1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2019) Issue 1
  4. Articles

Kajian Inkulturasi Pada Interior Karya Arsitektur Milik Henry Maclaine Pont Tahun 1918-1936 Di Indonesia

Abstract

Bangunan arsitektur kolonial di Indonesia pada dasarnya merupakan bangunan arsitektur nasional Belanda yang mengalami adaptasi iklim tropis Indonesia. Para arsitek Belanda yang membuat karyanya di Indonesia bereksplorasi menciptakan karya dengan langgam arsitektur yang beragam pada masa kolonial. Salah satu arsitek Belanda keturunan Indonesia yang diindikasi berhasil memadukan unsur lokal terhadap karya arsitekturnya di Indonesia pada masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda adalah Henry Maclaine Pont. Pont diindikasi melakukan pendekatan inkulturasi pada proses perancangan karya arsitekturnya. Didasari dengan ketertarikan Pont terhadap arsitektur tradisional Indonesia di Pulau Jawa serta keinginan Pont dalam mewujudkan politik etis di bidang arsitektur membuat karyanya menjadi mahakarya yang indah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karya-karya Pont yang diindikasi memakai pendekatan inkulturasi pada proses perancangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis dan studi kasus serta kajiannya berupa etnografi visual dalam studi kasus pada karya yang merepresentasikan proses inkulturasi dalam karya Pont yakni Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan Gereja Katolik Puhsarang Kediri. Selanjutnya, dilakukan juga identifikasi lebih rinci untuk mengetahui mengapa kedua mahakarya Pont disebut-sebut menggunakan pendekatan inkultrasi. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan asumsi bahwa karya hasil inkulturasi Henri Maclaine Pont membuat temuan baru terhadap langgam arsitektur di Indonesia pada masa kolonial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa karya arsitektur Henry Maclaine Pont sangat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan budaya lokal seperti yang terdapat pada penjelasan inkulturasi berupa juxtapose, superimposing, dan interlocked. Bangunan arsitektur kolonial di Indonesia pada dasarnya merupakan bangunan arsitektur nasional Belanda yang mengalami adaptasi iklim tropis Indonesia. Para arsitek Belanda yang membuat karyanya di Indonesia bereksplorasi menciptakan karya dengan langgam arsitektur yang beragam pada masa kolonial. Salah satu arsitek Belanda keturunan Indonesia yang diindikasi berhasil memadukan unsur lokal terhadap karya arsitekturnya di Indonesia pada masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda adalah Henry Maclaine Pont. Pont diindikasi melakukan pendekatan inkulturasi pada proses perancangan karya arsitekturnya. Didasari dengan ketertarikan Pont terhadap arsitektur tradisional Indonesia di Pulau Jawa serta keinginan Pont dalam mewujudkan politik etis di bidang arsitektur membuat karyanya menjadi mahakarya yang indah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karya-karya Pont yang diindikasi memakai pendekatan inkulturasi pada proses perancangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis dan studi kasus serta kajiannya berupa etnografi visual dalam studi kasus pada karya yang merepresentasikan proses inkulturasi dalam karya Pont yakni Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan Gereja Katolik Puhsarang Kediri. Selanjutnya, dilakukan juga identifikasi lebih rinci untuk mengetahui mengapa kedua mahakarya Pont disebut-sebut menggunakan pendekatan inkultrasi. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan asumsi bahwa karya hasil inkulturasi Henri Maclaine Pont membuat temuan baru terhadap langgam arsitektur di Indonesia pada masa kolonial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa karya arsitektur Henry Maclaine Pont sangat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan budaya lokal seperti yang terdapat pada penjelasan inkulturasi berupa juxtapose, superimposing, dan interlocked.

Keywords

Keywords: colonial architecture, inculturation, henry maclaine pont,

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki iklim tropis dan letak yang strategis. Keunggulan tersebut menarik perhatian para penjelajah untuk datang dan bahkan berkeinginan untuk menguasainya. Salah satu negara koloni yang berhasil menjajah Indonesia dalam jangka waktu yang lama adalah Belanda. Pemerintah Belanda dalam misi imperialismenya terpikat dengan Indonesia selama 350 tahun. Selama penjajahannya, pemerintah Belanda membangun beberapa bangunan arsitektur untuk kantor pusat pemerintahannya di Indonesia yang tersebar di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Tujuan pembangunan tersebut merupakan cara untuk mempermudah berjalannya kepentingan politis pemerintah Belanda di Indonesia (Hindia-Belanda).

P e m b a n g u n a n t e r s e b u t menimbulkan polemik yang merugikan bangsa Indonesia di saat itu. Timbul pro dan kontra di berbagai kalangan dari masyarakat sekitar maupun bangsa kolonial tentang pembangunan tersebut di berbagai kalangan. Beberapa cendekiawan dari kolonial Belanda merasa harus berbalas budi kepada masyarakat Indonesia akibat imperialisme yang mereka lakukan. Berdasarkan alasan tersebut, banyak arsitek yang berasal dari Belanda ingin membuat suatu konsep politik balas budi. Politik balas budi atau lebih dikenal dengan politik etis yang dilakukan cendekiawan Belanda pun memperhatikan pengaruhnya di bidang arsitektur. Sejak politik etis dikemukakan, terdapat beberapa arsitek Belanda yang mulai tertarik untuk membuat eksplorasi karyanya dengan bangunan tradisi Indonesia. Gaya arsitektur yang merupakan pencampuran elemen tradisi Indonesia dengan Belanda sejak saat itu dikenal dengan gaya atau langgam arsitektur Indo-Eropa.

Arsitektur Indo-Eropa karya Maclaine Pont di zaman kolonial adalah keberhasilan revitalisasi bangunan tradisi di Indonesia karena menggunakan pendekatan inkulturasi. Karya tersebut membawa warna baru pada langgam arsitektur kolonial di Indonesia karena melakukan pendekatan budaya yang tepat. Kini, karya-karyanya tetap dikenal menjadi bangunan arsitektur kolonial perintis langgam Indo-Eropa yang dikonservasi oleh pengelolanya dan beberapa komunitas. Berbeda dengan bangunan arsitek Belanda pada umumnya yang tampak kaku dan kosong, unsur bangunan tradisi pada karya Maclaine Pont telah menambah estetika karyanya tidak hanya pada tampilan eksterior melainkan juga interiornya.

Pendekatan yang telah dilakukan Henry Maclaine Pont pada proses perancangan karyanya di Indonesia adalah pendekatan inkulturasi. Inkulturasi sangat erat dengan hubungan sosial antarbudaya dan pengaruhnya (Rianwati, 2017). Secara umum, pendekatan ini tak lazim digunakan pada ilmu seni. Namun, peneliti mengindikasi beberapa elemen interior dan eksterior studi kasus penelitian ini merupakan peleburan antara dua budaya yang saling melengkapi layaknya inkulturasi diterjemahkan. Sebuah karya arsitektur yang merupakan gagasan kreativitas seorang individu pun akan sukar dikaji dengan teori inkulturasi. Peninjauan inkulturasi terhadap karya arsitektur baru dapat dikaji dengan meninjau karya dan gagasan arsitek menggunakan pendekatan historis. Pendekatan historis mampu mengelaborasi gagasan arsitek dan keputusan arsitek dalam membuat perancangan karyanya.

Menurut Crollius dan Boelaars, inkulturasi diterjemahkan sebagai proses panjang yang terdiri atas tiga tahapan yakni akulturasi, asimilasi, dan transformasi (Boelaars, 2005). Untuk itu, pendekatan inkulturasi yang dilakukan Henry Maclaine Pont juga dapat diartikan sebagai pendekatan untuk masuk ke dalam budaya lokal dengan cara berbaur dan meresapi setiap unsur yang ada pada budaya tersebut serta menerapkan pada karyanya tanpa mengubah esensi yang ada pada budaya tersebut. Harapan yang diinginkan Pont pada karyanya adalah karya arsitektur campuran yang ia buat menjadikan setiap unsur dari kedua budaya saling melengkapi dan tampak dengan jelas sebagai satu kesatuan sebuah mahakarya.

Periodisasi Arsitektur Kolonial di Indonesia

Mengacu pada referensi tesis Handinoto yang diverifikasi oleh

Widihardjo, bangunan arsitektur pada masa kolonial terbagi dalam empat periode (Handinoto, 1996). Periode pertama berada pada kisaran tahun 1600- 1799, bangunannya masih mengadaptasi bentuk yang sama dengan bangunan nasional di Belanda dengan langgam Neoklasik. Periode kedua berada pada kisaran tahun 1800-1890. Bangunannya memiliki langgam Empire Style dan sudah mulai mengadaptasikan bangunan terhadap iklim tropis Indonesia. Periode ketiga berada pada kisaran tahun 1890-1915. Bangunan pada masa ini merupakan karya arsitektur peralihan yang memiliki langgam beragam seperti Art Nouveau, Art Deco, Art and Craft, dan De Stijl. Periode keempat merupakan cikal bakal tipologi arsitektur Indo-Eropa yang berada pada kisaran tahun 1915-1940. Pada periode ini bangunan arsitektur kolonial sudah menyesuaikan dengan iklim, teknologi, dan material serta mengadaptasi kekayaan tradisi bangunan lokal. Gaya arsitektur kolonial dengan langgam Indo-Eropa yang dibuat oleh Henry Maclaine Pont berada pada periode keempat.

Henry Maclaine Pont

Henry Maclaine Pont adalah seorang arsitek yang lahir di Meester Cornelis pada 21 Juni 1885. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dalam keluarga yang menganut agama Protestan. Maclaine Pont memiliki ibu yang berasal dari Pulau Buru, Maluku. Sementara itu, ayahnya adalah seorang blasteran antara Skotlandia & Spanyol. Pada tahun 1893, Pont dan keluarganya pindah bersama ke Belanda dan bersekolah di Den Haag. Pont memulai kuliahnya di Jurusan Pertambangan Technische Hoogeschool Delft selama satu setengah tahun. Pada tahun 1903, Maclaine Pont pindah ke Jurusan Arsitektur. Pada saat itu Pont mulai diam-diam mempelajari agama Katolik. Di usianya yang ke-24 tahun,

Maclaine Pont pun lulus dari Technische Hoogeschool Delft sebagai seorang arsitek (Leerdam, 1995). Pont memulai kariernya sebagai arsitek dengan bekerja di Kantor Posthumus Meijes hingga November 1910.

Henry Maclaine Pont adalah seorang arsitek keturunan Belanda yang mengaplikasikan politik etis pada perancangan karya arsitekturnya selama di Indonesia. Pont merasa para arsitek Belanda yang membuat karya arsitektur di Indonesia setidaknya harus membuat karya pencampuran arsitektur dengan bangunan tradisi Indonesia. Pada artikel "Dutch Architectural Visions of Indonesian Tradition" yang ditulis Helen Jessup, Pont bahkan pernah berdebat dengan C.P Wolf Schoemaker tentang pendapatnya tersebut (Essup, 1985). Pont menyampaikan kebijakan politik etis pada karyanya dengan menggunakan pendekatan inkulturasi pada proses perancangan beberapa karyanya. Sebelum memutuskan untuk membuat sebuah karya arsitektur Indo-Eropa, Pont membuat perjalanan untuk mengkaji salah satu bangunan tradisi dari sebuah kerajaan adikuasa di Pulau Jawa. Dari perjalanan tersebut, Pont tergugah untuk membuat arsitektur Indo-Eropa dan menerapkan beberapa unsur ragam hias bangunan tradisi Indonesia pada karyanya semata-mata bukan sebagai ornamen dan penghias saja seperti yang dilakukan para arsitek Belanda pada umumnya melainkan menggunakannya sebagai elemen yang sama pentingnya dengan elemen bangunan arsitektur kolonial yang lazim ia buat.

Pendekatan Inkulturasi

Secara umum, pendekatan inkulturasi merupakan proses adaptasi budaya luar terhadap budaya lokal tanpa menghilangkan identitas dari masingmasing kebudayaan asal. Terlebih lagi inkulturasi merupakan proses panjang yang memiliki tahapan panjang juga. Tahapan ini dimulai dari perkenalan, adaptasi, hingga transformasi dengan usaha membuat kedua budaya berbaur. Tahapan prosesual tersebut terbagi menjadi tiga yakni tahap perkenalan, pembauran, dan perubahan (Laurens, 2012).

Selanjutnya, pendekatan inkulturasi jika diaplikasikan pada bangunan arsitektur, akan terjadi tahapan-tahapan seperti yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya. Ketiga tahapan tersebut sangat sesuai dengan tiga proses inkulturasi yang dikemukakan Crollius tahun Boelaars yang menyatakan bahwa proses inkulturasi terdiri atas tiga tahapan yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya. Namun, jika berbicara tentang arsitektur lebih rinci, tahapan awal yang harus dipersiapkan budayaluar dalam melakukan pendekatan inkulturasi adalah memahami celah masuk unsur budaya pada budaya luar terhadap budaya lokal (Koentjaraningrat, 2009). Aspek-aspek yang dapat dipahami sebagai entry points pada proses tersebut di antaranya adalah keadaan tempat, letak, batasan, orientasi, bentuk dasar bangunan, dan teknologi yang dapat ditelaah lebih lanjut pada elemenelemen arsitektur dan desain interior pada bangunan arsitektur. Hal lain yang sangat memengaruhi proses inkulturasi untuk dijadikan celah masuk budaya luar adalah kebiasaan (budaya) masyarakat dalam memakai tempat tersebut.

Selain itu, tahap akhir proses inkulturasi, yakni transformasi, menghasilkan tiga tahap yang berupa hasil inkulturasi yakni juxtapose, superimposing, dan interlocked (Adi, 2010). Hasil inkulturasi akan mudah dideteksi jika mengkaji tahapan ini. Tahapan transformasi ini berpengaruh terhadap hasil akhir yang diberikan pada artefak budaya, dalam hal ini arsitektur dalam mengategorikan sejauh mana objek tersebut dikelompokkan sebagai objek hasil inkulturasi. Secara formal, juxtapose menggambarkan penempatan dua objek dalam keadaan dekat. Juxtapose dalam seni merupakan upaya menggabungkan unsur-unsur yang mungkin secara alami tidak muncul bersama untuk menciptakan dampak visual. Konfigurasi awal pada proses inkulturasi adalah keterbukaan antara budaya lokal dan budaya asing untuk saling juxtapose. Superimpose terjadi apabila salah satu budaya lebih cepat mencari celah masuk pada budaya lawan pada budaya lainnya sehingga budaya yang dominan tersebut dapat memengaruhi elemen yang menjadi celah masuk pada budaya lawan terhadap elemen budaya yang dipengaruhinya lalu bertransformasi sebagai usaha untuk berbaur dan melebur menjadi satu. Tahapan akhir proses inkulturasi pada tahap transformasi selanjutnya adalah interlocked. Tahapan ini terjadi ketika budaya luar dan budaya lokal telah saling menemukan celah masuk

5

Skema 1 Skema Alur dan Proses Inkulturasi pada karya Arsitektur (Sumber: Analisis Pribadi)

yang dapat saling memengaruhi. Kedua unsur budaya tersebut kemudian saling bertautan secara harmonis untuk mencapai keseimbangan yang baru. Ketika telah mencapai keseimbangan baru, kedua budaya tersebut saling mengakui dan memahami lebih dalam pada posisi yang sama.

Elemen Arsitektur dan Desain Interior

Karena objek penelitian berupa bangunan arsitektur, diperlukan penjelasan tentang elemen arsitektur, elemen desain interior, elemen desain secara umum, dan prinsip d esain dalam memahami objek penelitian tersebut. Elemen arsitektur menurut Robert Krier terdiri atas 3 elemen yakni interior, fasad, serta denah dan bentuk bangunan. Elemen interior pada pemahaman elemen arsitektur memiliki subelemen seperti langit-langit, lantai, kolom, dinding, pintu, jendela, dan tangga. Elemen fasad pada pemahaman elemen arsitektur memiliki subelemen seperti entrance (pintu masuk utama), portal, arcades (langit-langit koridor fasad), ground floor (zona lantai pada fasad), bay windows (jendela pada fasad), balkon, loggias (balkon tertutup), atap, dan loteng (Krier, 1983). Elemen denah dan bentuk bangunan pada pemahaman elemen arsitektur memiliki subelemen seperti tipe bentuk bangunan dari bentuk denah yang berbeda-beda, pojokan bangunan, interior courtyards, tangga

luar, prospek, tower, dan monumen.

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini pada umumnya merupakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif tepat digunakan karena objek yang dikaji adalah objek yang dibangun pada zaman kolonial dan sudah berdiri kurang lebih 96-100 tahun di Indonesia. Hal tersebut akan menjadi penyebab terjadinya beberapa perubahan yang sangat signifikan perihal keadaan objek dan perbandingan antara zaman ketika dibangun dan keadaan kini. Penelitian ini adalah penelitian yang berakar dari keilmuan sosial-sains khususnya dalam bidang budaya. Selain itu, penelitian ini merupakan aplikasi dari penurunan asumsi dan teori khususnya yang berkaitan dengan arsitektur kolonial bergaya indo-eropa. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan induktif yang subjektif dan sangat interpretatif sehingga membutuhkan perpanjangan data melalui analisis penjelasan objek penelitian. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode historis dan studi kasus. Pada awalnya, objek penelitian yang dijadikan studi kasus penelitian ini adalah karya-karya Henry Maclaine Pont yang menggunakan pendekatan inkulturasi pada proses perancangannya yakni Technische Hoogheschole Bandung, Museum Trowulan, dan Gereja Puhsarang Kediri.

9

Skema 2 Skema Penjelasan Juxtapose,Superimpose, dan Interlocked pada Arsitektur (Sumber: Analisis Pribadi)

Akan tetapi, bangunan pada Museum Trowulan sudah diubah total sehingga tidak dapat dijadikan objek untuk studi kasus pada penelitian ini. Selanjutnya, data yang diambil akan sepenuhnya dikaji dengan alat analisis berupa teori yakni teori inkulturasi pada arsitektur yang selanjutnya akan divalidasi melalui wawancara terhadap narasumber yang merupakan ahli di bidang kajian arsitektur kolonial Indo-Eropa.

Setelah itu, adapula alat bantu analisis lain berupa pendekatan historis dalam bentuk kronologi riwayat hidup Henry Maclaine Pont dan periodesasi karya-karyanya. Alat analisis ini akan memberikan pandangan lain berupa isu sosial yang mampu menjawab latar belakang perancangan Pont ketika berkarya. Data yang menjadi hasil analisis yang sudah divalidasi kebenarannya oleh narasumber selanjutnya akan dianalisis kembali untuk menghasilkan simpulan yang benar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Maclaine Pont mencoba menggunakan pendekatan inkulturasi secara bertahap. Proses yang dia lakukan pertama kali adalah mengenal budaya lokal. Dia melakukan sebuah ekspedisi untuk mengetahui kekayaan budaya nusantara dengan cara meneliti peninggalan bersejarah dari Kerajaan Majapahit yang ia kumpulkan menjadi sebuah projek situs Museum Trowulan. Hal tersebut merupakan tahap pengenalan yang dilakukan Maclaine Pont terhadap bangunan tradisi Indonesia. Selain itu, dia mencoba membuat eksperimen bangunan bergaya tradisional yang dimodifikasi pada karyanya yang akan dijelaskan pada Tabel I dan Tabel II sebagai hasil pembauran dan transformasi bangunan tradisi Indonesia dengan bangunan kolonial pada umumnya.

Penerapan terhadap pengaplikasian proses inkuturasi pada tahapan awal

ini yang tercitra dari budaya lokal terhadap budaya luar yakni penggunaan material yang berasal dari lingkungan sekitar. Hal tersebut diindikasi telah dilakukan Pont pada Gereja Puhsarang dengan menerapkan penggunaan material batu kali yang dapat diambil langsung dari Sungai Kedak yang terletak di depan kawasan Gereja Puhsarang. Material kayu yang dipakai pada Gereja Puhsarang diindikasi diambil dari hutan di sekitar lereng Gunung Ngliman. Penerapan material tersebut dibiarkan tanpa finishing material yang berlebihan dengan konsep exposed material yang diindikasi bereferensi terhadap cara masyarakat lokal memperlakukan material pada bangunan tradisinya dengan keadaan tidak disembunyikan dengan material lainnya.

Celah masuk pada proses transformasi tergolong juxtapose pada Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan bangunan induk Gereja Puhsarang. Hal itu terlihat dari penerapan pemilihan material, bentuk, relasi interior dan eksterior bangunan, serta setting peletakan unsur objek kajian. Pada tahapan ini, unsur budaya pada artefak bangunan tradisi dengan unsur budaya pada artefak bangunan arsitektur kolonial saling sejajar dan menunjukkan unsurnya masing-masing yang kontras dan saling melengkapi menjadi satu kesatuan.

Penerapan pemilihan material p a d a k e d u a b a n g u n a n t e r s e b u t diindikasi menggabungkan kedua jenis material yang berasal dari dua artefak kebudayaan arsitektural yakni bangunan tradisi Indonesia pada umumnya dan bangunan arsitektur kolonial. Bangunan tradisi Indonesia umumnya diindikasi menggunakan material yang berasal dari sumber daya alam sekitar seperti kayu dan batu. Sementara itu, penerapan material pada bangunan arsitektur kolonial diindikasi menggunakan teknologi pemakaian beton, penggunaan

TABEL I ANALISIS INKULTURASI PADA AULA BARAT INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

AspekGambarCelah Masuk Budaya
LantaiCelah masuk berupa
ketersediaan material dari
lingkungan sekitar.
(Batu marmer berasal dari
gunung sekitar Ciwidey
atau Padalarang)
DindingCelah masuk berupa

ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan material kayu yang dapat ditemukan di hutan sekitar Dago dan penggunaan batu bata yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar Technische HoogheSchool Bandung)

Celah masuk penggunaan tinggi ceiling to floor yang optimal untuk sirkulasi udara yang cocok untuk bangunan daerah tropis.

(Penggunaan proporsi atap dan dinding 3:1 yang dapat ditemukan pada bangunan tradisi di Indonesia)

Langit-langit Celah masuk berupa bentuk dasar konstruksi kuda-kuda pada bangunan yang dominan.

(Penggunaan konstruksi kuda-kuda pada rumah kampung)

Kolom Celah masuk berupa ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan material kayu jati yang berukuran besar dan dapat ditemukan di hutan sekitar Dago)

Celah masuk berupa te knologi penguncian an tarkayu.

(Penggunaan teknologi sambungan antarkayu pada bangunan tradisional di Indonesia)

Celah masuk untuk mer ekatkan kayu berdiameter besar.

(Penggunaan teknologi las menggunakan baja)

Tangga Tidak ada Tidak ada

ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan material kayu yang berukuran besar dan dapat ditemukan di hutan sekitar Dago)

Celah masuk letak pintu berorientasi di arah timur bangunan yakni di sisi leb ar bangunan.

(Penggunaan letak orientasi pintu pada bangunan tradisi di Indonesia berdasarkan kosmologi)

Jendela Celah masuk berupa letak jendela yang berada meng hadap selatan dan utara sehingga tidak membuat sinar matahari terik terasa langsung.

(Penggunaan letak orientasi jendela sebagai fasad pada bangunan tradisi di Indone sia berdasarkan kosmologi orientasi bangunan pada masyarakat lokal)

Pintu masuk uta ma dan portal

Celah masuk berupa ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan material kayu yang berukuran besar dan dapat ditemukan di hutan sekitar Dago serta penggunaan batu kali yang terdapat di sungai dekat Technische HoogheSchool Bandung)

ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan material kayu yang berukuran besar dan dapat ditemukan di hutan sekitar Dago serta penggunaan batu kali yang terdapat pada Sungai Cika pundung dekat Technische Hooghe School Bandung)

ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan batu kali yang terdapat pada sungai dekat Technische Hooghe School Bandung)

Bay window, Balkon, dan Loggias Tidak ada Tidak ada

Atap Celah masuk penggunaan atap bangunan tradisi yang optimal untuk tata sirkulasi udara yang cocok untuk bangunan daerah tropis.

(Penggunaan proporsi atap dan dinding 3:1 yang dapat ditemukan pada bangunan tradisi di Indonesia)

Celah masuk berupa ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan sirap yang terdapat pada lingkungan sekitar)

berbentuk persegi dan simetris.

(Penggunaan tipologi denah Rome Basilica; denah yang digunakan pada bangunan tua di Eropa pada umumnya)

Pojokan bangu
-
nan
Tidak adaTidak ada
Interior court
-
yards
Tidak adaTidak ada

ketersediaan material dari lingkungan sekitar.

(Penggunaan batu kali yang terdapat pada sungai dekat Technische Hooghe School Bandung)

ProspekTidak adaTidak ada
Tower dan mon
-
Tidak adaTidak ada
ument

TABEL II ANALISIS INKULTURASI PADA GEREJA PUHSARANG KEDIRI

AspekCelah Masuk BudayaAsal
LantaiCelah masuk berupa
ketersediaan material dari
lingkungan sekitar(penggu
naan batu kali yang ter
dapat di sungai dekat Desa
Puhsarang).
DindingCelah masuk berupa
ketersediaan material dari
lingkungan sekitar
(penggunaan batu bata
yang dibuat masyarakat di
Desa Puhsarang).
Langit-langitCelah masuk berupa
ketersediaan material dari
lingkungan sekitar(penggu
naan batu bata yang dibuat
masyarakat di Desa Puhsa
rang).
Celah masuk berupa kese
rupaan perlakuan terhadap
material (penggunaan
sistem material "exposed"
pada langit-langit yang bi
asa diterapkan pada bangu
nan tradisi).

Kolom Celah masuk berupa ketersediaan material dari lingkungan sekitar

(penggunaan kayu yang dapat ditemukan di lereng gunung sekitar Desa Puhsarang).

Celah masuk berupa prinsip filosofis yang diterapkan pada kolom

(penerapan konstruksi saka guru dari rumah joglo).

ketersediaan material dari lingkungan sekitar

(penggunaan batu kali yang terdapat di sungai dekat Desa Puhsarang).

111П·u
T_n42

jendela yang berada menghadap selatan dan utara sehingga tidak membuat sinar matahari terik terasa langsung (penggunaan letak orientasi jendela sebagai fasad pada bangunan tradisi di Indonesia berdasarkan kosmologi).

Pintu masuk uta
ma dan portal
Tidak adaTidak ada
ArcadesTidak adaTidak ada
Ground floorTidak adaTidak ada
Bay window,
Balkon, dan
Loggias
Tidak adaTidak ada

salah satu bangunan tradisi menyerupai aspek liturgy agama katolik.(penggunaan bentuk atap yang bereferensi dari rumah adat suku batak karo menyerupai gunung dan bentuk atap bereferensi dari bentuk bangunan tradisi suku toba menyerupai bentuk kapal).

Denah Celah masuk berupa denah berbentuk persegi dan simetris

(penggunaan tipologi denah yang digunakan pada bangunan gereja tua di Eropa pada umumnya).

Pojokan bangunan Tidak ada Tidak ada

filosofis

(penerapan akses pada makam yang dapat dijangkau visual dan dekat dengan bangunan induk tempat ibadah).

diaan material dari lingkungan sekitar

(penggunaan batu kali yang terdapat di sungai dekat Desa Puhsarang).

kebutuhan masyarakat sekitar saat memanfaatkan tempat

(penerapan absen fasilitas duduk untuk mengakomodasi kebiasaan masyarakat yakni lesehan).

Tower dan monument Tidak ada Tidak ada

Sumber: Analisis Pribadi

material kaca, dan besi.

Sementara itu, penerapan bentuk yang terjadi pada Technesche Hoogheschool Bandung diindikasi merupakan gabungan kedua artefak bangunan arsitektural. Dapat terlihat jelas bahwa kedua bangunan tersebut mengaplikasikan dua bentuk yang berbeda yakni bentuk rigid yang geometris dan berasal dari bentuk dasar yang diindikasi diambil dari bentuk umum yang terdapat pada bangunan kolonial serta bentuk kompleks serta filosofis yang diindikasi berasal dari bangunan tradisional Indonesia.

Selanjutnya, penempatan kedua unsur budaya tersebut pada karya Pont diletakkan berdampingan pada interior maupun eksterior untuk menunjukkan penggabungan kedua budaya yang tersirat dari penggunaan material dan bentuk yang saling disandingkan dan menceritakan keberadaan waktu dan langgam yang berbeda. Hal tersebut terlihat pada unsur bangunan tradisi yang terdapat pada objek kajian. Bangunan tersebut diindikasi menjelaskan langgam tradisional klasik Indonesia yang masih primitif dan filosofis. Sementara itu, unsur bangunan kolonial diindikasi menjelaskan langgam modern yang sederhana dan jujur pada bentuk bangunan.

Selanjutnya, relasi antara interior dan eksterior diindikasi berasal dari hubungan antara bentuk bangunan dengan lingkungan sekitar dan kebudayaannya, misalnya THS Bandung. Penggunaan atap kembar yang menyerupai gunung diinspirasi dari Gunung Tangkuban Parahu yang menjadi view latar belakang bangunan ini. Interior bangunan ini pun diindikasi menyerupai bentuk struktur kapal yang dibalik sesuai dengan legenda Sangkuriang yang terkenal dengan legenda kapal terbaliknya. Sementara

Gambar 1 Siteplan Institut Teknologi Bandung dan Kawasan Gereja Puhsarang Kediri (Sumber: Screenshoot Google Earth yang diakses pada 20 September 2017 pukul 11.54)

itu, di Gereja Puhsarang Kediri, pengaplikasian cerita pada kitab suci umat Katolik dicitrakan pada bentuk atap bangunan induk dan bangunan tempat gamelan disimpan.

Celah masuk pada proses t r a n s f o r m a s i y a n g t e r g o l o n g superimposing pada Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan Bangunan Induk Gereja Puhsarang adalah penerapan proporsi atap dan dinding 3:1 yang dapat ditemukan pada bangunan tradisi di Indonesia berupa bentuk dasar konstruksi, penerapan logika berdasarkan prinsip filosofis pada bangunan tradisi, dan letak orientasi pada bangunan tradisi di Indonesia berdasarkan kosmologi. Ketiga aspek tersebut diindikasi sebagai proses superimposing karena Pont dengan pengetahuan artefak budaya kolonial yang berbentuk arsitektural mampu mencari celah masuk lebih dahulu sehingga dapat menyesuaikan hal tersebut dengan artefak arsitektural

Gambar 2 Perbandingan bentuk bangunan tradisi dan bangunan arsitektur kolonial (Sumber: Adaptasi dari Berbagai Sumber)

Gambar 3 Tampak Interior dan Eksterior Technesche Hoogheschool Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4 Tampak Interior dan Eksterior Gereja Puhsarang Kediri (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

lokal.

Penerapan proporsi atap dan dinding 3:1 yang ditemukan pada objek kajian tergolong fase superimposing karena peneliti mengidentifikasi Maclaine Pont diduga telah meneliti sebelum merancang dengan harapan karyanya merupakan hasil representasi langgam Indo-Eropa sehingga unsur lokal yang ia pakai diindikasi telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk menunjukkan bangunan tersebut memakai unsur bangunan tradisional nusantara. Dengan demikian, bentuk atap tidak mencirikan artefak bangunan dari suku tertentu saja yakni modifikasi pencampuran unsurunsur yang serupa dengan bentuk yang ia inginkan dari unsur bangunan tradisional tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Sementara itu, penerapan logika berdasarkan prinsip filosofis dan kosmologi pada bangunan tradisi Indonesia diindikasi terletak pada penerapan orientasi bangunan tradisi pada umumnya yang selalu berorientasi pada arah utara atau selatan dan selalu menghadap gunung atau laut. Hal tersebut memberikan keuntungan perancangan untuk meletakkan jendela atau skylight pada bangunan. Secara logis, orientasi

bangunan tersebut juga mencegah sinar matahari langsung diteruskan pada bukaan sehingga daylight yang tergolong pancaran sinar matahari yang tidak langsunglah yang menerangi ruangan ini.

Celah masuk pada proses transformasi yang tergolong interlocked pada Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan Bangunan Induk Gereja Puhsarang adalah usaha penggabungan unsur-unsur yang berasal dari kedua budaya yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Selanjutnya, hal tersebut dimodifikasi tanpa menghilangkan nilai kebudayaan masing-masing seperti yang dicitrakan Aula Barat Institut Teknologi Bandung pada usahanya menggabungkan seluruh unsur nusantara seperti transformasi atap yang berasal dari Minang (atap rumah gadang) atau Sunda (atap julah ngapak) dan penerapan undakan candi pada kaki kolom. Sementara itu, Gereja Puhsarang Kediri mengalami fase akhir yang dibuktikan dengan penerapan konsep pendopo yang mengakomodasi bentuk ruangan tanpa pembatas sehingga kebutuhan masyarakat untuk beribadah dengan massa yang banyak dapat terpenuhi.

Gambar 5 Ilustrasi Referensi Atap untuk Gereja Puhsarang (Sumber: Anwar & Anugrah, 2013)

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis yang telah dijabarkan pada subbab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pendekatan inkulturasi yang membuat langgam karya Pont di masa kolonial, tepatnya saat langgam Indo-Eropa marak digunakan, berbeda dengan karya arsitek lainnya. Hal tersebut terjadi karena proses inkulturasi yang panjang dan bertahap membuat hasil akhir karyanya mengalami transformasi. Tepatnya, Pont membuat bangunan tradisi berada pada level yang berbeda karena pendekatan inkulturasi yang Pont baurkan dengan bangunan Eropa pada umumnya di masa kolonial. Proses inkulturasi yang berawal dari perkenalan, pembauran terhadap entry point atau celah masuk yang terdapat pada elemen arsitektur bangunan tradisi, hingga proses transformasi yang membuat hasil akhir diindikasi sangat menyesuaikan lingkungan sekitar atau budaya lokal. Entry points yang diindikasi digunakan Pont sebagai celah masuk yang dikategorikan berdasarkan proses transformasi berupa juxtapose, supermposing, dan interlocked. Entry points pada proses transformasi yang tergolong juxtapose dalam Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan bangunan induk Gereja Puhsarang adalah penerapan bentuk denah, ketersediaan material dari lingkungan sekitar, dan keserupaan perlakuan terhadap material. Entry points pada proses transformasi yang tergolong superimposing dalam Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan bangunan induk Gereja Puhsarang adalah penerapan proporsi atap dan dinding 3:1 yang dapat ditemukan pada bangunan tradisi di Indonesia berupa bentuk dasar konstruksi, penerapan logika berdasarkan prinsip filosofis pada bangunan tradisi, dan letak orientasi pada bangunan tradisi di Indonesia berdasarkan kosmologi. Entry points pada proses transformasi yang tergolong interlocked dalam Aula Barat Institut Teknologi Bandung dan bangunan induk Gereja Puhsarang adalah alokasi kebutuhan masyarakat sekitar saat memanfaatkan tempat yang didasarkan pada bentuk dasar konstruksi bangunan tradisi.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
2th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.75
level 1
Art 0.73
level 0

Institution Network

References

  1. Adi, S. (2010). Architectural inculturation and transformation: A case study on three catholic churces in java. Retrieved from
  2. http://www.scholarbank.nus.edu.sg/ handle/10635/27470%5Cnhttp:// www.scholarbank.nus.edu.sg/
  3. Boelaars, H. J. W. M. (2005). Indonesianisasi: dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia (p. 338). p. 338. Retrieved from https://books.google.co.id/books?id=KrmWgQ18-pYC&pg=PA338&lpg=PA338&dq=ary+roest+crollius+1984&sourcebl&ots=eCOyZuaoAa&sig=ACfU3U1IOG4hWt5dHTGK9dve99B5Wti30&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwjA-pik89ThAhUEvI8KHVUQAWEQ6AEwAXoECAkQAQ#v=onepage&q=aryroest crollius 1984&f=false
  4. Essup, H. J. (1985). Dutch architectural visions of the Indonesian tradition. Muqarnas. https://doi.org/10.1163/22118993-90000202 DOI: 10.1163/22118993-90000202
  5. Handinoto. (1996). Perkembangan kota malang pada jaman kolonial (1914-1940). Dimensi.
  6. Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. In PT. Rineka Cipta.
  7. Krier, R. (1983). Elements of architecture (A. C. Papadakis, Ed.). Singapore:Academy Group Ltd.
  8. Laurens, J. M. (2012). Memahami Friska Amalia, dkk. | Kajian Inkulturasi Pada..... 73 arsitektur lokal dari proses Inkulturasi pada arsitektur Gereja Katolik di Indonesia. 1-8.
  9. Leerdam, B. F. Van. (1995). Een Sperurtocht Naar Het Wezenlijke van de Javaanse architectuur. Retrieved from http://colonialarchitecture.eu/islandora/object/uuid%3Abe3f9a93-
  10. c-4597-90d0-b9b03cc5f64b#page/8/mode/2up
  11. Rianwati, S. (2017). Inkulturasi pada antropologi. Bandung