PENDAHULUAN
Penelitian ini membahas cara vlog kecantikan memproduksi pengalaman prostetis digital pada tubuh penonton. Video blog atau yang lazim disebut vlog merupakan blog yang menggunakan video sebagai medium utama. Blog merupakan singkatan dari weblog yang berasal dari kata web (jaringan internet) dan log (catatan). Secara garis besar, blog merupakan catatan harian dalam jaringan (daring) yang menampilkan pendapat personal melalui teks sebagai medium utama yang dapat dilengkapi dengan tautan, dokumen, gambar, audio, video, dan kolom komentar. Burgess dan Green (2009) memandang vlogging memiliki keterikatan dengan budaya webcam, blog pribadi, dan budaya pengakuan yang lebih luas.
Vlog kecantikan merupakan video rekaman yang diunggah beauty vlogger saluran situs web videonya yang berisi pengalaman personal dalam menggunakan produk kecantikan. Beauty vlogger dapat menggunakan berbagai platform di internet untuk membangun dan memublikasikan salurannya. Di Indonesia YouTube merupakan platform yang lebih banyak
digunakan untuk vlog kecantikan daripada platform lain seperti Instagram TV. Untuk kepentingan penelitian ini, penulis berusaha mendapatkan respons dari penonton beauty vlog di YouTube dengan menyebarkan kuesioner kepada seratus orang perempuan yang merupakan penonton vlog kecantikan pada acara Beautyfest Asia di Jakarta dari 29 hingga 31 Maret 2019. Hasil kuesioner menunjukkan vlog kecantikan dinilai berfungsi sebagai prostesis digital bagi penonton karena mampu membuat p e n o n t o n m e r a s a d e k a t d e n g a n produk kecantikan yang diulas. Lebih jauh lagi, vlog kecantikan menawarkan pengalaman bertubuh yang melampaui tubuh organik.
Istilah prostesis pada awalnya digunakan dalam bidang kedokteran yang memiliki arti alat buatan yang dapat menggantikan dan menjadi perpanjangan fungsi dari bagian tubuh manusia (misalnya kaki palsu, tangan palsu). Adams (2018) menjelaskan dalam ilmu humaniora dan sosial, prostesis didefinisikan sangat luas bahkan untuk merujuk pada mesin atau teknologi apa pun yang memodifikasi diri manusia dan memungkinkan perubahan cara bertubuh.
Pendapat Adams menunjukkan p r o s t e s i s b u k a n h a n y a m e r u j u k pada penyambungan tubuh manusia dengan tubuh buatan yang bersifat material melainkan juga melingkupi implan pikiran pada tubuh orang lain di dunia maya. Dalam kaitannya dengan cyborg, Richardson dan Locks (2014) menjelaskan implan pikiran memungkinkan penonton sebagai cyborg mengunduh pengalaman orang lain di dunia maya kemudian menanamkan pengalaman tersebut ke dalam pikiran mereka. Dalam konteks ini, penonton vlog kecantikan dapat mengalami sebuah prostesis dengan mengimplan
pengalaman beauty vlogger yang sedang mengulas produk kecantikan di dalam layar.
Melalui implan pengalaman, penonton dapat mencoba produk kecantikan yang jauh dari jangkauan tubuh organiknya dengan melakukan penyambungan tubuh dengan tubuh beauty vlogger untuk bersamasama mencoba produk kecantikan yang diulas melalui perantaraan layar pada gawai. Layar yang terhubung dengan jaringan internet memberikan kesempatan kepada penonton untuk mewujudkan perasaan sensoris yang belum atau tidak bisa diwujudkan dalam kehidupan offline atau luar jaringan (luring). Dengan menonton vlog kecantikan, penonton seolah mampu meraba, memegang, melihat, dan merasakan aroma produk kecantikan yang diulas.
Bagi penonton, beauty vlogger selalu memosisikan diri sebagai teman atau kakak perempuan yang memberikan nasihat dalam tips kecantikan dan saran bagi penontonnya. Dukungan semacam ini menciptakan kepercayaan dan loyalitas dalam basis penggemar mereka (Sokol, 2017). Kepercayaan dan loyalitas penonton terhadap sosok beauty vlogger menjadikan penonton dan beauty vlogger terikat secara emosi dalam ruang dan waktu layar. Di sisi lain, beauty vlogger selalu menggunakan kepribadiannya yang hangat, ramah, dan apa adanya untuk selalu terlibat dengan penontonnya, sehingga memungkinkan penonton untuk turut merasakan pengalaman yang dialami beauty vlogger di ruang maya.
Beauty vlogger pada dasarnya merupakan sosok wirausaha digital yang senantiasa berusaha mengembangkan karier melalui saluran kecantikannya. P e n g e m b a n g a n v l o g k e c a n t i k a n merupakan usaha dari beauty vlogger untuk selalu membaca dan mengikuti peluang pasar sehingga dapat meraup angka penonton dan pelanggan yang semakin banyak. Hal tersebut akan menambah pula pendapatan beauty vlogger dari Google AdSense melalui sistem kemitraan YouTube.
D a l a m k o n t e k s i n i , v l o g kecantikan telah menjadi komoditas dalam bidang teknologi internet yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berkiprah dalam teknologi internet, padahal secara umum teknologi internet didominasi oleh laki-laki. Brophy (2010) menjelaskan pengguna internet diasumsikan sebagai lakilaki, putih, kelas menengah, cakap berteknologi, dan menggunakan internet melalui situs buatan Amerika Serikat. Dalam hal beauty vlog perempuan nonkulit putih pun dapat berkiprah. Banet-Weiser (2017) berargumentasi bahwa vlog kecantikan dapat dijadikan kampanye kepercayaan diri dan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan digital yang mampu mendorong perempuan untuk menjadi subjek ekonomi yang lebih baik dalam konteks produksi dan konsumsi. Menurut survei ZAP Beauty Index 2018 yang dilakukan atas kerja sama ZAP Beauty Clinic dan MarkPlus sebagai perusahaan konsultan pemasaran terbesar di Indonesia, diperoleh data bahwa 73,2% konsumen produk kecantikan mencari informasi dan ulasan sebelum membeli produk kecantikan secara daring maupun luring. Vlog kecantikan menawarkan informasi dan ulasan produk kecantikan sehingga menjadi bagian dari lingkaran proses pemasaran dan konsumsi produk kecantikan.
Di tengah diversifikasi konten dalam vlog kecantikan, pada dasarnya s e m u a k o n t e n v l o g k e c a n t i k a n menjanjikan pengalaman prostesis
digital bagi penonton. Ada ekspektasi terhadap vlog kecantikan untuk mendemonstrasikan dan mengulas produk kecantikan yang ditampilkan secara visual. Sebagai demonstrasi, vlog kecantikan menawarkan penggambaran aroma, tekstur, kekentalan, warna, dan pigmentasi produk yang diadopsi sebagai hasil dari pengalaman personal beauty vlogger yang diperluas oleh prostesis digital. Isu mengenai prostetis digital pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari pembahasan cyborg (cybernetic organism) yang menjelaskan hubungan antara tubuh manusia dan mesin. Haraway mendefinisikan cyborg sebagai "hibrida mesin dan organisme makhluk realitas sosial serta makhluk fiksi" (1985: 65). Cyborg telah memecah batas biner antara pikiran dan tubuh, organisme dan teknologi, idealisme dan materialisme, diri dan liyan. Cyborg mengaburkan batas antara tubuh organik penonton dan tubuh baru penonton yang sudah larut dengan pengalaman prostetis digital. Jaringan tubuh penonton telah melebur bersama jaringan komputer dan jaringan internet untuk mendapatkan sensasi dalam mencoba produk kecantikan yang diulas oleh beauty vlogger di dalam layar.
Ott et al. (2002) berpendapat perangkat prostetis telah memetakan evolusi dari desain teknologi tubuh yang memengaruhi subjektivitas dan kebutuhan praktis manusia dalam isu ideologi tubuh ideal. Vlog kecantikan m e m b e r i k a n k e l e l u a s a a n b a g i penonton untuk dapat memilih dan menyambungkan tubuhnya dengan tubuh beauty vlogger yang dinilai ideal untuk mendapatkan sensasi dalam mencoba produk kecantikan yang diulas di dalam layar.
P r o s t e s i s m e l a l u i v l o g kecantikan pada dasarnya merupakan bentuk feminisasi pada isu prostesis karena prostesis lazimnya diidentikan dengan maskulinitas. Grant (2015) menjelaskan sebagian besar penelitian sosial humaniora tentang prostesis mempelajari penyesuaian fisik pasien amputasi yang didominasi laki-laki sehingga prostetis dianggap memisahkan teknohibriditas dari feminitas. Dalam konteks ini, prostetis digital melalui vlog kecantikan justru memberikan ruang bagi perempuan untuk dapat menyambungkan tubuhnya dengan beauty vlogger sebagai figur fantasi agar mendapatkan kepuasan dalam aktualisasi keinginannya mencoba produk kecantikan yang dianggap menarik yang belum dan tidak bisa dirasakan dalam kehidupan luring.
Lebih jauh lagi, penelitian sosial humaniora di Indonesia mengenai p r o s t e s i s d i g i t a l d a l a m k o n t e k s penggunaan media daring belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, perlu dirintis kajian tentang cara vlog kecantikan memproduksi pengalaman prostesis digital pada tubuh penonton mengingat teknologi internet telah menjadi bagian dominan dalam kehidupan masyarakat kontemporer baik di Indonesia maupun di dunia. Selain itu, kajian tentang peran teknologi internet dalam kebudayaan kontemporer perlu didudukkan dalam wacana yang lebih luas sehubungan dengan isu ras, kelas, dan gender, yang disebutkan Spivak (1994) sebagai tiga isu utama dalam kajian sosial humaniora dewasa ini. Secara spesifik penelitian ini menunjukkan (1) cara tubuh penonton mengartikan pengalaman prostesis digital melalui ulasan produk dan (2) cara penonton mengonsumsi tubuh beauty vlogger sebagai figur fantasi dalam kebudayaan kontemporer sebagai pengalaman prostesis digital.
METODE
K a j i a n i n i m e n g g u n a k a n pendekatan deskriptif dengan metode penelitian gabungan (mixed methods)
yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Sarwono (2013:2) m e n j e l a s k a n m e t o d e g a b u n g a n digunakan untuk riset yang dijalankan untuk memperoleh data kuantitatif dan kualitatif yang digunakan sebagai bukti empiris dalam menjawab rumusan masalah penelitian karena periset berpendapat hasil temuannya akan menjadi lebih baik, lengkap, dan komprehensif.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada seratus subjek penelitian yang merupakan penonton perempuan vlog kecantikan yang datang pada acara Beautyfest Asia. Beautyfest Asia ini merupakan festival kecantikan terbesar di Asia Tenggara yang menghadirkan ahli kecantikan, beauty vlogger, dan booth berbagai merek kecantikan. Beautyfest Asia tahun ini dilaksanakan di Ciputra Artpreneur dari 29 Maret 2019 hingga 31 Maret 2019.
Pada nomor terakhir kuesioner terdapat pertanyaan mengenai kesediaan subjek penelitian untuk diwawancarai. Para subjek penelitian yang menyatakan bersedia diwawancarai kemudian dihubungi tim peneliti untuk mengatur jadwal bertemu agar dapat melakukan wawancara daring untuk subjek penelitian di luar Bandung dan wawancara luring untuk subjek penelitian yang berada di daerah Bandung. Selanjutnya, dipilih lima orang subjek penelitian yang akan diwawancarai. Kriteria subjek penelitian yang akan diwawancarai adalah perempuan berusia antara 22 dan 26 tahun yang secara rutin menonton vlog kecantikan setiap hari dan merupakan pelanggan saluran YouTube beauty vlogger.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab hasil dan pembahasan ini berisi analisis terhadap hasil kuesioner yang disebar pada seratus penonton perempuan vlog kecantikan dan wawancara yang dilakukan pada lima penonton vlog kecantikan. Analisis data dilakukan dengan cara menginterpretasi hasil wawancara yang telah diperoleh melalui metode wawancara mendalam pada penonton. Setelah dianalisis, data diolah dan dielaborasi dengan teori cyborg (cybernetic organism) dari Haraway (1985) sebagaimana yang dijabarkan dalam esai seminarnya "A Cyborg Manifesto: Science, Technology, and Socialist Feminism in the Late Twentieth Century" untuk mengungkapkan produksi pengalaman prostetis digital bagi penonton vlog kecantikan. Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk deskripsi dengan uraian holistik yang dikemukakan dalam dua subbab. Pertama, dipaparkan cara tubuh beauty vlogger mengaktifkan pengalaman prostetis digital melalui ulasan produk. Kedua, dijelaskan konsumsi tubuh beauty vlogger figur fantasi oleh penonton.
Prostesis Digital sebagai Perpanjangan Tubuh Organik
Prostesis digital akan terbangun secara optimal apabila beauty vlogger mampu menggambarkan secara rinci kondisi produk kecantikan secara audio dan visual. Kemampuan dalam menggambarkan produk kecantikan secara rinci dari sisi kemasan, tekstur, kekentalan, ketahanan produk, daya tutup (coverage), warna, pigmentasi, aroma, komposisi bahan, kelebihan, dan kekurangan produk kecantikan dapat memantik imajinasi penonton untuk merasakan produk kecantikan sesuai dengan yang didemonstrasikan dalam ruang dan waktu layar melalui tampilan tubuh beauty vlogger.
Layar yang terhubung dengan jaringan internet memberi penonton kesempatan untuk mewujudkan perasaan sensoris yang belum atau tidak bisa diwujudkannya dalam kehidupan luring. Penonton dapat merasakan sensasi mencoba produk kecantikan apa pun yang dianggap menarik hanya dengan melakukan pencarian di kolom yang sudah disediakan. Selain itu, penonton juga memiliki kewenangan untuk memutus dan menyambungkan tubuh barunya dengan tubuh beauty vlogger dengan cara mengklik tombol virtual stop, play, previous, next, dan skip serta tautan hiper (hyperlink) video dalam tampilan YouTube di layar. Dalam ruang dan waktu layar, penonton memiliki keleluasan untuk mendapatkan kepuasan mencoba produk kecantikan dan melakukan penyambungan tubuh dengan tubuh beauty vlogger yang dianggap menarik. Haraway (1985) menjelaskan tubuh manusia dapat tersebar dan dihubungkan secara tak terbatas dengan bantuan teknologi.
D a l a m u s a h a u n t u k meyakinkan penontonnya, tak jarang beauty vlogger juga menunjukkan bagian produk pada penonton hingga memenuhi layar dan mengulas produk secara rinci. Beauty vlogger juga sering mengulaskan produk pada punggung tangan agar penonton dapat dengan mudah membayangkan dan turut merasakan produk tersebut menempel pada tubuh penonton. Kemampuan komunikasi verbal (melalui kata-kata) dan nonverbal (melalui ekspresi wajah dan gestur tubuh) beauty vlogger dalam menggambarkan produk kecantikan secara objektif dan rinci adalah langkah awal terjalinnya pengalaman prostesis digital pada penonton karena penonton dirangsang untuk membayangkan produk kecantikan yang sedang diulas dalam vlog kecantikan.
Tabel I dan Tabel II menunjukkan
87% subjek penelitian turut merasakan dan membayangkan kemasan, tekstur, kekentalan, warna, pigmentasi, aroma, komposisi bahan, kelebihan, dan kekurangan produk kecantikan yang sedang diulas oleh beauty vlogger secara mendalam hingga membayangkan produk kecantikan tersebut menempel pada tubuhnya. Ulasan produk kecantikan dari beauty vlogger mengubah pengalaman sensoris, estetis, ergonomis, dan emosional beauty vlogger menjadi pengalaman prostesis digital bagi subjek penelitian agar turut serta merasakan sesuatu yang terjadi pada beauty vlogger di dalam layar (tabel I dan II).
Pengalaman prostesis digital dalam sebuah vlog kecantikan pada dasarnya merupakan sebuah langkah "meretas" pancaindra dalam tubuh subjek penelitian sesuai dengan arahan beauty vlogger ketika mengulas sebuah produk kecantikan. Vlog kecantikan pada dasarnya menciptakan fungsi indra peraba dan penciuman dengan cara meretas fungsi indra penglihatan dan pendengaran karena subjek penelitian secara virtual merasa turut meraba tekstur (indra peraba) dan mencium aroma (indra penciuman) dengan hanya berbekal fungsi auditoris (indra pendengaran) dan visual (indra penglihatan) dalam sebuah ulasan produk dalam vlog kecantikan.
Prostesis digital memungkinkan subjek penelitian untuk menyambungkan hidungnya dengan hidung beauty vlogger untuk turut serta bersamasama merasakan aroma produk kecantikan. Subjek penelitian juga dapat merasakan kulit tangan beauty vlogger untuk bersama-sama meraba tekstur dan kekentalan produk kecantikan. Subjek penelitian diundang untuk menyambungkan matanya dengan mata beauty vlogger untuk bersama-sama melihat warna produk kecantikan. Subjek penelitian dapat menikmati tubuhnya yang diperluas dalam ruang dan waktu yang ada di dalam vlog kecantikan sampai menemukan tubuh mereka berada dalam sebuah praktik tubuh yang terasa nyata.
Subjek penelitian akan melihat simulasi tampilan tubuhnya ketika menggunakan produk kecantikan di dalam layar. Subjek penelitian juga akan mencocokkan produk kecantikan yang sedang diulas dengan keadaan tubuhnya. Kemudian, subjek penelitian juga melakukan negosiasi dengan tubuhnya sendiri mengenai kecocokan produk kecantikan yang sedang diulas dengan kondisi kulit subjek penelitian. Dalam konteks ini, vlog kecantikan memungkinkan subjek penelitian untuk memilih produk penampilan dan tubuh yang akan disambungkan dengan tubuhnya melalui fitur search dan mengklik tautan hiper video yang ingin ditonton di YouTube.
Prostesis digital membuat subjek penelitian mengalami tubuh baru yang berbeda dari tubuh organiknya. Subjek penelitian juga mengalami sensasi bertransformasi menjadi lebih cantik, menarik, dan segar karena merasa dirinya larut dalam tubuh beauty vlogger, produk kecantikan, dan tampilan tubuh sesuai dengan pilihannya sendiri pada layar. Lister et al. (2009:405) menyebutkan tubuh baru terdiri atas rangkaian elemen organik dan nonorganik, mata, otak, jari, dan syaraf, serta layar, piksel, elektron dan sirkuit membentuk keseluruhan yang tidak dikenali sebagai keseluruhan maupun dalam bagian-bagiannya. Vlog kecantikan menjadikan tubuh baru subjek penelitian untuk masuk dalam ruang, waktu, dan dunia layar. Namun, subjek penelitian juga memiliki kekuatan untuk memutus dan menyambungkan tubuh barunya dengan tubuh beauty vlogger pilihannya melalui fasilitas stop, play,
| TABEL I KETERLIBATAN SUBJEK PENELITIAN DALAM MERASAKAN |
|---|
| PRODUK YANG DIULAS DALAM VLOG |
| No | Subjek penelitian turut merasakan kemasan, tekstur, kekentalan, warna, pigmentasi, aroma, komposisi bahan, kelebihan, dan kekurangan produk kecantikan | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Ya | 87 | 87% |
| 2 | Tidak | 13 | 13% |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL II KETERLIBATAN SUBJEK PENELITIAN DALAM MEMBAYANGKAN PRODUK YANG DIULAS DALAM VLOG MENEMPEL PADA KULIT SUBJEK PENELITIAN
| No | Subjek penelitian dapat membayangkan warna dan tekstur produk menempel pada kulitnya | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Ya | 87 | 87% |
| 2 | Tidak | 13 | 13% |
| Jumlah | 100 | 100% |
previous, next, skip, dan tautan ke video lain dalam tampilan layar YouTube.
Subjek penelitian akan tetap menonton vlog kecantikan meskipun tidak membeli ataupun berencana membeli produk kecantikan yang diulas karena kepuasan subjek penelitian vlog kecantikan adalah ketika ia dapat merasakaan produk kecantikan melalui penyambungan tubuh dengan beauty vlogger. 74 persen subjek penelitian menyatakan mereka akan tetap menonton vlog kecantikan meskipun tidak akan membeli produk kecantikan yang diulas. Alasan subjek penelitian tetap menonton produk yang tidak akan dibelinya adalah mereka tidak ingin tertinggal informasi produk kecantikan yang sedang menjadi perbincangan. Hal itu membuat subjek penelitian tergerak untuk mencari ulasan produk yang sedang ramai dibicarakan melalui kolom pencarian di YouTube yang mengantarkannya pada sebuah vlog kecantikan. Dalam konteks ini, subjek
penelitian sudah merasa puas dirinya memiliki pengalaman prostesis digital dengan suatu produk kecantikan karena persoalan membeli atau tidaknya produk tersebut bukanlah hal yang utama (tabel III).
Subjek penelitian pada dasarnya tidak mau tertinggal tren kecantikan terkini, sebagaimana yang tampak pada tabel III, yang menunjukkan alasan subjek penelitian tetap menonton meskipun tidak akan membeli produk yang diulas karena orang-orang membicarakan produk yang sedang diulas (74%). Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa terjadi pergeseran motif dalam mengonsumsi vlog kecantikan sebagai prostesis digital. Subjek penelitian yang pada awalnya hanya mencari ulasan produk untuk mengumpulkan informasi berubah menjadi penonton vlog kecantikan yang menikmati tayangan tanpa adanya keperluan untuk mengumpulkan informasi sebelum membeli produk kecantikan (tabel IV).
TABEL III ALASAN SUBJEK PENELITIAN TETAP MENONTON VLOG KECANTIKAN TANPA AKAN MEMBELI PRODUK YANG DIULAS
| No | Alasan tetap menonton vlog kecantikan meskipun tidak akan membeli produk ke cantikan yang diulas | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Karena mengidolakan beauty vlogger jadi tetap akan menonton | 26 | 26% |
| 2 | Karena orang-orang membicarakan produk yang sedang diulas | 74 | 74% |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL IV PERNYATAAN SUBJEK PENELITIAN UNTUK TETAP MENONTON VLOG TANPA AKAN MEMBELI PRODUK YANG DIULAS
| No | Subjek penelitian akan tetap menonton ulasan produk meskipun tidak akan membeli pro duk kecantikan | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Ya | 89 | 89% |
| 2 | Tidak | 11 | 11% |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL V SUBJEK PENELITIAN YANG MENJADI SUBCRIBERS
| No | Subjek penelitian yang menjadi subscribers vlog kecantikan beauty vlogger | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Subscribers | 64 | 64% |
| 2 | Bukan subscribers | 36 | 36% |
| Jumlah | 100 | 100% |
informasi sebelum membeli produk kecantikan (tabel IV)
Pada Tabel VI data menunjukkan 89% subjek penelitian akan tetap menonton ulasan produk kecantikan meskipun tidak akan membeli produk kecantikan (yang diulas). Dalam konteks ini, subjek penelitian kebanyakan mencari ulasan produk kecantikan yang sedang diperbincangkan orang sehingga subjek penelitian tetap tidak akan tertinggal tren kecantikan dan tidak akan tertinggal obrolan karena bisa membicarakan produk tersebut dengan teman-temannya tanpa harus membeli produk kecantikan tersebut. Dengan demikian, subjek penelitian tidak saja menyambungkan tubuhnya kepada tubuh maya beauty vlogger dalam pengalaman prostesis digital tetapi juga menyambungkan tubuhnya dengan tubuh-tubuh penonton vlog kecantikan lainnya sehingga membangun tubuh kolektif dengan memanfaatkan teknologi sibernetik. Dalam situasi ini, penonton menjadi organisme sibernetik yang merupakan bagian dari jejaring tubuhtubuh organik yang terhubung dalam sebuah sistem sibernetik.
Prostesis Digital sebagai Alternatif Pengalaman Bertubuh
TABEL VI SUBJEK PENELITIAN YANG MENYALAKAN BEL PEMBERITAHUAN DALAM YOUTUBE KETIKA BEAUTY VLOGGER MENGUNGGAH VLOG TERBARU
| No | Subjek penelitian menyalakan bel pem beritahuan | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Menyalakan | 17 | 17% |
| 2 | Tidak menyalakan | 83 | 83% |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABELVII SUBJEK PENELITIAN YANG MENONTON VLOG KECANTIKAN SECARA RUTIN SETIAP HARI
| No | Subjek penelitian yang menonton secara rutin setiap hari | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Menonton secara rutin | 21 | 21% |
| 2 | Tidak menonton secara rutin | 79 | 79% |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL VIII SUBJEK PENELITIAN YANG MENGUNDUH VLOG KECANTIKAN DARI BEAUTY VLOGGER
| No | Subjek penelitian yang mengunduh | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Mengunduh | 21 | 21% |
| 2 | Tidak mengunduh | 79 | 79% |
| Jumlah | 100 | 100% |
Tabel V menunjukkan 64% subjek penelitian merupakan pelanggan
(subscriber) beauty vlogger, sedangkan 36% subjek penelitian bukanlah pelanggan saluran beauty vlogger.
Tabel VI menunjukkan 83% subjek penelitian tidak menyalakan fitur notifikasi saluran beauty vlogger yang diikutinya sehingga mereka tidak mengetahui ketika ada unggahan baru. Tabel VII menunjukkan 79% subjek penelitian tidak menonton vlog kecantikan secara rutin. Tabel VIII menunjukkan 79% subjek penelitian tidak mengunduh vlog kecantikan. Data yang ditunjukkan dari tabel V sampai tabel VIII mengindikasikan loyalitas subjek penelitian vlog kecantikan hanya
sebatas menjadi pelanggan saluran YouTube beauty vlogger.
Dapat diargumentasikan bahwa subjek penelitian menikmati vlog kecantikan secara acak. Dalam konteks ini, tingkat fanatisme subjek penelitian pada sosok beauty vlogger dapat dikatakan rendah dan bersifat substitutif (dapat digantikan) oleh sosok beauty vlogger lain karena mayoritas subjek penelitian terfokus untuk menonton ulasan produk kecantikan bukan karena mengidolakan sosok beauty vlogger. H al ini menunjukkan tubuh maya beauty vlogger hanya berperan sebagai penyambung antara tubuh subjek penelitian dan kepuasan dalam menggunakan produk kecantikan. Bagi subjek penelitian, tubuh beauty
vlogger adalah tubuh buatan yang digunakan subjek penelitian untuk mencoba produk kecantikan apa pun yang dianggap menarik. Hasil kuesioner mengenai pencarian yang digunakan subjek penelitian untuk melakukan prostesis digital menunjukkan 70% subjek penelitian lebih terfokus untuk mencari kata kunci yang terkait dengan ulasan (review) nama atau merek kecantikan di kolom pencarian di YouTube. Sementara itu, 30% subjek penelitian menggunakan nama beauty vlogger sebagai kata kunci dalam pencarian video yang hendak ditontonnya.
Selain itu, rendahnya loyalitas subjek penelitian terhadap beauty vlogger menunjukkan mereka mempertahankan agensi dan subjektivitasnya. Penonton beauty vlog tidak menyubstitusi dirinya dengan diri sosok beauty vlogger melainkan justru memanfaatkan tubuh virtual yang tampak pada layar sebagai prostesis untuk membangun dan memperluas dirinya, dan bahkan juga membangun tubuh sibernetik kolektif bersama penonton lain. Dalam perspetif seperti ini, tampak bahwa perempuan penonton beauty vlog secara umum diberdayakan dalam mengelola dan mengendalikan tubuh mereka sendiri.
Subjek penelitian juga akan berpikir mendalam untuk memutuskan membeli produk kecantikan yang diulas dan direkomendasikan oleh beauty vlogger. Kami berargumentasi hal tersebut merupakan salah satu efek dari prostesis digital yang mampu membuat subjek penelitian puas tanpa harus membeli produk kecantikan. Tabel XI menunjukan 71% subjek penelitian akan berpikir lebih jauh sebelum membeli produk kecantikan. Dalam konteks ini prostesis digital dalam vlog kecantikan membuka ruang bagi subjek penelitian untuk bersikap bijaksana dalam memutuskan untuk membeli
produk kecantikan sehingga semakin menunjukkan tingginya tingkat agensi penonton ketika menyambungkan dirinya ke sistem sibernetik melalui internet.
Melalui prostesis digital dalam vlog kecantikan, subjek penelitian akan memikirkan secara matang manfaat dan kesesuaian produk tersebut bagi tubuhnya baik dari sisi harga, kemasan, tekstur, warna, pigmentasi, kekentalan, aroma, komposisi bahan, maupun kualitas secara rinci dan jelas berdasarkan pengalaman dan pendapat personalnya. Tabel XI menunjukkan 64% subjek penelitian tidak membeli produk yang mendapat ulasan positif karena produknya tidak akan terpakai dan 36% subjek penelitian tidak akan membeli produk yang diulas positif karena produknya mahal. Hal tersebut menunjukkan "fungsi produk" adalah hal yang sangat diperhatikan oleh subjek penelitian. Subjek penelitian tidak akan membeli produk kecantikan yang dinilai tidak sering digunakan dan tidak bermanfaat banyak pada tubuhnya.
Melihat hasil kuesioner pada Tabel XIII (subjek penelitian diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu jawaban) produk highlighter (20%) dan contour (17,39%) adalah produk yang banyak dicari ulasannya oleh subjek penelitian. Namun, subjek penelitian tidak membeli dan menggunakannya karena pemakaian highlighter dan contour tidak terlalu berfungsi secara optimal bagi subjek penelitian. Subjek penelitian juga merasa tidak berani dan tidak percaya diri untuk menggunakan produk highlighter dan contour dalam kehidupan sehari-hari. Karena kedua produk itu tidak termasuk kategori makeup yang digunakan sehari-hari (daily use), subjek penelitian mendapatkan kenikmatan visual murni dari menonton vlog yang mengulas highlighter dan contour saja.
Selain itu, penggunaan foundation juga merupakan sesuatu yang disukai
| TABEL IX PENCARIAN YANG DIGUNAKAN OLEH SUBJEK PENELITIAN | |
|---|---|
| No | Pencarian yang digunakan oleh subjek pe nelitian | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| Mencari dengan keyword nama produk atau brand | 70 | 70% | |
| Mencari dengan keyword nama beauty vlogger | 30 | 30% | |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL X MOTIVASI SUBJEK PENELITIAN DALAM MENONTON BEAUTY VLOGGER
| No | Motivasi subjek penelitian dalam menonton beauty vlogger | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| Hanya ingin melihat beauty vlogger mereview produk karena sudah menjadi kebiasaan me nonton beauty vlog. | 14 | 14% | |
| Mengetahui ulasan produk | 86 | 86% | |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL XI KEPUTUSAN MEMBELI SUBJEK PENELITIAN
| No | Subjek penelitian akan membeli produk yang direview positif dan direkomendasikan | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| oleh beauty vlogger | |||
| Ya, subjek penelitian akan membelinya | 19 | 19% | |
| Subjek penelitian akan berpikir lebih jauh ter lebih dahulu | 71 | 71% | |
| Tidak, subjek penelitian hanya ingin menonton vlog kecantikannya | 10 | 10% | |
| Jumlah | 100 | 100% |
subjek penelitian karena menghasilkan tampilan wajah yang mulus dan tidak bernoda. Namun, subjek penelitian takut untuk menggunakan dalam kehidupan sehari-hari karena penggunaan lipstick dengan warna mencolok dirasa tidak cocok dengan struktur dan tampilan wajah yang dimilikinya. Selain itu, penggunaan foundation dapat menimbulkan masalah di wajah, khususnya bagi kulit yang berjerawat karena dapat menyumbat pori-pori. Oleh karena itu, subjek penelitian hanya senang menonton beauty vlogger dalam
menggunakan foundation yang memiliki tingkat coverage yang tinggi sampai menutupi kekurangan di wajah tanpa harus terlalu banyak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ta b e l X I V m e n u n j u k k a n mayoritas subjek penelitian (80%) menyukai tampilan makeup natural yang menggunakan warna-warna dengan semu merah muda pada tampilan wajah. Akan tetapi, subjek penelitian justru tampak menyukai konten vlog kecantikan dari beauty vlogger yang sering menyajikan tutorial dan mengulas makeup bold. Dalam konteks ini subjek penelitian menggunakan prostesis digital sebagai media untuk mendapatkan sensasi menggunakan produk kecantikan dan penampilan, sedangkan sesungguhnya ia tidak berani menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari karena subjek penelitian tidak ingin mendapatkan pandangan buruk dari masyarakat ketika menggunakan makeup bold.
Vlog kecantikan dianggap subjek penelitian sebagai media untuk merealisasikan fantasi dalam menggunakan makeup bold yang tidak berani dipakai subjek penelitian dalam kehidupan sehari-hari. Subjek penelitian memanfaatkan prostesis digital melalui vlog k e c a n t i k a n sebagai solusi untuk mendapatkan kepuasan dalam memodifikasi tubuh sesuai dengan keinginan tanpa takut mendapat konsekuensi negatif dalam kehidupan luring. Sehubungan dengan hal ini, Adipurwawidjana (2018) mengisyaratkan, seiring dengan semakin dominan dan prevalen teknologi internet dalam kehidupan modern, manusia mau tidak mau meleburkan dirinya ke dalam jejaring elektromagnetik yang cakupannya global. Dengan demikian, pengalaman bertubuh pun menjadi tak terpisahkan dari sistem sibernetik yang melingkungi dan merasuki kehidupannya.
Prostesis Digital sebagai Proyeksi Citra Diri
Melihat hasil kuesioner Tabel XV (subjek penelitian diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu jawaban), kedudukan beauty vlogger yang paling sering ditonton oleh subjek penelitian adalah Tasya Farasya (28,30%) dan Suhay Salim (16,91%) yang keduanya merupakan beauty vlogger keturunan Arab.
Dapat dikatakan subjek penelitian tidak mencari beauty vlogger yang memiliki kesamaan fisik dengan subjek penelitian seperti kesamaan warna kulit, bentuk wajah, bentuk alis, bentuk mata, bentuk bulu mata, bentuk hidung, bentuk pipi, dan bentuk bibir tetapi justru mencari beauty vlogger yang memiliki penampilan tubuh yang sesuai dengan apa yang diidamkan subjek penelitian. Jika diasumsikan, subjek penelitian memilih menonton tayangan beauty vlogger yang memiliki ciri-ciri fisik yang diidealkan. Perkara subjektivitas dan agensi subjek penelitian sebagai penonton menjadi problematis. Di satu sisi, memang subjek penelitian memiliki kuasa dalam menentukan tubuh yang diidealkannya. Di sisi lain, subjek penelitian juga mengidealkan ciri-ciri fisik beauty vlogger keturunan Arab, yang secara umum tidak dimiliki sebagian besar perempuan Indonesia.
Jika melihat hasil kuesioner (subjek penelitian diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu jawaban), subjek penelitian vlog dinilai menginginkan untuk memiliki kondisi kulit (23%), bentuk hidung (18,18%), dan bentuk tubuh (14,87%) yang dimiliki beauty vlogger. Subjek penelitian lebih menyukai melakukan prostesis digital pada sosok beauty vlogger yang memiliki kriteria kulit yang tidak berjerawat, memiliki hidung yang tajam dan memiliki bentuk tubuh yang ideal. Hal tersebut akan membuat subjek penelitian mengalami transformasi menjadi lebih cantik, menarik, dan segar karena merasa dirinya larut dalam tubuh beauty vlogger yang dipilihnya, produk kecantikan yang dipilih, dan tampilan tubuh yang dipilihnya di dalam layar.
Membaca kecenderungan Tasya Farasya dan Suhay Salim menjadi adalah beauty vlogger yang paling sering ditonton oleh subjek penelitian, dapat
diargumentasikan subjek penelitian memilih untuk menyambungkan tubuhnya dengan sosok beauty vlogger yang memiliki kondisi kulit, hidung, dan bentuk tubuh layaknya Tasya Farasya dan Suhay Salim. Keduanya memiliki banyak kesamaan dalam fitur tubuh dan wajah. Adapun persamaan yang paling mencolok antara Tasya Farasya dan Suhay Salim adalah keduanya merupakan keturunan Arab.
Subjek penelitian vlog kecantikan pada dasarnya menjadikan tubuh beauty vlogger sebagai prostesis digital bagi dirinya karena dipandang sebagai figur fantasi bagi subjek penelitian. Figur fantasi merupakan perwakilan wujud manusia futuristik, ideal yang berhubungan dengan fantasi tubuh yang sempurna dan feminitas" (Paasonen, 2005: 5). Dapat dikatakan, figur fantasi subjek penelitian dimanifestasikan pada figur perempuan keturunan Arab seperti Tasya Farasya dan Suhay Salim. Dalam konteks ini, penubuhan prostesis digital melalui vlog kecantikan
mengimplikasikan adanya ideologi kecantikan normatif yang ditubuhi oleh beauty vlogger berketurunan Arab.
Guthrie (2013) menjelaskan kecantikan perempuan Arab terletak pada struktur wajah tajam dengan pipi semu merah, dagu yang runcing, kulitnya halus dan berwarna kontras dengan bibir merahnya, mata yang gelap berbentuk almond besar, dan rambut aslinya berwarna hitam dan keriting. Tasya Farasya dan Suhay Salim memiliki mata yang besar dan tajam. Keduanya sering menitikberatkan tampilan makeup pada mata yang menggunakan eyeshadow dengan warna mencolok, eyeliner hitam dengan gaya cat eyes, dan penggunaan eyeliner pensil hitam di bawah mata yang membuat tampilan mata semakin tajam.
Keduanya memiliki, struktur wajah yang tajam, dan tulang wajah tegas, terlebih di daerah hidung, pipi dan rahang. Contour dan bronzer kerap mereka gunakan untuk menonjolkan fitur wajah yang tajam dan berdimensi.
Gambar Tasya Farasya (Sumber: Suara.com)
Gambar Suhay Salim (Sumber: POPBELA.com)
| No | Alasan subjek penelitian tidak membeli produk yang diulas positif dan direkomendasikan | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Produknya mahal | 36 | 36% |
| 2 | Produknya tidak akan terpakai | 64 | 64% |
| Jumlah | 100 | 100% |
TABEL XIII PRODUK KECANTIKAN YANG DISUKAI SUBJEK PENELITIAN NAMUN SUBJEK PENELITIAN TIDAK MEMBELI DAN MENGGUNAKANNYA
| Produk kecantikan yang disukai subjek peneli | |||
|---|---|---|---|
| No | tian, tetapi subjek penelitian tidak membeli dan menggunakannya | Frekuensi | Persen |
| 1 | Produk alis | 15 | 13,04% |
| 2 | Eyeshadow | 7 | 6,08% |
| 3 | Eyeliner | 3 | 2,60% |
| 4 | Maskara | 8 | 6,95% |
| 5 | Contour | 20 | 17,39% |
| 6 | Blush-on | 7 | 6,08% |
| 7 | Lipstick | 5 | 4,34% |
| 8 | Foundation | 16 | 13,91% |
| 9 | Bedak | 3 | 2,60% |
| 10 | Primer | 6 | 5,21% |
| 11 | Highlighter | 23 | 20% |
| 12 | Lain-lain | 0 | 0% |
| Jumlah | 115 | 100% |
TABEL XIV TAMPILAN MAKEUP YANG DISUKAI SUBJEK PENELITIAN
| No | Tampilan makeup yang disukai | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Natural | 80 | 80 % |
| 2 | Bold | 18 | 18 % |
| 3 | Lain-lain (tidak disebutkan) | 2 | 2 % |
| Jumlah | 100 | 100% |
Kilauan cahaya pada highlighter memberikan ilusi tulang pipi, tulang hidung, pipi dan rahang semakin terlihat menonjol dan berkilau. Hal tersebut membuat Tasya Farasya dan Suhay Salim
sebagai beauty vlogger lekat dengan tema bold, dramatis, dan berkilau yang menonjolkan mata dan fitur wajah yang tajam.
Subjek penelitian dalam sesi wawancara menjelaskan ia lebih menyukai beauty vlogger yang sering mengulas dan mendemonstrasikan produk kecantikan dengan tema bold, dramatis, dan berkilau karena subjek penelitian merasakan sensasi menggunakan produk kecantikan tersebut, tetapi tidak cukup berani untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagi subjek penelitian, prostesis digital menawarkan pengalaman menggunakan produk kecantikan dan menubuhi apa yang ditampilkan oleh beauty vlogger keturunan Arab yang memiliki kondisi kulit bersih, berwarna kuning, memiliki hidung yang tajam, dan bentuk tubuh yang ideal.
K a m i b e r p e n d a p a t a d a kecenderungan subjek penelitian memiliki fetish pada hidung mancung khas perempuan keturunan Arab karena pada dasarnya subjek penelitian tidak memiliki hidung mancung yang diidealkan. Gemerchak (2006) mengklaim fetish sebagai pengganti sesuatu yang tidak pernah dimiliki seseorang atau setidaknya untuk sementara waktu hilang. Untuk mengganti sesuatu yang tidak dimiliki, seseorang merujuk pada tubuh orang lain untuk mendapatkan kepuasan.
Kelima subjek penelitian pada dasarnya ingin memiliki hidung khas perempuan Arab. Dari sisi medis faktor genetik, Mottaleb & Ashour (2012) menjelaskan, perempuan Arab memiliki hidung panjang, sedikit berpunuk di bagian tengah dan memiliki ujung dengan sudut cuping hidung yang tajam. Bagi subjek penelitian, hidung dianggap sebagai sesuatu yang krusial untuk menentukan tingkat kecantikan seorang perempuan sehingga menjadikan signifikansi "hidung yang mancung" lebih tinggi daripada anggota tubuh lainnya.
Lebih jauh lagi, letak hidung berada di tengah wajah menjadikannya sebagai pusat perhatian yang ada pada wajah seseorang. Salah satu subjek penelitian mengatakan, hidung mancung dianggap sebagai fitur yang membuat tampilan wajah perempuan terlihat tajam dan tegas sehingga perempuan berhidung mancung akan memiliki tampilan makeup yang hidup dan lebih feminin. Dalam konteks ini, subjek penelitian seolah memiliki kepuasan tertentu ketika mengimplan pengalaman bertubuh beauty vlogger figur fantasi yang memiliki hidung mancung khas keturunan Arab.
Ada beberapa alasan yang dapat dipertimbangan sebagai faktor yang membuat subjek penelitian mengidealkan sosok keturunan Arab. Pertama, subjek penelitian merupakan subjek poskolonial. Sejarah kolonial mengondisikan subjek poskolonial memandang derajat dirinya rendah daripada pihak kolonial y a n g d i a n g g a p n y a s u p e r i o r. I a cenderung mengagungkan pihak yang dipandangnya mewakili kekuasaan kolonial atau kekuatan asing global. Tampaknya beauty vlogger keturunan Arab dipandang subjek penelitian sebagai sosok yang mewakili kekuatan global tersebut. Relasi antara subjek kolonial dan pihak yang dianggapnya superior ini cukup kompleks dan tidak serta merta hadir dalam bentuk relasi biner inferior/superior belaka. Bhabha (1984) menjelaskan salah satu strategi signifikan yang dilancarkan subjek (pos-)kolonial dalam memosisikan diri dalam konfigurasi hegemonis ini adalah mimikri, yaitu upaya meniru secara parsial sosok yang mewakili kekuatan kolonial tersebut. Mimikri memiliki fungsi ganda, yaitu mengafirmasi kekuatan kolonial sekaligus melakukan subversi terhadapnya.
TABEL XV BEAUTY VLOGGER YANG SERING DITONTON
| No | Beauty vlogger yang sering ditonton | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| 1 | Tasya Farasya | 77 | 28,30 % |
| 2 | Rachel Goddard | 35 | 12,86 % |
| 3 | Suhay Salim | 46 | 16,91 % |
| 4 | Alifah Ratu | 8 | 2,94% |
| 5 | Sarah Ayu Hunter | 26 | 9,55 % |
| 6 | Abel Cantika | 37 | 13,60 % |
| 7 | Nanda Arsyinta | 1 | 0,36 % |
| 8 | Vina Gracia | 14 | 5,14 % |
| 9 | Cindercella | 11 | 4,04 % |
| 10 | Molita Lin | 4 | 1,47% |
| 11 | Lain-lain (tidak disebutkan) | 1 | 0,36% |
| 12 | Lain-lain (Jovie Adhiguna) | 2 | 0,73 % |
| 13 | Lain-lain (Ludovi Jessica) | 1 | 0,36% |
| 14 | Lain-lain (Devienna) | 1 | 0,36% |
| 15 | Lain-lain (Fatya Biya) | 1 | 0,36% |
| 16 | Lain-lain (Tina Kana Mirdad) | 3 | 1,10% |
| 17 | Lain-lain (Fathi NRM) | 1 | 0,36% |
| 18 | Lain-lain (James Charles) | 1 | 0,36% |
| 19 | Lain-lain (Livjunkie) | 1 | 0,36% |
| 20 | Lain-lain (Lizzie Parra) | 1 | 0,36% |
| Jumlah | 272 | 100% |
TABEL XVI KELEBIHAN FISIK BEAUTY VLOGGER YANG INGIN SUBJEK PENELITIAN MILIKI
| No | Kelebihan fisik beauty vlogger yang sub jek penelitian ingin miliki | Frekuensi | Persen |
|---|---|---|---|
| Kening | 0 | 0 % | |
| Alis | 16 | 13,22 % | |
| Mata | 8 | 6,61 % | |
| Pipi | 7 | 5,78% | |
| Hidung | 22 | 18,18 % | |
| Bibir | 7 | 5,78% | |
| Gigi | 0 | 0% | |
| Kondisi kulit | 29 | 23,96% | |
| Warna kulit | 12 | 9,91% | |
| Bentuk tubuh | 18 | 14,87% | |
| Tidak menjawab | 1 | 0,82% | |
| Jumlah | 167 | 100% |
Bhabha (1994) juga menjelaskan relasi kompleks ini menghasilkan hibriditas sebagai ciri kebudayaan poskolonial. Kami secara tentatif dapat mengambil inferensi dari hasil kuesioner dan wawancara dengan subjek penelitian bahwa sosok beauty vlogger keturunan Arab dipandang mewakili sosok hibrid hasil negosiasi identitas poskolonial. Dengan demikian, subjek penelitian memandang sosok beauty vlogger sebagai sosok yang "almost the same, but not white" (Bhabha, 1984: 130) karena seperti kulit putih yang mewakili kekuatan kolonial tetapi juga Asia. Selaras dengan itu, Priyatna (2013) menunjukkan sosok selebriti keturunan ras campuran seperti Tamara Blezinski dan Sophia Latjuba yang Indo-Eropa dipandang sebagai sosok yang diidealkan. Hal ini pun menunjukkan subjek penelitian menyambungkan tubuhnya melalui internet ke sebuah jejaring sibernetik yang cakupannya global.
SIMPULAN
Secara umum dapat disimpulkan, bagi subjek penelitian, pengalaman prostesis digital dengan cara menonton vlog kecantikan memiliki tiga fungsi. P e r t a m a , p e n g a l a m a n p r o s t e s i s digital memberikan kemampuan kepada subjek penelitian untuk membangun perpanjangan tubuhnya melalui jejaring internet. Tubuh beauty vlogger dijadikan tubuh buatan yang mengantarkan subjek penelitian pada kepuasan untuk mencoba produk kecantikan.
Kedua, pengalaman prostesis digital menyediakan peluang bagi subjek penelitian untuk memiliki alternatif dalam pengalaman bertubuh. Prostesis digital membuat subjek penelitian merasa mengalami dan berada pada keadaan yang menjadi
lebih cantik, menarik, dan segar karena tubuhnya larut dalam pengalaman tubuh beauty vlogger yang ditontonnya, termasuk pengalaman menggunakan produk kecantikan dan menubuhi penubuhan yang ditampilkan. Prostesis digital dalam vlog kecantikan telah mengubah gaya konsumsi subjek penelitian yang mengalami pergeseran motif dalam mengonsumsi vlog kecantikan sebagai prostesis digital. Subjek penelitian yang pada awalnya hanya mencari ulasan produk untuk mengumpulkan informasi berubah menjadi penonton vlog kecantikan yang menikmati tayangan tanpa adanya keperluan untuk mengumpulkan informasi sebelum membeli produk kecantikan.
Ketiga, pengalaman prostesis digital berfungsi sebagai medium bagi subjek penelitian untuk memproyeksikan citra tubuh idealnya kepada sosok beauty vlogger. Subjek penelitian cenderung memilih untuk menyambungkan tubuhnya dengan tubuh beauty vlogger yang memiliki hidung yang tajam, kulit wajah yang halus bersih, dan berwarna kuning, dan bentuk tubuh yang ideal sebagai manifestasi dari penubuhan prostesis digital melalui vlog kecantikan. Penubuhan prostesis mengimplikasikan adanya ideologi kecantikan normatif yang ditubuhi beauty vlogger berketurunan Arab. Hal ini menandakan perkara pengalaman prostesis digital sebagai konsumen vlog kecantikan dapat dipandang sebagai permasalahan dalam kerangka politik identitas gender pada konteks kebudayaan kolonial. Untuk kepentingan tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar komplekstitas keterkaitan isu gender dan kelas dengan penggunaan teknologi digital dapat dieksplorasi dan dielaborasi dengan lebih komprehensif dan mendalam.
