1. Home
  2. Archives
  3. Vol 17 (2019) Issue 3
  4. Articles

STUDI TIPOLOGI DAN ORIENTASI RUMAH PADA KAWASAN PERMUKIMAN PADAT DI ASTANA ANYAR, TEGALLEGA, KOTA BANDUNG

Abstract

Fasade atau tampak muka bangunan adalah bagian dari bangunan yang menunjukkan orientasi ke arah jalan. Fasade bangunan dapat menyampaikan latar belakang, kondisi, dan situasi budaya yang terjadi pada saat bangunan tersebut dibangun, juga dapat menceritakan karakteristik individu penghuni di dalamnya, maupun identitas kolektif suatu komunitas, dan representasi karakteristik penghuni pada publik. Komposisi fasade, dengan mempertimbangkan semua persyaratan fungsional (jendela, bukaan pintu, bidang atap, teritisan), pada dasarnya berkaitan dengan penciptaan kesatuan harmonis antara proporsi elemen vertikal dan horizontal, bahan/material, warna, dan elemen dekoratif. Fasade bangunan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya, lebar jalan, batas-batas sekitar bangunan menjadi faktor-faktor penting yang akan menentukan bentuk dan orientasi bangunan. Berbeda dengan kawasan perumahan terpadu yang telah diatur dengan baik, bentuk dan orientasi bangunannya, kawasan padat penduduk akan memiliki keragaman bentuk dan orientasi, bergantung pada lokasi tempat rumah itu berada. Kawasan Astana Anyar, Tegallega Bandung adalah salah satu kawasan padat penduduk yang menarik untuk dikaji tipe dan orientasi fasade bangunannya, karena terdiri atas kombinasi antara area terbuka (node) dan sirkulasi (path). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe dan orientasi fasade bangunan pada kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis tipologi melalui observasi elemen fasade dan bentuk bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area terbuka (node) sangat memengaruhi tipologi dan orientasi bangunan. The facade or the face of the building is part of the building that usually faces the street. The facade of the building can describe the background, condition and cultural situation that occurred at the time the building was built. A facade can also tell the characteristics of the individual inhabitants within it, as well as the collective identity of a community that makes it a representation of its inhabitants to the public. The composition of a façade, despite all its functional requirements (windows, door openings, roof planes, eaves) is essentially related to the creation of a harmonious unity between good proportions of vertical and horizontal elements, materials, colors and decorative elements. The facade of the building is also influenced by environmental conditions. The distance between one house to another, the width of the road, the boundaries around the building becomes one of the important factors that will determine the shape and orientation of the building. In contrast to the integrated residential areas that have been well-regulated form and orientation of buildings, densely populated areas will have a diversity of shapes and orientations depending on the location where the house is located. The area of Astana Anyar, Tegallega becomes one of the most interesting densely populated areas to study because it consists of a combination of open area (node) and circulation (path). This research method was conducted using a typology approach and refers to the façade elements. The purpose of this study is to find out the type and orientation of building facades in the area. The results of the study indicate that the open area (node) greatly influences the typology and orientation of the building.

Keywords

Keywords: typology, orientation, house, façade, dense population

PENDAHULUAN

Permukiman padat merupakan suatu kawasan yang biasa ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Pertumbuhan permukiman padat dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pertumbuhan penduduk yang cukup pesat, urbanisasi yang tidak terkendali, kemampuan ekonomi yang terbatas, dan harga tanah yang semakin tinggi. Permukiman padat sering dianggap kumuh, kotor, dan tidak teratur, padahal di dalamnya terdapat berbagai fenomena menarik, terutama dalam konteks sosial dan arsitektural. Permukiman padat terjadi akibat tingginya nilai jual tanah di perkotaan namun tidak sebanding dengan daya beli/ pendapatan masyarakat yang rendah sehingga tumbuh berbagai tempat tinggal sementara yang dibangun tanpa adanya peraturan dan perencanaan yang baik. Beberapa ciri permukiman padat antara lain jumlah penduduk yang sangat padat (akibat kelahiran dan urbanisasi) dalam suatu wilayah, sebagian besar penduduk memiliki tingkat ekonomi yang rendah, lingkungan yang kotor dan tidak teratur, serta fasilitas publik yang tidak memadai.

Dari segi bentuk, perumahan dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu perumahan teratur, perumahan setengah teratur, dan perumahan tidak teratur (Safeyah, 2008). Kompleks perumahan yang dikembangkan developer termasuk dalam kelompok perumahan teratur karena memiliki bentuk yang tipikal sesuai dengan luasannya, orientasi bangunan yang tertib ke arah jalan, serta dilengkapi dengan infrastruktur yang baik. Sementara itu, kawasan permukiman padat termasuk ke dalam perumahan tidak teratur karena setiap rumah dapat dibangun tanpa panduan bentuk dan orientasi terhadap objek di sekitarnya.

Ketidakteraturan tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya seperti lokasi area terbuka, lebar koridor sirkulasi, cahaya matahari, vegetasi, dan bangunan lain. Jika diperhatikan secara umum, distribusi letak rumah di permukiman padat seolah-olah sangat tidak teratur. Namun, jika dikaji secara khusus sebenarnya terdapat polapola unik yang menarik untuk diteliti

(Funo, 2002). Meskipun tidak teratur, rumah merupakan citra penghuni di dalamnya. Rumah yang layak akan meningkatkan harkat dan martabat penghuninya (Hariyono, 2007).

Permasalahan dalam penelitian ini adalah mencari cara untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan faktorfaktor yang memengaruhi tipologi bentuk rumah tinggal dan orientasinya pada permukiman padat di wilayah Astana Anyar, Tegallega, Bandung. Hal ini dilakukan melalui pengelompokan elemenelemen fasade bangunan sebagai bagian yang paling mudah diidentifikasi secara visual. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kecenderungan bentuk dan orientasi bangunan yang terdapat di kawasan permukiman padat.

METODE

Penelitian ini merupakan hasil survei lapangan (field survey), dengan cara observasi kawasan, wawancara, dan pengamatan langsung terhadap elemen fasade, bentuk rumah, dan orientasi bangunan di Kawasan Astana Anyar, Tegallega, Bandung. Metode penentuan sampel bangunan dilakukan dengan teknik purposive sampling untuk memilih rumah-rumah yang dianggap menarik di dalam kawasan tersebut. Kriteria rumah yang dipilih adalah

Gambar 1 Kode Bangunan Yang Dijadikan Sampel

rumah-rumah yang memiliki orientasi terbuka terhadap node (area terbuka). Untuk memudahkan proses pengumpulan data dan dokumentasi. Setiap rumah yang dipilih diberikan kode berupa nomor sesuai dengan jumlah rumah yang dijadikan sampel (Gambar 1 untuk memudahkan dalam proses analisis. Terdapat sebelas bangunan yang dijadikan objek studi.

Langkah selanjutnya adalah menganalisis tipologi dan orientasi bangunan melalui pendekatan bentuk (shape) dan arah (direction) fasade bangunan. Untuk memperoleh hal tersebut, dilakukan pengamatan fisik bangunan dengan membandingkan elemen, bentuk, dan orientasi setiap bangunan yang berada di dalam kawasan studi. Hasil perbandingan kemudian dikelompokan berdasarkan tipe-tipe bangunan yang memiliki kemiripan bentuk. Setelah itu, kelompok tipe bangunan yang serupa, dikaji alasan yang melatarbelakangi terjadinya bentuk tersebut.

Kajian Teoretis

Fasade adalah salah satu elemen arsitektur yang mampu menjelaskan fungsi dan makna sebuah bangunan (Krier, 2001). Fasade atau façade berasal dari bahasa Latin facies yang memiliki arti wajah dan penampilan sehingga fasade dapat diartikan juga sebagai bagian bangunan yang dapat dilihat/diamati dari arah luar dan (biasanya) menghadap ke arah jalan. Fasade bangunan dapat menyampaikan keadaan sejarah, ekonomi, dan budaya pada saat bangunan tersebut didirikan. Fasade bangunan secara tidak langsung akan menceritakan karakteristik penghuni di dalamnya (Satriaji, 2015). Fasade bangunan yang memiliki banyak bukaan seolah menggambarkan karakter penghuni yang terbuka. Begitu pun sebaliknya fasade bangunan yang cenderung tertutup seolah menolak kehadiran tamu untuk datang berkunjung.

Tipologi adalah sebuah konsep yang memilah kelompok objek berdasarkan kesamaan sifat-sifat dasar (Karisztia, 2008). Kajian tipologi dilakukan dengan upaya untuk mencari kesamaan elemenelemen yang dimiliki suatu objek. Beberapa aspek yang dapat digunakan untuk melakukan kajian tipologi dalam ranah arsitektur antara lain fungsi, bentuk, karakteristik, dan gaya. Dalam penelitian ini, elemen yang diidentifikasi adalah elemen fasade, bentuk, dan orientasi bangunan agar dapat dikelompokkan menurut kriteria/aspek yang telah ditentukan. Penelitian ini menekankan pada kajian tipologi bentuk sehingga wujud fisik bangunan menjadi bagian penting yang diperhatikan.

Sebuah bangunan terdiri atas berbagai elemen, antara lain pintu, jendela, dinding, atap, dan sun shading (Krier, 2001). Elemen-elemen tersebut akan terintegrasi menjadi sebuah komposisi arsitektur. Komposisi dalam arsitektur terdiri atas lima unsur dasar, yaitu angka (number), geometri (geometry), proporsi (proportion), hierarki (hierarchy), dan orientasi (orientation) (Hanlon, 2009). Orientasi sebagai salah satu hal utama yang dibahas dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai arah yang digunakan sebagai pedoman suatu objek terhadap objek lain. Dalam ranah arsitektur, sebuah bangunan akan selalu berorientasi terhadap sesuatu, seperti cahaya matahari, sungai, jalan, dan area terbuka. Pada permukiman yang teratur, orientasi bangunan akan selalu mengarah ke jalan, sedangkan pada permukiman padat, orientasi bangunan menjadi poin yang menarik untuk diteliti. Bentuk bangunan dan orientasi akan selalu berhubungan, misalnya detail pada bangunan seperti arah bukaan (pintu dan jendela), jumlah, bentuk dan besaran bukaan, dan material yang digunakan, akan dipengaruhi oleh objek yang ada di depan bangunan.

Area terbuka dalam sebuah permukiman padat sering dijadikan sebagai ruang publik, yaitu tempat umum semua penghuni bebas melakukan berbagai aktivitas. Ruang publik di kota-kota di Indonesia umumnya tampak tidak beraturan dan masih menimbulkan persoalan dan perbedaan kepentingan dari berbagai pihak (Hariyono, 2007). Ruang publik terdiri atas lingkungan fisik, yaitu alam dan benda-benda di sekitarnya, serta lingkungan sosial, yaitu masyarakat (Hidjaz, 2011).

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kawasan Studi

Kawasan Astana Anyar, Tegallega merupakan salah satu kawasan di Bandung bagian selatan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi, lingkungan yang tidak teratur, akses dan sirkulasi yang bercabang, serta fasilitas publik yang tidak memadai (air, listrik). Kawasan ini berada di sumbu utama Kota Bandung yang secara logis seharusnya memiliki nilai fungsi tinggi. Namun, pada kenyataannya justru menjadi kawasan 'kampung kota' karena kondisi lingkungannya yang tidak teratur, terbukti dengan lebar koridor yang tidak sama serta bentuk dan luas bangunan yang tidak serupa.

Kawasan studi berada di wilayah RT 02, RW 02, Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astana Anyar (Gambar 2). Secara demografi kawasan ini terdiri atas 56 kepala keluarga (KK) dengan jumlah warga 217 orang, terdiri atas penduduk atas dan pendatang dari berbagai daerah. Sebagaian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai wiraswasta dan Pegawai Negeri Sipil (PNS), sedangkan sisanya adalah ibu rumah tangga dan siswa sekolah. Tidak semua rumah di RT 02 menjadi kasus studi, yang dipilih hanya yang memiliki node paling menarik.

Selanjutnya, dipilih sebuah kawasan studi sebagai fokus penelitian (Gambar 3) berdasarkan beberapa alasan, yaitu pertama, kawasan memiliki sirkulasi/ koridor (path) dan area terbuka (node) yang beragam. Keberadaan path dan node ini memberikan pengaruh penting yang menentukan cara warga memilih orientasi dan bentuk bangunan rumah tinggal mereka. Kedua, aksesibilitas menuju kawasan beragam, dapat diakses dengan berjalan kaki, kendaraan roda dua (sepeda dan motor), serta akses terbatas bagi kendaraan roda empat (mobil). Ketiga, sebagian besar bangunan memiliki fungsi seragam, yaitu sebagai tempat tinggal, tetapi dengan bentuk beragam. Tiga keunikan ini yang

Gambar 2 Lokasi Kawasan Studi (a) Wilayah Kelurahan Pelindung Hewan; (b) Kawasan RT 02, RW 02

membuat Kawasan Astana Anyar menjadi objek yang sangat menarik untuk diteliti. Akses utama menuju kawasan ini adalah melalui Jalan Nyengseret (Gambar 4), yang dapat dimasuki oleh kendaraan roda empat (satu arah).

Keberadaan ruang terbuka di kawasan ini memberikan manfaat bagi warga untuk menjadikannya sebagai pusat aktivitas di luar rumah. Meskipun bersifat publik, beberapa warga berusaha memprivatisasi ruang terbuka tersebut dengan menjadikannya sebagai tempat parkir dan tempat menjemur pakaian. Sementara itu, warga yang memiliki anak-anak menjadikan area terbuka itu sebagai tempat bermain.

Terdapat sebelas bangunan dalam kawasan yang menjadi fokus penelitian ini, yang dapat dibedakan menjadi tiga fungsi utama, yaitu hunian tunggal (merah), hunian Bersama/kos (biru) dan fungsi

komersil/warung (merah) (Gambar 5). Setiap rumah memiliki bentuk dan massa yang berbeda. Fungsi komersil (warung) di area ini menjadi salah satu pusat aktivitas bagi sepuluh bangunan lainnya. Beberapa warga membeli beberapa barang kebutuhan pokok di warung tersebut sambil sesekali mengobrol dan 'nongkrong' di tempat itu.

Orientasi Bangunan

Orientasi bangunan dapat diidentifikasi menurut beberapa elemen yang terdapat pada bangunan dan objek sekitarnya. Sebagian besar bangunan di kawasan ini memiliki muka yang menghadap ke arah area terbuka (Gambar 6). Terdapat 9 rumah yang menghadap node dan 2 rumah yang menghadap path. Area terbuka menjadi pilihan utama untuk orientasi karena area ini menjadi tempat warga bersosialisasi dan berkumpul bersama.

Gambar 3 Fokus Kawasan Studi

Gambar 4 Path dan Node dalam Kawasan Studi

Bentuk orientasi bangunan yang bersifat terpusat dan terbuka ini membuktikan bahwa hubungan sosial antara warga satu dengan warga lainnya cukup baik. Sistem orientasi seperti ini memerlukan kepercayaan yang tinggi antarwarga dalam satu node. Beberapa rumah bahkan tidak memiliki pagar masif yang menghalangi akses menuju rumah. Dari hasil survei diketahui bahwa warga sudah saling mengenal satu dengan lainnya sejak lama

sehingga tercipta hubungan kepercayaan yang baik. Beberapa faktor yang memengaruhi orientasi bangunan di kawasan ini adalah: a. Area terbuka (node). Area terbuka menjadi faktor utama penentu orientasi karena kawasan ini berbentuk kantung sehingga akses keluar masuk mau tidak mau harus melalui area ini. Selain itu, area terbuka menjadi tempat warga beraktivitas sambil bersosialisasi dengan warga lain.

Gambar 5 Fungsi dan Bentuk Fasade Rumah Tinggal

Gambar 6 Orientasi Bangunan

Gambar 7 (a) Massa Bangunan Simulasi Persebaran Cahaya Pagi Hari (b) Massa Bangunan dan Simulasi Persebaran Cahaya Sore Hari

TipeDeskripsiGambar
Front to
front
Orientasi bangunan front to front terlihat pada path menuju area terbuka. Orientasi ini merupakan orientasi terbaik dalam koridor bangunan, karena memungkinkan terjadinya interaksi antara satu penghuni dengan penghuni lainnya. Pada tipe ini, sebagian besar rumah menggunakan pagar terbuka/transparan.
Front to
back
Orientasi ini terjadi pada bangunan yang berada
di belakang bangunan yang berorientasi ke area
terbuka. Orientasi ini dianggap kurang begitu
baik, karena menyebabkan kurangnya interaksi
antara penghuni. Namun ada beberapa rumah
yang memiliki pintu belakang untuk
memudahkan akses.
Front to
side
Orientasi ini terjadi akibat bentuk bangunan yang
berada di samping bangunan lain sehingga view
yang dilihat hanya dinding pembatas. Orientasi
ini kurang begitu baik karena tidak

TABEL I TIPE ORIENTASI BANGUNAN

b. Jalur lintasan matahari. Karena bentuk bangunan yang tidak teratur, setiap rumah mencoba untuk membuat bukaan (pintu dan jendela) sebanyak mungkin ke arah matahari, agar pencahayaan alami di dalam rumah dapat diperoleh secara optimal. Hal ini juga dilakukan untuk menghemat energi.

c. Kondisi visual lingkungan di sekitar tempat tinggal. Setiap rumah mencoba untuk mencari pemandangan paling menarik di sekitar tempat tinggal mereka.

Di kawasan Astana Anyar terdapat 3 tipe potongan koridor, yaitu tipe front to front, tipe front to back, dan tipe front to side. Tiga tipe ini terjadi karena dipengaruhi oleh interaksi antara bangunan dengan objek lain di sekitar bangunan tersebut (Tabel I).

Tipe orientasi bangunan yang pertama adalah front to front, yaitu orientasi bangunan yang tampak muka bangunannya saling berhadapan. Tipe ini merupakan tipe orientasi paling baik karena penghuni dapat melihat penghuni lain di depannya sehingga memungkinkan terjadinya interaksi sosial. Di kawasan ini tipe front to front didukung dengan penggunaan pagar yang bersifat transparan. Namun, jalan yang tidak terlalu lebar mengakibatkan seolah-olah jarak satu rumah dengan rumah lain menjadi sangat dekat. Privasi penghuni kemungkinan akan sedikit terganggu. Tipe orientasi bangunan yang kedua adalah front to back, yaitu bila salah satu muka bangunan menghadap bagian belakang bangunan lain. Tipe ini merupakan tipe orientasi yang paling tidak baik karena interaksi sosial antarpenghuni akan sulit terjadi. Tipe orientasi bangunan yang ketiga adalah front to side, yaitu bila salah satu muka bangunan menghadap ke sisi bangunan lain. Tipe orientasi ini dianggap kurang begitu baik karena terbatasnya akses interaksi antarpenghuni.

Dalam kawasan ini terdapat dua jenis massa bangunan, yaitu bangunan dengan ketinggian satu lantai dan dua lantai. Hunian tunggal cenderung memiliki massa bangunan satu lantai, sedangkan hunian bersama (kos-kosan)

TABEL II TIPOLOGI BENTUK BANGUNAN
TipeDeskripsiGambarKode Rumah
Tipe 1
Bangunan +
Teras +
Halaman
berbentuk L
Bangunan tipe 1 adalah bangunan yang memiliki dua muka bangunan berbentuk L dengan bukaan ke arah koridor serta memiliki halaman dan teras. Tipe ini terjadi pada kavling yang berada di sudut. Biasanya terdapat dua akses masuk ke dalam rumah, yaitu dari depan dan samping.1, 6, 8, 9
Tipe 2
Bangunan +
Teras +
Halaman
Bangunan tipe 2 adalah bangunan yang memiliki satu muka bangunan ke arah koridor serta memiliki halaman dan teras. Tipe ini merupakan tipe standar bangunan yang menggunakan halaman dan teras sebagai area perantara.3, 4, 5, 7
Tipe 3
Bangunan +
Teras
Bangunan Tipe 3 adalah bangunan
yang hanya memiliki teras saja
sebagai area penyaring (buffer)
yang disebabkan oleh lahan sempit.
2, 10, 11

memiliki massa bangunan dua lantai. Perbedaan ketinggian tersebut akan memengaruhi distribusi cahaya pada bangunan satu lantai yang berada di sebelah atau depan bangunan dua lantai. Fenomena ini akan berpengaruh pada posisi bukaan (jendela) bangunan hunian tunggal, yang cenderung meletakkan bukaan pada sisi yang tidak terhalang bangunan lain. Dampak lainnya adalah lokasi jemuran di setiap rumah mencoba untuk mencari area yang terkena cahaya matahari langsung. Bahkan, tidak jarang penghuni memprivatisasi ruang publik untuk aktivitas menjemur. Pada kasus lain ada penghuni yang menjemur pakaian di pagar sehingga secara visual sangat mengganggu.

Pada simulasi persebaran cahaya matahari di pagi hari (Gambar 7a), terlihat bangunan dua lantai yang berada di sebelah timur cenderung menghalangi datangnya cahaya matahari ke bangunan lain. Akibatnya, penghuni akan kesulitan untuk menjemur dan mengeringkan pakaian di pagi hari. Namun, dengan adanya area terbuka yang tidak terhalang bangunan, banyak penghuni yang menjemur pakaiannya di area ini. Pada simulasi persebaran cahaya matahari di sore hari (Gambar 7b), cahaya matahari dapat masuk dengan maksimal karena tidak adanya bangunan berlantai dua atau lebih dari sebelah barat. Banyak bangunan yang cenderung memiliki bukaan di arah barat supaya dapat menangkap cahaya matahari.

Dalam mengkaji tipologi bentuk bangunan di kawasan Astana Anyar, indikator yang digunakan adalah elemen massa bangunan, teras, dan halaman rumah. Teras yang dimaksud di sini adalah bagian depan rumah yang diberi perkerasan (semen, keramik, dll), sedangkan halaman adalah bagian depan rumah yang tidak diberi perkerasan dan dapat menyerap air. Tipologi bentuk yang ditemukan dapat dibedakan menjadi tiga tipe (Tabel

II), yaitu tipe bangunan, teras, dan halaman berbentuk L (tipe 1); tipe bangunan, teras, dan halaman (tipe 2); dan tipe bangunan dan teras saja (tipe 3). Ketiga tipe ini tersebar merata dalam kawasan studi.

Bangunan tipe 1 adalah bentuk bangunan yang memiliki teras dengan halaman berbentuk L, biasanya ditemukan pada rumah yang berada di sudut. Tipe 2 adalah bangunan yang memiliki teras dan halaman di depannya. Sementara itu, tipe 3 adalah bangunan yang hanya memiliki teras. Dari ketiga tipe tersebut, meskipun lahan yang tersedia tidak terlalu luas, hampir semua rumah memiliki teras di depannya. Teras ini digunakan penghuni untuk menerima tamu dan mengobrol santai di sore hari. Hal ini membuktikan bahwa di kawasan pemukiman padat seperti di Astana Anyar ternyata masih memiliki hubungan sosial yang cukup baik antara satu penghuni dengan penghuni lain.

SIMPULAN

Perkembangan bentuk dan orientasi bangunan pada permukiman padat di daerah Astana Anyar, Tegallega, Bandung ditentukan oleh dua hal, yaitu keberadaan area terbuka (node) dan koridor (path). Area terbuka menjadi pilihan utama untuk dijadikan sebagai orientasi utama karena penghuni dapat melakukan berbagai aktivitas seperti mengobrol dengan tetangga, menjemur pakaian, bermain, dan mencuci mobil. Sementara itu, koridor menjadi pilihan berikutnya. Penghuni dapat dengan mudah mengakses jalur masuk/keluar dari rumah, terutama bagi yang memiliki kendaraan bermotor.

Selain itu, jalur lintasan matahari dan kondisi lingkungan sekitar menjadi faktor yang menentukan juga dalam memilih orientasi bangunan. Di kawasan ini ditemukan tiga tipe orientasi bangunan, yaitu tipe front-front, tipe front-back, dan tipe front-side. Setiap tipe orientasi bangunan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tipe frontfront merupakan tipe yang paling baik untuk bersosialisasi antarwarga. Sementara itu, untuk bentuk dan massa bangunan terbagi menjadi tiga tipe, yaitu bangunan yang memiliki teras dan halaman berbentuk L, bangunan yang memiliki teras dan halaman, serta bangunan yang hanya memiliki teras. Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh bentuk dan orientasi bangunan tersebut terhadap gubahan interior di dalamnya karena bentuk dan orientasi bangunan pasti akan memengaruhi fungsi ruang dalam. Penelitian ini berpeluang untuk dilakukan pada kawasan permukiman padat lainnya yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

CATATAN

Tulisan ini dipresentasikan pada Seminar 1st International Conference on Art, Craft, Culture, and Design ICON-ARCCADE 2017 Kerja Sama Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dengan Jurnal Sosioteknologi.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

6
Citations
3.46
FWCIfield-weighted
94th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20241
20233
20211
20201

Semantic Profile AI-classified research signals

Institution Network

References

  1. Funo S, Yamamoto N, Silas J. (2002). Typology of kampung houses and their transformation process- a study on urban tissues of an indonesian city. Journal of Asian Architecture and Building Engineering, 1(2):193-200.
  2. Hanlon D. (2009). Compositions in architecture. New Jersey: John
  3. Wiley & Sons.
  4. Hariyono P. (2007). Sosiologi kota untuk arsitek. Jakarta: Bumi Aksara.
  5. Hidjaz T. (2011). Interaksi psiko-sosial
  6. di ruang interior. Bandung: Itenas.
  7. Karisztia AD, Pangarsa GW, Antariksa. (2008). Tipologi faade rumah
  8. tinggal kolonial belanda di kayuta-ngan - Malang. Arsitektur eJournal, 1(2):64-76.
  9. Krier R. (2001). Komposisi arsitektur. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  10. Satriaji KR. (2015). Kajian estetika rumah tinggal pada zaman kolonial melalui proporsi faade bangunan Universitas Katolik Parahyangan: Thesis.
  11. Safeyah M. (2008). Perkembangan arsitektur kolonial di kawasan
  12. potroagung. Jurnal Rekayasa Perencanaan, 3 (1)