PENDAHULUAN
Masalah kenakalan remaja menjadi hal yang penting untuk dicarikan jalan keluar yang tepat. Kenakalan remaja merupakan salah satu hal yang dirasa meresahkan baik oleh pihak sekolah dan juga orangtua. Hal ini menggambarkan belum terbentuknya tanggung jawab dan perilaku sosial yang matang dalam menentukan pergaulan dan hubungan sosial. Pembelajaran pendidikan jasmani (selanjutnya disingkat penjas) mempunyai tujuan mengembangkan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa agar dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran baik secara kognitif, afektif,
Tanggal Submit: 28-12-2017 Tanggal Revisi: 23-4-2018 Tanggal Diterima: 29-11-2018 DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.3.2
maupun psikomotor. Pendidikan jasmani merupakan proses pembelajaran yang melibatkan berbagai unsur seperti unsur pengetahuan tentang bermacam-macam nilai dan juga beraneka keterampilan dari dulu hingga sekarang. Masalah-masalah yang terjadi di masyarakat maupun di kalangan pelajar yang salah satunya adalah kenakalan remaja masih banyak terjadi. Hal ini disebabkan masih adanya guru yang melakukan pembelajaran dengan menganut prinsip dikotomi yang memisahkan antara jasmani dan rohani. Suherman (2009:4) menyatakan, "Pandangan dikotomi manusia ini secara empirik menimbulkan salah kaprah dalam merumuskan tujuan, program pelaksanaan, dan penilaian penjas". Kenyataan di lapangan masih menunjukkan bahwa pelaksanaan penjas masih mengarah pada penguatan badan, peningkatan keterampilan fisik, serta kemampuan jasmani saja.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran penjas belum berhasil untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara utuh. Dalam pembelajaran penjas terdapat model pembelajaran yang spesifik yang dapat digunakan untuk mengembangkan tanggung jawab pribadi, interaksi, dan perubahan perilaku sosial. Model tersebut adalah model Teaching Personal and Social Responsibility (TPSR). Model ini mempunyai tujuan spesifik yaitu penekanannya pada pengembangan personal dan responsibility siswa. Pendekatan pembelajarannya lebih berorientasi pada student centered, yaitu self-actualization dan social reconstruction. Pengembangan personal dan responsibility siswa diawali dari irresponsibility, self control, involvement, self direction, dan caring melalui berbagai pengalaman belajar gerak sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Bukti-bukti hasil penelitian dengan model TPSR di antaranya penelitian yang dilakukan Berliana dalam disertasinya (1998) yang menyimpulkan bahwa model TPSR berpengaruh secara signifikan terhadap pengembangan sikap tanggung jawab dan perilaku sosial.
Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengembangan Tanggung Jawab dan Perilaku Sosial Siswa Melalui Model TPSR Dalam Pendidikan Jasmani.
METODE
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode eksperimen. Variabel bebasnya adalah model pembelajaran TPSR dan variabel terikatnya adalah tanggung jawab dan perilaku sosial siswa. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di MA Al Inayah Kota Bandung. Sampel penelitian berjumlah 30 siswa kelas X yang dipilih dengan menggunakan cluster random sampling. Desain penelitian menggunakan One-Group Pretest-Posttest Design. Instrumen untuk mengukur sikap tanggung jawab dan perilaku sosial menggunakan angket. Jumlah butir soal untuk tanggung jawab sebanyak 28 butir soal dan untuk perilaku sosial sebanyak 38 butir soal dengan tingkat validitas sebesar 0,37 dan reliabilitasnya sebesar 0,96.
HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Prasyarat
Uji prasyarat dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel I dan II.
Uji Hipotesis
Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
Pengaruh model pembelajaran TPSR terhadap sikap tanggung jawab
Hasil perhitungan paired sample t test diperoleh nilai t-hitung sebesar -7.154, dan signifikan pada α = 0,00 dengan t-tabel (dk,29) = 1.699. Hal tersebut menunjukkan nilai t hitung lebih besar daripada t tabel.
TABEL I HASIL PENGOLAHAN DATA UJI NORMALITAS
| Kelompok Data Eksperimen | Kolmogorov Smirnov Test | P Value | Distribusi | |
|---|---|---|---|---|
| Sikap | Pre | 0.473 | >0.05 | Normal |
| Tanggungjawab | Post | 0.440 | >0.05 | Normal |
| Sikap Perilaku | Pre | 0.707 | >0.05 | Normal |
| Sosial | Post | 0.998 | >0.05 | Normal |
TABEL II HASIL PENGOLAHAN DATA UJI HOMOGENITAS
| Kelompok Data Eksperimen | Levene Statistic | Probabilitas | Varian | |
|---|---|---|---|---|
| Sikap Tanggung Jawab | Pre | 0.550 | >0.05 | Homogen |
| Post | 0.140 | >0.05 | Homogen | |
| Sikap Perilaku Sosial | Pre | 0.602 | >0.05 | Homogen |
| Post | 0.964 | >0.05 | Homogen |
TABEL III HASIL ANALISIS PAIRED SAMPEL TEST TANGGUNG JAWAB DAN PERILAKU SOSIAL
| Paired Differences | t | df | Sig. (2- | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Mean | SD | SE | tailed) | ||||
| Pair | Pretest - Posttest | 120 | 5.385 | .983 | (4) | 29 | .000 |
| 1 Tanggung J | Tanggung Jawab | 7.033 | 7.15 | ||||
| 4 | |||||||
| Pair | Pretest - Posttest | 1/21 | 9.352 | 1.707 | 20 | 29 | .000 |
| 1 | Perilaku Sosial | 8.300 | 4.86 | ||||
| 1 | |||||||
Ket : SD = Standar Deviasi; SEM = Standar Error Of Mean
Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rerata pretest dan posttest sikap tanggung jawab siswa pada model pembelajaran TPSR. Hal tersebut dikuatkan dengan perolehan nilai t-hitung sebesar -7,033. Hal ini menunjukkan nilai rerata posttest (setelah diberikannya perlakuan model TPSR) lebih tinggi dan signifikan daripada nilai rerata pretest (rerata sebelum diberikannya perlakuan). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran TPSR memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tanggung jawab.
Pengaruh Model Pembelajaran TPSR Terhadap Perilaku Sosial
Hasil perhitungan paired sample t test pada variabel perilaku sosial pada tabel 3 diperoleh nilai t-hitung sebesar -4.861 dan signifikan pada α = 0,00 dengan t-tabel (dk, 29)= 1.699. Hal tersebut menunjukkan nilai t hitung lebih besar daripada t tabel. Hal ini
dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rerata pretest dan posttest terhadap perilaku sosial siswa pada model pembelajaran TPSR. Hal tersebut dikuatkan dengan perolehan nilai t-hitung sebesar -4,861. Ini menunjukkan nilai rerata posttest (setelah diberikannya perlakuan model TPSR) lebih tinggi dan signifikan daripada nilai rerata pretest (rerata sebelum diberikannya perlakuan), sehingga disimpulkan bahwa model pembelajaran TPSR memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku sosial.
Pembahasan
Peningkatan sikap tanggung jawab dan perilaku sosial siswa terjadi karena model TPSR lebih banyak memberikan kesempatan pada siswa untuk mengintegrasikan tanggung jawab dan perilaku sosial ke dalam pembelajaran. Selain itu juga dalam proses pembelajarannya difasilitasi agar semua peserta didik dapat berinteraksi secara aktif. Dalam hal ini hubungan antara guru dan peserta didik juga menjadi lebih interaktif sehingga memungkinkan terjadinya verbal persuasi yang dilakukan guru terhadap peserta didik atau juga antara peserta didik dengan peserta didik yang lain. Berkaitan dengan pengaruh model TPSR terhadap sikap tanggung jawab dan perilaku sosial siswa dapat dijelaskan bahwa tanggung jawab dan perilaku sosial terbentuk adanya kontrak perilaku sebelum pembelajaran yang diberikan oleh guru secara sistematis mulai dari level yang sederhana hingga ke level yang kompleks. Integrasi pada pembelajaran pendidikan jasmani menurut Hellison (2003) dilakukan pada lima level (tingkatan) perilaku yang harus dicapai peserta didik secara bertahap sesuai dengan kesanggupannya. Level kesatu bertujuan untuk membangun lingkungan belajar yang positif, dengan pembiasaan saling menghormati hak dan perasaan orang lain, menyelesaikan masalah secara damai, dan dapat mengontrol diri. Level kedua berkaitan dengan partisipasi dan berupaya dalam pembelajaran, memotivasi diri untuk mencoba halhal baru, dan bertahan apabila menghadapi kesulitan dalam pembelajaran.
Level ketiga, memperluas lingkungan belajar dengan pembiasaan untuk mengerjakan tugas secara mandiri, mengembangkan penentuan tujuan atau mengarahkan diri, dan menanamkan kemampuan untuk menentang tekanan teman sebaya. Level keempat, pembiasaan saling menolong, peduli kepada teman dan kasih sayang, tidak mudah tersinggung, serta dapat berempati. Hal ini bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih mengeksplorasi kemampuannya sendiri sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial serta meningkatkan tanggung jawab dan perilaku sosial. Level kelima yaitu membiasakan keempat level yang sudah dilakukan dan mencoba menerapkannya pada arena lain kehidupan seperti lingkungan keluarga, tempat tinggal, dan masyarakat luas, serta berusaha menjadi teladan dan mampu mengimplementasikan perilaku positif. Hasil penelitian sebelumnya telah menjelaskan bahwa model pembelajaran TPSR merupakan model pembelajaran yang efektif untuk pengembangan tanggung jawab dan perilaku sosial siswa (Escartí, Gutiérrez, Pascual, Llopis, 2010). Sesuai dengan pendapat Hellison (2003) bahwa strategi instruksi spesifik termasuk instruksi langsung, diskusi kelompok, instruksi teman sebaya, belajar kerja sama, bekerja mandiri, refleksi diri, dan membuat keputusan sendiri. Memberikan kesempatan untuk mengintegrasikan tanggung jawab ke dalam pembelajaran dan meningkatkan peran aktif peserta didik sepanjang waktu. Dari uraian di atas Model Pembelajaran TPSR mengintegrasikan pembentukan perilaku positif ke dalam pembelajaran pendidikan jasmani, yang pada akhirnya, peningkatan perilaku positif ini juga menunjang terhadap peningkatan akademis peserta didik. Menurut Elias (2005) keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada potensi akademik, tetapi juga pada kemampuan peserta didik untuk berhubungan dengan penuh hormat dan bertanggung jawab kepada orang lain. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya dilakukan terhadap 42 siswa usia 11-12 tahun dan simpulan penelitian tersebut adalah memberikan pengaruh yang efektif terhadap peningkatan tanggung jawab siswa.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data diperoleh simpulan bahwa Model Pembelajaran Teaching Personal and Social Responsibility (TPSR) memberikan pengaruh terhadap tanggung jawab dan perilaku sosial siswa dalam pembelajaran penjas.
CATATAN
Tulisan ini dipresentasikan pada Seminar Nasional Sains Keolahragaan 2017 Kerja Sama Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung dengan Jurnal Sosioteknologi.
