PENDAHULUAN
Abad ke-21 adalah waktu saat manusia hidup dalam dunia digital culture. Hal ini mengakibatkan kehidupan manusia selalu berkaitan dengan teknologi digital dan internet. Efek yang muncul di antaranya akses informasi yang dapat diperoleh secara mudah, bebas, dan luas. Hal ini berdampak besar pada generasi muda, terutama generasi Z, yaitu generasi dengan rentang waktu kelahiran antara tahun 1995 hingga 2012 (Stillman, 2018). Generasi Z disebut dengan digital native karena sejak lahir telah dikelilingi dengan teknologi digital dan internet.
Mereka hidup dalam era digital culture.
Era digital culture menghasilkan berbagai aplikasi, misalnya media sosial, yang dapat diakses semua kalangan dari seluruh dunia. Hal ini membuat orangorang mudah dalam mengakses informasi. Dengan demikian, hal tersebut berdampak pada kaum muda, generasi Z lebih memilih untuk menikmati dan menggali sesuatu yang bersifat baru, secara instan melalui media sosial contohnya platform Instagram dan Youtube. Pada akhirnya, generasi Z lebih tertarik dengan hal-hal dari produk budaya asing yang ditawarkan melalui platform tersebut dibandingkan produk budaya lokal. Salah satu budaya
Indonesia yang mengalami permasalahan serupa adalah batik, khususnya batik Belanda. Batik Belanda memiliki pengaruh dalam budaya batik pesisir di Indonesia tetapi kurang terdengar karena tertutup zaman.
Batik Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok yaitu batik klasik, batik pesisir, dan batik kontemporer. Batik klasik berasal dan dikembangkan di Keraton Jawa. Ornamen dan pewarnaan merupakan perpaduan dari estetika, filosofi hidup, dan sifat lingkungan dari keraton. Mayoritas desain batik keraton atau klasik mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa dalam masa Pajajaran dan Majapahit yang berdampak sangat besar bagi kehidupan dan kepercayaan orang Jawa. Area pengembangan batik klasik di antaranya Kraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kraton Cirebon, dan Kraton Sumenep. Jenis ragam hias batik klasik antara lain lereng, Ceplok, Sidomukti, Semen, Kawung, Tritik, Parang, Parang Rusak, dan Sidoluhur. Teknik pembuatan batik ini dapat dilakukan dengan tulis, cap, dan print (Doellah, 2002).
Batik pesisir adalah batik yang berasal dari luar keraton. Dibuat di daerah
pesisir dan mempunyai ragam hias dan warna yang mengandung unsur-unsur pencampuran budaya dari luar. Batik pesisir terbuat dari kombinasi antara prinsip motif batik keraton dengan spesifikasi ornamen suatu daerah, bentuk desain utama, dan disesuaikan dengan citra rasa orang lokal setempat, seperti Pekalongan dan Cirebon. Batik pesisir tersebut, contohnya batik Belanda, batik Cina, dan batik Hokokai. Area pengembangan batik pesisir berada di Pekalongan, Semarang, dan Surabaya. Ragam hias yang dihasilkan antara lain flora, fauna, tiga negeri, sekar jagad, lasem, buketan, cerita dongeng, kompeni, dan pagi sore. Teknik pembuatan batik ini dilakukan dengan teknik tulis, cap, dan print (Doellah, 2002).
Batik kontemporer adalah model batik modern. Motif batik kontemporer seperti halnya seni kontemporer tidak mengacu pada aturan baku (pakem) bentuk atau ornamen motif tertentu. Batik kontemporer banyak dikembangkan oleh desainer batik untuk mencari terobosan baru dalam mengembangkan batik dan mode pakaian modern. Area pengembangannya berada di perkotaan seperti Jakarta, Semarang, Pekalongan, Surabaya, dan Yogyakarta. Ragam hias yang dipakai dalam batik kontemporer

Gambar 7 Gambar Batik Klasik(a), Pesisir (b), Kontemporer (c
(sumber: a. dokumentasi pribadi, Ginting 2016 b. dokumentasi pribadi, Doellah, 2002 c. https://www.instagram.com/parangkencana/, 2018)
ini bersifat bebas. klasik, pesisir, campuran, dan digital. Teknik pembuatan dengan cara apapun, seperti tulis, cap, print, atau sablon (gambar 7)
Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah batik Belanda. Penting untuk diketahui bahwa batik Belanda memiliki sejarah yang cukup panjang dan berpengaruh dalam sejarah batik. Ragam hias batik Belanda memiliki corak dan latar belakang cerita yang berbeda dengan ragam hias yang dikenal pada umumnya seperti ragam hias klasik dan pesisir. Batik Belanda memiliki warna dan detail yang sangat halus. Dalam hal corak, batik Belanda, banyak terdapat alkulturasi budaya dari Tionghoa dan budaya Nusantara era 1840-1940. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memperkenalkan bagaimana awal terbentuknya budaya lokal batik Belanda. Selain itu, riset ini akan mengidentifikasi minat generasi Z terhadap ragam hias Batik Belanda.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Dalam pengumpulan data, riset ini menggunakan kajian pustaka dan penyebaran kuesioner. Kuesioner yang disebarkan berisikan pertanyaan yang berhubungan dengan minat para responden terhadap batik Belanda. Pertanyaan dalam kuesioner tersebut melingkupi beberapa bagian yaitu pertama, pertanyaan informasi pribadi: nama, umur, jenis kelamin, dan area/domisili. Kedua adalah soal batik antara lain: tingkat minat terhadap batik (klasik, pesisir, atau kontemporer), jumlah batik yang dimiliki, frekuensi pemakaian batik (sehari-hari, bepergian, atau acara), warna batik yang disukai, mengetahui-tidaknya tentang batik Belanda. Dari motif-motif batik, ragam hias batik Belanda mana yang disukai, dan hasil pembatik mana yang disukai. Selain itu, motif batik yang disukai serta ukuran motif, peletakkan
motif, dan tingkat kedetailan motif yang disukai. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dianalisis dan menjadi bahan pembahasan dan simpulan dari riset ini. Target responden dalam penelitian ini adalah kaum muda generasi Z. Penelitian fokuskan pada generasi Z yang berumur 15-23tahun (kelahiran tahun 1995-2003). Pemilihan generasi Z disebabkan generasi ini memiliki populasi penduduk yang produktif dari jangka waktu saat ini (2018) sampai lima tahun ke depan.
Generasi Z
Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu 1995-2012 (Aulia, 2017 dan Stillman, 2018). Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi Z adalah generasi yang sangat dekat dengan teknologi digital dan internet. Generasi Z saat ini menduduki populasi tertinggi di abad ke-21. Pengaruh kedekatan Generasi Z dengan teknologi digital dan internet menimbulkan tingkat keingintahuan yang tinggi. Hal tersebut berdampak pada penyebaran, perputaran informasi, dan keinginan untuk merasakan pengalaman baru lebih cepat.
Digital Culture
d'Arnault (2015) mengatakan digital culture adalah suatu budaya yang sedang berkembang di era abad ke-21. Budaya digital seperti teknologi digital dan internet sudah menjadi bagian dari cara berinteraksi, berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi antarmanusia di dalam suatu komunitas. Digital culture telah menjadi bagian dari hidup dan merupakan gaya hidup. Digital culture adalah internet, Artificial Intelligent, cyber ethics, security, privacy, dan policy, peretas, social engineering, dan psikologi modern. Secara kontekstual, dapat dilihat penggunaan pada media sosial yang menjadi pusat dalam berinteraksi satu sama lain dengan cara berbagi atau
"share" setiap momen hidup ke dalam internet, sehingga menimbulkan fenomena selfie, obsesi the live streaming, pembayaran online (Apple Pay, Android Pay, dsb.), wearable technology (contoh: Apple Watch, dan Samsung Gear), atau pemakaian "emoji" untuk meningkatkan komunikasi. Dalam era ini, internet adalah segalanya. Internet menjadi jembatan relasi antara manusia dan teknologi digital. Digital Culture sangat berpengaruh terhadap Generasi Z karena Gen Z hidup pada masa kini.
Batik Belanda
Doellah (2002) mengatakan pada awal abad ke-17 bangsa Belanda datang ke Pulau Jawa dengan bendera VOC (Vereenidge Oost Indische Compagnie) dengan tujuan berdagang. Keberhasilan dari perdagangan ini membuat sebagian dari orang Belanda memilih untuk tinggal di daerah Hindia Belanda. Mereka memakai Chintz dari India sebagai pakaian sehari-hari guna menyesuaikan dengan iklim udara tropis. Namun, terjadi penurunan impor Chintz di abad ke-19, sehingga pengguna Chintz mulai beralih ke batik yang memiliki pola menyerupai Chintz. Ketika impor tekstil India terhenti, terbuka kesempatan perajin batik lokal untuk memasarkan produknya kepada orang Belanda. Hal tersebut menyebabkan peningkatan permintaan terhadap batik.
Batik Belanda muncul pada 1840-1940. Pada awalnya batik Belanda dibuat dan dipakai oleh masyarakat Belanda dan Indo Belanda. Pengerjaan batik Belanda dilakukan di daerah pesisir (Pekalongan) dan hampir semua berbentuk sarung. Sebagian besar batik Belanda menampilkan aneka rangkaian bunga, pohon, beberapa jenis binatang seperti bangau, angsa, atau kupu-kupu. Paduan sejenis juga dibuat dengan ragam hias Cina atau Jawa dengan warna yang cerah (warna muda) yang sesuai dengan selera masyarakat Eropa. Pola batik Belanda hadir dalam bentuk nyata; bunga dan satwa sampai pesawat terbang, bangunan, dan sosok manusia. Ada pula ragam hias dengan cerita dongeng dari Eropa seperti Little Red Riding Hood "Si Kerudung Merah", Snow White "Putri Salju", atau Hanzel dan Gretel. Bahkan, ada pula pola yang menampilkan pengaruh budaya Cina seperti Dewi Hsi Wang Mu, pola wayang, dan sirkus. Pengaruh lingkungan muncul juga pada batik Belanda terutama untuk batik yang dibuat di wilayah pedalaman, yakni warna soga batik keraton tetap merupakan pilihan utama. Penampilan batik Belanda lebih menarik karena batik Belanda memiliki tingkat kehalusan, ketelitian, dan keserasiannya yang sangat tinggi. Para pemakai yang semula terbatas kalangan sendiri, kemudian menyebar ke lingkungan orang Tionghoa dan para bangsawan Jawa.
HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Batik Belanda
Veldhuisen (1993) membagi urutan perjalanan batik Belanda dari awal sampai akhir menjadi lima periode. Pertama merupakan periode awal, yaitu pengusaha batik Indo-Belanda. Kedua, kebangkitan industri batik. Ketiga, periode awal dari masa kejayaan. Keempat, masa kejayaan, dan kelima, penurunan industri batik canting.
Pertama, periode awal pengusaha batik Indo-Belanda. Periode ini diawali masyarakat Belanda memulai usaha batik. Masyarakat Belanda mengawali dari hanya menjual sampai pada akhirnya menghasilkan batik. Tokoh sentral yang muncul dalam era ini adalah Carolina Josephina von Franquemont (1840) dan Catharina Carolina Van Oosterom (1845). Hasil batik Carolina Josephina von Franquemont dikenal dengan nama batik Prankemon. Periode kedua adalah kebangkitan industri batik. Pengusaha batik Indo Belanda di Pekalongan pada 1870 mulai menandatangani karya mereka dan mengubah pola peletakan susunan sarong (1860-1900). Tokoh yang terkenal pada periode kedua tersebut di antaranya Mrs. B. Fisher (signed: Mevrouw B. Fisher), Mrs. S.W. Ferns (signed: SWF), Mrs. Scharff van Dop (signed: B Scharff v dop), Miss J. Toorop (signed: J. Toorop), Mrs. C.M. Meyer (signed: MV CH Meyer), Mrs. Dunhuyzen (signed: Dunhuyzen pk), Mrs. J.A. de Witt (signed: J.A. de Witt pek), Mrs. A.J.F. Jans (signed: J. Jans), dan Miss A. Wollweber (signed: Mej. A Wollweber Pecalongan). Periode ketiga merupakan periode awal dari masa kejayaan (1880- 1890). Dalam periode 1870-1880 terjadi kenaikan dua kali lipat jumlah orang dalam komunitas Eropa di Jawa yaitu dari 30.000 orang menjadi 60.000 orang. Dalam periode awal masa kejayaan terjadi peningkatan permintaan pada batik Belanda. Tokoh sentral dalam periode ini adalah Mrs. L. Metzelaar (1880-1919), Mrs. W. Beer (around 1880) dan Mrs. Christina Van Zuylen 1885 (signed: T. v Zuylen). Periode keempat adalah masa kejayaan (1890-1910). Pada periode ini terjadi peningkatan perdagangan batik di Jawa, yaitu batik dua negeri dan tiga negeri. Hal ini diakibatkan adanya jalur kereta api sehingga memungkinkan pengiriman antarkota. Tokoh yang menjadi sentral pada periode ini di antaranya Mrs. Eliza Charlotta van Zuylen, Mrs. B. Fisfer (berlanjut), Mrs. A.J.F. Jans (berlanjut), Mrs. Wiler, Mrs. L. Metzelaar (berlanjut), Mrs. Simoet, Mrs. Maria Paulina Carp, Raden Mas Padmo Soediro, Mrs. S.N. Feunem, C. Croes, Mrs. L. Fredericks, dan Miss S. Haihton, J. Williams. Periode kelima ditandai dengan penurunan industri batik canting. Saat Perang Dunia I (1914-1918) terjadi penurunan bahkan berhentinya ekspor katun dari Twente (The Netherlands), yang berdampak pada kenaikan harga batik. Untuk mempertahankan usaha batik, pengusaha batik memproduksi batik cap dan batik canting yang lebih murah sehingga permintaan pada batik cap meningkat. Tahun 1918 terjadi kenaikan harga yang tinggi pada batik. Banyak pengusaha batik mengalami kebangkrutan karena keadaan pasar buruk dan tidak bisa menjual stok batik. Setelah 1920, sebagian pelanggan batik adalah orang kaya Tionghoa. Produksi utama batik canting dilakukan oleh pengusaha Tionghoa. Sejak itu, motif batik menjadi semakin simpel atau sederhana, yaitu menggunakan motif yang sama pada satu kain. Tokoh yang menjadi sentral pada periode ini di antaranya Mrs. L. Metzelaar, Mrs. S.E. Bouwer, Mrs. E.M. Doral, Mrs. Simonet (Tan Ien Nio), Mrs. J.C. van Ardenne, Mrs. M. Naberman, Mrs. E.C. Van Zuylen, dan Oey Soe Tjoen.
Tokoh dan karya
Miss Carolina Josephina von Franquemont adalah perempuan Indo Belanda yang pertama menjadi pengusaha batik pada 1840 di Surabaya. Lima tahun kemudian ia pindah ke Semarang karena melihat adanya potensi pasar yang lebih baik. Ia membuka usaha batiknya di Gunung Ungaran. Batik yang diproduksi oleh Von Franquemont adalah sarong dan dijual kepada wanita Indo-Belanda dan Belanda, wanita Tionghoa, setengah darah koloni, anak-anak imigran Tionghoa, wanita pribumi Jawa, dan wanita Indo-Tionghoa.
Carolina Von Franquemont berhasil mengimitasi warna-warna Chintz India menggunakan pewarna sayur-sayuran. Warna-warna yang dihasilkan adalah merah, biru, coklat, dan warna-warna campuran. Selain itu, ia juga mengembangkan warna hijau cepat. Warna hijau menjadi ciri khas dari batik Von Franquemont yang pada akhirnya banyak diimitasi oleh para pengusaha
Gambar 1 Sarong: Red riding hood/ Si Kerudung Merah (Dokumentasi penulis, sumber: Veldhuisen, 1993)
Gambar 2 Sarong: Dewa Hsi Wang Mu, pohon peach, dan burung phoenix (Dokumentasi penulis, sumber: Veldhuisen, 1993)
Gambar 3 Sarong: L. Metz Pekalongan, Pekalongan, inkstamp (Dokumentasi pribadi Sumber: Veldhuisen, 1993).
Gambar 4 Sarong: Isen latar is gringsing (motif kulit ular), L. Metz Pekalongan, Pekalongan (Dokumentasi penulis, Sumber: Veldhuisen, 1993)
Gambar 5 Sarong: E v Zuylen (1890) Pekalongan, inkstamp (Dokumentasi pribadi, sumber: Veldhuisen,1993).
Gambar 6 Sarong: E v Zuylen (1910) Pekalongan, inkstamp (Dokumentasi pribadi, sumber: Veldhuisen, 1993)
lain salah satunya Van Oosterom. Batik hasil Von Franquemont diberi nama batik Prankemon. Motif batik Prankemon menggunakan dekorasi motif Eropa, motif Cina, tradisional Malay, Madura, dan prinsip-prinsip pola. Von Franquemont tidak menandatangani produk-produknya karena konsumen mengetahui bahwa batik tersebut adalah hasil karya batik Prankemon. Karya batik Van Franquemont atau batik Prankemon: dapat dilihat pada gambar 1 dan 2.
Mrs. Lien Metzelaar atau L. Metzelaar memulai usaha batik pada 1880. Batik L. Metzelaar banyak ditemukan di Batavia dan beberapa di Belanda. L. Metzelaar memengaruhi perubahan dalam pembuatan pola motif batik yang disesuaikan dengan desain pada bagian kepala. L. Metzelaar juga mendorong pembuatan gambar dari rangkaian bunga kecil untuk digambar pada bagian kepala. Hal ini berpengaruh dan berkembang pada masa manufaktur batik Mrs. van Zuylen yang dikenal sebagai "Pansellen". Ia adalah orang pertama yang membuat leitmotif pada pinggir (yang hanya dibuat pada bagian atas). Karya Batik L. Metzelaar: dapat dilihat pada gambar 3 dan 4 .
Mrs. Christina van Zuylen atau Tina lahir pada 1861 di Fort de Kock, Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia merupakan salah satu perempuan yang memproduksi batik Belanda secara industri rumahan. Adapun Mrs. Eliza van Zuylen atau Lies adalah adik perempuan Christina van Zuylen yang lahir pada 23 November 1863 di Fort de Kock, Bukittinggi, Sumatra Barat. Batik karya Eliza van Zuylen adalah batik yang paling terkenal dan berpengaruh pada pembatik terutama pembatik Tionghoa. Desain batik E. van Zuylen lebih simpel. Karakteristik batik Belanda yang dimiliki yaitu tidak adanya aturan ketat dalam mengombinasi rangkaian motif bunga selama hasil rangkaian terlihat proposional. Karya E. van Zuylen: dapat dilihat pada gambar 5 dan 6.
Jenis Ragam Hias Batik Belanda dan Produk yang dihasilkan
Jenis-jenis ragam hias batik Belanda yang berhasil ditelusuri antara lain berupa motif buketan, flora fauna, fairytale atau dongeng, poem (puisi), Natol Perang Jawa dan Perang Lombok. Adapun produk batik yang dihasilkan oleh para pembatik Belanda berupa kain panjang, sarong, sapu tangan, taplak meja, hiasan dinding, dan sarung bantal. Motif umum yang dapat dilihat dalam batik Belanda adalah Buketan. Buketan adalah hasil dari rangkai-rangkaian bunga yang dilakukan oleh para wanita Eropa sebagai hobi atau pekerjaan sampingan mereka. Jenis bunga-bunga yang digambarkan dalam batik buketan adalah gambaran dari campuran rangkaian bunga lokal dan bunga yang berasal dari Eropa (yang tidak dapat tumbuh di Indonesia).
Motif fairytale atau dongeng yang banyak dipilih adalah cerita rakyat atau dongeng dari Eropa seperti Cinderella, Hansel dan Gretel, Snow White/ Putri Salju, Sleeping Beauty/ Putri Tidur, dan Red Riding Hood/Si Kerudung Merah. Ada juga cerita hasil alkulturasi dengan budaya Tionghoa, yaitu Hsi Wang Mu on Her Phoenix and The Peach Tree; alkulturasi dengan Indonesia yaitu batik wayang, dan dengan Kompeni berupa orang, tentara kolonial, atau uang gulden.
Warna Batik
Dari pengelompokkan warna batik berdasarkan teori kobayashi (1991) warna dibagi menjadi empat bagian yaitu warna warm, cool, soft, hard. Warna pastel berada dalam area soft seperti pada gambar di bawah ini. Warna soft memberikan kesan soft/halus, sweet/manis, innocent/polos, atau charming/menawan (gambar 8)
Hasil Kuesioner
Penelitian ini menggunakan Google Form sebagai alat penyebaran kuesioner. Pengumpulan data kuesioner dilakukan dalam jangka waktu tiga hari. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui media sosial seperti Line, Whatsapp, dan Instagram. Hasil data yang didapatkan dari kuesioner selanjutnya diolah, dianalisis, dan disimpulkan dengan tujuan mengidentifikasi minat generasi Z terhadap batik. Berikut adalah hasil dan pembahasan.
Responden Generasi Z yang berpartisipasi pada tes uji minat berusia 15-23tahun. Mayoritas responden adalah 77% perempuan dan 27% laki-laki. Sebagian besar responden, yaitu 57% berasal dari Jakarta dan 43% responden berasal dari luar Jakarta. Terdapat 57% responden yang berasal dari Jakarta dan 43% responden dari luar Jakarta. Generasi Z yang menjadi responden menunjukkan hampir semuanya menjawab berminat terhadap batik yaitu netral atau biasa saja mengarah ke menyukai. Hasil uji minat menunjukkan 1% responden dari Generasi Z kurang menyukai batik, 40% responden Generasi Z menjawab netral, 29% responden Generasi Z menjawab Suka, dan 30% responden Generasi Z menjawab Sangat Suka (gambar 9).
Responden Gen Z yang kurang menyukai batik memberikan alasan jika batik terkesan tua, kuno, dan membosankan. Responden Gen Z yang memilih netral mengganggap batik biasa saja. Responden Gen Z yang memilih suka dan sangat suka disebabkan faktor ragam hias yang beragam, unik, dan indah.
Untuk pemakaian batik, responden Gen Z memilih memakai batik untuk pergi ke suatu acara dan bepergian ke mal. Responden menjawab batik tidak dipakai untuk sehari-hari karena batik dianggap pakaian yang cocok pada halhal yang bersifat formal dan resmi. Di antara ketiga jenis batik (batik klasik, ba-

Gambar 8 Skala warna Kobayashi 1991 (sumber: www.pinterest.com)

Gambar 9 Tingkat Minat Responden Terhadap Batik
tik pesisir, dan batik kontemporer), batik kontemporer adalah batik paling disukai Generasi Z. Batik kontemporer dipilih responden karena dianggap memiliki gaya, bentuk baju, dan motif yang tidak baku sehingga terlihat lebih kekinian. Generasi Z menyukai batik bewarna muda (pastel/soft/muda). Dari hasil kuesioner, dapat diperoleh gambaran bahwa Generasi Z menyukai ukuran motif batik yang sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil (besar di atas 30cm dan kecil di bawah 10cm) dengan peletakan yang sangat sederhana atau sedang-tidak terlalu ramai (contoh: seperempat bagian atau setengah bagian dari satu bagian baju).
Dari hasil kuesioner didapatkan juga sebanyak 58% responden tidak mengetahui batik Belanda dan 42% mengetahui batik Belanda. Setelah diberikan beberapa ragam hias batik klasik, batik pesisir, dan batik Belanda untuk dipilih, responden paling banyak memilih batik Belanda. Menurut mereka batik Belanda terkesan nyaman dipandang dan berkelas. Gambar dan warna yang dimiliki batik Belanda sangat halus. Corak batik yang paling disukai oleh responden adalah batik karya E. Van Zuylen.
SIMPULAN
Hasil uji minat yang telah dianalisis menunjukkan 1% Generasi Z kurang menyukai batik, 40% netral, 29% suka, dan 30% sangat suka. Dari ketiga jenis batik, yaitu batik klasik, batik pesisir, dan batik kontemporer, generasi Z paling menyukai batik kontemporer. Dari hasil kuesioner juga diperoleh 58% Generasi Z tidak mengetahui soal batik Belanda. Adapun batik Belanda yang disukai Gen Z adalah batik karya E. van Zuylen. Dari hasil kuesioner dapat diidentifikasi bahwa minat generasi Z terhadap batik Belanda didasarkan pada tingkat kenyamanan untuk dipandang dan dianggap lebih berkelas. Hal ini diakibatkan pada pemilihan warna yang sangat halus dan pemilihan motif.
Hasil penelitian mengidentifikasi minat generasi Z terhadap ragam hias batik Belanda berguna untuk para perancang busana, kriya, pembatik, dan desain komunikasi visual sebagai acuan dalam arah perancangan. Hal ini dapat dilakukan agar batik tetap relevan dengan kondisi zaman.
