1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2020) Issue 3
  4. Articles

KENDI INDONESIA, BENTUK DAN TRADISI

Abstract

Kendi merupakan salah satu benda gerabah tradisional Indonesia. Keberadaan kendi tidak hanya di Indonesia, tetapi tersebar luas di daratan Asia Tenggara, Asia, Timur Tengah, dan sebagian Eropa, namun kendi sangat erat kaitannya dengan budaya Asia Tenggara. Bentuknya yang unik dengan varian yang banyak, mendorong dilakukannya kajian lebih jauh. Penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi fakta-fakta tentang kendi Indonesia terutama berkaitan dengan bentuk dan perkembangan tradisinya. Analisis bentuk kendi dilakukan dengan pendekatan morphological berdasarkan identifikasi tipologi bentuk objek, identifikasi anatomi bentuk objek, dan identifikasi varian bentuk objek menurut historical timeline. Dari hasil analisis diketahui bahwa bentuk dasar kendi secara umum adalah bentuk globular dengan penambahan bentuk silindris pada bagian atas yang berfungsi sebagai pegangan. Anatomi bentuk kendi terdiri dari bagian mulut, leher, corot, badan, dan kaki. Selain itu juga diperoleh data ilustrasi tentang evolusi bentuk kendi di Indonesia yang dikomparasi dengan beberapa negara lain, serta perkembangan tradisi kendi yang hingga saat ini masih dugunakan sebagai benda ritual maupun profan.Kata Kunci: kendi, bentuk, tradisi, gerabah

Keywords

PENDAHULUAN

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa benda-benda gerabah di Indonesia telah diproduksi sejak awal periode prasejarah di Indonesia, diperkirakan sejak periode Neolitik (sekitar 2000 SM). Gerabah prasejarah Indonesia terdiri dari bejana sederhana seperti mangkuk (silinder, bulat, dan berkaki), pot (bulat dan berukir), bejana air dengan atau tanpa moncong, tutup, serta guci, baik silinder atau globular (Miksic, 2003:69). Salah satu benda yang sangat menarik dengan bentuknya yang khas dan unik adalah wadah air yang dikenal sebagai kendi.

Kendi banyak dibuat dan ditemukan di hampir seluruh kepulauan Nusantara. Keberadaan kendi tidak hanya di Indonesia, tetapi tersebar luas di daratan Asia Tenggara, Asia, Timur Tengah, dan sebagian Eropa, namun kendi sangat erat kaitannya dengan budaya Asia Tenggara. Bentuk kendi berbeda-beda pada masing-masing wilayah dan jaman, yang mungkin mencerminkan selera dan pengaruh yang berbeda dari banyak budaya yang datang ke wilayah tersebut sepanjang sejarahnya (Adhyatman, 1987:4). Nama kendi selalu dikaitkan dengan bentuk wadah bercorot atau bentuk wadah mirip teko dengan leher tanpa handle di bagian samping. Sambil dituangkan, kendi dipegang di bagian lehernya. Secara umum wadah air tradisional di Asia Tenggara tidak memiliki pegangan tetapi mungkin memiliki corot. Hal inilah yang merupakan karakteristik unik dari kendi. Dilatarbelakangi hal tersebut, penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi fakta-fakta tentang kendi Indonesia terutama berkaitan dengan bentuk dan perkembangan tradisinya.

METODE

Secara umum analisis bentuk kendi dilakukan dengan pendekatan morphological berdasarkan identifikasi tipologi bentuk objek, identifikasi anatomi bentuk objek, dan identifikasi varian bentuk objek menurut historical timeline. Identifikasi tipologi dimaksudkan untuk melihat asal atau akar bentuk kendi dalam perspektif morfologi keramik sehingga diketahui kemungkinan-kemungkinan perkembangan bentuk kendi terkait varian dan teknik pembuatannya. Identifikasi anatomi kendi dimaksudkan untuk mengurai struktur bentuk kendi sesuai dengan divisi-divisi yang membangun bentuknya secara keseluruhan. Hal ini juga terkait dengan fungsi, nilai, dan karakteristik bentuk pada masing-masing divisi. Identifikasi varian bentuk menurut historical timeline dimaksudkan untuk melihat gambaran umum evolusi bentuk kendi dari waktu ke waktu.

HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah dan Definisi

Hingga saat ini, asal usul istilah kendi masih belum dapat dipastikan. Asal usul bentuk kendi sebagian besar spekulatif, namun secara etimologi

menunjukkan sumber awalnya diperkirakan berasal dari India. Istilah Melayu "kendi" atau "kundi" diyakini berasal dari bahasa Sansekerta

"kundika" yang berarti wadah air (Sullivan, 1957). Konon kendi berasal dari India kemudian meluas ke Asia Tenggara dan Cina oleh para pedagang dan pemuka agama selama Indiaisasi di tahun-tahun awal era Kristen. Ketika Malaya dan Indonesia diislamkan pada abad-14 dan abad-15, kundika sebagai wadah ritual Hindu dan Budha mulai ditinggalkan dan berganti dengan fungsi profan. Namun pada saat itu, istilah kendi telah diserap ke dalam bahasa Melayu (kendi atau kundi di Malaya, gendi di Jawa) (Rooney, 1987).

Kundika muncul dalam ikonografi Hindu sebagai salah satu atribut Brahma dan Sakti Brahmaninya, dan Sarasvati, Dewi Pengajaran, dan dalam Buddhisme muncul sebagai salah satu atribut Avalokitesvara. Kundika juga dibawa oleh para peziarah Budha (Sullivan, 1957). Beberapa contoh dari kendi bercorot kuno telah ditemukan di Mesopotamia dan Yunani. Kendi dari Mesopotamia diperkirakan 3200 SM, sedangkan kendi dari Yunani diperkirakan 2500 SM. Orangorang India tidak meniru prototipe Mesopotamia yang mirip dengan paruh burung. Kendi bercorot India memiliki bentuk lurus seperti pipa. Kendi India dibuat di India sekitar milenium kedua SM, dan terus dibuat hingga zaman sejarah. Sementara di Indonesia, kendi tampaknya sudah dikenal pada abad-9 di Jawa Tengah. Relief pada galeri Kamadathu di candi Borobudur (800 M) menunjukkan bentuk kendi dan kundika (Adhyatman, 1987:6-7).

Perbedaan kendi dan kundika adalah dari bentuk dan cara menggunakannya (Gambar 1 a, b.). Kendi memiliki sedikit hubungan dengan kundika kecuali memiliki dua lubang/bukaan yaitu bagian bibir dan bagian corot. Kundika sebagian besar diisi air dari corot di bagian samping badan dan dituang dari bagian bibir/ mulut yang berbentuk pipa sempit, sedangkan kendi pada umumnya diisi melalui bagian bibir dan dituang dari corot (Adhyatman, 1987:5).

Kendi menjadi salah satu jenis komoditas standar ekspor buatan China sejak masa perdagangan Asia Timur. Kendi diperkirakan digunakan secara eksklusif di Indonesia dan hanya dibawa ke Eropa sebagai milik pribadi. Fakta bahwa kendi sering muncul dalam lukisan-lukisan Belanda abad-17 menunjukkan popularitasnya pada masa itu sebagai objek eksotis dari Timur (Orient) (Adhyatman, 1979:16). Perdagangan dan hubungan Jepang dengan kepulauan Indonesia pada awal abad-17 sangat sedikit dan terbatas pada Kalimantan utara, Sulawesi utara, dan Maluku utara. Selama masa itu Indonesia telah menjalin hubungan dagang dengan Cina, Vietnam, dan Thailand yang merupakan pusat penghasil keramik utama. Hubungan perdagangan intensif pertama dengan Jepang pada tahun 1602 diprakarsai oleh Perusahaan India Timur Belanda atau Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang memonopoli dalam perdagangan Asia Tenggara (Adhyatman, 1979:5).

Khususnya di Indonesia, kendi memiliki nama yang berbeda di setiap daerah atau budaya. Di Jawa disebut dengan kendi, kundi, gundi, atau kamandalu (Wibisono, 2000:16). Di pulau Lombok disebut ceret atau cerubuk (McKinnon, 1996:42). Di Tapanuli, Sumatera Utara, dikenal dengan labotaneh, yang berarti labu yang terbuat dari tanah liat. Di negeri Batak, disebut kandi, di Bali kundi atau caratan, dan di Pulau Sumba dikenal dengan puak. Di

Sulawesi Selatan disebut busu, di Aceh disebut geupet bahlaboh dan di Lampung dikenal dengan hibu (Adhyatman, 1979:16). Dalam bahasa Indonesia lebih digunakan istilah kendi. Oleh karenanya dalam tulisan ini digunakan istilah kendi, sedangkan istilah kundika digunakan untuk menggambarkan karakteristik bentuk.

Penggunaan istilah "earthenware" dalam tulisan ini mengacu pada benda gerabah tradisional Indonesia, termasuk kendi, yang terbuat dari tanah liat bakaran rendah dengan kualitas tanpa glasir. Dalam keramik modern, gerabah adalah kata lain dari keramik konvensional dengan beberapa klasifikasi misalnya gerabah kasar, keras, halus, atau lunak, termasuk juga jenis porselen. Dalam konteks ini, klasifikasi jenis gerabah didasarkan pada jenis tanah/clay body, bukan pada glasir, dan perbedaan utama adalah suhu bakar masing-masing jenis tanah. Earthenware adalah benda dari tanah liat dengan suhu bakar rendah (kisaran suhu 800-1050oC), yang kedua adalah jenis tanah liat atau stoneware dengan suhu bakar menengah (suhu 1050-1250 oC), dan yang ketiga adalah benda dari porselen atau tanah liat dengan suhu bakaran tinggi (suhu 1280- 1300 oC) (Hamer, 1975).

Earthenware adalah jenis gerabah paling awal yang dibuat oleh umat manusia. Biasanya tanpa glasir dan warnanya sangat bervariasi dari nuansa abu-abu hingga oranye kemerahan agak mengkilap. Teksturnya kasar, berpori dan rentan pecah. Para antropolog mengklasifikasikan objek gerabah pra-modern Indonesia sebagai earthenware. Beberapa literatur juga menyebutkan dengan istilah "terakota" dengan karakteristik warna kemerahan. Terakota/terracotta berasal dari bahasa Italia, terra berarti bumi/tanah dan cotta berarti dipanggang. Bukti

arkeologis menunjukkan bahwa bendabenda gerabah Indonesia dari periode prasejarah sampai akhir periode klasik terbuat dari earthenware tanpa glasir (Hardiati, 2000:21).

Penggunaan glasir telah dikenal dan dikembangkan di Indonesia sejak masa kolonial yang digunakan untuk menghasilkan tiruan keramik Cina dan Eropa untuk perdagangan internasional. Semua keramik berglasir yang ditemukan dari zaman sejarah (periode Klasik Indonesia) di beberapa situs kuno di Indonesia adalah benda yang diimpor dari beberapa negara termasuk Cina, Korea, Jepang, Thailand,

Vietnam, dan Myanmar (Hardiati, 2000:21). Khususnya pada benda yang digunakan untuk alat ritual, penggunaan gerabah tanpa glasir terkait dengan konsep simbolik spiritual. Oleh karena itu, hingga hari ini, meskipun teknologi glasir telah berkembang, gerabah ritual masih dibuat dari tanpa glasir.

Benda gerabah Indonesia dikelompokkan ke dalam kelompok vessel dan non-vessel. Sementara itu, berdasarkan fungsinya menjadi utilitarian dan ceremonial (Gambar 2 a, b.). Menurut pembagian tersebut merupakan wadah multifungsi baik untuk penggunaan sehari-hari atau untuk alat ritual.

Gambar 1 a.Bentuk Kundika, Jawa Tengah, Abad ke- 8. (sumber: Sullivan, 1957: 15) b.Bentuk Kendi Majapahit, Abad ke-14. (sumber: Damais, 2012)

9

Gambar 2 a. Klasifikasi Clay Products b. Fungsi Earthenware (sumber: Soegondho, 2003: 79)

Di Indonesia, kendi telah digunakan sebagai wadah utilitarian dan ritualistik. Sebagai objek utilitarian, kendi telah digunakan sebagai wadah air minum. Patut dicatat bahwa budaya Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tidak mengenal bentuk cangkir sebagai alat minum. Untuk fungsi minum, kendi digunakan dengan menuangkan air langsung ke mulut pengguna melalui corot tanpa menyentuh ujung corot (Gambar 3). Metode ini memungkinkan kendi untuk dibagikan ke banyak orang secara higienis tanpa menggunakan cangkir. Sementara itu, penggunaan kendi sebagai alat ritual sangat beragam. Indonesia terdiri dari banyak kelompok etnis dengan tradisi dan budaya yang berbeda. Kendi memiliki fungsi dan makna ritual yang berbeda di antara kelompok etnis yang berbeda. Peran kendi dalam tradisi ritual sejak periode Neolitik

berkembang secara signifikan ketika budaya Hindu-Budha memasuki Indonesia, yang dikenal sebagai periode Klasik Indonesia (sekitar tahun 400-1500 M). Keberadaan produk budaya seperti kendi pada periode klasik berkembang sejalan dengan konsep kosmologi yang dikembangkan oleh pengaruh agama Hindu dan Budha.

Penggunaan kendi sebagai alat ritual terus berkembang seiring dengan perkembangan budaya Islam di Indonesia pada akhir periode klasik dan awal periode Islam Indonesia (1500-1900 M). Pengaruh Islam telah mengubah aspek ritual kendi, seperti bentuk, makna simbolik, dan juga praktik ritualnya. Masuknya budaya modern pada fase berikutnya menyebabkan penggunaan kendi secara bertahap menghilang dari kehidupan sehari-hari Indonesia. Tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga di ruang domestik penggunaan kendi mulai digantikan oleh produk-produk modern, seperti cangkir, botol, atau wadah air minum lainnya. Saat ini, hanya sedikit orang di Indonesia yang menggunakan kendi dalam upacara ritual, sementara yang lain sebagian besar digunakan sebagai ornamen interior.

Bentuk

Bentuk-bentuk wadah terus berevolusi dengan cara yang sama seperti benda-benda lain, yang mengarah pada munculnya berbagai bentuk di setiap kategori, atau bahkan menghasilkan varian baru. Dalam morfologi keramik, kategorisasi jenis bentuk wadah dapat dilihat dari struktur hubungan berdasarkan variasi primer (the primary variation) dan struktur hubungan (the structure of relation). Variasi primer dapat dilihat dari kecenderungan arah bentuk yang mendominasi bentuk keseluruhan, misalnya pada kelompok bentuk bulatan (globular shape). Sedangkan struktur hubungan adalah sejenis hubungan tipologis antara objek-objek wadah. Struktur hubungan ini adalah salah satu faktor utama dalam estetika keramik yang merupakan konsekuensi alamiah dari keterkaitan antara tangan, bahan, dan fungsi yang dimaksudkan, yang tercermin dari tranformasi bentuk secara teknik pembentukannya (Rawson, 1984:2).

Gambar 4 adalah gambaran struktur bentuk gerabah yang diklasifikasikan berdasarkan morfologi. Di sini, kategorisasi bentuk ditelusuri dari metode teknik pembentukan dimulai dengan menganalisis bentuk-bentuk dari bentuk primal (primal form). Bentuk primal adalah berasal dari gumpalan tanah liat dengan lubang di bagian tengah yang dipijat (pinched out) ke arah luar hingga menjadi bentuk wadah tertentu. Bentuk primal ini berkembang menjadi tiga sub-bentuk dasar yaitu jar, cylinder, dan basin. Pada gambar tersebut tidak

terdapat visualisasi bentuk kendi yang akurat, namun dapat dikembangkan seperti logical lines dari bentuk primal. Bentuk dasar kendi umumnya berbentuk bundar (bagian perut/belly) yang ditambahkan bentuk silinder (bagian leher/neck) di atas yang berfungsi sebagai handle. Dalam hal ini, pertanyaan utama adalah bagaimana bentuk itu dibuat. Secara teknis, bagian perut dan leher sama-sama dikonstruksi dengan menarik (pulling up) dan membuka (opening out), dan kedua bagian tersebut (perut dan leher kendi) umumnya dibuat secara terpisah yang kemudian dirakit.

Klasifikasi bentuk wadah, sebagaimana klasifikasi bentuk jar terkadang menemui masalah dalam perkembangan variasinya. Ukuran absolut atau kriteria volume digunakan untuk membedakan banyak kategori wadah. Berdasarkan terminologi bentuknya, jar adalah wadah berleher (yang karenanya dibatasi) dengan ukuran tingginya lebih besar dari diameter maksimumnya (Rice, 87:216). Klasifikasi ini didasarkan pada prinsip mengklasifikasikan bentuk wadah berdasarkan rasio tinggi terhadap diameter. Ada juga jar dengan diameter sekitar 70% dari ketinggian, yang bisa digolongkan sebagai vas atau jar dengan leher sempit, disebut flagon. Klasifikasi keramik yang digunakan dalam periode sejarah bercabang menjadi flatware seperti piring dan hollowware (yang bersifat menampung isinya). Sementara jar digolongkan ke dalam kelompok storage atau transfer vessel.

Bentuk kendi dapat digolongkan dalam sub-pembagian jar, dengan spesifikasi bagian corotnya terlihat di sebagian besar kendi. Dalam Gambar 4 Area garis merah adalah kelompok terdekat dari bentuk kendi.

Bentuk wadah biasanya terdiri dari beberapa bagian dasar atau komponen yang membangun struktur

bentuk keseluruhan. Cara masing-masing bagian ini saling terkait satu sama lain, proporsi ukurannya, dan skalanya yang terkait dengan manusia dan tangannya, merupakan elemen utama dalam ceramic expression. Maka digunakan istilah antropomorfik (anthropomorphic) untuk menunjuk bagian-bagian yang berbeda dari pot, yang dalam beberapa pengertian terlihat sebagai analogi simbolik dari tubuh manusia (Rawson, 1984:100). Istilah antropomorfik dalam konteks ini adalah istilah yang menempatkan manusia sebagai subjek. Bagian-bagian dari bentuk wadah seperti mulut, bibir, leher, perut, kaki, atau bahu menggambarkan bagaimana manusia memposisikan wadah sebagai representasi tubuh manusia. Bukan hanya dalam hal objek untuk ritual (elite pottery) yang berperan sebagai kegiatan simbolik, tetapi juga dalam objek domestik yang berkaitan dengan peran wanita (Rawson, 1984:101). Ada juga beberapa tradisi yang sama sekali tidak terkait dengan masalah domestik, tetapi lebih menunjukkan peran simbolis lainnya.

Bentuk wadah dapat diidentifikasi dengan menjelaskan bagian-bagian tertentu dan proporsinya (anatomy of form). Dalam perspektif antropologi atau arkeologi (Gambar 5a), sedikitnya wadah memiliki tiga komponen penting anatomi yaitu orifice, body, dan base (Rice, 87:212). Sementara dalam perspektif estetika (Gambar 5b), wadah biasanya terdiri dari bagian bibir atau mulut (lip/mouth), leher (neck), bahu (shoulder), perut (belly), dan kaki (foot). Selain itu, beberapa bentuk tertentu juga memiliki bagian kepala (head), tenggorokan (throat), corot (spout), pegangan (handle), atau pinggang (waist), yang dapat disebutkan dalam istilah yang lebih spesifik.

Gambar 3 Metode menuang air dari kendi (sumber: Adhyatman, 1987)

Gambar 4 Morphological relationship bentuk keramik (sumber: Rawson, 1984: 94-95)

Bagian orifice atau mouth juga disebut dengan lip. Salah satu karakteristik terpentingnya adalah kaitannya dengan diameter maksimum wadah. Jika sama dengan atau lebih besar dari diameter maksimum disebut sebagai unrestricted orifice. Jika kurang dari diameter maksimum, itu disebut restricted orifice. Bagian-bagian tersebut tergantung pada jenis klasifikasi flatwatre atau hollowware. Namun, tidak semua wadah memiliki kontur sederhana, sering kali bentuknya rumit dengan bentuk melengkung atau bersudut, terutama di bagian orifice. Terkadang orifice juga dapat dinaikkan dan diperluas hingga bagian leher atau kerah (collar), yang mempengaruhi proporsi kapal. Leher adalah bagian batas dari bagian bukaan (orifice) (Rice, 87:212). Ini adalah adaptasi khusus restricted orifice untuk wadah cairan atau untuk fungsi storage/ transfer tertentu (Rice, 87:241).

Bagian perut (belly) dapat didefinisikan sebagai bagian antara bagian lubang atas dan bagian alas yang mencakup diameter maksimum atau wilayah volume tertutup terbesar. Terkadang titik diameter maksimum saja bisa disebut bagian bahu (shoulder) (Rice, 87:212).

Sedangkan bagian kaki (foot)

adalah bagian bawah dari bentuk wadah. Bagian ini sangat penting dan umumnya berbentuk datar untuk stabilitas ketika dalam penggunaan apa pun. Namun beberapa penggunaan tertentu dapat saja memiliki bentuk lain yang tidak stabil (Rice, 87:213).

Ketiga komponen primer wadah (orifice, body, dan base) dapat dideskripsikan berdasarkan posisi atau modifikasi bentuknya. Jika modifikasi tidak mengubah bentuk atau proporsi primernya, mereka dapat dianggap sebagai variasi bentuk sekunder. Bagian anatomi sekunder bentuk wadah terdiri dari tiga jenis: kaki (foot) diterapkan hingga ke base; handle diterapkan pada body, leher (neck), kerah (collar); dan corot (spout) diterapkan ke orifice, leher (neck), kerah (collar) atau body (Rice, 87:214). Corot (spout) terdiri dari dua jenis, yaitu tipe terbuka (open type) seperti jar dan tipe tertutup (closed tubular type) seperti yang digunakan pada teko (Hamer, 1975:281).

Pembagian anatomi wadah di atas juga dapat diterapkan pada bentuk kendi. Secara umum bentuk kendi memiliki dua fitur. Pertama adalah kendi bercorot, dan kedua adalah kendi tanpa corot (biasanya disebut kendi botol) (Gambar 6 a, b). Bagian anatomi kendi adalah sebagai berikut:

10

a. Mulut (lip/mouth)

Bagian ini digunakan sebagai lubang untuk mengisi atau menuangkan air (seperti jenis kundika). Ini memiliki berbagai macam bentuk. Pada beberapa kendi, bagian ini lebih kecil dari bagian leher, atau terkadang lebih lebar dengan topi. Diameter mulut kendi sebagian besar disesuaikan dengan fungsinya untuk menuangkan air, seperti pada jenis kundika yang menjadi lebih sempit di ujung mulut atau bibir.

b. Leher (neck).

Salah satu fungsi utama dari bagian leher kendi adalah sebagai pegangan untuk mengangkat atau memindahkan kendi saat menuangkan air. Leher kendi yang sempit berguna untuk mencegah air tumpah saat dibawa dan untuk mengendalikan penuangan. Khusus untuk kendi tanpa tanpa corot (bottle kendi), leher berperan sebagai corot sekaligus juga berfungsi sebagai corong untuk mengisi air. Ada juga banyak variasi bentuk leher, seperti leher polos memanjang, leher bergelang, leher cembung atau ditambahkan bentuk khusus di ujung bawah atau ujung atas bagian leher.

c. Corot (spout).

Khusus untuk kendi prasejarah Indonesia, tidak memiliki corot (kendi botol), seperti yang ditemukan pada kendi prasejarah dari Sumatra, Sulawesi, dan Melolo (Pulau Sumba). Pada kendi botol, bagian mulut berfungsi sebagai gerbang untuk mengisi dan juga menuangkan air. Selain mulut dan leher, corot juga merupakan bagian penting dari kendi. Bentuk corot digunakan sebagai representasi makna simbolik. Untuk kendi profan

(penggunaan sehari-hari), bentuk corot biasanya berbentuk tabung memanjang. Mereka tidak berubah karena pertimbangan fungsinya. Namun, bentuk corot pada kendi ritual sangat berbeda.

d. Perut (belly/body)

Ini adalah bagian yang memiliki rasio volume terbesar dari proporsi keseluruhan kendi. Bagian ini berfungsi sebagai wadah penampung air. Secara umum bentuknya globular dengan variasi yang relative sedikit.

e. Kaki (foot/base).

Bagian ini adalah alas kendi. Secara umum, bagian ini disambung rata ke bagian bawah perut. Desain kaki yang agak berbeda yaitu berupa dudukan annular tinggi yang ditambahkan di bagian bawah. Seperti pada kendi maling (salah satu kendi simbolik yang ada di Lombok dan Jawa Timur), kaki berfungsi sebagai lubang pengisian air. Ini adalah tabung berbentuk kerucut yang dimasukkan ke bagian perut, dengan ketinggian sekitar setengah dari ketinggian perut.

Bagian penting bentuk kendi adalah mulut, leher, dan corot. Bagianbagian ini diubah dan dikembangkan sangat beragam. Bentuk corot dari beberapa kendi khusus memiliki arti penting terkait dengan fungsinya dalam kegiatan ritual. Misalnya pada bentuk corot susu (union or mammary spout), salah satu jenis corot pada kendi Jawa yang telah dikenal sejak abad ke-14, adalah simbol kesuburan, regenerasi, dan benih kehidupan. Bagian corot juga terkait dengan proses transfer. Wadah air seperti kendi atau teko adalah tempat sementara air sebelum dipindahkan ke wadah lain yang lebih kecil seperti

cangkir/cup. Namun pada kasus kendi, proses transfer tidak dilakukan ke wadah lain, tetapi langsung ditransfer ke mulut pengguna. Airnya dituangkan langsung dari kendi ke makam dalam ritual pemakaman. Ini juga terkait dengan tradisi Indonesia, yang tidak menggunakan cangkir minum seperti dalam budaya Jepang, Cina, Korea, atau dalam budaya barat. Penggunaan cangkir modern sebagai alat minum di Indonesia merupakan pengaruh kebudayaan asing.

Gambar 7 menggambarkan evolusi perubahan bentuk kendi di

Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Varian bentuk kendi diklasifikasikan berdasarkan kronologis waktu sejak periode prasejarah hingga abad ke-20. Ciri khas yang penting juga dari bentuk kendi adalah bahwa ia tidak memiliki pegangan seperti teko atau jug. Dilihat dari fungsi dan bentuknya, secara umum, kendi memiliki kesamaan dengan teko sebagai wadah untuk menyimpan dan menuangkan cairan. Perbedaan pentingnya adalah bagian leher sebagai pegangan/handle. Bagian ini menjadi hal penting untuk klasifikasi kendi.

OTHER COUNTRIESINDONESIA
Historic
2000BC -8thC
India STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY STORY ST4444Prehistoric
2000BC - 4thC
8thC - 10thCChina00000
00000
00000
00000
00000
00000
0000
8thC - 10thC
10thC - 14thCChina China855010thC - 14thC

Gambar 7 Evolusi bentuk kendi (sumber: penulis)

Gambar 7 Evolusi bentuk kendi (sumber: penulis)

Gambar 7 Evolusi bentuk kendi (sumber: penulis)

Gambar 7 Evolusi bentuk kendi (sumber: penulis)

Fungsi dan Nilai Tradisi

Semua gerabah memiliki beberapa fungsi atau utilitas; istilah utilitarian dan fungsional biasanya digunakan sebagai ungkapan kontras dengan peran elite, seremonial, nonutilitarian, display, atau gerabah dengan tujuan khusus (Rice, 87:210). Dari kata "kendi" yang berarti wadah air, dapat secara eksplisit dinyatakan bahwa penggunaan benda kendi terkait dengan aktivitasnya sebagai wadah untuk menampung air atau sesuatu yang berbentuk cair. Hal ini mengarahkan analisis pada beberapa fungsi dan peran kendi dalam masyarakat pembuat dan penggunanya sejak awal kemunculan objek ini di Indonesia dan sebagian Asia.

Fungsi utama kendi adalah sebagai wadah minum di mana air tetap dingin sepanjang hari karena porositas tanah liat. Airnya dituangkan dari kendi langsung ke mulut (Adhyatman, 1987:19). Kendi digunakan oleh sebagian besar orang dalam aktivitas sehari-hari sebagai

wadah air minum. Jenis air yang disimpan biasanya air biasa, mengingat Indonesia tidak memiliki budaya teh atau kopi. Di Jawa, kendi yang berisi air minum sering terlihat di depan rumah-rumah yang diperuntukkan bagi orang lain yang lewat atau musafir untuk mengurangi rasa haus mereka. Ini mengekspresikan keramahan masyarakat di Jawa (Adhyatman, 1987:19). Di Lombok, kendi disebut ceret, yang digunakan sebagai wadah sehari-hari untuk air minum serta untuk melayani tamu dalam jamuan penting dan juga sebagai wadah upacara air suci, perwujudan simbolis dari daya/kekuatan hidup. Orang Lombok memperlakukan kendi dengan hormat sesuai dengan peran sakralnya. Bahkan di dapur kendi disimpan di tempat yang lebih tinggi dari kepala sebagai bagian tubuh yang paling suci. Tidak ada yang diizinkan melangkahi kendi yang diletakkan di lantai saat makan. Mereka juga yakin kendi sebagai media pengusir roh jahat yang membawa malapetaka

(McKinnon, 1996:42). Mekanisme yang tidak melibatkan kontak langsung dengan mulut memungkinkan kendi untuk digunakan sebagai sarana sosialisasi. Pada periode Hindu kendi berfungsi untuk tujuan praktis untuk menghubungkan orang-orang dari semua kasta dan tingkatan.

Fungsi lainnya adalah sebagai wadah cairan obat atau ramuan ajaib untuk menyembuhkan suatu penyakit (Adhyatman, 1987:19). Beberapa kendi di pulau Jawa yang berfungsi sebagai wadah untuk cairan obat memiliki tutup dengan pin panjang yang berfungsi sebagai sumbat untuk mencegah tutupnya jatuh atau cairan tumpah saat digunakan oleh orang sakit yang berbaring di tempat tidur. Dalam bentuk binatang, kendi masih digunakan hingga saat ini di Kalimantan untuk upacara persembahan dan upacara penyembuhan (Harrison, 1995:53). Bentuk lain yang digunakan sebagai botol obat adalah kendi dengan lubang di mulut yang berbentuk bawang. Jenis ini masih digunakan di Bali untuk menuangkan air melalui hidung untuk menyembuhkan sakit kepala (Adhyatman, 1987:19).

Selain berfungsi sebagai benda domestik, banyak jenis kendi berfungsi sebagai sarana ritual dan upacara keagamaan tertentu. Meskipun informasi tertulis tentang sejarah kendi sangat sulit ditemui, fakta arkeologis menunjukkan bahwa penggunaan utama gerabah di Asia Tenggara adalah untuk kebutuhan utilitarian dan ritualistik para penduduk lokal. Pot yang dibuat untuk tujuan penguburan adalah di antara kegunaan paling awal. Pemakaman prasejarah mengungkap banyak gerabah peninggalan dalam konteks ini. Bersamaan dengan itu gerabah juga berfungsi sebagai wadah untuk penyimpanan dan memasak makanan dan cairan. Penggunaan gerabah juga

digambarkan dalam ukiran batu di kuil-kuil di Borobudur (Indonesia) dan Angkor (Kamboja), berasal dari abad kesembilan dan kedua belas. Penggalian situs makam di Indonesia dan Filipina mengungkapkan bahwa gerabah digunakan sebagai burial wares antara abad keempat belas dan keenam belas (Rooney, 1987:22-23). Kendi prasejarah di Indonesia digunakan sebagai bekal kubur, seperti yang ditemukan di Tebingtinggi, di Palembang (Sumatra), dan di Melolo, Sumba Timur (Nusa Tenggara Barat) (Adhyatman, 1987:66)..

Kendi juga digunakan sebagai wadah air suci (Wahyudi, 2012:218). Dalam kepercayaan Budha kendi digunakan oleh petapa Brahmanis sebagai wadah air untuk minum dan juga untuk wudhu pribadi, tetapi tidak untuk persembahan kepada manes, dewa, atau api (Coomaraswamy, 128). Relief di Borobudur, Mendut, dan candi Brahma menunjukkan bahwa kendi digunakan sebagai sarana upacara. Terkait dengan kendi ceremonial ini, ada yang berleher, tidak berleher, berukir (bersudut), dan jenis kendi yang berbahu. Jenis bentuk leher didominasi oleh leher dengan bentuk "payung" (Catra) di bagian atasnya (Wahyudi, 2012:107). Kendi yang digunakan untuk upacara sebagian besar memiliki catra dengan lubang leher yang sangat kecil. Dalam hal ini, pengisian air dilakukan dengan menenggelamkan kendi ke dalam air, oleh karena itu, cara yang tidak nyaman ini seyogianya digunakan secara khusus untuk alat upacara (Wahyudi, 2012:163). Kendi digunakan sebagai sarana dalam upacara pendirian bangunan suci. Kuil adalah bangunan suci, "tempat tinggal" para dewa. Lokasi di mana bangunan suci didirikan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam tulisan suci (Dalam sumber-sumber India ada tulisan suci yang berkaitan dengan prosedur untuk membangun bangunan suci atau kuil yaitu tulisan suci Manasara, Mayamata, dan Silpaprakasa). Upacara pendirian bangunan suci terdiri dari tiga tahap; Pertama, upacara "pembibitan" (pengkudusan tanah bangunan suci yang disebut "ankurarpana"). Kedua, penempatan batu bata atau upacara peletakan batu pertama (pembuatan fondasi bangunan, di Bali disebut "nasarin". Dan yang ketiga adalah upacara penempatan "peripih". (Upacara "menghidupkan" membangun sebuah kuil di Bali yang disebut "ngenteg linggih"). Kendi digunakan sebagai salah satu alat pelengkap dalam upacara penempatan "peripih" (Wahyudi, 2012:191).

Pada abad keenam belas, banyak kendi digunakan sebagai wadah air oleh umat Islam dalam ziarah dan dalam festival keagamaan (Harrison, 1995:31). Dalam acara-acara seremonial yang diadakan untuk merayakan acaraacara keagamaan, orang-orang Lombok menggunakan kendi untuk menyediakan air bagi para pejabat agama dan untuk menghormati para tamu. Dalam upacaraupacara tradisional yang berhubungan dengan penanaman padi, air itu digunakan oleh para sesepuh agama untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah ritual makan dan kemudian dibawa ke sawah dengan kendi. Sebagai bagian dari upacara di sawah, air tersebut dituangkan ke saluran irigasi sehingga memungkinkan energi manfaatnya menyebar ke seluruh sudut sawah (McKinnon, 1996:42).

Fungsi lain yang masih digunakan sampai sekarang sebagai alat upacara ritual yaitu sebagai sarana pelantikan/induksi, sarana simbol magis dalam tarian tradisional, alat minum atau mainan untuk anak-anak di Jawa (kendi miniatur), alat magis untuk menangkal roh jahat (kendi maling), alat magis untuk menenangkan roh ketika pindah ke rumah baru (kendi corot ganda), simbol kesuburan (kendi pratolo), dan saat ini terutama sebagai dekorasi rumah (Adhyatman, 1987:23).

SIMPULAN

Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting antara lain:

  • Fakta tentang definisi kendi nusantara.
  • Klasifikasi bentuk kendi nusantara yang diurai berdasarkan hubungan morfologi akar bentuknya, anatomi struktur pembangun bentuknya, serta varian bentuk kendi secara kronologis waktunya.
  • Fakta tentang fungsi dan nilai tradisi yang berkembang hingga saat ini.

Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai salah satu usaha nyata kegiatan analisis artefak tradisi Indonesia khususnya dan artefak tradisi luar yang memiliki hubungan yang menarik, serta sabagai salah satu bentuk pendokumentasian data-data tentang artefak tradisi Nusantara.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Adhyatman, Sumarah., David Rehfuse, and Hitoshi Shindo. (1979). Japanese Porcelain from the Seventeenth Century Found in Indonesia. Jakarta: The Ceramic Society of Indonesia.

Adhyatman, Sumarah. (1987). Kendi. Jakarta: Jayakarta Agung Offset.

Damais, Soedarmadji Jean Henry. (2012). Majapahit Terracotta: the Soedarmadji Jean Henry

Damais Collection. Jakarta: BAB Publishing Indonesia.

  • Hamer, Frank. (1975). The Potter's Dictionary of Materials and Techniques. London: Pitman Publishing.
  • Hardiati, Endang Sri. 2000. Terakota dari Situs-Situs Masa Klasik di Indonesia. In 3000 Tahun Terakota Indonesia: Jejak Tanah dan Api (pp.19-33). Jakarta: Museum Nasional Indonesia.
  • Harrison, Barbara. 1995. Later Ceramics in South-East Asia, Sixteenth to Twentieth Centuries.
  • New York: Oxford University Press.
  • McKinnon, Jean. 1996. Vessels of Life: Lombok Earthenware. Bali: Saritaksu Bali.
  • Miksic, John N. (Ed.). (2003). Earthenware in Southeast Asia: Proceedings of the Singapore Symposium on Premodern Southeast Asian Earthenwares. Singapore: Singapore University Press.
  • Rawson, Philip.(1984). Ceramics. Philadelphia: The University of Pennsylvania Press.
  • Rice, Prudence M. (1987). Pottery Analysis a Sourcebook. Chicago: University of Chicago Press, Ltd.
  • Rooney, Dawn F. (1987). Images of Asia: Folk Pottery in South-East Asia. Singapore: Oxford University Press Pte. Ltd.
  • Soegondho, Santoso. (2003). Prehistoric Earthenware of Indonesia. In John Miksic (Ed.).
  • Earthenware in Southeast Asia (pp. 69- 79). Singapore: Singapore University Press.
  • Wahyudi, Wanny Rahardjo. (2012). Tembikar Upacara di Candi-candi Jawa Tengah Abad ke-8—10. Jakarta: Penerbit Wedatama Widya Sastra.
  • Wibisono, Sonny C. (2000). Terakota Masa Klasik. In 3000 Tahun Trakota Indonesia: Jejak

Tanah dan Api (pp.12-18). Jakarta: Museum Nasional Indonesia.

Jurnal :

  • Coomaraswamy, Ananda K. and Francis Stewart Kershaw. (1928). A Chinese Buddhist Water Vessel and Its Indian Prototype. Artibus Asiae Vol. 3. No. 2/3 (1928 - 1929). pp. 122-141. Artibus Asiae Publishers. Retrieved from: http://www.jstor. org/stable/3247852/
  • Sullivan, Michael. 1957. Kendi. Archives of the Chinese Art Society of America. Vol. 11. pp. 40-58. University of Hawai'i Press. Retrieved from: http://www.jstor. org/ stable/20066991/

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

6
Citations
8.87
FWCIfield-weighted
97th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20241
20232
20223

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.46
level 1
Art 0.41
level 0

Institution Network