1. Home
  2. Archives
  3. Vol 18 (2020) Issue 3
  4. Articles

Semiotika Visual Dalam Pertukaran Tanda Dan Makna Sosial Politik Pada Batik Karya Hardjonagoro Go Tik Swan

Abstract

Membahas tentang motif dalam sehelai kain batik berarti mengamati unsur lambang dan arti yang saling membuat korelasi. Penelitian ini memaparkan tentang adanya relasi antara falsafah, unsur kehidupan, sosial politik dan unsur batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan melalui semiotika visual. Dasar utama pemikiran yang digunakan dalam mencari relasi tersebut mengacu pada filsafat makna, seperti model analisis yang dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce yaitu perspektif simbolik, suatu usaha menafsirkan simbol-simbol. Hasil kajian ini diharapkan dapat menunjukkan hubungan simbolik dan pemaknaan antara karya batik sebagai ekspresi budaya Jawa sekaligus sebagai bahasa sosial politik melalui studi kasus batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan. Dengan demikian diharapkan juga dapat sumbangan kreatif pada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sosial politik secara non verbal. Kata kunci: semiotika visual, batik Hardjonagoro Go Tik Swan, sosial potitik

Keywords

PENDAHULUAN

Pada tahun 1950-an, seorang seniman asal Solo, Hardjonagoro Go Tik Swan mendapat mandat dari Presiden pertama Indonesia, Ir Sukarno, untuk menciptakan batik yang bukan sebatas identitas kedaerahan tertentu, melainkan rangkuman kekayaan seni batik Indonesia yang mampu menyatukan rasa kebangsaan. Batik yang dicita-citakan adalah "Batik Indonesia". Batik ini menjadi

istimewa karena selain memiliki motif tradisional yang sangat beragam, juga sarat dengan falsafah hidup Nusantara.

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan model analisis semiotika untuk kajian batik sebagai proses pertukaran tanda dan makna. Kajian semiotika merupakan kajian tentang tanda-tanda (sign), sistem tanda dan cara bagaimana suatu makna ditarik dari tanda-tanda tersebut.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah adanya pergeseran makna dan fungsi batik Hardjonagoro Go Tik Swan, dari batik tradisional yang sebelumnya hanya menganut pemahaman pelestarian tradisi ternyata ada semangat baru yaitu batik yang memiliki peran untuk penyampaian makna dan pesan sosial.

Dalam studi kasus batik Hardjonagoro Go Tik Swan makna simbolismenya didekatkan dengan simbolisme dalam batik klasik gaya Solo yang akrab dengan lingkungan senimannya berkarya, dengan tujuan untuk mempelajari tanda-tanda yang masih hidup dan berkembang dalam imajinasi masyarakat Jawa pada khususnya yang kemudian dengan usaha kreatifitas dikembangkan sebagai bentuk komunikasi sosial politik kepada masyarakat Indonesia pada umumnya.

METODE

Semiotika dalam Desain

Pendekatan oleh Charles Sanders Pierce (filsuf Amerika 1893-1931) yang digunakan dalam penelitian ini mengembangkan sistemnya dalam kerangka linguistik. Yaitu suatu makna yang terdapat dalam motif batik Hardjonagoro Go Tik Swan yang merupakan hasil gagasan, ideologi, pengalaman senimannya yang melalui proses kreatif dan teknik produksi dalam bentuk yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Dalam lingkup budaya menurut Umberto Eco, semiotik dapat dipakai untuk mengamati berbagai tanda yang bersifat empioris dan indrawi (Eco, 1986). Tanda-tanda yang bersifat empiris atau inderawi dapat mencakup tanda-tanda alam seperti peristiwa alam, lanskap, lingkungan artifisial, ragam hias dan sebagainya. Dalam penelitian ini kajian semiotika meliputi seluruh lingkup intelektual manusia, tanda alamiah dan peradaban yang dikenal sebagai ranah budaya, antara lain:

  • a. Komunikasi visual (Visual Communication), kajian yang meliputi sistem grafis, warna, tanda-tanda ikon, simbol dan sebagainya.
  • b. Sistem obyek (System of Objects), meliputi arsitektur, kota, lansekap dan sebagainya.

Menurut Charles Sanders Pierce semiotika adalah sinonim logika. Artinya bahwa manusia hanya berpikir dengan tanda (Roland, 1985). Demikian ilmu tanda atau semiotika dapat dijadikan alat untuk menelusuri sesuatu dan menghasilkan sesuatu berupa tanda-tanda atau simbol-simbol. Dalam uraian selanjutnya, bahwa tanda-tanda tersebut berdasarkan relasinya terdiri dari:

  • a. Semiotik Sintaksis, aktifitas yang mempelajari tanda dalam sistem tamda yang lain yang menunjukkan kesamaan atau kerjasama.
  • b. Semiotik Semantik, mempelajari hubungan antara tanda dan maknanya atau denotasi dan konotasi dari tanda-tanda tersebut.
  • c. Semiotika Pragmatik, mempelajari hubungan tanda denganpemakainya.

Model Kajian Semiotika Bahasa Rupa

Dalam kajian semiotika, bahasa rupa juga dapat diamati sebagai suatu sistem tanda, baik tanda tunggal maupun sekumpulan tanda (Sachari, 2005). Tinjauan semiotika bahasa rupa mempunyai karakter kebahasaan yang bersifat organik dan seringkali tidak memiliki gramatika yang diterima dalam kesepakatan yang terukur dan rasional.

Dalam tinjauan desain, pengamatan bahasa rupa dapat berupa narasi sejarah, gaya desain, karya rupa, artefak, proses mendesain, maupun figur desainer. Dalam bahasa rupa terdapat dua aspek penting semiotika, yaitu indeks dan tanda (ikon, simbol). Indeks adalah tanda yang memiliki hubungan ketergantungan eksistensial antara tanda dan yang ditandai, atau mempunyai ikatan kausal dengan apa yang diwakilinya. Sedangkan tanda adalah unsur dasar dalam semiotika dan komunikasi, yaitu segala sesuatu yang mengandung arti, yang memiliki dua kategori yaitu penanda dan petanda(- Sachari, 2005).

Model Kajian Bahasa Rupa Tradisional Jawa

Kajian bahasa rupa tradisional Jawa dapat ditelusuri dari sisi historis, falsafah, dan karakteristik semiotikanya. Sisi historis sebagai indeks kezamanan yang setiap kezamanan memiliki tanda, ikon, dan simbol tertentu. Sisi falsafah hidup kesenian batik sebagai indeks yang masing-masing memiliki tanda, ikon, dan simbol tertentu. Sisi karakteristik, karya rupa sebagai indeks yang unsur-unsur karya tersebut memiliki tanda, ikon, dan simbol tertentu pula.

Metode pengolahan data dalam penelitian ini adalah metode semiotika. Metode semiotika pada dasarnya bersifat kualitatif-interpretatif (interpretation), yaitu sebuah metode yang memfokuskan dirinya pada "tanda" dan "teks" sebagai obyek kajian, serta bagaimana peneliti "menafsirkan" dan "memahami kode" (decoding) di balik tanda dan teks tersebut".

Pokok permasalahan inilah yang oleh Charles Sanders Pierce dinamakan Semiotika Simbolis, yaitu sebuah komposisi tertentu yang konstruksinya berdasarkan atas tanda-tanda yang telah terekspresikan dan hadir sebagai suatu realita.

Pendekatan kajian ini, sebelum mengarah pada analisis yang lebih mendalam, di bawah ini akan diuraikan terlebih dahulu mengenai pembagian semiotika menurut Peirce terdapat sistem Tripihak (Triadic System).

Unit analisis dalam penelitian ini adalah tanda-tanda termasuk satuan terkecil (signeme) yang ada pada tiga struktur perbandingan konteks visual pada batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan. Signifier-signifier dalam analisa batik ini meliputi latar, warna, alur dan pengaluran, yang terdapat pada batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan.

Analisa semiotika diarahkan membongkar elemen-elemen visual dalam batik Hardjonagoro Go Tik Swan sebagai 'teks' untuk membuat identifikasi atas struktur sekaligus pembongkaran tanda-tanda yang menampak. Sedangkan sebagai penghubung untuk mencari relasinya dengan fungsi sosial-politik, ekonomi dan filsafat akan dianalisa dianalisa sistem-sistem yang memproduksi 'teks' tersebut. Berdasar kerangka metode demikian, konsep seni pada batik Hardjonagoro Go Tik Swan diharapkan dapat menghasilkan suatu kebaruan dalam refleksi estetik dalam seni sekaligus sebagai identitas dan komunikasi dalam aspek kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Kajian batik sebagai karya budaya yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini terkait dengan makna sosial yang dimiliki bersama yaitu cara kita memahami dunia, dimana makna dibangun melalui tanda. Di sini 'teks' bukan sebagai media netral, tetapi bagian utama pembentukan makna dan pengetahuan. Proses-proses produksi makna adalah praktek signifikasi. Memahami kebudayaan berarti mengeksplorasi bagaimana makna dihasilkan secara simbolis dalam 'text' sebagai 'sistem signifikasi'.

Dimensi pragmatik dalam semiotika dalam penelitian ini adalah studi mengenai tanda dan penggunanya (interpreter), khususnya yang berkaitan dengan pengguna tanda secara konkret dalam berbagai peristiwa (discourse), serta efek atau dampaknya terhadap pengguna. Dalam hal ini yang dimaksud pengguna adalah efek tanda pada masyarakat. Dimensi pragmatik dalam semiotika juga berkaitan dengan nilai (value), maksud, dan tujuan dari sebuah tanda, yang menjawab pertanyaan mengenai pertukaran (exchange) dan nilai utilitas tanda bagi penggunanya. Kajian pembahasan motif batik Go Tik Swan dalam penelitian ini adalah kajian struktur batik Indonesia yang bisa diasosiasikan sebagai elemen simbol dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Berdasarkan pemikiran tentang teori simbolisme tersebutlah peneliti membuat korelasi antara motif batik sebagai warisan masa lalu yang dalam karya batik Hardjonagoro Go Tik Swan ditampilkan dengan semangat baru dengan harapan menghidupkan nilai-nilai nasionalisme masyarakat Indonesia yang sesuai dengan masanya(Djoemena, 1986).

Aspek pragmatik sering menjadi kriteria utama dalam realitas desain rupa. Aspek pragmatik mencakup variabel sebagai berikut: yang membuat, pemakai, fungsi/guna, waktu/lama dibuat, lokasi, teknik membuat, pihak yang terlibat, sarana dan prasarana.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam rangka menjalin persatuan Indonesia dan membuat identitas kebudayaan Nasional, Kepala Negara pertama Indonesia, Presiden Sukarno mempunyai gagasan untuk membuat batik sebagai salah satu unsur pemersatu budaya nasional Indonesia. Pada tahun 1950, beliau kemudian menugaskan Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro, Indonesia untuk membuat batik yang khas Indonesia, dan tidak terlalu beridentitas kedaerahan Yogya atau Pekalongan misalnya. Hardjonagoro Go Tik Swan (1931-2008) - yang terlahir sebagai keturunan Tionghoa dan dibesarkan dalam lingkungan Jawa - adalah seorang kolektor, desainer, dan pemikir seni dan budaya Indonesia. Ia sangat mencermati nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di Surakarta.

Unsur Rupa dalam Batik Hardjonagoro Go Tik Swan

Unsur-unsur rupa batik Hardjonagoro Go Tik Swan meliputi karakter, profil, warna, ragam hias dan formasi alur motif yang dianalisis hubungannya antara satu dengan yang lainnya. Tanda atau semiotika dapat dijadikan alat untuk menelusuri sesuatu dan menghasilkan sesuatu berupa tanda-tanda atau simbol-simbol. Mencermati motif batik bisa menjalinkan relasi lambang dan arti. Seakan-akan unsur motif, lambang dan arti yang ada saling membuat relasi. Maksudnya dapat dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa, falsafah orang Jawa, unsur kehidupan, sosial dan unsur Batik. Seperti yang disampaikan oleh Wiyoso Yudoseputro bahwa fungsi religi-magis seni rupa prasejarah selalu menampilkan perwujudan dalam seni patung, seni lukis, kriya dan hiasan yang kaya dengan kandungan, citra dan cita perlambangan (Yudoseputro, 2008).

Di Jawa terutama di Yogyakarta dan Solo, dimana masyarakatnya masih kental dengan nilai-nilai tradisi, kehidupan sehari-hari pun tidak bisa terlepas dari tatacara dan upacara. Berbagai perlengkapan, sesaji maupun ritual melibatkan pemakaian kain-kain batik dengan makna filosofis baiknya yang disesuaikan dengan peringatan yang digelar. Tata cara dan upacara tradisi masyarakat Jawa juga selalu sarat dengan makna-makna simbolis. Makna simbolis tersebut sebagian besar berisi doa dan permohonan kepada Tuhan. Sebagai contoh pemahaman teori tersebut dalam motif batik klasik dapat diperhatikan pada tabel sebagai berikut:

Representasi motif-motif dalam analisis sintaksis, semantik dan pragmatik di atas berhubungan dengan simbol figur dalam batik klasik Solo antara alam, unggas, binatang-binatang dan perwatakan manusianya.

Pemahaman di atas menunjukan, bahwa motif batik terlukis pada kain yang berfungsi sebagai busana sehari-hari para priyayi dan masyarakat Jawa, selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan, juga mempunyai fungsi seperti kata-kata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Bila dicermati lebih dalam lagi, wujud gambar itu menunjukan adanya pola yang bersifat permanen, yaitu disebut struktur atau sebagai grammar pada bahasa. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya, yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri.

Batik Hardjonagoro Go Tik Swan tercipta berkat inspirasi dari Presiden Pertama Indonesia Sukarno. Batik Hardjonagoro Go Tik Swan yang kemudian diberi gelar ' Batik Indonesia ' oleh Bung Karno adalah konsep politik untuk menasionalisasi batik.

Batik Hardjonagoro Go Tik Swan selain menyisipkan pesan-pesan politis yang digagas Sukarno, motif karya batiknya juga dapat dimaknai sebagai gramatika pesan-pesan politis Sukarno. Hubungannya yang akrab dengan keluarga keraton Solo dan Presiden Sukarno, tercermin dalam karya batiknya. Kedekatannya dengan lingkungan istana

kepresidenan dan Bung Karno, mengantarkan Go Tik Swan sehingga mampu menyatukan wajah seni dengan politik dan ekonomi sekaligus.

Dalam batiknya beliau memadukan keragaman motif/pola beberapa daerah, hingga berbagai pola batik langka/tradisonal lain yang semula tidak dikenal, mampu digali dan dikembangkan. Keberanian ini dilakukan tanpa menghilangkan ciri dan makna hakiki dari tiap pola tersebut, hingga pada akhirnya batik Go Tik Swan tampil sebagai batik dengan kedalaman makna tertentu: sebagai pemersatu bangsa.

Unsur-unsur rupa motif batik Hardjonagoro Go Tik Swan dianalisis semiotika yang meliputi tiga hal, yaitu:

  • a. Sintaksis, merupakan aktifitas yang mempelajari tanda dalam sistem tanda yang lain yang menujukkan kesamaan atau kesinambungan.
  • b. Semantik, mempelajari hubungan antara tanda dan maknanya atau denotasi dan konotasi dari tanda-tanda tersebut.
  • c. Pragmatik, mempelajari hubungan tanda dengan pemakainya.

Hasil analisa tersebut diuraikan dalam tabel di bawah ini:

TABEL I ANALISA RELASI DAN SIMBOL MOTIF BATIK KLASIK

MotifWujud MotifRelasiSimbol
Motif SawatPohon HayatPohon beringin,
kalpataru, gunun
gan wayang kulit
Perlindungan, kekua
saan, kelestarian, per
damaian
Burung merakWanita (feminini
tas)
Kasih sayang, kecanti
kan
Burung GarudaKejayaan, kebesa
ran,
Kejayaan, kebesa
ran,kekuasaan, keluhu
ran, kebijakan, kese
tiaan
Lar (sayap)Unggas bersayap,
lampu/sinar
Kekuatan, kebijak
sanaan, pencerahan,
kebebasan
GunungMitos tentang sur
ga, puncak meru,
kayon
Puncak, keabadian,
ketenangan, ketentra
man, kesucian
Motif Alas-ala
san
AwanSurga, langit, ang
kasa
Kekuasaan, keinginan,
harapan
Kupu-kupuPerjodohanKasih sayang, kecanti
kan, kesetiaan
Kuda/KijangKejantananKekuatan, keperkasaan
TumbuhanKesuburanKemakmuran,
kekayaan, ketentraman
LautMitos laut SelatanKebebasan, pikiran,
kekuasaan, kekuatan
penakluk
Ular (Naga)Alam
kegelapan,
tanah
Kejahatan, pembasmi,
kekuatan, perusak,
penghancur, rintangan,
kegelapan
Motif SemenBurungMitos tentang bu
rung Garuda (bu
rung Dewata)
Kejayaan, kebesaran,
kekuasaan, keluhuran,
kebijaksaan, kesetiaan
Lar(sayap)Unggas bersayap,
lampu/sinar
Kekuatan,kebijak
sanaan, pencerahan,
kebebasan
SulurTumbuhan men
jalar
Kesuburan, kecerdikan,
kekerabatan, kesetiaan,
pikiran
BangunanSurga, Istana,
Rumah
Ketentraman, kedamaa
ian, perlindungan,
kekuasaan

Sumber: (Djoemena, 1986; Sony Kartika, 2007; Susanto, 2018)

TABEL II ANALISA SEMIOTIK BATIK GO TIK SWAN

Analisis SintaksisAnalaisis SemantikAnalisa Pragmatik
• Warna:Maknanya keteladSebagai teladan bahwa manusia
harus bertutur kata indah, beradab
• Motif Utama: Burung perkututdan tahu tata krama, berbicara tidak
dengan nada sombong
• Motif Penunjang: Tumbuhan
• Latar/isen-isen:
anan
Sawunggaling Latar Cecek
Warna
• Motif Utama: Ayam Jantan
• Warna:
• Motif Pendukung: Bunga
• Isen-isen:
Maknanya keber
anian
Sebagai pembangkitsemangat
pemuda untuk berani bangkit dan
berkorban untuk tanah air
Gedebyah Untu Walang• Warna:
• Motif Utama:Daun Kelapa/Palem
• Motif Penunjang:
• Isen-isen:
Maknanya ketelad
anan
Sebagai teladan bahwa manusia
harus berguna dan memiliki banyak
fungsi dalam hidupnya
Kuntul Nebo Latar Slobog• Warna:
• Motif Utama:Burung Kuntul
• Motif Penunjang: Bunga
• Isen-isen: Slobog
Maknanya harapanSebagai harapan agar manusia
diberikan/ ditunjukkan jalan yang
lapang menuju kejayaan
Simping Latar belah Ketupat• Warna:
• Motif Utama: Lar (Sayap)
• Isen-isen:
Belah Ketupat
Maknanya kebijak
sanaan
Sebagai
kebijaksanaan
manu
sia yang selalu diliputi kekuatan,
pencerahan, kebebasan
Candi Luhur Naga Temanten• Warna:
• Motif Utama:Ular Naga
• Motif Penunjang:
Isen-isen:
Maknanya harapanSebagai pengharapan agar sipe
makai tampil lebih berwibawa.

Sumber Foto: (Iskandar, 2008)

Perspektif simbolik sebagai suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Sehelai kain batik mempunyai makna yang kompleks, mulai dari makna eksplisit, yaitu makna berdasarkan apa yang tampak (denotative), serta makna yang lebih mendalam, yang berkaitan dengan pemahaman-pemahaman ideologi dan kultural (connotative).

Sebagai contoh misalnya ikon berupa motif bunga bangkai yang digambarkan secara megah dan indah oleh Hardjonagoro Go Tik Swan merupakan gambar yang tersusun dari beberapa satuan tanda (signeme) seperti bentuk yang sederhana dimegahkan, warna yang suram dicerahkan, susunan motif yang teratur yang terdapat pada motif bunga rumput tersebut. Secara simbolik mencerminkan kepalsuan kondisi sosial politik yang sedang berlangsung pada masa itu, sebagai kritik sosial seorang seniman terhadap pemerintah yang berkuasa. Simbol ini mengartikan berbagai Penanda + Petanda = Tanda.

Di sini menunjukkan bahwa Hardjonagoro Go Tik Swan juga kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Dalam karya batik Kembang bangah ini, pada tataran bentuk Hardjonagoro Go Tik Swan menunjukan kepatuhannya terhadap tradisi kebudayaan Jawa, tetapi pada tataran isi dan misinya beliau berani mengangkat motif 'bunga bangkai' (bangah) yang dimegahkan sebagai kritik kepada penguasa masa itu. Batik karya Hardjonagoro Go Tik Swan tidak bisa terhindar dari nuasa politik, yaitu nasionalisasi batik Jawa seperti. Seperti Sukarno, persamaan pandangan tentang kehidupan berkebangsaan dan latar belakang kehidupan masyarakat Jawa membuat seorang Hardjonagoro Go Tik Swan paham bagaimana menerjemahkan konsep batik Indonesia yang dicita-citakan oleh Sukarno tersebut.

Go Tik Swan Panembahan Harjonagoro

Batik Kembang Bangah karya Hardjonagoro, jika dilihat dari perwujudannya terdiri dari motif baku yang diulang-ulang. Warna yang digunakan untuk batik Kembang Bangah adalah perpaduan warna soga dengan latar hitam. Batik motif Kembang Bangah merupakan perwujudan rasa kecewa, bentuk protes, tolak bala, dan permohonan keselamatan, yang kemudian disusun oleh Go Tik Swan menjadi sehelai kain batik.

Gambar 1 Detail Motif Batik Kembang Bangah Sumber : Katalog Pameran Nunggak Semi, Batik Adiluhung Karya

Motif Kembang Bangah tidak ditemukan dalam khasanah batik klasik, Kembang Bangah adalah sejenis bunga yang tidak disukai manusia karena baunya seperti bau bangkai. Go Tik Swan menciptakan batik kembang Bangah sebagai protes pada keadaan pemerintahan saat itu yang dianggapnya tidak berpihak kepada rakyatnya, tetapi lebih berpihak kepada kelompok kapitalis. Mengenai pola kembang Bangah ini Hardjonagoro Go Tik Swan menulis, Kembang Bangah merupakan pola yang mengekspresikan protes bahwa budaya tidak lagi dihargai.

Melalui perjalanan hidupnya sejak kecil yang akrab dengan budaya Jawa dan pemahamannya tentang kondisi sosial dan politik pada masanya, menunjukkan adanya pesan pesan sosial dalam gaya batik klasik. Hardjonagoro Go Tik Swan juga mengunakan tema yang akrab sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Dalam sehelai batik bermotif Kembang bangah, Hardjonagoro Go Tik Swan menggambarkan secara dramatis suatu keadaan sosial tentang keberpihakan kepada rakyat kecil dan ketidaksetujuannya terhadap pemerintahan yang kacau.Era perkembangan batik Go Tik Swan ini menunjukkan bagaimana seorang seniman menanggapi perubahan dalam pemerintahan di Indonesia, simpatinya terhadap perubahan tersebut dan bahkan usahanya dalam menyampaikan 'teguran' melalui karya seninya.

Contoh yang lain adalah penerapan warna warna yang tidak lazim seperti biru cerah, ungu dan merah muda pada motif-motif klasik Solo dan Yogja. Sesuai pesanan Presiden Sukarno yang menggunakan batik sebagai salah satu unsur pemersatu budaya nasional Indonesia, batik diharapkan dapat meredam gejolak politik kedaerahan pada masa itu. Sekali lagi tampak bahwa Penanda + Petanda = Tanda.

Secara garis besar dapat dikatakan ciri-ciri khas batik Solo-Jogja adalah ragam hias yang bersifat simbolis berlatar kebudayaan Hindu-Jawa dan warnanya yang dominan sogan, Indigo (biru), hitam dan putih (Djoemena, 1986). Sehubungan dengan ragam hias, di daerah Solo terdapat aturan atau tatacara tentang pemakaian kain batik. Peraturan ini antara lain menyangkut kedudukan sosial pemakai dan peristiwa apa kain batik ini dipakai tergantung dari makna, arti dan harapan yang terkandung dalam ragam hias tersebut

Dalam contoh ini terlihat relasi kekuasaan dapat bersifat sebagai perekat kehidupan sosial, kekuatan yang memaksa dan menempatkan orang di bawah orang lain, proses membangun dan membuka jalan bagi segala bentuk tindakan, hubungan dan tatanan sosial dalam sehelai kain batik.

Dengan nilai perlambangan tersebut menunjukkan seni batik selalu melibatkan alam pikiran lama yang bersumber dari tradisi yang tetap bertahan dan terus mengikuti perubahan masa dengan berbagai pengaruh Hindu, Islam, India, Cina, Eropa di Indonesia. Ungkapan relasi dan makna dengan segala akar tradisi dan pengaruhnya inilah yang menjadikan sehelai kain batik mempunyai makna yang kompleks, mulai dari makna eksplisit, yaitu makna berdasarkan apa yang tampak (denotative), serta makna yang lebih mendalam, yang berkaitan dengan pemahaman-pemahaman ideologi dan kultural (connotative).

SIMPULAN

Hasil kajian memberikan bukti adanya hubungan simbolik dan pemaknaan antara karya batik sebagai ekspresi budaya Jawa sekaligus sebagai bahasa sosial politik, memberikan pemahaman mengenai Batik Indonesia Karya Go Tik Swan Hardjonagoro sebagai artefak hasil kebudayaan yang diperluas fungsinya sebagai komunikasi dalam proses pertukaran tanda dan makna sosial politik. Berubahnya nilai-nilai perlambangan sejalan dengan berkurangnya nilai seni

batik klasik yang dituntut oleh tradisi kebudayaan baru. Nilai baru yang ikut berbicara dalam perkembangan seni batik sebagai seni klasik antara lain adalah nilai ekonomi dan politik. Batik tidak lagi semata mata sebagai pakaian upacara atau benda pustaka di istana. Batik dalam perkembangannya sudah menjadi pakaian sehari-hari dalam masyarakat umum dengan makna dengan citra dan cita perlambangan yang sesuai dengan masanya. Hasil kajian ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat dan seniman batik dalam penciptaan karya-karya, agar mampu menampilkan karya modern dengan tetap mengakar kepada tradisi.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

4
Citations
7.10
FWCIfield-weighted
96th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20232
20212

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.75
level 1
Art 0.63
level 0

Institution Network

References

  1. Djoemena, N. S. (1986). Ungkapan Sehelai Kain: It
  2. Eco, U. (1986). Semiotics and The Philosophy of Language. USA: Indiana University Press.
  3. Iskandar, N. (2008). Batik Indonesia & Sang Empu Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro. Jakarta: Srihana.
  4. Sachari, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Bandung: Erlangga.
  5. Sony Kartika, D. (2007). Budaya Nusantara, Kajian Konsep Mandala dan Konsep Triloka / Buana terhadap pohon Hayat Pada Batik Klasik. Bandung: Penerbit Rekayasa Sains.
  6. Susanto, S. S. (2018). Seni Kerajinan Batik Indonesia, Balai Penelitian Batik dan Kerajinan. Yogjakarta: Penerbit Andi.
  7. Yudoseputro, W. (2008). Jejak-Jejak Tradisi Bahasa Rupa Indonesia Lama. Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.