PENDAHULUAN
Penggabungan kata sains dan sastra umumnya diasosiasikan pada sebuah genre sastra, yaitu fiksi ilmiah (science fiction). Namun, tulisan ini tidak mengarah pada persepsi tersebut. Sains dan sastra yang dimaksud dalam penelitian ini adalah metode investigasi detektif dan mahasiswa kajian sastra. Metode investigasi detektif masuk dalam kategori sains karena metode tersebut merupakan turunan dari deduksi Sherlock
Holmes yang mengandalkan pemikiran saintifik empiris dan logis. Mahasiswa kajian sastra yang menstereotipekan diri sebagai individu-individu bidang humaniora dengan kemampuan saintifiknya yang minim menjadi kontras dari ilmu sains. Oleh karena itu, mahasiswa kajian sastra menjadi objek dalam penelitian dalam rangka penerapan metode tersebut.
Salah satu masalah paling umum yang dialami oleh mahasiswa bidang
humaniora, terutama yang berfokus pada kajian sastra saat menulis karya ilmiah adalah kesulitan dalam mengidentifikasi masalah. Tanpa identifikasi masalah mahasiswa mengalami kesulitan untuk mulai memetakan masalah yang terdapat dalam karya sastra yang menjadi objek penelitian. Hal ini menyulitkan mereka untuk mencari referensi teori atau konsep yang akan dikutip dan digunakan dalam pembahasan. Selain itu, mereka akhirnya mengalami kesulitan dalam membahas atau menganalisis masalah dan menarik simpulan. Temuan masalah-masalah ini memicu diadakannya penelitian yang berfokus pada pengamatan terhadap kemampuan siswa dalam mengobservasi dan mengidentifikasi masalah. Penelitian ini menerapkan metode investigasi detektif yang merupakan bagian dari teknik deduksi Sherlock Holmes. Metode ini diadaptasi dan diterapkan untuk membantu mahasiswa mengikuti langkah-langkah dalam melakukan tahap penalaran diagnostik.
D e d u k s i S h e r l o c k H o l m e s dikenal sebagai teknik yang efektif untuk memecahkan sebuah kasus. Sebagai detektif, Holmes sangat berhatihati dalam memperhatikan detail, mengumpulkan bukti, memproses
data dari bukti yang didapat, dan menginvestigasi suatu kasus. Metode Holmes diawali dengan mengamati sebuah kasus kemudian mengarahkan Holmes untuk memecahkan kasus tersebut. Tahap yang sangat bergantung pada kemampuan observasional dan perseptual ini dianggap mampu membantu memecahkan masalah. Metode inilah yang diadaptasi sebagai dasar untuk memetakan tahap penalaran diagnostik dalam penelitian ini.
Dalam membaca objek penelitian berupa karya sastra, mahasiswa dituntut untuk memahami deskripsi dan jejak tekstual sebuah karya. Hal ini membuat mahasiswa sulit menemukan kasus/ masalah yang konkret di hadapan mereka. Tantangan dalam penelitian ini adalah menemukan dan merumuskan cara-cara efektif yang dapat digunakan untuk menganalisis sebuah masalah. Penelitian ini menerapkan metode investigasi detektif untuk dijadikan fondasi tahap dalam mengidentifikasi masalah. Sebagai hasil dari penelitian, tulisan ini akan menyediakan pemetaan alur penalaran diagnostik yang dapat dijadikan model tahap penalaran observasional bagi mahasiswa atau masyarakat pada umumnya.
Gambar 1 Ilustrasi Alur Penelitian Sumber: dokumentasi penulis
METODE Metode Kualitatif Observatif
M e t o d e p e n e l i t i a n y a n g digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif yang diaplikasikan untuk menilai tahap observasi dan rasionalisasi mahasiswa. Data yang ditelaah diambil dari hasil kegiatan daring dalam obrolan pada grup LINE. Teknik observasi diaplikasikan dalam penelitian ini sebagai cara mengamati dan merekam tindakan dan tingkah laku peserta (Mertens, 2010: 16-19). Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati proses observasi dan rasionalisasi serta identifikasi kekurangan atau diskontinuitas hubungan sebab-akibat pada contoh kasus yang diberikan. Skema pada gambar 1 dapat memberikan ilustrasi atas alur penelitian yang dilakukan.
Penelitian ini relevan ditempatkan dalam konteks hubungan antara bidang sains dan humaniora; antara analisis nonempiris dan analisis empiris. Pada bidang sains, misalnya, teknik deduksi Sherlock Holmes telah banyak diterapkan dari ilmu kedokteran hingga ilmu biologi. Dalam ilmu kedokteran, teknik deduksi holmes diwujudkan menjadi tahap diagnosis pasien. Tahap diagnosis inilah yang akan dijadikan model tahap penalaran dalam penelitian yang dibahas dalam tulisan ini. Pada bidang humaniora, khususnya sastra, teknik deduksi Sherlock Holmes juga dapat diterapkan sebagai dasar pemikiran kritis karya fiksi.
Diagnosa, Investigasi, dan Metode Investigasi Detektif
Metode deduksi h o l m e s bersandar pada rantai penalaran, yang baru dapat dilakukan setelah hal-hal kecil yang ada di sekitarnya diamati. Oleh karena itu, tujuan praktis yang diperoleh dari penggunaan metode deduksi adalah melatih kemampuan mengobservasi. Salah satu contoh praktik teknik deduksi
holmes dalam ilmu kedokteran adalah dalam mendiagnosis pasien. Penalaran diagnostik berkaitan erat dengan metode investigasi pekerjaan fiksi detektif karena metode ini membantu dokter mendiagnosis pasien berdasarkan data hasil interogasi pasien. Contoh penerapan metode ini dapat dilihat pada serial TV Amerikan berjudul "House" yang diproduksi oleh jaringan TV Fox. Sangat populer di Amerika, serial ini ditayangkan sebanyak 8 episode dari 2004 hingga 2012. Di tengah maraknya serial TV tentang investigasi kasus yang ditangani oleh penegakan hukum (NCIS, Law and Order, dan CSI) di Amerika, "House" menawarkan perspektif baru tentang penanganan pasien oleh dokter. Karakter utama serial ini, Dokter House, memperlakukan pasien sebagai sebuah kasus dan mengabaikan aspek kemanusiaan apapun tentang pasiennya dalam penyelidikan. Metode holmes ini sangat efektif karena banyak kasus medis dapat dipecahkan. Metode investigasi dilakukan pada pasien termasuk interogasi akan membantu memprediksi hal yang memicu atau menyebabkan penyakit pasien. Rekam medis pasien dilacak dan interaksi antara dokter dan pasien terjalin.
Metode investigasi ini sangat membantu dan cenderung lebih ideal daripada penggunaan mesin yang dapat mendiagnosis suatu penyakit (Rapezzi, 2005). Dalam sebuah artikel yang membahas relevansi penalaran diagnostik di bidang kedokteran dan metode investigasi dalam karya fiksi detektif (Rapezzi, 2005) disebutkan, keberadaan mesin diagnostik yang tersedia di rumah sakit meniadakan proses ilmiah dalam penalaran klinis. Penalaran klinis penting karena melalui itu dokter dapat melihat rekam medis pasien dan menentukan apa yang memicu atau menyebabkan penyakit dari hasil interogasi pasien mereka.
Metode inverstigatif dalam karya fiksi detektif dapat digunakan sebagai analogi untuk metode klinis karena baik detektif maupun dokter memiliki kesamaan berikut.
- 1. Kemampuan untuk mengamati,
- 2. Kemampuan untuk menyimpulkan,
- 3. Pengetahuan,
- 4. Kemampuan merekonstruksi profil psikologis dan sosial,
- 5. Kemampuan mendeteksi ketidakkonsistenan (Rapezzi, 2005).
Dalam penelitian ini, kemampuan yang diuji hanyalah nomor 1 dan 5, dengan alasan dua kemampuan inilah yang paling sederhana praktiknya, sehingga lebih memungkinkan untuk dilakukan. Hasil uji dua kemampuan ini diproyeksikan dapat membantu mengasah kemampuan observasi dan deteksi hingga pada akhirnya mahasiswa dapat melakukan identifikasi masalah.
Dalam konteks berpikir kritis bagi mahasiswa, penelitian ini mengacu pada penelitian keterampilan penalaran abduktif bagi orang-orang yang sangat dipengaruhi oleh penyebaran, penciptaan, dan manipulasi informasi di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat. Patokorpi (2007) secara konseptual menjelaskan hal yang terjadi ketika seseorang memproses informasi yang diterima dan menghasilkan ide-ide baru dari informasi tersebut. Metode ini dinamai penalaran abduktif, yang memungkinkan seseorang pada zaman teknologi informasi dewasa ini memiliki kemahiran mengurutkan informasi, melihat relevansi informasi, dan menghasilkan informasi yang diperoleh untuk memunculkan ide-ide baru. Penalaran abduktif sangat relevan dalam penelitian ini karena objek dalam penelitian ini adalah mahasiswa generasi milenial yang sebagin besar fasih menggunakan teknologi digital. Di satu sisi, kondisi semacam itu menguntungkan bagi mereka karena
mereka dapat mengakses informasi dengan mudah. Di sisi lain, kondisi tersebut menyulitkan mereka sebab informasi yang diterima terlalu banyak. Secara komprehensif, Livingstone dan Sefton-Green (2016) mendeskripsikan kondisi ini dengan menyatakan,"[i] n reflexive modernity, everyone is inundated with knowledge about the society they live in—receiving a plethora of advice, guidance, commentary, and popular social science that demand they reflect on their lives and make informed choices" (Livingstone dan Sefton-Green, 2016: 23). Kondisi semacam ini menantang generasi milenial untuk dapat menjadi lebih selektif dan secara konstan beradaptasi dengan berbagai perubahan yang ada.
Melihat Dunia dari Perspektif Detektif
Penulis sepakat dengan gagasan "the universe is a game, a test, a maze whose rules [one discovers] by going through it. And the only guide [one has] is the guide of reason" (McConnell, 1987: 177). Dengan demikian, bagi seorang detektif atau seorang analis yang menjadi objek penelitian ini, dunia dilihat sebagai entitas yang dibangun oleh struktur tertentu yang menyebabkan dunia ini memiliki masalah yang ada saat ini. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini berfokus pada peran mahasiswa sebagai detektif, yaitu: "to observe, and to construct form [their] observations a coherent explanation of how the observed facts came to be that way" (McConnell, 1987: 178). Secara khusus, mahasiswa subjek penelitian ini diproyeksikan dapat memahami dasar metode sherlock holmes, yang "rests upon a recognition of the little things" (Hogan, 1964: 157). Selain itu, mahasiswa juga diproyeksikan dapat memahami "science provides not simplistic answers but a rigorous method of formulating questions that may lead to answers" (Wagner: viii). Sebagai
detektif, sangat krusial untuk menguasai dua kualitas utama detektif yang ideal: kemampuan observasi dan deduksi (Hogan, 1964: 164).
S e p e r t i y a n g b e r k a l i - k a l i digarisbawahi oleh Holmes sepanjang kasus yang diusutnya, pengamatannya membutuhkan data yang valid dan data valid tersebut harus ada agar solusi dapat ditemukan (Abrell, 1979: 405). Data dapat dilihat sebagai situasi fisik, yang dalam persepsi Holmes, "tells a lot about how to begin to solve a problem" (Ballew, 1994: 597). Secara lebih elaboratif, Ballew (1994) menambahkan, jawaban untuk kasus ini ditemukan dengan melakukan proses yang disebut uji wawasan yang umumnya berarti "making observations and then seeing if these observations lead toward a solution." Dalam hal pemecahan masalah matematika, Holmes menunjukkan,
no mental set should be formed before we examine a problem to avoid inhibiting our thoughts and obstructing our vision toward possible paths to a solution. We should observe and make inferences freely and then test those inferences. We do want to form theories, but not too quickly; we want the theories to grow out of facts, observations, and inferences (Ballew, 1994: 597).
Pada tahap inilah proses validasi berlangsung. Dengan memvalidasi, seseorang "interrogating [one's] code to see if it is written correctly" (Jacobs, 2010: 52). Validasi juga merupakan tahap yang penting karena tahap ini "checks the mark up and style code that [one writes] against the rules of that particular code version" (Jacobs, 2010: 52).
Langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini mengikuti urutan kronologis dalam cerita detektif, yang dikenal juga sebagai karya fiksi detektif. Sebuah cerita detektif sangat formulaik, yang berarti desain struktur ceritanya mengikuti konvensi yang tetap. Todorov (1977) dalam pengamatannya tentang tipologi fiksi detektif menekankan "[Whodunit] novel contains not one but two stories: the story of the crime and the story of the investigation" (Todorov, 1977: 44). Lebih khusus lagi, ia menjelaskan "the first—the story of the crime—tells "what really happened," whereas the second —the story of the investigation—explains "how the reader (or the narrator) has come to know about it" (Todorov, 1977: 45). Yang diimplikasikan Todorov adalah kedua cerita yang dihadirkan (cerita tentang kasus dan cerita tentang proses investigasi kasus tersebut) memiliki hubungan sebab-akibat. Proses investigasi tidak akan ada jika tidak ada kasus. Relevan dengan konteks penelitian dalam tulisan ini, mahasiswa perlu memiliki modal sebuah kasus terlebih dahulu sebelum memulai analisis. Kasus tersebut, bagi mahasiswa, adalah objek penelitian atau karya sastra yang dipilih.
Dalam memecahkan sebuah kasus, Holmes dibantu oleh sahabatnya, dokter Watson, yang memiliki peran seperti sidekick bagi seorang superhero. Dokter Watson digambarkan sebagai berikut.
a medical man, comfortable with dissecting rooms and their pungent odors. He is also well traveled [sic] and well read, and he is probably familiar with the enormous advances that were being made in the new world of forensic medicine, many the result of experiments done on corpses, so he finds Holmes's interests congenial. They are thus well matched to share a series of adventures in a Victorian world that becomes their laboratory for applying science to criminal investigation (Wagner, 2006: 3).
S e b a g a i s e o r a n g d o k t e r , kebiasaan dan cara nalar Watson cocok dengan Holmes. Bedanya, Watson lebih memiliki aspek humanis dibandingkan Holmes. Sering, justru aspek humanis ini yang menurut Holmes menghambat Watson untuk secara efektif melakukan investigasi. Terlepas dari keberhasilan mereka memecahkan kasus sebagai tim, friksi antara Watson dan Holmes tidak dapat dihindari karena cara Holmes dalam mendeduksi dan mengumpulkan bukti-bukti cenderung sangat tidak konvensional. Akan tetapi, betapapun tidak konvensional cara Holmes, menurut McCuskey (2012), the holmesian point always applies, because there is no alternative: the only possibilities that exist in the stories are the ones to which Holmes refers as he eliminates them, leaving only his solution. By definition, he cannot fall into his own fallacy; hence his impeccable track record, which camouflages the trap for readers following his lead (McCuskey, 2012: 229).
Holmes digambarkan memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada mayoritas orang. "Holmes's foresight is so accurate, his powers of observation so keen, his deductions so ingenious, that he apparently violates the same laws of nature and chance that he analyses" (McCuskey, 2012: 234). Kondisi ini memungkinkan Holmes untuk mampu mengobservasi dan mendeduksi secara cepat sehingga sebuah kasus dapat dengan cepat dipecahkan. Dalam praktiknya, Holmes melihat sebuah kasus sebagai sebuah tekateki yang perlu dipecahkan. Teka-teki, sebagaimana permainan pada umumnya, pasti memiliki petunjuk di dalamnya. Baik disengaja atau tidak, petunjuk itu pasti ada. Petunjuk dapat terlihat jika seseorang memiliki kemampuan observasional dan perseptual yang baik. Konsep-konsep yang dijabarkan di atas mendasari ide dan tujuan penelitian ini. Dengan memahami dunia sebagai sebuah teka-teki, mahasiswa didorong untuk menerima teka-teki berupa kasus yang diberikan dan berusaha mengamati kasus tersebut secara seksama dengan mengobservasi, mendeduksi, dan mendeteksi inkonsistensi dengan cara memosisikan diri mereka sebagai detektif.
HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan Metode Investigatif Detektif
Mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester lima Program Studi Sastra Inggris yang mengambil kajian sastra sebagai konsentrasi mereka. Partisipan adalah peserta Mata Kuliah Seminar in Literature yang terdiri atas 23 mahasiswa. Data diambil dari konsultasi daring menggunakan platform LINE, dalam grup Pengutamaan Sastra. Aplikasi LINE dipilih dengan alasan dan justifikasi sebagai berikut.
- 1. Sebagian besar mahasiswa di Program Studi Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dan Pengutamaan Sastra secara khusus berkomunikasi daring menggunakan aplikasi LINE.
- 2. Aplikasi LINE dipilih atas dasar praktis sehingga mahasiswa dapat secara lebih leluasa mengemukakan pendapat mereka.
- 3. Data yang diperlukan dapat diperoleh secara lebih mudah dan aksesibel.
- 4. Merujuk pada alasan pertama, kedua, dan ketiga, metode deduksi yang dilakukan menggunakan aplikasi LINE dapat diterapkan secara
relatif efektif karena respons yang menunjukkan cara observasi serta alur berpikir logis partisipan dapat terekam secara lebih detail. Selain itu, mahasiswa secara lebih leluasa mengungkapkan reaksi spontan mereka melalui emoji. Reaksi ini penting karena mencerminkan persepsi langsung mereka ketika mengobservasi dan merupakan modal utama untuk penerapan metode deduksi.
Dari 23 mahasiswa, hanya mahasiswa perempuan yang merespons, sebanyak 13 orang. Mahasiswa tersebut rata-rata berusia 21 tahun, berasal dari daerah yang beragam: Padang, Bandung, dan Bekasi, dengan etnis Minang, Batak, dan Sunda. Dua partisipan beragama Kristen Protestan, sisanya beragama Islam. Keragaman ini menentukan persepsi dan cara partisipan menganalisis gambar yang diberikan.
L a n g k a h - l a n g k a h y a n g dilakukan dalam penelitian ini adalah kombinasi pelatihan yang diterapkan oleh Arnone (2006) dan konseptualisasi yang dirumuskan oleh Morris (2000).
Dalam bukunya, Arnone merancang sebuah aktivitas yang didesain untuk membantu anak-anak di tingkat dasar "On introductory research skills or what is often referred to as information literacy skills (i.e., skills for recognizing an information need and being able to locate, evaluate, and effectively use information)" (Arnone, 2006: i). Kegiatan utama pelatihan ini adalah mencari, mengumpulkan, dan mengatur informasi untuk mencapai tujuan. Morris, di sisi lain, menulis sebuah buku yang secara etimologis menyediakan rasionalisasi atas definisi kata atau idiom dalam bahasa Inggris. Pokok argumentasinya adalah "the words and language we speak today are the product (more a work in progress, actually) of an enormous committee consisting of nearly every person who ever lived; most of these people never spoke our modern English, and it shows" ( 2000: iv). Buku Morris dalam konteks penelitian ini merupakan contoh bagaimana penalaran diagnostik dapat diterapkan dalam memahami makna kata dan idiom.
Penelitian ini dilakukan secara
Gambar 2 #perasaanmuat (Sumber: https://twitter.com/win_tanuwidjaja/status/916661527163191296)
daring, melalui percakapan grup LINE yang beranggotakan mahasiswa pengutamaan sastra pada Senin, 16 September 2018. Mahasiswa yang menjadi anggota kelompok ini mengalami kesulitan karena mereka masih belum dapat menentukan topik untuk skripsi. Seorang mahasiswa berkonsultasi secara pribadi dan untuk membimbing agar ia dapat memiliki pemahaman tentang cara membuat topik, penulis mengarahkannya dengan mengirimkan gambar 2.
Gambar 2 a d a l a h c u i t a n lanjutan dari posting-an asli yang pada awalnya dibagikan di LINE. Dalam mengomentari gambar, penulis bertanya kepada mahasiswa tersebut, apa reaksi langsung setelah melihat gambar tersebut. Ia mengatakan marah karena gambar itu menunjukkan perempuan tidak bisa berpikir dengan benar dan logis. Sebaliknya, perempuan digambarkan lebih mengandalkan perasaan, bukan rasio. Kemudian, penulis bertanya lagi, "Mengapa ada orang yang membagikan gambar ini dan menganggapnya lucu? Bukankah ini berarti bahwa ada perbedaan antara pola pikir orang yang membagikan gambar ini dengan pola pikir Anda?" Mahasiswa menjawab, "Menurut saya, orang-orang yang menganggapnya lucu adalah orangorang yang merendahkan orang lain dan menganggap orang lain tidak berharga." Setelah ini, penulis menuliskan sejumlah kata kunci yang berpotensi muncul dari hasil pengamatan gambar tersebut. Katakata kunci tersebut adalah diskriminasi terhadap perempuan, tindakan seksis, dan body shaming.
Contoh lain digunakan dalam obrolan grup LINE. Untuk membantu mahasiswa agar memiliki pemahaman tentang cara menentukan topik, penulis membantu mereka dengan menampilkan gambar dari akun Instagram Unpad Heureuy (gambar 3) . Penulis meminta mahasiswa untuk mendeskripsikan apa yang ditampilkan dalam komik strip tersebut. Beberapa mahasiswa mengirim stiker LINE yang menunjukkan mereka menertawakan komik strip tersebut, kemudian mereka mengaku tidak mengerti penyebab komik strip itu lucu. Jelas ada yang tidak beres di sini, tetapi ketidakberesan ini tidak akan dipermasalahkan di sini dan kemungkinan berpotensi menjadi cabang penelitian yang lain. Seorang mahasiswa (mahasiswa 1) mendeskripsikan, "Ada seorang laki-laki (matanya ditutup) yang ingin membeli gehu (tahu isi dalam bahasa Sunda) dan penjualnya kehabisan gehu. Karena tidak ada gehu yang tersisa, laki-laki itu akhirnya memutuskan akan membeli bala-bala (bakwan dalam

Gambar 3 Jual Beli (Sumber: Akun Instagram Unpad Heureuy)
| Mahasiswa | Deskripsi | Tingkat Akurasi |
|---|---|---|
| 1 | "Ada seorang laki-laki (yang matanya ditutup) yang ingin membeli gehu, dan ternyata penjualnya kehabisan gehu. Karena tidak ada gehu yang tersisa, laki-laki itu akhirnya memutuskan bahwa ia akan membeli bala-bala saja sebagai gantinya." | Rendah |
| 2 | "SpongeBob ingin gehu, tetapi gehu-nya habis. SpongeBob pasrah dan memutuskan untuk membeli bala-bala sebagai gantinya." | Sedang |
| 3 | "Ada ikan hijau yang menjual gehu, SpongeBob ingin membeli gehu, tetapi habis. Agar tidak pulang dengan tangan kosong, SpongeBob memutuskan untuk membeli bala-bala sebagai gantinya." | Tinggi |
TABEL I TINGKAT AKURASI DESKRIPSI
bahasa Sunda) saja sebagai gantinya." Mahasiswa yang lain (mahasiswa 2) menjawab, "SpongeBob ingin gehu, tetapi gehunya habis. SpongeBob pasrah dan memutuskan untuk membeli balabala sebagai gantinya." Mahasiswa berikutnya (Mahasiswa 3) menjawab, "Ada ikan hijau yang menjual gehu, SpongeBob ingin membeli gehu, tetapi habis. Agar tidak pulang dengan tangan kosong, SpongeBob memutuskan untuk membeli bala-bala sebagai gantinya."
Dalam kasus komik strip ini, tiga versi jawaban siswa menunjukkan tingkat pemahaman dan interpretasi yang berbeda. Tingkat akurasi komentar responden dapat diilustrasikan pada tabel I.
Penjelasan untuk tabel I di atas dapat dijabarkan sebagai berikut.
- 1. Deskripsi pertama memiliki akurasi rendah karena tidak disebutkan secara spesifik bahwa karakter yang ditampilkan dalam komik strip adalah SpongeBob. Mahasiswa 1 menyebut SpongeBob sebagai "seorang laki-laki yang ingin membeli gehu". Selain itu, ikan hijau hanya digambarkan sebagai "penjual."
- 2. Deskripsi kedua memiliki akurasi
- sedang karena dalam deskripsinya mahasiswa 2 menyebutkan si pembeli gehu sebagai SpongeBob dan si penjual gehu sebagai ikan hijau. Selain itu, deskripsi mahasiswa 2 tidak mendeteksi nada kecewa SpongeBob pada strip terakhir.
- 3. Deskripsi ketiga memiliki akurasi tinggi karena deskripsinya menyebutkan tokoh si pembeli gehu sebagai SpongeBob dan si penjual gehu sebagai ikan hijau. Deskripsi ketiga ini juga menonjolkan nada kecewa SpongeBob di strip terakhir.
Lalu, apa yang dapat digunakan dari komentar responden? Ragam deskripsi ini dapat dilihat sebagai indikasi berbagai tingkat persepsi mahasiswa. Hasil ini juga digunakan sebagai dasar tahap selanjutnya.
P a d a t a h a p s e l a n j u t n y a , mahasiswa diinstruksikan untuk memperhatikan ketidaksesuaian atau ketidakkonsistenan komik strip tersebut. Pada tahap ini, mahasiswa diminta untuk bertindak sebagai validator sehingga mereka harus mampu "catch small errors that are often difficult to spot but that may have larger ramifications for the rest of the document and related documents" (Jacobs, 2010: 52). Dari

Gambar 4 Alur Penalaran Diagnostik Sumber: dokumetasi penulis
hasil pengamatan mahasiswa, daftar inkonsistensi yang ditemukan adalah sebagai berikut.
- 1. Komik strip yang digunakan adalah SpongeBob, tetapi karakternya berbicara dalam bahasa Sunda.
- 2. Balon dialog ikan hijau diambil dari login PAUS Universitas Padjadjaran.
- 3. Balon dialog SpongeBob lebih menyerupai caption pada meme.
Daftar ini dapat digunakan sebagai dasar ide suatu topik untuk menganalisis topiktopik berikut.
- 1. Akulturasi budaya karena ada dua budaya (Amerika dan Sunda) yang dicampur dalam komik strip tersebut.
- 2. Pelokalan SpongeBob karena komik strip tersebut menggunakan login PAUS Universitas Padjadjaran.
- 3. Format meme dalam komik strip karena di strip pertama dan terakhir, balon dialog SpongeBob serupa caption pada meme.
Terkait dengan poin ke-3, pengamatan juga dapat dilakukan dengan memperhatikan "memes may best be understood as pieces of cultural information that pass along from person to person, but gradually scale into a shared social phenomenon" (Shifman, 2014: 18). Oleh karena itu, Meme menjadi bagian integral yang mampu membentuk persepsi masyarakat. Topiktopik tersebut juga dapat dijadikan titik tolak untuk pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih luas cakupannya, misalnya:
- 1. Mengapa akun Instagram UnpadHeureuy cenderung memilih SpongeBob sebagai materi memes atau komik stripnya?
- 2. Mengapa komik strip SpongeBob tersebut dihadirkan dengan rasa kearifan lokal? Adakah alasan khusus yang melandasi ini?
- 3. Apa saja yang dapat disimpulkan dari komentar-komentar komik strip tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jika digarap secara serius tentu akan menghasilkan sebuah produk pengamatan dengan tingkat kebaruan yang tinggi.
Dari penerapan metode investigatif detektif tersebut, alur penalaran diagnostik yang berhasil dipetakan dapat diilustrasikan pada gambar 4.
Dari peta di atas, tampak pada tahap metode investigatif detektif pertama (observasi), reaksi langsung mahasiswa atas gambar 2 adalah reaksi marah. Reaksi ini membuat mahasiswa
mampu menjabarkan alasan gambar 2 dianggap lucu oleh pengunggah gambar dan juga oleh khalayak. Pada saat penjabaran alasan tersebut mahasiswa masuk ke tahap metode investigatif kedua (deduksi). Pada tahap metode investigatif detektif ketiga (deteksi inkonsostensi), inkonsistensi antara pandangan mahasiswa tersebut -bahwa gambar tersebut tidak lucu- dan pandangan pengunggah dan khalayak -bahwa gambar tersebut lucu- membuat mahasiswa mampu mengutarakan landasan kemarahannya. Hal inilah yang menjadi masalah yang dideteksi. Masalah inilah pada akhirnya yang berpotensi besar menjadi sebuah topik pembahasan.
Dengan mekanisme yang sama, pada kasus kedua (gambar 3) pada tahap metode investigatif detektif pertama (observasi), mahasiswa mendeskripsikan apa yang terjadi pada setiap strip. Pada tahap metode investigatif kedua (deduksi), mahasiswa mendeduksi dengan cara berfokus pada fakta bahwa komik strip tersebut diunggah oleh UnpadHeureuy. Hal ini mengindikasikan unggahan tersebut ditujukan untuk kelompok tertentu, yaitu kelompok yang berada dalam lingkaran komunitas Unpad. Pada tahap metode investigatif detektif ketiga (deteksi inkonsostensi), salah satu inkonsistensi yang ditemukan, misalnya, penyampaian komik strip Amerika SpongeBob disajikan dalam bahasa Sunda, bukan bahasa Inggris dan dalam konteks yang sangat lokal. Hal ini dapat disikapi sebagai titik tolak masalah yang berhasil dideteksi. Ada penggabungan dua budaya yang sama sekali berbeda dalam satu medium. Masalah ini pada akhirnya berpotensi besar menjadi sebuah topik pembahasan.
SIMPULAN
Tiga langkah yang dipraktikkan dalam penelitian ini (observasi, deduksi, dan deteksi inkonsistensi), sebagai
upaya menentukan topik pembahasan terbukti efektif bagi mahasiswa. Setelah penerapan metode investigatif detektif tersebut, minimal mahasiswa sebagai responden memiliki gambaran tahap selanjutnya yang perlu dilakukan. Hal krusial yang harus dilakukan selanjutnya adalah menentukan kasus yang akan diinvestigasi. Dengan kata lain, mereka harus menentukan objek penelitian terlebih dahulu. Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil dalam mendeskripiskan dan mengobservasi kedua gambar yang ditayangkan membantu mahasiswa dalam proses penalaran diagnostik. Alur penalaran diagnostik ini dapat digunakan sebagai model adaptasi deduksi holmes melalui metode investigasi detektif pada mahasiswa bidang humaniora. Dari penerapan alur tersebut tampak halhal yang nonempiris pun dapat diamati dengan menggunakan metode empiris.
