Keywords: layout, social activity, Salman mosque
PENDAHULUAN
Menurut arti yang luas, masjid merupakan tempat untuk melaksanakan ibadah bagi umat muslim. Fungsi masjid terus berkembang, sejalan dengan satu bentuk kegiatan manusia biasanya diikuti dengan kegiatan lain (Rochym, 1983). Dengan demikian, masjid dapat dikategorikan public space. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, namun memiliki fungsi lain, seperti fungsi sosial, pendidikan, dan ekonomi (Sucipto, 2014). Fungsi masjid semakin berkembang, karena banyaknya aktivitas yang dilakukan. Hal ini menyebabkan daya tarik masjid untuk dikunjungi dan terus "hidup". Banyaknya kegiatan selain ibadah menuntut perkembangan bentuk fisik masjid guna memfasilitasi segala kegiatan yang dilaksanakan di masjid dan sekitarnya. Masjid Salman dibangun pada tahun 1962. Masjid Salman terletak di seberang kampus Institut Teknologi Bandung. Mahasiswa merupakan penyumbang jumlah penggunjung terbesar di masjid ini berdasarkan data penerimaan mahasiswa baru dari tahun ke tahun (sumber: website resmi ITB). Hal ini memunculkan sejumlah aktivitas pada waktu tertentu di sekitar area masjid. Aktivitas tersebut berdampak terhadap meningkatnya jumlah penguna masjid.
D a l a m s e b u a h w a w a n c a r a dengan Samsoe Bassarudin, aktivis Salman, sejak tahun 1974 oleh arsitek Masjid Salman, Achmad Noeman, dikatakan bahwa pembangunan masjid belum selesai. Masjid Salman berfungsi mewadahi segala aktivitas umat muslim sehingga Masjid Salman akan terus berkembang mengikuti perubahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Perkembangan tersebut menurut Ade, pengurus Salman dan ketua pada bagian divisi dakwah, adalah adanya penambahan jumlah toilet dan akses tangga dari area serambi menuju gedung serbaguna. Luas masjid dari rancangan awal hingga saat ini ternyata masih tetap sehingga pada waktu padat terutama siang hari terjadi aktivitas beragam di satu area serambi, seperti makan, mengobrol, belajar, dan salat. Adanya akses keluar-masuk yang sama pada area wudu perempuan menimbulkan terjadinya sirkulasi padat di area pintu, ditambah lagi dengan adanya penambahan sekat di depan pintu
area wudu perempuan. Adanya karpet dari area wudu menuju tangga yang terlepas dari kesatuan bangunan dan konsep desain menambah suasana padat. Akses masuk masjid yang terjangkau dari berbagai arah, mengakibatkan terjadi percampuran laki-laki dan perempuan pada area sirkulasi, seperti di selasar hijau. Hal ini mengakibatkan terjadinya sebuah ketimpangan antara perilaku pengguna dalam beraktivitas terhadap lingkungan fisik masjid. Hal ini menjadi pertanyaan bagaimana konsep layout Masjid Salman? Sejauh mana masjid Salman dapat mengakomodasi aktivitas pengguna? Bagaimana pola perilaku pengguna di Masjid Salman? Aktivitas dan penyimpangan apa saja yang terjadi? Fasilitas apa saja yang dibutuhan untuk mengakomodasi aktivitas sosial?
METODE
Survei awal dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan studi literatur. Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis kuesioner tersebut adalah metode kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan secara etnografi untuk memahami dan mengetahui konsep Masjid Salman, fasilitas, situasi, dan perilaku. Setelah itu, pengumpulan data lanjutan berupa denah gambar kerja, foto-foto masjid, observasi, dan wawancara terhadap beberapa pengurus masjid. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk menghasilkan temuan berupa konsep layout interior Masjid Salman; aktivitas dan alur sirkulasi guna mengetahui pola aktivitas dan fasilitas apa saja yang dibutuhkan, serta perilaku pengguna dan pengaruhnya terhadap lingkungan fisik masjid. Analisis dipetakan dalam bentuk deskriptif dan bagan untuk mempermudah penyampaian informasi. Setelah itu, dapat ditarik simpulan tentang hubungan layout interior Masjid Salman terhadap
aktivitas sosial pengguna di area publik masjid.
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Konsep Layout
Denah Masjid Salman menerapkan bentuk dasar persegi empat pada bangunan utama. Jajaran kolom pada interior masjid di sebelah selatan tampak memberikan tekanan bahwa masjid ini dirancang secara rasional dengan ritme yang sama. Pada area wudu, ada eksplorasi untuk tidak terpaku pada bentuk persegi. Hal ini diungkapkan oleh Fauzan, arsitek yang merancang pengembangan Masjid Salman saat ini. Ia mengatakan, adanya pemberian garis miring pada satu bagian massa bangunan masjid hanyalah sebagai aksen. Bentuk ruang utama masjid yang kotak dengan ruang mihrab yang sejajar membuat Masjid Salman berbeda dengan masjid lainnya. Tidak ada penonjolan ruang mihrab seperti pada bangunan masjid tradisional sehingga ruang mihrab tidak lagi dianggap sebagai simbolisasi rukun Islam yang berjumlah 5. Hal ini bertujuan untuk lebih menegaskan mihrab sebagai pusat orientasi, kiblat. Pengolahan bentuk yang rasional terlihat pada bentuk-bentuk geometri yang sederhana. Karakter ruang tidak lagi memusat ke tengah ruangan tetapi langsung ke arah kiblat. Hal ini tampak pada tidak adanya tiang-tiang kolom yang tidak menonjol di area masjid dan mihrab. Ruangan kosong dengan kolom pada dinding terluar berjarak setiap 5 meter. Penggunaan material kayu pada lantai, dinding, dan atap terlihat modern. Struktur beton yang dirancang dari teknologi bentangan panjang pun memperlihatkan adanya proses industri yang berkarakter modern.
Masjid Salman memiliki konsep arsitektur brutalism. Atap masjid berbentuk datar dari material beton dengan sedikit cekung pada setiap sisinya berguna untuk menampung air hujan. Hal ini bertujuan menyesuaikan diri dengan keadaan Indonesia sebagai negara tropis. Dengan demikian, makna simbolik ciri masjid tidak dilekatkan pada bentuk atap seperti pada masjid tradisional (bentuk kubah). Menara dipakai secara rasional dan fungsional sebagai penanda dan sebagai daya tarik bangunan agar terlihat dari jauh. Massa bangunan kotak minim ornamen, sehingga dari luar sekilas tidak tampak seperti masjid yang kita kenal dengan kubah dan ornamennya. Dari wawancara yang dilakukan pada beberapa pengurus, Masjid Salman pernah mengalami renovasi, yaitu penambahan area wudu laki-laki yang awalnya berada satu bangunan dengan area wudu perempuan. Hingga kini, di
Gambar 1 Kawasan Masjid Salman
Masjid Salman terlihat terus adanya pembangunan. Pembangunan yang terus berlangsung tersebut mengikuti bentuk tapak, denah ruang dan struktur sebelumnya. Hal ini dapat terlihat pada denah bergaris biru. Dengan demikian, perubahan selanjutnya tetap terintegrasi dengan bentuk bangunan dan pola ruang sebelumnya. Hal ini terlihat dari segi morfologi arsitektur masjid dirancang tidak secara inkremental (berkembang sedikit demi sedikit secara teratur). Dari hasil analisis tipologi bangunan dengan dasar teori yang dikemukakan oleh Barliana (2010) Masjid Salman bertipologi modernitas.
Menurut Samsoe, masjid bertipologi modernitas ini berbasis masyarakat Muhammadiyah. Meskipun begitu, tetap digunakan oleh semua mazhab masyarakat selama tidak menganggu.
Analisis Site Plan
Aksesibilitas
Masjid Salman memiliki akses masuk pada semua sisi yang berbatasan dengan jalanan umum, yaitu jalan Ganesha di sisi utara, jalan Ciung Wanara di sisi timur, dan jalan Gelap nyawang di sisi selatan. Banyaknya akses masuk ini didasari pemikiran bahwa masjid adalah rumah Allah SWT. Keutamaan

Gambar 2 Aksesibilitas, jalur sirkulasi, dan zoning Masjid Salman
Cross Circulation
Tersedianya akses keluar masuk pada ketiga sisi memudahkan pengguna menuju lingkungan masjid. Namun, ada area yang menjadi titik tempat pengguna dari segala arah akan menuju area yang sama sehingga menyebabkan kepadatan dan campur-baur antara lakilaki dan perempuan. Adanya pertemuan dari 4 akses keluar masuk dengan lebar jalur 2 meter menyebabkan kepadatan sehingga diperlukan pengalihan jalur, seperti memutar ke pinggir area dan tidak langsung menyilang ke lokasi tujuan. Kepadatan bertambah dengan adanya penyimpanan tempat air minum dan alas kaki di sekitar batas suci pada jalur sirkulasi di area wudu perempuan dan selasar. Kepadatan terjadi karena akses masuk hanya memiliki lebar 90 cm, sehingga terjadi penyempitan karena
area masuk dan keluar berada pada satu pintu masuk. Kepadatan ini memberikan efisiensi waktu pencapaian yang lebih lama karena pengguna "terjebak" dalam sirkulasi padat. Untuk itu diperlukan pelebaran akses masuk untuk 4 orang keluar masuk secara beriringan selebar 240 cm. Menurut standar ergonomi dalam ruang, kebutuhan satu manusia dalam bersirkulasi adalah selebar 60 cm (Panero dan Zelnik, 1979) atau membuat dua jalur berbeda untuk masuk dan keluar dengan setiap jalurnya berlebar 200 cm. Area selasar hijau akan dilewati pengguna karena menjadi pusat segala akses masuk. Area ini dimulai dari permulaan batas suci ditandai dengan area penitipan sepatu dan pembagian area laki-laki dan perempuan. Di area ini terjadi berbagai aktivitas mulai dari jalan, duduk, membuka-memakai sepatu, minum, bercengkrama, dan sebagainya. Untuk mengurangi kepadatan dan disorientasi pada area ini, diperlukan batas yang jelas pada setiap area.
Ketiadaan hijab yaitu pembatas antara laki-laki dan perempuan, membuat percampuran secara terbuka pada satu area. Untuk itu, sebaiknya pada akses masuk sudah diberi petunjuk tentang jalur sesuai dengan jenis kelamin, atau dapat pula diberi batasan dan hijab di depan area penitipan alas kaki sebagai jalur untuk perempuan. Selain itu, adanya penumpukan alur sirkulasi pada tempat dan waktu yang sama menyebabkan terjadinya kepadatan. Hal tersebut menimbulkan masalah pada ergonomi pergerakan, campur-baur lakilaki dan perempuan dengan jarak yang lebih dekat, dan tumpang tindih segala aktivitas. Hilangnya batas teritori ini menyebabkan kesesakan. Salah satu solusinya adalah dengan memperluas area atau mendistribusikan pada area lain, seperti memindahkan fasilitas duduk.
Analisis Interior
Zona Beralas Kaki dan Tanpa Alas Kaki
Belum ada aturan spesifik untuk desain masjid di Indonesia. Padahal, sudah ada standar Abu Dhabi Mosque Development Regulations (2008) yang bisa digunakan. Sesuai dengan aturan tersebut, seharusnya toilet berada pada zona beralas kaki, di luar batas suci. Namun, untuk toilet di Masjid Salman berada pada area yang melewati batas suci, yaitu di area tanpa alas kaki.
1. Zona beralas kaki. Selasar luar merupakan jalur sirkulasi dan tempat pengguna melepas dan memakai sepatu. Permasalahan muncul saat banyak pengguna yang menyimpan alas kaki di pinggir batas suci, sehingga terjadi penumpukan yang mengakibatkan "kekacauan" selepas salat berjamaah. "Kekacauan" diakibatkan jamaah yang saling mencari dan memakai alas kaki dalam posisi berdiri. Zona ini menggunakan material lantai semen dan keramik kasar sehingga tidak licin dan mudah
dibersihkan.
- 2. Zona basah di area wudu. Area ini termasuk pada zona tanpa alas kaki yang melewati batas suci. Hanya saja, akses keluar dari area wudu memiliki level ketinggian lantai yang sama dengan material keramik tanpa adanya area penyerapan sisa air wudu, sehingga pada selasar sepanjang jalur keluar tempat wudu hingga menuju tangga sering terdapat sisa-sisa air yang membuat lantai menjadi licin. Area ini memerlukan fasilitas tambahan untuk menyerap sisa air wudu, sehingga zona tanpa alas kaki ini masuk ke dalam zona kering.
- 3. Zona suci. Zona tanpa alas kaki cukup bersih, akses ini hanya bisa dilewati tangga tanpa ramp. Pada zona suci ini menggunakan material lantai kayu, sehingga memberikan rasa hangat pada malam hari dibanding dengan keramik. Dengan demikian, tidak memerlukan fasilitas tambahan seperti karpet. Akses keluar masuk

Gambar 3 Zona suci dan alur sirkulasi Gambar 3 Zona Suci dan AlurSirkulasi
zona suci terjangkau dari sisi kiri dan kanan bagi jamaah laki-laki, serta sisi kanan, kiri, dan belakang bagi jamaah perempuan.
Zona Laki-laki dan Perempuan
- 1. Area laki-laki ini terputus oleh jalur sirkulasi. Secara ergonomi, manusia membutuhkan lebar ruang 60 cm per orang, tetapi di area tersebut diisi oleh fasilitas duduk, sehingga hanya menyisihkan lebar 200 cm untuk 4 orang. Di area tersebut pun orangorang berdiri memenuhi ruang sirkulasi.
- 2. Perbandingan area duduk perempuan dan laki-laki lebih kecil. Akan tetapi, di area perempuan ini jalur dari area melepas dan memaki sepatu tidak terputus oleh jalur sirkulasi. Hal ini, menyebabkan banyak jamaah yang melepas dan menaruh alas kaki di sisi sirkulasi yang berwarna hijau pada gambar, sehingga pada saat mencari dan memakai alas kaki, terjadi persinggungan secara fisik maupun kontak mata dengan lawan jenis.
- 3. Di belakang area perempuan terdapat serambi yang banyak diakses lakilaki, sehingga zona perempuan terganggu dengan adanya lawan jenis yang melaluinya. Akibatnya zona perempuan terputus oleh sirkulasi.
Fasilitas dan Kapasitas
P a d a b a g i a n i n i d i b a h a s tabel analisis fasilitas dan kapasitas berdasarkan fung-sional dan standar ruang yang bersumber dari Dhabi Mosque Development Regu-lations (2008).
Sirkulasi
Dalam Penelitian ini, diamati area sirkulasi sekitar dan di dalam masjid. Di masjid Salman, area sirkulasi pada selasar luar selebar dua meter.
Adanya fasilitas duduk pada selasar hijau menganggu sirkulasi para civitas dikala jalur utama dipenuhi dengan orang yang sedang berbincang sambil berdiri. Selasar menjadi sempit karena banyaknya pengguna yang duduk di sepanjang selasar dalam. Hal ini menyebabkan "terpotongnya" lebar jalur sirkulasi seharusnya. Area wudu dapat diakses melalui dua pintu selebar 90 cm yang hanya memuat satu lebar tubuh orang dewasa dalam posisi bahu sejajar kusen pintu, sehingga lalu lintas sekitar pintu menjadi padat. Pada area serambi sirkulasi cukup lapang dan rapi. Dalam masjid, sirkulasi secara horizontal sudah rapi dan teratur, hanya, penambahan pembatas papan untuk area laki-laki sering memberikan alur sirkulasi yang sempit untuk jamaah perempuan. Pada Jalur sirkulasi vertikal, terdapat tangga pada setiap level ketinggian lantai tanpa ramp. Sirkulasi vertikal ini cukup tertib dan memudahkan pengguna dalam mobilisasi. Akan tetapi, akses untuk para difable pengguna kursi roda belum terakomodasi, terlihat dari tidak adanya ramp ke area ini. Pada waktu dzuhur, masjid penuh dengan jamaah laki-laki, sehingga jamaah perempuan sering dipindahkan ke ruangan di atas tempat wudu.
Aktivitas dan Perilaku
Aktivitas pada ruang memberikan dampak pada perilaku. Bagaimana pengguna menghasilkan sebuah pola tampak pada denah. Berikut adalah analisis aktivitas peribadatan dalam bentuk tabel berikut.
TABEL 1 ANALISIS FASILITAS DAN KAPASITAS
| No. | Komponen | Zona Lokasi | Min. Luas Area | Masjid Salman |
|---|---|---|---|---|
| Kapasitas Jamaah | ||||
| i | Jumlah Jamaah | 1.500 Jamaah di jam padat | ||
| ii | Laki- laki | 85%x1500 =1.275 | 22 shaft x 40 = 880 jamaah di dalam ruang ibadah utama sehingga kekurangan ruang untuk 395 jamaah. | |
| iii | Perempuan | 15% x jamaah = 225 orang | Hanya menampung 3 shaft x 40 =120 orang. Hal ini yang menyebabkan perempuan di relokasi ke ruang serbaguna. | |
| Komponen Fungsi Utama | ||||
| 1. | Area per jamaah | 0.75x1.2 (m) | Luas Masjid Salman 25m x 25m ditambah area serambi 425m2, sehingga maksimal menampung 1000 orang dalam 25 shaft, 1 shaft 40 jamaah. | |
| 2. | Mihrab | 6m2 | 5m x 2m = 10m2 | |
| 3. | Ruang Ibadah Utama | 25% pada hari biasa | Dari hasil perhitungan sebelumnya, pada hari biasa pada jam padat, ruang ibadah tidak dapat mengakomodasi jamaah. | |
| Tanpa Sepatu (TS) | 75% pada hari jumat | Tidak terakomodasi dalam ruang ibadah. Jumlah jamaah pada jam padat adalah 1500 yang membutuhkan 1.350m2 dan itu 25% nya menurut standar. Maka 75% nya dibutuhkan area seluas 4.050m2 | ||
| 4. | Area shalat Perempuan | 15 % dari total jamaah | Seharusnya 15% x 1500 jamaah (kapasitas) = 223. Kenyataannya space untuk perempuan hanya 3 shaf, yaitu 120 orang. Sehingga ada perbedaan jumlah dalam standar dan tidak mengakomodasi. | |
| 5. | Area Wudhu | 1 tempat wudu untuk 10 jamaah. | Untuk 1500 jamaah perlu 150 keran wudu. Di area laki-laki ada 60 keran dan area perempuan ada 40 keran, sehingga belum memenuhi standar. Namun, secara durasi wudu, dalam observasi, jumlah keran masih dapat mengakomodasi jamaah saat mengejar salat berjamaah dalam waktupadat. | |
| 6. | Menara | (S) | Letaknya terpisah dari bangunan masjid | |
| Komponen Fungsi Pendukung | ||||
| 7. | Rak Sepatu | (TS/S) | 70% jumlah jamaah | Area penitipan, 21 x 5 x 5 = 525 sepatu Area Laki-laki, (6x4x9) + (9x12x2) = 432 sepatu Area perempuan, 4 x 6 x 4 = 96 sepatu Total: 1.053. 70 % dari total jamaah pada waktu siang pada hari biasa. |
| 8. | Shower | 1 cubicle/masjid | - | |
| 9. | Toilet | Sepatu | 1/3 tempat wudhu | 3 toilet laki-laki dan 8 urinoir 5 toilet perempuan |
| 10. | Wastafel | (S) | 1 per 2 toilet | Di toilet laki-laki tidak ada, di toilet perempuan ada 2 |
| 11. | Tempat tinggal Imam | 3 kamar 2 wc, hall, dapur | - | |
| 12. | Kantor Imam | 9m2 | 15m2 | |
| 13. | Gudang | 0.025m2 /jamaah | Berarti 0.025 m2 x 1500 = 37.5 m2 . Gudang saat ini 5m x 5 m = 25m2 |
TABEL II ANALISIS AKTIVITAS PERIBADATAN REGULAR
No. Aktivitas dan Area Analisis
1. Wudu dan salat Pola aktivitas untuk salat, pengguna memiliki pola: datang, melepaskan alas kaki, wudu, lalu menuju area salat. Setelah itu kembali ke area duduk di area dengan alas kaki untuk memakai alas kaki sebelum pulang. Area wudu dengan jalur sirkulasi dibuat terpisah laki-laki dan perempuan Secara fasilitas dan kedekatan ruang telah di akomodasi dengan baik.
2. Mentoring Mentoring dilakukan di area serambi. Pengguna membuka alas kaki dan ada fasilitas penyimpanan alas kaki, sehingga secara layout akan terlihat rapih dan terjaga keamanannya. Sedangkan pada area taman, alas kaki disimpan di sekitar alas duduk, sehingga dari segi visual akan terlihat kurang rapi, sehingga dibutuhkan fasilitas penyimpanan pada zona dengan alas kaki.
3. Pengajian dan kajian Aktivitas ini membutuhkan wudu, maka pola aktivitas sama dengan aktivitas salat. Area yang digunakan adalah area terbuka pada selasar ataupun taman. Pada area taman pengguna tidak perlu melepaskan alas kaki. Pada area selasar perlu melepaskan alas kaki. Jumlah rak tidak dapat mengakomodasi kebutuhan, sehingga disimpan di pinggiran batas suci menganggu jalur sirkulasi karena space nya"terambil".
4. Mengaji Mengaji dilakukan secara personal menggunakan area sepanjang serambi dan selasar. Untuk yang memilih area selasar, secara suara tidak menganggu, hanya saja posisi pengguna yang duduk di pinggiran dinding dalam jam-jam padat menganggu sirkulasi, sehingga dibutuhkan relokasi ke tempat semestinya dengan adanya sign system.
Ada tiga klasifikasi aktivitas pada ruang publik, menurut Zhang dan Lawson (209). Aktivitas proses terjadi di area selasar wudu, jalur sirkulasi, dan area orientasi pada selasar hijau. Aktivitas ini membutuhkan ruang yang cukup luas untuk menampung 4 orang berpapasan. Kontak fisik terjadi saat pengguna saling berinteraksi dan berkomunikasi. Aktivitas transisi terjadi pada saat pengguna sedang sendirian, menunggu, atau melihat pemandangan di sekitar masjid. Aktivitas sosial di Masjid Salman masuk ke dalam kelompok aktivitas proses dan kontak fisik.
Perilaku Pengguna pada Area Masjid dan Sekitarnya
Selasar yang merupakan area
orientasi, lebih mudah diakses oleh jamaah laki-laki. Hal ini membuat banyaknya kumpulan laki-laki di area ini, sehingga jamaah perempuan ketika melewati area ini berjalan dengan lebih cepat, dengan gesture yang defensif, dan diam tanpa suara.
Perilaku yang tampak dalam observasi dan hasil wawancara, para jamaah pengguna lebih senang datang berkelompok dan tidak terlalu terganggu dengan orang di sebelahnya, tetapi pada saat sendirian, pengguna lebih "selektif" memilih area untuk beraktivitas. Setelah selesai beraktivitas dari area masjid, para pengguna yang menaruh sepatu di sekitar batas suci, lebih memilih memakai sepatu sambil duduk di lantai jalur sirukulasi daripada di area duduk
TABEL III ANALISIS AKTIVITAS SOSIAL
No. Aktivitas dan Area Analisis
1. Seminar Seminar di adakan di gedung serbaguna, lantai 2 yang aksesnya bisa melewati tangga dari area batas suci masjid, maupun dari tangga dekat selasar hijau dalam zona beralas kaki, juga dilakukan di area taman. Alur yang terjadi dalam aktivitas ini dengan area yang digunakan tidak menimbulkan banyak masalah dari segi layout dalam pencapaian.
2. Bazaar Permasalahan terjadi saat jarak batas area bazaar dengan sirkulasi hanya 2 meter, sedangkan terjadi kumpulan orang yang sedang melihat- lihat, sehingga menghambat sirkulasi orang yang sedang lewat. Hal ini membutuhkan adanya ruang pada setiap tenant khusus untuk pengunjung yang ingin melihat-lihat, sehingga tidak mengganggu jalur sirkulasi dan mengurangi kepadatan sirkulasi
3. Belajar Aktivitas belajar dilakukan secara individual maupun berkelompok. Area yang digunakan sepanjang serambi masjid yang terbuka pada dua sisi sehingga penghawaan dan pencahayaan lebih baik daripada di dalam ruangan. Area – area ini pun berada dalam satu jalur sirkulasi segaris dekat dengan akses keluar pada zona beralas kaki, sehingga memudahkan untuk datang dan pergi.
4. Organisasi dan Unit Kegiatan
Aktivitas unit berpusat di rumah kayu dekat bangunan masjid, sehingga mudah terlihat dan dijangkau para pengguna di sekitar masjid. Aktivitas yang terjadi pada setiap divisi dan unit sama halnya dengan aktivitas organisasi, ada area untuk tamu, area arsip, dan area kegiatan.
5. Kegiatan Jual Beli Area yang menjadi kegiatan perputaran ekonomi ini berada dalam zoning yang berdekatan dan tak terpisah antara satu bagian dengan bagian lain, tetapi tetap terlewati jalur sirkulasi untuk memudahkan akses pencapaian keluar masuk.
6. Loading barang Loading barang dilakukan oleh supplier. Dalam skala besar dilakukan oleh mini truck yang dipakir depan mini market, sehingga sering menghalangi pandangan dan akses keluar mobil pun tidak bisalangsung dikarenakan lebar parkirannya. Di area basement lebih leluasa, hanya saja akses secara vertikal ke lantai dasar harus melewati tangga karena lift ke lantai tersebut tidak dapat diakses.
yang telah disediakan. Hal ini karena lebih mudah menjangkau sepatu dan tak perlu berkotor-kotor menuju area duduk.
Banyak pengguna beraktivitas di jalur selasar perempuan. Posisi yang dipilih oleh pengguna adalah bersandar, sehingga beban badan tersalurkan ke dinding dan tubuh berada dalam
keadaan istirahat, tidak lelah. Jarak satu kelompok dengan kelompok lain maupun individu lain berada pada jarak pribadi (0,5m-1,5m). Jarak ini merupakan jarak personal, tetapi pengguna tetap berada pada aktivitas masing-masing dan "berjarak sosial". Pengguna menyimpan barang bawaan pada bagian depan atau
Gambar 4 Perilaku di area selasar hijau dan area penitipan sepatu
Gambar 5 Perilaku di selasar dalam dan area tangga
Gambar 6 Perilaku di area masjid dan serambi
samping pemilik, sehingga membuat "jarak" dengan pengguna lain sebagai batas territory. Tangga merupakan ja-lur sirkulasi secara vertikal. Selain digunakan sebagai jalur sirkulasi, tangga menjadi "fasilitas" duduk bagi pengguna. Pengguna memilih area tangga di pinggir dekat railing, guna mengurangi gangguan terhadap orang yang berjalan. Namun disisi lain, hal itu membuat para pengguna tidak bisa memegang railing. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, di area tangga, sering digunakan untuk aktivitas duduk dan berjalan. Pada area undakan, tampak perbedaan kelompok yang menempati untuk duduk. Mereka saling menjaga privasi personal. Hal itu tampak pada pemilihan undakan dari masing-masing kelompok. Perbedaan kelompok guna menjaga privasi personal, terlihat pada pemilihan undakan tangga yang berbeda untuk duduk.
Aktivitas yang dilakukan di area serambi beraneka ragam, terutama berkaitan dengan aktivitas sosial. Area yang menjadi tujuan pertama adalah area yang berdekatan dengan dinding masjid. Hal itu disebabkan adanya meja, stop kontak, dan jamaah dapat bersandar. Pengguna yang datang secara berkelompok, menggunakan satu meja untuk menandai teritory. Jika tidak mendapat meja, area yang dituju kedua adalah dekat tangga dengan pemandangan taman. Meskipun secara proxemics jarak ini termasuk kedalam jarak personal, tetapi aktivitas yang dilakukan membuat jarak secara sosial. Pada masjid, proxemics tidak berlaku, karena aktivitas yang terjadi adalah aktivitas manusia yang tak berwujud fisik. Setelah sampai pada area untuk beribadah, civitas menaruh barang bawaannya di depan. Area itu dibatasi dengan garis saf. Perilaku lain yang diamati terjadi pada waktu masjid kosong, area perempuan yang diisi dahulu adalah bagian depan, dan baris paling belakang "bertransformasi" menjadi area sosial, tempat di mana orang bersandar duduk, bahkan tidur.
Sifat ruang dan jenis ruang memengaruhi perilaku. Area dan ruang yang bersifat publik dipakai oleh khalayak umum. Di ruangan ini pengguna lebih berperilaku ekspresif, berkelompok, bersuara lantang, mengobrol, dan berinteraksi lebih aktif. Pada ruang yang semakin bersifat ke arah privat, perilaku orang mulai berubah secara perlahan, orang menjadi lebih pendiam, gesture berhati-hati, tenang, dan lebih individual. Hal tersebut menandakan adanya kesamanaan pola pikir dan persepsi tentang kesopanan serta pembawaan diri. Fungsi ruang yang telah dipahami oleh pengguna diolah oleh nilai-nilai dalam dirinya, dan di respon sama oleh individu lain yang memiliki nilai hidup yang sama.
Kecenderungan Memilih Area Untuk Beraktivitas
Adanya area yang padat dan kosong, memberikan pemahaman bahwa telah terjadi suatu "seleksi" yang dilakukan pengguna dalam memilih dan menentukan tempat untuk melakukan aktivitas. Dari wawancara yang dilakukan, para pengguna masjid Salman cenderung memilih tempat yang mudah dijangkau. Saat menunggu orang, pengguna akan memilih spot yang dapat dilihat dari kejauhan, yaitu di area sirkulasi utama. Tempat pilihan untuk belajar adalah serambi. Hal ini karena serambi memiliki sirkulasi udara yang baik, ada fasilitas sumber listrik, meja, beratap, dan nyaman. Di dalam masjid, jamaah laki-laki lebih senang menempati barisan terdepan, dan jamaah perempuan cenderung memilih barisan paling belakang. Di serambi dan selasar sering terdapat beberapa kelompok. Mereka memilih tempat di area yang banyak digunakan oleh kelompok. Mereka memilih tempat yang memiliki jarak cukup dengan kelompok lain.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat diambil beberapa simpulan. Pertama, berkenaan dengan konsep dan sejauh mana Masjid Salman mengakomodasi pengguna, dapat disimpulkan bahwa selain membutuhkan area orientasi, Masjid Salman sudah tidak dapat lagi mengakomodasi jumlah pengguna pada kegiatan peribadatan pada jam padat dan untuk mengakomodasi kebutuhan aktivitas sosial pada waktu bersamaan. Contohnya saat diadakan bazaar yang bertepatan dengan kajian Islam, jam makan siang, mentoring. Untuk itu, agar dapat terakomodasi semuanya dibutuhkan penjadwalan ulang kegiatan dan multifungsi area. Kedua, berkenaan dengan aktivitas dan perilaku pengguna, dapat disimpulkan bahwa aktivitas masyarakat kampus lebih banyak daripada masyarakat umum pada hari biasa. Masyarakat kampus memiliki pola aktivitas sosial yang stabil dari hari ke hari pada setiap waktunya, sedangkan masyarakat umum memiliki pola aktivitas sosial yang lebih variatif. Meskipun sudah ada desain yang mengarahkan pengguna dalam beraktivitas, masih ada hal yang tidak ideal yang terjadi, seperti makan di area serambi untuk salat atau loading barang sembarangan. Namun, hal itu dapat diatasi dengan cepat melalui peringatan dengan pengeras suara ataupun teguran secara langsung. Ketiga, berkenaan dengan fasilitas dalam mengakomodasi aktivitas sosial, dapat disimpulkan bahwa selain secara area dan luas ruangan, dibutuhkan pula fasilitas pendukung seperti rak sepatu, fasilitas duduk, dan petunjuk arah. Masjid Salman membutuhkan area tumbuh secara vertikal mengingat sudah sempitnya zona tumbuh secara horizontal. Fasilitas perlu dikelompokkan menurut fungsinya dengan jalur akses masing-masing agar lebih tertata baik. Selain itu, perlu ada ruang orientasi di luar jalur sirkulasi. Dalam hal ini, masjid akan terus berkembang menyesuaikan dengan lingkungan tempat ia tumbuh, begitu pun masjid Salman. Diperlukan penambahan area wudu untuk laki-laki dengan bangunan terpisah dari area wudu perempuan, penambahan akses pada ruangan lain, adanya pembatas pandangan di luar konsep desain, dan penambahan fungsi pada area yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
- Abu Dhabi Urban Planning Council. (2008). Abu Dhabi Mosque Development Regulations Voume 2: Design, p 15-16,23. Abu Dhabi: Mosque Development Committee
- Abu Dhabi Urban Planning Council. (2008). Abu Dhabi Mosque Development Regulations Voume 2 : Design, p 18. Abu Dhabi: Mosque Development Committee
- Barliana, Syaom. (2010). Tradisionalitas dan Modernitas Tipologi Arsitektur Masjid. Bandung: Metatekstur
- Laurens, Marcella Joyce. (2005). Arsitektur dan Perilaku Manusia. Jakarta: Grafindo
- Panero, Julius and Zelnik, Martin. (1979). Human Dimension & Interior Space: A Source Book of Design Reference Standards. New York: Whitney Library of Design
- Rochym, Abdul. (1983). Sejarah Arsitektur Islam, Sebuah Tinjauan. Bandung: Angkasa.
- Sucipto, Hery. (2014). Memakmurkan
- Masjid Bersama JK. Jakarta Selatan: Grafindo
- Zhang and Lawson. (2009). Meeting and Greeting: activities in public outdoor spaces outside high density urban residential communities. Volume 14, 4, p –207-2014.
- http://www.islamcan.com/youth/ prohibition-of-free-mixingbetween-men-and-women.shtml#. VQfwX-um1RU (Diakses 14 Juni 2015, Pukul 16:16)
