PENDAHULUAN
Pemilihan presiden merupakan peristiwa politik yang sangat penting di Indonesia yang memiliki bentuk pemerintahan presidentil. Dalam bentuk pemerintahan tersebut presiden merupakan pemangku kekuasaan tertinggi dalam menentukan hampir semua kebijakan di pemerintahan. Sejak zaman reformasi 1998, pemilihan presiden di Indonesia yang terjadi 5 tahun sekali menjadi semakin menarik untuk diamati. Dengan atmosfer politik yang lebih demokratis, pemilihan presiden pun dilakukan secara langsung oleh rakyat.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perspektif media elektronik asing terhadap kandidat presiden tersebut. Surat kabar elektronik atau e-paper digunakan sebagai sumber data karena penyebarannya yang sangat luas.
S u r a t k a b a r e l e k t r o n i k
m e m u n g k i n k a n k i t a m e l a k u k a n penelitian terhadap teks yang jumlahnya sangat banyak dengan metode analisis data secara ekstensif. Dengan analisis yang ekstensif, kita dapat menganalisis data dengan cakupan yang sangat luas tanpa harus menganalisis data tersebut satu per satu. Salah satu metode yang dapat menganalisis data dengan cakupan yang luas adalah linguistik korpus (corpus linguistics). Linguistik korpus merupakan metode yang dapat menganalisis data dalam jumlah yang besar dengan menggunakan teknologi komputer sebagai alat bantunya (Mc Enery, 2012). Akan tetapi, untuk melakukan analisis terhadap data secara mendalam, metode ini saja tidak cukup. Diperlukan metode lain yang dapat menganalisis data secara mendalam. Salah satu metode analisis yang mendalam adalah analisis wacana dan analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis menggunakan data linguistik dengan menempatkan bahasa sebagai produk dari dunia sosial atau praktik sosial.
Penggabungan dua metode ini belum dilakukan di Indonesia. Akan tetapi, di dunia linguistik, di Barat, hal ini telah menjadi kecenderungan baru untuk analisis linguistik dan banyak digunakan dalam penelitian. Beberapa peneliti yang telah menggunakan kedua metode tersebut adalah Majid (2010), Baker et al (2012), dan Haider (2016). Salah satu metode gabungan yang dapat digunakan untuk menganalisis data dengan jumlah yang banyak dan dengan kedalaman analisis yaitu Corpus-Assisted Critical Discourse Analysis (selanjutnya disingkat CACDA). Secara prinsip, CACDA merupakan metode yang membandingkan fitur-fitur yang ada di dalam teks, tipe-tipe wacana tertentu, dan mengintegrasikannya ke dalam teknik analisis yang dikembangkan dengan korpus linguistik.
Hal ini mencakup kompilasi korpora dan analisis terhadap daftar kata serta kumpulan kata, komparasi daftar katakata kunci, serta konkordansi. Pada tahap selanjutnya, analisis difokuskan dengan menggunakan analisis wacana kritis (selanjutnya disingkat AWK). Fitur-fitur yang telah dianalisis dalam korpus linguistik menjadi bahan penting untuk melihat penggunaan bahasa tersebut dalam konteks sosial dan politik yang membentuk teks, yang mensiratkan dominasi, dan ideologi tertentu.
Pemberitaan media massa dengan jumlah data yang banyak merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Kita dapat melihat kecenderungan wacana yang muncul dalam sebuah pemberitaan dengan menganalisis data secara ekstensif. Selama ini, data wacana pemberitaan banyak dianalisis dengan satu metode saja, yaitu metode yang bersifat ekstensif seperti korpus, atau dianalisis dengan metode intensif seperti analisis wacana saja. Dalam penelitian ini, pemberitaan di media massa akan dianalisis dengan metode campuran, yaitu dengan CACDA.
Secara umum, CACDA bekerja dengan menggabungkan dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif (Baker, 2010). Pendekatan kuantitatif hadir melalui metode korpus yang di dalamnya akan menganalisis data dalam jumlah besar. Data dalam jumlah besar ini akan dianalisis dengan cara menghitung frekuensi kemunculan dan kuantitas kata-kata yang hadir di dalam konstruksi tertentu. Data kuantitatif ini penting untuk membuktikan sebuah makna, konstruksi realitas yang dibangun oleh wacana dapat dibuktikan secara kuantitas. Hal ini untuk menghindari pendekatan yang bersifat intuitif atau berdasarkan perasaan saja. Selanjutnya, pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif tersebut. Pendekatan ini akan digunakan untuk memperoleh kedalaman pemahaman mengenai makna, konstruksi realitas, dan lain-lain secara kritis.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari metode CACDA adalah kita dapat menganalisis data secara ekstensif sekaligus mendalam. Sebuah wacana yang muncul dalam pemberitaan akan memiliki makna tertentu, sesuai dengan cara wacana tersebut dikonstruksi dalam pemberitaan yang terus-menerus, seperti yang disampaikan Hardt-Mautner (2009) dan Baker (2010) bahwa dengan analisis data yang luas dan sekaligus mendalam, kita akan mendapatkan cara bagaimana sebuah wacana dibangun melalui konstruksi kebahasaan.
Selain hal-hal di atas, kita dapat melihat bagaimana sebuah wacana bermakna tertentu berdasarkan data korpus yang banyak. Pemberitaan media tentang tokoh politik tertentu dan apa yang ia lakukan dapat dianalisis dengan data korpus yang luas dan analisis tingkat berikutnya secara mendalam. Misalnya, pemberitaan tentang Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, dalam data yang sangat luas akan menghasilkan kecenderungan ideologis tertentu dari media yang memberitakannya atau kecenderungan representasi tertentu tentang sosok tersebut. Ideologi di sini dapat dipahami sebagai sebuah cara seseorang atau sekelompok orang melihat seseorang, kelompok lain, atau dunianya.
Korpus linguistik sering didiskusikan sebagai linguistik yang berlawanan dengan linguistik Chomskyan, yang terfokus pada kompetensi bahasa dan intuisi penutur asli sebagai basis untuk teori linguistiknya (Adolphs, 2006). Lebih lanjut, Adolphs menjelaskan ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan menganalisis teks elektronik. Pertama, penggunaan analisis teks elektronik merupakan proses yang dapat direplikasi. Dengan kata lain, peneliti
lain dapat mengecek validitas analisis dengan metode yang sama dan hasil yang relatif objektif. Kedua, analisis teks elektronik menghindarkan peneliti dari analisis yang intuitif. Hal ini menyangkut informasi tentang frekuensi kemunculan sebuah kata dan kookuransi kata-kata tertentu. Ketiga, analisis teks elektronik memungkinkan peneliti untuk memanipulasi data bahasa di dalam banyak cara untuk disesuaikan dengan tujuan penelitian. Keempat, sekali menyortir data dengan cara yang dapat diakses, kita dapat melakukan analisis lebih lanjut terhadap data tersebut. Kelima, analisis data elektronik dapat dilakukan pada level yang berbedabeda. Keenam, analisis teks elektronik dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berbagai keuntungan ini memberikan peluang analisis yang sangat besar kepada para peneliti sehingga memungkinkan didapatkan analisis yang komprehensif.
Salah satu hal yang menarik untuk dianalisis dengan menggunakan metode ini adalah pemberitaan tentang seorang tokoh politik, misalnya Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia. Kecenderungan bahasa yang muncul di dalam pemberitaan tentang sosok Joko Widodo akan memunculkan sebuah pola makna tertentu di dalam analisis CACDA. Dengan analisis ini akan dapat dilihat bagaimana Joko Widodo direpresentasikan, kata-kata apa saja yang paling sering muncul, medan makna apa yang muncul dengan konstruksi bahasa yang ada, dan kecenderungan ideologis yang muncul dari produsen berita (wartawan dan media).
METODE
Penelitian ini akan menggabungkan dua metode, yaitu analisis wacana kritis (CDA) dan linguistik korpus. Metode penelitian ini dikenal sebagai Corpus-Assisted Critical Discourse
Analysis atau CACDA (Partington & Haarman, 2004). Pada dasarnya, metode ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis data. O'Halloran dan Coffin (2004), Orpin (2005), van de Mieroop (2005), Kyrala (2009), dan Baker (2010) mendukung metode penelitian ini.
Metode penelitian ini mencakup tiga struktur, yaitu mikro, meso, dan makro (Fairclough, 1995). Pada struktur mikro akan difokuskan pada pengolahan teks elektronik berupa leksikal dan koherensi dengan menggunakan metode korpus linguistik. Media SMH akan menjadi kajian pada tataran meso dan makro karena berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi berita serta ideologi dari media tersebut. Sebagai kajian dalam tataran makro, konteks peristiwa yang menjadi topik utama pada teks dalam periode 2014- 2016 menjadi fokus berikutnya selain pembahasan tentang Australia yang menjadi negara tempat surat kabar tersebut diterbitkan.
Baker et al., (2008), Hardt-Mautner (2009), dan Partington (2008) menjelaskan beberapa langkah yang dapat diikuti oleh para peneliti dalam studi analisis CACDA. Langkah pertama adalah merancang pertanyaan penelitian. Langkah berikutnya adalah membangun dan menyusun korpus yang sesuai. Langkah ini mencakup prosedur yang berbeda, seperti mendapatkan hak cipta teks, dan mengatur korpus. Langkah ketiga adalah menginvestigasi konteks dengan membaca sejarah, politik, dan budaya dari topik yang sedang diteliti. Langkah ini juga mencakup surfing literatur yang ada dan membaca beberapa studi yang memanfaatkan kedua metode tersebut. Selanjutnya adalah menemukan paket perangkat lunak CL yang sesuai untuk menjalankan korpus. Langkah kelima adalah membuat daftar frekuensi dan kata kunci, memeriksa
frekuensi relatif terhadap topik yang dibahas, serta kata kunci statistik yang signifikan dan terkait langsung dengan topik ini. Kemudian, memeriksa daftar kolokasi dan gugus untuk beberapa pola leksikal yang telah ditemukan pada langkah sebelumnya. Langkah berikutnya adalah membuat analisis konkordansi kualitatif untuk beberapa pola leksikal yang ditemukan pada langkah sebelumnya. Setelah itu, daftar yang dibuat pada langkah 5-7 diamati dan dipelajari untuk menemukan item yang tampaknya berkelompok menjadi seperangkat semantik. Selanjutnya, data dianalisis dalam konteks yang lebih luas berdasarkan makna leksial dan jenis koherensinya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagai langkah analisis teks, peneliti menggunakan beberapa operasi software linguistik korpus yang relevan, antara lain wordlist (daftar kata), frequence (frekuensi), N-grams/cluster, kolokasi, dan konkordansi. Melalui aplikasi concordance software Sketch Engine dan AntCont, didapat salah satu hasilnya seperti yang ditampilkan dalam Tabel I.
Tampak dalam tabel I bahwa kata yang memiliki makna leksikal dengan frekuensi yang tinggi adalah: Indonesia (1.117), Jokowi (811), president (621), Indonesian (567), has (760), Mr (532), Joko (528), Prabowo (435), Jakarta (422), Australia (413), dan Widodo (333). Nama Jokowi atau nama lain yang merujuk pada sosok yang sama lebih sering muncul dalam pemberitaan dibanding dengan nama Prabowo.
Penelusuran lebih jauh untuk mendapatkan konteks yang lebih luas dengan menggunakan konkordansi yang diperluas (extended concordance) ditemukan bahwa penggambaran sosok kandidat presiden (Jokowi dan Prabowo) dengan leksikon yang berkolokasi
TABEL I FREKUENSI DAN DAFTAR KATA DALAM ARTIKEL YANG MEMUAT JOKOWI
| Urutan | Frekuensi | Daftar Kata (Word list) | |
|---|---|---|---|
| 1 | 7.029 | the | |
| 2 | 3.623 | to | |
| 3 | 3.336 | of | |
| 4 | 3.057 | and | |
| 5 | 2.769 | а | |
| 6 | 2.628 | in | |
| 7 | 1.873 | S | |
| 8 | 1.487 | is | |
| 9 | 1.325 | he | |
| 10 | 1.274 | for | |
| 11 | 1.219 | that | |
| 12 | 1.117 | indonesia | |
| 13 | 1.071 | on | |
| 14 | 1.025 | as | |
| 15 | 990 | his | |
| 16 | 954 | it | |
| 17 | 822 | with | |
| 18 | 811 | jokowi | |
| 19 | 810 | was | |
| 20 | 760 | has | |
| 21 | 747 | bе | |
| 22 | 699 | by | |
| 23 | 621 | president | |
| 24 | 598 | but | |
| 25 | 569 | said | |
| 26 | 567 | indonesian | |
| 27 | 558 | this | |
| 28 | 536 | have | |
| 29 | 534 | are | |
| 30 | 532 | mr · | |
| 31 | 528 | joko | |
| 32 | 520 | not | |
| 33 | 516 | from | |
| 34 | 510 | at | |
| 35 | 458 | an | |
| 36 | 456 | will | |
| 37 | 435 | prabowo | |
| 38 | 422 | jakarta | |
| 39 | 413 | australia | |
| 40 | 380 | they | |
| 41 | 357 | who | |
| 42 | 352 | their | |
| 43 | 340 | had | |
| 44 | 333 | been | |
| 45 | 333 | widodo | |
| Kandidat | Prosodi Semantik | |||
|---|---|---|---|---|
| Positif | Negatif | Netral | ||
| Jokowi | 94% | 3,5% | 2,5% | |
| Prabowo | 15,8% | 79% | 5,2% | |
TABEL II REPRESENTASI JOKOWI DAN PRABOWO
TABEL III IDENTIFIKASI REPRESENTASI KANDIDAT PILPRES 2014
| Kandidat | Representasi |
|---|---|
| Jokowi | Sederhana, tenang, antikorupsi, tidak radikal, pekerja keras, berpenganruh besar, nasionalis dan marhaenis, visioner dan reformis, antimainstream |
| Prabowo | Mantan jenderal, menantu Suharto, penculik aktivis mahasiswa, dikaitkan dengan kerusuhan etnis Cina – Pribumi, tidak disukai Amerika, ultranasionalis |
dengan kedua nama tersebut kemudian diklasifikasi berdasarkan prosodi semantiknya (positif, negatif, dan netral). Setelah setiap korpus dikonfirmasi dengan metadata yang berupa topik berita, ditemukan persentase representasi Jokowi dan Prabowo seperti yang disajikan dalam tabel II.
Analisis kualitatif terhadap hasil konkordansi yang diperluas berdasarkan prosodi semantik leksikon dan koherensi yang menggambarkan sosok Jokowi pada setiap topik beritanya menunjukkan beberapa karakter yang digunakan SMH dalam pemberitaannya. Identifikasi penggambaran kedua kandidat tersebut disajikan dalam tabel III. Analisis kritis menunjukkan Jokowi yang berlatar belakang sipil dan wirausaha lebih sering dicitrakan positif dibandingkan Prabowo yang berlatar belakang militer dan perpangkat jenderal.
Tipe-tipe wacana yang digunakan untuk merepresentasikan sosok kandidat presiden oleh SMH dalam pemberitaannya meliputi paradigma sipil vs militer, inkonsistensi yang merepresentasikan ketidaktegasan; antidemokrasi yang mencerminkan kesewenangan dan otoriter; kesadaran palsu yang menggambarkan kebohongan, antikorupsi yang mencitrakan kesempurnaan; dan inkompeten yang menggambarkan ketidakprofesionalan.
Melalui analisis meso dan makro ditemukan bahwa representasi Jokowi dan Prabowo oleh SMH tak lepas dari ideologi SMH sendiri. Secara latar belakang, media Sydney Morning Herald merupakan surat kabar yang berpaham liberal dan cenderung tidak terlalu baik dengan Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan pemberitaan yang bersifat kritis, bahkan pada beberapa kasus terlihat tendensius. Apalagi pers Australia memang dikenal sangat kritis terhadap Indonesia, setidaknya selama enam tahun terakhir ini, terutama saat Australia berada di bawah kepemimpinan Perdana Menteri John Howard yang berasal dari partai liberal. Jadi, wajar saja apabila pemberitaan yang keluar dari kedua harian tersebut bernada negatif tentang Indonesia. Dengan jumlah pembaca yang kurang lebih 6 juta pembaca, mereka jelas bukan koran sembarangan. Mereka cukup kredibel sebagai sumber informasi bagi warga negara bagian di Australia tempat koran itu terbit.
Visi dan misi SMH, seperti yang disampaikan dalam situsnya (www. smh.com), adalah memegang prinsip keterbukaan, kejujuran, dan kehormatan. SMH menyatakan misinya adalah untuk menyampaikan kebenaran, tidak menyesatkan, dan tidak memihak. Akan tetapi. visi dan misi ini tidak tecermin pada beritanya yang cenderung memihak. Beberapa penelitian tentang SMH membuktikan hal tersebut. Dalam penelitian yang mengkaji ideologi hukuman mati dalam SMH, Ekawati (2015) menemukan SMH melakukan strategi yang tidak seimbang dalam penyampaian pendapatnya pada tajuk (editorials) mengenai putusan hukuman mati terhadap warganya yang terlibat narkoba di Indonesia. SMH menggunakan negative judgement dan appreciation pada pemberitaan terkait Indonesia, sedangkan pada pemberitaan terkait Australia menerapkan postive judgment and appreciation. Moris (2004), yang meneliti representasi Afrika Selatan dalam SMH setelah pengangkatan presiden kulit hitam Thabo Mbeki, menemukan bahwa artikel SMH hanya terfokus pada sisi negatif realitas politik Afrika Selatan pascaapartheid. Proses kepemimpinan dan pemerintahan pascaapartheid jarang digambarkan secara positif. SMH dianggap membangkitkan rasisme baru. Sementara itu, Surjowati (2013) menyimpulkan dari penelitiannya tentang ideologi dalam pemberitaan tentang Indonesia khususnya konflik Papua, oleh SMH bahwa walaupun SMH mengklaim dirinya sebagai surat kabar independen, yang tidak memihak pada satu partai mana pun, selalu mematuhi
kode etik yang telah disepakati bersama, berdasarkan catatan sejarah surat kabar ini kurang memberikan dukungan terhadap Indonesia dan pada dasarnya masih memihak pada pemerintah yang berkuasa.
Keberpihakan SMH terhadap Jokowi pada wacana Pilpres 2014 tampak dari penggambarannya mengenai Jokowi yang disukai untuk menjadi presiden RI, bukan pada Prabowo yang berlatar belakang militer yang waktu itu menjadi pesaingnya. SMH membandingkan Jokowi dan Prabowo dengan kontras, seperti yang baik dan yang jahat, dengan selalu memberikan penekanan latar belakang Prabowo yang berwatak keras. Tampak bahwa SMH tidak mengharapkan orang yang berlatar belakang militer menjadi presiden Indonesia. SMH khawatir apabila presiden negara tetangganya, Indonesia, dipimpin oleh orang militer akan bersikap keras terhadap negaranya, Australia.
SIMPULAN
Analisis wacana kritis yang dibantu dengan linguistik korpus dapat mengungkapkan representasi sosok kandidat Pilpres 2014 dalam SMH. Analisis kuantitatif dan kualitatif yang difasilitasi linguistik korpus menunjukkan kandidat Pilpres 2014 tersebut dilakukan dengan menggunakan tipe-tipe wacana yang dilatarbelakangi paham liberal surat kabar tersebut.
Dari penelitian ini tampak bahwa penggunaan CACDA merupakan sebuah metode yang perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih valid karena dapat lebih merepresentasikan realitas. Penelitian tentang representasi sosok penting seperti kepala negara dapat dilakukan dengan media yang lebih beragam serta berasal dari negeri sendiri dan media asing. Hal ini akan menghasilkan temuan yang lebih menarik karena data yang digunakan akan lebih besar.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Cece Sobarna, Prof. Dr. Dudih A. Zuhud, M.A. (Alm), Dr. Lia M. Indrayani, Nani Darmayanti, Ph.D. Prof. Dr. Dadang Suganda, Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, M.A., Prof. Dr. Tajudin Nur, dan Dr. Heryanto yang telah banyak membantu berupa saran dalam penelitian ini.
