1. Home
  2. Archives
  3. Vol 17 (2019) Issue 3
  4. Articles

Pengembangan Desain Batik Kontemporer Berbasis Potensi Daerah Dan Kearifan Lokal

Abstract

Pasar nasional, regional, dan internasional menampilkan batik sebagai subjek representasi Indonesia dengan nilai-nilai dan makna luhur. Kemajuan teknologi informasi memberikan peluang tanpabatas untuk pengembangan batik. Permasalahan muncul ketika praktisi, pemerintah, pemegang modal,dan akademisi mendapat tantangan dari pasar untuk menampilkan kebaruan. Tantangan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas batik di era industri kreatif. Pengusaha dan perajin batik berperan menjawab tantangan dengan inovasi pengembangan produk.Kebaruan konsep pengembangan desain batik kontemporer Indonesia secara garis besar terletak pada potensi unggulan daerah dan kearifan lokal masyarakat. Konsep pengembangan berbasis kearifan lokal bersifat strategis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan menggunakan pendekatan budaya visual, dari aspek fenomena sosial dan pasar. Penerapan konsep pada sentra usaha dan batik di seluruh Indonesia efektif menjaga keberlangsungan usaha batik. Ciri khas disesuaikan dengan potensi unggulan dan budaya tradisi serta menambahkan unsur tren di masyarakat. National, regional and international markets represented batik as Indonesian heritage with supreme values and meanings. Information technology progress provides unlimited opportunities for batik development. Problems arise when practitioners, government, capital holders and academics was challenged by the market to display novelty and sanity. The purpose of this challenge is to improve batik

Keywords

PENDAHULUAN

Industri kreatif di Indonesia saat ini telah berkembang menjadi salah satu ujung tombak perekonomian nasional. Sifatnya yang universal mampu memberikan ruang luas bagi pelaku dari berbagai golongan dan objek sosial-budaya untuk berkembang dan berjalan secara stabil dan dinamis. Hal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah memberikan ruang gerak untuk pengembangan dan menjadi wadah atau sarana pelestarian

nilai-nilai luhur yang terdapat pada tradisi dan adat sebagai perwujudan kearifan lokal.

Perkembangan pergaulan internsional menghapus batasan-batasan yang bersifat formatif, normatif, dan administratif, termasuk identitas budaya yang menjadi jati diri bangsa. Peristiwa ini hendaknya disikapi dengan langkah positif dan terencana sehingga dampak negatif secara luas tidak sampai menjadi ancaman nasional yang merusak kesejahteraan, keamanan, serta perkembangan para generasi penerus sebagai penerima tongkat estafet pembangunan negara. Sinergi pemerintah, pemegang kebijakan, pelaku, pemegang modal, bahkan ranah akademik memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkannya.

Dalam kurun lima tahun pembangunan, permodalan dan pemasaran untuk berbagai produk hasil olahan pada berbagai lini dalam industri kreatif nasional mendapat kemudahan. Perkembangan teknologi informasi serta para pemegang modal telah paham arah prioritas pemberian dana bagi pelaku dan pengembangan industri berbasis potensi unggulan daerah dan kearifan lokal. Secara tidak langsung, dua hal yang dikemukakan di awal bukan menjadi kendala perkembangan industri kreatif nasional untuk menghadapi persaingan internasional saat ini. Kebaruan dan pengembangan adalah tiga untaian yang wajib ditampilkan oleh para pelaksana dan penanggung jawab yang diistilahkan dengan quadro helix, terdiri atas pemerintah (government), perusahaan (corporate), masyarakat (public & community), dan diperkuat oleh perguruan tinggi (academic).

Aset negara yang mampu diolah sebagai representasi kekuatan industri kreatif nasional adalah batik. Wastra dengan nilai keluruhan budaya tinggi ini telah melampaui dan merangkum berbagai aspek kehidupan bangsa terutama jati diri. Ketika disajikan dalam perhelatan internasional, batik mampu menjadi primadona yang memunculkan kekaguman terkait estetika, proses, dan nilai formal. Wajah Indonesia dengan indah dan mudah mampu dihadirkan dalam lembaran tekstil tradisi syarat makna ini.

Indikator kekinian terwujud dalam konsep kontemporer yang diangkat. Format tersebut telah dijalankan oleh para perajin, praktisi, dan pengusaha pada kurun waktu 10 tahun terakhir serta menjadi awal kebangkitan industri batik secara nasional dengan beragam sumber ide pengembangan, yang mayoritas bertumpu pada potensi unggulan dan kearifan lokal. Fenomena tersebut menarik untuk diteliti terkait dengan kejadian, klasifikasi atau kategorisasi, dan visualisasinya.

Keutamaan penelitian ini adalah level penting untuk direalisasikan karena pengembangan desain batik kontemporer Indonesia berbasis potensi dan kearifan lokal secara berkesinambungan dapat dilanjutkan menjadi berbagai wujud produk unggulan. Ketika tersaji dan terdokumentasi dengan baik dan terstruktur, hasil penelitian ini mampu dikembangkan menjadi subjek sekaligus objek turunan yang bernilai tinggi sehingga dapat terus hidup dan menghidupi masyarakat pelaku, praktisi, peminat, dan pengusaha batik yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama sentra dan kantong batik nasional di beberapa wilayah. Keberadaan batik dan konsep kontemporer yang dikembangkan telah menyatu dalam kehidupan keseharian masyarakat pelaku dan menjadi pertimbangan mereka ketika akan bertingkah laku. Unsur religi, politik, sosial, dan budaya dalam motif, warna, alur, pola, isen-isen, fungsi, teknik, proses, serta penyajian menjadi alasan batik terbukti menarik untuk didokumentasikan dari aspek pengembangannya dengan basis potensi unggulan dan kearifan lokal.

Indonesia belum memiliki data dan dokumentasi yang dapat digunakan sebagai model, pedoman, hasil pendalaman, pengkajian, penelitian, serta dasar perumus kebijakan bagi program peningkatan kualitas dan kuantitas industri kreatif secara nasional. Keunggulan potensi industri kreatif sebuah negara seharusnya menjadi prioritas untuk dikembangkan dan dikaji sebelum terbaca oleh negara atau pihak lain yang sebagian besar memiliki kekuatan finansial, modal kapital, dan fasilitas untuk mengolahnya tetapi minim kekuatan potensi sumber daya tradisi dan kearifan lokalnya.

Berdasarkan latar belakang di atas, agar dapat tercapai model dan pedoman Pengembangan Desain Batik Kontemporer Indonesia Berbasis Potensi Unggulan Daerah dan Kearifan Lokal sebagai Pendukung Program Peningkatan Industri Kreatif Berskala Nasional penelitian ini dirumuskan dengan fokus untuk mengetahui beberapa aspek bentuk dan langkah pengembangan desain batik kontemporer Indonesia dari para pelaku yang terdiri atas perajin, praktisi, pengusaha, pemerintah, dan elemen perguruan tinggi di wilayah kantong batik nasional. Setelah itu, wujud potensi unggulan daerah dan kearifan yang dipergunakan sebagai basis pengembangan desain batik kontemporer. Muara dari dua fokus permasalahan terdahulu adalah konsep pengembangan desain batik kontemporer di wilayah kantong batik dengan basis potensi unggulan daerah dan kearifan lokal yang mengarah pada peningkatan kualitas dan kuantitas industri kreatif nasional. Data terkait cara, wujud, dan konsep untuk pengembangan desain batik di wilayah kantong batik nasional menjadi capaian penting pada penelitian ini.

Temuan penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan desain batik kontemporer Indonesia, dalam kajian desain produk dengan basis potensi unggulan dan kearifan lokal, dengan tujuan peningkatan

kualitas dan kuantitas industri kreatif nasional. Sisi akademik dari penelitian ini adalah bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dari hasil penelitian yang bersifat ilmiah (dapat dipertanggungjawabkan) sehingga dapat digunakan sebagai acuan penelitian lanjutan oleh pengkaji dan peneliti lain dengan multiperspektif serta aspek kemanfaatan. Klimaksnya, hasil penelitian ini dapat menjadi pedoman dan masukan bagi pemegang kebijakan terkait industri kreatif secara khusus yakni Badan Ekonomi dan Industri Kreatif (BEKRAF) dan sektor terkait seperti perindustrian, perekonomian, dan pariwisata terkait model pengembangan aset nasional dengan basis kekuatan potensi unggulan dan kearifan lokal.

Batik Indonesia Saat Ini

Pengembangan desain batik kontemporer Indonesia dengan basis kekuatan potensi unggulan daerah dan kearifan lokal sebagai pendukung program peningkatan kualitas dan kuantitas industri kreatif selama ini telah menjadi topik sentral dalam buku, jurnal, kajian ilmiah, bahkan rumusan jangka panjang pemerintah meskipun belum terdapat keterpaduan sehingga dibahas dalam topik yang masing-masing berdiri sendiri. Hal pertama yang menarik untuk dipaparkan terkait kerangka teori model pengembangan industri kreatif ini adalah buku yang menguraikan rencana dan rumusan lengkap terkait industri kreatif dari perspektif ekonomi, atau lebih tepatnya tentang Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015 yang dipaparkan dan dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia di bawah penanggung jawab Menteri Perdagangan RI, Dr. Mari Elka Pangestu (Pangestu, 2008). Poin utama

landasan dan garis besar pengembangan industri kreatif dalam kerangka ekonomi diuraikan secara ringkas, di antaranya 1) pedoman operasional dan pembuatan kebijakan bagi pihak pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pengembangan ekonomi kreatif, 2) rujukan bagi instansi terkait pengembangan ekonomi kreatif sehingga terwujud sinergi positif dalam pembangunan nasional, 3) arahan bagi pelaku baik industri, pengusaha, cendekiawan, dan institusi bergerak di bidang industri kreatif serta terkait, 4) indikator pencapaian atau pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia, dan 5) sumber informasi tentang ekonomi kreatif yang diharapkan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi secara langsung dan tidak langsung dalam kegiatan pengembangan industri kreatif ini.

Relevansi penelitian ini dengan kebijakan yang telah ditentukan oleh pemangku, dalam hal ini pemerintah melalui Departemen Perdagangan RI, jika dilihat dari porsinya, masuk dalam wujud kontribusi masyarakat sekaligus bahan rujukan untuk analisis terkait koridor pengembangan batik kontemporer dengan basis potensi unggulan dan kearifan lokal. Buku yang memuat teori hasil analisis kegiatan terkait pengembangan batik adalah Laporan Pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Pemasyarakatan Teknologi Batik dalam Rangka Pengembangan Motif Corak Tradisional di Yogyakarta (Tim, 2009).

Referensi menarik lainnya tersaji dalam upaya pelestarian desain batik dengan digitalisasi (Sunarya, 2014). Langkah digitalisasi secara tidak langsung merupakan pengembangan desain karena visual yang tersaji melalui serangkaian proses kontemporer dalam hal ini melibatkan perangkat teknologi komputer berikut aplikasinya. Industri kreatif dalam posisi terkini dan mendatang diuraikan menarik dalam bab tersendiri pada buku ini. Tidak diragukan lagi bahwa inovasi desain terkait dengan industri kreatif mencakup dua hal utama yakni pengembangan desain produk (permasalahan pengayaan serta diversifikasi produk) dan proyeksi ekonomis (produk selera masyarakat menjadi pertimbangan utama).

Kontemporer diartikan sebagai modern dan kekinian. Hasil karya ataupun produk yang dihasilkan berbeda dari sebelumnya. Perbedaan tersebut melibatkan serangkaian pertimbangan, proses, kebutuhan, selera, dan material yang digunakan. Berdasarkan uraian tersebut, seni kontemporer adalah seni yang mengandung unsur kreasi baru bervariasi dengan sifat imitatif, ekspresif, realis, nonrealis, bahkan abstrak. Batasan-batasan didobrak dalam skema ini. Begitu pula dengan desain batik kontemporer. Kebaruan kreasi muncul dengan tujuan memenuhi selera masyarakat, penikmat, dan konsumen. Ikhwal kontemporer diuraikan secara singkat dan jelas dalam buku Estetika Kriya Kontemporer dan Kritiknya (Bastomi, 2012: 15-16, 40-44).

Desain batik yang dikembangkan dengan konsep kontemporer berbasis potensi dan kearifan lokal memerlukan serangkaian tahap perancangan. Usaha kreatif diperlukan dalam pengembangan desain. Identifikasi masalah terkait kebutuhan konsumen diperlukan sehingga hakikat desain sebagai solusi permasalahan tercapai (Rizali, 2012: 2-3). Dilihat dari perspektif kontemporer, desain batik Indonesia menjadi menarik dan kontradiktif antara fungsional yang wajar dengan 'pemberontakan' kreasi baru. Batik menjadi sebuah mahakarya industri

kreatif yang mendapat pengakuan secara internasional. Peran pemerintah sebagai pemangku kebijakan penting dalam mengemas batik sebagai sarana promosi Indonesia dan 'duta' kebudayaan yang mudah dipahami serta disajikan secara menarik. Peran lembaga pemerintah seperti koperasi, museum, dan yayasan dalam membesarkan batik sesuai dengan kebutuhannya dari zaman ke zaman menjadi referensi konsep pengembangan tersendiri yang menarik untuk dikaji (Muchtar, 2008: 26- 27). Pada Asian Journal of Social Sciences & Humanities Volume 3 No. 2 terbitan bulan Mei 2014 disinggung bahwa pengembangan desain batik dipengaruhi oleh selera, kondisi geografis, tren, dan kebutuhan masyarakat sehingga tercipta motif baru yang dinamis dan cepat diserap pasar. Hal tersebut diuraikan dengan mengambil kasus wilayah pembatikan Wonogiri yang terkenal dengan batik wonogirennya (Sarwono dan Nurcahyanti, 2014: 76).

Literatur Pendukung dan Penelitian Sebelumnya

Penelitian dan pengabdian masyarakat dengan basis potensi unggulan wisata untuk mengembangkan variasi desain motif batik pada kluster batik sido mukti di Sukoharjo dengan teknik dual motif memberikan gambaran menarik langkahlangkah yang telah dilakukan masyarakat sesuai dengan kapasitasnya. Hal tersebut dilanjutkan dengan pendampingan dari pihak perguruan tinggi terkait dengan alih teknologi serta dukungan permodalan yang kuat dari pemerintah sehingga menciptakan iklim industri yang sehat dan mampu bertahan karena kepekaan untuk menciptakan inovasi juga kemampuan membaca selera pasar. Keterbukaan perajin untuk alih teknologi dan memberikan informasi serta peluang kepada perguruan tinggi untuk mendampingi, membuka peluang luas bagi jaringan serta kemungkinankemungkinan baru guna kemajuan usaha (Nurcahyanti, 2016: 396-397).

Hasil penelitian Peran Fakultas Seni Rupa dan Desain dalam pengembangan Batik Pacitan yang disampaikan pada forum Lokakarya Pengembangan Potensi unggulan Desa Bidang Industri Kreatif Berbasis Sumber Daya Desa yang diselenggarakan pada 18 Mei 2016 menjadi acuan dalam lingkup kecil untuk pengembangan ke arah yang lebih luas. Pada kesempatan tersebut diuraikan bahwa minimnya desain dan standardisasi mutu produk menyebabkan pelaku usaha cenderung tidak responsif terhadap berbagai peningkatan desain dan mutu. Hasil tersebut menjadi penting digunakan sebagai panduan bahwa pengembangan desain batik kontemporer Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas serta kuantitas dalam industri kreatif menjadi sebuah urgensi yang harus direalisasikan (Handayani, 2016: 3).

Tim Peneliti "Pengembangan Desa Wisata Batik Girilayu"dari FSRD UNS menemukan beberapa hal menarik terkait pengembangan sebuah desain batik menjadi indikator manajemen yang baik dalam sebuah tata kelola usaha masyarakat. Pelaku menjadi kreatif dan percaya diri terhadap kegiatan yang dilakukan sehingga inovasi tercipta sejalan dengan informasi dan perkembangan yang mereka dapatkan. Peran pemerintah yang mendampingi secara kontinyu menghasilkan

iklim usaha yang sehat. Usaha batik yang demikian berhasil menjadi tumpuan hidup masyarakat karena diramu dengan potensi unggulan yang dimiliki seperti sumber daya alam, daya tarik wisata, tradisi, dan komunitas (Setyawan, 2016: 1-3).

METODE

Penelitian ini menganalisis pengembangan desain batik kontemporer Indonesia berbasis potensi unggulan daerah dan kearifan lokal sebagai pendukung program peningkatan industri kreatif berskala nasional. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan jenis penelitian dasar (basic research) dengan bentuk penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang suatu masalah melalui pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan (Frankfort-Nachmias, 2014: 10-12).

Lokasi penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah wilayah kantong batik nasional yang merepresentasikan corak serta pengembangan batik untuk wilayah Indonesia yaitu Surakarta (Solo). Industri batik Solo, memiliki karakter sebagai kantong batik Indonesia bagian tengah. Alasan pemilihan lokasi tersebut karena Surakarta merupakan kantong batik yang mampu menjadi representasi nasional dengan memuat aspek geografis, sosial, potensi unggulan, corak, dan kearifan lokal yang memiliki kesamaan karakter dengan lokasi kantong batik nasional lainnya seperti Padang, Cirebon, Pekalongan, Trusmi, Yogyakarta, Bayat, dan Madura (Patton, 2015: 635).

Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah informan atau narasumber. Informan adalah orang-orang atau pelaku yang terdiri atas empat komponen yakni praktisi, pemerintah, stakeholders, dan perguruan tinggi yang mengetahui dan memahami pengembangan desain batik kontemporer Indonesia. Sementara itu, sumber data sekunder berupa buku-buku, jurnal, dokumentasi, arsip, referensi, pustaka tentang pengembangan batik kontemporer Indonesia, dan penelitian-penelitian sebelumnya. Data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yakni data primer dan data sekunder.

Objek penelitian ini adalah engembangan desain batik kontemporer Indonesia. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah wawancara, content analysis 'analisis isi', dan observation 'pengamatan' dengan cara kerja wawancara, analisis konten, dan observasi. Data yang telah ada dan terkumpul perlu diuji keabsahannya agar diperoleh data yang memadai. Penelitian mengenai pengembangan desain batik kontemporer Indonesia menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan cara-cara paling umum yang digunakan bagi peningkatan validitas dalam penelitian kualitatif (Moleong, 2007: 56).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Surakarta (Solo) sebagai salah satu kantong batik yang memiliki tradisi membatik turun-temurun memiliki ciri khas karakter motif yang penuh simbol dan kaya filosofis. Warna gelap dominan cokelat kekuningan atau dikenal dengan sebutan sogan menjadi ciri khas dari batik Solo. Istilah berasal dari nama pohon soga jambal, yakni tanaman yang masuk dalam jenis tumbuhan polong-polongan (Fabaceae) (Veldhuisen, 2007: 32). Karakter batik keraton sangat mendominasi, terutama motif larangan yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarganya sebelum masa membuka diri keraton pada tahun 1960-an (Nurcahyanti, 2015). Mayoritas batik Surakarta berasal dari keraton. Meskipun terdapat batik saudagaran yang berpusat di Laweyan, ciri khas yang mendominasi adalah batik dari keraton klasik. Saat ini motif-motif klasik tersebut masih digunakan untuk upacara-upacara adat daur hidup di Surakarta, seperti mitoni (tujuh bulan kehamilan), pernikahan, dan kematian (Soedibyo, 2003: 87). Motif batik klasik Surakarta antara lain semua motif golongan semen (semen rama, semen babon angrem), semua motif golongan parang (parang klithik, parang barong), kawung, truntum, dan ceplok. Mayoritas batik tersebut memiliki pola geometris, kecuali motif alas-alasan yang digunakan untuk kain dodot atau busana kebesaran bagi raja yang memiliki corak stilasi penggambaran dari aneka satwa yang hidup di hutan (Yudhoyono, 2010: 71-75).

Pengembangan Desain Batik Kontemporer untuk Mendukung Program Industri Kreatif Nasional

Peran industri kreatif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat cukup besar dan signifikan. Berbagai kegiatan melibatkan berbagai kalangan mulai publik figur seperti penyanyi dan artis terkenal, seniman, akademisi, pemegang kebijakan, sampai dengan masyarakat menengah ke bawah yang berkecimpung dalam usaha bidang kreatif. Kelompok masyarakat tersebut bekerja dalam satu barisan komunitas kemudian mengadakan evaluasi bersama guna mencapai kebaruan bentuk penyajian. Penyanyi dan artis terkenal dapat memberikan pengaruh positif untuk dilihat dan dicontoh para fans atau pengikutnya. Seniman bekerja melalui

karya-karya individual maupun kolaboratif dengan pilihan tema yang mampu menstimulasi masyarakat untuk berkomentar dan mengkritik. Akademisi yang mayoritas pemikir memberikan kontribusi di bidang kebijakan berstan-dar nasional, misalnya terkait dengan perumusan SNI produk kerajinan tradisional. Pemegang kebijakan di sini adalah instansi atau lembaga di luar BEKRAF yang terkadang memiliki aturan yang kurang menguntungkan bagi sektor industri kreatif, mulai mengevaluasi dan merevisi ketetapannya yang menghambat peningkatan kualitas serta kuantitas produk maupun sajian dalam format industri kreatif.

Posisi batik kontemporer sebagai bagian dari industri kreatif nasional dapat dikatakan salah satu elemen kecil dan tidak dominan, tetapi memiliki tempat yang cukup penting. Batik kontemporer lebih tepat disebut sebagai kandidat untuk produk dan konsep industri kreatif yang prospektif untuk masa depan. Beb-rapa bidang yang masuk dalam konteks pengembangan industri kreatif di Indo-nesia antara lain mode, kriya, seni rupa, film, musik, kuliner, arsitektur, seni pertunjukan, aplikasi dan pengembangan game, desain produk, desain interior, desain komunikasi visual, penerbitan, kreator konten, perhotelan, wisata, dan fotografi. Sebuah majalah khusus yang dijadikan sumber referensi utama bagi perkembangan industri kreatif Indonesia yang berkualitas (Redaksi, 2016: i), menuliskan bahwa masa depan industri kreatif semakin terang dan infrastrukturnya semakin solid. Sorotan terhadap progress industri ini difokuskan pada subsektor di bidang kreatif yang menjadi prioritas dukungan BEKRAF dan dapat dipercaya sebagai tulang

punggung perekonomian di Indonesia.

Kemungkinan peningkatan kualitas dan kuantitas produk industri kreatif secara nyata dicapai karena adanya kerja keras dan kemauan dari subjek, individu, atau pelaku sebab jika mempertanyakan minimnya fasilitas, hal tersebut tidak terbukti. Aksesibilitas dan fasilitas untuk penunjang hampir dipermudah dan tersedia dan aspek kualitas dapat ditingkatkan melalui pembaruan strategi. Sementara itu, aspek kuantitas bergantung pada pembelanjaan untuk memutar modal. Selain itu, kualitas memerlukan tolok ukur yakni kebijakan pemerintah.

Animo masyarakat mengenai kebaruan desain sangat besar. Mereka selalu mendambakan hal baru dan originalitas. Kecenderungan masyarakat saat ini adalah mulai jenuh dengan motif lama atau klasik. Model baru dengan variasi bentuk serta warna dan daya tarik desain menjadi daya tarik konsumen. Sebelumnya, desain ditentukan oleh selera masyarakat dan tren. Saat ini konsumen dapat diarahkan untuk menyukai produk baru yang dipromosikan secara gencar. Begitu pula dengan desain batik kontemporer yang menciptakan konsumennya sendiri. Mayoritas desainer mampu membaca keberadaan konsumenkonsumen loyal dengan karakter serta kegemaran tertentu (lihat Gambar 1).

Ketika batik dengan desain kontemporer yang edisi khusus dipasarkan, pasti akan diburu oleh para kolektor setia (pencinta batik). Teori "pasar bisa diciptakan" benar-benar diterapkan oleh para desainer dan produsen (Kartajaya, 2007: 282). Masyarakat mulai paham tentang kualitas dan produk eksklusif sehingga memiliki benda yang tiada duanya akan menaikkan pamor status mereka, terutama sosial media di era posmodern ini (Keyes, 2004: 81-93).

Keutamaan Peran Potensi Unggulan dan Kearifan Lokal Sebagai Sumber Pengembangan Desain Batik Kontemporer

Potensi unggulan dan kearifan lokal me-miliki urgensi sebagai sumber ide dan gagasan yang khas. Keberagaman yang ada menjadi modal dan keuntungan besar. Dua poin tersebut lebih menarik dibandingkan mendasarkan sumber pengem-bangan dari tren atau permin-taan pasar. Tren terlalu cepat berubah dan bersifat sementara atau tematik. Sementara itu, potensi unggulan dan kearifan lokal bersifat jangka panjang.

Gambaran desain batik kontemporer sebelum dikembangkan pada umumnya masih berkisar pada pengolahan motif lama yang direkayasa secara ukuran, penempatan, dan komposisi warna. Sebagai contoh motif kawung yang diperbesar dua kali lipat dari

12

Gambar 1 Korelasi antara pengembangan desain batik dalam konteks kontemporer dengan minat konsumen, dulu dan sekarang. (Sumber: Penulis)

aslinya pasti akan menghasilkan nuansa motif yang berbeda, ditambah dengan paduan warna kontras menciptakan atmosfer desain kontemporer yang baru. Mengombinasikan dua motif atau lebih juga sebagai cara untuk menciptakan desain batik yang baru.

Desain batik kontemporer yang dikembangkan berdasar pada potensi unggulan dan kearifan lokal lebih memiliki karakter dan khas karena memasukkan unsur-unsur yang sudah familiar dan dikenal di masyarakat. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika konsumen tersebut bukan penduduk lokal atau orang di luar asal batik tersebut. Akan terbangun komunikasi dengan bertanya kepada orang atau masyarakat asal batik tersebut dibuat. Kesempatan untuk menjelaskan sekaligus menjadi sarana informasi dan edukasi. Sebagai contoh adalah pengembangan desain batik kontemporer untuk wilayah Sukaharjo atau daerah ekskaresidenan yang terletak di sebelah timur Surakarta. Pengembangan tersebut berupa inspirasi desain dari potensi unggulan wisata "Sendang Pinilih" sehingga tercipta motif batik bernama serupa dengan tempat tersebut (lihat Gambar 2).

Dampak dari produk industri kreatif batik dengan basis inspirasi potensi unggulan dan kearifan lokal setelah dikembangkan adalah menggeliatnya sektor industri dan perekonomian pelaku (perajin, produsen, reseller). Unik dan otentik adalah karakter yang muncul dari produk ini sehingga semakin mempertegas identitas budaya Indonesia. Jika berdasarkan tren dan ikut arus, para perajin akan dilibas oleh produsen besar yang memiliki modal kapital tinggi, terutama di iklim pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asia sekarang ini.

Gambar 2 Motif batik sendang pinilih sebagai contoh hasil pengembangan desain dengan basis potensi unggulan dan kearifan lokal. (Sumber: Penulis)

SIMPULAN

Fleksibilitas batik kini mampu masuk dan diadopsi sebagai media untuk memperkenalkan identitas, karakter dan keberagaman budaya di Indonesia. Wastra ini mampu menerjemahkan wastra lain seperti tenun, songket, dan ikat sebagai motifnya dalam batik motif tenun sumbawa. Sebaliknya, wastra lain tidak mampu menerjemahkan motif batik dalam tekniknya. Batik mudah diolah karena pada prinsipnya hampir sama seperti ide dasar teknik lukis, yang menggambarkan mimesis (tiruan objek sebenarnya) dan imajinasi dalam selembar kain dengan kuas canting-malam, sehingga eksplorasi bentuk, warna, serta desain secara keseluruhan tidak terbatas, termasuk mengambil inspirasi dari motif maupun karakter warna dari wastra lain.

Industri kreatif menempati posisi sebagai media penghantar batik untuk menopang perekonomian nasional. Setelah pemerintah membentuk BEK-RAF (Badan Ekonomi Kreatif), jalan menuju kesejahteraan dengan basis potensi unggulan dan kearifan lokal membuahkan hasil menggembirakan. Awalnya perajin dan pengusaha kecil kesulitan untuk pemasaran produk sebagai kendala terbesar, tetapi saat ini dipermudah dengan adanya multiprogram dari BEKRAF untuk media penjualan, promosi, serta yang paling utama adalah membangun jejaring. Konsep industri kreatif merupakan angin segar bagi tumbuhnya perekonomian karena hal tersebut merupakan solusi untuk menghasilkan produk baru dan unggul tanpa mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Potensi unggulan dan kearifan lokal menjadi sumber ide yang digunakan untuk proses pengolahan lebih lanjut. Segala bidang yang terkait dengan keistimewaan yang terdapat pada istimewa tidak harus berasal dari warisan atau produk lama, sebuah wilayah dapat disebut dengan potensi unggulan. Sebuah potensi yang tetapi temuan dan buatan baru dapat masuk pada kategori ini. Bisa dikatakan bahwa kearifan lokal termasuk dalam potensi unggulan, tetapi tidak semua unsur kearifan lokal bersifat unggul, sehingga dua hal tersebut bersifat komplementer atau saling melengkapi.

Jika dalam suatu daerah belum terdapat potensi unggulan, tugas pihak berkepentingan untuk segera melakukan identifikasi dan klasifikasi, sehingga menjadi dasar utama untuk pengembangan berbagai bidang terutama sarana untuk menopang industri kreatif. Peng-embangan desain batik dapat dilakukan meskipun hanya terdapat satu sumber, yakni potensi unggulan atau kearifan lokal.

Formula utama telah ditemukan yaitu pengembangan desain batik bersumber potensi unggulan dan kearifan lokal mampu bertahan untuk menghadapi persingan pasar global atau internasional. Keresahan bahwa batik tidak mampu bertahan lama karena masih terbatas pada pakem, aturan serta tradisi dan jauh dari modernitas tidak cukup beralasan. Batik tidak harus diwujudkan menjadi selembar kain, tetapi dapat berupa elemen atau unsur yang terkandung di dalamnya seperti makna filosofisnya, proses, ragam hias pembentuknya, dan polanya. Bentuk atau model diferensiasi produk dapat menggunakan konsep yang sudah ada. Namun desain baru akan menghasilkan tampilan yang berbeda. Ibarat lukisan baru, meskipun diterapkan pada media batu, kaos, dinding, atau pecahan kaca sekalipun tetap akan menarik karena ada kebaruan konsep yang belum pernah tersaji sebelumnya.

CATATAN

Tulisan ini dipresentasikan pada Seminar 1st International Conference on Art, Craft, Culture, and Design ICON-ARCCADE 2017 Kerja Sama Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dengan Jurnal Sosioteknologi.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

26
Citations
16.44
FWCIfield-weighted
99th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20253
20244
20236
20226
20215
20202

Semantic Profile AI-classified research signals

Institution Network

References

  1. Atkinson, P. dan Delamont, S. (2011). SAGE qualitative research methods volume VI. Point in 66th Volume IV "Reembodying Qualitative Inquiry" by Margarete Sandelowski. USA: SAGE Publications.
  2. Bastomi, S. (2012). Estetika kriya kontemporer dan kritiknya. Semarang: UNNES Press.
  3. Frankfort-Nachmias, C., Nachmias, D., dan DeWaard, J. (2014). Research methods in the social sciences. Minnesota: Macmillan Learning.
  4. Handayani, S. R. (2016). Peran Fakultas Seni Rupa dan Desain dalam pengembangan Batik Pacitan, dalam Makalah yang Dipresentasikan sebagai Narasumber Lokakarya pengembangan
  5. potensi unggulan desa bidang industri kreatif berbasis sumber daya desa pada 18 Mei 2016.
  6. Hoffman, J. M. (2002). The journal of decorative and propaganda arts design, culture, identity. The Wolfsonian-Florida International
  7. University: MIT Press.
  8. Kertajaya, H. (2007). Siasat bisnis: menang dan bertahan di abad Asia Pasifik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  9. Keyes, Ralph. (2004). The post-truth era: Dishonesty and deception in conteporary life. USA: St. Martin
  10. Moleong, L. J. (2007). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  11. Muchtar D. (2008). Indonesian batik: A cultural beauty. Jakarta: TREDA dan Departemen Perdagangan RI.
  12. Nurcahyanti, D. (2015). Larang an motif: The boundary between priyayi and kawula in karaton Surakarta Hadiningrat, dalam Prosiding Dipresentasikan Pada Javanese Royal Lifestyle Conference. Surakarta: Institut Javanologi LPPM UNS.
  13. Nurcahyanti, D. (2016). Workshop dan sosialisasi pengembangan desain Batik berbasis potensi unggulan Sukoharjo sebagai upaya perlindungan aset budaya, dalam Prosiding Dipresentasikan pada Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peran Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kewirausahaan dan Karsa Cipta Melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat pada 31 Maret 2016. Jakarta: Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti.
  14. Pangestu, M. E. (2008). Rencana pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2009-2015. Jakarta: Departemen Perdagangan RI.
  15. Patton, M. Q. (2015). Qualitative research and evaluation methods. USA: SAGE Publications. Redaksi. 2016. Paraf: Kolektif visi dan inspirasi edisi 02. Majalah. Jakarta: PT. Ide Untuk Indonesia.
  16. Rizali, N. (2012). Metode perancangan tekstil. Surakarta: UNS Press.
  17. Sarwono dan Nurcahyanti, D. (2014). The development of traditional batik dalam Asian Journal of Social Sciences & Humanities Vol. 3 (2) Mei 2014. Oyama: Lena & Luna Publishing.
  18. Setyawan, A. N. (2016). Model pengembangan Desa Wisata Batik Girilayu berbasis budaya lokal sebagai konsep strategis pengembangan ragam tujuan wisata (destination branding) "kantong budaya
  19. Soedibyo, M. (2003). Busana keraton Surakarta Hadiningrat.
  20. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Sunarya, Y. Y. (2014). Digitalisasi kreatif motif dalam gaya desain dunia. Bandung: Penerbit ITB.
  21. Tim, P. (1997). Pelaksanaan pendidikan dan latihan pemasyarakatan
  22. teknologi batik dalam rangka pengembangan motif corak tradisional di yogyakarta dalam format laporan hasil kegiatan. Yogyakarta: Departemen Perindustrian dan Perdagangan R.I, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.
  23. Veldhuisen, H. C. (2007). Batik Belanda 1840-1940: Pengaruh Belanda pada batik Jawa, sejarah dan kisah-kisah di sekitarnya. Jakarta: Gaya Favorit Press.
  24. Yudhoyono, A. (2010). Batikku: Persembahan cinta tak berkata. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.