1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2020) Issue 3
  4. Articles

Pemanfaatan Limbah Plastik Berjenis Polypropylen Sisa Pembungkus Laundry Menjadi Produk Bernilai Guna Dengan Metode Fabrikasi Dan Pemanasan

Abstract

ABSTRAK Musikal teater Laskar Pelangi merupakan suatu karya seni yang tidak saja berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga tatanan dan tuntunan. Musikal Laskar Pelangi telah dimainkan dibeberapa tempat dan mendapat apresiasi. Teater musikal merupakan gabungan dari banyak unsur seni di dalamnya seperti seni drama, seni rancang panggung, seni tari, suara, musik Peranan naskah cerita yang baik, harus didukung dengan rancang panggung yang menarik. Tulisan ini berfokus pada permasalahan dalam rancang panggung dalam hal berkaitan dengan visual estetik panggung. Pembacaan visual estetik panggung ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil studi kasus musikal Laskar Pelangi. Penelitian akan dianalisa dengan menggunakan pendekatan semiotika. Teori yang digunakan adalah teori kode lima dari Roland Barthes yang terdiri dari: Hermeneutik, Proeuretik, Semantik, Simbolik dan Kebudayaan. Tujuan penelitian untuk melakukan pembacaan detail rancang panggung, yang terbukti memiliki kemiripan dengan unsur-unsur pembentuk dalam sebuah teater yaitu tema, alur, penokohan dan setting. ABSTRACT Laskar Pelangi Musical theatre is a work of art that is not only functions as an entertainment, but also to give moral learned and guidance. Laskar Pelangi musical has been played in several places and received many appreciation. Musical theater is a combination of art elements such as drama, stage design art, dance, sound, music, etc. The part of good script, must be supported by an attractive stage design. This research focuses on problems in stage designing area, especially aesthetic visuals efect. The aesthetic visual design stage, will using qualitative methods, and Laskar Pelangi musical as the case study. This research analyzed using the semiotic approach. The theory is the five code theory from Roland Barthes which consists of: Hermeneutic, Proeuretic, Semantic, Symbolic and Cultural. The purpose of the research is to read the stage design details, which are proven to have similarities with the forming elements in a theater, namely theme, plot, characterization and setting. kata kunci: Kode, Semiotika, Roland Barthes, Rancang Panggung,

Keywords

PENDAHULUAN

Telkom University adalah perguruan tinggi Swasta yang berlokasi di Jalan Telekomunikasi - Terusan Buahbatu, kawasan Bandung Technoplex (BT-Plex), Kabupaten Bandung. Telkom University merupakan kampus dengan jumlah mahasiswa terbesar di wilayah Kabupaten

Bandung. Pada Tahun ajaran 2016/2017 terdaftar sebanyak 28.409 mahasiswa berstatus aktif di Telkom University (data diambil dari i-GRACIAS, portal akademik yang dimiliki Universitas Telkom). Mayoritas mahasiswa Telkom University menggunakan jasa laundry. M a t e r i a l y a n g d i g u n a k a n o l e h pengusaha laundry untuk membungkus

pakaian yang telah dibersihkan adalah plastik berjenis polypropylene. Bila 28.409 jiwa mahasiswa Telkom University menggunakan laundry sedikitnya seminggu sekali, setiap minggu terdapat sekitar 28.409 buah sampah plastik dihasilkan di wilayah Telkom University. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Bank Sampah Bersinar (BSB) Bandung di Jalan Terusan Bojongsoang, pada tanggal 6 Juni 2017, jumlah sampah plastik jenis PP yang sedang ada dalam penampungan ada sekitar 222,8 kg.

Di satu sisi plastik memiliki dampak positif bagi kehidupan manusia karena memiliki keunggulankeunggulan dibandingkan material lain di antaranya kuat, ringan, fleksibel, tahan karat, tidak mudah pecah, mudah diberi warna, mudah dibentuk, serta isolator panas dan listrik yang baik (Surono & Ismanto, 2016). Namun di sisi lain, sampah plastik menghasilkan dampak negatif yang signifikan dalam pencemaran lingkungan karena plastik merupakan bahan yang sulit terdegradasi. Jika ditimbun dalam penimbunan akhir, plastik akan memberikan masalah antara lain (1) sampah plastik akan menempati bagian yang seharusnya dapat digunakan oleh sampah lainnya, (2) karena ringan, dengan tanah penutup akhir yang tidak baik, plastik cenderung terangkat ke permukaan dan mengotori lingkungan sekitar, dan (3) jika terjadi kebakaran, plastik menimbulkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Sementara itu, jika tercecer di badan air, plastik cenderung menyumbat aliran (Sahwan, dkk, 2005).

Upaya penanganan masalah sampah plastik telah dilakukan. Salah satu langkah yang paling populer adalah 3R (reuse, reduce, recycle) (Surono & Ismanto, 2016). Reuse

berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru. Namun, terdapat kendala dalam upaya mendaur ulang sampah dalam skala individu maupun industri rumahan, di antaranya keterbatasan fasilitas pengolahan sampah dan kemampuan pengolahan yang kurang baik sehingga memengaruhi kualitas produk daur ulang menjadi kurang menarik (Alrashid & Kahdar, 2013).

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti dapat menarik beberapa identifikasi masalah, yaitu banyaknya jumlah sampah plastik di wilayah Telkom University yang dihasilkan dari kegiatan laundry mahasiswa. Karakteristik yang terdapat pada plastik bekas pembungkus pakaian laundry belum dimanfaatkan agar dapat dijadikan produk dengan nilai guna, nilai estetika, dan nilai jual. Peneliti bermaksud untuk mengolah sampah plastik berjenis polypropylene menjadi produk yang dapat dipergunakan kembali sebagai pengganti kemasan laundry sekali pakai. Pengolahan ini dilakukan dengan alat dan material pendukung yang mudah dijangkau sehingga dapat diaplikasikan oleh individu maupun industri rumahan.

Plastik akan diolah dengan menggunakan teknik pemanasan karena plastik tersebut mudah dibentuk dalam keadaan panas serta dapat menghasilkan tekstur baru. Eksplorasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode fabrikasi dengan teknik pemanasan dan akan dibagi ke dalam beberapa tahapan yaitu, eksplorasi awal, eksplorasi lanjutan, dan eksplorasi terpilih. Eksplorasi awal merupakan eksplorasi dengan cara pemanasan yang dibagi ke dalam beberapa teknik yaitu pembakaran, penyetrikaan, pemasakan, dan pemanasan menggunakan hairdryer dan heat gun. Eksplorasi lanjutan merupakan terusan dari eksplorasi awal dengan memilih beberapa hasil percobaan yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi produk.

METODE

Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode eksperimental dengan pendekatan teknik desain tekstil. Desain tekstil adalah rancangan motif atau corak pada kain yang dilakukan dengan cara merancang struktur kain maupun pada permukaan kain dengan teknik titik, garis, bidang, dan warna. Secara garis besar, desain tekstil dibagi atas dua teknik, yaitu desain struktur (structure design) dan desain permukaan (surface design) (Moeliono et al. 2015).

a. Desain struktur (structure design)

Desain struktur adalah langkah membuat desain pada kain dengan melakukan perancangan pada struktur kain tersebut sehingga menghasilkan tekstil polos atau tekstil bercorak (Nawab, Hamdani, and Shaker 2017). Beberapa teknik yang termasuk ke dalam desain struktur adalah tapestry, macrame, felting, crochet, dan knitting.

b. Desain permukaan (surface design)

Desain permukaan merupakan desain yang dirancang untuk memperkaya corak permukaan kain (Mei and Hendrawan 2018). Teknik yang termasuk ke dalam desain

permukaan adalah sulam, batik, printing, bordir, dan lain-lain. Pada penelitian ini, teknik yang digunakan merupakan teknik hot textile. Permukaan material dipanaskan dengan menggunakan berbagai peralatan yang dapat menghasilkan panas seperti setrika, solder, hair dryer, dan heat gun. Teknik ini digunakan karena plastik bening jenis PP akan lebih mudah dibentuk dalam keadaan panas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah plastik PP (Polypropylene) atau plastik #5 yang kerap digunakan sebagai pembungkus pakaian laundry dengan ketebalan 0,3 mm dan 0,6 mm. Plastik PP (Polypropylene) adalah polimer termoplastik yang terbuat dari kombinasi monomer propilena. Plastik PP pertama kali dipolimerisasi pada 1951 oleh Paul Hogan dan Robert Banks yang kemudian disempurnakan pada 1954 oleh Natta dan Rehn, ilmuwan asal Italia. Pada 1957, plastik PP diproduksi untuk komersial dan meluas di seluruh Eropa (Al-Ali AlMa'adeed & Krupa, 2016). Sampai saat ini, plastik jenis PP merupakan salah satu plastik yang paling banyak diproduksi di dunia.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, karakteristik Plastik PP (Polypropylene) memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan material ini di antaranya dapat dipanaskan hingga titik leleh (130oC), didinginkan, dan dipanaskan kembali tanpa degradasi yang signifikan (dapat didaur ulang), dapat beradaptasi dengan berbagai teknik fabrikasi, harga relatif murah, daya lentur tinggi, permukaan relatif licin, tahan terhadap kelembaban, memiliki ketahanan yang baik terhadap berbagai macam asam dan basa, memiliki kekuatan benturan yang baik, serta bisa dipergunakan sebagai solator listrik yang baik. Kekurangan PP antara lain, memiliki koefisien ekspansi termal tinggi yang membatasi aplikasi suhu tinggi, rentan terhadap degradasi UV, memiliki ketahanan yang buruk terhadap pelarut terklorinasi dan aromatik, sulit digambari karena memiliki sifat ikatan yang buruk, mudah terbakar, dan rentan terhadap oksidasi.

Dalam perancangan produk akhir, peneliti memutuskan untuk merancang dan membuat produk fungsional berupa tas laundry. Ada beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam memutuskan untuk memilih produk ini sebagai produk akhir yang akan dirancang, yaitu sebagai berikut.

1. Berdasarkan karakteristik bahan baku/ ekplorasi

Dalam proses eksplorasi, peneliti menggunakan salah satu teknik fabrikasi yaitu pemanasan untuk mengeksplorasi kualitas tekstur pada permukaan tekstil. Dalam buku Hot Textiles: Inspiration and Techniques with Heat Tools karangan Thittichai, pada 2007, teknik ini sangat bergantung pada kombinasi material yang digunakan serta jumlah panas yang diterima oleh material. sehingga warna yang dihasilkan melalui proses ini kurang dapat dieksplorasi secara luas. Berdasarkan eksplorasi dengan cara menumpuk beberapa lembar plastik bening jenis PP (Porypropylene), dihasilkan karakteristik bahan kuat, kaku, dan semitransparan.

2. Berdasarkan segi fungsional

Produk akhir yang dihasilkan berfungsi untuk menjadi solusi masalah yang dihadapi mahasiswa terkait

dalam menemukan media penampung pakaian yang memadai dan tidak menghambat gerak mahasiswa.

3. Berdasarkan segi perawatan (maintenance)

Karena salah satu karakteristik material setelah proses eksplorasi adalah kaku, produk yang dihasilkan haruslah produk dengan perawatan yang tidak sulit. Selain itu, salah satu karakteristik plastik adalah tidak menyerap air sehingga produk tidak perlu dicuci. Produk yang dihasilkan akan lebih mudah dirawat.

4. Berdasarkan segi estetika

Sebuah karya seni kriya umumnya merupakan karya yang unik karena pembuatannya mengandalkan kerajinan tangan dan tidak memakai mesin sehingga hasil akhir pengolahan material akan selalu baru dan berbeda. Dalam pembuatan material, dibutuhkan ide dan gagasan yang luas sehingga menghasilkan material yang kaya akan inovasi. Hasil eksplorasi tersebut dapat dijadikan sebagai daya tarik produk. Material utama dipadukan dengan material pendukung yang tidak menutupi kekayaan tekstur yang terdapat pada material utama. Dengan demikian, tercipta sebuah produk yang harmonis.

5. Berdasarkan segi keamanan dan kenyamanan

Berdasarkan karakteristik bahan utama/ hasil eksplorasi, produk fashion yang cocok untuk diaplikasikan adalah tas. Hal tersebut dilakukan karena dari segi kenyamanan dan keamanan, produk tas tidak langsung mengenai kulit ketika digunakan sehingga dapat meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Perancangan produk pada penelitian ini akan berpegang pada tahapan yang telah dilakukan yaitu penyusunan moodboard¸lifestyle board, dan target market. Konsep perancangan pada penelitian ini adalah pembuatan laundry bag dengan tema "Smart Movement". Hal ini yang terinspirasi dari komitmen Telkom University untuk menciptakan lingkungan kampus yang hijau dan berwawasan lingkungan, serta terciptanya budaya yang berorientasi pada lingkungan yang hijau dan perilaku ramah lingkungan. Dengan diangkatnya tema ini, diharapkan sivitas akademika khususnya mahasiswa Telkom University semakin sadar bahwa sudah saatnya menggunakan produk fungsional bukan produk sekali pakai. Jumlah sampah plastik yang berasal dari laundry dapat dikurangi dan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan sekitar khususnya lingkungan Telkom University dapat ditingkatkan. Melalui langkah ini, Telkom University juga turut serta membantu pemerintah daerah dalam mengurangi jumlah sampah yang ada.

Eksplorasi pada perancangan ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu eksplorasi awal, eksplorasi lanjutan, dan eksplorasi akhir. Teknik yang digunakan pada eksplorasi ini terdiri atas pembakaran dengan menggunakan lilin dan lighter; pemasakan dengan cara direbus dan digoreng; serta pemanasan dengan menggunakan hair dryer, heat gun, setrika, dan solder. Hasil eksplorasi awal terurai dalam tabel I.

Pada eksplorasi awal, dilakukan pemanasan pada plastik PP ukuran 0,3mm dengan enam cara. Keenam cara tersebut adalah digoreng, direbus, dipanaskan dengan pengering rambut (hair dryer), heat gun, setrika, serta dibakar menggunakan lighter dan lilin. Dari keenam cara tersebut tidak semuanya menghasilkan efek yang signifikan, Eksplorasi nomor dua hingga enam atau pada proses pemanasan dengan cara direbus tidak menghasilkan efek apa pun sehingga hasil tidak disertakan pada tabel. Selain itu, eksplorasi nomor sebelas atau pada pemanasan dengan setrika suhu rendah selama tiga menit juga tidak menghasilkan efek apa pun sehingga data tidak disertakan pada tabel.

Pada eksplorasi lanjutan, teknik yang digunakan merupakan p e n g g a b u n g a n a n t a r a t e k n i k pembakaran dan pemanasan dengan menambahkan aplikasi foil dan flocking.

TABEL I EKSPLORASI AWAL

No.EksplorasiTeknikAlat dan BahanKeterangan
1.Pemanasan
dengan di
goreng
1.
2.
3.
Plastik bening
PP ukuran 0.3
mm
Penggorengan
Minyak
goreng
Plastik dimasukkan perlahan-la
han ke dalam minyak goreng
yang telah dipanaskan
Hasil:
1.
Plastik langsung
meleleh saat terkena
minyak
2.
Bagian plastik yang
terkena minyak meng
hasilkan gumpalan yang
keras

dengan heat gun

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Heat gun
  • 3. Double tape

Plastik bening dipotong persegi panjang kemudian dianyam dan dipanaskan dengan menggunakan heat gun pada suhu nomor satu selama satu menit.

Hasil:

  • 1. Plastik menempel satu dengan yang lain dan menjadi keras
  • 2. Muncul efek kerutan

dengan heat gun

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Heat gun
  • 3. Double tape

Plastik bening dipotong persegi panjang dengan ukuran 1 sampai 1,5cm dan disusun menumpuk secara acak. Pemanasan dengan menggunakan heat gun pada suhu nomor 2 selama 30 detik.

Hasil:

  • 1. Plastik menempel satu dengan yang lain dan menjadi keras
  • 2. Muncul efek kerutan yang signifikan pada bagian plastik yang ter kena panas cukup lama

dengan setri ka

mm

1. Plastik bening PP ukuran 0.3

  • 2. Setrika
  • 3. Kertas

Plastik bening dipotong persegi kemudian disusun secara acak dengan beberapa bagian masih menempel satu dengan yang lain. Proses penyetrikaan dilakukan sela ma 3 menit dengan menggu nakan suhu silk .

Hasil:

  • 1. Plastik menempel tetapi kurang kuat dan mudah lepas
  • 2. Muncul sedikit efek kerutan pada plastik

terkena panas maksi

berlubang 4. Plastik menjadi keras.

mal lebih lama menjadi

-

5Pemanasan
dengan setri
-
ka
1.
2.
Plastik bening
PP ukuran 0.3
mm
Setrika
Plastik dilapisi menjadi dua
bagian kemudian disetrika
menggunakan suhu cotton
selama 3 menit.
Hasil:
3.Kertas1.
Plastik menempel tetapi
kurang kuat
2.
Muncul garis-garis
kerutan
3.
Sebagian plastik yang
terkena panas lebih
lama menghasilkan efek
warna putih transparan
(penyetrikaan meng
-
gunakan alas kertas
berwarna putih)
4.
Plastik dapat berlubang
bila terkena panas lama
5.
Plastik menjadi agak
keras
6Pemanasan
dengan setri
-
ka
1.
2.
3.
Plastik bening
PP ukuran 0.3
mm
Setrika
Kertas
Plastik dilapisi menjadi em
-
pat
bagian
dan
disetrika
menggunakan suhu wol sela
-
ma 30 detik
Hasil:
1.
Plastik menempel kuat
2.
Muncul garis-garis kerutan
dan bercak-bercak putih
pada plastik
3.
Plastik menjadi lebih
keras.
7Pemanasan
dengan setri
-
ka
1.
2.
3.
4.
Plastik bening
PP ukuran 0.3
mm
Plastik putih
jenis LDPE
Setrika
Kertas
Plastik kresek diselipkan
di antara 4 lembar plastik
bening kemudian disetrika
menggunakan suhu panas
linen selama 30 detik.
Hasil:
1.
Plastik menempel sangat
kuat
2.
Muncul efek lelehan
pada bagian plastik
yang sedikit lebih lama
terkena panas
3.
Bagian plastik yang

dengan dibakar

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Lighter
  • 3. Glitter berwarna merah metalik

Plastik bening dilipat menjadi 4 bagian kemudian disisipkan sedikit glitter pada bagian tengah. Setelah itu plastik dibakar menggunakan lighter dengan gerakan cepat. Jarak api langsung mengenai plastik.

Hasil:

  • 1. Terdapat efek kerutan dan lubang pada bagian plastik yang terkena panas
  • 2. Bagian tepi lubang mengeras dan menimbulkan warna kehitaman.

dengan dibakar

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Lilin

Plastik bening dilipat menjadi 4 bagian kemudian dibakar dengan menggunakan lilin dengan jarak api dan lilin langsung mengenai permukaan plastik.

TABEL II EKPLORASI LANJUTAN

NoHasil EksplorasiTeknikAlat dan BahanPenjelasan
1Bakar
setrika.
dan1.
Plastik bening
PP
ukuran
0.3mm
2.
Lighter
3.
Setrika
4.
Kertas
Plastik ditarik untuk meng
hasilkan efek garis ker
ut, dibakar menggunakan
lighter, kemudian dibakar
menggunakan setrika den
gansuhu panas wol selama
2 menit.
Analisis hasil:
1.
Muncul
efek
kehita
man terutrama pada ba
gian plastik yang telah
ditarik.
2.
Terdapat lubang pada
plastik
yang
terkena
api lebih lama.
3.
Hasil
penyetrikaan
plastik
menempel
di
beberapa bagian.
2
3
Bakar
dan
setrika.
Setrika dan
foil
Plastik bening
1.
PP
ukuran
0.3 mm
Lighter
2.
Setrika
3.
Kertas
4.
1.
Plastik bening
PP
ukuran
0.6mm
2.
Foil
warna
rainbow me
talik
Plastik
disetrika
meng
-
gunakan suhu panas wol
hingga menempel lalu di
-
bakar menggunakan lighter.
Analisis hasil:
Muncul efek lubang dan
kehitaman pada plastik.
Plastik
disetrika
meng
-
gunakan suhu panas wol
hingga
menempel,
lalu
permukaan plastik diberi
lem tembak agar foil dapat
direkatkan
pada
plastik,
3.
Setrika
4.
Lem tembak
5.
Kertas
lalu disetrika kembali.
Analisis hasil:
Muncul efek kerutan pada
plastik dan foil
4Setrika.1.
Plastik bening
PP
ukuran
0.3 mm
2.
Glitter warna
merah meta
-
lik
3.
Setrika
4.
Kertas
Glitter
ditaburkan
pada
dua sisi permukaan plastik
kemudian plastik disetrika
menggunakan suhu panas
wol hingga merekat. Pada
beberapa
bagian
plastik
penyetrikaan diatur dengan
waktu yang lebih lama.
Analisis hasil:
1.Muncul
efek
kerutan
pada plastik.
2.Bagian plastik yang ter
-
kena panas lebih lama
berlubang dan menim
-
bulkan efek lelehan serta
warna putih- transparan.
5Setrika.1.
Plastik
bening
PP ukuran 0.6
mm
2.
Plastik
hi
-
tam tips jenis
LDPE
3.
Setrika
4.
Kertas
Plastik
kresek
dipotong
menjadi
ukuran
kecil
kemudian diaplikasikan di
antara 2 lembar plastik be
-
ning, lalu disetrika meng
-
gunakan suku panas wol.
Analisis hasil:
1.
Muncul efek kerutan
pada plastik
2.
Plastik
kresek
hitam
menjadi meleleh dan
menyatu dengan plas
-
tik bening.
3.
Timbul
efek
lelehan
serta
warna
putih
transparan pada bagian
yang
terkena
setrika
lebih lama.
6Setrika dan
flocking
1.
Plastik
bening
PP ukuran 0.6
mm
2.
Flock
warna
magenta meta
lik
3.
Setrika
4.
Lem tembak
5.
Kertas
Plastik
disetrika
meng
-
gunakan suhu panas wol
hingga merekat lalu be
-
berapa bagian plastik di
-
aplikasikan
lem
tembak
dan ditempel flock
Analisis hasil:
1.
Muncul efek kerutan
pada plastik.
2.
Flock menempel pada
plastik.
7Setrika.1.
Plastik
bening
PP ukuran 0.3
mm
2.
Glitter warna
merah metalik
3.
Setrika
4.Cat
akrilik
warna emas
5.
Kertas
Glitter dan cat akrilik
diaplikasikan pada bagian
tengah plastik secara acak
kemudian disetrika meng
-
gunakan suhu panas wol
hingga menempel.
Analisis hasil:
1.
Muncul efek kerutan
pada plastik.
2.
Tidak ada efek yang
ditimbulkan
pada
pengaplikasian
cat
dan glitter.
8Setrika dan
solder
1.
Plastik
ben
-
ing PP ukuran
0.6mm
2.
Setrika
3.
Solder
4.
Kertas
Plastik
disetrika
meng
-
gunakan suhu panas wol
hingga merekat kemudian
dilubangi
dengan
solder
secara acak.
Analisis hasil:
1. Muncul efek kerutan
pada plastik.
2. Muncul efek warna ke
-
putihan pada plastik.
3. Bagian tepi plastik yang
terkena
solder
menjadi
keras.

9 Setrika dan solder. 1. Plastik bening PP ukuran 0.6

mm

  • 2. Setrika
  • 3. Solder
  • 4. Kertas
  • 5. Glitter

Glitter dan cat akrilik di aplikasikan pada bagian tengah plastik secara acak kemudian disetrika meng gunakan suhu panas wol hingga menempel. Plastik kemudian disolder secara acak.

Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Beberapa bagian plas tik yang terkena panas lebih lama berubah menjadi putih-trans paran.
  • 3. Plastik menjadi keras.

dan solder.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Solder
  • 4. Foil warna sil ver
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik disetrika hingga merekat satu sama lain kemudian diaplikasikan lem tembak dengan arah membentuk sebuah ruang diantara foil. Plastik kemudian disetrika agar foil menempel lalu disol der hingga berlubang. Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Plastik menjadi keras.

flocking , dan solder.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Solder
  • 4. Flock warna magenta
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik disetrika hingga merekat satu sama lain, kemudian lem tembak diaplikasikan pada per mukaannya membentuk sebuah ruang di antara flock. Plastik kemudian disetrika agar flock dapat menempel dengan baik. Setelah itu plastik disol der di bagian tengahnya hingga berlubang. Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Plastik menadi keras.
  • 3. Bagian plastik yang terkena panas lebih lama berubah menjadi putih-transparan.

dan bakar.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Lighter
  • 4. Foil warna hi jau metalik
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik disetrika hingga merekat satu sama lain kemudian lem tembak diaplikasikan pada per mukaannya secara acak. Setelah menempel pada plastik, foil dibakar meng gunakan lighter.

  • Analisis hasil:
  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Bagian plastik yang terkena panas lebih lama muncul efek lelehan.
  • 3. Bagian foil yang terkena panas timbul lelehan.
  • 4. Terdapat efek lubang pada plastik akibat pembakaran menggu nakan lighter .
  • 5. Plastik menjadi keras.

13 Setrika dan bakar.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Lighter
  • 4. Cat akrilik warna emas
  • 5. Kertas

Cat akrilik diaplikasikan di antara plastik kemudian disetrika hingga merekat satu sama lain menggu nakan suhu panas wol, lalu dibakar menggunakan lighter hingga muncul efek lubang.

  • 1. Muncul efek kerutan dan tarikan pada plas tik.
  • 2. Tekstur plastik menja di bergelombang
  • 3. Plastik menjadi keras.

14 Setrika dan bakar. 1. Plastik bening PP ukuran 0.6

mm

  • 2. Setrika
  • 3. Lighter
  • 4. Glitter
  • 5. Kertas

Glitter diaplikasikan di antara plastik kemudian disetrika hingga merekat menggunakan suhu panas wol. Setelah itu, plastik dibakar menggunakan lighter hingga muncul efek lubang. Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan dan tarikan pada plas tik.
  • 2. Tekstur plastik menja di bergelombang
  • 3. Plastik menjadi keras.

dan bakar.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Lighter
  • 4. Glitter warna merah metalik
  • 5. Foil warna hi jau metalik.
  • 6. Lem tembak
  • 7. Kertas

Plastik disetrika satu sama lain hingga merekat kemudian lem tembak dan glitter diaplikasikan secara acak pada per mukaanya agar foil bisa menempel. Setelah itu, plastik dibakar menggu nakan glitter .

  • 1. muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Bagian plastik yang terkena panas berubah menjadi putih-trans paran.
  • 3. Bagian foil yang terkena panas menjadi berkerut.
  • 4. Terdapat efek lubang pada plastik akibat pembakarang menggu nakan lighter.
  • 5. Plastik menjadi keras.

dan bakar.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Lighter
  • 4. Flock warna magenta.
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik disetrika satu sama lain agar merekat kemudian lem tembak di aplikasikan secara acak pada permukaannya agar flock bisa menempel. Setelah itu plastik dibakar menggunakan lighter .

  • Analisis hasil:
  • 1. Muncul efek kerutan dan tarikan pada plas tik.
  • 2. Tekstur plastik menja di bergelombang.

3. Plastik menjadi keras.

dan bakar.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Lilin
  • 4. Foil warna hi jau metalik.
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik ditarik untuk menghasilkan efek garis kerut kemudian dibakar menggunakan lilin. Setelah itu , plastik disetrika menggunakan suhu panas wol selama 2 menit. Pada bagian plastik yang tidak menghitam karena pembakaran lilin diaplikasikan lem tembak untuk menempelkan foil . Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Foil dapat menem pel pada permukaan plastik yang tidak diaplikasikan lem tembak.
  • 3. Plastik menjadi keras.

foil, dan setrika.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Heat gun
  • 3. Setrika
  • 4. Foil war na rainbow metalik
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik dipotong meman jang dengan ukuran 1 - 1,5 cm, ditumpuk secara acak kemudian dipanaskan menggunakan heat gun. Setelah itu, lem tembak diaplikasikan pada bagian permukaan plastik untuk menempelkan foil dengan cara disetrika.

  • 1. Potongan plastik me nempel dengan baik satu sama lain.
  • 2. Terdapat efek kerutan pada plastik.

foil, dan se trika.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 2. Heat gun
  • 3. Setrika
  • 4. Foil warna hi jau metalik
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik dipotong me manjang dengan ukuran 1 - 1,5cm, ditumpuk secara acak kemudian dipanaskan menggunakan heat gun. Setelah itu lem tembak diaplikasikan pada bagian permukaan plastik untuk menempelkan foil dengan cara disetrika. Hasil eksperimen tersebut lalu digabungkan dengan plastik hasil pemanasan setrika menggunakan lem tembak.

  • 1. Pemanasan menggu nakan setrika meng hasilkan perubahan warna plastik menjadi putih-transparan.
  • 2. Kualitas perekatan dua material hasil eks perimen kurang baik.
  • 3. Muncul efek kerutan pada plastik.

kar, dan foil .

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Plastik pu tih tipis jenis LDPE
  • 3. Setrika
  • 4. Lighter
  • 5. Foil warna pe runggu
  • 6. Lem tembak
  • 7. Kertas

Plastik LDPE diselipkan di atara 2 lembar plastik bening menggunakan setrika suhu panas linen. Lama waktu pemanasan dilakukan secara acak di beberapa bagian. Setelah itu lem tembak diaplikasikan secara acak lalu foil disetrika di atasnya agar menempel. Plastik kemudian dibakar menggunakan lighter untuk menghasilkan efek lubang.

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Plastik jenis LDPE meleleh akibat panas setrika sehingga menimbulkan efek pecah/retak pada hasil eksperimen.
  • 3. Bagian foil terdapat efek kerutan akibat panas setrika.
  • 4. Permukaan plastik menjadi bertekstur kasar.
  • 5. Plastik menjadi keras.

der, foil, dan flocking .

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 3. Setrika
  • 4. Lighter
  • 5. Foil warna pe runggu
  • 6. Flock warna hijau lumut
  • 7. Lem tembak
  • 8. Kertas

Plastik bening 0.6 mm disetrika dengan suhu panas linen selama 5 detik untuk menghasilkan efek putih-transparan. Pada permukaan plastik 0.3 mm diaplikasikan lem tembak secara acak untuk menempel kan foil. Permukaan lemba ran plastik 0.3 mm lain di solder untuk menghasilkan efek lubang. Kedua lembar plastik 0.3 mm yang telah diolah tersebut direkat kan dengan cara disetrika, lalu disambungkan dengan plastik 0.6 mm yang telah diolah menggunakan lem tembak berflock dengan arah zigzag seperti efek bordir.

Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Konstruksi material olahan relatif rapuh

kar, dan foil .

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 3. Setrika
  • 4. Lilin
  • 5. Lighter
  • 6. Foil warna pe runggu
  • 7. Lem tembak
  • 8. Kertas

Plastik bening 0.3 mm di tarik untuk menghasilkan efek garis kerut kemudian dibakar menggunakan lilin lalu diselipkan di antara 2 lembar plastik bening 0.6 mm, dan direkatkan den gan cara disetrika meng gunakan suhu panas wol selama 2 menit. Pada per mukaan plastik lem tem bak diaplikasikan secara acak untuk menempelkan foil dan dibakar menggunakan lighter untuk menimbul kan efek lubang.

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Panas setrika meng hasilkan efek kerut pada foil .
  • 3. Plastik menjadi keras.

foil . 1. Plastik bening PP ukuran 0.6

mm

2. Plastik putih jenis LDPE

  • 3. Setrika
  • 4. Foil warna emas
  • 5. Lem tembak
  • 6. Kertas

Plastik LDPE diselipkan di antara 2 lembar kertas be ning 0.6 mm lalu direkat kan dengan cara disetrika. Pada bagian tengah plastik, penyetrikaan dilakukan lebih lama agar plastik berlubang.

Pada lembaran plastik be ning lainnya diaplikasikan lem tembak secara acak lalu ditempelkan foil.

Kedua lembar plastik terse but digabungkan dengan lem tembak lalu disetrika. Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Pada plastik LDPE pu tih timbul efek lelehan dan ujung plastik yang berlubang menjadi lebih keras dibanding kan bagian lainnya.
  • 3. Pada bagian yang ber foil timbul efek keru tan yang diakibatkan oleh panas setrika.
  • 4. Plastik menjadi keras.

kar, foil, dan flocking .

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Plastik bening PP ukuran 0.3 mm
  • 3. Setrika
  • 4. Flock warna magenta
  • 5. Foil warna perak
  • 6. Lem tembak
  • 7. Kertas

Plastik bening 0.3 mm di tarik untuk menghasilkan efek garis kerut kemudian dibakar menggunakan li lin setelah itu, plastik 0,3 mm diselipkan di antara 2 lembar plastik 0.6mm dan digabungkan dengan cara disetrika pada suhu panas wol selama 2 menit. Selanjutnya, pada permu kaan plastik lem tembak diaplikasikan dengan ben tuk titik-titk kemudian di tempelkan foil di atasnya. Setelah foil mengering, lem tembak kembali di aplikasikan di atasnya un tuk menempelkan foil.

Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Plastik-plastik yang di gabungkan menempel dengan baik.
  • 3. Plastik menjadi keras.

25 Setrika, foil, flocking , solder, dan heat gun .

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Plastik putih jenis LDPE
  • 3. Setrika
  • 4. Flock warna hijau lumut
  • 5. Foil warna emas
  • 6. Lem tembak
  • 7. Solder
  • 8. Kertas

Plastik bening 0.6 mm disetrika lalu lem tem bak diaplikasikan meme bentuk garis saling silang dan dilubangi pada bagian tengahnya menggunakan solder. Kelompok plastik bening selanjutnya dipo tong memanjang dengan ukuran 1-1.5cm lalu dis usun secara acak tumpang tindih, dipanaskan meng gunakan heat gun agar menempel dan menjadi 1 lembar material.

Kedua lembar materi al tersebut digabungkan menggunakan lem tembak lalu disetrika.

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Flock yang menempel pada material memu dar ketika terkena heat gun .

kar, dan foil.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Plastik putih jenis LDPE
  • 3. Setrika
  • 4. Foil warna perunggu
  • 5. Lem tembak
  • 6. Lilin
  • 7. kertas

Plastik putih LDPE diselipkan di antara 2 lembar plastik bening 0.6mm lalu disetrika. Setelah itu lembaran plastik dibakar dengan lilin untuk menghasilkan efek lubang. Pada bagian plastik bening yang tidak bertumpuk dengan plastik putih LDPE diaplikasikan lem tembak dan foil.

Analisis hasil:

  • 1. Muncul efek kerutan pada plastik.
  • 2. Permukaan plastik menjadi bergelombang.
  • 3. Plastik menjadi keras.

flocking , dan solder.

  • 1. Plastik bening PP ukuran 0.6 mm
  • 2. Setrika
  • 3. Flock warna magenta
  • 4. Lem tembak
  • 5. Kain jaring warna perak
  • 6. Solder

Kain jaring diselipkan di antara 2 lembar plastik bening lalu disetrika. Pada permukaan plastik diaplikasikan lem tembak dengan bentuk organik dan dilubangi bagian tengahnya mengunakan solder.

Analisis hasil:

Kedua plastik yang direkatkan menempel dengan baik sehingga mengasilkan material solid tetapi tetap memiliki sifat plastis.

Eksplorasi terpilih merupakan eksplorasi dengan menggabungkan beberapa teknik yang sesuai sehingga karakter yang terdapat pada plastik dapat dimanfaatkan secara maksimal.

TABEL V EKSPLORASI TERPILIH

No.EksplorasiTeknikAlat dan
Bahan
Keterangan
1Pemanasan
dengan
cara
d i s e t r i k a ,
penyolderan.
Plastik
1.
bening PP uku
ran 0,6mm
2.
Plastik
hitam tipis jenis
LDPE
3.
Foil
warna emas
4.
Lem
tembak
5.
Setrika
Solder
6.
7.
Kertas
Plastik kresek hitam disisip
kan di antara plastik bening
lalu disetrika hingga melekat
satu dengan lainnya. Plastik
tersebut kemudian dilubangi
dengan menggunakan solder
pada beberapa bagian kemu
dian disetrika disatukan dengan
plastik bening lainnya. Pada
bagian plastik bening yang
terlihat di antara lubang, di
aplikasikan lem tembak dan
foil kemudian disetrika kem
bali.
Hasil:
1.
Muncul
efek
kerutan
pada plastik dan pecahan
pada plastik kresek war
na hitam
2.
Permukaan plastik men
jadi tidak rata
3.
Plastik
menjadi
keras
dan kuat
2Heat gun dan
foil
1.
Plastik bening
PP
ukuran
0,6 mm
2.
Heat gun
3.
Lem tembak
Foil berwar
4.
na perak
Plastik bening dipotong me
manjang dengan besaran 1
hingga
1,5
cm
kemudian
disusun secara acak dan di
panaskan menggunakan heat
gun hingga plastik tersebut
menempel satu dengan yang
lain. Setelah itu pada tepi
plastik yang berongga lem
tembak dan foil diaplikasikan.
Hasil:
1. Plastik menempel dengan
sangat kuat
2. Plastik menjadi keras
3. Muncul efek kerutan.

Dari kedua eksplorasi yang telah dilakukan, terdapat dua hasil terbaik yang dapat diterapkan pada produk akhir. ekplorasi tersebut berhasil diuji pada tahapan eksplorasi ketiga atau tahapan terpilih. Kedua eksplorasi tersebut adalah eksplorasi nomor 1, yaitu pemanasan dengan setrika dan penyolderan dengan disisipkan foil serta eksplorasi nomor 2 yaitu pemanasan menggunakan heat gun dan disisipi foil.

Dengan mengaplikasikan material hasil eksplorasi terpilih (eksplorasi no.1 dan no.2), dibuatlah rancangan tas cuci berikut ini.

Gambar 1 Sketsa Desain 1 (sumber: dokumentasi pribadi, 2017)

5

Gambar 2 Sketsa Desain 2 (sumber: dokumentasi pribadi, 2017)

Gambar 3 Sketsa Desain 3 (sumber: dokumentasi pribadi, 2017)

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

  • 1. Plastik bening jenis PP (Polypropylene) dapat diolah dengan teknik dan alat yang mudah ditemukan di sekitar seperti setrika dan heat gun sehingga pengolahan plastik dapat dilakukan oleh masyarakat luas, tidak hanya kalangan tertentu.
  • 2. Pencampuran plastik bening PP dengan plastik hitam tipis jenis LDPE menghasilkan perpaduan yang menarik secara estetika karena kerutan yang dihasilkan melalui pemanasan pada plastik PP memiliki kesamaan karakter dengan retakan yang dihasilkan melalui pemanasan pada plastik kresek. Pencampuran media antara plastik PP dengan foil

  • juga menghasilkan karakter mengilat yang dijadikan ciri khas dari material hasil uji eksplorasi pada penelitian ini.
  • 3. Selain efek estetik, perpaduan plastik bening PP dengan plastik hitam tipis jenis LDPE serta foil dengan metode pemanasan (setrika, solder, dan heat gun) menghasilkan material yang kuat sehingga dapat menahan beban hingga enam kilogram ketika diaplikasikan menjadi tas cuci.
  • 4. Sampah plastik dapat diubah menjadi sebuah produk yang memiliki nilai fungsi sehingga mengubah nilai produk dari sampah menjadi sebuah benda kriya berupa tas cuci.

Hasil eksplorasi dengan perebusan, pembakaran langsung dengan api, dan penggorengan menghasilkan limbah baru yaitu limbah sisa air, gas, dan sisa

minyak yang digunakan pada proses tersebut. Teknik ini tidak dianjurkan untuk digunakan.

Untuk melengkapi hasil perancangan, peneliti memberikan beberapa masukan di antaranya sebagai berikut.

  • 1. Melalui penelitian ini, Progam Studi Kriya Tekstil dan Mode dapat memberikan pelatihan kepada mahasiswa untuk menciptakan sendiri produk pelengkap kebutuhan sehari-hari sesuai dengan komitmen Telkom University sebagai Green Campus.
  • 2. Melalui penelitian ini, Telkom University dapat bekerja sama dengan Bank Sampah Bersinar untuk membuka program pelatihan bagi masyarakat sekitar terkait penelitian yang telah dilakukan. Hal tersebut dapat dilakukan mengingat alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan alat dan bahan yang mudah ditemukan.
  • 3. Perlu diadakan penelitian lanjutan mengenai dampak negatif yang dihasilkan lewat proses eksplorasi yang menggunakan metode fabrikasi dengan teknik pemanasan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Ali AlMa'adeed, Mariam, and Igor Krupa, eds. 2016. Polyolefin Compounds and Materials. Cham: Springer International Publishing. http://link.springer. com/10.1007/978-3-319-25982- 6 (June 30, 2019).
  • Mei, Alvin, and Aldi Hendrawan. 2018. "Pengolahan Teknik Surface Textile Design Dengan Inspirasi Struktur Hiv Pada Busana Demi Couture." Jurnal Atrat: 211–18.

Moeliono, Moekarto, Ferry Guswandhi,

Rizal Fahruroji, and Yusniar Siregar. 2015. "Pengembangan Ragam Desain Struktur Pada Kain Sandang Tradisional Dengan Menggunakan Mesin Tenun Jacquard Elektronik." Arena Tekstil 30(1).

  • Nawab, Yasir, Talha Hamdani, and Khubab Shaker. 2017. Structural Textile Design : Interlacing and Interlooping.
  • Sahwan, Firman L, Djoko Heru Martono, Sri Wahyono, and Lies A Wisoyodharmo. 2005. "Sistem Pengelolaan Limbah Plastik Di Indonesia." Jurnal Teknik Lingkungan P3TL BPPT 6(1): 311–18.
  • Sumarno, Untoro Budi, and Ismanto. 2016. "Jurnal Mekanika Dan Sistem Termal (JMST)." Pengolahan Sampah Plastik Jenis PP, PET dan PE Menjadi Bahan Bakar Minyak dan Karakteristiknya 1(1): 32–37.
  • Thittichai, Kim. 2007. Hot Textiles : Inspiration and Techniques with Heat Tools. Batsford. https://books.google.co.id/ books/about/Hot_Textiles. html?id=Kj1H74y0ysoC&redir_ esc=y (June 30, 2019).

WEBSITE

I-GRACIAS | Telkom University." https://igracias.telkomuniversity. ac.id/ (October 2, 2019).

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
2th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.45
level 0
Humanities 0.34
level 1
Biology 0.34
level 0

Institution Network