1. Home
  2. Archives
  3. Vol 17 (2018) Issue 2
  4. Articles

PROFIL ATLET PAPUA PADA PON XIX JAWA BARAT BERBASIS ETNIS

Abstract

Apabila dilihat dari latar belakang kebudayaan, etnis Papua sangat beraneka ragam dan tersebar dari ujung timur Kota Jayapura, pesisir utara, dan Kota Merauke, serta pesisir selatan sampai ujung barat Kota Sorong. Secara etnografi, Provinsi Papua terdiri atas 466 etnis yang dalam penyebarannya secara ekologis-geografis berbeda antara pesisir pantai dan lembah, danau, perbukitan, dan kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dengan tepat dan faktual etnis yang dominan dalam menggeluti dunia olahraga di Papua sampai dengan PON XIX tahun 2016 di Jawa Barat. Subjek penelitian ini adalah seluruh atlet Papua sebanyak 529 orang yang masuk dalam kontingen PON XIX. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui sebaran angket danwawancara kepada atlet yang sedang melakukan pemusatan latihan menghadapi PON XIX tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan, etnis yang menggeluti dunia olahraga di Papua dan tergabung dalam kontingen PON XIX tahun 2016 terdiri atas 23 suku (58,98%) dan yang non-Papua berasal dari 10 provinsi (41,02 %). Etnis Papua yang termasuk 5 besar adalah etnis Biak 23,07%, Sentani 22,11%, Yapen 20,19%, Lani 7,37%, serta Marind Anim 6,41%. Etnis non-Papua berasal dari 5 provinsi teratas adalah Jawa 54,83%, Ambon 14,74%, Makasar 9,67%, Batak 5,52%, dan Buton 4,6%. Etnis yang dominan dari kontingen Papua pada PON XIX 2016 di Jawa Barat adalah etnis Biak (etnis Papua) dan etnis Jawa (non-Papua).

Keywords

PENDAHULUAN

G a m b a r a n k e m a j u a n d a n p e r k e m b a n g a n k e b e r h a s i l a n pembangunan suatu daerah salah satunya dapat dilihat dari perkembangan dan kemajuan prestasi olahraga. Selanjutnya, prestasi olahraga dapat dilihat dari potret perjalanan sejarah para atlet andal dan tangguh dalam mengikuti berbagai kejuaraan mulai daerah, nasional, dan internasional. Tonggak sejarah tersebut

dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat yang pada akhirnya muncul mewakili suatu etnis.

Provinsi Papua saat ini terdiri atas 29 kabupaten kota dan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang banyak menyimpan potensi bibit unggul pada bidang olahraga. Apabila potensi ini dikelola secara profesional dengan manajemen yang baik, hal ini akan dapat memunculkan prestasi tinggi

olahraga Indonesia. Apabila dilihat dari latar belakang kebudayaan, etnis Papua sangat beragam dan tersebar dari ujung timur Kota Jayapura di pesisir utara, Kota Merauke di pesisir bagian selatan, sampai ujung barat Kota Biak. Secara etnografi, Provinsi Papua terdiri atas 466 etnis yang dalam penyebarannya secara ekologis-geografis berbeda antara pesisir pantai, lembah, danau, perbukitan, dan kepulauan. Keadaan ekologis-geografis ini menyebabkan tiap kelompok etnis mempunyai batas-batas wilayah, bahasa, dan budaya. Dari keberanekaragaman inilah muncul berbagai corak, bentuk, dan karakteristik manusia dengan ciri khas masing-masing.

Salah satu atlet Papua yang pernah mengikuti olimpiade adalah Lisa Rumbewas dari cabang olahraga a n g k a t b e s i p u t r i y a n g s u d a h menyumbangkan 2 medali perak dan 1 perunggu pada 3 olimpiade yaitu pada Olympiade Sydney tahun 2000 di Australia, Olympiade Athena tahun 2 0 0 4 d i Yu n a n i , d a n O l y m p i a d e Beijing 2008 di Tiongkok. Dilihat dari marganya, yaitu Rumbewas barulah diketahui bahwa Lisa berasal dari salah satu etnis di Biak. Adakah atlet selain Lisa Rumbewas dari etnis Biak yang sudah menjadi atlet berprestasi di tingkat daerah, nasional, maupun internasional? Inilah yang perlu diteliti dari pelaku o l a h r a g a y a n g t e r g a b u n g d a l a m kontingen Papua pada PON XIX tahun 2016 Jawa Barat berdasarkan etnis.

Kontingen Papua pada PON XIX 2016 Jawa Barat menempati urutan 7 dengan perolehan 19 medali emas, 18 medali perak, dan 32 medali perunggu. Namun, belum diketahui secara detail etnis mana yang mempunyai andil paling besar dalam perolehan medali. Penelitian ini dapat digunakan untuk menemukan peta prestasi olahraga Provinsi Papua. Dengan mengetahui etnis serta ciri antropetri dari suatu koloni berbasis etnis

dapat memudahkan pemerintah daerah, dalam hal ini dinas pemuda dan olahraga serta KONI untuk memetakan prestasi olahraga Provinsi Papua.

Letak Geografis dan Budaya

Wilayah Provinsi Papua terdiri atas 29 kabupaten dan kota. Daerah Provinsi Papua terletak pada posisi 010 00' - 060 30' lintang selatan dan 1330 30' – 136015' bujur timur dan menempati wilayah paling timur Indonesia serta berbatasan langsung dengan Papua New Guinea. Luas wilayah Papua adalah 31.612.208,00 Ha dengan wilayah terluas adalah Kabupaten Merauke yaitu 4.397.931,00 Ha (13.91%) dan terkecil adalah Kabupaten Supiori yaitu 77.456,00 Ha (0.25%). Batas administrasi Provinsi Papua adalah sebelah utara berbatasan dengan Samudra Pasifik, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafura, sebelah timur berbatasan dengan Papua New Guinea, dan sebelah Barat berbatasan dengan Laut Seram, Provinsi Papua Barat (Kab. Kaimana, Teluk Wondama, dan Manokwari).

Provinsi Papua terletak tepat di sebelah selatan garis khatulistiwa sehingga secara umum Provinsi Papua beriklim tropis. Karena daerahnya bergunung-gunung, iklimnya sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Berdasarkan hasil catatan dari Badan Metrologi dan Geofisika, suhu rata-rata Papua adalah 270-310C. Suhu terendah terjadi di Wamena dan tertinggi di Sentani (Jayapura). Kelembapan udara rata-rata tertinggi terjadi di Biak 85% dan terendah di Merauke yaitu 78%. Dengan jumlah penduduk yang relatif masih sedikit memungkinkan masyarakat untuk bergerak bebas di ruang terbuka hijau yang begitu luas. Penyebaran penduduk yang tidak merata mengharuskan mereka menempuh perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan dalam berhubungan satu dengan yang lain. Dukungan sarana

transportasi masih kurang, bahkan sampai dengan tahun 2016 ini sektor perhubungan (transportasi) masih menempati urutan pertama dalam skala prioritas pembangunan di Provinsi Papua.

Terbatasnya sarana transportasi m e n y e b a b k a n d a l a m k u n j u n g mengunjungi diantara keluarga menjadi terhambat tetapi hal itu tidak berlaku b a g i m a s y a r a k a t P a p u a , m e r e k a terbiasa berjalan kaki. Hal tersebut secara langsung telah melatih fisik . Pada akhirnya secara otomatis kondisi geografis telah membentuk tubuh masyarakat Papua menjadi kuat secara alami. Oleh karena itu, masyarakat Papua secara fisik sebetulnya sudah terbentuk secara alami akibat letak geografis yang bergunung-gunung dan penduduknya yang masih jarang. Untuk itu, di Papua memantau bibit unggul untuk kompetisi olahraga tidak terlalu sulit. Dengan demikian, dalam memantau atlet potensial tinggal diperlukan sentuhan Ilmu pengetahuan & teknologi (Iptek) olahraga dalam memilih atlet (talent scouting) untuk selanjutnya dibina dalam suatu program pelatihan yang terarah, terjenjang, dan berkelanjutan sehingga dapat membentuk atlet yang potensial bagi Provinsi Papua khususnya dan prestasi olahraga nasional pada umumnya.

Banyaknya etnis yang ada di Papua tentu memiliki perbedaan budaya, cara hidup, ciri khas yang beragam diantara antarsuku tersebut. Jika dilihat dari latar belakang budaya secara umum, para ahli ekologi antara lain Tucker dan Petocz sebagaimana yang ditulis kembali oleh Mientje De Roembiak dalam Pusat Penelitian Universitas Cendrawasih (2007: 15- 18) menyatakan etnis di Irian (sekarang Papua) yang beragam tersebut terbagi menjadi 11 daerah kebudayaan yaitu 1. k e b u d a y a a n p e n d u d u k d i

  • daerah kepulauan pesisir Teluk Cenderawasih,
  • 2. kebudayaan penduduk pesisir pantai utara,
  • 3. kebudayaan penduduk Pulau Raja Ampat,
  • 4. kebudayaan penduduk kawasan Te l u k B i n t u n i , F a k - f a k , d a n Kaimana,
  • 5. kebudayaan penduduk di daerah hutan dataran rendah (di sekitar Danau Sentani sampai wilayah pesisir pantai menuju ke perbatasan Papua New Guinea dan Indonesia),
  • 6. kebudayaan penduduk di daerah sungai-sungai dan rawa di bagian selatan Papua yaitu Merauke, Asmat, dan sekitarnya,
  • 7. kebudayaan penduduk di daerah sabana di sekitar Merauke Utara dan Nimboran,
  • 8. kebudayaan penduduk di daerah kaki selatan Pegunungan Jayawijaya,
  • 9. kebudayaan penduduk di daerah punggung Pegunungan Jayawijaya, yaitu daerah Arfak dan kawasan Danau Ayamaru (kepala burung),
  • 10. kebudayaan penduduk di daerah kawasan pedalaman sungai-sungai di daerah Mamberamo - Rouffaer - Idenburg, dan
  • 11. kebudayaan penduduk Papua yang telah berimigrasi ke kota dan pesisir pantai.

M e l i h a t k e a n e k a r a g a m a n budaya yang terdapat di Provinsi Papua tersebut, sudah barang tentu setiap etnis akan membawa ciri khas masingmasing sesuai dengan keadaan alam tempat mereka tinggal dan melanjutkan keturunan.

Faktor Lingkungan

Olahraga di Provinsi Papua tidak dapat dipisahkan dengan faktor lingkungan, baik lingkungan geografis, maupun lingkungan budaya. Lingkungan geografis merupakan alam sekitar tempat

para olahragawan hidup dan melakukan aktivitas sehari-hari sehingga corak dan karakteristik olahragawannya ikut dipengaruhi letak geografis secara keseluruhan. Bahkan, dengan lingkungan tempat para atlet dilatih dan ditempa menjadi seorang yang mempunyai karakter, akan berperilaku dan berkarakter sesuai dengan daerah tempat ia berlatih. Lingkungan keras seperti Provinsi Papua, sudah jelas akan melahirkan karakter yang berbeda dengan para atlet yang dilahirkan dan berlatih di daerah Jawa yang memiliki taraf kehidupan yang lebih maju. Letak geografis dan budaya daerah akan melahirkan ciri khas yang secara otomatis akan ikut mewarnai karakter yang diperlihatkan atlet daerah tersebut.

Daerah Papua terbagi atas daerah lembah, pesisir, dan pengunungan serta dihuni berbagai etnis. Hal ini memunculkan berbagai karakter dan budaya serta bentuk antropometri tubuh dengan ciri khas setiap etnis dari masing-masing daerah. Masyarakat yang mendiami daerah pesisir selatan seperti etnis Marind-Anim di Merauke, Teluk Arguni di Manokwari, Mimika di Timika, Mamberamo, Sentani, dan Teluk Yos Sudarso di Jayapura mempunyai tinggi badan rata-rata di atas 167 cm sedangkan masyarakat atau suku yang mendiami lembah dan pegunungan seperti etnis Muyu di Pegunungan Merauke dan etnis Dani di Lembah Baliem Jayawijaya mempunyai tinggi badan yang lebih pendek daripada sukusuku yang mendiami pesisir pantai yaitu rata-rata 149 cm (Muller, 2011: 20).

Dari keberagaman bentuk tubuh dan ciri khas yang mewakili kelompok dan etnis inilah kemudian dapat dipilih calon atlet untuk dilatih dalam berbagai cabang olahraga yang sesuai dengan kebutuhan. Calon atlet ini nantinya akan menjadi olahragawan unggulan daerah masing-masing. Selama ini

sudah ada beberapa atlet dari Papua yang telah mewarnai setiap pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Jakarta. Namun, jumlahnya masih sangat sedikit baik dalam cabang olahraga maupun atletnya. Atlet Papua berada pada cabang olahraga lari dan lempar, angkat besi, angkat berat, bina raga, karate, voli, judo, hoki, dan dayung.

Dari sekian banyak etnis, etnis Papua baik yang bermukim di pesisir pantai maupun yang bermukim di lembah dan pengunungan, mempunyai keunggulan dan kelemahan. Begitu juga dengan etnis Papua yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota akan membawa ciri khas tersendiri yang juga berimbas pada cabang olahraga yang mereka tekuni hingga sekarang. Dalam pengelompokan daerah sebagai peta kekuatan cabang olahraga tertentu, setiap daerah atau kabupaten mempunyai cabang olahraga unggulan. Sebagai gambaran, peta olahraga unggulan Provinsi Papua yang pernah dibuat Koni Papua (2010: 23-26) terbagi sebagai berikut.

  • 1. Kabupaten Merauke dan sekitarnya: atletik nomor lempar, voli, dan sepak bola.
  • 2. Kabupaten Boven Digul: judo, bina raga, angkat besi, dan angkat berat.
  • 3. Kabupaten Asmat: atletik nomor lempar, sepakbola, dan judo.
  • 4. Kabupaten Mappi: atletik nomor lempar.
  • 5. Kota Jayapura dan sekitarnya: d a y u n g , s i l a t , k a r a t e , s e p a k bola, judo, voli, dan angkat besi.
  • 6. Kabupaten Jayapura: dayung, silat, karate, sepak bola, dan judo,
  • 7. Kabupaten Yapen: atletik nomor jarak pendek, nomor lompat, dayung, dan pencak silat.
  • 8. Kabupaten Biak Numfor: atletik lari jarak pendek dan menengah, lempar, tinju, gulat, pencak silat, sepakbola, dan judo.

  • 9. Kabupaten Puncak Jaya: sepak bola, angkat besi, maraton, dan gulat
  • 10. Kabupaten Jayawijaya: sepak bola, angkat berat, angkat besi, tinju, dan maraton.
  • 11. Kabupaten Waropen: silat, karate, dayung, tinju, dan judo.
  • 12. Kabupaten Yapen : atletik, karate, dayung, tinju , dan pencak silat.
  • 13. Kabupaten Sarmi: nomor lempar, silat, angkat besi, gulat, dan tinju.
  • 14. Kabupaten Mimika: nomor lempar, karate, angkat berat, angkat besi, dan dayung.
  • 15. Kabupaten Pegunungan Bintang: angkat besi, maraton, dan tinju.
  • 16. K a b u p a t e n Ya h u k i m o : t i n j u , marathon, dan gulat.
  • 17. Kabupaten Supiori: tinju, karate, gulat, dan sepakbola.
  • 18. Kabupaten Tolikara: maraton, gulat, tinju, dan sepak bola.
  • 19. Kabupaten Nabire, Dogiay, Deiyai, dan Paniai : atletik, voli, angkat berat, tinju, taekwondo, muaythai, dan sepak bola.
  • 20. K a b u p a t e n M a m b e r a m o d a n sekitarnya: lari jarak jauh, dayung, tinju, angkat berat, angkat besi, dan bina raga.

Ciri-Ciri Antropometri Fisik

Secara khusus kelompokkelompok etnis di Papua banyak diteliti dan ditulis oleh para ahli Antropologi di antaranya adalah Kleiweg de Zwaan dan peneliti T.H.J. Bijlmer. Dalam temuan mereka dinyatakan, terdapat perbedaan secara antropometri fisik antara penduduk yang tinggal atau mendiami kawasan pesisir dengan penduduk yang mendiami kawasan lembah dan pegunungan. Tinggi badan penduduk pesisir dan pantai seperti di Merauke rata-rata lebih tinggi dibandingkan penduduk lembah dan pegunungan. Tinggi badan rata-rata penduduk etnis Marind-Anim di Merauke adalah 167,2 cm, Mimika 165,3 cm, Teluk Arguni 164,4 cm, Mamberamo 162,5 cm, Teluk Yos Sudarso 163,4 cm, dan Sentani 159,5 cm. Tinggi badan penduduk yang ada di pegunungan rata-rata 144,9-155 cm (Pattipi, 1993: 19-21). Selanjutnya, Muller (2011: 20-22) mengatakan masyarakat yang mendiami daerah pesisir selatan seperti etnis Marind-Anim di Merauke, Teluk Arguni di Manokwari, Mimika di Timika, Mamberamo, Sentani, dan Teluk Yos Sudarso di Jayapura mempunyai tinggi badan rata-rata di atas 167 cm, sedangkan masyarakat atau etnis yang mendiami lembah dan pegunungan seperti etnis Muyu di Pegunungan Merauke dan etnis Dani di Lembah Baliem Jayawijaya mempunyai tinggi badan yang lebih pendek daripada suku-suku yang mendiami pesisir pantai yaitu rata-rata 149 cm.

Cabang Olahraga Unggulan

Tipe tubuh masyarakat Papua t e r m a s u k d a l a m t i p e t e n g a h a t a u meshomorph yang berarti dapat dibina pada berbagai cabang olahraga prestasi. Dalam aspek olahraga yang diunggulkan dapat dilihat 3 indikator yaitu

(1) jenis olahraga perorangan atau beregu

J e n i s o l a h r a g a y a n g c o c o k untuk etnis Papua adalah olahraga yang menantang karena sesuai dengan karakteristiknya yang senang berpindah tempat dan bertualang dari satu tempat ke tempat lain untuk menyambung kehidupan. Masyarakat yang suka berpindah tempat akan mengalami aklimatisasi dengan alam kehidupannya setiap saat. Mereka harus menaklukkan alam sekitarnya untuk dapat menguasai tempat baru termasuk sesama penghuni alam setempat. Dalam keadaan seperti ini pertikaian atau bahkan sampai peperangan harus terjadi karena perebutan kekuasaan lahan. Secara tidak langsung aktivitas di alam ini menjadi awal terbentuknya fisik

masyarakat etnis Papua secara alamiah. Apabila dilanjutkan dalam bentuk kompetisi olahraga, satu program sudah dapat terlewati yaitu latihan fisik.

(2) Perolehan medali emas

Apabila ingin mengejar perbaikan rangking atau berdasarkan perolehan medali emas, olahraga perorangan dapat menjadi pilihan tepat karena satu orang dapat memperoleh atau merebut lebih dari satu medali seperti atletik, r e n a n g , s e n a m , a t a u m e n e m b a k . Pada sisi pembinaan, cabang olahraga perorangan dapat menekan biaya secara efisien dan efektif jika dibanding dengan cabang olahraga beregu.

3) Potensi perolehan medali pada PON XX tahun 2020 di Papua

S e p e r t i t e l a h d i u r a i k a n d i a t a s , j e n i s c a b a n g o l a h r a g a u n g g u l a n u n t u k P r o v i n s i P a p u a adalah dominan olahraga perorangan s e p e r t i a t l e t i k , d a y u n g , a n g k a t berat, angkat besi, dan bina raga. Cabang olahraga inilah yang selama 5 P O N t e r a k h i r m a s i h t e t a p konsisten menyumbangkan medali e m a s t a n p a t e r p u t u s . K e m u d i a n , cabang olahraga lainnya yaitu bela diri seperti tinju, karate, pencak silat, yudo, tarung derajat, whusu, dan g u l a t p u n m e n y u m b a n g k a n b a g i p a p u a . C a b a n g o l a h r a g a r a k y a t b e r e g u y a i t u s e p a k b o l a , v o l i , basket, dan hoki juga merupakan cabang olahraga yang selama 5 PON terakhir masih menyumbangkan medali pada kontingen Papua namun tidak konsisten. Dengan terverifikasikan beberapa cabang olahraga unggulan t e r s e b u t , p o t e n s i p e n a m b a h a n perolehan medali bagi Provinsi Papua pada PON XX tahun 2020 di Papua s a n g a t t e r b u k a d a n m e n a rg e t k a n berada pada rangking V dengan perkiraan perolehan medali emas antara 20-25

buah.

Jika dicermati proses pembinaan pada olahraga nasional, sebenarnya berawal dari munculnya olahragawan dari daerah -termasuk di dalamnya Papua-, kemudian dibawa ke tingkat nasional, dan berakhir pada tingkat internasional. Daerah terbagi menjadi kota/kabupaten dan kecamatan. Oleh karena itu, pembinaan olahraga unggulan daerah sudah seharusnya mendapat perhatian. Jika pembinaan dapat dilakukan dengan baik secara berjenjang dan berkelanjutan dengan keterlibatan semua stake holder, bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia dengan penduduk yang begitu besar akan dapat berbicara dan bersaing di dunia Internasional dan dapat sejajar dengan negara lain di dunia yang sudah lebih dulu maju di bidang prestasi olahraga (Koni Pusat, 2014: 2). Akar olahraga selalu berasal dari ekspresi sifat alami manusia berupa budaya dalam kehidupan, sehingga sejarah olahraga adalah sejarah rakyat sebagaimana asal-usul dari sepak bola dan rugby yang adalah awal kisah dari kelompokkelompok masyarakat di Inggris (Suratman, 2015: 257).

Menurut Muthohir (2004: 28), pembinaan olahraga prestasi yang dilakukan, baik KONI Pusat, KONI Daerah, dan pengprov-pengprov cabang olahraga belum dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan. Di samping itu, para pengurus yang ada di induk-induk organisasi cabang olahraga dan pengprov harus lebih profesional di bidangnya. KONI sebagai lembaga pembinaan olahraga prestasi dan jalur nonpemerintah belum bersinergi dengan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah khususnya Depdiknas dalam menangani pembinaan olahraga.

Penjenjangan sejalan dengan sistem pembinaan Koni Daerah (Konida) Papua yang membagi cabang olahraga prestasi ke dalam beberapa skala

NoKab/KotaEtnisFrek%
1MeraukeMarind Anim206.41
2MappiMandobo70.02
3AsmatAuyu10.003
4YahukimoYali10.003
5JayawijayaLani144.48
6Lani JayaLani92.88
7PaniaiMee103.20
8TimikaKamoro41.28
9SarmiSobey30.96
10Kab. JayapuraSentani6922.11
Tepra/Tabla20.64
Genyem51.60
11Kota JayapuraTobati20.64
Nafri30.96
Kayu Pulo61.92
12NabireMor10.003
13BiakBiak7223.07
14YapenAmbai206.41
Ansus4012.82
Woriasi30.96
15WaropenTakamuri123.84
16ManokwariKebar10.003
17SorongMoi72.24
Total312100

TABEL I ATLET PAPUA BERDASARKAN SUKU/ETNIS

prioritas yaitu prioritas utama, prioritas satu, dua, tiga, dan empat. Hal tersebut juga sejalan dengan anamat UU RI No. 3 tahun 2005 pasal 21 ayat 1 yang mengatakan, pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan dan pengembangan olahraga sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya (Indonesia, 2005). Selanjutnya, pada pasal 34 ayat 2 dikatakan, pemerintah kabupaten/kota wajib mengelola sekurang-kurangnya satu cabang olahraga unggulan yang bertaraf nasional dan atau internasional.

METODE

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tujuan

mengetahui dengan tepat, akurat, dan faktual (Partino, 2010: 58) tentang suku atau etnis mana yang banyak atau dominan melibatkan diri dan berkontribusi bagi kontingen Provinsi Papua pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016 Jawa Barat. Subjek penelitian ini adalah seluruh atlet yang terlibat dalam Kontingen Papua pada PON yang berjumlah 527 Orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengisian angket yang dilakukan langsung oleh setiap atlet yang sedang melakukan pemusatan latihan menghadapi PON XIX di bawah pengawasan langsung oleh pelatih setiap cabang olahraga. Selanjutnya peneliti melakukan verifikasi data melalui

NoProvinsiEtnisFrek%
1MalukuAmbon3616.58
2BaliBali31.38
3SumutBatak125.52
4SultraButon104.60
5JawaJawa11954.83
6SulselMakassar2611.98
7SulutManado83.68
8NTBFlores10.46
9NTTBima10.46
10LainChina10.46
Total217100

TABEL II ATLET NON -PAPUA BERDASARKAN ETNIS

wawancara secara langsung dengan atlet apakah angket yang sudah diisi oleh atlet sudah sesuai dengan jawaban atlet. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Berdasarkan pengumpulan data melalui kuesioner, didapatkan data sebagaimana terlihat pada Tabel I dan Tabel II.

Pembahasan

Hasil penelitian yang disajikan pada tabel I dan II menunjukkan etnis y a n g m e n g g e l u t i d u n i a o l a h r a g a di Provinsi Papua dan tergabung dalam kontingen PON XIX tahun 2016 berjumlah 529 orang dengan rincian sebagai berikut. Etnis Papua sebanyak 23 etnis (58,98 %) sedangkan etnis non-Papua dengan 10 provinsi ( 4 1 , 0 2 % ) . E t n i s P a p u a y a n g termasuk 5 besar adalah sebagai berikut. Biak 23,07%, Sentani, 22,11%, Yapen 20,19%, Lani 7,37%, dan Marind Anim 6,41%. Etnis non-Papua berdasarkan provinsi dan masuk 5 besar adalah Jawa 54,83%, Ambon 14,74%, Makasar 9,67%, Batak 5,52% dan Buton 4,6%. Hal

ini menunjukkan, Provinsi Papua saat ini sudah menjadi miniatur Indonesia karena dari semua pulau besar di Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku, Bali sampai Pulau Irian bahkan beberapa etnis dari pulau-pulau kecil terwakili oleh atlet kontingen Provinsi Papua pada PON XIX 2016 Jawa Barat.

Etnis Sebagai Profil Budaya

Jika ada salah satu etnis di antara sekian banyak etnis yang ada di Provinsi Papua diekspos dalam keberhasilannya mendapatkan medali emas, hal ini akan menjadi suatu kebanggan bagi etnis tersebut karena akan menaikkan jati diri atlet, keluarga, atau koloni mereka. Berita semacam ini akan memberikan dorongan dan motivasi tersendiri kepada etnis lainnya untuk berbuat lebih baik dan lebih maju karena bagi etnis di Provinsi Papua nama belakang yang merupakan nama marga atau koloni sangat sarat dengan kedudukan dalam keluarga.

Sifat kompetitif sejalan dengan ciri khas masyarakat Papua yang dalam kelangsungan hidupnya jarang berdiam di suatu tempat. Mereka berpindahpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara menaklukkan alam sekitar beserta segala isinya. Dengan mengetahui atau melihat data kondisi fisik maupun etnis setiap atlet, hal itu akan membuat atlet dari etnis lain ingin sama atau bahkan melebihi fisik dari etnis yang sudah diekspos guna menjadi lambang kebanggaan bagi dirinya, keluarga, maupun koloninya. Bagi atlet di Provinsi Papua, informasi tentang etnis yang dominan dalam menggeluti kompetisi olahraga sampai tingkat nasional untuk membawa nama Provinsi Papua dan, informasi tentang etnis yang mendapatkan medali akan menjadi pemicu etnis lain untuk berprestasi menjadi motivasi bahwa sebenarnya dirinya juga sanggup berbuat seperti etnis lain yang sudah maju dan menggeluti pekerjaan di bidang olahraga. Hal tersebut akan membantu baik pemerintah maupun nonpemerintah dalam mencari calon atlet yang unggul melalui koloni dalam masyarakat berciri etnis serupa dengan etnis yang sudah membawa nama baik Provinsi Papua melalui prestasi olahraga.

Dalam penelitian ini ditemukan, etnis yang dominan menggeluti olahraga adalah etnis Biak dan Sentani pada etnis Papua dan etnis Jawa. Etnis Biak dan Sentani 100% mendominasi cabang olahraga hoki. Demikian juga dengan Etnis Sentani yang merupakan pusat penyumbang medali emas terbanyak bagi kontingen Papua pada PON XIX 2016 di Jawa Barat. Di sekitar Danau Sentani dayung merupakan mata pencaharian utama masyarakat sehingga cabang dayung dominan dilakukan oleh atlet-atlet dari Danau Sentani. Begitu juga halnya dengan Etnis Jawa yang lebih banyak dan tersebar di hampir semua kabupaten/kota di Papua. Hal ini karena etnis Jawa melalui sistem transmigrasi ditempatkan hampir di semua kabupaten di Papua. Selain itu, etnis Jawa di mana pun mereka berada pasti melibatkan diri dalam cabang olahraga apa pun sehingga pada semua

cabang olahraga hampir pasti ada Etnis Jawa.

Peran Etnis Terhadap Prestasi Olahraga Papua

Menyebut etnis bagi masyarakat Papua merupakan kebanggaan tersendiri karena hal itu mewakili suatu koloni tertentu yang dapat mengangkat harga diri dan martabat. Contohnya, apabila disebut nama Rumbewas pada cabang olahraga angkat besi langsung terlintas wajah Lisa Rumbewas, seorang lifter putri Indonesia berasal dari Biak yang merebut tiga kali medali perak Olimpiade. Dari hasil penelitian terlihat bahwa Etnis Papua yang dominan pada kontingen Papua sampai pada PON XIX Jabar adalah etnis Biak dan Sentani sebagai etnis terbesar. Dari Biak terdapat satu cabang olahraga yaitu hoki yang 100% pemainnya berasal dari Etnis Biak yang memperoleh 1 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Cabang olahraga dayung merupakan unggulan Provinsi Papua di PON XIX dengan perolehan 4 medali emas, 5 perak, dan 5 perunggu dan peraih medali seluruhnya adalah etnis Sentani. Walaupun demikian, etnis lain yang persentasenya kecil tetap mempunyai andil yang cukup besar dalam perolehan medali emas pada nomor perorangan seperti bina raga, lempar lembing, karate, dan tarung derajat. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dimitrova (2017), salah satu manfaat dari sosialisasi identitas etnik adalah memberikan konsep dan kepercayaan diri yang positif kepada remaja untuk meningkatkan prestasi sekolah dan kepuasan hidup. Adanya sosialisasi etnis dalam keluarga berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup dan prestasi sekolah yang lebih tinggi. Hal yang sama ditemukan pada hasil penelitian Saputra (2017: 306-310) yang memublikasikan profil fisik atlet bola tangan Jawa Barat pada PON XIX 2016; hasil penelitian Purnamasari (2017:

210-215) membahas profil fisik atlet PPLP Judo Jawa Barat; serta Mohsen Kazemi (2010: 243-245) tentang profil atlet Competitor Taekwondo Olimpiade Beijing 2008 dan profil atlet taekwondo yang memenangi pertandingan.

SIMPULAN

Suku bangsa atau etnis yang dominan menggeluti dunia olahraga prestasi dalam kontingen PON XIX tahun 2016 sebagai berikut.

  • 1. Etnis Papua sebanyak 23 suku (58,98 %). Etnis yang termasuk 5 besar adalah Etnis Biak 23,07%, Sentani, 22,11%, Yapen 20,19% dan Lani 7,37% serta Marind Anim 6,41%.
  • 2. Etnis non-Papua sebanyak 10 provinsi (41,02 %). etnis yang masuk 5 besar adalah; etnis Jawa 54,83%, Ambon 14,74%, Makasar 9,67%, Batak 5,52%, dan Buton 4,6%.
  • 3. Etnis sebagai profil budaya sekaligus berperan terhadap prestasi olahraga di Provinsi Papua.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
14th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20221

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.59
level 1

References

  1. Indonesia, R. (2005). Presiden republik indonesia, (1).
  2. Koni Papua. (2010). Program latihan menuju pon xviii 2012. Jayapura: Koni Papua.
  3. Koni Pusat. (2014). Grand strategi pembangunan olahraga prestasi
  4. nasional 2014-2024. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  5. Mohsen Kazemi, R. N. (2010). A Profile of 2008 olympic taekwondo
  6. competitor. JCCA, 54(4), 243- 249.
  7. Muller, K. (2011). Pesisir selatan papua, first edition. Indonesia: DW
  8. Books.
  9. Muthohir, T. C. (2004). Olahraga dan pembangunan. Jakarta: Proyek
  10. Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Olahraga, Dirjen Olahraga, Depdiknas.
  11. Partino, H. R. (2010). Metodologi penelitian: pendekatan kuantitatif.
  12. Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa.
  13. Pattipi, J. (1993). Etnografi irian jaya, panduan sosial budaya. Jayapura: Uncen Press.
  14. Purnamasari. (2017). Profil fisik atlet PPLP judo jawa barat. In
  15. Proceeding Seminar Nasional Olahraga LPTK VIII. Yogyakarta: UNY.
  16. Puslit Uncen. (2007). Pemetaan social budaya di kabupaten merauke, fak-fak dan jayawijaya. Jayapura: Uncen Press.
  17. Saputra, M. Y. (2017). Profil kemampuan fisik atlet bola tangan di pon
  18. jawa barat 2016. In Proceeding Seminar Nasional Olahraga LPTK VIII. Yogyakarta: UNY.
  19. Suratman, T. (2015). Strategi olahraga nasional abad 21. Jakarta: Verbun Publishing.