1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2020) Issue 3
  4. Articles

Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Implementasi Program Jabar Digital Dalam Akun Instagram Ridwan Kamil Sebuah Kajian Sosio-digital

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap implementasi program Jabar Digital melalui akun resmi gubernur Jawa Barat periode 2018-2023, Ridwan Kamil, di Instagram @ridwankamil. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan terdiri dari 20 (dua puluh) gambar yang diunggah oleh Ridwan Kamil berkaitan dengan program Jawa Barat Digital dari bulan Januari hingga Mei 2019. Dari 20 (dua puluh) data tersebut, dua buah gambar dijadikan sampel dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan berdasarkan jumlah dan relevansi data tentang persepsi dan partisipasi masyarakat Jawa Barat. Komentar masyarakat dalam kedua unggahan ini berjumlah 1.666 (seribu enam ratus enam puluh enam). Komentar tersebut kemudian dianalisis dan digunakan sebagai data utama dalam mengungkap persepsi dan partisipasi masyarakat pada program yang diselenggarakan oleh Ridwan Kamil sebagai gubernur Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak masyarakat berpersepsi positif terhadap program Jabar Digital dan masyarakat mau berpartispasi dan berperan serta dalam program tersebut.

Keywords

PENDAHULUAN

Terobosan demi terobosan dilakukan oleh gubernur di setiap provinsi di Indonesia, tidak terkecuali di Jawa Barat. Seiring dengan kemajuan teknologi Internet yang semakin pesat, pemerintah Jawa Barat juga telah membuat perubahan dalam tata cara pelaksanaan pemerintahan atau lebih sering dikenal dengan sebutan

e-governance. Jawa Barat sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia juga tidak bisa lepas dari pengaruh perkembangan teknologi tersebut. Salah satu upaya dalam mengubah tata cara pelaksanaan pemerintahan dengan pendekatan e-governance ialah dengan menjadikan media sosial sebagai alat perantara dalam membantu pemerintah untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat Jawa Barat. Contoh media sosial yang digunakan oleh pemerintah Jawa Barat untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat di antaranya adalah Facebook, Twitter, Instagram, dan Whatsapp.

Ketika menjabat sebagai Walikota Bandung, Ridwan Kamil, telah berupaya membangun Kota Bandung menjadi kota yang berbasis smart city (Sutrisno & Akbar, 2018). Konsep smart city berkaitan dengan konsep kota yang mengadopsi teknologi komputer dan internet sebagai salah satu strategi dalam proses pembangunan kota berupa penggunaan infrastruktur digital (Dutton, 1995; Hollands, 2008; Komninos, 2013). Setelah terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, berusaha untuk mengembangkan idenya lebih jauh lagi dengan mengembangkan tata kelola pemerintahan (e-governance) dan infrastruktur dengan pendekatan digital dengan nama Jabar Digital (Ramdhani, 2018). Konsep Jabar Digital ialah konsep Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang bercita-cita mewujudkan #JabarJuara, yaitu Jawa Barat yang berbasis data dan teknologi, mendukung pelayanan masyarakat dan pengambilan kebijakan yang responsif, adaptif, dan inovatif dengan pendekatan digital dan memiliki misi untuk mewujudkan pengambilan kebijakan berdasarkan data; mengakselerasi transformasi digital pemerintahan; dan mempermudah kehidupan masyarakat dengan teknologi digital (Ramdhani, 2018).

Bagi Ridwan Kamil, e-governance bukanlah sesuatu hal yang baru. Ketika masih menjabat menjadi Walikota Bandung, sebagai salah satu cara menerapkan e-governance di Kota Bandung, Ridwan Kamil selalu berinteraksi dengan masyarakat menggunakan media sosial (Munandar & Suherman, 2016). Salah

satu, media sosial yang digunakan oleh Ridwan Kamil adalah akun resmi Instagram @ridwankamil yang telah digunakan semenjak menjadi Walikota Bandung sampai ketika menjadi Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023. Di dalam akun instagramnya, Ridwan Kamil selalu mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan kinerjanya sebagai pemimpin. Tidak terkecuali program dan ide barunya sebagai Gubernur Jawa Barat seperti halnya ide Jabar Digital. Ide-ide dan proyek kerja pemerintahan Ridwan Kamil yang diunggah di akun Instagramnya ini, selalu mendapatkan banyak komentar dan masukan dari pembacanya khususnya masyarakat yang berada di wilayah Jawa Barat. Komentar-komentar ini menarik untuk dibahas dan dianalisis. Artikel ini menganalisis sejauh mana persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap implementasi Jabar Digital melalui komentar-komentar yang disampaikan dalam akun Instagram milik Ridwan Kamil (@ ridwankamil).

TINJAUAN PUSTAKA

E-Government dalam Pemerintahan

E-Government didefinisikan sebagai suatu konsep pemerintahan yang memperkenankan publik untuk terlibat dalam membuat keputusan, memberikan pelayanan, administrasi publik melalui teknologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan teknologi informasi dan internet sebetulnya telah lama digunakan di Indonesia khususnya untuk kepentingan pengelolaan pemerintahan dan untuk mencapai pemerintahan yang baik (Sutrisno & Akbar, 2018). Hal ini dilakukan sebagai akibat dari perkembangan internet yang pada saat ini semakin pesat dan semakin meluas penggunaannya (Weerakkody, El-Haddadeh, Al-Sobhi, Shareef, & Dwivedi, 2013). Agar tercapai tata kelola pemerintahan yang baik, e-government juga harus mengedepankan keterlibatan masyarakat (partisipasi pub

lik).

Partisipasi publik diperlukan untuk meraih keberhasilan dalam proses pembangunan. Dengan kata lain, masyarakat merupakan bagian terpenting dalam proses pembangunan. Selain itu, tujuan utama dari pembangunan juga tentunya bukan untuk pemerintah, melainkan untuk masyarakat, yaitu agar tercipta masyarakat yang sejahtera, aman, nyaman, dan tertib (Sutrisno & Akbar, 2018). Penggunaan e-government memiliki keuntungan utama, yaitu meningkatnya sistem pelayanan publik melalui partisipasi masyarakat (Peristeras, Mentzas, Tarabanis, & Abecker, 2009).

Penerapan e-government ini telah direncanakan dalam rencana kerja 100 hari Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat (Ramdhani, 2018), di antaranya sebagai berikut.

1. Jabar Quick Response (Jabar QR)

Jabar QR adalah kanal aduan kemanusiaan bagi masyarakat Jawa Barat yang bisa memberikan solusi atau pertolongan pertama bagi permasalahan yang bersifat kemanusiaan atau darurat.

2. Jabar Saber Hoaks

Secara singkat, tim ini berada di bawah naungan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemprov Jabar dan bertugas untuk memverifikasi segala bentuk informasi yang meresahkan masyarakat, khususnya di ranah digital.

3. Desa Digital

Desa Digital merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa, pemasaran, dan percepatan akses serta pelayanan informasi.

4. Street Library (Kolecer dan Candil) Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meluncurkan program Perpustakaan Jalanan atau dinamakan Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) dan Maca Dina Digital Library (Candil)

5. Aplikasi pariwisata Gurilaps.com

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jasa Pariwisata (Jaswita) Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan aplikasi digital paket wisata petualangan bernama Gurilaps. Melalui aplikasi Gurilaps, wisatawan dapat memesan tiket pariwisata petualangan di Jawa Barat. Adapun Gurilaps singkatan dari gunung, udara, rimba, laut, pantai, dan sungai. (Ramdhani, 2018).

Penerapan e-government di Jawa Barat diharapkan akan meningkatkan pembangunan wilayah khususnya di area sekitar Jawa Barat. Selain itu, e-government juga dilakukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat sekaligus mengajak masyarakat Jawa Barat untuk berperan aktif berpartisipasi dalam pemerintahan dan pembangunan Provinsi Jawa Barat.

Persepsi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Wilayah

Dalam menyukseskan pembangunan diperlukan juga adanya persepsi dan partisipasi dari masyarakat. Persepsi dan partisipasi adalah dua hal yang sangat penting yang berperan dalam proses pembangunan wilayah. Beberapa penelitian menyatakan penentu adanya partisipasi sosial disebabkan adanya persepsi individualPersepsi adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang dialami manusia dalam lingkungan. setiap individu memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas di sekelilingnya (Mulyana, 2015). Terdapat beberapa prinsip mengenai persepsi, yaitu:

a. Persepsi berdasarkan pengalaman. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasarkan

  • pengalaman dan pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang, objek, atau kejadian serupa
  • b. Persepsi bersifat selektif. Setiap manusia sering mendapat rangsangan indrawi secara sekaligus untuk itu perlu selektif merespons rangsangan tersebut dan mendahulukan rangsangan terpenting terlebih dahulu. Oleh karena itu, atensi suatu rangsangan merupakan faktor utama menentukan selektivitas diri manusia atas rangsangan tersebut.
  • c. Persepsi bersifat dugaan. Persepsi bersifat dugaan terjadi karena data yang manusia peroleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap. Persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan.
  • d. Persepsi bersifat evaluatif. Persepsi bersifat evaluatif maksudnya adalah kadang-kadang orang menafsirkan pesan sebagai suatu proses kebenaran, akan tetapi terkadang alat indera dan persepsi dapat menipu, sehingga untuk itu dalam mencapai suatu tingkat kebenaran perlu evaluasi-evaluasi yang seksama.
  • e. Persepsi bersifat kontekstual. Persepsi bersifat kontekstual merupakan pengaruh paling kuat dalam mempersepsi suatu objek. Konteks yang memengaruhi manusia dalam menilai seseorang, suatu objek atau suatu kejadian. Selain itu, persepsi secara mendasar sangat memengaruhi struktur kognitif (Mulyana, 2015).

Ada tiga faktor yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat, yaitu:

  • 1. Pelaku persepsi, bila seseorang memandang suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya dan penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu tersebut.
  • 2. Target atau objek, karakteristik-karakteristik dan target yang diamati dapat memengaruhi apa
  • yang dipersepsikan. Target tidak dipandang dalam keadaan terisolasi, hubungan suatu target dengan latar belakangnya memengaruhi persepsi. Sebagai contoh kecenderungan individu untuk mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau yang mirip.
  • 3. Situasi, dalam hal ini penting untuk melihat konteks objek atau peristiwa sebab unsur-unsur lingkungan sekitar memengaruhi persepsi manusia. (Robbins, 2001)

Ketika persepsi sudah terbangun, hal tersebut akan berdampak pada partisipasi secara sosial dan persepsi ini mampu membuat masyarakat menjadi aktivis atau pengikut setia sebuah organisasi atau individu (Fuhse, 2019).

Partisipasi didefinisikan sebagai feed-forward information dan feedback information (Canter, 1982). Dalam hal ini, partisipasi masyarakat dipandang sebagai proses komunikasi dua arah yang dilakukan secara terus-menerus. Begitu juga dalam mendefinisikan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Partisipasi dalam proses pembangunan adalah bentuk komunikasi antara pihak pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat di pihak lain sebagai pihak yang merasakan langsung dampak dari kebijakan tersebut. Dari pendapat Canter tersebut juga tersirat bahwa masyarakat dapat memberikan respons positif dalam arti mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.

Terdapat tiga alasan utama pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu (1) Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan dan proyek akan gagal, (2) Masyarakat memercayai program pembagunan jika dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat lebih mengetahui seluk-beluk proyek dan merasa memiliki proyek tersebut, (3) Partisipasi merupakan hak demokrasi masyarakat dalam keterlibatannya di pembangunan (Conyer, 1991).

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada dasarnya merupakan suatu bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya dalam keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan bukanlah mobilisasi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, dan membiayai pembangunan (Conyer, 1991).

Dalam pendekatan partisipasi, peran serta masyarakat tidak hanya terbatas dalam pengertian ikut serta secara fisik, tetapi keterlibatan yang memungkinkan mereka melaksanakan penilaian terhadap masalah dan potensi yang terdapat dalam lingkungan sendiri, kemudian menentukan kegiatan yang mereka butuhkan. Keterlibatan masyarakat ini adalah keterlibatan yang mengarah pada tumbuhnya kemampuan-kemampuan mereka untuk lebih berdaya dalam menghadapi tantangan hidup tanpa harus bergantung pada orang lain. Ketika masyarakat kuat, peran orang luar semakin dikurangi. Itulah sebabnya pendekatan partisipatif disebut juga dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat.

Penggolongan partisipasi masyarakat dalam perencanaannya dapat digolongkan ke dalam delapan tingkatan berdasarkan tingkat kekuasaaan (Arnstein, 2019), yaitu:

1. Kontrol masyarakat (citizen control);

  • 2. Pelimpahan kekuasaan (delegated power);
  • 3. Kemitraan (partnership);
  • 4. Penentraman (placation);
  • 5. Konsultasi (consultation);
  • 6. Informasi (information);
  • 7. Terapi (therapy);
  • 8. Manipulasi (manipulation)

Berdasarkan delapan tingkatan di atas, jelas bahwa partisipasi masyarakat mencakup semua hal yang berkaitan dengan sistem pemerintahan suatu negara.

Pergerakan Sosial dalam Hubungannya dengan Media Sosial dan Sosio-digital

Tingkat partisipasi dalam pergerakan sosial masyarakat juga ditentukan berdasarkan hubungan sosial. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, individu/masyarakat akan berpastisipasi dalam pergerakan sosial jika memiliki hubungan interpersonal, yakni jaringan secara informal (della Porta, 1988; Fuhse, 2019). Kepercayaan adalah modal utama dalam perilaku politik masyarakat. Masyarakat cenderung mengikuti organisasi/individu yang dianggap baik dan yang mampu meyakinkan mereka bahwa organisasi miliknya atau yang dilakukan organisasi tersebut ialah hal yang terbaik dan memang hal yang baik juga jika dapat terlibat di dalamnya (Robbins, 2001).

Hal inilah yang sejak dahulu hendak dibangun oleh Ridwan Kamil, sebelum menjadi gubernur. Ridwan Kamil, mencoba melakukan pendekatan-pendekatan secara interpersonal dengan menggunakan media sosial untuk masyarakat Kota Bandung (Ramdhani, 2018). Penggunaan media sosial ini mempererat hubungan antara pemerintah dengan masyarakat dan membangun kepercayaan masyarakat. Dengan kata lain, pendekatan melalui media sosial adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Ridwan Kamil untuk mendapatkan persepsi yang baik dari masyarakat dan juga menarik partisipasi

masyarakat sehingga program-program pemerintah mampu berjalan dengan baik dan sukses (Munandar & Suherman, 2016).

Media sosial yang sekarang ini gencar digunakan oleh Ridwan Kamil selain Twitter dan Facebook ialah media sosial Instagram (Munandar & Suherman, 2016). Seiring perkembangan teknologi dan zaman begitu juga dengan adanya telepon pintar (smartphone) telah membuat media sosial berkembang pesat di masyarakat (Anderson, 2015). Pengguna media sosial ini didominasi oleh remaja namun tidak juga menutup kemungkinan orang dewasa dan bahkan manula (manusia lanjut usia) pun menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi atau hiburan. Hasil penelitian tahun 2015, menyatakan Facebook masih menempati urutan nomor satu dari sosial media namun jika melihat dari pertumbuhan pengguna media sosial, Instagram kini menjadi platform aplikasi dengan pertumbuhan tercepat (Lenhart, 2015).

Instagram adalah aplikasi yang memperbolehkan pengguna berbagi foto dan informasi dengan pengguna lainnya. Instagram memperbolehkan pengguna menjadi pengikut atau mengikuti akun pengguna lain. Selain itu, Instagram juga memberikan peluang kepada pengguna untuk memberikan penilaian terhadap foto tersebut dengan memberi tanda suka atau memberikan komentar terhadap foto yang telah diunggah oleh pengguna lain. Dalam Instagram pengikut adalah hal yang penting karena jumlah tanda suka akan mempengaruhi kepopuleran foto tersebut. Instagram juga memiliki fitur untuk terkoneksi aplikasi media sosial lainnya seperti Twitter dan Facebook. Pada instagram terdapat juga bermacam filter yang bisa digunakan untuk mempercantik foto yang diunggah (Utami, Lestari, & Putri, 2016).

Instagram telah dijadikan sebagai

bahan penelitian oleh beberapa peneliti. Hal ini disebabkanInstagram memiliki pengaruh dan dampak di segala bidang keilmuan dan kemasyarakatan (Bakhshi, Shamma, Kennedy, & Gilbert, 2015; Jaakonmäki, Müller, & vom Brocke, 2017; Manikonda, Vamsikrishna, & Kambhampati, 2016). Dalam ilmu sosiologi dikenal juga kajian sosiologi digital (digital sociology) yang merupakan kajian yang merujuk pada dampak, pengembangan dan penggunaan teknologi internet terhadap dunia sosial yang dapat diselidiki, dianalisis, dan dipahami. Para sosiolog juga ada yang menyebutnya sebagai 'cybersosiologi', 'sosiologi internet', 'sosiologi komunitas ', 'sosiologi media sosial', 'sosiologi'. Dengan kata lain, digital sosiologi dapat dikatakan sebagai subdisiplin sosiologi yang berfokus untuk memahami penggunaan media digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, dan bagaimana berbagai teknologi ini berkontribusi pada pola perilaku manusia, hubungan sosial dan juga konsep diri pribadi (Lupton, 2014). Dalam artikel ini kajian sosio-digital digunakan dalam mengkaji persepsi dan partisipasi masyarakat tentang Jawa Barat digital dalam media sosial Instagram yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Hasil penelitian dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu komentar yang memberi dukungan positif terhadap program pemerintah, komentar yang bersifat skeptis dan negatif dalam arti meragukan tentang keberhasilan program pemerintah, komentar yang berisi hal di luar konteks program yang diajukan seperti halnya memberikan kritik, iklan, hal lain yang tidak relevan dengan program yang diajukan.

METODE

Secara garis besar penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan data sesuai dengan temuan data di lapangan. Pencarian data dilakukan dengan teknik observasi yaitu mengobservasi perilaku, dan makna dari perilaku tersebut (Sugiyono, 2016). Teknik observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan pengamatan terhadap fenomena yang yang diteliti. Pengamatan ini dilakukan secara nonpartisipatif, artinya peneliti tidak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, namun bertindak hanya sebagai pengamat. Dalam hal ini, tim mengamati persepsi dan partisipasi masyarakat Jawa Barat terhadap program Jawa Barat Digital dalam Instagram resmi Ridwan Kamil.

Populasi penelitian ini diambil dari masyarakat (pengguna media sosial Instagram) yang berkomentar pada gambar yang diunggah oleh Ridwan Kamil mengenai program berkaitan dengan Jawa Barat Digital. Terdapat 20 (dua puluh) gambar berkaitan dengan program Jabar Digital yang diunggah oleh Ridwan Kamil (@ridwankamil) dari Januari hingga Mei 2019. Dari 20 (dua puluh) gambar tersebut, diambil dua buah sampel gambar untuk mewakili data penelitian. Hal ini disebabkan kedua unggahan tersebut merupakan unggahan yang paling populer dan memiliki paling banyak komentar dari dua puluh unggahan berkaitan dengan program Jabar Digital.

Jumlah keseluruhan komentar yang diperoleh dari kedua unggahan tersebut 1.666 . Kometar tersebut kemudian dianalisis dan digunakan sebagai data utama dalam meneliti persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap program Jabar Digital. Hasil analisis komentar tersebut kemudian digolongkan berdasarkan tiga kategori, yaitu 1) komentar yang memiliki nilai positif atau mendukung program pemerintah. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk pesan-pesan dukungan, pujian, doa, dan lainnya. 2) komentar yang cenderung skeptis atau negatif terhadap program yang akan

dilakukan oleh Ridwan Kamil. Komentar seperti ini pada umumnya berisi ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan ujaran keraguan mengenai keberhasilan program yang digagas oleh Ridwan Kamil dari beberapa faktor baik dari kesiapan pemerintah dan kesiapan masyarakat dalam pelaksanaannya, asumsi-asumsi tentang pencitraan dan sebagainya. 3) komentar yang tidak relevan atau keluar dari topik unggahan. Komentar yang keluar dari topik pembicaraan pada umumnya berupa kritik, keluhan, iklan, dan hal-hal lain di luar konteks pemberitaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Terdapat 20 unggahan Ridwan Kamil berkaitan dengan program Jawa Barat digital. Dari 20 (dua puluh) gambar tersebut, diambil dua buah sampel gambar untuk mewakili data penelitian. Hal ini disebabkan kedua unggahan tersebut adalah unggahan yang paling populer dan memiliki paling banyak komentar berkaitan dengan program Jabar Digital. Dengan demikian, data ini dianggap yang paling representatif mewakili penelitian ini. (gambar 1)

Salah satu unggahan Ridwan Kamil dalam akun Instagramnya @ridwankamil adalah perekrutan Patriot Desa Digital yang di unggah 1 April 2019. Dalam unggahannya, Ridwan Kamil menyebutkan bahwa "PEMPROV JAWA BARAT bersama Telkomsel dan Mobisaria hari ini memulai program PATRIOT DESA DIGITAL. Mendidik para aktivis desa atau changemakers untuk membentuk komunitas digital yang menghubungkan pesantren, BMT, petani, perajin, dan UKM dalam komunitas bisnis digital berbasis pedesaan. Termasuk permodalan dan perdagangan via digital. Insya Allah dengan semakin melek digital, semakin banyak desa di Jawa Barat siap di depan bersaing menghadapi ekonomi 4.0 Jabar sedang ngabret menuju #jabarjuara."

Unggahan ini disukai oleh 48.528 netizen dan dikomentari 868 komentar. Hasil analisis persepsi dan partisipasi masyarakat adalah sebagai berikut.

Hasil analisis persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap hasil unggahan Ridwan Kamil adalah sebagai berikut.

  • 1. Empat ratus enam puluh komentar atau 54% Masyarakat mendukung program Patriot Desa Digital. Hal ini terlihat dari komentar masyarakat yang menganggap sebagai suatu terobosan baru dengan berkomentar hal-hal positif. Banyak masyarakat yang memberikan sanjungan, pujian, doa, dan dukungan kepada ide Ridwan Kamil dalam program Patriot Desa Digital.
  • 2. Sseratus enam puluh dua komentar atau 18,7% Masyarakat skeptis terhadap ide ridwan kamil, ada masyarakat yang menganggap bahwa hal ini merupakan bentuk pencitraan, mempermasalahkan daya jangkau, kecepatan internet, sinyal, dan koneksi yang ada di Indonesia akan berkendala dengan perencanaan program desa digital karena masyarakat masih

  • bergantung pada kuota internet, ada yang mempermasalahkan tentang ketidakterbukaan desa untuk mau menerima ide pemerintah tersebut, mempertanyakan tingkat keberhasilan program, dan sebagainya.
  • 3. Tujuh puluh tujuh komentar atau 8,8 % berkomentar tentang hal lainnya di luar konteks unggahan termasuk kritik, keluhan, ketidaksukaan terhadap Ridwan Kamil dan Proyek tersebut. Selain itu, ada juga unggahan lain termasuk iklan di luar konteks unggahan.
  • 4. Dari unggahan Ridwan Kamil tersebut terdapat 161 komentar atau 18,5% masyarakat memiliki keinginan berpartisipasi seperti halnya ikut bergabung, menyumbangkan tenaga dan pikiran, untuk program Patriot Desa Digital. Berdasarkan komentar-komentar dari masyarakat, didapatkan simpulan bahwa mereka berpendapat program ini adalah ide bagus dan mereka menyatakan ingin bergabung. Hal ini terlihat dari komentar yang bertanya tentang syaratsyarat untuk bergabung dan komen

Sampel Data 1

11

Gambar 1. Unggahan tentang Patriot Desa digital (1 April 2019) (Sumber: https://www.instagram.com/ridwankamil/?hl=en)

1. tar tentang keinginan pribadinya untuk ikut serta dalam program yang dikemukakan oleh Ridwan Kamil.

Unggahan berikutnya adalah mengenai Jawa Barat Go Digital Commerce yang diunggah pada 26 April 2019. Dalam unggahan ini Ridwan Kamil mengatakan "PETAI-TERONG-JENG-KOL JAWA BARAT NOW GO ONLINE. Sekarang sayuran dan produk pertanian Jabar bisa dibeli via online. Kemarin Kerja sama dengan Blibli.com disepakati dengan Pemprov Jawa Barat untuk agriculture digital commerce. Strategi ini akan memotong mahalnya mata rantai perdagangan produk pertanian yang sering memiskinkan petani. Dengan strategi ii petani-petani Jawa Barat akan jauh lebih sejahtera. Contohnya produk pertanian dari Ciwidey yang dikelola oleh petani jaringan Pesantren Al-Ittifaq. Ini adalah implementasi Visi Digital West Java untuk #Jabar Juara." Unggahan ini disukai oleh 53.712 netizen dengan jumlah komentar 798.

Berdasarkan komentar-komentar pada unggahan mengenai digital commerce ini. Persepsi masyarakat dan partisipasi masyarakat dapat dikemukakan sebagai berikut.

  • 1. Empat ratus delapan puluh tiga komentar atau 60,5% masyarakat berpersepsi positif tentang rencana Ridwan Kamil. Hal ini terlihat dari komentar masyarakat yang mendukung, ikut mendoakan, memuji, menyanjung, menyemangati, dan memberikan kesan positif lain kepada Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil)
  • 2. Empat puluh enam komentar atau 5,7 % masyarakat memberikan persepsi negatif atau bersikap skeptis atau mempertanyakan program ini. Hal ini berkaitan pada umumnya tentang prosedur pengiriman, proses

Sampel Data 2

9

Gambar 2. Unggahan tentang Jabar Go Digital Commerce (26 April 2019) (Sumber: https://www.instagram.com/ridwankamil/?hl=en)

distribusi karena sayuran cepat layu, cara pengelolaan kemasan, prosedur memilih sayuran karena ada yang berpendapat bahwa sayuran lebih baik ketika dipilih langsung oleh pembeli, masyarakat akan semakin malas, harga yang kemungkinan akan menjadi lebih mahal jika dionlinekan, mempertanyakan nasib penjual sayur keliling.

  • 3. Tiga puluh dua komentar 4,1 % tidak terkait dengan program. Pada umumnya berkaitan dengan keluhan, masukan, dan pertanyaan di luar konteks yang dibahas.
  • 4. Dua ratus tiga puluh tujuh komentar atau 29,7% berkaitan dengan partisipasi masyarakat. Dalam komentar terlihat adanya keinginan berperan serta menyukseskan program ini. Hal ini terlihat dari adanya komentar yang menyatakan masukan adanya pembenahan dari petaninya terlebih dahulu agar programnya menjadi lebih baik, menanyakan tata cara bergabung, ide untuk menyertakan tidak hanya sayuran, melainkan juga beras, menyatakan ingin kerja sama sebagai reseller, dan adanya masukan mengenai ide aplikasinya harus memberikan kemudahan seperti halnya aplikasi ojek online.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data mengenai persepsi dan partisipasi masyarakat dalam program Jawa Barat digital. Secara umum masyarakat mendukung program Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Meskipun demikian, beberapa masyarakat ada yang memiliki persepsi negatif terhadap program kerja pemerintah. Adanya persepsi negatif ini tidaklah sepenuhnya negatif dengan arti bukan tidak mendukung sepenuhnya program ini melainkan cenderung bertanya-tanya dan mengomentari secara kritis program pemerintah. Dengan kata lain, masyarakat yang memiliki persepsi negatif ini secara tidak langsung juga telah ikut berpartisipasi dalam menyukseskan program pemerintah. Hal ini karena dengan adanya kritik, saran, dan masukan artinya masyarakat tersebut sudah peduli dan memikirkan secara kritis dampak-dampak atau efek-efek yang mungkin terjadi dalam pelaksaaan program pemerintah.

Melihat hasil analisis data terhadap partisipasi masyarakat secara nyata media sosial Instagram telah membantu masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, pendapat, dan dukungannya. Media sosial pada saat ini dapat dijadikan sebagai media untuk menjaring keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah. Dengan adanya akun Instagram yang dibuat oleh Gubernur Jawa Barat , Ridwan Kamil, terlihat bahwa Instagram tidak hanya dapat digunakan untuk sarana berkomunikasi dengan masyarakat namun dapat juga dijadikan parameter dasar keberhasilan program pemerintah. Dengan menganalisis komentar-komentar dalam Instagram tersebut, penyelenggara pemerintahan mendapatkan masukan-masukan langsung dan dapat melakukan perbaikan-perbaikan atas dasar komentar tersebut dan kemudian mengimplementasikannya secara nyata di lapangan. Dari hasil penelitian juga jelas bahwa pemanfaatan Instagram oleh pemerintah berdampak positif terhadap hubungan pemerintah dengan masyarakatnya dan tentunya hal ini dapat dijadikan sebagai contoh sederhana pelaksanaan e-governance.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

7
Citations
1.47
FWCIfield-weighted
87th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20251
20242
20232
20221
20201

Semantic Profile AI-classified research signals

Art 0.41
level 0
Humanities 0.38
level 1

Institution Network

References

  1. Anderson, B.Y.M., (2015). Technology device ownership 2015. Washington, DC: Pew Internet & American Life Project.
  2. Arimbi. H.P., & Santosa, A.M., (1993). Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan. WALHI dan YLBI, Jakarta
  3. Arnstein, S.R., (1969). A Ladder of Citizen Participation. Journal of the American Planning DOI: 10.1080/01944366908977225
  4. Association. 35: 4, 216 " 224
  5. Bakhshi, S., D. Shamma, L. Kennedy, & E. Gilbert., (2014). Why We Filter Our Photos and How It Impacts Engagement. International AAAI Conference on Human Factors in Computing Systems, 12-22. Di unduh dari http://comp.social.gatech.edu/papers/icwsm15.why.bakhshi.pdf.
  6. Conyers, D., (1991). Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Ed 2. (Penerjemah: Susetiawan). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  7. Dutton, W.H., Kraemer, K.L. and Blumler, J.G., (1987). Wired cities: Shaping the future of communications. Macmillan Publishing Co., Inc.
  8. della Porta, D., (1988). Recruitment processes in clandestine political organizations: Italian leftwing terrorism. In Bert Klandermans, Hanspeter Kriesi, and Sidney Tarrow (eds.), From Structure to Action: 155- 172. Greenwich, CT: JAI Press.
  9. Gould, R. V., (1993). Collective action and network structure. American Sociological Review 58:182-196. DOI: 10.2307/2095965
  10. Gould, R. V., (1995) Insurgent Identities. Chicago: Chicago University Press.
  11. Graham, S. and Marvin, S., (1999). Planning cybercities: Integrating telecommunications into urban planning. Town Planning Review, 70(1), p.89. DOI: 10.3828/tpr.70.1.w34454x3475g2858
  12. Hollands, R.G., (2008). Will the real smart city please stand up? Intelligent, progressive or entrepreneurial? City, 12(3), pp.303-320. DOI: 10.1080/13604810802479126
  13. Ishida, T. and Isbister, K. eds., (2000). Digital cities: technologies, experiences, and future perspectives. Springer Science & Business Media. DOI: 10.1007/3-540-46422-0
  14. Jaakonmaki, R., O. Muller., & J. vom Brocke., (2017). The Impact of Content, Context, and Creator on User Engagement in Social Media Marketing. Proceedings of the 50th Hawaii International Conference on System Science. 1152-60. Di unduh dari http://scholarspace.manoa.hawaii.edu/bitstream/10125/41289/1/paper0140.pdf.
  15. Klandermans, B., (1984). Mobilization and participation: Social-psychological expansions of resource mobilization theory. American Sociological Review 49:583-600. DOI: 10.2307/2095417
  16. Klandermans, B., (1997). The Social Psychology of Protest. Oxford: Blackwell.
  17. Komninos, N., (2002). Intelligent cities: innovation, knowledge systems, and digital spaces. Taylor & Francis.
  18. Lenhart A. (2015) Teens, social media, and technology overview 2015. Washington, DC: Pew Internet & American Life Project.
  19. Lupton, D. (2015) Digital Sociology. London: Routledge
  20. Macy, M., (1991). Chains of cooperation: Threshold effects of collective action. American Sociological Review 56:730-747. DOI: 10.2307/2096252
  21. Marwell, G., & Oliver, P., (1993). The Critical Mass in Collective Action. Cambridge: Cambridge University Press.
  22. Manikonda, L., V. Meduri., & S. Kambhampati., (2016). Tweeting the Mind and Instagramming the Heart: Exploring Differentiated Content Sharing on Social Media. Proceedings of ICWSM. https://arxiv.org/pdf/1603.02718.pdf.
  23. Mulyana, D., (2000). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar .Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
  24. Munandar, H., & Suhendar. M., (2016). Aktivitas Komunikasi Pemerintahan Ridwan Kamil di Media Sosial. Prosiding Hubungan Masyarakat. Volume 2, No.1, Tahun 2016
  25. Peristeras, V., Mentzas, G., Tarabanis, K. A., & Abecker, A. (2009). Transforming E-government and E-participation through IT. IEEE Intelligent Systems, 24(5), 14-19. DOI: 10.1109/mis.2009.103
  26. Pizzorno, A., (1986). Sur la rationalit
  27. Ramdhani, D.,(2018, Desember 17) "14 Daftar Program yang Diluncurkan Ridwan Kamil dalam 100 Hari Kerja sebagai Gubernur Jabar", Diunduh dari https://regional.kompas.com/read/2018/12/17/11020831/14-daftar program-yang-diluncurkan-ridwan-kamil-dalam-100-hari-kerja-sebagai?page=all.
  28. Robbins, (2001). Organizational Behavior. New Jersey: Prentice-Hall International Inc.
  29. Shepard, M., (2011). Sentient city: Ubiquitous computing, archi-tecture, and the future of urban space. The MIT press.
  30. Sugiyono, 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Penerbit Alfabeta.
  31. Sutrisno, B. & Akbar, I.,(2018). E-Partisipasi dalam Pembangunan Lokal (Studi Implementasi Smart City di Kota Bandung). Jurnal Sosioteknologi. Vol. 17, No 2, Agustus, 2018
  32. Utami, M.A., Lestari, M.T., & Putri, B. P. S., (2016). Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran SMB Telkom University Tahun 2015/2016 Melalui Media Sosial Instagram. e-Proceeding of Management : Vol.3, No.1 April 2016 DOI: 10.5614/sostek.itbj.2016.15.02.13
  33. Weerakkody, V., El-Haddadeh, R., Al-Sobhi, F., Shareef, M. A., & Dwivedi, Y. K. (2013). Examining the influence of intermediaries in facilitating eGovernment adoption: An empirical investigation. International Journal of Information Management, 33(5), 716-725. DOI: 10.1016/j.ijinfomgt.2013.05.001