tan Sim Tjong yang terekam di Bandung. Tulisan ditutup dengan simpulan dan usulan.
Pernikahan Semarga Masyarakat Tionghoa dan Perkembangannya di Jawa
Dalam buku Hukum Dinasti Qing (1644-1911), pernikahan semarga dilarang keras. Pernikahan semarga (satu klan) tidak direstui keluarga dan merupakan hal yang tabu. Klan merupakan bagian sel awal masyarakat Tionghoa. Perasaan kebersamaan anggota klan garis ayah sangat erat. Mereka tidak dapat dipisahkan di mana pun mereka berada. Anggota klan saling menolong sehingga dalam satu klan tidak ada seorang pun yang merasa lemah. Pada perayaan tahun baru, biasanya mereka berkumpul dan merayakan pesta keluarga bersama. Untuk kebutuhan kampung halamannya, mereka bederma, misalnya bederma untuk pembangunan "rumah sembahyang leluhur", atau untuk pendidikan anak sekolah. (Wilhem, 1930: 16-18). Menurut adat masyarakat T i o n g h o a p a d a m a s a d i n a s t i Mancu (Qing), di Tiongkok, setiap pernikahan bertujuan untuk menjaga kesinambungan generasi penerus keluarga patrilineal melalui keturunan anak lelaki serta untuk perluasan klan (Weggel, 1980: 185). Pelanggaran aturan ini tidak hanya mengakibatkan hukuman melalui proses pengadilan, tetapi pernikahan yang ada dianggap tidak sah atau tidak pernah terjadi. Larangan ini berlaku pula untuk pernikahan sesama saudara sampai kekeluargaan derajat keempat (Weggel, 1980: 186).
B a g a i m a n a p e n g a r u h a d a t ini bagi masyarakat Tionghoa pera n a k a n d i I n d o n e s i a , t e r u t a m a di Jawa? Dalam buku R i w a y a t Tionghoa Peranakan di Jawa (2009), Ong Hok Ham menyimpulkan, bahwa kehidupan kaum Tionghoa peranakan di Jawa telah dipengaruhi oleh tiga kebudayaan yaitu Jawa, Tionghoa, dan Barat (Belanda). Dengan demikian, masyarakat ini berbeda dengan kaum Tionghoa "totok" atau Tionghoa di Tiongkok. Akan tetapi, mereka juga berbeda dengan masyarakat "pribumi" dan masyarakat Belanda setempat. Oleh sebab itu, tata cara kehidupan masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa mempunyai corak tersendiri (2009: 50). Sintesis tiga budaya ini di satu pihak dianggap sebagai suatu kekuatan dalam pembentukan individu serta penghayatan dunia yang berbeda dalam masyarakat sekeliling (Kwartanada, 2008). Namun di lain pihak, bagi kelompok masyarakat yang memegang tradisi secara ketat, sintesis budaya ini tidak diinginkan. Hal ini dianggap berpotensi konflik keluarga atau masyarakat. Di sini terjadi benturan dan polarisasi budaya. Misalnya, orang Jawa memandang rendah orang yang hidup dalam dunia hibrid (blasteran). Hal ini diulas oleh Kwartanada (2008: xxiii) dengan contoh Tan Jin Sing, yaitu seorang peranakan Tionghoa yang telah memeluk agama Islam, ia menguasai bahasa dan adat Jawa dengan amat baik, serta bergaul luas dengan elit pribumi dipandang tidak lebih sebagai "bunglon budaya" atau "produk banci". Menurut catatan, Tan Jin Sing pernah menjadi kapten Tionghoa di Yogyakarta (1803-1813) dan juga telah diangkat menjadi bupati (Desember 1813) dengan gelar Raden Tumenggung Setjadiningrat (Carey, 2008). Pada akhir hidupnya (wafat Mei 1831) Tan Jin Sing hidup terasing. Di satu sisi, ia ditolak oleh orang-orang senegerinya, akibat penolakan Tan Jin Sing terhadap adat Tionghoa. Di sisi lain, ia dicurigai oleh kebanyakan orang elite Jawa karena
dianggap sebagai informan politik. Sementara itu, orang Eropa sendiri tidak dapat memberikan keamanan serta jaminan hukum berupa asimilasi ke dalam berbagai kelompok masyarakat yang ada (2008: 65-66).
P e r n i k a h a n S e m a r g a d a l a m Komunitas Tionghoa Peranakan di Bandung
Pada awal abad ke-20 (1913), telah terjadi hubungan semarga dalam komunitas Tionghoa peranakan di Bandung dan berakhir dengan kawin lari pada tahun 1917. Kejadian ini dibukukan Chabanneau (1918) dalam novel Rasia Bandoeng. Tokoh utamanya adalah Tan Tjeng Hoe, putra Tan Sim Tjong, dan Tan Hermine, putri Tan Djin Gie. Nama penulis serta tokoh-tokoh dalam novel ini disamarkan, misalnya Tan Hermine (sebagai Tan Hilda), Tan Tjeng Hoe (sebagai Tan Tjin Hiauw), Tan Djin Gie (sebagai Tan Djia Goan), dan Tan Sim Tjong (sebagai Tan Shio Tjhie). Novel tersebut mencoba merangkum sosok Hermine dan Tjeng Hoe. Selain itu, dibahas juga peran Tan Sim Tjong dalam hubungan semarga ini dan beberapa reaksi Tan Djin Gie terhadap pelanggaran adat. Yang menjadi pertanyaan adalah benturan kultural apakah yang terjadi dalam hubungan/ pernikahan ini dan apakah akibatnya?
Hubungan Tan Hermine dan Tan Tjeng Hoe
Hampir seabad setelah novel Rasia Bandoeng merekam kejadian hubungan cinta semarga antara Tan Hermine dan Tan Tjeng Hoe, kehidupan Tan Hermine kembali dibahas, antara lain oleh Hellwig dalam bukunya Women and Malay Voices (2012) dan Nursanty melalui tulisannya di koran Pikiran Rakyat (2015). Dalam buku tersebut dicertakan Hermine masih
remaja dan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama MULO di Bandung saat berkenalan dengan Tjeng Hoe yang sudah bekerja di bagian pembukuan di perusahaan Belanda De Waal & Co. di Jalan Bantjeuj Bandung. Sore harinya, Hermine mendapat pelajaran tambahan melalui les privat (Chabanneau, 1918: 40). Menurut putri bungsunya, Julie, yang tinggal di Amsterdam, Hermine (Tan Giok Nio), putri kedua Tan Djin Gie, dilahirkan 28 September 1899. Adapun kelahiran Tjeng Hoe belum diketahui pasti. Berdasarkan catatan dalam Rasia Bandoeng, Tjeng Hoe pada tahun 1913 berumur sekitar 21 tahun (Chabanneau, 1918: 10). Oleh sebab itu, dapat diperkirakan kelahiran Tjeng Hoe berkisar pada tahun 1892. Sebelum masuk Sekolah Menengah Pertama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Bandung, Hermine pernah mengecap pendidikan sekolah elit Belanda HBS (Hogereburgerschool) di Batavia (Jakarta) selama satu tahun (Chabanneau, 1918: 37). Sementara itu, menurut catatan Hellwig, Hermine bersekolah di HBS selama tiga tahun (Hellwig, 2012: 130). Kedua sekolah tersebut berbahasa pengantar Belanda. HBS hanya ada di kota-kota tertentu, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Sebelumnya, Hermine dan kakaknya
H e n r i e t t e , k a k a k n y a , m e n g e c a p sekolah dasar Belanda ELS (Europese Lagere School) dengan bahasa pengantar Belanda pula. Selain itu, mereka juga pernah dititipkan kepada seorang misionaris Kristen Protestan bernama Halma yang baru membuka sekolah misionaris di Bogor. Halma sudah dikenal Tan Djin Gie sebagai guru agama Kristen yang baik. Akhirnya Hermine dan Henriete tinggal bersama keluarga misionaris Belanda tersebut di Bogor (Chabanneau, 1918: 33-35; Hellwig, 2012: 130). Hal ini karena keluarga Tan Djin Gie sudah lama dikenal sebagai penganut agama Kristen yang taat agama. Berdasarkan cerita, toko Tan Djin Gie setiap hari Minggu selalu tutup karena keluarga mereka pergi beribadat ke gereja. Tan Djin Gie menginginkan agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan barat serta pendidikan agama Kristen agar dapat beradaptasi dengan pola hidup Eropa. Hermine adalah putri kesayangan ayahnya yang diberi kepercayaan penuh (Hellwig, 2012: 130). Adapun cerita tentang pertemuan Hermine dengan Tjeng Hoe berlangsung secara tersembunyi. Pertemuan itu, biasanya dilakukan setelah Hermine selesai les privat pada sore hari saat Tjeng Hoe sudah selesai bekerja. Bahkan surat-menyurat
Gambar 1 Tan Sim Tjong di antara mereka dilakukan secara tersembunyi dengan menggunakan nama inisial dan dikirimkan oleh perantara. D i b a n d i n g k a n d e n g a n H e r m i n e , pendidikan Tjeng Hoe jauh lebih sederhana. Tjeng Hoe hanya mengecap pendidikan di sekolah dasar (Sekolah Melajoe). Ia kemudian mengikuti kursus pembukuan perusahaan dan mendapatkan sertifikat. Namun, Tjeng Hoe pandai berbahasa Belanda serta mengambil les privat untuk belajar bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman (Chabanneau, 1918: 72).
Benturan Budaya: Dukungan dan Penolakan terhadap Hubungan Semarga
Polarisasi pendapat dan tindakan dari keluarga Tan Sim Tjong dan Tan Djin Gie terhadap hubungan semarga menggambarkan situasi masyarakat Tionghoa di Bandung saat itu.
Dukungan Tan Sim Tjong
B e r d a s a r k a n n o v e l R a s i a Bandoeng dapat dirangkum beberapa momentum penting yang jelas mengg a m b a r k a n d u k u n g a n Ta n S i m Tjong (Gambar 1) dalam proses yang berlangsung untuk hubungan Hermine dan Tjeng Hoe. Pertama, keluarga Tan Sim Tjong mengadakan pertemuan keluarga pada Oktober 1913. Rembukan tersebut dilaksanakan di serambi rumah Cibadak (Gambar 2). Rembukan keluarga ini diadakan untuk membicarakan hubungan semarga Hermine (sebagai Hilda) dan Tjeng Hoe (sebagai Tjin Hiauw). Orang yang hadir dalam pertemuan itu adalah Tjeng Hoe dan Sim Tjong (sebagai Shio Tjhie, lebih tua dari 70 tahun), dua anak Sim Tjong lainnya yaitu Tjeng Pok (sebagai Tjin Pian, sekitar 40 tahun) dan Tjeng Jang (sebagai Tjin Jam, sekitar 34 tahun), Biet Nio (sebagai nyonya The Soa
Hoan), dan The Soen Huang (sebagai The Soa Hoan, sekitar 50 tahun). Mereka berkumpul untuk memperjelas hubungan kedua sejoli tersebut sehingga keduanya tidak perlu berhubungan secara tersembunyi. Dalam pertemuan itu, terlihat keterbukaan pihak keluarga Tan Sim Tjong tentang hubungan/pernikahan semarga. Beberapa pertimbangan yang terungkap dalam rembukan itu adalah umur Hermine masih remaja, mereka satu marga, adanya harapan keterbukaan karena keluarga Tan Djin Gie menganut agama Kristen. Selain itu, ada perbedaan kekayaan atau status sosial. Pada saat itu, Tan Sim Tjong sudah jatuh miskin, sedangkan Djin Gie merupakan hartawan terkemuka. Pada pertemuan itu mereka sepakat jika Hermine telah berhenti sekolah, Sim Tjong mengajukan lamaran kepada pihak keluarga Djin Gie (Chabanneau, 1918: 21-29; 45-46).
Kedua, penerimaan Sim Tjong terhadap kaburnya Hermine. Pada bulan Januari 1916 Hermine kabur. Ibunda Hermine tidak tinggal diam, ia berusaha menjemput anaknya di Cibadak. Akan tetapi, Hermine menolak ia mengajukan tuntutan akan kembali bila keinginannya untuk menikah dengan Tjeng Hoe dikabulkan. Ibunda Hermine pun pulang ke Kebonjati untuk berunding dengan Tan Djin Gie, kemudian ibunda Hermine kembali mendatangi rumah keluarga Tan Sim Tjong untuk membantu Hermine pulang. Upaya kedua yang dilakukan ibunda Hermine berhasil. Ada sedikit konflik antara Nyonya Tan Djin Gie dengan Tan Sim Tjong yang dianggap sebagai orang tua yang tidak bisa mengajar anaknya dan tidak tahu malu (Chabanneau, 1918: 181-188).
K e t i g a , m e n y e m b u n y i k a n Hermine dalam pelarian. Tanggal 1 April 1917 dini hari (sekitar jam 3 pagi), Hermine keluar rumah Kebonjati dengan membawa tas kecil yang berisikan
Gambar 2 Rumah Cibadak sekitar 1970
barang perhiasannya. Di luar, dia dijemput oleh seseorang dan dibawa naik mobil langsung ke rumah Tan Sim Tjong di Cibadak. Saat itu Tjeng Hoe sudah bekerja di Tegal setelah berhenti kerja dari perusahaan Belanda De Waal & Co. di Bandung. Hampir seluruh anggota keluarga Sim Tjong terbangun. Hermine tampak gugup serta kebingungan dan terjadilah pembicaraan dengan Sim Tjong. Kemudian, mereka berdua berjalan kaki menuju rumah sahabat Sim Tjong yang terletak sekitar 80 meter dari rumahnya (bernama samaran Harlot), orang Eropa yang biasa mengurus perkara di pengadilan. Di sanalah pertama kali tempat persembunyian Hermine (Chabanneau, 1918: 208-215).
Kejadian ini baru diketahui keluarga Tan Djin Gie pagi hari dan dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Beberapa saat kemudian rombongan polisi pun datang ke Jalan Cibadak. Mereka menggeledah rumah Sim Tjong dan dilanjutkan dengan menggeledah rumah Oey Tjeng Poen (bernama samaran Oeij Tjoan Peng) yang dikenal sebagai keponakan Tan Sim Tjong (ayah dari Oey Tjeng Poen beristrikan adik perempuan Sim Tjong bernama Tan Sim Hwa Nio, lihat Bagan 1). Keduanya tanpa hasil. Malam harinya Sim Tjong
memindahkan Hermine ke daerah Kopo ke tempat tinggal salah seorang keluarga Sim Tjong bernama samaran Gan En Ko (Chabanneau, 1918: 216- 221). Sim Tjong mengirim telegram ke Tegal dan keesokan harinya Tjeng Hoe tiba di Bandung. Dia langsung datang ke tempat persembunyian Hermine di Kopo. Didampingi oleh seseorang bernama samaran Nio Toa Tauw, pada tanggal 3 April 1917, mereka melanjutkan pelariannya ke Cirebon dengan naik kereta api cepat dari stasiun Tjimahi. Mereka menginap di Hotel Wilhelmina sekitar 10 hari. Nio Toa Tauw keesokan harinya kembali lagi ke Bandung. Dari Cirebon, Hermine dan Tjeng Hoe berangkat ke Tegal untuk pamit dari perusahaan tempat Tjeng Hoe bekerja. Pelarian kemudian dilanjutkan ke Semarang untuk menyelesaikan formalitas perjalanan (paspor) dan kemudian berangkat ke Makassar dengan kapal api (Chabanneau, 1918: 228-229).
Keempat, menjemput keluarga Tjeng Hoe di Batavia. Tanggal 23 Desember 1917 malam, Tan Sim Tjong bertemu kembali dengan putranya Tjeng Hoe bersama menantunya Hermine di salah satu hotel Eropa di Batavia. Sim Tjong mendapat telegram dari Tjeng Hoe yang memberitakan kedatangan
perjalanan pulang dari Makassar ke Jawa, Hermine dan Tjeng Hoe telah menikah di Singapura di hadapan konsul Belanda beberapa hari sebelum mereka berangkat ke Batavia. Keputusan untuk kembali ke Jawa berhubungan erat dengan keadaan Hermine yang sedang mengandung. Sebenarnya, di Makassar mereka berdua telah mempunyai pekerjaan baik. Keesokan harinya, Sim Tjong bersama putra dan mantunya berangkat ke Bandung (Chabannaeu, 1918: 231-234).
Penolakan Tan Djin Gie
D u k u n g a n Ta n S i m T j o n g terhadap hubungan/pernikahan semarga bertentangan dengan reaksi Tan Djin Gie terhadap pelanggaran adat pernikahan Tionghoa saat itu. Oleh sebab itu, Hermine dan Tjeng Hoe harus menanggung akibatnya. Berikut ini rangkuman penolakan Tan Djin Gie:
Pertama, Hermine diberhentikan dari sekolah menengah MULO secara mendadak. Sejak saat itu, Hermine hanya mendapat pelajaran les privat di rumahnya. Hal ini terjadi setelah Tan Djin Gie menemukan surat cinta rahasia pada bulan November 1914. Hermine juga mendapat hukuman pukulan kemoceng (Chabanneau, 1918: 76-82; 96).
Kedua, Tan Djin Gie membakar seluruh pakaian dan sepatu Hermine karena telah kabur ke rumah Tjeng Hoe. Kemudian Hermine langsung dititipkan di rumah guru agama Kristen (Padri) di Jalan Pasirkaliki (Chabanneau, 1918: 188). Selanjutnya, Hermine dipindahkan ke rumah perkebunan ayahnya di Tjinanggerang pada akhir Maret 1916. Namun, hubungan suratmenyurat rahasia antara Hermine dan Tjeng Hoe tetap berjalan.
Ketiga, pada akhir Mei 1916 Tan Djin Gie berhasil memengaruhi kamar dagang Tionghoa sehingga Tjeng Hoe
berhenti bekerja dari perusahaan De Waal & Co. Dalam iklan surat kabar lokal tertanggal 13 Juni 1916, telah diumumkan bahwa Tjeng Hoe berhenti bekerja atas permintaannya sendiri. Kemudian, muncul iklan kedua tanggal 24 Juni 1916 yang berisikan bahwa seorang Tionghoa mencari pekerjaan dalam bidang urusan pembukuan perusahaan. Beberapa bulan kemudian, dikabarkan bahwa Tjeng Hoe mendapat pekerjaan di Kota Tegal, Jawa Tengah (Chabanneau, 1918: 194; 198; 203-206). Pada bulan Februari 1916, Tan Djin Gie telah berusaha memengaruhi gereja Kristen Protestan untuk tidak merestui hubungan semarga Hermine dan Tjeng Hoe. Namun, hal ini telah ditolak oleh penatua gereja. Usaha pemisahan hubungan Hermine dan Tjeng Hoe dilanjutkan dengan pengajuan permohonan yang didukung oleh kamar dagang Tionghoa kepada Gubernur Jenderal Belanda di Bogor. Permohonan ini pun ditolak (Chabanneau, 1918: 190 dan 230-231). Menurut kabar, Tan Djin Gie akhirnya memutuskan untuk membaliknamakan segala barang tetap kepada cucunya Edwin Tjia (bernama samaran Eduard Tjia, putra Henriette tertua). Sementara itu, segala hartanya termasuk uang akan diberikan kepada Henriette dengan perjanjian bahwa Henriette harus bersumpah untuk tidak membantu adiknya Hermine. Diduga putusan ini diubah, setelah suami Henriette (Philip Tjia) meninggal pada 1918 akibat pandemi flu spanyol dan William (adik Edwin) telah diangkat anak oleh Tan Djin Gie pada tahun 1933 (McLean, 1988: 8; 26).
Keempat, setelah mengetahui pernikahan Hermine dengan Tjeng Hoe pada bulan Desember 1917, Tan Djin Gie di hadapan notaris tidak mengakui Hermine sebagai anaknya lagi dengan memberikan adopsi Hermine kepada Tan Ho Soen di Bandung (Kweepang). Iklan
ini dimuat di surat kabar Sin Po tanggal 2 Januari 1918 (Chabanneau, 1918: 239; Hellwig, 2012: 131).
Perjuangan Tan Tjeng Hoe dan Hermine Setelah Pernikahan
Perjuangan Hermine dan Tjeng Hoe masih berlanjut. Pada tahun 1918, telah terbit novel Rasia Bandoeng yang membeberkan kehidupan mereka. Setahun setelah novel ini terbit, Tan Tjeng Hoe meninggal dunia pada bulan Mei 1919. Ia dikebumikan di TPU Kebon Jahe Jalan Pajajaran dan kemudian dipindahkan ke TPU Cikutra, tetapi jejak makamnya belum tertelusuri. Pada Mei 1919, telah lahir putri kedua keluarga Tjeng Hoe (Maud Tan), sedangkan putri pertamanya Constance Victorine Tan (Vicky) lahir di Cirebon pada 27 Januari 1918 (Hellwig, 2012: 131). Sebelum Tjeng Hoe meninggal dunia, mereka tinggal di Batavia. Tjeng Hoe bekerja pada perusahaan Perancis Peek dan pernah terpilih menjadi anggota Dewan-Kota Batavia untuk masa jabatan lima tahun (Bataviaasch Nieuwsblad, 14 September 1918).
Bagi Hermine, perjuangan
ini masih berlanjut sampai akhir hayatnya pada November 1957. Ia dimakamkan di Haarlem, Belanda. Setelah Tjeng Hoe meninggal, Hermine dikucilkan ayahnya dan tidak boleh berhubungan dengan ibu dan kakaknya. Dengan pertolongan misionaris Belanda, Hermine mendapat pekerjaan di suatu institusi orang buta. Di sanalah Hermine berkenalan dengan blasteran Eurosia Emil Verduyn Lunel dan mereka menikah pada tahun 1921. Namun, pernikahan ini pun tidak mendapat restu dari Tan Djin Gie, bahkan dinilai jauh lebih memalukan dibandingkan dengan pernikahan dengan orang Tionghoa semarga. Karena pengaruh Tan Djin Gie, Emil kehilangan pekerjaannya di Bank Escompto dan Emil kesulitan untuk mendapat pekerjaan yang sepadan (McLean, 1988: 24; Hellwig, 2012: 130-131). Sampai ayahnya wafat (Februari 1942), Hermine masih menjalin hubungan dengan ibunya secara tersembunyi dengan bantuan pembantu rumah tangga orangtuanya (bernama Djinem) yang sudah mengenal Hermine sejak kecil. Jika bertemu, Djinem biasanya membawa uang titipan
Gambar 3 Pertemuan kekeluargaan di Amsterdam, Agustus 2015. Dari kiri ke kanan: Julie van Buren-Verduyn Lunel, Suzanne van Norden, Bambang Tjahjadi, Charles Subrata, Maarten Hans van Norden dan Steve Haryono.
ibunda Hermine (Gan Sim Nio) dan mereka berbicara dalam bahasa Jawa yang tidak bisa dimengerti oleh anak-anaknya. Pertemuan antara Hermine dan ibunya terjadi juga pada saat berziarah ke makam Tjeng Hoe dan Philip Tjia (suami Henriette) secara terpisah. Pada pertemuan itu, Hermine diperkenalkan kepada William (putra kedua Henriette) yang ikut berziarah sebagai seorang sahabat (McLean, 1988: 24).
Dari pernikahannya yang kedua, Hermine dikaruniai lima anak (Margot, Lydia, Marius, Hugo, dan Julie). Semasa anak-anaknya masih kecil, tidak pernah ada pembicaraan mengenai Tan Tjeng Hoe. Anaknya yang tertua, Vicky baru mengetahui bahwa ayahnya bermarga Tan pada usia 19 tahun saat mengurus paspor untuk perjalanan ke Belanda tahun 1937 (Hellwig, 2012: 131-133).
Setelah ayahnya meninggal, Hermine bisa kembali berhubungan secara normal dengan ibu dan kakaknya. Sejak Agustus 1945, Hermine kembali tinggal bersama anak-anaknya di rumah orangtuanya. Emil meninggal dalam tahanan Jepang sembilan hari sebelum Jepang menyerah. Sebagai janda perang, Hermine kemudian meninggalkan Indonesia tahun 1946 dan tinggal di Belanda. Banyak penderitaan yang dialaminya, baik karena kesulitan penyesuaian diri dengan lingkungan sosial baru di Belanda maupun karena sakit akibat penderitaan batin yang dialaminya. Putri pertamanya Vicky tinggal di Belanda sejak 1938, sedangkan putri keduanya, Maud, menetap di Indonesia (Hellwig, 2012: 135-136). Vicky memiliki dua anak (Suzanne dan Marteen). Ia meninggal tahun 1977 di Amsterdam.
Hubungan antara Hermine dan mertua (Tan Sim Tjong) serta keturunannya terputus. Hal ini diduga terjadi sejak Tjeng Hoe meninggal (1919). Baru pada awal Agustus 2015 (Gambar 3), untuk pertama kalinya penulis (Bambang Tjahjadi/Tan Siong Bouw) bertemu secara kekeluargaan dengan cucu Tjeng Hoe/Hermine (Suzanne dan Maarten van Norden) dan putri bungsu Hermine/Emil (Julie van Buren-Verduyn Lunel ) di Amsterdam. Selain itu, ada juga Charles Subrata/Tan Giok Houw (cucu Sim Tjong, salah satu putra Tjeng Hay, adik Tjeng Hoe) dan Steve Haryono/Yeo Tjong Hian (salah satu saudara dari garis keturunan Tan Tjoen Seng, kakak Tan Hok Seng/kakek Tan Sim Tjong).
Sosok dan Jejak Tan Sim Tjong
Bagian tulisan ini menelusuri silsilah, kegiatan dan makam Tan Sim Tjong.
Silsilah Tan Sim Tjong
Garis utama leluhur dan keturunan Tan Sim Tjong (Bagan 1) disusun berdasarkan tiga catatan keluarga: Tan Keng Nio (1897-1994, putri bungsu Tan Sim Tjong), Tan Tjin Lian (1923-2009, cicit Tan Sim Tjeng, kakak Tan Sim Tjong) dan Gan Po Hie Nio (istri Oey Tie Eng dari garis Tan Tjoen Seng, kakak Tan Hok Seng atau kakek Tan Sim Tjong).
Tan Sim Tjong lahir di Batang dan merupakan generasi kelima yang sudah tinggal di Jawa. Menurut catatan Tan Tjin Lian, leluhur pertama Tan Sim Tjong adalah Tan Hwie Tjeng asal Lam Tjeng di Provinsi Hok Kian (dalam lafal mandarin berarti Nanjing di Provinsi Fujian), Tiongkok Selatan. Data ini sesuai dengan data yang tertera pada batu-nisan Tan Sim Sioe (kakak Tan Sim Tjong, wafat 1909) bahwa asal daerah kedatangannya adalah Nanjing, Zhangzhou, Provinsi
Fujian (Tanuwihardja, 2012). Catatan Tan Tjin Lian menunjukan pula bahwa anak lelaki Tan Hwie Tjeng yang pertama Tan Kiem Tie lahir di Jakarta (Batavia), sedangkan yang kedua Tan Kiem Siong lahir di Batang. Dengan demikian, diduga bahwa Tan Hwie Tjeng pertama kali berlabuh di Batavia sekitar awal abad ke-18 dan kemudian pindah serta menetap di Batang. Catatan silsilah keluarga Tan Hwie Tjeng sedang dalam proses pengeditan menjadi buku oleh Steve Haryono (2016) yang berasal dari garis Tan Tjoen Seng.
Mata rantai penelusuran silsilah leluhur masih terputus karena desa asal Tan Hwie Tjeng sampai saat ini belum diketahui karena kecamatan Nanjing terdiri atas banyak desa. Selain itu, nama leluhur Tan Sim Tjong ini baru diketahui kembali jejaknya pada tahun 2015. Rumah abu yang ditemukan di Desa Shang Dian yang mencatat adanya 21 keturunan Tan (Tanuwihardja, 2012; Tan Soey Beng, 2015) belum jelas hubungannya dengan Tan Hwie Tjeng. Karena Tan Hwie Tjeng adalah orang Hokkian, rumah bundar khas Hakka yang telah dijelaskan dalam tulisan Tan Soey Beng (2015: 332-333) perlu dipertimbangkan kembali. Mata rantai ini masih perlu diteliti. Catatan keluarga merekam bahwa Tan Sim Tjong (Gambar 1) adalah putra keempat dari Tan Lin Siong (Tan Liok) dan mempunyai tiga kakak lelaki bernama Tan Sim An, Tan Sim Tjeng, dan Tan Sim Sioe, serta satu adik perempuan Tan Sim Hwa Nio. Tan Sim Tjong beristrikan tiga orang. Dari istri pertama, ia dikaruniai seorang putri (Tan Tjeng Ek Nio). Dari istri kedua, ia memiliki dua putra dan dua putri. Salah satu putranya (Tan Tjeng Jang) dicatat lahir di Cirebon (1878) dan wafat di Bandung (1941). Penulis berasal dari garis ini, salah satu putra Tan Seng Tjioe (1918-1980). Dari istri ketiga (Tjoe Kok
Nio), ia memiliki satu putri (Tan Keng Nio) yang mencatat silsilah keturunan Tan Sim Tjong dan tiga putra. Salah satu putranya bernama Tan Tjeng Hoe yang menjadi salah satu tokoh utama dalam novel Rasia Bandoeng dan merupakan generasi keenam yang tinggal di Jawa.
Kegiatan Tan Sim Tjong dan Tan Djin Gie
Selain sebagai saudagar (lihat juga tulisan Lina Nursanty dalam Pikiran Rakyat, 21 April), Tan Sim Tjong dikenal juga sebagai penduduk lama di Bandung. Menurut statistik, ia mungkin termasuk salah satu dari enam keluarga yang sudah bermukim di Bandung pada tahun 1874 (Kustedja, 2012: 115; bersumber dari karya Raffles, T.S., History of Java, 1817). Di samping itu, berdasarkan peta permukiman tertua Bandung tahun 1882, dapat ditelusuri keberadaan rumah gedong Tan Sim Tjong di atas tanah permukiman di Grotte Postweg (lihat peta pemukiman dalam Tunas, 2009: 45 dan 66). Di sini dapat diasumsikan bahwa pembuatan peta permukiman ini terjadi setelah atau bersamaan dengan penamaan jalan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Gang Simtjong sudah ada pada sekitar tahun 1882. Pada saat itu, usaha Tan Sim Tjong seharusnya masih jaya. Penulis berpendapat, sedikitnya dua kriteria yang dapat disimpulkan dari penamaan Gang Simtjong: ketenaran Tan Sim Tjong sebagai saudagar yang memiliki rumah gedong bertanah luas di sebelah timur gang itu dan keberadaan ia di Bandung sebagai pendatang yang sudah bermukim lama.
Berbeda dengan Tan Djin Gie. Menurut putra angkatnya (William), ia lahir 1870 di sebuah kota kecil di Provinsi Fujian (McLean, 1988: 10 dan 26). Sewaktu berumur 14 tahun, ia berlabuh di Semarang (Jawa Tengah) bersama keluarganya (Tan Tjioe Soen).
Mereka kemudian tinggal di Ampel, dekat Kota Solo. Dalam buku Orangorang Tionghoa yang Terkemuka karya Tan Boen Hong (1935: 180), tercatat Hayteng sebagai asal desa Tan Djin Gie. Desa ini kemudian bergabung dengan Desa Liongxi menjadi kecamatan Longhay, sebuah kecamatan di Kabupaten Zhangzhou, Provinsi Fujian. Tahun 1892, Tan Djin Gie menikah dengan Gan Sim Nio, putri tertua dari Gan Song Liang yang tinggal di Jawa sebagai generasi kedua. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua putri, yaitu Henriette dan Hermine. Dengan demikian, Tan Hermine merupakan generasi kedua dari garis ayah yang tinggal di Jawa. Pada awal abad ke-20, mereka pindah ke Bandung dan mulai berdagang. Dari kesuksesan usaha istrinya dalam bidang batik, Tan Djin Gie mulai membuka usaha baru dalam bidang perkebunan teh. Dalam bidang ini, Tan Djin Gie meraih kesuksesan besar dan memperluas usahanya dengan perkebunan karet dan kapuk. Pada 1928, ia sempat membeli hak tanam sebidang hutan yang luas dan diberi nama Negara Kanaan. Hutan ini memiliki lokasi yang baik untuk perkebunan teh dataran tinggi. Usahanya berkembang terus merambahke bidang penggergajian kayu dan pengolahan teh. Ia bahkan sempat juga berinvestasi dalam bidang pembuatan jalan kereta api di Tiongkok dengan berlatar belakang bayangan ideal bagi setiap Tionghoa perantauan (overseas chinese) untuk mentransfer uang hasil usahanya ke negara leluhur. Kesuksesan Tan Djin Gie begitu hebat sehingga diakui oleh banyak kalangan, termasuk kalangan pemerintahan dan pengelola bank Belanda (lihat McLean, 1988: 10-15). Tan Djin Gie meninggal dunia pada bulan Februari 1942.
Pada saat Tan Djin Gie mendapat kesuksesan besar mulai awal abad ke20, usaha Tan Sim Tjong saat itu sudah bangkrut. Penyebab kebangkrutannya belum diketahui. Selain itu, belum diketahui pula bidang usaha yang digelutinya. Yang pasti, Tam Sim Tjong memiliki beberapa bidang tanah dan rumah pada tahun 1887. Pada tahun itu, dipasang iklan dalam beberapa surat kabar tentang penjualan tiga bidang tanah/rumah milik Tan Sim Tjong. Dalam novel Rasia Bandoeng dituliskan bahwa Tan Sim Tjong (sebagai Tan Shio Tjhie) bukan penduduk asli Bandung. Namun, dalam usia muda, ia sudah datang ke Bandung bersama saudaranya (Tan Sim Sioe; sebagai Tan Shio Soet) untuk berniaga. Usaha Tan Sim Tjong yang sudah besar, tiba-tiba jatuh dan bangkrut. Menurut kabar, saat usahanya hampir jatuh, Tan Sim Tjong menitipkan hartanya kepada saudaranya Tan Sim Sioe. Selain itu, beberapa bidang tanah/ rumah telah dibaliknamakan kepada Tan Sim Sioe dengan harapan ketika urusan selesai, harta itu dikembalikan kepada Tan Sim Tjong. Namun, harapan ini tidak dipenuhi oleh Tan Sim Sioe. Oleh karena itu, terjadilah percekcokan keluarga sehingga keduanya bermusuhan. Hal ini berlanjut hingga anak-anaknya. Akibat kejadian ini, Tan Sim Tjong pindah rumah dari rumah gedong di Jalan Jenderal Sudirman (Groote Postweg) ke rumah bilik (Gambar 2) di Jalan Cibadak (Tjibadakweg) (lihat Chabanneau, 1918: 22-23). Rumah gedong bekas milik Tan Sim Tjong memiliki luas tanah sekitar satu hektar. Letak rumah ini bersebelahan dengan Gang Simtjong (Adibrata) dan berbatasan dengan Kali Citepus di sebelah timur, dengan Gang Kebon Tangkil di sebelah utara, dan dengan Jalan Jendral Sudirman di sebelah selatan. Atas hubungan keluarga yang lama terputus ini, baru diadakan pendekatan kembali oleh pihak cicit masing-masing sehubungan dengan penelusuran para buyutnya.
Dalam Riwajat 40 taon THHK-Batavia (1900-1939) dikabarkan bahwa pada tanggal 10 Juli 1904 telah berkumpul 19 orang Tionghoa di Bandung untuk mendirikan THHK-Bandoeng (Tiong Hoa Hwee Kwan) di bawah naungan Luitenant Tan Joen Liong. Dalam proses pendirian ini, tidak tercantum nama Tan Sim Tjong. Namun, ada tiga orang komisaris yang dikenal mempunyai hubungan keluarga dengan Tan Sim Tjong, yaitu Tan Djin Gie (ayah Hermine yang menikah dengan Tjeng Hoe, putra Tan Sim Tjong), The Soen Huang yang menikah dengan Tan Biet Nio (salah satu putri Tan Sim Tjong), dan Tan Njim Tjoij (putrinya, Tan Metta Nio menikah dengan The Gwan Tjoan, putra The Soen Huang/cucu Tan Sim Tjong). Tan Njim Tjoij dikenal juga sebagai wijkmeester kawasan pecinan Tjitepus pada tahun 1914. Namun diberitakan oleh Tan De Seng (73 tahun) bahwa Tan Sim Tjong diketahui pernah aktif dalam perkumpulan THHK (Nursanty, 2015). Menurut Nursanty, di belakang sekolah BPK Penabur yang terletak bersebelahan dengan Gang Simtjong, pernah ada Sekolah Rakyat (SR) Sim Tjong yang kemudian dipindahkan ke Jalan Cibadak. Banyak orang Tionghoa yang kurang mampu bersekolah di sana. Namun, Tan Sim Tjong bukan pula pendiri. Sebagai perkumpulan, THHK mempunyai banyak sekolah yang tersebar di Jawa. Perkumpulan ini cepat dipengaruhi oleh nasionalisme Tiongkok saat itu. Menurut Ong Hok Ham (2009: 76), hanya orang yang memiliki keberanian besar saja yang mempunyai pendapat lain karena semua propaganda berada di tangan nasionalis Tiongkok. Pemerintah Hindia Belanda mulai memperhatikan pendidikan untuk orang Tionghoa dan mendirikan HCS (Hollandsch-Chineesche School)
pertama kali 1908 di Batavia serta HCK (Hollandsch-Chineesche Kweekschool) tahun 1918 untuk mendidik para guru HCS. Dengan demikian situasi pendidikan di Jawa untuk orang Tionghoa pun membaik.
Makam Sentiong
Tan Sim Tjong wafat di Bandung pada 1929 dan dikebumikan di Cijerah, Bandung. Makam pribadi ini dikenal penduduk sebagai makam Sentiong (makam orang Tionghoa). Makam ini baru ditemukan kembali di antara rumah penduduk Kampung Elang/ Sentiong pada bulan Juni 2014 oleh Tan Siong Hwie (cicit Tan Sim Tjong). Batu nisannya sudah dirusak. Sebagian aksara Tionghoa yang tertera rusak parah bahkan nama Tan Sim Tjong dan istrinya sendiri sudah "dihapuskan". Untunglah masih tertinggal beberapa aksara Tionghoa yang bisa membuktikan kebenaran makam Tan Sim Tjong, misalnya masih terbaca nama salah satu putranya Tjeng Pok, nama putrinya Biet Nio, serta empat nama cucunya yang tertulis pada bagian bawah kiri batu nisan: Seng Tjioe, Seng Kwie, Seng Tjay, dan Seng Bie (penulisan tidak sesuai dengan urutan umur). Menurut cucu dan cicitnya (Tan Giok Houw dan Tan Siong Djie), Tan Sim Tjong dikebumikan dalam satu lubang bersama istri keduanya dan liang lahatnya berpasangan (makam siangkong). Hal ini tampak pada batu nisan tersebut tertera nama anak dan cucu dari istri yang kedua. Istri pertama dikebumikan di sebelah kanan makam siangkong tersebut, tetapi makam itu sekarang sudah tertutup tanah. Dari istri pertama, Sim Tiong mendapatkan satu anak perempuan. Istrinya yang ketiga (Tjoe Kiok Nio) meninggal pada bulan Maret 1938 (65 tahun) dan dikebumikan di TPU Cikadut. Menurut cucu Tan Sim Tjong (Tan Giok Houw), saat itu
sudah tidak diizinkan lagi penguburan di tanah pribadi Cijerah. Batu nisannya dibuat sangat sederhana dalam bahasa Indonesia.
Kelahiran Tan Sim Tjong untuk sementara ini disimpulkan tahun 1837(?). Hal ini berdasarkan satu pembicaraan antara cicit Sim Tjong (Siong Hwie) dan Ayub Parnata (84 tahun). Ayub Parnata adalah salah satu cucu Yap Loen (salah satu orang terkenal di Bandung) yang mengenal beberapa keturunan Tan Sim Tjong. Tahun ini secara garis besar bisa dianggap sesuai dengan tulisan dalam novel Rasia Bandoeng (1918: 22) yang menyebutkan bahwa pada tahun 1913 umur Tan Sim Tjong sudah lebih dari 70 tahun.
Dalam pembicaraan antara cucu dan cicit Tan Sim Tjong (Siong Hwie, Siong Djie dan Giok Houw) dengan sesepuh kampung Sentiong (Pak Soemarsono) pada bulan Maret 2015 terungkap bahwa sekitar tahun 1990 pada rembukan penduduk setempat bersama ketua RT memutuskan untuk membongkar makam Sim Tjong untuk kepentingan umum, seperti posyandu, kantor RW, MCK, serta pelataran untuk Agustusan. Pembongkaran makam ini dilakukan tanpa sepengetahuan pihak keluarga besar Tan Sim Tjong yang masih memiliki tanah tersebut. Pihak keluarga sah sebagai pemilik walaupun pada tahun 1960 para ahli waris tanah Cijerah telah menjual sekitar 5/6 bagian dari tanah yang ada kepada penduduk setempat. Menurut cerita ketua RT, makam Sim Tjong merupakan tempat yang angker karena sering ada penampakan roh halus. Pada awal April 2015 makam ini dikunjungi oleh beberapa keturunan Tan Sim Tjong bersama Dr. Sugiri Kustedja dari CCDS (Centre for Chinese Diasporas Study) yang didampingi dengan seorang ahli aksara Tionghoa. Kunjungan ke makam dilakukan juga oleh rombongan Komunitas Aleut Bandung pada bulan Agustus 2015 lalu. Apakah jejak Tan Sim Tjong memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Bandung sehingga dapat dikategorikan sebagai "Heritage Bandung"?
SIMPULAN
Polarisasi sikap serta tindakan Tan Sim Tjong dan Tan Djin Gie yang bertolak belakang dapat diasumsikan sebagai gambaran masyarakat Tionghoa di Bandung pada awal abad ke-20 terhadap hubungan/pernikahan semarga dalam komunitas Tionghoa. Tan Sim Tjong telah berusaha mempersatukan hubungan Hermine dan Tjeng Hoe. Ia lebih terbuka terhadap perkembangan zaman walaupun umurnya satu generasi di atas Tan Djin Gie dan masih menganut kepercayaan leluhur (ajaran Konghucu). Namun, sebagai Tionghoa peranakan yang sudah lima generasi tinggal di Jawa, Tan Sim Tjong dianggap lebih fleksibel dalam mengadaptasi budayabudaya yang ada. Hal ini membuat Sim Tiong lebih dapat membentuk dirinya dalam konsep sintesis tiga budaya seperti diulas oleh sejarawan Didi Kwartanada, Peter Carey, dan Ong Hok Ham. Hal inilah yang membuat keterbukaan Tan Sim Tjong akan tuntutan zaman. Di pihak lain, Tan Djin Gie sebagai generasi pertama yang tinggal di Jawa masih terperangkap adat pernikahan Tionghoa. Ia menolak tegas pernikahan semarga. Ia masih tetap berkiblat kuat pada negara leluhurnya (Tiongkok). Hal ini terjadi walaupun ia sudah menjadi penganut agama Kristen yang taat serta menjunjung tinggi pola hidup Barat sehingga kedua putrinya mendapat pendidikan Belanda serta pelajaran agama Kristen. Selain pernikahan semarga, pribadi Tan Djin Gie menolak pula budaya blasteran. Pernikahan Hermine yang kedua dengan blasteran
eurosia Emil Verduyn Lunel dianggap lebih hina daripada pernikahan semarga. Usaha Tan Djin Gie untuk memisahkan hubungan Hermine dengan Tjeng Hoe begitu kuat. Ia tega untuk memisahkan hubungan putri kesayangannya Hermine dengan Tjeng Hoe. Ia mengasingkan sampai memberikan adopsi dan mengucilkan Hermine. Ia juga menutup kesempatan berkembang pihak lain yang dianggapnya bertentangan dengan pendapatnya, seperti Tjeng Hoe dan Emil. Amarahnya telah membakar sifat kasih yang dianutnya dari ajaran Kristen. Pengorbanan Hermine dan Tjeng Hoe melawan adat pernikahan Tionghoa tidaklah sia-sia. Hal ini justru merupakan pembuka jalan bagi pasangan semarga. Dalam hal ini, diduga perkembangan zaman serta faktor pendidikan telah membentuk Hermine dan Tjeng Hoe untuk berani mempertanyakan dan menentang adat pernikahan yang berlaku saat itu. Bagi keturunan Tan Sim Tjong, pernikahan semarga bukanlah hal tabu dan telah dilakukan oleh beberapa keturunannya. Hal ini berlaku bagi masyarakat Tionghoa peranakan umumnya di Jawa atau Indonesia.
Andil Tan Sim Tjong dengan mendukung perjuangan melawan adat pernikahan semarga perlu dicatat sebagai andil historis untuk masyarakat Bandung/Indonesia keturunan Tionghoa dalam memilih pasangan hidupnya tanpa batasan nama marga. Sesuai perkembangan zaman, kebebasan individu ini merupakan bagian dari hak azasi manusia dan perlu mendapat tempat dalam masyarakat masa kini. Dengan dinyatakannya etnis Tionghoa sebagai bagian integral Indonesia, keberadaan nama Tionghoa dalam perkembangan Indonesia perlu mendapat tempat yang sesuai. Dengan demikian, dalam era reformasi ini, koreksi terhadap politik masa orde baru bukanlah hal tabu. Akan tetapi, hal ini merupakan angin segar bagi keterbukaan dan kebersamaan untuk menjunjung tinggi NKRI. Oleh karena itu, pergantian nama jalan/gang bernama Tionghoa perlu dipertimbangkan kembali. Diusulkan untuk mencantuman kedua nama jalan berdampingan disertai dengan rangkuman historis tentang nama-jalan tersebut. Khususnya untuk Gang Simtjong, perlu diteliti sosok dan peranan Adibrata di Bandung/Indonesia. Pelaksanaan usulan itu memerlukan kerja sama berbagai pihak yang bersangkutan dengan perkembangan tata kota dan pariwisata Bandung mengingat adanya nilai tambah dari keterangan sejarah setempat. Dinamika ini dapat diartikan sebagai salah satu kembangan dari pelopor pengembalian namajalan yang terjadi pada tahun 2001, yaitu Jalan Kopo menjadi Jalan K.H. Wahid Hasyim seperti tertera dalam Jendela B a n d u n g ( S u g a n d a , 2 0 0 7 : 3 7 8 ) . Suganda membahas permasalahan serta kesenjangan yang ada dalam pemakaian nama jalan lama dan baru di Bandung sehingga timbul kesan perlunya evaluasi dan penataan kembali (Suganda, 370- 382). Seperti pepatah "tidak kenal maka tidak sayang", diharapkan pengenalan kearifan lokal dan sejarah setempat dapat mengajak masyarakat untuk mau mengingat dan ikut merawat peninggalan yang ada. Dengan demikian, masyarakat setempat dapat mengenal daerahnya lebih baik.
