PENDAHULUAN
Bertanam padi di sawah merupakan bagian budaya masyarakat Sunda. Bertanam padi di sawah kaya dengan nilai-nilai budaya tradisional. Kegiatan bertanam padi di sawah melalui tahapan tertentu, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan memetik padi. Kata yang digunakan untuk menampung konsep tahapan tadi tentu banyak. Katakata tersebut termasuk kata bidang teknologi pertanian sawah tradisional yang merupakan bagian dari sistem ilmu pengetahuan masyarakat Sunda. Sebagai salah satu kekayaan budaya lokal yang sarat nilai, kata yang memuat konsep tersebut perlu dicatat, didokumenkan, dan diketahui oleh generasi berikutnya sebelum kata-kata tersebut hilang digerus zaman.
Dalam masyarakat yang mengenal pertanian sawah termasuk masyarakat Sunda, bertanam padi di sawah merupakan pekerjaan bersama yang banyak melibatkan orang dengan keahliannya masing-masing. Artinya, bertanam padi di sawah melibatkan hubungan-hubungan sosial tertentu. Hal ini mencerminkan sistem sosial masyarakat yang ada, yakni sistem
kekeluargaan. Di dalamnya, terkandung pula nilai gotong-royong dan kerja keras. Kini nilai-nilai tersebut berubah sesuai dengan berubahnya mata pencarian masyarakat Sunda. Namun demikian, nilai-nilai sosial yang baik yang mencerminkan karakter masyarakat Sunda perlu tetap dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Teknologi pertanian sawah tradisional masyarakat Sunda menarik untuk dibicarakan. Dengan makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial yang begitu pesat, tidak terkecuali di perdesaan, masyarakat yang bermata pencarian bertani semakin hari semakin berkurang. Hal ini pun sejalan dengan makin menyempitnya lahan pertanian sawah. Tradisi bertanam padi di sawah tidak mustahil lama kelamaan akan hilang. Sebelum ditinggalkan masyarakat, tradisi ini sebagai bagian dari budaya perlu didokumenkan apalagi jika didokumenkan dalam wujud museum khusus seperti di Shanghai Cina sehingga dapat dijadikan sarana pendidikan bagi siswa. Siswa dapat mempelajari sistem pertanian sawah tradisional beserta perlengkapan yang digunakan, juga pengolahan padi secara tradisional yang mengandung nilai-nilai budaya yang bermanfaat dalam pembentukan karakter siswa.
Penelitian tentang kosakata teknologi pertanian sawah tradisional sering merupakan bagian dari penelitian kosakata dalam sudut pandang geografi dialek atau geolinguistik. Pada pengamatan penulis, penelitian tentang kata wuluku 'bajak', sebagai bagian dari penelitian kosakata secara geografi dialek sudah diteliti oleh Suriamiharja, dkk. (1984), Ayatrohaedi (1985), Tawangsih (1987), dan Wahya (2005). Berdasarkan penelitian di atas ditemukan kata wuluku dan varian serta sebarannya secara
geografis dalam wilayah tutur bahasa Sunda di Jawa Barat. Data dari penelitian inilah yang dibahas dalam artikel ini.
Artikel ini hanya membahas kata wuluku dengan pertimbangan kata ini sering dibahas dalam kajian geografi dialek, tetapi hanya di daerah tertentu. Artikel ini mencoba membahas persebaran kata tersebut di daerah yang lebih luas di Jawa Barat. Dengan upaya ini diharapkan tidak hanya diperoleh data mengenai persebaran kata wuluku, tetapi juga persebaran budaya menggunakan wuluku oleh masyarakat Sunda. Selain itu, artikel ini mencoba membahas variasi kata wuluku. Dengan diketahuinya variasi ini, akan diketahui pula bagaimana perubahan bahasa yang terjadi dalam masyarakat Sunda. Perubahan simbol dengan makna yang sama dapat terjadi karena kedinamisan bahasa sebagai alat komunikasi dan pengalaman atau kognisi masyarakat Sunda terhadap konsep kata tersebut, yang menunjukkan kedinamisan cara berpikir orang Sunda. Kata wuluku dijadikan objek kajian hanya dikaitkan sebagai sampel sehingga pembahasan lebih fokus.
Kajian Variasi dan Perubahan Bahasa
Geolinguistik atau geografi dialek secara epistemologi merupakan cabang dialektologi yang mengkaji dialek geografis sebagai objek materialnya (Wahya, 2005: 48). Dipandang dari makrolinguistik, kajian ini merupakan linguistik interdisipliner. Dialek geografis merupakan variasi geografis suatu bahasa di samping variasi sosial dan variasi temporal. Para dialektolog menggunakan istilah variasi karena istilah ini berkonotasi netral (Chamber and Trudgill, 1980: 5). Dikatakan variasi geografis karena variasi tersebut dikaitkan dengan variasi berdasarkan tempat atau lokasi yang bersifat horizontal.
Dalam tulisan ini, variasi geografis yang diamati dan dibahas adalah variasi bahasa Sunda tentang konsep bajak di wilayah tutur bahasa Sunda di Jawa Barat. Variasi ini dalam terminologi dialektologi sering disebut dialek 1 (Ayatrohaedi, 2003: 5) karena berada di wilayah tutur bahasa Sunda. Variasi ini bersifat dialektal. Unsur lingual yang menjadi perbendaharaan variasi tersebut memiliki keragaman bentuk untuk setiap variasi. Dalam hal ini variasi-variasi tersebut memiliki hierarki perbedaan jika dibandingkan dengan salah satu variasi yang diangkat sebagai variasi standar atau bahasa baku. Ada variasi yang mirip dengan bahasa bakunya, ada pula yang berbeda dengan bahasa bakunya. Lingkungan tempat lahir dan tumbuh variasi ini merupakan faktor yang berpengaruh terhadap eksistensi variasi tersebut. Variasi rmenunjukkan inovasi.
Ciri yang membedakan variasivariasi secara umum berada pada bidang fonologi, leksikon, dan morfologi. Namun, perbedaan morfologi lebih terbatas dibandingkan dengan kedua bidang yang pertama (Wahya, 2005: 41). Pembeda variasi atau dialek ini menunjukkan adanya perubahan. Perubahan-perubahan inilah yang menjadi objek penelitian dialektologi. Dialektologi berupaya mendeskripsikan perubahan-perubahan dalam bentuk variasi ini. Hal ini membedakan dialektologi dari kajian linguistik historis atau linguistik diakronis yang selalu mencari persamaan untuk menentukan kekerabatan atau untuk merekonstruksi bahasa yang lebih tua.
Variasi merupakan hasil perubahan atau inovasi (Wahya, 2015: 41). Inovasi atau pembaruan terjadi akibat adanya perubahan satuan lingual dari satuan asalnya (Wahya, 2005: 49). Inovasi ini jika didasarkan pada sumber isolek pemicunya terbagi atas inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal adalah pembaruan yang dipicu oleh sistem internal suatu isolek. Inovasi eksternal adalah pembaruan yang dipicu oleh isolek lain akibat terjadinya kontak antarisolek (Wahya, 2005: 54; 2015: 71).
Inovasi jika dilihat dari sistem internal isolek terdiri atas inovasi fonologis, inovasi leksikal, dan inovasi gramatikal. Inovasi fonologis adalah pembaruan yang terkait dengan bunyi yang membangun struktur kata. Perwujudannya bisa berupa penambahan, penghilangan, penggantian, atau pengubahan posisi bunyi atau pembalikan sehingga mengubah struktur kata atau fonotaktik kata asal atau kata pebanding (yang dibandingkan). Inovasi leksikal adalah pembaruan yang terkait dengan pengubahan struktur dan penggantian leksikon. Perwujudannya bisa berupa inovasi leksikal penuh dan inovasi leksikal parsial atau inovasi fonologis. Wujud inovasi leksikal penuh tampak pada leksikon baru yang berbeda sama sekali dari leksikon lama atau pebanding. Wujud inovasi leksikal parsial tampak pada leksikon baru yang sedikit berbeda dari leksikon lama atau pebanding. Perbedaan ini terjadi akibat penambahan, pengurangan, atau penggantian sebagian bunyi yang membentuk leksikon baru.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan geografi dialek atau geolinguistik. Secara umum penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dan kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan bahasa di lapangan dan metode cakap, yakni melakukan percakapan dengan informan (Sudaryanto, 2015: 203, 208) dengan teknik catat dan rekam di titiktitik pengamatan untuk data yang berasal dari penulis. Analisis data menggunkan metode agih atau distribusional. Metode agih metode yang alat penentunya bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto, 2015: 18). Selain itu, dalam menganalisis data digunakan pendekatan waktu sinkronis dan diakronis. Pendekatan sinkronis terkait dengan data yang dianalisis adalah data yang ada sekarang. Pendekatan diakronis terkait dengan jangkauan penafsiran data yang melewati rentang waktu yang berbeda. Dengan demikian, penelitian ini dapat dikatakan penelitian dialektologi diakronis.
Selain menggunakan data dari hasil penelitian penulis di lapangan (Wahya, 2005), digunakan pula data hasil penelitian lain sebagai pembanding dan pelengkap, yaitu data hasil penelitian Suriamiharja, dkk. (1984), Ayatrohaedi (1985), dan Tawangsih (1987). Penggunaan kedua jenis sumber data ini dimaksudkan untuk melengkapi data artikel ini agar dapat ditampilkan beragamnya kata dan varian konsep bajak dalam bahasa Sunda dan luasnya wilayah sebaran data tersebut secara geografis. Dalam kaitan melengkapi data, keterbatasan variasi data yang ditemukan pada penelitian penulis dapat dilengkapi dengan variasi lain yang ditemukan oleh penelitian lain seperti ditunjukkan di atas. Meskipun waktu penelitian berbeda, asumsi penulis adalah adanya variasi geografis di titik pengamatan yang sudah diteliti.
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menelusuri kebenaran masih digunakannya variasi geografis di titik-titik pengamatan, namun hanya menunjukkan adanya variasi geografis di titik-titik pengamatan tersebut, dalam hal ini variasi geografis kata yang menyatakan konsep bajak dalam bahasa Sunda, sebagai kata yang termasuk medan makna pertanian tradisional sawah. Pemaparan data ini dapat dimanfaatkan untuk memperkaya lema kamus bahasa Sunda di samping etimologi kosakata bahasa Sunda, khususnya kosakata bahasa Sunda dalam bidang teknologi pertanian sawah tradisional.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kata Wuluku dan Variannya
Kata wuluku 'bajak' dalam bahasa Sunda memiliki varian dialek geografis. Dari hasil penelitian Suriamiharja, dkk. di Kabupaten Bogor (1984: 204, 208, 236), di samping ditemukan kata wuluku, ditemukan pula kata waluku dan luku. Menurut Suriamiharja (1984: 236), kata wuluku merupakan kosakata bahasa Sunda lulugu 'baku', sedangkan kata waluku dan luku merupakan kosakata khas bahasa Sunda Bogor. Menurut penulis, kata waluku berasal dari wuluku; bunyi a pada suku kata pertama wa merupakan perubahan dari bunyi u karena disimilasi. Kata waluku merupakan inovasi internal, yakni inovasi fonologis dalam bahasa Sunda setempat. Kata luku dapat berasal dari wuluku, yang kehilangan suku kata pertama wu karena aferesis atau dapat pula merupakan sarapan dari bahasa Melayu setempat. Jika berasal dari bahasa Melayu setempat, kata luku merupakan inovasi eksternal.
Dari penelitian Ayatrohaedi di daerah Cirebon (1985: 185—187, 303) di samping ditemukan kata wuluku, ditemukan pula kata pluku, wluku, singkal, dan sambut. Menurut Ayatrohaedi, kata wuluku merupakan kosakata setempat atau serapan dari bahasa Jawa Kuno sehingga wuluku merupakan lambang yang tertua. Kata sambut dalam bahasa Sunda lulugu merupakan bentuk dasar dari nyambut 'menggarap (sawah) yang telah mengalami perubahan makna dari makna asalnya. Kata singkal merupakan lambang yang muncul kemudian. Kata singkal merupakan kosakata bahasa setempat atau serapan dari bahasa Jawa Kuno. Kata ini telah mengalami penyimpangan makna dari makna kata itu dalam bahasa Sunda lulugu, yakni tempat mata bajak. Pada pandangan penulis, kata singkal ada kaitannya dengan singkalan yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti bongkah tanah terlempar ke samping oleh bajak (Zoetmulder, 2011: 1098). Kata sambut dan singkal merupakan inovasi internal dalam bahasa Sunda setempat.
Kata wluku dan pluku merupakan kosakata yang dipengaruhi bahasa Jawa Cirebon. Dua kata ini merupakan inovasi eksternal dalam bahasa Sunda setempat. Pada pandangan penulis, kata wluku berasal dari wuluku yang kehilangan bunyi u pada suku kata pertama. Kata pluku berasal dari kata wluku; bunyi p merupakan perubahan dari bunyi w karena disimilasi regresif.
Dari penelitian Multamia di Bekasi (1987: 161) ditemukan kata wuluku dan luku. Pada pandangan penulis, kata wuluku merupakan kosakata bahasa Sunda baku. Kata luku di daerah tersebut kemungkinan besar serapan dari bahasa Melayu setempat (Chaer, 2009: 263). Kata luku dalam bahasa Sunda di daerah ini menjadi kosakata khas setempat. Kata luku merupakan inovasi eksternal dalam bahasa Sunda setempat.
Penelitian Wahya di perbatasan Bogor-Bekasi (2005) menemukan kata wuluku, luku, singkal, dan garu untuk konsep bajak. Kata wuluku merupakan kosakata bahasa Sunda baku. Kata luku kemungkinan besar serapan dari bahasa Melayu setempat. Kata ini merupakan inovasi eksternal dalam bahasa Sunda setempat. Sebenarnya secara fonologis dapat juga kata itu berasal dari wuluku yang kehilangan suku kata pertama wu sebagai gejala aferesis. Kata singkal dan garu berasal dari bahasa Sunda baku. Kata singkal merupakan bagian dari wuluku sehingga sebagai konsep bajak, kata singkal mengalami perluasan makna.
Kata garu untuk konsep wuluku mengalami pergeseran makna. Kata garu asalnya berarti alat untuk meratakan tanah setelah dibajak (Panitia Kamus Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, 2007: 134; Hidayat, dkk. 2007: 35). Kata singkal dan garu merupakan inovasi internal, yakni inovasi semantis, dalam bahasa Sunda setempat. Perbedaan bentuk alat
Gambar 1 Wuluku
(Sumber: Hadi, dkk., 1991: 167)
Gambar 2 Garu (Sumber: Hadi, dkk., 1991: 168)
| No. | Kata | Lokasi Penggunaan | Etimologi | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | wuluku | Bogor, Bekasi, Perbatasan Bogor-Bekasi, Cirebon | kata baku | kata lama |
| 2 | waluku | Bogor | kata setempat | inovasi fonologis |
| 3 | wluku | Cirebon | kata setempat | inovasi eksternal |
| 4 | pluku | Cirebon | kata setempat | inovasi eksternal |
| 5 | luku | Bogor, Bekasi, Perbatasan Bogor-Bekasi. | kata setempat | inovasi eksternal |
| 6 | singkal | Perbatasan Bogor-Bekasi, Cirebon | kata baku | inovasi semantis |
| 7 | sambut | Cirebon | kata setempat | inovasi semantis |
| 8 | garu | Perbatasan Bogor-Bekasi | kata baku | inovasi semantis |
Tabel 1 Kata Wuluku dan Variannya
wuluku dan garu dapat diamati pada gambar 1 dan gambar 2.
Dari hasil penelitian di empat lokasi penelitian sebagai sampel, kata wuluku dikenal di empat lokasi penelitian, yakni Bogor, Bekasi, perbatasan Bogor-Bekasi, dan Cirebon. Kata luku hanya dikenal di tiga lokasi penelitian, yakni Bogor, Bekasi, dan perbatasan Bogor-Bekasi. Kata singkal hanya dikenal di dua lokasi penelitian, yaitu di perbatasan Bogor-Bekasi dan Cirebon. Lima kata lainnya, yakni waluku, wluku, pluku, sambut, dan garu masing-masing hanya dikenal di satu lokasi penelitian. Kata waluku hanya dikenal di Bogor. Kata garu hanya dikenal di perbatasan Bogor-Bekasi. Kata wluku, pluku, dan sambut hanya dikenal di Cirebon (amati Tabel 1).
Distribusi Geografis Kata Wuluku dan Variannya
Sebuah konsep budaya yang diungkapkan oleh sebuah bentuk linguistik berupa kata, tidak hanya bentuk kata itu yang dapat berubah, tetapi maknanya pun dapat berubah. Apa yang sudah dipaparkan pada varian kata wuluku di atas merupakan bukti bahwa bentuk dan makna kata tersebut dapat berubah. Peristiwa seperti itu menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis. Kedinamisan bahasa bersifat universal. Kedinamisan bahasa menunjukkan kedinamisan pemakai bahasa. Dalam hal ini, pemakai bahasa yang dimaksudkan adalah pemakai bahasa pemilik konsep budaya tersebut. Bahasa harus dapat mengikuti perkembangan sosial budaya penuturnya. Oleh karena itulah, bahasa mengalami perubahan. Demikian pula dengan bahasa Sunda.
Sebuah kata yang memuat konsep budaya seperti di atas dapat pula menyebar dari satu tempat ke tempat lain secara geografis. Banyak faktor yang memungkinkan menyebarnya sebuah konsep budaya secara geografis. Penyebaran ini dapat tetap mempertahankan bentuk dan makna kata dalam budaya tersebut.
Kata wuluku dan variannya tidak hanya dikenal di satu tempat, tetapi dikenal pula di tempat lain oleh penutur bahasa yang sama, yakni penutur Sunda. Namun, dalam waktu yang bersamaan, bentuk dan makna konsep itu dapat pula berubah. Sebuah gelombang konsep budaya dapat menyebar secara geografis jika tidak ada kendala yang menahan gelombang tersebut. Demikian pula konsep yang menyangkut alat teknologi tradisional pertanian sawah yang sedang dibahas.
Kendala yang menahan mengalirnya gelombang dapat berupa unsur bahasa, dapat pula unsur nonbahasa. Pada paparan di atas kata wuluku, luku, dan singkal tersebar di beberapa daerah, namun tidak demikian dengan kata wluku dan pluku. Kreativitas bahasa kadang-kadang terbatas secara geografis.
Dari penelitian Suriamiharja,

Gambar 1 Peta Wuluku dan Variannya di Kabupaten Bogor (Sumber: Suriamiharja, dkk. 1984: 208)
dkk (1984) di Kabupaten Bogor dapat diamati bahwa kata wuluku menyebar secara geografis di lima belas titik pengamatan. Kata waluku menyebar di empat titik pengamatan. Kata luku menyebar di dua titik pengamatan. Penyebaran kata wuluku lebih luas dibandingkan dengan penyebaran dua varian lainnya, yaitu kata waluku dan luku. Namun, penyebaran kata waluku lebih luas daripada penyebaran kata luku. Penyebaran kata wuluku dan variannya ini dapat diamati pada Gambar 1 Peta
Wuluku di Kabupaten Bogor.
Pada penelitian Ayatrohaedi di Daerah Cirebon (1985), kata wuluku dan variannya menyebar di sejumlah titik pengamatan berbeda. Kata wuluku menyebar di 31 titik pengamatan. Kata wluku dan pluku masing-masing menyebar di satu titik pengamatan. Kata singkal menyebar di 65 titik pengamatan. Varian terakhir, yaitu kata sambut, menyebar di empat titik pengamatan. Kata singkal memiliki daerah sebar paling luas dibandingkan dengan daerah
sebar empat varian lainnya. Keadaan ini berbeda dengan keadaan di Kabupaten Bogor. Kata wuluku sebagai kata yang tua memiliki daerah sebar yang paling luas. Di Cirebon, kata wuluku lebih sempit daerah sebarnya dibandingkan dengan daerah sebar kata singkal. Penyebaran kata wuluku dan variannya di daerah Cirebon dapat diamati pada Gambar 2.
Dari penelitian Wahya (2005) di perbatasan Bogor-Bekasi, kata wuluku tersebar di dua titik pengamatan. Kata luku tersebar di 27 titik pengamatan. Kata singkal tersebar di tiga titik pengamatan. Kata garu tersebar di dua titik pengamatan. Di lokasi penelitian ini, kata luku memiliki daerah sebar yang paling luas dibandingkan dengan daerah sebar kata wuluku, singkal, dan garu. Kata lama wuluku sebagai lambang yang tua berbeda jauh luas sebarannya dengan luas sebaran kata luku sebagai inovasi eksternal dalam bahasa Sunda setempat. Untuk dapat mengamati penyebaran kata wuluku beserta variannya di perbatasan Bogor-Bekasi, dapat diperhatikan Gambar 3.
Bentuk yang baru atau inovasi, sepeti kata waluku di daerah Bogor, diduga asalnya hanya muncul di satu tempat. Namun, bentuk ini kemudian menyebar secara geografis ke tempat lain. Fenomena seperti ini merupakan fenomena universal. Dalam terminologi geografi dialek atau geolinguistik disebut difusi geografis. Dari fakta hasil penelitian di lapangan di atas, kita dapat mengetahui difusi geografis istilah teknologi tradisional pertanian sawah wuluku di beberapa tempat di Jawa Barat.
Dari Tabel 2 tampak kata wuluku tersebar di 48 titik pengamatan. Kata waluku tersebar di empat titik pengamatan. Kata luku tersebar di 23 titik pengamatan. Kata wluku dan pluku masing-masing tersebar di 1 titik pengamatan. Kata singkal tersebar di 68 titik pengamatan. Kata sambut tersebar di empat titik pengamatan. Kata garu tersebar di dua titik pengamatan. Kedelapan kata tersebut ada yang tersebar luas di daerah tertentu, ada pula yang tidak. Kata wuluku tersebar luas di Bogor. Kata luku tersebar luas di perbatasan Bogor-Bekasi. Kata singkal tersebar luas di Cirebon.
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas, istilah alat teknologi tradisional pertanian sawah wuluku beserta variannya ini masih dikenal di kalangan masyarakat, khususnya petani di beberapa tempat di Jawa Barat.
Gambar 3 Peta Bajak di Perbatasan Bogor-Bekasi. (Sumber: Wahya, 2005: 163)
| Wuluku dan | Daerah Peneliti | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| No. | Variannya | Kabupatan Bogor | Daerah Cirebon | Perbatasan Bogor-Bekasi | Jumlah |
| 1 | wuluku | 15 | 31 | 2 | 48 |
| 2 | waluku | 4 | 0 | 0 | 4 |
| 3 | luku | 2 | 0 | 21 | 23 |
| 4 | wluku | 0 | 1 | 0 | 1 |
| 5 | pluku | 0 | 1 | 0 | 1 |
| 6 | singkal | 0 | 65 | 3 | 68 |
| 7 | sambut | 0 | 4 | 0 | 4 |
| 8 | garu | 0 | 0 | 2 | 2 |
Tabel 2 Distribusi Geografis Kata Wuluku dan Variannya
Tentu dikenalnya terminologi tersebut karena masyarakat masih terlibat dalam aktivitas pertanian tradisional sawah ini. Jika masyarakat meninggalkan aktivitas ini, misalnya, karena masyarakat beralih profesi karena berbagai sebab, istilah tersebut pun tidak akan dikenal lagi. Pencatatan istilah seperti ini, misalnya, melalui penelitian geolinguistik dapat membantu mendokumenkan kekayaan dunia teknologi tradisional pertanian sawah masyarakat Sunda di Jawa Barat. Paling tidak, anak-anak kelak akan mengetahui bahwa orang tuanya dulu pernah mengenal dunia pertanian sawah dalam kehidupan mereka sebagai salah satu upaya menghasilkan bahan pangan untuk dikonsumsi sehari-hari.
SIMPULAN
Kata wuluku sebagai istilah alat teknologi tradisional pertanian sawah masyarakat Sunda ternyata memiliki kekayaan tersendiri. Kata wuluku sebagai kata dalam ranah teknologi memiliki varian akibat adanya inovasi fonologis, yaitu waluku, wluku, dan pluku. Selain itu, terdapat pula varian leksikal, yaitu singkal, garu, dan sambut. Ketiga kata terakhir ini muncul akibat terjadinya inovasi semantis. Selain dari enam kata tadi, dikenal pula kata luku. Kata luku diduga serapan dari bahasa Melayu
setempat. Ketujuh kata ini ada yang dikenal secara khas di tempat tertentu dalam masyarakat Sunda di Jawa Barat. Kata wuluku dan variannya menyebar secara geografis dengan luas daerah sebar berbeda. Dari hasil pengamatan terhadap sampel data di beberapa daerah, pemakaian kata wuluku dan variasinya memiliki sebaran geografis yang berbeda. Kata singkal lebih banyak dipakai dan lebih tersebar kemudian disusul kata wuluku dan kata luku. Istilah alat teknologi tradisional pertanian sawah masyarakat Sunda akan masih dikenal jika masyarakat Sunda masih berprofesi sebagai petani sawah. Namun, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan masyarakat, dan faktor lain, profesi bertanam padi di sawah makin berkurang. Lambat laun dapat saja ditinggalkan padahal tradisi bertanam padi di sawah ini, antara lain sarat dengan nilai budaya dan ilmu pengetahuan lokal Sunda, misalnya, karakter manusia Sunda. Istilah yang terkait dengan alat teknologi tradisional pertanian sawah ini perlu didokumenkan sebelum profesi bertani di sawah ditinggalkan. Pendokumenan dimaksudkan untuk menjadi bahan informasi atau pelajaran bagi generasi yang akan datang yang tidak sempat menyaksikan orang tuanya dulu pernah
memiliki alat teknologi lokal dalam bidang pertanian sawah. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi mereka.
