PENDAHULUAN
Fiksi mini (fikmin) Basa Sunda, selanjutnya FBS, memiliki dua makna, (1) sebuah nama grup di media sosial (medsos) dalam hal ini Facebook yang telah berhasil menyedot kalangan luas khususnya pengguna Facebook Sunda dan (2) satu jenis genre baru dalam sastra Sunda. FBS dalam pemahaman kedua, sebagai genre baru sastra Sunda, fikmin mendapat sambutan dari berbagai kalangan terbukti pada awal November 2011 hasil karya 180 pengarang telah dipamerkan di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad, Bandung. Penulisan FBS pernah pula disayembarakan dan diikuti ratusan peserta. Fenomena itu mengimplikasikan fikmin sebagai genre baru dalam sastra Sunda mendapat perhatian yang tidak setengah-setengah dari berbagai kalangan. .
Hasbullah (2012:2) menyitir
pendapat filsuf Perancis, Bourdieu yang mengistilahkan modal budaya (cultural capital) sebagai modal untuk kompetisi sosial dalam masyarakat modern. Fikmin juga merupakan sebuah modal budaya dalam wujud sastra Sunda. Ia bertenaga di dalam mengatasi gejala disorientasi modernitas hal ini karena melalui interaksi di FBS, warga masyarakat modern yang sibuk memiliki peluang untuk mengolah rasa seninya, mengukuhkan orientasi lokal, kultural, dan sosio-psikologisnya. Terdapat peluang meneguhkan kembali nilainilai kearifan lokal melalui eksplorasi kekayaan imajinasi yang singkat, padat, ringan, dan sarat makna. Semakin tenggelamnya seorang penikmat/ pengarang fiksi mini dalam dunia fikmin, ia semakin meneguhkan orientasinya pada kearifan lokal. Dengan demikian, FBS bukan sekadar peneguhan rasa seni, melainkan peneguhan rasa memiliki, rasa bijak, dan rasa humor. Sastra Sunda sangat kaya dengan nilai-nilai dan lanskap humor dari yang rendahan seperti cawokah hingga humor-humor politik, filosofis dan teologis. Inilah kekayaan batin Sunda yang menyediakan medan sastra yang enak dibaca dan perlu.
Hal lain yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah kurang diketahuinya fikmin oleh masyarakat awam, yaitu masyarakat pembaca sastra dan masyarakat umum bahwa di dalam sastra Sunda telah tumbuh satu genre baru. Selain masyarakat awam, para pengarang sastra Sunda pun (pengarang generasi lama) yang gagap teknologi dan enggan menggunakan internet kurang mengetahui perkembangan fikmin.
Sementara itu, di sisi lain Kartikasari, Anoegrajekti, & Maslikatin (2014:50) memaparkan bahwa fiksi mini mulai berkembang sejalan dengan perkembangan penggunaan akun-akun jejaring sosial di Indonesia. Dunia Twitter yang merupakan bagian dari internet menjadi pendorong kemunculan jenis karya sastra baru ini di Indonesia. Fiksimini berkembang di Twitter melalui akun @fiksimini sejak 2010. Penggunaan akun Twitter yang semakin besar di Indonesia menjadikan fiksimini sebagai jenis karya baru yang mudah diterima dan dikembangkan.
Dengan demikian, penelitian ini menjadi informasi untuk masyarakat yang belum mengetahui fikmin bahwa di dalam sastra Sunda telah muncul jenis sastra baru yang hidup di media sosial internet. Karena termasuk jenis sastra baru dalam sastra Sunda, istilah fikmin banyak yang mempertanyakannya. Di antara mereka adalah Hawe Setiawan. Setiawan (2013:1) mengatakan sampai saat ini tidak ada yang setuju pada arti pendek dalam cerita pendek. Pendek itu apa bandingannya? Mengapa tidak ada istilah cerita panjang? Cerita tiga bagian yang ada dalam majalah Mangle termasuk cerita pendek juga. Arti pendek itu rupanya panjang riwayatnya. Sekarang, dalam Facebook terdapat istilah mini. Karena kekreatifan Nazarudin Azhar, muncul karya yang disebut fikmin. Sebelum zaman Facebook pernah muncul pula istilah carita pondok mini atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan cerita pendek mini. Jika menengok ke luar, ada pula istilah minifiction dan beberapa istilah lain seperti flash fiction, short short story, dan microfiction bahkan ada nanofiction. Istilah boleh berbeda, tetapi barangnya itu-itu juga, yaitu bangun cerita yang sangat pendek. Meskipun begitu, Setiawan belum dapat memastikan arti mini yang melekat dalam fikmin. Ia baru dapat meraba-raba, jangan-jangan sifatnya tidak jauh dari puisi: sedikit kata, panjang arti.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, masalah dalam penelitian ini adalah apa dan bagaimana fikmin bahasa Sunda dipandang dari lingkungan pendukungnya, seperti pengarang, pengguna media sosial, dan karya-karya fikmin. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan fikmin bahasa Sunda dari lingkungan pendukungnya seperti pengarang, media sosial, dan karya-karya fikmin.
Meskipun tergolong genre baru dalam peta sejarah sastra Sunda khususnya dalam genre prosa, penelitian terhadap fikmin dalam bahasa Sunda sudah ada yang melakukannya. Ratih & Widyastuti (2014) melakukan penelitian "Analisis Unsur Intrinsik Fiksi Mini Bahasa Sunda Karangan Hadi AKS dina Grup Facebook Fiksi Mini Bahasa Sunda" yang di dalamnya memaparkan struktur fikmin karya Hadi AKS. Sulistiantika (2014) telah melakukan penelitian kata kerja yang terdapat dalam fiksi mini. Selain itu, Adhi (2012) mendeskripsikan struktur naratif fikmin bahasa Sunda. Kartikasari, Anoegrajekti, & Maslikatin
(2014) meneliti fikmin sebagai realitas sosial dari tinjauan sosiologi sastra.
Karena penelitian ini akan mengungkapkan fikmin dari aspek pengarang, pengguna media sosial, dan karya fikmin, teori yang digunakan adalah sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Damono. Selanjutnya, untuk mengungkapkan aspek sosiologis FBS akan dikemukakan klasifikasi dari Ian Watt, (Damono, 1993:7--8) dalam menelaah hubungan antara sastra dan masyarakat.
Fikmin dipandang dari aspek sosiologis menarik dikemukakan karena dapat mengungkapkan sisisisi lain yang ada di luar karya sastra yang turut menunjang kesuksesannya. Sesungguhnya, tidak hanya dari segi isi yang membuat fikmin "meledak", faktor di luar isi seperti pengarang dan media sosial yang sengaja atau pun tidak sengaja turut pula menjadikan fikmin menjadi laris.
Yang menjadi perhatian utama dalam aspek sosiologi sastra adalah hubungan-hubungan antara pengarang, penerbit, pembaca, atau penanggapnya. Ketiga aspek ini sudah tentu tidak dapat dipisahkan terutama dalam kaitannya dengan sistem penerbitan sastra. Oleh karena itu, pembicaraan yang terperinci mengenai setiap sistem yang membentuk sistem kesastraan sangat diperlukan.
Dalam rangka memaparkan segi sosiologis FBS di dalam penelitian ini akan ditelaah kaitan antara sistem penerbitan dalam hal ini media sosial dan sistem pengarang yang berpengaruh terhadap kelahiran fikmin bahasa Sunda.
METODE
Setelah mengamati dan mencermati FBS yang terbit di media sosial Facebook yang menarik perhatian adalah unsur penerbit, pengarang, dan karya fikminnya. Langkah pertama yang dilakukan adalah mendata penerbit, antara lain mencari latar belakang mengapa lahirnya FBS dalam media sosial dan mencari hubungan antara FBS dan media sosial. Setelah itu, mendata pengarang fikmin yang muncul dalam media sosial akun Facebook. Terakhir yang juga penting adalah mendata FBS dalam media sosial akun Facebook, khususnya yang berkaitan dengan tema.
Selain dari media sosial akun Facebook, data diambil juga dari pegiatpegiat fikmin, yaitu Dadan Sutisna, Hadi AKS. dan beberapa narasumber serta informan seperti guru, pegawai, pelajar, dan mahasiswa yang mengetahui tentang fikmin bahasa Sunda. Pemilihan Dadan Sutisna dan Hadi AKS semata-mata karena dua orang ini dipandang sebagai narasumber yang mengetahui sejarah lahirnya, sebagai admin atau operator, dan penulis serta penyeleksi yang akan publikasi.
Pengumpulan data dilakukan di Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung Barat. Pemilihan dua kabupaten tersebut dengan pertimbangan bahwa narasumber dan informan penelitian yang mengetahui dan memahami fikmin berdomisili di kabupaten tersebut. Untuk memperoleh data dari narasumber dan informan, peneliti menyiapkan instrumen penelitian. Instrumen berisi sejumlah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian seperti yang berkaitan dengan fikmin, pengarang, penerbit, dan pembaca fikmin. Instrumén penelitian sangat membantu dalam proses penelitian. Wujud instrumen telah dijadikan tolok ukur dalam hal penjabaran hasil penelitian dalam bentuk yang lebih luas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal yang menjadi perhatian utama dalam kajian sosiologis adalah hubungan-hubungan antara pengarang, penerbit, pembaca, dan karyanya. Selanjutnya, untuk mengungkapkan
aspek sosiologis atau lingkungan pendukung FBS diperhatikan konteks sosial pengarang dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Dalam kaitan ini termasuk pula faktor-faktor sosial yang bisa memengaruhi isi karya sastra. Selanjutnya, sastra sebagai cermin masyarakat, yakni seberapa jauh sastra bisa dianggap mencerminkan keadaan masyarakat. Pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan jika kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat. Untuk lebih jelasnya, bagian berikut akan mendeskripsikan hasil penelitian terhadap lingkungan pendukung fikmin bahasa Sunda.
Media Sosial sebagai Penerbit Fikmin Sunda
Fiksi mini di Barat disebut sebagai minifiction atau short short story. Fikmin di Barat terbit dalam bentuk buku. Fikmin pun dikenal di lima benua dengan berbagai istilah. Sementara itu, dalam sastra Indonesia, fikmin mulai berkembang sejalan dengan perkembangan penggunaan akunakun media sosial di Indonesia. Dalam satra Indonesia, fikmin berkembang di Twitter yang merupakan bagian internet. Kemunculan jenis karya sastra baru ini terus berkembang di Twitter melalui akun @fiksimini sejak tahun 2000. Kartikasari, Anoegrajekti, & Maslikatin (2014: 53) mencatat bahwa sebelum berkembang di Twitter melalui akun @ fiksimini, karya sastra jenis ini sudah pernah ada melalui karya penyair Sapardi Djoko Damono dalam bentuk karya prosa sangat pendek. Salah satu contoh fikmin yang ditampilkan di Twitter adalah penenun kata: Mencari presiden dalam Tumpukan Jerami-"Ketemu? "Tidak. Ini hanya ada janji-janjinya saja". Fikmin karya @penenun_kata bertema presiden yang hilang. Alur dalam fikmin ini terlihat mencari presiden yang hilang dalam tumpukan jerami. Konflik fikmin
ini terletak pada akhir cerita, yaitu mencari presiden, tetapi yang ditemukan hanya janji-janji presiden. Kata janji dalam kalimat akhir merupakan majas sikap presiden yang tidak sesuai dengan harapan.
Jika melihat fikmin di Barat dan fikmin dalam sastra Indonesia terdapat persamaan, yaitu dalam struktur tampak dari jumlah kata yang singkat. Sementara itu, perbedaan terlihat dari media penerbitannya. Fikmin dalam sastra Indonesia terbit di media sosial, yaitu di akun Twitter sementara itu di Barat dalam bentuk buku. Fikmin dalan sastra Indonesia memiliki kemiripan dalam bentuk dan media penerbitan dengan fikmin berbahasa Sunda. Jika fikmin dalam sastra Indonesia dituliskan di Twitter, fikmin dalam sastra Sunda dituliskan di Facebook. Sutisna (2016) ketika diwawancarai menjelaskan latar belakang mengapa media sosial digunakan untuk menerbitkan fikmin. Menurutnya, sastra Sunda sejak lahir sampai dengan zaman sekarang tidak gentar menghadapi perubahan zaman. Perkembangan sastra Sunda yang diawali dengan karya-karya buhun, seperti jangjawokan 'mantra', pantun 'puisi liris', wawacan, dan dongeng. Setelah itu dilanjutkan oleh karyakarya modern, seperti carpon, 'cerpen', novel, sajak, dan drama. Jika ditelusuri sejarahnya, lahirnya cerpen Sunda lebih dulu daripada cerpen Indonesia.
Ada hal lain yang lebih penting untuk mengarahkan generasi muda, yaitu media untuk publikasi atau penerbitan karya pengarang Sunda. Sampai akhir abad ke-20, karya sastra Sunda terbit dalam majalah, surat kabar, dan buku. Jumlah terbitannya terbatas, dalam seminggu hanya memuat 1—2 karya. Hal ini tidak seimbang dengan jumlah pengarang, apalagi dengan masyarakat Sunda. Lahirnya internet, terutama dengan perkembangan media sosial, tentunya membawa semangat baru. Media sosial menjadi media baru untuk penerbitan karya sastra Sunda. Internet saat ini bukan sesuatu yang aneh bagi masyarakat Sunda. Mulai dari sinilah pada 16 September 2011, Nazarudin Azhar membentuk satu grup dalam Facebook FBS.
Media untuk penerbitan FBS dalam media sosial pada grup Facebook tersebut bertujuan menampung karya-karya genre baru (fikmin) dan mewadahi pengarang-pengarang Sunda, baik pengarang yang sudah mapan maupun pengarang yang masih belajar mengarang. Media penerbitan yang dibentuk oleh Nazarudin Azhar tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari pengarang dan masyarakat pembaca. Hanya dalam waktu lima tahun, FBS yang terbit di media sosial dan pengarang yang bergabung di grup ini mencapai ribuan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Media sosial di internet hadir sebagai suatu teknologi modern yang tidak mengenal batasan ruang dan waktu. Media sosial memberikan dampak sangat signifikan untuk perkembangan sastra Sunda. Ramainya FBS di Facebook menggambarkan sedang atau telah terjadi perubahan sosial masyarakat Sunda dalam ranah sastra. FBS di Facebook juga mencerminkan realitas sosial masyarakat sastra Sunda, khususnya pengarang yang telah bermigrasi dari kertas ke nirkertas.
Hal yang masih mengkhawatirkan bahkan menjadi tanda tanya adalah bagaimana nasib fikmin ke depannya? Menurut Sutisna (2016) ada satu bangunan atau struktur karya yang lahir. Karya tersebut menjadi milik masyarakat seperti sajak dan dongeng. Keduanya tidak ada pemiliknya. Berbeda dengan FBS yang belum dapat terlepas dari grup media sosial. Jika semua admin grup berhenti atau grup di Facebook bubar, belum dapat menjamin nasib fikmin ke depannya. Pernyataan Sutisna
tersebut mengimplikasikan bahwa hidup fikmin benar-benar bergantung pada media sosial (Facebook). Jika admin atau operator fikmin di media sosial tersebut bubar, nasib fikmin belum dapat diprediksi berhenti.
Untuk mengantisipasi matinya fikmin di media sosial, beberapa penerbit cetak seperti surat kabar memberikan kesempatan pada fikmin untuk diterbitkan dalam rubrik yang sudah disediakan. Galamedia Bandung menyediakan rubrik "Sabtu Budaya" setiap hari Sabtu. Dalam rubrik tersebut dimuat beberapa fikmin disertai dengan biografi singkat penulisnya. Ada pula surat kabar Pikiran Rakyat daring yang memuat fikmin Sunda. Hadirnya fikmin Sunda dalam surat kabar tersebut minimal dapat menyebarkan fikmin secara cepat. Hal ini dipandang signifikan untuk masyarakat yang tidak dapat mengaksesnya dalam jaringan dan tidak mengikuti fikmin dalam dunia maya.
Pengarang Fikmin Sunda
Pengarang sastra Sunda memiliki idealisme bahwa kehidupan sastra Sunda harus terus lestari. Jika ada pengarang sastra Sunda yang mengejar honor melalui jalur ini, hal ini dianggap kesalahan besar. Mereka menyadari bahwa profesi sebagai pengarang tidak menghasilkan honor yang besar bahkan ada juga yang tidak mendapatkan honor.
Dilihat dari kuantitas, pengarang FBS yang menulis di media sosial berdasarkan data statistik terakhir, sekitar 14.973 orang. Penulis dan komentator atau siapa pun yang muncul di FBS di Facebook disebut anggota atau pelanggan. Data terakhir per tanggal 12 Agustus 2017 dapat dilihat pada gambar 1.
Penulis yang memublikasikan tulisannya rata-rata 100 pengarang per bulan. Seratus orang tersebut dapat berganti-ganti pengarang, misalnya
| Statistik | |
|---|---|
| Jumlah Mémber | 14.973 |
| Jumlah Fikminer | 1.785 |
| Jumlah Naskah | 67.360 |
| Jumlah Koméntar | 276.029 |
| Jumlah Jempol | 396.353 |
Gambar 1 statistik keanggotaan fikmin (Sumber: http://fikminSunda.com/buka/baca/1359254884)
bulan ini pengarang a, b, c, d, dan e yang publikasi, bulan berikutnya pengarang f, g, h, i, j, dan seterusnya.
Dari data yang ada dapat dikatakan bahwa pengarang fikmin berasal dari pengarang yang mapan dan pendatang (baru menjadi pengarang). Jika dibandingkan antara pengarang lama dan baru, justru sebagian besar orang yang menulis fikmin itu pengarang baru. Yang dimaksud pengarang lama di sini adalah pengarang sastra Sunda sebelum periode fikmin yaitu sebelum tahun 2000-an. Sementara itu, pengarang baru adalah pengarang yang muncul pada periode 2000-an yang namanya baru muncul ketika menulis fikmin. Penyebabnya bisa bermacam-macam, antara lain pengarang lama rata-rata tidak aktif di media sosial. Pengarang baru umumnya generasi muda yang masih belajar menulis dan yang belum memiliki "napas panjang" dalam mengarang. Beberapa pengarang fikmin setelah melalui proses belajar mengarang di media sosial sekarang bisa menjadi pengarang carita pondok.
Dilihat dari latar belakang profesi, pengarang fikmin cukup heterogen, antara lain guru, mahasiswa, pelajar, perempuan karier, dosen, wiraswasta, ibu rumah tangga, pedagang, dan perajin. Keheterogenan profesi tersebut memunculkan beragam topik atau tema, misalnya fikmin yang berjudul "Dewi
Sri" yang ditulis oleh Roy. "Beas raskin tos tiasa dicandak. Ka nu tos gaduh kupon, langsung wae ka bumi Pa RW" Nongtorengna toa masjid. Brul nu tos biasa meunang jatah, nyokot hancengan sewing-sewangan. Srek-srek Ceu Eha nepikeun beas semu geuneuk jeung loba kutuan di lawang dapur. Anteng milihan serah ku leungeun katuhu, nu kencana nunjal nyiru. "Deudeuh teuing, Ceu!" Halimpu sora hareupeun."Muhun, Neng!" Ngagebeg. Saha nu datang? "Gentosan ku nu ieu nyai!" Nu geulis ngasongkeun keresen eusi beas. Teu ngawalon. Satengah teu sadar, eusi nyiru dikana bobokokeun. Song barter. Can ge kumpul pangacian. Leos nu geulis dikabaya bodas ngiles. Pasosore di bale desa geus simpe kari Ki Ulis keur ngaresekeun laporan, kulutrak… bra. "Sampurasun…! Halimpu sora ti lawang. "Rampes.." Ulis kaget. "Aya kaperyogian naon, Neng? Neuteup nu dikabaya bodas. "Iyeu bade nyanggakeun beas." Ngasongkeun boboko, "Cik cobian ku salira. Kumaha rasana sangu tina beas hapeuk geuneuk tur kutuan?" sorot socana silalatuan.
Fikmin "Dewi Sri" karya Roy tersebut menggambarkan cerminan kehidupan masyarakat kelas bawah yang mendapat jatah beras miskin. Digambarkan dalam fikmin itu bahwa kualitas beras raskin sangat jelek, banyak
gabah dan warnanya gelap, serta penuh dengan kutu beras. Namun, karena tidak mampu membeli beras, masyarakat tetap menerima beras raskin tersebut. Selain itu, digambarkan pula munculnya Dewi Sri sebagai dewi padi dan dewi kesuburan yang marah melihat tampilan beras raskin.
Fikmin di media sosial menurut pandangan Sutisna (2014) muncul berkaitan dengan jumlah pengarang Sunda yang terus bermunculan. Akan tetapi, hal ini tidak diimbangi dengan media penerbitan di media konvensional. Ada 100 pengarang yang menulis pada saat bersamaan, sedangkan media seperti surat kabar atau majalah yang menerbitkannya terbatas. Media itu pun memuat karya sastra hanya seminggu sekali dan maksimal memuat 4 judul. Jika seorang pengarang tulisannya dimuat, karya lain yang ia kirimkan harus menunggu giliran kira-kira 6 bulan kemudian untuk dapat dimuat. Jadi, media yang ada sedikit, sedangkan karya sastra banyak. Media sosial yang dapat menampung karya sastra tanpa batas dan tidak terikat kertas menjadi pilihan para pengarang FBS sebagai media penerbitan. Mereka yang menulis di media sosial itu benar-benar pengarang idealisme yang mengejar kelestarian dan kehidupan sastra Sunda karena menulis di media ini tidak mendapatkan honor.
Karya-Karya Fikmin
Fikmin berkembang di media sosial. Jadi, perkembangannya dapat diketahui dari Facebook. Menyimak dan membaca fikmin di Fiksi Mini Basa Sunda dapat diketahui beberapa ciri yang menjadi karakteristiknya. Alur fikmin tidak lurus, tetapi lompat-lompat atau sorot balik. Cerita mulai dari A langsung ke E atau dari E langsung K. Cerita dapat terpatah-patah, tetapi logika tetap terjaga. Nuansa cerita puitis, liris, dan romantis.
Terkadang pembaca bingung, ini fikmin atau prosa liris. Namun, yang jelas dilihat dari struktur, fikmin sangat singkat hanya menyodorkan peristiwa sambil mengandung kejutan yang mematikan, cerita tidak datar, serta mengandung unsur dramatik secara fisik dan batin. Satu lagi yang dapat dicatat sebagai ciri fikmin adalah kejutan. Pembaca dibuat kaget di akhir cerita, mirip dengan cerita detektif. Hal yang menjadi tantangan dalam fikmin adalah harus ada kebaruan. Untuk ukuran panjang-pendeknya cerita tidak menggunakan halaman, cukup dengan jumlah kata, kira-kira 50-150 kata.
Kartikasari et al. (2014:6) mengategorikan fikmin bahasa Sunda menjadi lima jenis, yaitu cakakak (humor), warta (informasi), curahan hati, dapon, dan petingan. Cakakak adalah fikmin yang secara sengaja ataupun tidak mengajak pembaca untuk tertawa, misalnya fikmin yang berjudul "Nyandung Prit" karya Irman Dimyati
"Naha Akang geus teu suka ka abdi?" ceuk pamajikan bari molotot waktu kuring balaka hayang ngawin Neng Rani, randa bengsrat anak Juragan Haji Hasan. "Yakin bisa adil?" ceuk manehna deui bari song mikeun cikopi sagelas nu masih keneh ngebul. Aneh oge kalakuan pamajikan teh, biwir ngabamblam teu daek repeh, arik kana kawajiban ka salaki anggeur teu poho. Ningali pamajikan kitu ngadadak hate lempes. Duh hate jadi lempes. Unggal rek nyandung manehna keukeuh teu ngidinan. Naha naon nih kakurangan pamajikan? Da dipikir-pikir euweuh cawadna. Geulas gancang dicokot terus diinum, "puah...puah" cai kopi ku kuring diburakeun deui, lain amis, tapi pangset. Ti dapur kadenge nu keur akeuy-akeuyan.(FBS.com)
"Kenapa Akang sudah nggak cinta kepada saya?" kata istri sambil melotot saat aku jujur ingin menikahi
Neng Rani, janda kembang anak Juragan Haji Hasan. "Yakin bisa adil?" kata dia sambil menaruh segelas kopi yang masih mengepul. Aneh juga kelakuan istriku itu, bibirnya yang nyinyir terus mengomel, tapi ia tidak lupa dengan kewajibannya pada suami. Melihat istriku seperti itu mendadak hatiku lemes. Duh hati jadi lemes. Setiap akan berpoligami, istriku tetap tak mengizinkan. "Apa ya kekurangan istriku? Dipikir-pikir tidak ada cela. Gelas cepat diambil kemudian diminum, "puah...puah..." air kopi aku muntahkan lagi, bukan manis, tapi asin. Dari dapur terdengar istriku tertawatawa.
Fikmin "Nyandung Prit" karya Imran Dimyati sesungguhnya mencerminkan kehidupan rumah tangga yang terjadi di masyarakat. Suami yang ingin berpoligami meminta izin pada istrinya, tetapi sang istri tidak ingin dimadu. Ketidaksetujuan istri tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatannya. Ia tetap melayani suaminya seperti membuatkan kopi, tetapi kopi yang dibuatnya tidak wajar. Lazimnya kopi diseduh dengan gula, tetapi sang istri menyeduh kopi dengan garam. Alur fikmin ini lurus, tetapi di akhir cerita yang ditandai dengan "Puah…puah" merupakan kejutan yang tidak diduga sebelumnya.
Selanjutnya, "warta" adalah fikmin seulas atau dalam berita disebut straight news. Fikmin ini berfungsi memberikan informasi pada pembaca. Fikmin ini umumnya menginformasikan lingkungan sekitar kehidupan penulisnya. Fikmin curhat berisikan perasaan yang teralami, terlihat, dan terdengar oleh penulisnya. Selain itu, fikmin curhat selalu memakai frasa //tah kitu geuning// ' ya begitulah...'.
Selanjutnya, fikmin dapon 'canda' (dapon adalah hal yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh) isinya hanya bermain-main dan tidak
jelas. Lalu, petingan adalah fikmin yang ditulis dengan niat sungguh-sungguh dengan isi, ide, dan pikiran yang serius. Dalam fikmin petingan, pengarang tidak ingin mengecewakan pembaca.
Berikut fikmin petingan hasil karya beberapa pengarang yang temanya cukup beragam. "I Miss You" karya Godi Suwarna liriknya seperti berikut.
Mencrong TV. Aya warta kapal murag. Tapi duka di mana. Da pikiran teu daek museur. Hi, hi, hi! Gebeg. Sora kunti tina HP. Tanda aya SMS nu asup. Nomerna teu wawuh. Dibaca. "Halo, aku Jasmine! Masih ingatkah? I Miss You!" cenah.
Gusti. Jasmine? Mojang Berlin nu moal kopopohokeun. Geulisna. Seomeahna. Gasik ngetik ngawalonan. "Tentu saja saya ingat. Lagi apa di manakah? I Miss You" Laju dikirimkeun. Hate ujug-ujug alewoh. Warna-warni panineungan kumalangkang. Teu lilla HP disada deui. Walonan ti Jasmine. "Aku otw ke rumahmu. I Miss You!" Hah? Nyaan kitu? Aya bagja. Aya geumpeur. Tungtungna ngajemprak di tepas. Jasmine. Kungsi deukeut. Kungsi geugeut. Tilu taun ka tukang. Kari-kari rek nepungan. Duh. Lamunan kapegat ku sorakunti tina HP. SMS ti Jasmine. "Begini: kapalku meledak. Tapi ingin sekali ketemuan. Tralala, aku datang! I Miss You!" Jam dinding disada dua las kali. Angin ujug-ujug ngahiuk. Hordeng endag-endagan. Bau bangke. Nu keketrok kana jandela. Gustiii..
"Menatap TV, ada berita pesawat jatuh. Namun, entah di mana. Karena pikiran tidak fokus. Hi, hi,hi! Kaget suara kunti dari HP. Tanda ada SMS yang masuk. Nomornya tidak dikenal. Dibaca. "Halo, aku Jasmine! Masih ingat? I Miss You," katanya.
Ya Allah. Jasmine? Gadis Berlin yang tidak akan terlupakan. Cantiknya. Ramahnya. Cepet aku menjawab. "Tentu saja aku ingat. Lagi apa, di mana? I Miss
You". Cepat dikirimkan. Hati tiba-tiba banyak bicara. Warna-warna kenangan membayang. Tidak lama HP berbunyi kembali. Jawaban dari Jasmine. "Aku otw ke rumahmu. I Miss You! Hah? Benarkah? Ada senang ada gemetar. Akhirnya terbaring lemas di ruang tamu. Jasmin, pernah dekat. Pernah sayang. Tiga tahun ke belakang. Sekarang akan datang menemuiku. Lamunan buyar oleh suara kunti dari HP. SMS dari Jasmine. "Begini, kapalku meledak, tapi aku ingin sekali bertemu. Tralala, Aku datang! I Miss You!" Jam dinding berbunyi dua belas kali. Angin tiba-tiba berembus. Gorden bergerak-gerak. Bau bangkai. Ada yang mengetuk jendela. Ya Allah'.
Fikmin karya Godi Suwarna tersebut termasuk kategori petingan yang isinya menggambarkan suasana ketegangan, kecemasan, dan kegamangan yang dialami tokoh aku ketika menerima SMS dari Jasmin, mantan kekasihnya asal Jerman. Awalnya, tokoh aku tidak mengetahui bahwa berita pesawat jatuh dari TV yang sedang ditontonnya adalah pesawat yang membawa Jasmine, kekasihnya yang berwarga negara Jerman. Ketika aku menerima SMS kedua yang menerangkan bahwa pesawat yang ditumpangi Jasmin meledak dan tiba-tiba tercium bau bangkai, tokoh aku lirik sadar bahwa Jasmin sudah jadi arwah. Alur fikmin karya Godi Suwarna ini menggunakan alur sorot balik. Hal itu tampak dari urutan peristiwa yang dialami tokoh aku. Awalnya, tokoh aku menerima SMS dari mantan pacarnya. Setelah itu, peristiwa kembali ke belakang dengan menggambarkan kenangan tokoh aku dengan pengirim SMS bernama Jasmine. Munculnya berita kecelakaan pesawat yang di dalamnya ada Jasmine mengembalikan peristiwa ke masa kini. Lalu, akhir cerita yang ditandai dengan suara kunti, bau bangkai, dan angin berhembus menjadi tanda bahwa Jasmine sudah meninggal. Akhir kisah
fikmin ini juga merupakan sebuah kejutan. Peristiwa angin berhembus, bau bangkai, dan suara kunti mencerminkan realitas sosial yang terjadi di masyarakat yang masih mempercayai hal-hal yang berkaitan dengan mitos.
Fikmin yang juga khas dan unik adalah yang berjudul "Londok" karya Tony Lesmana. Kita baca lirik fikmin tersebut.
"Langit kayas, langit kayas...! reang ti sato ka sato. Rabul ti saban panyumputan. Sarerea taranggah bari metot urang genggerong. Aya oge nu rageg babaung. Anu hanten gagauran. Aya nu kongkorongok. Tuluy sakabehna kapireng siga anu babarengan ngabekur. "Bulan kayas!" Mega kayas!" ceuk nu kidul. "Daun kayas! Tangkal kayas!" cek nu kaler. "Batu kayas! Cadas kayas!" ti wetan teu eleh. "Cinyusu kayas!" Walungan kayas!" Uing kayas! Dewek kayas! Aing kayas!" cek sarerea sabada ngagarap diri sorangan. Tuluy silitunjuk. Sarerea harita jaradi londok. Londok kayas.
'Langit merah jambu, langit merah jambu...! Suara riuh dari hewan ke hewan. Berdatangan dari tiap persembunyian. Semua menengadah sambil menarik urat leher. Ada pula yang ramai mengaung. Yang terus bergeram. Yang kukuruyuk. Semuanya bersamasama bersuara. "Bulan merah jambu! Awan merah jambu!", kata yang di barat. "Daun merah jambu, pohon merah jambu!" kata dari timur. "Batu merah jambu, Cadas merah jambu! "Air gunung merah jambu! Sungai merah jambu! Aku merah jambu."kata semuanya setelah mengerjakan diri sendiri. Terus saling menunjuk. Semua pada waktu itu jadi landak. Landak merah jambu.
Dalam fikmin tersebut kata yang mendominasi adalah kayas atau 'merah jambu'. Makhluk yang menyebut kayas itu dipersonifikasikan melalui binatang dan tumbuhan. Kayas atau merah
jambu umumnya melambangkan kasih sayang. Agaknya mereka penghuni bumi tak terkecuali hewan dan tumbuhan menjunjung kasih sayang di antara mereka.
Fikmin berikut yang juga cukup menarik adalah yang berjudul "Tulang" karya Hadi AKS.
Bari ngahariring atau alum humarurung. Manehna mindeng ngumpulkeun tulang nu kasilihkeun ti Taman Pahlawan. Tulang nu coplok pasiksak, biheung tina raga badag anu saha. Taya tanda jeung titimangsa. Tapi manehna satia. Ngariksa ngampihan, ngadama-dama lantaran yakin yen dina hiji mangsa, aya getih tina daging tinu sungsum eta tulang. Getih nu ngucur kana pucuk jujukutan lemah cai. Tepi ka hiji poe. Basa tulang talengna geus numpuk sakuriling. Manehna imut leleb pisan. Lalaunan ngareka tulang nu pasolengkah. Nyien raraga wangunan, jleg ngadeg. Banderan gelebet dina suhunan. Ceuk batur, eta teh imah nu owah. Ceuk manehna, eta teh nagara Indonesia.
'Sambil bersenandung atau sedih berkepanjangan. Dia sering mengumpulkan tulang belulang yang terlupakan dari Taman Pahlawan. Tulang yang lepas rusak berserakan, entah dari tubuh siapa, tiada tanda dan penanggalan. Tapi, dia setia. Menjaga menyimpan, memuja-muja karena yakin bahwa dalam suatu masa, ada darah dari daging, dari sumsum tulang itu. Darah yang mengucur pada pucuk rerumputan bumi pertiwi. Sampai pada suatu hari. Waktu tulang belulang sudah menumpuk di sekeliling. Dia senyum dengan mantap, pelan-pelan mereka tulang yang berserakan, membuat struktur satu bangunan kemudian berdiri di atas bubungan. Kata orang, itu rumah yang sakit ingatan, kata dia itu bangunan negara Indonesia'
Semangat nasionalis dan keIndonesiaan dalam fikmin "Tulang"
secara tersirat cukup tergambarkan. Tulang yang berserakan, taman pahlawan, dan darah dalam fikmin "Tulang" karya Hadi AKS ini membayangkan semua yang terjadi dalam masyarakat yang berkaitan dengan pahlawan, misalnya kurangnya perhatian pemerintah kepada pahlawan.
Satu lagi fiksi mini yang mengandung tema humor adalah fikmin karya Yusef, yang berjudul "Euis" sebagaimana dalam kutipan berikut.
Aya nu keketrok tarik naker. Basa tengah peuting nyien fikmin. Bray panto dibuka. Lalaki jangkung badag. Ngabedega bari molotot. "Anjeun Yusef, nya?" "Su...su...muhun." dijawab bari arap ap eureup eup. "Nepangkeun kuring Togar," pokna. Sorana tarik pisan. "To...To... Togar?" beuki ngadenge ieu rasa. "Montong api-api, Sef! Maeunya teu apal. Kuring salah sahiji tokoh jijieunan maneh dina fikmin. "Gebeg! Ieu jajantung asa lesot. "Togar ca...ca... roge Euis?" Nanya teh bari bingung. Naha Togar aya bungkeuleukanna. "Ari enggeus Togar mana deui atuh?" Nyentak. "Kuring protes! Kahiji, kuring teu tarima jadi garong, jambret, jeung copet. Sakali-kali jadi brimob atawa pengacara. Kadua, teu narima si Euis dijadikeun bangsat kutang. Sakali-kali jadikeun polwan!" Manehna renghap ranjug.
'Ada yang mengetuk pintu sangat keras. Ketika tengah malam sedang membuat fikmin. Kemudian pintu dibuka. Lelaki tinggi besar. Berdiri sambil melolot. "Kamu Yusef, ya?" "Ya.ya..." dijawab sambil terbata-bata. "Kenalkan, saya Togar," katanya suaranya keras. "To...Togar?" tambah terdengar oleh perasaan. "Jangan berpura-pura, Sef! Masa tidak hapal. Aku salah seorang tokoh ciptaanmu dalam fikmin. "Deg, jantung terasa copot. Togar suaminya Euis?" bertanya itu sambil bingung. Kenapa Togar ada raganya. "Ya, Togar,
Togar mana lagi?" bentaknya. "Aku protes! Satu, aku tidak terima jadi garong, jambret, dan copet. Sekali-kali jadi brimob atau pengacara. Kedua, tidak terima si Euis jadi pencuri BH. Sekalikali jadikan polwan, napasnya turun naik.
Fikmin tersebut mencerminkan mitos-mitos di seputar pengarang yang kadang-kadang membayangkan tokoh ciptaan dalam fikminnya menjelma jadi hidup dan datang menemui pengarangnya. Dalam fikmin tersebut Togar tokoh ciptaan Yusef datang menemui penciptanya. Maksud kedatangan Togar adalah protes pada penciptanya agar penokohannya tidak sebagai garong, tetapi ingin sebagai brimob atau sebagai pengacara. Togar juga tidak menerima, Euis, istrinya sebagai pencuri. Ia ingin Euis ditampilkan sebagai polwan.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian terlihat adanya temuan penelitian ini adalah fikmin merupakan genre baru di dalam sastra Sunda. Fikmin hidup di media sosial atau tepatnya dalam grup FBS di Facebook. Pengarang, penulis, dan pembaca dalam grup ini disebut anggota. Anggota dalam grup ini berjumlah antara 12 ribu—14 ribu orang. Jumlah ini cukup signifikan jika dibandingkan tahun 2011 yang hanya beberapa orang. Jumlah yang cukup fantastis itu tidak sertamerta menulis secara massal pada saat bersamaan, tetapi setelah dihitung secara rata-rata per bulan yang memublikasikan karyanya hanya 100 pengarang.
Sistem penerbitannya menujukkan kecenderungan bahwa FBS terbit di media sosial Facebook di internet. Di samping itu, beberapa penerbit atau surat kabar seperti Galamedia yang menerbitkan fikmin yang sudah dipublikasikan di Facebook. Variasi sistem penerbitan ini menunjukkan bahwa tidak semua pengarang atau pembaca membuka Facebook di internet.
Kemudian, dari sistem karya dapat diketahui bahwa fikmin disebut genre baru dalam sastra Sunda karena memiliki karakteristik yang membedakannya dengan genre lain dengan genre carpon 'cerita pendek' misalnya. Sesuai dengan namanya fikmin menunjukan cerita rekaan yang merujuk ke prosa, sedangkan mini menunjuk pada bentuknya yang sangat pendek yang dapat dihitung berdasarkan jumlah kata, yaitu antara 50—150 kata. Stukturnya memiliki alur yang lompat-lompat dan mengandung renjagan atau 'kejutan' yang tidak diduga oleh pembaca.
