Keywords: incorporation, local wisdom, sustainable marine tourism
PENDAHULUAN
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan yang menyumbang sebesar 9,5% terhadap PDB Indonesia secara global (Kementerian Pariwisata, 2015). Perkembangan sektor
pariwisata Indonesia didukung dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) Tahun 2010-2025. Selain itu, didukung dengan adanya
target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara hingga tahun 2019 (Kompas, Desember 2014). Sektor pariwisata yang paling berpotensi dan pengembangannya diprioritaskan adalah potensi pariwisata bahari dan pariwisata budaya termasuk kearifan lokal yang menjadi jiwa dari keragaman budaya yang ada. Menurut Kementerian Pariwisata Indonesia, pengembangan pariwisata yang dilakukan mengacu pada prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan. Namun pada kenyataannya, aktivitas wisata yang ada tetap memberikan dampak negatif terhadap aspek lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi.
Salah satu destinasi wisata utama di Indonesia yang juga mengalami dampak negatif akibat pariwisata adalah Bali. Di samping mengalami dampak negatif terhadap lingkungan, juga terhadap sosial budaya yang dibentuk oleh kearifan lokal sebagai identitas khas dari wisata Bali. Mengingat potensi terbesar pariwisata Indonesia khususnya Bali adalah bahari dan budaya serta untuk menjaga kelestarian eksistensi kedua potensi tersebut dan melakukan pengembangan pariwisata berkelanjutan maka inovasi inkorporasi kearifan lokal ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan dapat dilakukan sebagai salah satu upaya alternatif. Upaya tersebut dapat dilakukan di kawasan objek wisata Pantai Masceti, Kabupaten Gianyar karena kawasan tersebut memiliki potensi untuk mengaplikasikan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan. Di samping itu, inkorporasi kearifan lokal belum diakomodasikan ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan oleh pemerintah daerah Kabupaten Gianyar baik dalam program maupun kebijakan yang ada. Upaya alternatif tersebut juga sekaligus mendukung target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2019 dan menekan dampak negatif
pariwisata.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dan menggunakan metode deskriptif kualitatif serta metode sintesis untuk menganalisis data. Metode deskriptif kualitatif untuk memberikan deskripsi mengenai potensi kearifan lokal dan pariwisata bahari berkelanjutan serta upaya dan kendala terkait pengembangan pariwisata di lokasi penelitian. Metode analisis isi, untuk menentukan variabel dan interpretasi hasil wawancara. Metode sintesis, untuk melakukan sintesis komponen-komponen inti dari konsep pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan dan konsep perpaduan kearifan lokal dalam pengembangan wisata alam.
Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh melalui tinjauan literatur dan dokumen dari instansi terkait. Untuk data primer dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Untuk penentuan sampling digunakan purposive sampling dengan asumsi bahwa lingkup penelitian terbatas pada lokasi kawasan objek wisata Pantai Masceti. Responden yang terpilih untuk diwawancarai adalah orang yang kesehariannya terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata di lokasi penelitian dan pihak yang memiliki pengetahuan terkait kondisi pariwisata di lokasi penelitian. Responden tersebut mencakup pengelola kawasan objek wisata Pantai Masceti, Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, Kecamatan Blahbatuh, dan Desa Medahan.
Beberapa tinjauan literatur yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
Definisi Inkorporasi
Mengacu pada pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inkorporasi adalah kata benda (nomina)
yang memiliki arti peleburan menjadi badan usaha yang sah. Sebagai kata kerja (verba), inkorporasi memiliki bentuk kata lain menginkorporasikan yang berarti memasukkan menjadi satu atau menyatukan. Jika dilihat dengan padanan kata lainnya, sinonim dari kata inkorporasi ini menurut KBBI antara lain adalah penggabungan, perpaduan, integrasi, dan konsolidasi. Dari pengertian tersebut dapat ditarik poin penting inkoporasi dan menginkorporasikan, bahwa terdapat dua atau hal yang digabungkan menjadi satu kesatuan.
Pariwisata Bahari Berkelanjutan
Pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan merupakan pengembangan yang difokuskan pada keberlangsungan alam atau ekologi, secara psikologi dapat diterima dalam kehidupan sosial masyarakat, dan memberikan manfaat ekonomi dengan tetap dilandasi oleh keunikan dan karakteristik ekosistem, masyarakat, dan budaya dari tiap daerah wisata (Heillbronn dalam Wardhono, 2014).
a. Komponen Pariwisata Berkelanjutan
Mengacu pada The World Tourism Organization (UNWTO), definisi pariwisata berkelanjutan mencakup tiga komponen, yaitu pertama berkelanjutan secara lingkungan yang didefinisikan sebagai pemanfaatan sumber daya lingkungan yang optimal melalui batasan pengambilan sumber daya, mempertahankan proses ekologi, dan menjaga kelestarian, serta keberadaan warisan alam dan keanekaragaman hayati pada destinasi wisata. Komponen kedua adalah berkelanjutan secara ekonomi dengan mengurangi tingkat kemiskinan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja. Komponen ketiga adalah berkelanjutan secara sosial budaya melalui menjaga keaslian sosial
budaya masyarakat setempat dengan aturan dan ketentuan yang disepakati bersama, pelestarian nilai warisan budaya dan adat setempat, serta meningkatkan toleransi dan pemahaman antarbudaya.
Dalam penelitian ini, definisi yang diadopsi hanya beberapa variabel saja. Variabel tersebut adalah mempertahankan proses ekologi, menjaga kelestarian dan keberadaan warisan alam, dan keanekaragaman hayati pada destinasi wisata, mengurangi tingkat kemiskinan, menjaga keaslian sosial budaya setempat, serta pelestarian nilainilai warisan budaya dan adat setempat karena disesuaikan dengan relevansi yang dapat dilihat pada lokasi studi.
b. Prinsip Dasar Pengelolaan Kawasan Pariwisata Bahari yang Berkelanjutan
Menurut Sastrayuda (2010), prinsip dasar pengelolaan kawasan pariwisata bahari yang berkelanjutan terdiri atas tiga prinsip, yaitu prinsip ¬co-ownership yang memandang kawasan wisata bahari sebagai milik bersama dengan hak dan kewajiban bersama-sama, prinsip cooperation yang memandang bahwa kepemilikan bersama menyebabkan pengelolaan pesisir dilakukan bersama-sama dengan komponen stakeholders yang ada (pemerintah, masyarakat, NGO), dan prinsip co-responsibility yang memandang bahwa keberadaan kawasan wisata bahari merupakan tanggung jawab bersama karena pengelolaannya merupakan tujuan bersama.
Kearifan Lokal dalam Pengembangan Pariwisata
Kearifan lokal adalah seperangkat pengetahuan beserta nilai dan norma tertentu yang bersumber dari hasil adaptasi serta pengalaman hidup suatu kelompok masyarakat di suatu lokasi tertentu yang kemudian memberikan
suatu bentuk pola pemikiran dan tindakan tertentu sebagai cara untuk hidup selaras dengan lingkungannya, dengan sesamanya, dan dengan diri mereka sendiri (Djajadi, 2014). Kearifan lokal dapat berbentuk tangible (tekstual, arsitektural, karya seni tradisional) dan intangible (sistem nilai, kidung, petuah), dan dari segi jenis kearifan lokal terdiri atas tata kelola, sistem nilai, prosedur, dan ketentuan khusus seperti kawasan sensitive dan kawasan/bangunan suci (Darmawan, 2010).
Manfaat Penggabungan Kearifan Lokal dalam Pengembangan Pariwisata
Menurut Walker (1996), penggabungan (inkorporasi) kearifan lokal ke dalam pengembangan pariwisata dapat memberikan manfaat dalam bidang ekonomi, fisik, maupun sosial budaya di lokasi setempat. Penjelasan tersebut adalah
- 1. ekonomi, antara lain tersedianya kesempatan kerja, terciptanya keragaman lapangan pekerjaan, serta peningkatan pendapatan penduduk maupun daerah;
- 2. fisik lingkungan, antara lain mempertahankan bangunan bersejarah dan pusaka budaya/ alam, menciptakan peningkatan infrastruktur, peningkatan upaya konservasi flora fauna dan ekosistemnya;
- 3. sosial budaya, antara lain terciptanya upaya menjaga nilai-nilai budaya setempat, meningkatkan kebanggaan warga, terjadi peningkatan kesempatan akan pendidikan yang lebih tinggi, dan membantu warga memahami diri sendiri (siapa, dimana, dan keunikan yang dimiliki).
Pendekatan Kearifan Lokal dalam Pengembangan Pariwisata
Dalam pengembangan pariwisata, terdapat pendekatan yang dapat digunakan dan berbasis kearifan lokal (Sastrayuda, 2010), yaitu
- 1. pendekatan participatory planning, dengan melibatkan seluruh unsur teoretis dan praktis dalam perencanaan dan pengembangan keberlanjutan kawasan wisata;
- 2. pendekatan potensi dan karakteristik ketersediaan produk budaya yang mampu mendukung keberlanjutan pengelolaan kawasan wisata;
- 3. p e n d e k a t a n p e m b e r d a y a a n masyarakat, dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk mengembangkan kemampuan pribadi maupun kelompok;
- 4. pendekatan kewilayahan, dengan melihat faktor keterkaitan wilayah sekitar untuk melihat potensi dan direncanakan secara seimbang;
- 5. pendekatan optimalisasi potensi yang dapat diintegrasikan, dengan memperhatikan potensi budaya dan pariwisata yang dapat diintegrasikan.
Selain itu, terdapat dua pendekatan dasar dalam melakukan gabungan kearifan lokal dalam pengembangan pariwisata (Walker, 1996), yaitu
- 1. Buying product, dengan memasukkan unsur kearifan lokal dalam produk wisata yang dapat dinikmati seperti suvenir dan kuliner.
- 2. Buying experience, dengan menggabungkan unsur kearifan lokal dalam kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan.
Penelitian ini akan menggunakan perpaduan pendekatan yang terdiri atas pendekatan partisipatory planning, pendekatan potensi karakteristik, dan ketersediaan produk budaya yang dibaurkan dengan subpendekatan buying product dan buying experience.
Pengembangan Pariwisata Alam berbasis Kearifan Lokal
Pendit (2006) memasukkan wisata bahari ke dalam bagian jenis pariwisata alam. Menurut Erickson (2001) untuk mengembangkan pariwisata alam yang dipadukan dengan unsur kearifan lokal dilakukan dengan beberapa tahap pengembangan, antara lain
- 1. mengidentifikasi sumber daya,
- 2. menyelidiki potensi-potensi yang ada,
- 3. membuat rencana program dan penatalaksanaannya,
- 4. pengembangan produk,
- 5. melakukan marketing dan komunikasi,
- 6. penelitian.
Dalam penelitian ini, hanya melakukan tahap pertama dan kedua karena disesuaikan dengan relevansi pada lokasi studi yang masih pada tahap eksplorasi dan baru memasuki tahap involvement dari segi perkembangan destinasi wisata. Hal itu mengacu pada pendapat Butler (1980).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut adalah rincian dari hasil analisis yang telah didapatkan.
Potensi Kearifan Lokal Kawasan Objek Wisata Pantai Masceti
Potensi kearifan lokal yang diidentifikasi adalah Pura Masceti, Sistem Pengelolaan Kawasan, Subak, dan Rumah Angsa
a. Pura Masceti
Pura Masceti merupakan wujud potensi kearifan lokal yang dimiliki oleh kawasan objek wisata Pantai Masceti. Berikut adalah pernyataan dari responden terkait pandangan daya tarik Pura Masceti :
Pandangan Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar
"Kalau terkenal, iya terkenal kawasannya
untuk lokal karena Puranya itu, Pura Masceti itu kan Pura Petani ya, terus kalau ada upacara melasti itu hampir semua umat hindu Gianyar itu melastinya ke Pantai Masceti."
(Ketut Mariatni, 2016)
Pandangan Kecamatan Blahbatuh
"Cukup terkenal kalau menurut kami, karena pertama itu keberadaan Pura Mascetinya."
(I Wayan Gede Bisma, 2016)
Pandangan Desa Medahan
"Ya cukup terkenal itu karena ada Pura Mascetinya."
(Bpk Agung, 2016)
Berdasarkan hasil wawancara, Pura Masceti sudah cukup dikenal dan sejauh ini menjadi komponen utama dari keberadaan kawasan objek wisata Pantai Masceti. Dari aspek potensi, Pura Masceti memiliki dua bentuk potensi, yaitu pertama bentuk kearifan lokal tangible dengan jenis arsitektural dan cagar budaya sebagai karya seni tradisional. Bentuk kedua adalah intangible dengan jenis kearifan lokal tata kelola yang khusus dimiliki Penyungsung Pura Masceti, serta jenis sistem nilai Purana, Asta Kosala Kosali, dan Tri Mandala yang dijadikan pedoman dalam berkegiatan di areal Pura. Keberadaan Pura Masceti sebagai kawasan yang disucikan berdampak ikut memengaruhi pengelolaan kawasan objek wisata Pantai Masceti karena keberadaan pura di dalam kawasan tersebut.
b. Sistem Pengelolaan Kawasan
Sistem pengelolaan kawasan objek wisata Pantai Masceti merupakan potensi internal yang sedang dicoba untuk dikembangkan oleh pihak pengelola. Berikut adalah pernyataan dari responden terkait sistem pengelolaan kawasan yang dimaksud :
Pandangan Pihak Pengelola Kawasan Objek Wisata Pantai Masceti
"Sehingga apa yang pak katakan tadi, konsep pembangunan dari segi 6P pak tambahkan konsepnya pembangunan yang terintegrasi, holistic, utuh dan menyeluruh sesuai dengan budaya bali tentu sesuai dengan ajaran khususnya agama hindu, Tri Hita Karana, dan Tri Premana, Eka Pramana, Dwi Pramana tadi itu, namun diperkuat dengan ajaran Pancasila. Nah dari sana berangkatnya dulu."
(Bung Ketut Sugata, 2016)
Mengacu pada hasil wawancara di atas, sistem pengelolaan kawasan yang sedang dikembangkan merupakan potensi kearifan lokal yang berbentuk intangible karena potensi tersebut merupakan jenis kearifan lokal berupa sistem nilai yang diwakili oleh Tri Hita Karana sekaligus memperhatikan komponen Eka Pramana, Dwi Pramana, dan Tri Pramana. Potensi ini dapat berperan sangat kuat dalam melakukan inkorporasi kearifan lokal ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan terutama disisipkan dalam kerangka konsep pengembangan kawasan tersebut karena sangat memperhatikan aspek lingkungan, sosial budaya setempat, dan aspek ekonomi masyarakat setempat.
c. Subak
Potensi kearifan lokal Subak diwakili oleh Museum Subak yang kini berada pada tahap pembangunan di kawasan objek wisata Pantai Masceti. Berikut adalah pernyataan terkait potensi kearifan lokal terkait Subak :
Pernyataan Pengelola Kawasan Objek Wisata Pantai Masceti
"Pembangunan museum subak itu atas dasar kita usulkan dengan tujuan ikut serta memberikan kontribusi atas dasar pertimbangan dan gagasan kami dengan tujuan melestarikan media sawah itu melalui pemahaman isi museum yang
kita pajangkan lewat lembaga subak, karena lembaga subak itu memang berdiri 2000 tahun lalu, tapi tidak ada perhatian yang seimbang sehingga lembaga subak itu tenggelam, tidak ada fakta tentang lembaga subak itu, maka bapak mengusulkan museum subak itu menjadi media pembelajaran dan pelestarian subak dan daya tarik tersendiri nanti."
(Bung Ketut Sugata, 2016)
Dari hasil wawancara, Subak merupakan potensi kearifan lokal yang dapat diinkorporasikan ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan sebagai salah satu daya tarik kawasan. Alasannya adalah subak merupakan bentuk kearifan lokal tangible karena merupakan karya seni tradisional yang dapat dipajangkan baik di Museum Subak maupun sebagai produk souvenir yang dapat dibeli di kawasan penelitian. Dari bentuk intangible, subak mengandung sistem nilai Tri Hita Karana sekaligus tata kelola yang sesuai dengan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan sehingga dapat dimasukkan sebagai daya tarik dalam konsep pengembangan lokasi studi.
d. Rumah Angsa
Potensi kearifan lokal lain yang dapat diinkorporasikan ke dalam komponen pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan adalah Rumah Angsa. Potensi tersebut telah ada di lokasi penelitian namun belum dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi daya tarik kawasan objek wisata Pantai Masceti. Bangunan Rumah Angsa dikatakan memiliki potensi kearifan lokal karena dapat dipandang dari dua bentuk, yaitu pertama sebagai bentuk tangible dari jenis arsitektural dan seni pahat atau ukir yang menghiasi bangunan serta hiasan patung Rare Angon sebagai karakter yang mewakili keberadaan Pura Masceti sendiri. Bentuk kedua sebagai
intangible karena terdapat nilai filosofis dari pemilihan bentuk Angsa yang mengedepankan keselarasan hubungan dengan lingkungan. Potensi kearifan lokal ini dapat diinkorporasikan menjadi daya tarik sebagai landmark kawasan sekaligus tempat penyelenggaraan kegiatan bentang darat.
Potensi Pariwisata Bahari Berkelanjutan
Dari hasil observasi terkait hasil wawancara, potensi pariwisata bahari berkelanjutan di lokasi penelitian sangat dipengaruhi oleh sistem pengelolaan kawasan yang sedang dikembangkan. Dari aspek lingkungan, terdapat potensi menciptakan hubungan yang selaras dengan lingkungan melalui mempertahankan proses ekologi yang ada serta pelestarian terhadap keanekaragaman hayati. Selain itu, potensi berkelanjutan dari aspek lingkungan didukung dengan konsep Kampus Alam dari pengelola yang memperhatikan hubungan selaras antara lingkungan dan manusia.
Selain itu, secara sosial budaya, segi berkelanjutan dipengaruhi oleh sistem penataan kawasan yang mengandung sistem nilai filosofis Tri Hita Karana sebagai bentuk pelestarian nilai warisan budaya dan adat setempat. Penerapan prinsip tersebut mencerminkan co-ownership, co-operation, dan coresponsibility yang sudah diterapkan antara pihak pengelola kawasan dengan pihak penyungsung Pura Masceti. Untuk potensi ekonomi dari segi berkelanjutan dipandang sebagai multiplier effect jika kegiatan wisata di lokasi penelitian sudah tumbuh dan berkembang dengan tetap dipengaruhi oleh sistem nilai Tri Hita Karana dan Bhuana Alit (Tri Pramana, Dwi Pramana, Eka Pramana).
Inkorporasi Potensi Kearifan Lokal ke dalam Pengembangan Pariwisata Bahari Berkelanjutan
Penggabungan konsep dasar pariwisata bahari berkelanjutan dengan konsep pendekatan pariwisata yang memadukan kearifan lokal telah teridentifikasi dapat mendorong perkembangan pariwisata pada lokasi penelitian. Penggabungan konsep tersebut dilakukan melalui pendekatanpendekatan yang masing-masing memperhatikan komponen berkelanjutan yang ada, seperti
a. Pendekatan Participatory Planning
Dengan pendekatan ini, inkorporasi diwujudkan dalam penyusunan konsep pengembangan dan penataan kawasan objek wisata Pantai Masceti yang berkelanjutan berbasis pada sistem nilai Tri Hita Karana dan Bhuana Alit sebagai pilar acuan utama. Dengan demikian, hal itu akan dapat mendukung kondisi berkelanjutan secara lingkungan melalui keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Untuk dukungan kondisi berkelanjutan sosial budaya diwakili oleh pedoman nilai keselarasan hubungan dengan sesama manusia dalam hal ini adalah para pemangku kepentingan dan juga wisatawan. Kemudian, dari segi berkelanjutan ekonomi, konsep pengembangan akan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Semua kondisi tersebut akan mengacu pada landasan Tri Hita Karana dan Bhuana Alit sebagai guardian value dari penataan kawasan objek wisata Pantai Masceti.
b. Pendekatan Potensi dan Karakteristik
Pendekatan ini akan dibagi ke dalam dua subpendekatan, yaitu pendekatan yang memadukan buying product dan buying experience. Untuk buying product akan diwujudkan dengan Penjualan produk wisata berupa hasil kesenian tradisional dengan bahan dasar yang ramah lingkungan. Produk berupa souvenir terkait Subak, miniatur Rumah Angsa, dan kuliner pantai khas kawasan Pantai Masceti.
Dengan demikian, dari komponen berkelanjutan lingkungan akan didorong melalui penggunaan sumber daya baik berupa darat maupun laut yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Kemudian dari segi berkelanjutan sosial budaya akan didorong melalui pengembangan hasil kerajinan tradisional yang mengandung nilai-nilai kearifan budaya lokal setempat. Hal tersebut akan memberikan multiplier effect terhadap komponen ekonomi sebagai akibat dari penjualan produk di lingkungan kawasan wisata.
Untuk buying experience diwujudkan dengan pengadaan jenis kegiatan bentang laut dan bentang darat dengan memanfaatkan potensi kearifan lokal dan potensi pariwisata bahari yang ada. Dalam hal ini, lebih difokuskan pada bagaimana memberikan pengalaman kepada wisatawan untuk merasakan rekreasi pantai sekaligus kearifan lokal di kawasan objek wisata Pantai Masceti. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mendorong komponen berkelanjutan dari segi lingkungan diwujudkan melalui jenis kegiatan rekreasi olahraga pantai dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan sesuai batasan yang ada.
Untuk komponen berkelanjutan sosial budaya dalam hal ini akan didorong melalui pengadaan kegiatan bentang darat yang diarahkan pada kunjungankunjungan Museum Subak, Rumah Angsa, Kunjungan ke Pura Masceti termasuk meliput upacara adat, seperti Melasti di kawasan Pantai Masceti. Adapun untuk komponen berkelanjutan ekonomi, misalnya membuat stand pameran Museum Subak yang tradisional dan melakukan penyewaan pakaian tradisional atau adat untuk masuk ke areal Pura Masceti. Dengan demikian, buying experience ditekankan pada pemberian kesan kearifan lokal namun tetap dengan mendorong pertumbuhan perekonomian di lokasi.
Untuk melaksanakan konsep inkorporasi kearifan lokal ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan di kawasan objek wisata Pantai Masceti tetap diperlukan stakeholders yang terlibat di dalamnya. Keterlibatan para pemangku kepentingan diperlukan untuk mengakomodasi berbagai perbedaan kepentingan yang ada sekaligus mendorong perkembangan kawasan objek wisata Pantai Masceti. Stakeholders yang berperan dalam p e n g e m b a n g a n i n i m e n c a k u p stakeholders kunci, yaitu pihak pengelola kawasan objek wisata Pantai Masceti dan pihak penyungsung Pura Masceti dengan jenis hubungan koordinasi. Selain itu, stakeholders lain yang terlibat adalah Bendesa Adat Medahan dan masyarakat sekitar kawasan untuk pengadaan kegiatan bentang darat dan bentang laut termasuk kegiatan perekonomian di dalamnya. Peran dari Desa Medahan dan Kecamatan Blahbatuh serta Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar juga diperlukan dalam kerja sama promosi kawasan objek wisata Pantai Masceti sendiri.
SIMPULAN
Dari hasil identifikasi, untuk menginkorporasikan kearifan lokal ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan di lokasi penelitian, dilakukan melalui penggabungan dua konsep dasar yang diadopsi dari pengembangan pariwisata yang berbasis kearifan lokal dengan pariwisata bahari berkelanjutan. Selanjutnya, hasil sintesis melahirkan konsep pengembangan dengan basis inkorporasi yang mencakup identifikasi
potensi dari dua komponen tersebut. Konsep pengembangan juga ditunjang dengan informasi tambahan dari pihakpihak yang terlibat untuk memperkuat cara pelaksanaan.
Berdasarkan hal tersebut, untuk menginkorporasikan kearifan lokal dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan di kawasan objek wisata Pantai Masceti dilakukan dengan dua pendekatan secara garis besar yaitu pendekatan pariticipatory planning dan pendekatan potensi dan karakteristik produk budaya yang dipadukan dengan pendektan buying product dan buying experience. Dari setiap pendekatan yang ada, inkorporasi kearifan lokal ke dalam pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan diwujudkan dalam bentuk penyusunan konsep pengembangan dan penataan kawasan yang berlandaskan pada sistem nilai kearifan lokal, penjualan produk wisata, pengadaan jenis kegiatan bentang laut dan bentang darat. Selain itu, kearifan lokal diinkoporasikan dengan pengadaan kerja sama antara stakeholder terkait sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing.
